In Movie Land

Gempuran Teror di Film Sebelum Iblis Menjemput

Mumpung masih segar di kepala, aku ingin menulis review film Sebelum Iblis Menjemput. Jarang sekali aku mau menulis review film horor di blog ini. Ngerinya blog ini jadi laman horor. Tapi aku sangat mengapresiasi film yang dimainkan oleh Chelsea Islan dan Pevita Pearce ini.

Meski nontonnya telat, baru minggu ke-3 sejak film pertama kali naik layar, akhirnya rasa penasaranku terhadap film ini terbayar. Dari sekian banyak film horor yang tayang pertengahan tahun 2018, entah kenapa, aku tertarik dengan film ini. Tertariknya hanya karena Chelsea Islan main di situ dan penasaran dengan duet mautnya dengan Pevita Pearce. Akan jadi apa ya Chelsea Islan main film horor? Aku mau menonton film ini lantaran dengan keyakinan bahwa Chelsea Islan tidak akan main-main dalam memilih film. Setidaknya jika aku kecewa dengan filmnya, aku nggak kecewa dengan performa akting Chelsea Islan.
Gempuran Teror di Film Sebelum Iblis Menjemput. Source: youtube.com

Teror Tiada Henti di film Sebelum Iblis Menjemput. Source: idntimes.com
Sosok Alfie di Film Sebelum Iblis Menjemput. (foto diambil dari sini)

Lalu, apakah Sebelum Iblis Menjemput mengecewakan? Tidak sama sekali. Scene awal film ini sudah membuat penontonnya gelisah. Kegelisahan itu tidak lantas berhenti di situ. Seakan tidak puas, filmmaker tidak ingin penontonnya tenang. Gempuran kejutan ketakutan alias jumpscare terus menghantui setiap scene. Film ini bercerita tentang seorang bapak yang ingin kaya dan menyerahkan diri pada pesugihan. Dia lantas menukar kebahagiaan keluarganya demi kekayaan. Anak dan istri pertama ditinggal, malah istri pertamanya dijadikan tumbal untuk pesugihan. Lalu ia menikah lagi dengan janda yang juga artis terkenal pada masanya. Belasan tahun kemudian, si bapak, Lesmana, jatuh miskin dan sakit parah. Ia terbaring di rumah sakit dengan kondisi yang tak dapat dijelaskan oleh dokter. Aku langsung menyimpulkan, pasti ada satu tumbal yang tidak mau diserahkan oleh Lesmana. Akibatnya, Alfie (Chelsea Islan), anak dari istri pertamanya mulai dihantui oleh kisah kelam di masa lalunya. Sementara itu, Maya (Pevita Pearce) yang merupakan anak bawaan dari istri kedua Lesmana berusaha berbaik-baik diri dengan Alfie agar Alfie mengizinkan mereka masuk ke vila Lesmana untuk mencari sisa dokumen kekayaan Lesmana. Dari vila itulah, cerita horor dimulai.

Tanpa sengaja, Alfie dan ibu tiri serta anak-anaknya bertemu di vila Lesmana saat Lesmana masih terbaring sakit di rumah sakit. Alfie datang untuk mengenang masa lalunya yang indah bersama ibunya. Sementara Maya, ibunya, dan saudara-saudaranya datang untuk menggeledah rumah itu. Mereka yang kini jatuh miskin harus tetap bisa survive dan mencoba mencari aset lain dari bapak mereka. Namun, keserakahan itu berakhir nahas. Mama mereka (Karina Suwandi) menjadi korban pertama. Di sinilah ketakutan penonton digiring pertama kali. Tak hanya permainan gambar yang bikin kita terperanjat berkali-kali, permainan suara menjadi faktor penting keberhasilan film ini menebar teror. Suara-suara monster, tingkah Mama Maya yang jadi zombie penuh darah, adegan hujan dan lumpur jadi semakin mencekam. Muntah darah yang menyembur ke muka diperlihatkan senyata mungkin. Adegan tarik-menarik dan gesekan kuku hingga patah yang bikin ngilu cukup membuatkan mengencangkan rahang. Lalu yang paling juara adalah adegan ibu kandung Alfie yang merobek mukanya sendiri, pencabutan kepala hingga putus, serta adegan Maya memelintir anggota tubuh saudaranya lewat boneka santet dengan bunyi tulang patah. Gempuran teror pesugihan dan  tumbal juga mengiringi semua peristiwa itu. Penempatan teror dan kejutan diletakkan pada bagian yang pas, sehingga kemunculannya tak bisa ditebak.

Review film Sebelum Iblis Menjemput. Source: wowkeren.com
Sosok Maya di Sebelum Iblis Menjemput. (Foto diambil dari sini)

Pada akhirnya cerita akan mengantar kita pada duel antara Alfie dan Maya yang memainkan boneka santet diri mereka masing-masing dan keluarga yang seakan telah terdaftar sebagai tumbal. Sepertinya memang film ini takkan berhenti menampilkan teror demi teror di sepanjang cerita. Bahkan, keberpihakan kita pada tokoh pun jadi ikut dipertanyakan. Semua punya sifat kelam di balik sisi baiknya. Tokoh Ruben yang merupakan saudara kandung Maya juga dibuat gamang. Meskipun di bawah payung saudara, mereka satu sama lain saling menikam karena kehilangan kepercayaan terhadap satu dan yang lain.

Teriakan Alfie, jeritan Nara, ketawa Maya, dan keresahan Ruben terus menghantui penonton sepanjang film. Belum lagi saat mereka harus berhadapan dengan iblis yang sebenarnya. Penyembah pesugihan itu sendiri sudah dibunuh oleh Lesmana dan dikubur di salah satu ruangan gelap di vila itu. Alfie harus memecahkan kunci teror di rumahnya itu. Bagaimana mereka bisa keluar dari vila gelap itu dengan tenang? Apa sebenarnya yang diminta oleh iblis itu?

Apa arti pesugihan itu sepertinya tidak lagi penting di dalam cerita. Sebab musabab kematian demi kematian dan misteri dari tindakan Lesmana yang haus harta dibiarkan menguap. Bahkan kematian Lesmana sendiri di rumah sakit akibat rambut yang muncul secara gaib dari mulutnya juga tidak menjadi berita. Hanya menjadi adegan mencengangkan dan mengerikan yang ditampilkan film untuk kita. Tapi cukup membuat syok. Film menyajikan teror demi teror, entah karena darah, karena rambut, karena boneka santet, atau suara monster yang semua itu diramu dalam gempuran kejutan ketakutan yang bikin kita gelisah terus sampai film selesai.

Sebelum Iblis Menjemput jadi film horor thriller yang bersimbah darah. Chelsea Islan dan Pevita Pearce menjadi sorotanku di sepanjang film. Penampilan mereka sama sekali tidak mengecewakan. Mereka berdua saling mengisi sehingga memperkuat drama dalam cerita. Chelsea dan Pevita bisa dibilang sukses menebar teror sepanjang film. Aku acungi jempol untuk film ini.



Skor film 8/10

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Story Land

Ingin Punya Laptop Super Ringan Buat Traveling

Kalau traveling, barang apa aja yang wajib kamu bawa? Nah, kalau aktivitasnya nggak sekadar traveling, tapi juga untuk urusan bisnis atau tuntutan pekerjaan sebagai content creator dan travel-blogger sepertiku, list barang wajib bawa ke mana-mana itu memang agak banyak dan cenderung berat. Kalau packing, selain pakaian, skincare, dan alat mandi, aku juga harus bawa hape, kamera, lensa tambahan, perangkat charger termasuk power bank, tripod, dan laptop. Sebanyak itukah? Iya, sebanyak itu beban bawaan, tapi tenang, itu belum seberapa daripada beban hidup yang jauh lebih berat kok. :)

Sebenarnya sudah banyak yang mengomentari barang bawaanku yang super banyak ini, padahal ini sudah minimalis lho. "Ngapain laptopnya dibawa?" Duh, rasanya kalau aku meninggalkan laptop, separuh jiwa ini hilang. Sebergantung itu aku sama laptop. Aku harus benar-benar memilih barang bawaan karena electronic items-ku harus punya space di dalam ransel atau koper. Tapi beberapa kali memang laptop kutinggal jika perjalanannya tidak memungkinkan bawa laptop.

Ingin punya laptop Acer Swift 5 buat traveling. source: jurnaland.com
Menjalani hidup jadi digital nomad dan travel-blogger, harus siap bawa laptop ke mana-mana. Ini aku saat berada di Pekanbaru.
Ingin punya laptop super ringan buat traveling. Source: jurnaland.com
Saat trip ke Krakatau pun dan nge-camp di Pulau Sebesi, aku harus bawa laptop karena ada pekerjaan yang deadline saat itu.
Contohnya, saat aku trip ke Sumbawa beberapa minggu lalu, dengan berat hati aku harus meninggalkan laptop di rumah. Mobilitas selama di Sumbawa dengan aku yang harus menenteng-nenteng tripod, matras, dan tenda sekaligus, selain barang-barang pribadi ya, aku menyerah untuk bawa laptop. Selain karena berat, kurang aman juga bawa laptop di antara barang-barang outdoor activities yang memenuhi carriel. Maklum, aku dan teman-teman nge-camp di beberapa lokasi demi merasakan syahdu alam Sumbawa. Jadi, memang tidak memungkinkan untuk bawa laptop. Tapi, akibatnya, di tengah perjalanan, aku harus menge-post beberapa konten. Aku harus mencari satu tempat yang full sinyal dan bekerja dengan mengandalkan smartphone yang tentu tidak seleluasa bikin konten di laptop. Ah, sayang sekali. Perkara laptop ditinggal, bikin konten jadi ala kadarnya.

Pengalaman lain soal bawa-bawa laptop pas traveling juga pernah kualami saat berada di Kuala Lumpur International Airport. Ketika mau masuk imigrasi border di Kuala Lumpur International Airport, barang bawaanku diperiksa dan ditimbang. Aku memang naik maskapai yang mengharuskan kapasitas bagasi kabin tak lebih dari 7 kg. Kamu pasti tahu maskapainya. Nah, pada saat itu, koper dan tripod sudah kumasukkan ke bagasi pesawat saat check in. Aku tinggal menenteng ransel dan 1 paperbag isi makanan. Ternyata saat ditimbang, ranselku lebih dari 10 kg. Lantas aku ditahan dulu dan disuruh ke konter check in untuk memasukkan ransel itu ke bagasi. Aku langsung mengomel pada petugas bandara. Ranselku itu isinya barang elektronik semua: laptop, kamera, power bank, seperangkat charger, dan dompet. Namun, si petugas bandara tidak mau tahu, aku harus mengurangi bawaanku jika ingin tetap masuk boarding room. Aku cuma bisa mendesah, begini susahnya kalau naik maskapai murah.

Aku berkeliling bandara mencari semacam totebag murah. Lalu aku memilah-milah isi ransel yang bisa dimasukkan ke bagasi. FYI, di ujung konter check in ada timbangan. Jadi kita bisa menimbang sendiri barang bawaan di sana. Aku mengeluarkan seperangkat charger, uang receh yang bikin berat, dan dompet. Yang penting  paspor, boarding pass, dan sejumlah uang sudah kukantungi. Charger laptop, hape, dan kamera kubungkus dengan scarf yang tadinya kukalungi di leher lalu kumasukkan ke dalam totebag. Biar aman dan nggak terbentur di dalam bagasi. Jadi, sudah, ranselku lumayan enteng waktu itu, pas 7 kg.


Ingin punya laptop super ringan buat traveling (5). Source: jurnaland.com
Satu ransel harus cukup menampung laptop, kamera, dan perangkatnya.

Laptop Acer Swift 5 super ringan (1). Source: jurnaland.com
Ini dia penampakan laptop Acer Swift 5 warna blue.
Begitulah pengalamanku jalan ke mana-mana membawa laptop dan travel items lainnya. Ngomong-ngomong soal laptop, dulu aku ingin sekali punya laptop yang super ringan dan tipis. Tapi performanya bisa untuk edit foto/video dan sesekali untuk gaming. Biasanya kan laptop untuk kebutuhan multimedia semacam itu berat dan body-nya lebih tebal. Ya, seperti laptop yang selama ini kubawa-bawa. Tapi rasanya mustahil ya produk komplit itu ada dalam 1 laptop.

Nah, baru aja aku dapat kabar gembira dari Acer. Akhirnya bawa laptop pas traveling itu nggak jadi hal yang merepotkan lagi. Kenapa? Acer baru aja meluncurkan seri laptop Swift 5 yang beratnya cuma 970 gram alias kurang dari 1 kg. Wow, ringan banget. Saking ringannya, aku bisa mencapitnya dengan 2 jari lalu kutenteng ke mana-mana. Aku langsung browsing banyak tentang produk terbaru dari Acer ini untuk meyakinkan diri. Apa saja kelebihannya?

Laptop Acer Swift 5 buat traveling. Source: jurnaland.com




Laptop Acer Swift 5 buat traveling (2). Source: jurnaland.com


Swift 5 ini lebih unggul dari Swift 3 yang juga memiliki performa multimedia yang cepat. Laptop Acer Swift 5 dirancang khusus untuk pengguna yang punya mobilitas tinggi, didesain dengan layar sentuh full HD IPS dengan bezel berukuran 5,87 mm. Super slim, bukan? Rasio layarnya 87,6 % untuk memaksimalkan pandangan. Laptop seri terbaru dari Acer ini menggunakan teknologi Acer Color Intelligence yang bisa menyesuaikan gamma dan saturasi warna secara real-time sesuai kondisi sekitar. Selain itu, ada teknologi Acer BluelightShield yang memungkinkan penyesuaian dari emisi blue-light pada layar sehingga mata tetap nyaman menatap layar berjam-jam. Oiya, laptop Swift 5 ini dilengkapi dengan backlit pada keyboard dan sensor sidik jari untuk akses pengguna lebih aman.

Prosesornya sudah menggunakan Intel Core terbaru kok, didukung dengan Windows 10, dan performa antilelet. SSD-nya 1 TB dan memori LPDDR3 hingga 16 GB, makanya sistemnya cepat dan responsif. Kan, repot juga kalau lagi edit video, tiba-tiba laptop hank, entah karena kelelahan atau kepanasan. Satu lagi yang bikin laptop ini makin keren di mataku, Acer Swift 5 sudah 'dirasuki' Intel Wireless-AC 9560 yang menawarkan kinerja gigabit nirkabel 2x2 802.11ac yang meningkatkan pengalaman streaming dan gaming. Baterainya awet hingga 12 jam. Wohooo, ini baru laptop serbaguna, bisa diajak kerja sama, dan nggak malu-maluin dibawa ke mana-mana.

Laptop Acer Swift 5 buat traveling (3). Source: jurnaland.com

Laptop Acer Swift 5 buat traveling (4). Source: jurnaland.com

Kalau udah punya Acer Swift 5, sih, aku udah nggak perlu galau lagi memilih bawa laptop atau tidak pas lagi packing. Sudah pasti, laptop berukuran 14 inci ini akan kumasukkan duluan ke dalam ransel. Impianku punya laptop super ringan buat traveling langsung terwujud. By the way, soal harga memang sangat bersaing. Laptop ini dijual dengan harga 19.999.000. Ada harga, ada kualitas, bukan?! Oiya, varian warnanya untuk saat ini cuma ada 2, gold dan blue. Kalau aku, sudah pasti pilih yang gold, biar nggak monoton, punya laptop warna gelap terus.


Ingin punya laptop ringan buat traveling (3). Source: jurnaland.com
Aku pernah bawa notebook yang cuma bisa buat ngetik aja. Biar enteng, tapi nggak bisa buat edit multimedia. Hiks.

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Hospitality Land

Cerita Mudik dan Staycation di Maxone Hotel Surabaya

Road trip Jakarta-Madura saat mudik lebaran tentu jadi perjalanan yang panjang (baca ceritanya di sini). Aku dan keluarga menempuh jarak ratusan kilometer dalam waktu 26 jam. Soal waktu, kami termasuk beruntung karena perjalanan dilakukan H+1 lebaran 2018 alias hari kedua Idulfitri. Kemacetan tidak separah puncak arus mudik yang macetnya hingga berkilo-kilo meter. Meski setiap rest area pasti macet, setidaknya perjalanan kami masih mulus ketika memasuki tol Cipali. Ini juga kali pertamaku melakukan road trip menyusuri ujung barat Pulau Jawa hingga ujung utara Pulau Madura. Biasanya ke Surabaya naik kereta atau pesawat. Aku juga pernah sekali naik bisa dari Surabaya ke Jakarta lantaran kehabisan tiket kereta. Itu juga sudah lama sekali. Road trip kali ini berbeda karena pakai kendaraan sendiri dan aku ikut andil menyetir pula sebagai sopir cadangan.

Lelah sudah pasti. Setelah perjalanan panjang ke Sumenep, Madura, aku dan keluarga memutuskan untuk kembali ke Kota Surabaya dan menginap di Maxonehotels.com Surabaya. Lokasinya strategis, berada di pusat kota dan tidak jauh dari Tunjungan Plaza, mall kebanggaan orang Surabaya--kalau aku ke Surabaya, pasti mainnya ke Tunjungan Plaza.

Staycation di Hotel Maxone Surabaya (1). Source: jurnaland.com

Staycation di Hotel Maxone Surabaya(2). Source: jurnaland.com

Staycation di Maxone Hotel Surabaya (3). Source: jurnaland.com

Begitu sampai di parkiran depan Maxone Hotels, kami langsung disambut lampu-lampu temaram dari arah lobi. Karena nuansa libur lebaran, parkir mobil di depan Maxone penuh sekali. Untungnya mobil kami dapat terparkir dengan baik, setidaknya tidak di pinggir jalan. Memasuki lobi, dekorasi kursi dan meja warna-warni menyambut kami. Dominasi warna hijau muda juga tampak mencolok. Pelayanan dari resepsionis juga sangat ramah. Barang-barangku diantar langsung ke depan pintu kamar oleh bellboy.

Dari arah lobi menuju lift, instalasi koridor berwarna hijau menjadi daya tarik. Sambil menunggu lift pun, di bagian dinding yang berseberangan di depan lift terpajang berbagai quotes dari tokoh-tokoh inspiratif dunia. Kalau lift-nya lama, lumayan kan bisa baca quotes satu per satu. Kamarku ada di lantai 3. Koridor menuju kamar juga tidak kalah menarik. Tersedia lukisan-lukisan orang dengan pakaian daerah Surabaya dan para penari Jaipong. Di antara dekorasi yang playful, masih ada unsur tradisional yang diselipkan oleh Maxone Hotels Surabaya sebagai wujud identitas lokal. Yang kusuka dari Maxone Hotel ini adalah pintu kamarnya. Selain nomor kamar, ada spinner tertempel di bawah nomor kamar. Biasanya di pintu bagian dalam hotel digantung beberapa kartu yang menunjukkan beberapa keterangan, seperti bersihkan kamar, jangan berisik, atau butuh laundry. Nah, di Maxone, kartu itu tidak ada, diganti dengan spinner ini dengan 3 keterangan: I am dreaming (please leave me that way), I am out (please make it neat), I am fine (I feel content). Di setiap keterangan berbahasa Inggris itu, selalu diikuti oleh terjemahan dalam bahasa Jawa. Jadi tidak ada versi bahasa Indonesia. Kalau kamu tidak bisa bahasa Jawa sepertiku, baca bahasa Inggrisnya saja cukup, kok.

Staycation di Maxone Hotel Surabaya (4). Source: jurnaland.com

Staycation di Maxone Hotel Surabaya (5). Source: jurnaland.com

Kamarnya didekorasi dengan lukisan abstrak yang menarik. Nuansa putih dan hijau terasa mendominasi tetapi tidak mencolok mata karena ada lantai vinyl cokelat muda yang mempercantiknya. Hotel ini tidak menyediakan lemari, tetapi terdapat space untuk menggantung pakaian di bagian pojok ruang dekat jendela. Hotel Maxone memang didesain untuk orang-orang yang singgah sebentar dan butuh ruang tidur yang nyaman dan playful seperti ini.

Maxone hotel Surabaya juga menyediakan welcome drink yang disediakan di lantai 2 hotel ini. Karena kami check in malam, kami disuguhi jus dingin di retorannya sambil menonton Piala Dunia Rusia 2018. Malam itu aku sempat mengikuti pertandingan Jerman vs Mexico. Kami bisa nobar di restoran sampai tengah malam meski timnas Jerman kurang beruntung saat itu. Usai nobar piala dunia, aku beranjak dari restoran dan turun menuju lobi. Ada tangga khusus yang langsung sampai di lobi dengan dekorasi menarik pula. Di bawah tangga terdapat kolam ikan koi dengan instalasi teko zaman dulu sebagai pengucur air ke kolam tersebut. Dari tangga, langsung ada pintu kaca menuju teras depan dan aku bisa berjalan-jalan malam di sekitar hotel. Rupanya banyak jajanan pinggir jalan di sini. Ada beberapa warung seafood. Malam itu berakhir dengan makan seafood sampai kenyang.

Lokasi Maxone Hotel memang di pusat kota. Jadi, kamu jangan khawatir kelaparan kalau tengah malam. Pusat oleh-oleh juga banyak di sekitar sini. Sayangnya aku tidak punya banyak waktu untuk berjalan-jalan di pusat Kota Surabaya. Padahal rindu sekali dengan kota ini. Terakhir kukunjungi 5 tahun lalu.

Staycation di Maxone Hotel Surabaya (6). Source: jurnaland.com

Staycation di Maxone Hotel Surabaya (7). Source: jurnaland.com

Staycation di Maxone Hotel Surabaya (8). Source: jurnaland.com

Pagi-pagi sekali, kami harus siap-siap menuju destinasi selanjutnya. Aku sempat mencicipi menu sarapannya. Hotel ini menyediakan menu makanan khas Jawa, seperti pecel, bubur, dan soto. Sisanya menu-menu standar sarapan di hotel-lah ya. Kamu pasti tahu. Setelah check out hotel, kami langsung bertolak ke Malang untuk mengunjungi rumah kelahiran mama Junisatya. Katanya mau nostalgia. Alhasil, meski sebentar, menginap di Maxone sangat berkesan. Petugas hotel Maxone merekomendasikan kami untuk menginap di Maxone Hotel Malang karena ada kolam renang dan city view yang adem. Ah, Mexone Hotel Surabaya saja sudah memberikan kesan adem, apalagi Maxone Hotel Malang, ya. Boleh dicoba nih rekomendasi petugas hotelnya.

Sedikit bocoran, kalau lagi musim liburan, lebih baik reservasi dulu, ya. Jangan seperti kami yang datang on the spot. Maxone Hotel Surabaya cukup digemari dari segi kenyamanan dan harga. Semoga informasi dariku bermanfaat, ya. Beginilah aku kalau staycation singkat di satu hotel. Meski tak sempat bermanja di dalam kamar, aku cukup menikmati menit demi menit hospitality di hotel ini. Kamu mesti coba juga.

Staycation di Maxone Hotel Surabaya (9). Source: jurnaland.com

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Movie Land

Film Rompis, Puisi Roman Memaku di Hati


Menyenangkan dapat menghabiskan waktu sehari dengan seorang adik yang hanya sesekali datang ke Jakarta. Kami berdua sama-sama ingin menonton film, mungkin bukan film yang berat. Libur akhir pekan 17-an memang harus dihabiskan dengan santai. Akhirnya kami pun memilih film Rompis (Roman Picisan) yang memberikan warna lain dalam kisah cinta remaja masa kini. Apalagi bioskop bulan Agustus digempur dengan film-film horor Indonesia.
Film Rompis 2018. Source: kincir.com

Aku dan adikku yang kini sudah beranjak remaja itu duduk di row E sebuah studio bioskop. Tanpa berekspektasi apa-apa terhadap film ini--hanya berbekal tahu tentang film jadulnya, sedikit nonton series-nya, suka dengan puisinya--kami dengan serius menonton tanpa berkutik. Akan jadi apa film Rompis ini? Apakah mampu mencerahkan generasi milenial dengan puisi-puisi picisan?! Yang memotivasiku nonton ini karena ada puisi di film Rompis. Sedikit mengingatkan kebangkitan film Indonesia lewat puisi yang diangkat Rangga dalam Ada Apa dengan Cinta? dulu sekali. Tapi mungkin ini berbeda, ya.

Rompis bercerita tentang cinta Roman (Arbani Yasiz) dan Wulandari (Adinda Azani) yang terbentang jarak Indonesia-Belanda. LDR dong? Wait! Sebelum kita memutuskan itu LDR apa bukan, mari runut tentang hubungan keduanya. Di awal plot, saat kelulusan SMA, Roman dan Wulandari tampak serasi dengan senyum malu-malu mereka, bersinggungan tangan saat upacara lalu mencuri kesempatan untuk saling menggenggam. Hubungan itu dibumbui dialog yang memperlihatkan adanya janji keduanya untuk melanjutkan kuliah di kampus yang sama (sebelum Wulan tahu kalau Roman diterima di universitas luar negeri). Rasanya adegan-adegan awal itu cukup memperlihatkan kepada penonton bahwa dua karakter ini adalah pasangan sejak SMA. Apalagi ada dukungan penuh dari Wulan meski hatinya teriris akan ditinggal Roman ke Belanda.

Cerita pun beralih ke masa mereka kuliah. Roman menjalani hari-hari kuliah di Amsterdam, sementara Wulan sepertinya kuliah di Jakarta (untuk bagian ini plot seakan lupa memberikan informasi di mana Wulan kuliah). Kita lalu terpukau dengan pemandangan Belanda (aku sih lebih tepatnya karena ingin sekali ke sana), tempat Roman kuliah bersama Sam, sahabatnya. Rupanya, setelah 9 bulan berkuliah, Roman dan Wulan masih tetap kontak, bahkan sesekali video call. Ada kerinduan yang membuncah di antara keduanya, terlihat dari puisi yang Roman kirim lewat chat pada Wulan dan dari lontaran percakapan Roman dan Sam, "Rindu itu sunyi, tak perlu ada bunyi." Kita semakin yakin bahwa Roman dan Wulan ini memang pacaran, seperti lanjutan kisahnya di series Roman Picisan. Ajib, aku mulai berbunga-bunga. Tapi bunga-bunga yang hadir di perut langsung dikocok oleh Sam yang menjawab nyeleneh, "Berak!"

Ya, begitulah persahabatan mereka. Saling meledek, tapi juga saling dukung.

Film Rompis 2018-source: kapanlagi.com
Foto diambil dari sini.

Namun, ketika ada orang ketiga masuk di antara mereka, Meira (Beby Tsabina), Wulan mengejar Roman ke Belanda. Ada ketakutan di matanya, tidak ingin kehilangan Roman. Dalam kisah romansa LDR, memang wajar terjadi hal seperti itu. Kecemburuan seringkali menyulut emosi dibanding mengutamakan pertemuan. Aku merasa bahwa adegan Wulan datang lalu ngomel-ngomel sepanjang jalan menjadikan alur lebih hidup, antiserius, dan mulai memasuki area senyum-senyum-sendiri-club. Seperti kobaran api yang menghangatkan sekitar tungku, mengisi relung yang merindu (eaaa, aku mulai ketularan Roman berpuisi). Di sinilah penonton digiring pada kenyataan bahwa ternyata Roman dan Wulan itu tidak pacaran, setidaknya belum. Nah, gimana itu nasibnya? Mereka hanya berkomitmen bersama tanpa status khusus. Wulan dibiarkan menunggu, sementara Roman menggantung harapan-harapannya di langit Amsterdam, berharap bisa segera kembali pulang pada Wulan. Kalau kata Sam, "Ckck. Berat. Terharu lho gue ini."

Pada titik ini, judgement serta merta dilontarkan pada Meira yang merusak pertemuan Roman dan Wulan dalam ruang rindu. Waktu menjadi penyatu sekaligus pengetuk palu, apakah komitmen mereka itu dapat dilanjutkan.  Satu-satunya kalimat Sam yang serius pada Roman "Yang katanya masa depan lo lagi ada di sini. Kalau nggak lo jaga, mungkin dia nggak akan jadi masa depan lo," bikin dada engap berjamaah di dalam bioskop.

Yes, Wulan hanya ingin memastikan apakah Roman pantas untuk ditunggu. Cuma Roman, kan, yang bisa jawab kepastian itu? Apakah Roman masih picisan seperti masa SMA-nya, hanya jago berkata-kata, tetapi tidak bisa bertindak?

Kisah romansa remaja seperti ini memang sudah banyak diangkat, apalagi tentang LDR. Jauh pula, lintas negara. Yang membuat film ini istimewa adalah chemistry keempat tokoh yang jadi sorotan utama (by the way, sepanjang film, memang plot berfokus pada pergerakan 4 tokoh ini saja). Keempat tokoh ini berdiri sendiri. Kita diberi basic informasi tentang Roman, Wulan, dan Sam sudah kenal sejak SMA dan bersahabat, terlihat dari adegan pembuka film ini. Selebihnya pergerakan karakter dibangun dengan lontaran dialog yang sedikit demi sedikit membuka ruang informasi kepada penonton. Khususnya Meira, yang dimainkan dengan sangat baik oleh Beby Tsabina sebagai karakter baru dalam kehidupan Roman Picisan. Cara Meira menjaga emosinya itu menjadi caranya menyampaikan pesan tentang siapa sosok Meira kepada penonton. Kesan dewasa, serius, sedikit sombong, tetapi menyimpan hati yang rapuh terlihat dari sosok Meira. Meira juga sempat membiarkan Roman tampak seperti cowok polos, lemah, lugu, khas mahasiswa Indonesia yang kuliah serius di luar negeri. Itu artinya, Roman memang manusia biasa, guys.

Meira tidak tahu bahkan tidak mau tahu tentang kisah SMA Roman yang menyenangkan, semenyenangkan kisah cinta gemas Roman dan Wulan yang seakan menjadi magnet pengait film ini agar tetap menarik. Cerita mengalir dengan Meira tetap menjadi sangat serius, tidak suka bertele-tele, bertemu dengan Wulan yang bertolak belakang karakter dengannya. Cantik-cantik-kaku, ya. Kalau kata Roman, "Cantik itu takdir, bukan prestasi."

Yang paling kusuka dari kisah dalam Film Rompis adalah cara Roman meyakinkan Wulan tentang mereka. Tampaknya sutradara Monty Tiwa membiarkan penontonnya dibuai dengan beberapa adegan Roman dan Wulan berdua yang saling melontarkan canda mesra, kesedihan, keharuan, hingga berantam-berantam lucu. Tak ada kesan drama berlebihan, apalagi kisah romansa yang cengeng. Malah dibumbui dengan komedi dan dialog ringan. Mungkin film Rompis bisa jadi drama komedi romantik terbaik tahun ini, ya. Semuanya mengalir natural sebagaimana pemain menikmati peran mereka. Itu yang bikin film ini punya kekuatan. Chemistry Roman dan Wulan oleh Arbani dan Adinda Azani seakan tak terbantahkan.

Yang jadi favorit dan mungkin jadi adegan emas di film ini adalah (sedikit spoiler nggak apa-apa ya), saat Roman dan Wulan sedang berjalan-jalan berdua, sempat diganggu oleh Meira, lalu Wulan bersiul-siul menyapa burung yang ia sebut 'burung modus'. Kemudian, di lompatan adegan setelahnya kita digiring kepada cara Roman meyakinkan Wulan dengan puisi. Ini satu-satunya puisi bahagia favoritku yang memaku di hati, saat gambar menyorot Roman dan Wulan begitu dekat. Roman mengucapkan kata-kata puitis dan membiarkan biasnya menyebar dengan pengambilan gambar extreme close up bibir Roman di hadapan wajah Wulan. Seperti aliran listrik yang melesat di perut, memanah tepat sasaran, menyalakan kobaran rindu yang nyaris mengubur harapan cinta mereka. Wulan serta merta tersipu malu sementara Roman memberikan senyumnya yang memikat. Mereka berdua berhasil memberikan performa romansa dengan semangat anak muda. Rasanya, Roman yang baca puisi buat Wulan, tetapi aku yang tersipu-sipu. Astaga, senatural itu mereka menikmati perannya. Mereka punya cara mengirim pesan cinta itu kepada penonton filmnya. Salah satunya dengan ekspresi dan kerlingan mata, diimbuhi dengan pengambilan gambar yang pas.

Film Rompis 2018. SOurce: 21cineplex.com
Poster Film Rompis 2018. (foto diambil dari sini)

Di sisi lain, Sam (Umay Shahab), sahabat Roman punya porsi paling penting di antara Roman, Wulan, dan Meira. Berhadapan dengan Roman, Sam adalah karakter yang bertolak belakang pula dengannya. Ia menjadi interpretasi wujud anak muda dengan segala budaya populer yang melingkupinya, lebih milenial, dan santai. Berbeda banget dengan Roman yang bahkan nggak punya social media sama sekali. Hari gini masih ada orang yang nggak main socmed? Wah, mesti diawetkan dia. Pantas saja Wulan tergila-gila ke Roman. Namun, justru di situ kunci persahabatan mereka. Sam kerap mengundang tawa di setiap kemunculannya. Santai, tapi ngena komedinya. Sam menjadi jawaban atas semua kekacauan yang dibuat cerita. Dia dapat menjadi penengah dengan dialog-dialog renyahnya yang jarang sekali meleset, memperkuat kegemasan hubungan Roman dan Wulan dan menakar keseriusan Meira pada level yang pas sehingga tidak membuat cerita cinta nyaris rumit ini jadi tak serius-serius amat. Selain menjadi karakter baik yang menyelamatkan hubungan dua sahabat SMA-nya, Sam juga menyelamatkan film ini dari kelemahan plot dan unsur sebab-akibat kejadian yang tak dijelaskan dengan gamblang. Dia menjadi benang merah yang menautkan cerita romansa Roman dengan kepicisannya, dengan realita hidup mereka di Belanda yang penuh perjuangan karena jauh dari orangtua. Sam juga yang memberi ruang kosong agar Meira dapat mengisi persahabatan mereka yang tampak receh dan picisan padahal Meira sendiri selalu teguh pendirian dengan keseriusannya yang apik.

Omong-omong soal plot, mungkin ini satu-satunya kelemahan film Rompis. Aku masih agak janggal dengan satu hal, kenapa Roman dan Wulan dibiarkan tak berstatus? (netijen mulai galau). Menurutku, plot tentang kenyataan Roman dan Wulan hanya berhubungan tanpa status tidak cukup kuat untuk membuat Wulan rela jauh-jauh datang ke Belanda. Sepertinya, pengorbanan Wulan beli tiket dan urus visa schengen ke Belanda tak sebanding dengan status mereka yang tidak pacaran meski sudah ada komitmen bersama. Bagiku, ini terlalu picisan tapi harus diseriusi. Dari sekian banyak pilihan cerita, kenapa Roman dan Wulan harus dibuat belum ada kejelasan padahal konfliknya lebih kepada cara mereka mempertahankan cinta itu sendiri. Well, kalau memang harus seperti itu, apakah itu cukup menjadikan alasan kuat bagi Wulan untuk menyusul Roman? Ketika dia tak menuntut banyak, kenapa akhir dari Film Rompis dijawab dengan kepastian hubungan itu sendiri? Kecemasan atas hubungannya yang terancam karena kehadiran Meira mungkin dapat dibenarkan, tetapi jarak Indonesia-Belanda yang super jauh tidak boleh dilupakan. Daku mulai geregetan di sini. Padahal bisa saja plot memberikan keleluasaan kepada Wulan untuk mengaktualisasi dirinya sebagai sosok inspiratif yang pantas menjadi wujud inspirasi puisi Roman, seperti karakternya yang sudah dibangun dengan baik sebagai siswa terbaik di sekolahnya. Bisa saja cerita membuat ia dikirim ke Amsterdam dari kampusnya untuk sebuah proyek penelitian karena latar prestasi yang disematkan padanya. Ide aja, sih. Peluang itu terbuka lebar sekali tetapi tidak dimanfaatkan dengan baik. Ya, walaupun Roman sempat bilang, "Belanda belum cukup jauh untuk bikin lo hilang dari ingatan gue," sayangnya plot menyisakan ruang kosong saat menampung kerinduan itu jadi sendu. Rindunya tak cukup padat karena cerita tak memperkuatnya. Semakin rindu, semakin menggebu-gebu gemasnya karena rindu itu tak lagi mementingkan status. Untung saja siul Wulan mampu menghadapi kelemahan plot itu dengan tegar. Roman, Wulan, Meira dan Sam tetap berdiri pada posisinya masing-masing, menjalani peran mereka hingga akhir cerita, tanpa harus tahu kecacatan itu ada dan menjadi bayang-bayangnya.

Plot tentang solusi terhadap Meira pun dibiarkan menguap begitu saja padahal sosok Meira yang disebut Wulan sebagai 'Jailangkung' itu bisa menjadi pondasi, lho. Ada masa lalu Meira yang terkuak sejak ia kenal Roman dan puisi-puisinya. Ini seharusnya menjadi penarik cerita Rompis yang memang mengangkat literasi sebagai jalan pengantar karakter Roman. Ancaman yang dirasakan Wulan jadi semakin beralasan, bukan, yang membuat sosok Meira tak sekadar cantik. Apalagi ada dialog Roman ke Meira, "Setiap penulis puisi punya sosok yang menginspirasinya." Ini bukan pernyataan main-main ketika diucapkan sebagai solusi di hubungan mereka yang tak sekadar picisan lagi. Jika dialog itu dimanfaatkan dengan baik, tentu dapat menjadi kontribusi besar dalam pondasi cerita. Film melupakan peluang itu dan lebih seru memberikan porsi Roman dan Wulan untuk memanja penontonnya. Ya, mungkin lebih baik begitu. Kupu-kupu yang muncul di perut ini juga harus diberi serbuk bunga biar makin bahagia. Roman dan Wulan tak tergantikan. Meira tetap dibiarkan misterius, datang tak dijemput, pulang tak diantar. Hanya kelapangan hati Meira yang membuat cerita selesai.

Terlepas dari itu semua, aku berdecak kagum dengan segala yang manis yang tersaji di Film Rompis. Belanda jadi tampak indah berkat tim Monty Tiwa, Roman jadi tampak bersahaja bersanding dengan Wulan yang manja. Scoring sudah tak perlu diragukan, menghangatkan nuansa cinta yang muncul saat film bercerita pada kita.

Anyway, kamu harus tonton langsung filmnya jika ingin terkena panah puisi picisan si Roman. Kujamin, adegan favorit yang kuceritakan tadi benar-benar memaku di hati kita semua, apalagi penggemar garis keras film ini. Aku berani bilang bahwa chemistry Roman dan Wulan adalah chemistry pasangan terbaik melebihi Dilan dan Milea tahun ini. Duh, cara Roman melihat Wulan dan berpuisi untuknya, bikin hati ini meleleh. Adinda Azani berperan sebagai Wulan dengan sangat baik, begitu juga dengan Arbani Yasiz sebagai Roman. Semua itu nggak akan jadi klop tanpa kehadiran Sam dan Meira sepertinya. Mereka berempat saling mengikat, sepertiku yang terikat pada romansa lucu dan gemas mereka.



Petikan puisi Rompis yang memaku di hati:

Aku hanyalah pendatang, mendatangi kota ini
yang riuh, yang berisik.
Aku hanyalah pendatang, seperti angin di lembah
yang mencari dedaunan,
agar mereka dapat terbang.
Seperti hatiku setiap kali kau datang. -Rompis, 2018. 

Aku lebih memilih malam, meski kelam.
Aku lebih memilih luka, meski sakit.
Dan aku telah memilih kamu, meski rindu. -Rompis, 2018.
Jangan menangis bidadari, langitku runtuh nanti.
Gelap ini menyeramkan, gelap ini pekat.
Dan kau pegang senja erat, agar cahayanya tak lenyap.
Tapi ketahuilah Wulandari, aku menjaga hingga kau lelap. -Rompis, 2018.
Cantik itu takdir, bukan prestasi. -Rompis, 2018.
Kehilangan bukanlah akhir ternyata.
Kepergian bukanlah pemisah rupanya.
Dan kutantang sang waktu.
Datanglah, datang dengan bala tentara pedihmu.
Aku tidak takut, karena kepada cinta aku bersujud. -Rompis, 2018.
Rindu itu sunyi, tak perlu ada bunyi. -Rompis, 2018.
Duhai merona, jangan tertawa.
Wahai nona, aku berduka.
Ratap tangis, mati kekal, hilang akal.
Sembunyi paras, engkau menunduk.

Angkat wajah, tatap rembulan
tatap sombong.
Pekik lantang, "Rembulan tak seindah Wulan."

Sembunyi paras, jangan menunduk
Engkau menang, aku takluk. -Rompis, 2018.

Inikah bahasa cinta, bahasa jiwa, bahasa bahagia yang tak berkata. Sungguh, cinta tanpa tindakan, seperti matahari tanpa rembulan, seperti roman tanpa wulan, perjalanan tanpa tujuan. -Rompis, 2018.
Skor film 7,5/10 

Read More

Share Tweet Pin It +1

12 Comments

In Advertorial Land Story Land

Berwakaf Pasti, Kini, dan Nanti Lewat Asuransi Brilliance Hasanah Maxima

Beberapa tahun ini, aku bersama beberapa teman punya cerita khusus berkunjung ke panti asuhan. Ketika lulus kuliah dan akhirnya bekerja, rutinitas membuat pertemuan kami semakin jarang. Lalu, mulai silau dengan penghasilan bulanan yang kuperoleh sebagai pegawai kantoran waktu itu. Rasanya uang habis begitu saja. Kegiatan traveling-ku juga semakin padat, menyolong-nyolong cuti di kantor yang sangat terbatas. Namun, justru dari sana kepekaan diri ini diasah.

Seseorang pernah mengatakan padaku, sejauh-jauhnya aku berjalan, jangan lupa bahagiakan orang-orang yang membutuhkan biar seimbang. Benar juga, ya. Kita ini hidup kan untuk mencari keberkahan. Aku pernah ke Kepulauan Kei, Maluku Tenggara. Ada beberapa anak kecil bermain ke penginapanku waktu itu. Mereka masih sangat muda, hanya sebatas sekolah SD, dan hidup sebagaimana orang pulau menikmati hidupnya. Bermain dan bermain, lalu menggantungkan hidup pada laut. Pendidikannya bagaimana? Lalu, aku juga pernah melihat fenomena lain di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Aku jajan di sebuah warung. Bukan persoalan harga yang kupermasalahkan, tetapi soal kesehatan. Aku membeli mi instan beberapa bungkus dan beberapa botol minuman. Tanpa kulihat labelnya, aku makan mi dengan tenang di penginapan. Saat makanan sudah habis, baru kusadar kalau mi instan itu expired. Apakah edukasi mengenai makanan kemasan masih sangat kurang di sana, ya? Lalu bagaimana dengan tingkat kesehatan di Kampung Derawan itu jika jajanannya telah kadaluwarsa?

Wakaf Pasti Kini dan Nanti (4)

Penyaluran dana wakaf

Berbeda dengan lagi dengan kondisi Lampung Timur, sebuah kabupaten luas di Provinsi Lampung tapi tingkat ekonominya terendah di sana. Mata pencaharian penduduk sebagian besar adalah bertani karena lahan Lampung Timur sangat luas. Edukasi dan kesehatan yang menjadi krisis di sana. Pemanfaatan potensi kabupatennya juga masih kurang maksimal. Yang kuingat dari Lampung Timur itu ya gajah sumatera di Taman Nasional Waykambas. Selebihnya, tidak ada yang terlalu membuatku terkesan, padahal katanya mereka punya budaya bertani dan panen padi yang semarak.

Fenomena-fenomena di persinggahan jalanku itu menjadikan inspirasi untuk memulai kegiatan sosial. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Mulailah aku dan beberapa orang teman mengumpulkan sebagian penghasilan untuk disalurkan ke panti asuhan yang kami pilih sendiri.

Wakaf pasti kini dan nanti


 
Secara berkala, kami pun ketagihan main ke panti asuhan, bertemu anak-anak yatim dan dikhususkan kepada para penghafal Alquran. Baru bulan Ramadhan tahun lalu, kami memulai ide baru dengan membantu pembangunan sekolah sebuah yayasan Tahfiz Quran. Dan beberapa bulan lalu, kami menggalang dana untuk membantu pembangunan perpustakaan santri di Yayasan Panti Asuhan kawasan Tambun. Alhamdulillah, banyak sekali teman-teman yang antusias untuk berbagi sedekah, infaq, dan zakatnya. Apalagi kami juga bisa seru-seruan bersama para santri di sana dengan mengadakan pelatihan menggambar dan mewarnai. Rasanya senang bisa berbagi ilmu dengan orang lain.

Ternyata, dari serangkaian acara amal yang kuikuti bersama teman-teman, masih ada yang kurang, yaitu ilmu wakaf. Aku pernah ngobrol sama salah satu pengurus yayasan tahfiz quran, mereka dapat tanah wakaf untuk mendirikan sekolah untuk para santri. Katanya, tanahnya kecil tapi insyaallah cukup untuk anak-anak sekolah. Pengurus yayasan itu pun berniat membangun gedung hingga tingkat 3. Masya Allah. Aku cuma mikir saat itu, kapan ya aku punya tanah atau bangunan yang bisa diwakafkan untuk kepentingan umum?!

Wakaf Pasti, Kini, dan Nanti (2). Source: www.jurnaland.com

Jawaban itu terjawab saat beberapa hari lalu aku datang ke acara Sunlife yang memperkenalkan produk syariah mereka. Namanya Asuransi Brilliance Hasanah Maxima (ABHM) yang memberikan fasilitas wakaf asuransi, wakaf investasi, dan wakaf berkala. Nah aku tertarik banget sama program wakaf berkala mereka. Sunlife Financial juga bekerja sama dengan Dompet Dhuafa untuk wakaf berkala ini. Sasaran ABHM saat ini adalah menyalurkan dana wakaf ke pembangunan infrastruktur di kawasan Lampung Timur. Akhirnya ada yang memperhatikan Lampung Timur ya.

Oleh karena itu, Sunlife lagi gencar mengedukasi masyarakat untuk mulai berwakaf lewat ABHM. Sunlife berprinsip bahwa wakaf itu sederhana, nggak perlu nunggu punya tanah. Harapan mereka agar kita punya perencanaan keuangan yang baik untuk menyisihkan dana wakaf sekaligus dengan slogan wakaf pasti, kini, dan nanti.

Jenahara yang jadi bintang tamu saat peluncuran produk ABHM, Senin lalu, juga mengungkapkan antusiasnya terhadap program penyaluran dana wakaf ini. Selama ini stigma wakaf itu sulit dan harus menunggu. Kalau menunggu terus, kapan kita bisa menanam amal jariyah. Kata Jenahara, potensi wakaf di Indonesia itu mencapai 180 triliun rupiah dan itu didominasi oleh orang umur 25-35 tahun. Itu kabar gembira banget. Kita bisa optimis buat berwakaf sedini mungkin. Kalau bisa menyisihkan dana buat traveling, mestinya aku bisa investasi dana wakaf juga lewat ABHM. Insyaallah ya.

Dengan dana wakaf yang kita sisihkan, kita bisa bantu mensejahterakan masyarakat. Apalagi di daerah-daerah terpencil.

Wakaf Pasti, Kini, dan Nanti (3)


Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments