In Advertorial Land Story Land

Cerita Seru Traveling Bareng Anak Kecil

Dalam keluarga besar, aku paling disayang anak-anak kecil. *pede

Tapi benar, kok. Alasannya cuma satu: mereka ada maunya. Maunya diajak jalan-jalan. Anehnya, orang tua mereka rela-rela aja anaknya kubawa jalan.

Berada di dalam keluarga besar, aku dan Junisatya memang terbilang sering bawa adik-adik kecil bahkan kemenakan kami jalan. Prinsipku, kapan lagi bawa saudara sendiri jalan-jalan, kalau ada rezeki kenapa enggak. Junisatya pun pernah bilang padaku, kalau ada waktunya, sekali-sekali bisa bawa anak-anak kecil jalan biar mereka senang. Menyenangkan anak-anak itu juga kan baik. Anak-anak kecil kasihan juga kalau di rumah terus. Repot-repot seru kalau bawa anak kecil jalan. Jadi begini rasanya jadi emak-emak?
Cerita seru traveling bareng anak kecil

Meski belum punya anak, aku jadi tau banget tantangan besar ibu-ibu muda saat membawa anaknya jalan-jalan. Zaman sekarang bukan generasi anak aja yang dibilang milenial, tapi generasi emak-emak juga harus kekinian. Segala sesuatu sudah lebih mudah, apalagi kebutuhan ibu-ibu muda.

Prinsipnya sederhana: jangan pernah menjadikan anak kecil itu hambatan besar untuk tetap bisa jalan-jalan. Makanya aku suka sedih lihat sepupu yang punya anak tapi anaknya ditinggal di rumah terus. Itulah yang memotivasiku untuk sering-sering bawa emak dan anaknya piknik. Nggak jauh-jauh kok. Yang penting keluar rumah seharian.

Aku punya beberapa cerita tentang traveling bareng anak kecil. Seru-seru-mendebarkan sih.

1. Ke Cikole Lembang Bersama Safira

Safira ini anak sepupu Junisatya yang paling sering main ke rumahku. Usianya masih 3 tahun tapi nggak pernah rewel. Dia paling senang kalau aku datang ke rumahnya dan selalu menarik tanganku untuk masuk ke mobil. Yap, waktu itu kami jalan-jalan ke Cikole, Lembang.

Safira senang sekali. Ibunya membekali beberapa kotak makanan untuk bekal di jalan. Sepanjang jalan ke Bandung, dia tidur. Namun, begitu sampai di Cikole, dia langsung berlarian. Aku curiga, kalau nanti dia sudah besar, Safira bisa-bisa traveling keliling dunia ya. Satu yang bikin agak repot, emaknya Safira nggak ngebekalin anaknya stroller. Awalnya sih anak ini santai. Tapi menjelang sore dan mendung, tenaganya mulai terkuras. Aku harus menggendongnya sesekali karena wajahnya tampak lesu.

Cerita seru traveling bareng anak kecil (2)

Saat itu aku benar-benar butuh stroller. Bisa-bisanya aku lupa membawa benda berharga ibu-ibu muda yang satu itu. Omong-omong soal stroller, aku baru dikenalin satu stroller canggih terbaru keluaran Hamilton. Aku nggak begitu paham beda setiap stroller kecuali warna dan bentuk. Kenapa harga stroller itu beda-beda? Karena bergantung pada fiturnya.

Stroller Hamilton seri Ezee Elite type ini dirancang lebih dinamis, lebih ringan, dan dapat melipat otomatis dengan sekali sentuhan yang disebut magicfold. Nggak pakai baterai, nggak pakai kabel. Stroller Ezee Elite punya keranjang penyimpanan barang di bagian bawah yang lebih lebar. Anak bisa tidur flat sehingga lebih nyaman karena sandaran bangkunya bisa diatur. Stroller yang didesain dari Jerman ini menyesuaikan kebutuhan orang tua yang punya mobilitas tinggi. Stroller jenis ini praktis dibawa ke mana-mana. Aku suka dengan fiturnya, bikin hidup lebih simple. Ohya, untuk yang sering bawa anak terbang naik pesawat, malah stroller ini masih aman untuk dibawa ke kabin pesawat.

Untuk kegiatan outdoor, Hamilton Ezee Elite dilengkapi dengan kanopi UPF 50+ yang dapat melindungi si anak dari terik matahari. Stroller aja punya sun protector ya. Ada jaring anti serangga juga. Duh, cocok sekali dalam kondisiku yang bawa-bawa Safira keliling hutan pinus di Cikole. Nanti aku mau rekomendasikan stroller ini ke sepupuku, ah. Dia harus punya.

Cerita Seru traveling bareng anak kecil (3)

Cerita seru traveling bareng anak kecil (4)

Kalau sudah punya stroller dari Hamilton, kayaknya ibu-ibu muda nggak perlu khawatir untuk bawa anak-anaknya jalan. Setidaknya nggak sekhawatir aku yang waktu itu mesti gendong-gendong Safira yang kelelahan main di Cikole.

2. Dipipisin Gama di Perjalanan Lampung-Jakarta

Baru beberapa hari lalu aku ke Palembang dan pulang lewat jalur darat melalui Lampung. Aku naik bus dari Lampung menuju Jakarta dan sengaja memilih bangku di dekat jendela agar lebih leluasa. Saat itu, aku berkenalan dengan ibu muda yang bawa anak umur 5 bulannya naik bus. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, si ibu ini agak kerepotan jalan sendiri. Suaminya tidak ikut karena sedang bekerja. Gama yang lagi lucu-lucunya itu sangat murah senyum. Begitu aku mengajaknya bercanda, Gama langsung minta dipangku. Jadilah ia duduk di pangkuanku beberapa saat sembari melihat jalanan lewat jendela. Gama anak yang ceria. Meski giginya belum tumbuh, tapi dia mampu berbahasa lewat senyuman. Gemas sekali.

Setelah mengobrol beberapa lama dengan ibunya Gama, Gama pun minta susu. Tapi dia maunya dipangku olehku. Waduh! Untungnya sang ibu bawa botol susu ASI-nya. Jadilah aku memegangi botol susu itu sampai Gama tertidur. Lucu, ya.

Oops, tunggu dulu.

Ada yang mendebarkan. Saat tidur itu, ada yang hangat terasa di pahaku. Aku terkejut dan menyadari bahwa Gama ngompol dan popoknya sepertinya sudah penuh. Saat ku menoleh ke ibunya Gama, sang ibu rupanya juga tertidur. Terlihat sekali dia kelelahan mengurus bayinya dalam perjalanan sendirian. Karena tidak tega membangunkan, aku pun mengalasi bekas pipis Gama dengan kain selimutnya yang cukup tebal. Lalu duduk diam menghadap jendela sembari berdoa agar baunya tidak menyebar ke seisi bus. Duh!

Sepanjang Gama dan ibunya tidur, aku mengecek hape dan mencari-cari perlengkapan bayi di aplikasi iLotte. Aku lupa bawa tisu basah. Tisu kering pun sudah habis. Tidak ada benda yang bisa membersihkan bekas ompol bayi darurat di dalam bus. Begitu ibu Gama bangun, dia sedikit panik dan membongkar isi tasnya mencari tisu basah dan wangi-wangian. Lalu, zonk! Si ibu ini nggak membawa peralatan bersih-bersih bayi. Cuma bawa popok dan pakaian ganti untuk Gama. Rasanya saat itu mau nyodorin aplikasi iLotte dan ngasih voucher Rp50.000,00 yang kudapat dari iLotte untuk dipakai ibu Gama ini belanja perlengkapan bayinya.

Cerita seru traveling bareng anak kecil (5)

Cerita seru traveling bareng anak kecil

Betapa pentingnya bawa perlengkapan bayi dan balita saat bepergian, ya. Terasa sekali repotnya di saat kejadian tak terduga seperti itu. Adegan dipipisi bayi sebenarnya bukan masalah besar. Tapi perjalanan menuju Jakarta masih sekitar 5 jam lagi waktu itu. Apa jadinya kalau baunya menyebar di seisi bus ya? Saat bus berhenti di sebuah rumah makan, aku langsung turun dan bebersih dengan air mengalir. Ibu Gama beberapa kali minta maaf padaku dan kubalas dengan senyuman. Ku bisa apa, kan, ya? Namanya juga bayi. Saat Gama bangun pun, dia membuka mata dengan begitu polosnya, celingak-celinguk mengenal situasi menjelang kesadarannya kembali utuh.

Sayang sekali ya, si ibu juga nggak bawa stroller untuk mempermudahnya dalam perjalanan. Aku banyak belajar dari perjalanan bersama anak kecil. Banyak list yang kucatat di dalam benak. Hal-hal sepele seperti minyak telon, sabun dan sampo bayi, serta lotion anti nyamuk sepertinya nggak boleh ketinggalan jika bepergian dengan anak kecil.

Kalau ibu-ibu nggak punya waktu untuk pergi berbelanja, bisa belanja online juga. iLotte sendiri menyediakan kebutuhan ibu dan anak sangat lengkap. Barang-barangnya pun original, harganya bersaing sesuai kualitas produk, dan proses pengiriman yang cepat. Dari kebutuhan sehari-hari anak sampai benda-benda pelengkap seperti baby car seat dan stroller pun tersedia di iLotte.com. Stroller Hamilton Ezee Elite sudah ada di iLotte.com dengan harga promo 3.799.000. Aku nggak akan bilang kalau harganya itu murah atau mahal. But, it's really worth to buy.

Read More

Share Tweet Pin It +1

6 Comments

In Journey Land

Jelajah Palembang, Ini List Wajibnya

Pagi-pagi buta, aku lagi-lagi ada di bandara. Sepertinya baru beberapa bulan lalu aku memantapkan diri untuk nggak mau ambil penerbangan pagi ke luar kota apalagi ke luar negeri. Tapi, sekali lagi aku melanggarnya. Pukul 5 subuh, aku sudah berada di boarding room sambil terkantuk-kantuk. Aku bertekad, begitu masuk pesawat, aku akan langsung tidur sampai pesawat mendarat di Palembang, karena hari itu dan beberapa hari ke depan, ada serangkaian agenda perjalanan yang harus dituntaskan. Jadwal padat merayap, yay.

Setiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, aku yang naik penerbangan sendiri ini janjian dengan seorang travel blogger sesama dari Jakarta juga, biar nggak sendirian mulu kayak anak hilang. Karena namanya Ogie--bahkan aku nggak tau dia ini cewek atau cowok, profil whatsapp-nya tak membantu mendeteksi sama sekali--jadilah aku celingak-celinguk menguatkan radar mencari teman. Akhirnya kami ketemu di Tourism Centre. Untungnya Ogie ini cowok, lumayan bisa direpotin bawain barang dan bonus difotoin sepanjang jalan. Kami lantas bergabung dengan beberapa media dan tour agent dari berbagai daerah dan negara. Semua peserta yang berkumpul pagi itu adalah rombongan pertama yang akan dibawa ke penginapan, sembari menunggu peserta lain datang. Kami semua akan ikut tur Musi and Beyond Travel Fair 2018 yang diadakan Dinas Pariwisata Kota Palembang, mengitari sejumlah Palembang heritage, mencicipi kuliner Palembang, dan masih akan bertemu dengan teman-teman travel blogger lainnya.
Jelajah Palembang
Ngapain aja aku selama di Palembang? Ini list kunjungan mengitari kota pempek itu.

1. Naik LRT


Jelajah Palembang (2)

Usai penyambutan di Tourism Centre bandara, aku dan peserta lain lanjut naik LRT dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II menuju stasiun Jakabaring. FYI, stasiun Jakabaring ini stasiun nomor 2 terakhir dari bandara. Ongkosnya Rp10.000. Kebetulan, pagi itu LRT tidak terlalu ramai. Aku sudah membayangkan betapa ribetnya geret-geret koper naik-turun kereta. Masih terkena sindrom naik KRL dari Depok-Jakarta pagi hari yang nggak pernah sepi. Lama perjalanan dari bandara ke stasiun Jakabaring sekitar 1 jam. Ku mengira lajunya akan secepat MRT di Singapura, ternyata belum selincah itu. So far, naik LRT di Palembang pagi itu cukup nyaman karena nggak perlu mpet-mpetan, perjalanan lancar, dan aku bisa puas melihat-lihat suasana Kota Palembang dari ujung ke ujung.

2. Kampung Atlet Jakabaring


Jelajah Palembang (3)

Jelajah Palembang (4)

Jelajah Palembang (5)

Jelajah Palembang (6)

Stasiun LRT Jakabaring nggak begitu jauh dari gerbang Jakabaring Sport City (JSC). Kamu tentu nggak asing kan dengan kawasan olahraga besar di Palembang ini? Ya iyalah, Jakabaring Sport City ini jadi lokasi Asian Games 2018 lalu dan sebagian besar atlet menginap di wisma atlet di kawasan ini. Nah, rupanya aku dan teman-teman ikutan menginap di wisma atlet JSC. Ini pertama kalinya aku menginap di wisma atlet yang satu kamarnya terdiri dari 4 tempat tidur yang masing-masing dilengkapi lemari dan  nakas. Ada pantry dan kamar mandi yang dibagi dalam 2 bilik dengan shower dan kloset dipisah. Serasa menjadi atlet beneran, kan. Oh iya, sayangnya wisma atlet ini nggak dilengkapi wifi dan televisi. Atlet memang harus fokus satu titik seperti lirik lagu Via Valen, nggak boleh keasyikan internetan dan nonton sinetron. Begitu juga dengan aku. Nggak boleh malas-malasan di kamar. Untungnya aku ketemu teman sesama blogger lagi di sana. Ada Melly dari Bogor dan Yuni dari Surabaya. Mereka datang ke Palembang melalui jalur darat. Formasi kami bertambah, jadi lebih seru untuk eksplor Kampung Atlet ini.

Ternyata beralasan sekali lokasi wisma atlet dinamakan Kampung Atlet Jakabaring atau Athlete Village. Area ini terdiri dari banyak gedung-gedung penginapan yang dapat menampung ribuan atlet dalam satu waktu. Di sebuah sudut Kampung Atlet ini terdapat danau mungil yang dipenuhi oleh bunga teratai yang tampak cantik pagi hari. Senang melihat embun yang masih menempel di dedaunannya saat aku berkeliling pagi dengan sepeda di area danau ini. Ada dangau-dangau sebagai tempat santai dan pohon-pohon rindang di sekitarnya. Dangau ini dilengkapi dengan colokan. Kalau punya waktu bersantai, aku bakalan memilih dangau ini sebagai tempat semedi mengerjakan beberapa konten yang harus diselesaikan. Sungguh quality time yang sehat.

3. Makan Pempek di Rumah Dinas Walikota Palembang

Cuaca Palembang memang susah ditebak. Bisa aja siang hari panas menyengat, lalu sorenya langsung mendung dan malamnya hujan. Malam itu kami diundang oleh Bapak Walikota Palembang untuk makan malam di rumah dinasnya. Tepat saat hujan rintik-rintik turun dan diikuti oleh angin kencang. Namun, tak menyurutkan semangat kami untuk bertandang ke sana karena sudah terlalu lapar. Dan, benar saja, setelah rangkaian acara ramah tamah dari protokoler walikota, sajian dibuka dengan pempek, menu makanan khas Palembang. Sudah dari awal sejak kedatanganku di Palembang, aku mengincar pempeknya: pempek lenjer, pempek adaan, pempek pistel, pempek kulit, dan pempek keriting. Aku diajarkan cara ternikmat makan pempek ala orang Palembang. Pempek disediakan dalam mangkok mini, gigit terlebih dahulu pempeknya dan seruput kuah cukonya. Rasa ikan dan cuko akan menyatu di lidah. Bikin aku pengen nambah terus. Tapi...karena menu pempek di rumah dinas jadi favorit semua undangan, jadi nggak heran langsung habis dalam seketika. Aku nggak kebagian jatah tambahan. Sabar, hari-hari di Palembang masih panjang.

4. Gelora Sriwijaya

Esok harinya, saat formasi travel blogger kian lengkap (ada Mia, Doel dari Jakarta, Mami Rai dari Bogor, Awie dari Makassar, Vika dari Surabaya, Pandu dari Blitar, dan Mbah Kakung dari Bengkulu, Ira dari Palembang), kami bersenang-senang sepagian di Gelora Sriwijaya yang luasnya lebih besar dari Gelora Bung Karno. Aku mengikuti serangkaian tur arena olahraga. Dimulai dari bowling, arena tembak, tenis, voli pantai, dan stadion sepak bola. Rupanya Gelora Sriwijaya baru saja diterjang angin puting beliung beberapa hari sebelum kedatanganku. Jadi ada beberapa bagian di arena olahraga yang rusak. Sayang banget, ya. Semoga cepat direparasi.

Jelajah Palembang (8)

Jelajah Palembang (9)

Jelajah Palembang (7)

Karena luas Gelora Sriwijaya ini kebangetan, kami berkeliling dengan mobil golf, lalu mengajak bapak sopir baik hati untuk berhenti di tempat-tempat cantik yang bisa dijadikan spot foto. Mengunjungi arena olahraga saat tak ada pertandingan ternyata nggak bikin kami mati gaya. Justru kami punya privilege untuk mengeksplor setiap sudut Gelora Sriwijaya yang meriah dengan warna-warna cerahnya.

5. Museum Sultan Mahmud Badaruddin 2 (SMB 2)

Dari Jakabaring, aku berpindah ke pusat kota. Jakabaring memang masih berlokasi di Kota Palembang, kok, tapi lokasinya lumayan ujung. Untungnya pada hari kedua, aku check out dari wisma atlet dan pindah ke Hotel Batiqa biar bisa eksplor Palembang lebih gampang. Kalau datang ke Palembang, kamu harus bertandang ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin 2, yang dulu merupakan Istana Kesultanan Palembang Darussalam yang disebut Keraton Kuto Kecik atau Keraton Kuto Lamo. Istananya berlokasi di tepian sungai Musi. Untuk saat ini, Museum SMB 2 sedang dalam tahap renovasi, maklum usia bangunannya sudah lebih dari 1 abad. Perlu perbaikan di beberapa bagian dan akan dibuat lebih menarik. Koleksi dari masa Sriwijaya, Kesultanan Palembang hingga penjajahan Belanda dipajang di dalamnya. Ada yang asli dan ada yang replika. Kita juga bisa meresapi tatanan adat Palembang di museum ini dengan beberapa koleksi benda-benda tradisionalnya serta koleksi hasil kerajinan songket dengan berbagai motif.

Jelajah Palembang (10)

Jelajah Palembang (11)

6. Jembatan Ampera dan Sungai Musi

Siapa yang nggak kenal jembatan ikonik dari Sumatera Selatan? Dari zaman SD, aku sudah mendengar nama Jembatan Ampera dan mengetahui sejarahnya sebagai bentuk monumen Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera). Bahkan saat memasuki bangku kuliah, aku dikenalkan dengan lagu mars Genderang UI yang lirik terakhirnya, "Kobarkan semangat kita, demi Ampera". Ampera sering banget disebut-sebut dalam sejarah nasional dan jadi lambang semangat dalam bidang apa pun, termasuk pendidikan. Akhirnya, kesampaian juga melihat kemegahan Jembatan Ampera yang megah membentang sekitar 1 km di sungai Musi. Jembatan ini menjadi penghubung 2 area di Kota Palembang, Seberang Ulu dan Seberang Ilir, yang dipisah oleh Sungai Musi, sungai terbesar di Sumatera. Katanya, dulu sekali, jembatan ini sempat dinamakan Jembatan Soekarno pada peresmiannya tahun 1965. Namun, satu tahun kemudian, suasana politik di Indonesia gonjang-ganjing yang menyebabkan nama jembatan ini berubah menjadi Jembatan Ampera.

Jelajah Palembang (12)

Jelajah Palembang (13)

Kini, Jembatan Ampera ada di hadapanku, berwarna merah terang. Berdampingan dengannya, kini juga dibangun jalur LRT dan stasiun Ampera. Jadi, kalau mau jalan-jalan keliling Kota Palembang, cukup naik LRT ke Stasiun Ampera. Tinggal loncat sedikit, aku sudah bisa melihat kemegahan Jembatan Ampera. Lalu turun ke bawahnya, aku sudah sampai di dermaga yang bisa digunakan untuk melintasi sungai Musi, mengeskplor Palembang dari sisi berbeda dan dengan kendaraan yang berbeda pula.

7. Pagoda Pulau Kemaro dan Kisah Cinta Pangeran dari Cina dengan Putri Palembang

Aku berkesempatan menyusuri sungai Musi naik perahu menuju Pulau Kemaro, pulau yang jadi legenda kisah cinta tragis antara Saudagar Cina, Tan Bun An dengan Putri Fatimah, putri kerajaan Palembang. Konon, legenda itu pula yang melatarbelakangi munculnya Pulau Kemaro di tengah-tengah sungai Musi. Ketika Tan Bun An berlabuh di Palembang, saat menghadap Raja Palembang, ia jatuh cinta kepada putri raja, Putri Fatimah. Mereka pun menikah dan Putri Fatimah ikut Tan Bun An berlayar ke Cina untuk bertemu orang tua suaminya. Saat mereka kembali lagi ke Palembang, Tan Bun An dan Putri Fatimah dibekali 9 guci. Ketika sampai di sungai Musi, Tan Bun An sangat kecewa dengan isi ke-9 guci itu yang hanya berisi sawi asin. Dia lantas memerintahkan pengawalnya untuk membuang guci itu ke sungai. Guci terakhir sempat terguling ke dek kapal dan menumpahkan isinya yang tak sekadar sawi asin. Rupanya orang tua Tan Bun An menyimpan banyak emas batangan di dalam kesemua guci. Tan Bun An dan seorang pengawal segera terjun ke sungai dan menyelam menyelamatkan guci-gucinya. Namun, karena mereka berdua tak kunjung muncul ke permukaan, Putri Fatimah pun ikut terjun mencari suaminya. Sejak saat itu, ketiganya hilang di dalam air. Entah ke mana arus sungai membawanya. Yang pasti, sejak saat itu daratan Pulau Kemaro itu mencuat lalu didirikan vihara yang berisi makam Tan Bun An dan Putri Fatimah, serta pengawalnya yang ikut tenggelam di sana.

ziarah makam jelajah palembang

Jelajah Palembang (14)

Biasanya vihara ini hanya dibuka untuk orang-orang Buddha yang ingin berdoa dan berziarah. Pintu makam dibuka pada acara-acara tertentu seperti Imlek dan Cap Go Meh. Beruntungnya kami saat itu, vihara sedang dibuka untuk umum. Di belakang vihara, terdapat bangunan pagoda 9 lantai. Pagoda sering digunakan sebagai tempat ibadah orang Buddha. Biasanya pengunjung hanya dapat menikmati arsitekturnya dari luar yang sekilas mirip dengan Pagoda Avalokitesvara di Semarang.

Nah, beruntung pangkat dua nih, pagoda di Kemaro hari itu dibuka dan kami bisa naik hingga lantai 9. Dengan senang hati, aku pun menaiki tangga demi tangga menuju puncak pagoda. Kok, ya, nggak sampai-sampai, ya. Di lantai 3, Mia menyerah. Aku sempat tergoda untuk menyerah di anak tangga menuju lantai 5 karena Yuni juga ikutan ingin turun. Napas ngos-ngosan. Sepertinya aku harus ikut pertapaan dulu nih biar kastanya langsung terbang ke lantai 9. Saat akan turun, aku disemangati oleh beberapa teman sesama influencer dari Malaysia. Katanya sedikit lagi sampai, tinggal satu lantai lagi. Masa iya? Aku kan baru menapaki lantai 5, harusnya masih ada 4 lantai lagi. Tapi, benar lho, begitu aku menaiki anak tangga itu, aku sudah ada di puncak Pagoda. Kok, aneh ya. Rasanya jumlahnya nggak sampai 9 lantai. Doel menyuruhku balik lagi ke atas dan menghitung lantai per lantai dengan benar. Ah, itu pasti akal-akalannya saja. Meski penasaran, aku masih waras untuk cukup sekali menaiki puncak Pagoda sebelum dehidrasi.

8. Lorong Basah Night Culinary


Jelajah Palembang (15)

Malam-malam gerimis, kami melintasi Pedestrian Sudirman yang merupakan kawasan pecinan di Palembang. Kami berhenti di Lorong Basah Night Culinary yang menjadi pusat kumpulan jajanan enak dan murah. Biasanya Lorong Basah ini ramai pada saat weekend. Karena aku datang bukan pada saat akhir pekan, Lorong Basah Night Culinary jadi lorongnya kami. Semua peserta Musi and Beyond bisa bernyanyi dan berjoget gembira di sana, sembari cemal-cemil cantik.

9. Sarapan Laksan dan Celimpungan di Lenggok


Kuliner PalembangKuliner Palembang (2)

Saat orang-orang berburu oleh-oleh Palembang, aku, Doel, Ogie, dan Mia melipir ke restoran Lenggok yang menyajikan beberapa menu tradisional Palembang. Kami memesan Laksan dan Celimpungan yang juga berbahan dasar pempek. Bedanya, Laksan diberi kuah gulai berwarna kemerahan, sedangkan celimpungan berkuah kuning seperti kuah opor.

10. Ziarah Makam Panglima, Putri, dan Raja di Bukit Siguntang


Jelajah Palembang ziarah makam raja

Bukit Siguntang jadi dataran tertinggi di Kota Palembang. Jadi kata orang lokal, kalau Bukit Siguntang sempat kebanjiran, artinya Palembang tenggelam. Bukit Siguntang ini termasuk bukit yang dianggap keramat juga karena merupakan kawasan makam raja dan para petinggi kerajaan yang berpengaruh di kawasan Sriwijaya. Ada 7 makam yang terdapat di sana, salah satunya makam Raja Segentar Alam alias Raja Zulkarnaen Alamsyah dari Kerajaan Mataram yang pernah menaklukkan sebagian besar Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka. Ada makam Pangeran Radja Batu Api yang membawa pengaruh Islam ke Palembang dan Putri Rambut Selako yang berasal dari Keraton Yogyakarta. Sekilas, Bukit Siguntang memang dipenuhi akulturasi pengaruh beberapa budaya dan agama. Kalau menapak tilas sejarah, tentu nama-nama yang tertera di makam ini punya kisah panjang tentang bawaan budaya dari negeri asalnya. Jika ingin melihat perbedaan dalam satu pinggan, berziarahlah ke Bukit Siguntang. Sejarah akan mengenang bahwa banyak sekali tokoh dengan latar belakang berbeda yang membawa pengaruh besar dalam perkembangan Palembang dari masa Sriwijaya dulu kala.

Di bagian puncak kawasan Bukit Siguntang, ada semacam bundaran air mancur yang saat itu tampak tak terawat. Di tengah-tengah bundaran itu seharusnya berdiri patung Buddha besar berwarna emas. Saat ini patung itu sedang diungsikan ke museum sampai proses renovasi taman Bukit Siguntang selesai.

11. Bayt Alquran Al Akbar

Kalau ada karya dan proyek besar yang dibanggakan oleh orang Palembang, ukiran Al Quran Raksasa adalah jawabannya. Kunjungan ke Bayt Alquran Al Akbar sempat dibatalkan, tetapi karena kegigihanku dan sejumlah travel blogger yang ingin sekali ke sana, akhirnya kami menerabas hujan deras siang hari naik ojek online. Sungguh perjuangan yang tak sia-sia. Lokasi Bayt Alquran ini memang agak jauh dari pusat kota, sehingga butuh effort menembus kemacetan Palembang jika tidak berangkat sedari pagi.

Wisata religi Al quran raksasa

Sesampai di depan gedung Bayt Alquran yang masih belum dibangun dengan rapi karena menyatu dengan sebuah yayasan pondok pesantren, aku langsung membeli tiket masuk seharga Rp10.000,- Ingat ya, masuk ke kawasan ini harus menutup aurat. Ada peminjaman selendang dan sarung juga di pintu masuk. Begitu masuk, ukiran bertuliskan ayat-ayat Al Quran menjulang hingga menyentuh langit-langit. Sampai saat aku ke sana, Al Quran yang terpajang baru sampai 15 juz. Masih ada 15 juz lagi yang harus diselesaikan oleh tim pengukir. Ayat-ayat Al Quran diukir dan dicat emas di atas lembaran-lembaran kayu lebar berwarna hitam. Pinggirannya dihiasi oleh ukiran-ukiran khas Palembang. Butuh bertahun-tahun merampungkan ukiran-ukiran itu. Tak sekadar wisata religi, alquran raksasa ini patut diapresiasi sebagai mahakarya generasi muda lokal yang positif. Tapi ada sedikit pertanyaan, mengingat ukiran-ukiran itu berisi kitab suci, apa sebaiknya dilindungi dan dijaga dari sikap tangan dan kaki yang kurang bertanggung jawab ya? Soalnya, saat aku ke sana, pas banget rombongan anak sekolah datang berkunjung. Sebagian mereka ada yang langsung naik ke pelataran lembaran papan alquran dengan memanjat, bukan dengan naik anak tangga dengan semestinya. Sayang aja, kan?!

12. Makan Pindang di Sri Melayu


Kuliner Palembang (3)

Berada di jalan protokol Palembang, Rumah Makan Sri Melayu lumayan ramai siang itu. Aku sudah tak sabar ingin mencicipi pindang ikan patinnya. Dari hari pertama ke Palembang, aku belum mencicipi pindang ikan. Siang-siang, menyesap kuah pindang tentu segar sekali. Ada rasa asam-manis dari potongan nanas yang membuat kuah pindang lebih segar dan ikan patinnya tidak amis. Disajikannya bahkan dalam tungku kecil untuk memastikan kuah pindah tetap hangat.

13. Kampung Kapitan

Lagi-lagi kami memilih jalan alternatif menuju Kampung Kapitan dengan naik ketek. Tinggal menyeberang dari dermaga Ilir, cuma sekitar 5 menit, aku berlabuh di pintu masuk kawasan Kampung Kapitan. Kampung ini merupakan kampung pecinan lama yang berasal dari Dinasti Ming Cina. Kenapa disebut Kampung Kapitan? Belanda memberi gelar kapten atau kapitan pada perwira Tiongkok untuk mengatur kawasan 7 Ulu. Karena itu, sejak keturunan Tjoa Kie Cuan bertugas, Belanda pun menyebut perwira ini sebagai Kapitan. Sejak itulah Kampung Kapitan disebut-sebut sebagai kampung tempat tinggal orang Tiongkok berpangkat mayor dan diwariskan turun-temurun.

Jelajah Palembang (16)

Jelajah Palembang (17)

Jelajah Palembang (18)

Katanya ada 15 rumah yang merupakan rumah yang masih bergaya campuran Cina, Belanda, dan Palembang sekaligus. Yang mencolok itu adalah 3 rumah peninggalan seorang perwira bernama Kapitan yang kini menjadi cagar budaya dan direnovasi tanpa merusak bentuk dan gaya bangunan. Rumah Kapitan ini memanjang dengan konsep rumah panggung beratap limas, khas rumah tradisional Palembang. Sentuhan bangunan Belanda terlihat pada pilar-pilar bagian depan dan tembok batu di bagian bawah tangga. Ketika masuk ke rumah perwira Kapitan ini, kita akan tertumbuk pada pelataran doa kepercayaan Buddha. Diikuti dengan potret-potret sang perwira Kapitan dan keturunannya. Lalu ada kamar-kamar besar dengan jendela-jendela lebar seperti peninggalan Belanda. Ketiga rumah ini punya connecting door dan koridor yang sambung-menyambung.

Sampai saat ini, Rumah Kapitan ini dihuni oleh keluarga Pak Mul yang merupakan keturunan Kapitan generasi ke-14. Kata Pak Mul, dulunya Kampung Kapitan ini adalah warisan keluarganya.
Berarti luas kan tanah milik sang perwira kapitan.

14. Kampung Al Munawar

Satu lagi kampung yang kukunjungi di seberang Ulu dengan naik ketek adalah kampung Arab Al Munawar. Aku terpesona dengan tatanan di kampung ini. Karena sudah menjadi tujuan wisata, Kampung Al Munawar memang sudah terbiasa kedatangan turis. Tapi tetap harus menutup aurat ya selama berada di kawasan kampung. Tak jauh dari tepian sungai, aku disambut bangunan-bangunan rumah yang unik. Masuk ke kawasan ini serasa berada di kampung Arab tapi tetap bergaya Palembang. Kebayang kan, saat kamu jalan-jalan di sekitar kampung, lalu ada ibu-ibu dan bapak-bapak yang berdiri di depan rumah berparas turunan Arab banget. Sebagian bangunan rumah di kampung ini juga telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Jelajah Palembang (19)

Jelajah Palembang (20)

Aku nggak bisa berlama-lama berada di Kampung Al Munawar karena sudah mau magrib, sementara kampung ini hanya dibuka untuk wisata sampai pukul 5 sore. Kalau ada kesempatan ke Palembang lagi, mungkin aku akan eksplor lebih banyak tentang cara keturunan Arab di kampung ini mempertahankan tradisinya. Begitu juga dengan orang-orang turunan Tionghoa di Kampung Kapitan. Bagaimana mereka bisa hidup bersisian dan melebur menjadi masyarakat lokal di pinggiran Ulu Sungai Musi.

Ah sudah mau gelap. Langit sudah mendung dan kami harus kembali menyeberang ke Ilir. Semoga ada kali lain mengunjungi Palembang. Perjalanan kami ditutup dengan badai di Sungai Musi dan harus hujan-hujanan menuju parkiran bus dari dermaga Ilir.

15. Farewell Dinner Travel Blogger

Hujan-hujanan dan kena badai di atas ketek tak menyurutkan semangat kami untuk mengikuti farewell dinner yang diadakan Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang. Setelah ganti baju kilat di Hotel Batiqa, kami meluncur segera ke Ballroom The Zuri Hotel untuk farewell dinner. Aku makan ikan patin lagi, kali ini lebih banyak sampai kepala mulai pusing, kolaborasi apik antara masuk angin, kehujanan, dan sedikit terkena pengaruh kolesterol. Tapi tak apa, sudah terobati dengan kemeriahan jalan-jalan kami yang menyenangkan walau sedikit drama.

Kuliner Palembang (4)

Jelajah Palembang (21)

Usai makan malam di ballroom The Zuri, kami pun menutup malam dengan nongkrong bareng di Pempek Candy. Awalnya aku cuma menemani mereka yang ingin memborong oleh-oleh pempek, tapi ujung-ujungnya kami memesan pempek bakar, mie celor, dan es kacang sebagai dessert.

Terima kasih, wong kito galo, untuk semua hidangan dan kisah perjalanannya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

28 Comments

In Hospitality Land Journey Land

Nyobain Serunya Glamping di Trizara Resort

Aku punya kisah seru tentang satu resort menarik di kawasan Lembang. Kamu mau mendengarnya? Ya, tentu saja.

Aku mau bercerita tentang glamping di Trizara Resort. Ini spesial. Kamu harus baca dan nggak boleh ketinggalan pengalaman menginap di sana.

Glamping alias glamor camping jadi hits sejak tahun 2016 kurasa. Istilah ini bermula dari keinginan orang untuk kemping tapi nggak mau repot menyiapkan segala perlengkapannya. Ingin kemping tapi nggak kedinginan dan nggak digigitin nyamuk atau berdrama dengan tenda bocor saat hujan. Aku pernah mengalami drama seperti itu beberapa kali kemping di gunung dan lembah. Nah, kali ini, glamping jadi acuan kemping gaya kekinian. Nggak pakai repot. Kita tinggal tidur di tenda dengan fasilitas lengkap ala hotel.

Salah satu glamping yang paling berkesan bagiku adalah Trizara Resort di kawasan Lembang. Waktu itu aku dan Junisatya berangkat ke Lembang dalam rangka pekerjaan dan bertemu teman. Jadilah kami sekalian ingin staycation di sana. Sebelumnya sudah ada teman-temanku yang merekomendasikan resort ini karena konsep uniknya. Nggak salah memang aku menjatuhkan pilihan untuk menginap di Trizara Resort.
Glamping di Trizara Resort - jurnaland.com

Glamping di Trizara Resort (2) - jurnaland.com

Glamping di Trizara Resort (3) - jurnaland.com

Saat memasuki kawasan Trizara Resort, kami melewati sebuah kampung dengan jalan yang cukup sempit. Namun, hamparan lereng bukit yang menghadap ke timur tidak bisa diabaikan. Dengan bantuan google maps, kami selamat sampai di halaman parkir Trizara Resort. Ada gapura besar dan tinggi bergaya bangunan Eropa klasik. Kami memasuki gerbang dan disambut dengan rumput sintetis dengan tulisan Trizara yang juga besar. Area lobi untuk check in juga dibuat terbuka dan memperlihatkan lereng bukit dan lembah di bawah sana. Suasana sejuknya langsung terasa. Ternyata setelah check in, kami harus menunggu mobil jeep disiapkan oleh crew Trizara untuk mengantar kami ke tenda yang tepat. Sembari menunggu, ada welcome drink yang disuguhkan, es jeruk segar dengan view cantik sore hari.

Begitu jeep sudah datang, kami pun melaju melewati tenda-tenda yang didirikan seperi konsep rumah alam dan punya blok-blok. Karena berlokasi di area lereng bukit, jalanan pun ada tanjakan dan turunan. Tenda kami berada agak di bawah persis di tepi lereng. Kami diberikan kunci gembok dan tadaaaa...tenda kami yang sederhana ternyata di dalamnya sudah ada kasur yang nyaman, meja, peti (pengganti lemari) dan kamar mandi shower serta kloset duduk. Ada beranda dengan 2 bangku malas yang pas untuk menikmati pemandangan alam di depan tenda. Lantainya terasa dingin karena semen unfinished. Dingin sekali. Untungnya di kamar disiapkan dua slippers untuk di dalam tenda.

Junisatya langsung menyeduh kopi hangat yang bisa dinikmati dari beranda. Mau sore, mau pagi, pemandangan dari depan tenda kami sungguh priceless. Area beranda tenda ini jadi favoritku. Kalau malam hari, ada api unggun yang dinyalakan oleh petugas resort. Aku bisa ikut api unggun bersama para pengunjung lain karena api unggun disediakan di beberapa titik jadi memungkinkan untuk para pengunjung yang sedang gathering atau outing.

Glamping di Trizara Resort (4) - jurnaland.com


Glamping di Trizara Resort (5) - jurnaland.com

Glamping di Trizara Resort (6) - jurnaland.com

Setiap dekat dengan alam seperti glamping di Trizara Resort ini, aku tetap nggak mau kehilangan momen sunrise. Apalagi tenda-tenda di sini menghadap ke arah timur. Aku memandangi momen matahari terbit dengan bulat sempurna karena langit sedang cerah esok paginya. Melihat sunrise di beranda tenda membuat pagiku lebih rileks, santai, dan sehat. Saat matahari mulai tinggi, kami pun meminjam sepeda yang dapat dipakai siapa aja di area resort. Sepedaan mengitari komplek Trizara asyik lho. Kena matahari pagi dan membakar banyak sekali kalori. Kenapa? Karena tekstur datarannya berliku dan bergelombang. Tanjakan dan turunannya bikin keringetan. Apalagi kalau mau sarapan yang lokasinya dekat dengan area lobi. Senang sekali, bisa sarapan setelah olahraga pagi. Ku merasa pagiku bermakna sekali hari itu.

Glamping seperti di Trizara Resort bukan satu-satunya kok. Tapi, di Trizara Resort, area outbond-nya cukup luas. Selain bersepeda, kita bisa main trampolin, ayunan, flaying fox, dan beberapa permainan yang menguji nyali di ketinggian. Banyak pilihan tenda dengan beberapa sudut panorama. Kalau kamu nggak coba glamping di Trizara Resort langsung, nggak akan tau sensasi menginap dekat dengan alam seperti ini tapi dengan fasilitas hotel lengkap.

Glamping di Trizara Resort (7) - jurnaland.com

Glamping di Trizara Resort (8) - jurnaland.com

Glamping di Trizara Resort (9) - jurnaland.com

Bagi yang mau liburan ke Bandung atau Lembang juga, kamu bisa cek hotel di pegipegi, bisa melalui website atau pun aplikasi. Ada banyak promo menarik di sana dan harga hotelnya cenderung lebih murah dengan memanfaatkan poin member atau diskon dari beberapa merchant bank untuk sistem pembayaran. Kebetulan dalam rangka menyambut liburan akhir tahun, Pegipegi punya program GEMPITA alias Gemerlap Promo Akhir Tahun. Kita bisa memanfaatkan momen ini untuk pesan hotel di Pegipegi. Lumayan dapat diskon hingga 20% ditambah potongan harga hingga Rp1.200.000. Untuk info lebih lengkap, kamu bisa intip website-nya. Kalau sudah punya aplikasi di ponsel malah lebih bagus lagi, karena pemesanan jauh lebih hemat via aplikasi.

Kamu tinggal masuk ke menu pencarian hotel dan tentukan kota dan tanggal menginap di sana. Pegipegi akan memberikan beberapa alternatif penginapan dari yang harganya paling tinggi ke harga paling rendah. Ada filter pencarian untuk menentukan rentang harga sesuai budget-mu dan jenis hotelnya berbintang berapa. 

pesan hotel di pegipegi - jurnaland.com

pesan hotel di pegipegi (2) - jurnaland.com

Glamping di Trizara Resort (10) - jurnaland.com

Setelah membaca penawaran menarik dari pegipegi.com, aku jadi pengin coba memesan hotel lain untuk perjalanan selanjutnya. Hmm, enaknya ke mana ya? Ada ide nggak?


Read More

Share Tweet Pin It +1

11 Comments