In Advertorial Land Story Land

Cara Cerdas Merencanakan Pendidikan Anak

Dulu almarhum ayah pernah bilang, "Kamu harus sekolah, sekolah, dan sekolah."

Sun Life Edufair 2017

Kalau diingat, dulu kesal sekali disuruh sekolah terus, harus jadi anak yang pintar, harus rajin mengerjakan PR. Tapi ternyata di balik itu semua, aku jadi seperti sekarang ya karena doktrin dari ayah yang selalu mengutamakan pendidikan anaknya. Ketika aku diterima di Universitas Indonesia menjalani jenjang S1, aku bersyukur selalu diomelin ayah kalau ada nilai merah di rapor atau cuma sekadar tidak jago dalam pelajaran Matematika. Aku juga bersyukur ayah begitu ketat mencarikan sekolah terbaik dengan guru-guru terbaik pada masa itu. Waktu itu, sih, ayah melihat gelar nama rata-rata guru di sekolahku. Ayah tidak mau anaknya diajar oleh guru yang belum lulus kuliah S1. Entah kenapa... Mungkin karena guru adalah cikal-bakal perkembangan pendidikan anak. Ya, itu trik zaman dulu yang dilakukan ayahku ketika informasi tentang sekolah dan lembaga pendidikan lain belum sebanyak sekarang. Belum online pula. Aku yakin, setiap orangtua pasti punya trik sendiri dalam merencanakan pendidikan untuk anaknya.

Meski aku belum jadi orangtua, aku telah berkunjung ke banyak tempat dan melihat anak-anak di berbagai daerah yang aktif dan kreatif. Namun, tingkat kreativitas itu berbanding terbalik dengan sarana pendidikan yang ada di daerah itu. Seperti saat aku di Pulau Latondu, Taka Bonerate, Sulawesi Selatan, aku tidak melihat keberadaan SMA di sana. Rata-rata, mereka sekolah cuma sampai SMP. Sisanya, mereka langsung melaut untuk mencari nafkah. Mungkin bagi mereka itu hal yang lumrah, tetapi bagiku, kurangnya pendidikan di sana tentu menjadi masalah. Mereka memang cukup belajar dari budaya dan alam. Tidak memikirkan bahwa ada kehidupan lain di masa depan yang menunggu anak-anak ini untuk mengembangkan ruang tempat tinggal mereka sendiri agar lebih maju. Keterbatasan informasi, edukasi, dan finansial menjadikan perkembangan pendidikan Pulau Latondu jadi jalan di tempat. Apalagi lokasinya sungguh jauh dari daratan Sulawesi. Sebagian dari mereka berpikir atas apa yang ada dan bertindak atas apa yang terlintas.

Sun Life Edufair 2017
Anak-anak di Pulau Latondu, Taka Bonerate.

Anak sekolah di Pulau Sebira, Kepulauan Seribu.

Lalu, di lain kesempatan, aku berkenalan dengan anak-anak di Pulau Sebira, Kepulauan Seribu. Pulau Sebira adalah pulau terdepan di Kepulauan Seribu. Jadi lokasinya di paling utara DKI Jakarta. Aku harus menempuh 4 jam di jalan dengan speedboat. Kalau pakai perahu motor nelayan bisa 9 jam baru sampai di Pulau Sebira. Meski masuk kawasan DKI Jakarta, pendidikan di pulau ini masih terbatas. Bangunan sekolah cuma ada 1 dan menampung jenjang SD dan SMP. Kalau ingin melanjutkan ke SMA, mereka harus menyeberang ke pulau sebelah, Pulau Kelapa Dua atau Pulau Pramuka, dan kuliah di Kota Jakarta. Untungnya Pulau Sebira sudah dapat perhatian khusus dari pemda dan beberapa perusahaan yang memberikan banyak sekali fasilitas penunjang pendidikan. Jadi, meski lokasinya di pulau, mereka tidak ketinggalan informasi tentang dunia luar.

Keterbatasan jangkauan pendidikan dan edukasi yang didapat para orangtua dalam mengutamakan pendidikan anak juga mempengaruhi perkembangan generasi di daerah setempat. Aku baru menyadari itu sejak banyak berjalan dan banyak melihat. Memang tak sia-sia orangtuaku menyekolahkanku. Pasti repot melakukan perencanaan pendidikanku selama ini. Fenomena-fenomena tentang pendidikan yang kulihat sekarang sungguh mengusikku. Generasi muda terus bertambah tapi tidak tumbuh dengan lingkungan yang teredukasi dengan baik. Edukasi bukan dimulai dari anak, melainkan dari orangtua dan calon orangtua. Itu inti yang ingin disampaikan oleh Kak Seto saat talkshow parenting di Sunlife Edufair 2017 yang aku datangi.

Aku menghabiskan akhir minggu lalu untuk datang ke acara edufair yang diadakan oleh Sun Life Financial di Mall Kota Kasablanka. Aku pikir ini acara tentang parenting dan pameran sekolah saja. Namun, aku salah. Sun Life Edufair 2017 dikemas lebih fun, lebih menarik, lebih edukatif, dan terbuka untuk siapa pun. Nggak cuma untuk orangtua atau anak sekolah.

Sun Life Edufair 2017
Sun Life Edufair 2017 hari pertama.
Sun Life Edufair 2017
Talkshow Parenting bersama Kak Seto.
Sun Life Edufair 2017 di Kota Kasablanka
Suasana Sun Life Edufair 2017 di Kota Kasablanka.

Penjelasan Kak Seto tentang pola kecerdasan dan kreativitas anak inilah yang membuatku betah duduk di atrium mall Kokas pada hari itu. Pikiranku ikut berkelana ke mana-mana seiring dengan contoh positif yang diberikan Kak Seto tentang cara-cara didikan anak. Ia ingin menanamkan bahwa anak tidak boleh dimarahi. Hak mereka adalah bermain. Aku jadi senyum-senyum sendiri sambil berpikir, "Kok, aku banyak mainnya malah sampai hari ini?" Kehidupan super fun anak akan mempengaruhi caranya berpikir, bertindak, dan bergaul. Intinya, Kak Seto berpesan bahwa didiklah anak dengan cinta agar ia bahagia. Jika si anak bahagia, kita akan melahirkan generasi yang bahagia juga kelak. Wow sekali ya penjelasan dari Kak Seto. Negara ini memang butuh banyak Kak Seto biar kita tahu dan sadar bahwa pendidikan itu perlu.

Omong-omong soal pendidikan dan beberapa fenomena yang kulihat di beberapa daerah, aku melihat semua keterbatasan pendidikan kita adalah sistem manajemennya. Khususnya dana. Kalau membahas tentang dana, tentu akan sedikit sensitif, apalagi dana pendidikan. Sun Life Edufair 2017 menggandeng 20 sekolah dasar formal dan 5 sekolah informal di Jakarta untuk berpartisipasi dalam School Exhibition serta Brighter Education. Stand-stand sekolah juga didekorasi playful, lengkap dengan payground untuk anak-anak SD. Setiap sekolah diberi kesempatan untuk presentasi di depan pengunjung edufair tentang keunggulan sekolah masing-masing. Bahkan, ada unjuk bakat juga di acara Brighter Talent dari masing-masing perwakilan sekolah. Melihat keunggulan setiap sekolah yang punya cara sendiri dalam mendidik anak, tentu akan sangat berbanding lurus dengan biaya pendidikannya. Agak ngeri, ya, kalau melihat biaya sekolah anak masa kini, setiap tahun terus naik.

Booth-booth sekolah yang super kreatif dan super fun.
Sun Life Edufair 2017
Ada pola bermain sambil belajar yang diterapkan beberapa sekolah.

Namun, rezeki anak selalu ada kalau memang sudah diniatkan. Di event yang berlangsung selama 3 hari ini, para orangtua dan calon orangtua bisa konsultasi juga tentang perencanakan pendidikan anak melalui Sun Life Indonesia. Sun Life membuka fasilitas untuk siapa pun yang ingin membuat perencanaan pendidikan anaknya dengan lebih tertata. Ini ide yang menarik, sih, menurutku. Semua hal tentang pendidikan anak itu memang harus dikomunikasikan. Sun Life sudah memulai itu dengan memberikan beberapa fitur perencanaan pendidikan yang dinamakan Bright Education. Bright Education dari Sun Life Indonesia baru diluncurkan di Sun Life Edufair 2017, lho. Jadi masih fresh from the oven banget, nih. Ini efektif banget buat mengatur perencanaan pendidikan anak. Apa saja yang disediakan oleh Sun Life Indonesia dalam berperan memajukan pendidikan kita?
  • Fitur Sekolah, berisi informasi lengkap tentang sekolah yang hadir dalam School Exhibition di Sun Life Edufair 2017 lalu.
  • Fitur Komparasi, menjadi fitur untuk memberikan perbandingan sekolah untuk mempermudah para orangtua memilih sekolah yang tepat untuk anaknya.
  • Fitur Kalkulator, untuk memproyeksikan biaya pendidikan dan membantu orangtua menyusun perencanaan pendidikan sejak dini.
  • Fitur Artikel, berisi artikel-artikel menarik tentang dunia pendidikan dan anak.
Sun Life Edufair 2017
Sembari ibu-bapaknya nyari informasi tentang Sun Life Indonesia, anak-anaknya asyik main lego.
Betapa beruntungnya kota-kota besar seperti Jakarta yang menyediakan fasilitas perencanaan pendidikan anak sejak dini ini, seperti yang dilakukan Sun Life Indonesia. Beruntung pula anak-anak zaman sekarang yang punya banyak alternatif dalam mengembangkan diri. Tinggal orangtua cerdas saja yang menyalurkannya. Aku harus catat dengan baik, nih, untuk bekal masa depan.

Aku merasa saat ini tak sia-sia telah menempuh pendidikan hingga jenjang S2. Aku punya misi sendiri. Tujuanku bukan untuk jadi akademisi. Bukan. Bukan pula untuk mengejar posisi tinggi di perusahaana BUMN atau pemerintahan. Bukan untuk adu keren atau adu gelar dengan orang lain. Menurutku  kuliah secara tidak langsung menanamkan pola pikir dan cara pandang yang lebih luas, apa pun jurusannya. Aku sekaligus percaya bahwa jika ingin mengubah bangsa ini jadi lebih baik, dimulai dari diri sendiri. Jika aku suatu hari nanti akhirnya jadi ibu, aku sudah siap sepenuhnya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In Hospitality Land

Penginapan Asri dan Nyaman a la Pawon Cokelat Guest House

Hujan mengguyur Kota Yogyakarta sore itu. Aku dan Junisatya sedang berada di Kota Gudeg itu untuk beberapa hari, demi menghadiri hajatan sahabat, menyemarakkan HUT Yogyakarta, dan sekaligus merayakan ulang tahunku. Berada di Jogja memang selalu meninggalkan kesan bagiku.

Kami hanya menyewa motor untuk berkeliling Jogja. Lalu hari itu, hujan mengguyur kota begitu awetnya. Kami sempat berteduh beberapa kali di pinggir jalan, sekembalinya dari Prambanan dan Mangunan, dua destinasi yang lokasinya jauh dari pusat Kota Jogja. Badan sudah kuyup, semangat mengendur, dan super lelah, tak ada yang lebih kudambakan selain mandi air hangat dan kasur. Junisatya akhirnya memacu motornya menembus gerimis ke arah Malioboro.

Kami menginap di Pawon Cokelat Guest House yang berada persis di sebuah gang di Malioboro. Junisatya mengarahkan motor ke Jalan Sosrowijayan, lalu terus menuju gang pertama di sebelah kanan. Aku turun dari motor dan Junisatya mematikan mesin motor. Kami berjalan masuk ke gang itu sembari menuntun motor, masih dalam keadaan hujan rintik. Di depan gang sudah ditulis sebuah aturan bahwa gang ini adalah area bebas mesin kendaraan bermotor. Ini juga berlaku di hampir semua gang di kawasan permukiman Yogyakarta. Jadi, tidak peduli hujan turun begitu awet, jika lewat gang ya kami harus mematikan mesin motor. Rasanya tenaga ini mau habis disedot dinginnya malam. Pawon Cokelat berada di paling ujung gang itu.

Pawon Cokelat Guest House
Ini dia Pawon Cokelat Guest House.

Pawon Cokelat Guest House
Instalasi depan Pawon Cokelat Guest House.

Kedatangan kami disambut oleh seorang staf laki-laki yang berjaga di front desk. Aku menitipkan helm yang basah dan kunci motor. Dengan baik hati dan penuh pengertian, Mas (yang aku lupa menanyakan namanya) membantu memarkirkan motor. Aku dan Junisatya langsung menuju kamar di lantai 2. Kamar kami persis menghadap ke balkon depan Pawon Cokelat. Pintu kaca bening merupakan akses utama menuju kamar.

Aku langsung merebahkan badan di atas kasur. Lega sekali sudah sampai di kamar mungil dengan nuansa industrialis ini. Setelah mandi air hangat, staf yang menyambut kami di pintu depan mengantarkan dua cangkir minuman cokelat hangat untukku dan Junisatya. Wangi cokelatnya menggoda dan sukses menyempurnakan kehangatan malam itu. Pawon Cokelat Guest House memang juara dalam menyajikan secangkir hot chocolate. Cokelatnya kental dan rasanya pas.

Pawon Cokelat Guest House
Ini kamarku.

Pawon Cokelat Guest House
Hot Chocolate khas Pawon Cokelat.

Pawon Cokelat berkonsep guest house yang memiliki hanya 10 kamar. Karena berlokasi dekat dengan Malioboro, Pawon Cokelat nyaris tak pernah sepi. Dengan dekorasi dan instalasi yang berbau industrialis, Pawon Cokelat memberikan ruang ternyaman bagi para tamu yang menginap di sini. Suasananya sungguh homey. Itu yang kurasakan pagi hari saat membuka pintu kamar. Meski berada di dalam gang, guest house ini tidak pengab. Nuansa landscape di depan kamar membuat guest house lebih asri. Pot-pot tanaman memenuhi setiap sudut dan sisi teras bangunan. Bahkan ada vertical garden di sisi tembok lobi yang menjulang hingga menyentuh langit-langit lantai 2. Pagi-pagi sekali, aku mematikan AC kamar dan membiarkan udara pagi yang segar masuk ke dalam kamar.

Aku leyeh-leyeh di kamar sampai pukul 8. Saking nyaman dan segarnya suasana pagi hari di Pawon Cokelat, aku tidak mau melakukan apa-apa hari itu. Tapi kami harus sarapan. Jadilah aku turun ke kafe dekat dengan lobi dan pantry. Tidak ada cokelat pagi itu. Sembari menunggu sarapanku yang sedang disiapkan di pantry, aku menyeduh teh hangat untuk membangun mood. Melihat dekorasi cafe yang unik, penat hujan-hujanan hari sebelumnya luntur sudah. 

Pawon Cokelat Guest House
Pagi yang segar di Pawon Cokelat.

Menu sarapan di Pawon Cokelat Guest House
Menu sarapan Indonesian mix American.

Pawon Cokelat Guest House
Kafe cozy di Pawon Cokelat.

Ada dua menu sarapan yang disediakan di guest house ini, menu Indonesian dan American. Pilihan menu sarapan sudah diberikan ke para tamu saat check in. Jadi saat sarapan tiba, semua sudah tersedia untuk kita. Aku tentu saja memesan nasi goreng saja biar kenyang, sedangkan Junisatya memilih omellette dengan topping sosis serta grill tomato. Kalau kamu ikut menginap di sini, kamu tidak perlu sungkan meminta air hangat atau air dingin ke pantry. Karena ini guest house, suasananya lebih friendly, kok.

Sisa waktu hari itu kuhabiskan di beranda lantai 2 yang merupakan public space yang dilengkapi wifi yang kencang di guest house ini. Aku sempat menyusuri tangga hingga lantai 3 yang merupakan rooftop. Ada meja dan bangku juga di rooftop ini yang pasti asyik dijadikan lokasi santai menjelang malam. Aku dapat bocoran dari Bu Eki, pemilik Pawon Cokelat, bahwa nanti Desember 2017 akan dibuka Chocolate Cafe di rooftop ini. Nggak salah memang namanya Pawon Cokelat, suguhan cokelat hangat di guest house ini sudah teruji rasanya. Apalagi dulu sebelum guest house ini ada, Pawon Cokelat itu justru merupakan toko cokelat. Oleh karena itulah, pemilik guest house ini ingin memadukan hospitality dengan kafe cokelat sesuai filosofi Pawon Cokelat tentang cokelat yang menjadi sumber kehangatan dan energi.

Pawon Cokelat Guest House
Ruang santai di Pawon Cokelat.
Pawon Cokelat Guest House
Nuansa nyaman terlihat dari sini.

So far, menginap di Pawon Cokelat memberikan tingkat kenyamanan yang super. Kalau kamu mencari tempat menginap yang tenang, asri, nyaman, dan budget rendah tetapi masih di pusat kota, Pawon Cokelat Guest House adalah tempat yang tepat. Staf guest house juga sungguh ramah. Kamu tinggal jalan kaki dari jalan Malioboro dan masuk gang kecil untuk sampai ke guest house ini. Dengan rate berkisar IDR 325.000, kamu sudah bisa tidur dengan nyenyak, tidak jauh dari pusat kota, sarana transportasi gampang, dekat dengan stasiun dan halte transjogja, serta berada di antara pusat jajanan.

Thank you, Pawon Cokelat, for your kind hospitality.


Pawon Cokelat Guest House

Booking information : Eki Rahmawati 087878809008
Website : www.pawoncokelat.com
Email : info@pawoncokelat.com
Instagram : @pawoncokelat

Read More

Share Tweet Pin It +1

20 Comments

In Abroad Land Journey Land

Peradaban Awal di Old Tbilisi Wall, Georgia

Mengunjungi kota bernama Tbilisi jauh dari list impianku. Tapi Tuhan menjawab semua harapanku tentang mengarungi belahan dunia yang punya sejarah hebat. Lalu aku sampai di Kota Tbilisi, Georgia bertepatan dengan pertengahan Ramadhan tahun ini. Aku bertekad untuk melanjutkan puasa sampai akhir Ramadhan di kota ini. Tbilisi salah satu kota hebat yang menarik perhatian. "Tbili" artinya "warm atau hangat" dalam bahasa Rusia-Georgia. Sejarah awalnya itu saat King Vakhtang Gorgasali menemukan sumber mata air panas belerang dekat saat ia merambah hutan mengejar seekor burung. Lalu dinamakanlah kota itu Tbilisi. Vakhtang adalah Raja Iberia, Georgia Timur (Kartli) yang sempat berperang melawan Iran. Sejarah panjang perjuangannya di persekutuan Kekaisaran Bizantium (polemik sejarah Timur Tengah sana) dan melawan Sasanian Iran, menjadikan King Vakhtang sebagai tokoh paling populer dalam sejarah Georgia pada Abad Pertengahan. Karena beliau yang memberi nama pada Kota Tbilisi, ia disebut sebagai Founding Father kota yang disebut juga City of Hot Spring itu. Nggak salah ketika Tbilisi mengabadikan kisah heroik King Vakhtang Gorgasali dalam bentuk Monumen King Vakhtang Gorgasali.

Peradaban awal di Old Tbilisi Wall Georgia
Old Tbilisi Wall Georgia, bentuk peradaban lama di lereng bukit Sololaki.

Monument of King Vakhtang Gorgasali

Saat berjalan-jalan di pusat kota Tbilisi, aku berhenti di salah satu bundaran besar dengan satu bangunan gereja dan patung orang berkuda di tepian Sungai Kura (sungai besar yang membelah Tbilisi). Rupanya itu itulah King Vakhtang yang termahsyur di depan gereja bernama Metekhi Church. Ini adalah lokasi pertama tempat King Vakhtang mendirikan kerajaannya dan menjadikan Tbilisi sebagai ibukotanya. Tidak tanggung-tanggung, nama jalan besar di sepanjang pinggiran sungai besar yang membelah Tbilisi itu dinamakan Vakhtang Gorgasali Street. Sebegitu cinta masyarakat Tbilisi padanya dan sebegitu besar penghargaan mereka terhadap sejarah.

Old Tbilisi Wall Georgia
Bundaran Tbilisi menuju Old Tbilisi Wall.

King Vakhtang Gorgasali Tbilisi
Di depan monumen King Vakhtang Gorgasali dan Gereja Metekhi.

Saat berada di Jembatan Metekhi, aku memandang sisa-sisa kebesaran sejarah Tbilisi. Ternyata Tbilisi negara yang sangat menghargai warisan budaya. Di balik pesatnya bangunan modern, kota ini menyisakan satu lokasi yang menjembatani negeri modern dengan sisa-sisa kejayaan peradaban masa dulu. Lewat Jembatan Metekhi yang persis berada di bawah Metekhi Church dan Monumen Vakhtang Gorgasali, kita dapat melihat kemegahannya yang lain, Old Tbilisi Wall.

Ya, dinding. Sebuah peradaban yang tumbuh di lereng bukit di depan Sungai Kura. Rumah-rumah tradisional Tbilisi bersusun di lereng bukit ini. Itulah sebabnya dinamakan Tbilisi Wall. Tbilisi Wall menjadi landmark Kota Tbilisi dengan kontur daratan yang berbukit-bukit.

Beberapa gadis Georgia yang menemaniku berjalan hari itu hendak mengajak kami ke puncak bukit untuk melihat pemandangan Kota Tbilisi dari atas. Ada dua alternatif cara mencapai puncak bukit itu. Pertama, dengan menggunakan cable car dengan tarif 7 Lari (mata uang Georgia, 1 Lari = Rp6.500,-). Namun, karena hari itu antrean cable car lumayan panjang padahal bukan hari libur nasional, kami pindah ke alternatif kedua, yaitu jalan kaki. Yes, sepertinya aku memang harus berjuang untuk mencapai bukit itu seperti perjuangan berdarah-darah King Vakhtang. #Lebay

Eh, tapi kan aku sedang puasa dan puasa di sana berdurasi 18 jam, apalagi saat itu memasuki musim panas. Aku juga sedang mengenakan ankle boots 9 cm karena baru pulang presentasi di workshop Folk Dance and Music Perkhuli Tbilisi 2017 bersama gadis-gadis penari cantik Georgia. Mereka pula yang memberikan ide mengajak kami berjalan-jalan di kota sesiangan itu. Membayangkan aku trekking di bawah terik dan mengenakan ankle boots ini... mari kita lihat sampai kapan aku bertahan.


National Botanical Garden of Georgia
Selepas melewati jembatan Metekhi, menyeberangi Sungai Kura, jalan mulai menanjak. Aku melewati beberapa pertokoan, kafe, dan hotel bergaya tradisional Georgia. Perlahan-lahan keramaian memudar ketika kami terus berjalan mendaki. Kami memasuki komplek rumah-rumah tradisional Georgia. Kondisinya masih sangat bagus dan terawat. Rumah-rumahnya banyak terdiri dari rumah panggung, mirip dengan gaya rumah tradisional kita. Bedanya, rumah-rumah mereka dibuat lebih banyak lorong dan atapnya lebih rendah untuk menangkal angin musim dingin masuk. Unik-unik, ya. Ada rumah yang masih dihuni, ada rumah yang disewakan sebagai hostel atau guesthouse, ada yang dijadikan toko wine, kafe, dan semacamnya. Aku terus berjalan.

Old Tbilisi Wall
Tbilisi Wall, peradaban di lereng bukit.

Old Tbilisi Wall
Bentuk-bentuk rumah tradisional.

Berada di Botanical Garden Georgia.

Jalan setapak bercabang dan tidak datar. Sedikit agak ke atas, kami sampai di gerbang National Botanical Garden of Georgia, meninggalkan kawasan permukiman penduduk. National Botanical Garden ini merupakan taman nasional dan menjadi salah satu objek wisata di Tbilisi. Kami dikenai tiket masuk sebesar 2 Lari per orang. Mulanya aku hendak mengantre di ticket box, tetapi Elene, yang resmi menjadi foreign-friend-ku mulai hari itu, sempat menahanku. Katanya beberapa teman kami dari India belum memiliki mata uang lokal. Kami sempat batal masuk. Namun, Elene dan seorang temannya Anuki memberi jalan tengah. Dia memintaku menukarkan uang Lari ke teman-teman India. Mereka akan menggantinya dengan mata uang mereka. Lalu Elene bilang, aku tak perlu membayar tiket lagi untuk 1 tim dari Indonesia. Mungkin semua di-cover sama teman-teman India. Masya Allah, berkah puasa.

Kami berjalan dengan riang memasuki Botanical Garden. Sebenarnya aku sendiri tidak tahu apa yang mesti dilihat di hutan lindung ini karena bentuknya tidak jauh berbeda dengan hutan hujan tropis di negara sendiri. Hanya bedanya, ya, Botanical Garden yang ini lebih tertata rapi. Lokasi yang tepat untuk short escape bagi orang Tbilisi. Rupanya perjuangan jalan kaki ke puncak bukit tidak sampai di sini. Botanical Garden ini adalah jalur alternatif untuk menuju puncak bukit. Tapi lebih dulu, aku melipir ke jalan menurun menuju sebuah air terjun. Aku sempat takjub juga, sih. Di Botanical Garden seperti ini terdapat air terjun meski dalam ukuran mini. Air terjun ini mengairi sebuah sungai kecil di antara Botanical Garden. Nanti tentunya akan bergabung ke Sungai Kura di pusat kota. Sungai Kura sendiri merupakan sungai panjang yang menghubungkan Turki, Georgia, dan Azerbaijan yang muaranya di Laut Kaspia.

Setelah jalan kaki cukup jauh dan panas, akhirnya aku bisa lihat yang adem-adem. Setidaknya aku bisa melepaskan sepatu tebal ini sejenak. Memang tidak banyak yang bisa dilakukan di pinggir sungai. Celup-celup kaki juga cukup.

Old Tbilisi Wall Georgia
Air terjun di Botanical Garden Georgia.

Old Tbilisi Wall Georgia
Bersama teman-teman cantik dari Georgia.

Air terjunnya terasa dingin tergerus angin musim semi yang mau berakhir. Segar sekali. Rasanya dahaga meronta-ronta ingin disiram pula. Tapi, dari Indonesia, aku sudah berniat untuk melanjutkan puasa meski traveling dan durasinya 6 jam lebih panjang. Begini rasanya. Asyik karena tak harus memikirkan camilan dan perut tak perlu meringis karena belum dapat makanan yang manis-manis.

Setelah istirahat sebentar di tepian air terjun, Elene dan Anuki mengajakku untuk kembali berjalan, kembali melewati tanjakan yang semakin curam saja. Panorama hijau Botanical Garden sungguh cantik. FYI, Botanical Garden ini punya trek yang mudah dijangkau. Tidak seperti jalan ke curug Cibeureum yang masih beralaskan tanah dan bebatuan. Meski tanjakan, jalan setapaknya sudah rapi dan disemen. Tidak ada semak liar atau tanah liat licin yang suram. Semua tanaman ditata, baik tanaman kecil, maupun pohon-pohon. Jalanan ini bersahabat untukku yang super-salah-kostum mengenakan baju formal putih, celana kulit hitam, dan ankle boots. Puasa pula.

Mother of Georgian Statue

Di bagian puncak bukit yang dinamakan Sololaki Hill, ada satu patung besar berwarna silver. Ke sanalah tujuan kami. Sebuah patung perempuan yang cukup besar dan terlihat dari tengah kota. Selain King Vakhtang Gorgasali, ada satu lagi tokoh sejarah penting di Tbilisi, Kartlis Deda alias Mother of Georgian. Teman Georgia kami bercerita pada kami bahwa Mother of Georgian ini semacam pahlawan perempuan yang rela mati demi menyelamatkan rakyatnya. Dia termasuk pejuang heroik perempuan di negara itu. Patung ini sengaja dibuat setinggi 20 meter dan diletakkan di puncak Sololaki Hill agar seluruh rakyat Georgia dapat melihat "ibu" mereka. Patung ini menarik. Mother of Georgian memegang 2 benda di tangannya. Ia mengenakan pakaian tradisional Georgia dengan memegang sebuah mangkok di tangan kiri yang merupakan simbol dari semangkuk wine untuk disuguhkan pada seorang teman yang berniat baik padanya. Lalu, di tangan kanan ia mengenggam sebilah pedang sebagai simbol waspada terhadap musuh. Begitulah simbol pejuang perempuan yang dikenang oleh rakyat Georgia. Rupanya Georgia tak perlu aksi emansipasi yang berlebihan, cukup dengan melihat ke arah patung Mother of Georgian ini, kita tahu bahwa posisi perempuan sama bagusnya dengan laki-laki.
Old Tbilisi Wall di belakang Mother of Georgian
Walaupun panas, jalan jauh, puasa, tetap happy.

Sebelah Mother of Georgian
Di sebelah Mother of Georgian.

FYI, Georgia adalah negeri penghasil wine terbesar di Eropa. Jadi, wine lumrah dijadikan welcome drink untuk menyambut tamu. Georgia juga punya kebun anggur, peach, burberry, strawberry, cherry, dan buah segar asam-manis menggiurkan.

Narikala Ancient Fortress

Dari patung Mother of Georgian, aku melihat Panorama Kota Tbilisi membentang. Dari pinggiran bukit Sololaki ini, ada tangga kembali ke komplek perumahan tua Tbilisi. Sepanjang tangga menurun itu, aku puas menatap panorama kota. Ada beberapa restoran di pinggiran bukit dengan teras yang mengarah ke panorama. Restoran itu memanggil-manggilku untuk duduk dan beristirahat. Tapi aku ditinggal rombongan. Jadi harus buru-buru. Tangga turunan itu melewati sisi sebuah kastil. Kastil ini juga bagian dari landmark Kota Tbilisi. Namanya Narikala Ancient Fortress yang sudah didirikan sejak abad ke-4. Konon, sejarah mencatat berbagai konflik dan perpindahan tangan kastil ini. Bani Umayyah dan Mongol pernah berada di sini dan merenovasi beberapa bagian. Rupanya ada jejak Islam yang kuat di kastil ini. Bangsa Mongol menyebutnya Narin Qala yang artinya Benteng Kecil. Tidak heran, di kawasan Old Tbilisi, aku melewati dua masjid dan beberapa orang mengenakan hijab.

Lokasi Narikala Fortress memang strategis. Bangunannya berada di lereng bukit yang menghadap ke Sungai Kura dan pusat Kota Tbilisi. Lokasinya memang pas dijadikan benteng pada zaman perang. Kini Narikala menjadi sebuah gereja orthodox. Sayang sekali aku tak sempat masuk ke dalam untuk melihat lukisan tentang Sejarah Georgia. Padahal seru juga kalau bisa melihat sejarah dari lukisan, apalagi masuknya gratis. Apa boleh buat, Elene sudah memanggil-manggilku untuk terus berjalan turun.

Old Tbilisi Wall di lereng bukit
Di depan Narikala Ancient Fortress.

Dari Narikala, jalanan mulai melingkar turun. Aku kembali ke susunan rumah-rumah kayu bergaya Georgia lama. Kami tidak kembali ke gerbang utama Botanical Garden. Ini akses jalan yang lain yang langsung menuju pusat kafe dan restoran. Tak beberapa menit berjalan, kami sudah sampai lagi di pinggir jalan Vakhtang Gorgasali. Elene membeli air mineral dingin untuk beberapa orang yang kehausan karena cuaca sungguh terik hari itu. Lagi-lagi aku hanya bisa menelan ludah.

Satu hari berkeliling Tbilisi Wall terasa cukup. Banyak sisa-sisa perjuangan yang membangun peradaban masa kini negara ini. What a beautiful day.

Ini pengalaman ter-"AHA"-moment-ku ketika menapaki satu sudut di Tbilisi, Georgia. Jalan tengah hari terik saat puasa memang membutuhkan perjuangan berat, apalagi bukan di rumah. Sebenarnya, begitu turun dari Botanical Garden, aku sudah sangat kelelahan dan dehidrasi hebat. Kulihat jam masih menunjukkan pukul 3 sore. Masih 6 jam lagi menuju buka puasa pukul 9 malam. Itu artinya puasa baru berjalan 12 jam. Kalau di Indonesia, tentu aku sudah bisa buka puasa. Sementara di Tbilisi saat berada di perpindahan musim semi ke panas, siang menjadi jauh lebih lama. Aku menimbang-nimbang kondisi tubuh. Besok masih ada agenda padat yang menunggu. Akhirnya di depan landmark kota Tbilisi, puasaku kalah. Aku berbuka dengan sebotol air mineral. Agak merasa bersalah memang. Namun, aku harus berpikir realistis juga, kan.

Mengingat momen itu, aku tidak menyesal. Aku bersyukur hidup di negara tropis yang punya waktu siang dan malam yang seimbang. Aku jadi jauh lebih bersyukur pernah merasakan puasa di tempat-tempat seperti ini, jauh dari rumah dan menjadi minoritas. Kenapa? Karena aku merasakan waktu demi waktu itu berharga. Siang sangat panjang diiringi dengan waktu tidur yang singkat karena malam cuma 6 jam. Jadwal Isya baru masuk pukul 11 malam. Lalu pukul 2 dini hari aku harus sahur karena pukul 3 sudah Subuh. Sahur menjadi kegiatan wajibku meski cuma makan serundeng, sambal dendeng, dan nasi putih (sengaja bawa dari Indonesia). Untungnya pemilik hotel tempat kami menginap sungguh baik menyiapkan makan malamku pukul 9 sementara jadwal makan malam di kafe hotel itu pukul 5-6 sore.

Hari-hari awal memang berat, tapi kemudian secara ajaib tubuhku mampu menyesuaikan. Aku tidak akan mau lagi menyia-nyiakan waktu yang berharga itu. Aku berada di Tbilisi sampai akhir Ramadhan. Aku merasakan waktuku cukup untuk melakukan banyak hal dalam satu hari meski puasa. Perjalanan memang jauh lebih melelahkan, tapi aku senang dapat menikmati proses itu jam demi jam (bukan sekadar hari demi hari lagi).

Old Tbilisi Wall Georgia
Meresapi Kota Tbilisi.

Jadi, pengalaman traveling itu akan jauh lebih indah saat kita menikmati prosesnya. Bukan sekadar melihat tempat, tapi juga melihat ke dalam diri sendiri. Ini tergantung bagaimana kita memaknai kemampuan otak menerima dan mengolah informasi, sudut pandang, kondisi tubuh, hingga interaksi dengan yang segala yang asing. Aku pun mencoba bernegosiasi. Dalam menit-menit dehidrasiku tengah hari saat menjalani puasa di Georgia, aku semakin berpikir bahwa traveling itu untuk mencari kebahagiaan. Entah itu saat perjalanan, atau pun saat pulang.

Tbilisi memang kota kecil. Sejak aku berada di sana, aku mulai memperbaiki list perjalananku. Aku mulai merunut lokasi-lokasi hebat lainnya untuk perjalananku berikutnya. Aku juga mencocokkan dengan jadwal penerbangan terbaik. Aku harus memperkirakan budget dengan destinasi. Seperti persiapan perjalanan ke Tbilisi ini, aku dan ibuku sudah merencanakannya 6 bulan sebelumnya karena memang dalam rangka mengikuti festival pertunjukan kebudayaan dunia. Melihat pengalaman itu, aku dipermudah dengan fitur pencarian tiket pesawat yang disediakan oleh Skyscanner. Aku tidak mau mencari tiket asal-asalan. Untung saja sebelum perjalanan ke Tbilisi, aku mengecek segala situs dan aplikasi dari Online Travel Agent (OTA), mencocokkan tanggal dan harga. Dari sana aku mengenal Skyscanner yang memberikan harga terbaik di bulan-bulan terbaik. Kamu mesti coba. Kamu bisa menjadwalkan perjalananmu melalui Skyscanner dan Skyscanner akan memilihkan jadwal penerbangan dengan harga paling murah.

Kok, bisa?

Iya, Skyscanner merupakan website dengan fitur keren yang dapat membandingkan harga tiket dari berbagai OTA lain. Kalau kamu bingung mau ke mana dan kapan (kan, suka ada orang yang hidupnya mendadak galau dan ingin terbang entah ke mana), Skyscanner pasti mengerti. Tulis saja kota asal, lalu biarkan kolom 'ke' terisi dengan "Mana saja". Gerakkan cursor ke jadwal berangkat, nanti ada pilihan tanggal tertentu dan kolom grafik sepanjang bulan.
Cari tiket pesawat murah di Skyscanner
Skyscanner punya grafik harga tiket maskapai untuk mempermudah kita menentukan jadwal perjalanan termurah.

Cari tiket pesawat murah di Skyscanner
Fitur Skyscanner yang paling diandalkan, nih.
Nah, kamu tinggal pilih asal untuk tahun depan. Nanti Skyscanner akan mendata semua tiket-tiket murah dan terbaik. Ada info harga juga kalau kita ingin informasi detail tentang tanggal-tanggal yang memuat harga promo. Seru, ya.

Kalau untuk perjalanan luar negeri, ada banyak maskapai dengan waktu transit beda-beda. Nah, untuk jadi smart traveler, jangan lupa cek tempat transit, durasi dan berapa kali transit. Ini penting agar agenda perjalananmu tidak berantakan. Skyscanner sudah memilihkan alternatif penerbangan berikut dengan akomodasinya, ada hotel dan penyewaan mobil juga. Kebetulan, karena puasa, aku memilih penerbangan malam (biar bisa makan terus selama di pesawat) dengan dua kali transit (Kuala Lumpur dan Istanbul) menggunakan Turkish Airlines.

Traveling ke Georgia dengan Skyscanner Indonesia
Traveling ke Georgia bulan puasa.



*Artikel ini mendapat ranking 6 dalam Skyscanner Indonesia Blog Competition 2017: "AHA" Moment Saat Travel. #AHASkyscanner, #SkyscannerIndonesia

Read More

Share Tweet Pin It +1

40 Comments