In Abroad Land Journey Land

Musim Semi di Veliko Tarnovo, Bulgaria

Bulgaria itu memesona. Meski tidak serapi negara-negara di Eropa Barat, Bulgaria menjadi negeri Balkan yang manis.

Pagi itu, aku sudah berada di Bandara International Soekarno-Hatta Terminal 3 untuk penerbangan Jakarta-Kuala Lumpur. Ya, aku sendirian. Aku akan bertemu ibuku dan tim tarinya di Kuala Lumpur International Airport. Kami akan berangkat ke Bulgaria demi mengemban misi pertukaran kebudayaan di sana, dalam ajang Balkan Fest: The World Cup of Folklore 2018. Hari itu sehari menjelang Ramadhan. Pada saat orang bersiap ke masjid untuk salat tarawih malam hari, aku dan tim menunggu penerbangan selanjutnya menuju Sofia, Bulgaria yang transit terlebih dahulu di Istanbul.

Jelajah Bulgaria
Jelajah Bulgaria, source: jurnaland.com
Transit di Kuala Lumpur untuk memulai perjalanan menuju Bulgaria.

Musim semi di Bulgaria-source: jurnaland.com
Siap untuk mengawali Ramadhan di Bulgaria.
Ini perjalanan jauh keduaku pada saat Ramadhan. Aku akan sahur pertama di langit Istanbul sekaligus salat subuh di pesawat. Sekilas orang akan menilai kalau aku tak menghormati Ramadhan dan seharusnya aku sedang berada di rumah untuk menjalani tarawih pertama, sahur pertama, dan berbuka bersama dengan keluarga. Persoalan ini sempat menjadi ancaman bagi kami yang akan berangkat awal Ramadhan itu Bulgaria. Namun, bagaimana jika dibalik. Aku memulai Ramadhan dengan perjalanan. Perjalanan menjadi sebuah ibadah dan punya nikmat tak terhingga yang membuat Ramadhan ini menjadi lebih bermakna. Aku merasa lebih hidup dan banyak sekali bersyukur saat sahur dimulai dari langit penuh bintang menuju Turki, negeri seribu kubah. Siapa yang akan mengingkari nikmatnya. Meski sekadar makan dengan makanan yang dihangatkan dalam oven pesawat, diberikan pramugari demi penumpang tidak jetlag saat menempuh perjalanan 10 jam di pesawat, tapi terasa syahdu. Aku meniatkan itu sebagai awal ibadahku yang berkali-kali lipat membawa hikmah pada diri sendiri, bahwa hidup itu tidak flat.

Ku bertekad, sama seperti tahun lalu di Georgia, meski perjalanan akan melelahkan dan waktu puasa lebih panjang dari biasanya (16,5 jam), aku tetap meniatkan diri untuk berpuasa dan bergembira mengikuti serangkaian acara pertemuan kebudayaan dunia di Bulgaria.
Bandara internasional Soekarno-Hatta-source: jurnaland.com
Memulai Ramadhan dengan perjalanan.
Sahur pertama di langit Istanbul-source: jurnaland.com
Sahur pertama di langit Istanbul.

Attaturk International Airport-source: jurnaland.com
Pagi hari di Istanbul.
Saat pesawat kami mendarat di Attaturk International Airport, saat fajar muncul, aku memulai puasa dengan kepala sangat berat. Kami harus berlari menuju koridor transit untuk pemeriksaan menuju boarding room. Pesawat kami di Sofia sudah menunggu. Boarding pass dan visa Bulgaria sempat dipertanyakan, tetapi untungnya tidak menjadi kendala besar. Aku heran, kenapa selalu ada diskriminasi terhadap orang berpaspor burung garuda? Visa dan paspor kami difoto sebelum kami diizinkan masuk pesawat.

Penerbangan menuju Sofia, ibukota Bulgaria, berlangsung 2 jam. Lagi-lagi, kami ditahan di imigration border saat pemeriksaan visa. Kami disuruh menunggu sekitar 1 jam sembari petugas imigrasi Sofia memeriksa data kami. Usai menandatangani surat yang entah apa, aku tak mengerti aksaranya, yang penting urusan cepat beres, akhirnya aku dapat menginjakkan kaki di Sofia. Welcome to Bulgaria, kata petugas imigrasi bandara.

Seorang driver dengan rambut ikal yang memutih sudah menunggu kami di pintu kedatangan. Angin semilir juga ikut menyambut kami, membelai kerah jaketku yang tipis. Suhu udara saat itu di bawah 17 derajat celcius. Sofia mengucapkan selamat datang dengan angin musim seminya. Pagi itu, aku dan tim akan melakukan road trip selama 3 jam menuju Veliko Tarnovo bersama sopir travel ini yang hanya menggunakan kaus oblong lalu membuka jendela mobil lebar-lebar biar angin bersemi di dalam mobil. Dia tidak tahu bahwa kami berasal dari negara tropis. Dia tidak akan pernah mengerti bahwa suhu udara terendah di Indonesia hanya sampai 25 derajat celcius. Jika ada yang di bawah itu, ya hanya waktu-waktu dan lokasi tertentu. Mana tahan badan tipisku ini diterpa angin musim semi yang dingin itu. Mau kucolek beliau, tapi dia tidak bisa berbahasa Inggris. Jadilah, angin sukses membuatku masuk angin. Ketika dia hanya bersenandung sambil menyetir, kepalaku mulai berat padahal pemandangan bukit dan kebun bunga luas terhampar di kiri-kanan jalan.

Road Trip Sofia-Veliko Tarnovo-source: jurnaland.com
Road trip Sofia-Veliko Tarnovo dimulai.

Road Trip Sofia-Veliko Tarnovo 2-source: jurnaland.com
Meski ada marka jalan, tapi tetap nggak bisa baca.

Road trip Sofia-Veliko Tarnovo 3-source: jurnaland.com
Aku mampir rest area tapi nggak jajan karena puasa.

Selama satu setengah jam jalanan panjang berliku, masuk-keluar terowongan menembus bukit, menerabas pinggir jurang, serta melewati kebun lavender dan berbagai jenis berry-berry-an yang sedang bersemi, mobil berhenti di sebuah rest area. Rupanya itu prosedur perjalanan jauh di sana. Mereka wajib berhenti di rest area. Sang sopir mempersilakan kami untuk jajan dan buang air selama 10 menit. Aku sungguh tergoda untuk membatalkan puasa saat itu karena mulai merasa jetlag. Rasa kantuk menyerang kian parah. Kalau di Indonesia, saat itu mestinya sudah magrib. Meski niat membatalkan puasa itu ada, tapi malah uang yang tidak ada. Aku belum menukarkan mata uang lokal, yaitu leva (1 leva=8000 rupiah). Jadi, aku belum bisa jajan sekalipun ada beberapa lembar euro di kantong. Teman-temanku sedang asyik mengunyah stok camilan di dalam mobil. Setidaknya cukup untuk mengganjal perut. Hanya aku saja yang berpuasa hari itu, bahkan ibuku pun tidak karena mereka harus tampil prima untuk membawakan tarian tradisional hari pertama, sore itu juga.

Veliko Tarnovo berbeda sekali dengan Sofia. Sofia yang punya bangunan-bangunan dengan arsitektur modern, jalanan yang lebih rapi dan ramai, bertolak belakang dengan tata kota Veliko Tarnovo. Memasuki Veliko Tarnovo seperti memasuki wilayah Eropa masa lalu. Bangunan-bangunannya cenderung lebih tua, jalanannya lebih lengang, kontur tanahnya juga tidak rata, banyak turunan dan tanjakan.

Mobil kami berhenti di sebuah jalan. Awalnya ku bingung, apakah kami sudah sampai atau belum. Dia pun tidak memberi tahu. Setelah menunggu sekitar 5 menit, dua gadis manis menghampiri kami dan mengenalkan diri mereka sebagai pendamping kami selama event berlangsung. Hotel City tempat kami menginap ada di seberang jalan. Tulisannya tertutup pepohonan dan pintu masuknya kecil di sebelah sebuah bar yang menjadi bagian dari hotel itu. Setelah berbincang sebentar dengan 2 bule muda itu, aku pun langsung check in hotel. Setelah check in, aku diantar ke kantor sekretariat European Association of Folklore Festivals (EAFF), penyelenggara The World Cup of Folklore. Aku membiarkan teman-teman yang lain beristirahat karena pasti lelah sekali. Aku sendiri diboyong langsung oleh Mariana dan Vamena, nama 2 gadis itu, berjalan kaki ke kantor sekretariat mereka. Akhirnya aku bisa menikmati siang yang cerah berjalan blok demi blok dan melewati taman kota yang asri. Setelah registrasi peserta festival dan ikut briefing, aku pun diantar balik ke hotel karena tak sampai 3 jam lagi, festival dimulai.

City Hotel Bulgaria-source: jurnaland.com
City Hotel disediakan khusus untuk semua peserta The World Cup of Folklore.

Tim Galang Dance Community di Bulgaria-source: jurnaland.com
Tanpa sempat istirahat banyak, kami langsung siap untuk pertunjukan pertama.

Galang Dance Community Indonesia di Bulgaria-source: jurnaland.com
Ootd sebelum pertunjukan.

Saat itu pukul 3 siang (di sana masih siang karena waktu zuhur baru saja masuk), imanku goyah. Aku dehidrasi ringan. Aku menghitung waktu berbuka puasa dan membandingkannya dengan tenagaku yang tersisa. Buka puasa masih pukul 8:45. Itu artinya lebih kurang 6 jam lagi. Sementara, event akan dimulai pukul 5:30. Aku harus fit karena menjadi juru bicara untuk grup kami, satu-satunya perwakilan dari Indonesia. Dengan sangat berat hati, aku pun berbuka puasa siang itu. Tidur 15 menit biar tampak segar dan memberikan brief kepada grup kami sebelum berangkat ke gedung pertunjukan. Perjuangan kami membawa nama baik Indonesia dimulai sore itu. Mungkin banyak yang asing dengan nama Indonesia, tapi dengan identitas yang kami bawa, kesan Indonesia itu ramah dan berwarna dapat tertinggal di sana.

Musim semi di Veliko Tarnovo Bulgaria
Kami dapat penghargaan pembaruan dalam folklore dunia. Senangnya.

Galang Dance Community di Balkan Fest-jurnaland.com
Pertunjukan pertama Galang Dance Community malam itu untuk Balkan Fest-The World Cup of Folklore 2018.

Orang tropis bergabung dengan tim dari Yakutsk, negeri terdingin di dunia.
Kami bertemu banyak sekali perwakilan dari berbagai negara dari sore hingga malam. Yang paling ramah adalah tim dari Yakutsk, Rusia (bacanya Yakutsi), negeri terdingin di dunia katanya. Kami juga berdampingan makan malam dengan tim dari India, Iran, dan Teheran. Di sana pula aku menyadari bahwa tidak semua orang bisa berbahasa Inggris. Kami berbicara lewat tari, lewat musik, lewat senyum, dan lewat bahasa isyarat. Begitulah Bulgaria menyambut kami. Dari serangkaian jadwal yang harus kulalui hingga larut malam hari itu, senyum selalu menghiasi wajah ini. Bukan senyum palsu, tapi senyum gembira bertemu dengan orang-orang kreatif dari belahan dunia lain. Lelah tiada tara memang, tetapi kesempatan ini juga tak boleh dilewatkan dengan sia-sia, bukan? Aku menyerap banyak sekali energi positif dari mereka yang memahami dunia lewat kesenian. Aku berharap, esok harinya juga akan seperti itu, bertemu lebih banyak lagi orang, berkawan, dan belajar dari mereka. Musim semi di Veliko Tarnovo-Bulgaria mengamini perjalananku. Hari diakhiri dengan gerimis. Sungguh suasana jelang malam yang syahdu.

Lanjut baca: Jalan-jalan Pakai Pakaian Adat di Bulgaria

Dinner di Veliko Tarnovo-source: jurnaland.com
Dinner pasca pertunjukan, muka lelah tapi masih sumringah.

Read More

Share Tweet Pin It +1

21 Comments

In Story Land

Rekayasa Lalu Lintas versi Jakarta untuk Asian Games 2018

Asian Games di depan mata. Aku mengikuti perjalanan berita kedatangan obor Asian Games dan bagaimana obor itu diarak semarak keliling Indonesia sebelum nanti berakhir di Jakarta pada pembukaan Asian Games 2018. Tampaknya memang event olahraga terbesar se-Asia ini bakal membuat kita sibuk. Sibuk-sibuk seru menyambut tamu dari berbagai negara dan tetap menjaga image bahwa Indonesia itu ramah, indah, meriah.

Dari awal, aku sempat bertanya-tanya, apakah negara kita mampu menjadi tuan rumah? Bagaimana dengan kemacetan Jakarta dan polusinya? Lagi-lagi pembahasan kita ujung-ujungnya ke sana, ya. Sebelumnya, aku sempat bahas bagaimana Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) sebagai lembaga setingkat Direktorat Jenderal di Kementerian Perhubungan mengkampanyekan gerakan ayo naik bus dan menggunakan segala moda transportasi umum selama kita mondar-mandir di ibukota (Baca artikelnya di sini). Apalagi Asian Games tinggal 2 minggu lagi (sejak artikel ini ditayangkan). Aku merasakan bagaimana pemerintah kerja keras mengatur lalu lintas yang nantinya tidak akan menganggu pelaksanaan event Asian Games 2018. Untuk urusan lalu lintas, transportasi atlet, dan pengelolaan massa harus sangat dipikirkan dengan sangat matang. Masa iya, atlet harus ikut macet-macetan ke venue. Bisa-bisa pertandingan ikut molor dan menganggu jadwal serangkaian pertandingan lainnya. Kita harus sama-sama menjaga nama baik Indonesia demi kelancaran Asian Games 2018, bukan? Itu jadi tantangan besar untuk Jakarta, dan kita.

Jakarta siap sukseskan Asian Games 2018
Sumber foto: Kamadigital.

Mengapa soal lalu lintas dan transportasi ini jadi fokus utama? Ternyata, pihak OCA (Olympic Council of Asia) menerapkan standar internasional untuk waktu tempuh atlet ke venue maksimal 30 menit dan lokasinya harus memiliki kualitas udara yang baik. Soal kualitas udara ini juga sudah ada di Peraturan Pemerintah  Nomor 41 Tahun 1999 mengenai baku mutu harian adalah 65 mikrogram per meter kubik. Sementara itu, pihak WHO punya standar baku mutu harian adalah 25 mikrogram per meter kubik. Aku nggak ngerti-ngerti amat mengenai baku mutu udara ini, tetapi yang jelas, polusi di Jakarta harus dikurangi demi kenyamanan bersama.

Nah, strategi yang dilakukan oleh BPTJ untuk menormalkan laju lalu lintas demi mengurangi polusi dari asap kendaraan bermotor adalah dengan rekayasa lalu lintas Jabodetabek. Rekayasa lalu lintas ini sudah diberlakukan sejak 2 Juli 2018 lalu di Jakarta dan sekitarnya. BPTJ meluncurkan 3 paket kebijakan transportasi untuk menjamin kelancaran pelaksanaan Asian Games:
  1. Manajemen Rekayasa Lalu Lintas (MRLL)

  2. Penyediaan Angkutan Umum

  3. Kebijakan Pembatasan Lalu Lintas Angkutan Barang (golongan III, IV, dan V)

Rekayasa Lalu Lintas Asian Games 2018
Sumber foto: Humas BPTJ dan Kemenhub RI.

Mengingat area yang dikenai kebijakan Ganjil-Genap diperluas sehingga keluhan masyarakat banyak dilontarkan di social media, BPTJ bekerja sama dengan Google Indonesia untuk merilis update aplikasi Google Maps yang dapat mendeteksi rute ganjil-genap. Kalau mau ke mana-mana, paling aman cek Google Maps untuk mengetahui jalur alternatif kendaraan pribadi agar tidak melanggar jalur ganjil-genap. Memang pasti agak repot dan jalurnya akan memutar. Namun, strategi utama yang diarahkan oleh BPTJ adalah penggunaan moda transportasi umum.

Selama Asian Games berlangsung, kita mau tidak mau harus mengikuti alur rekayasa lalu lintas itu dengan beralih ke kendaraan umum atau minimal membiasakan diri naik kendaraan umum di Jakarta bagi yang terbiasa dengan kendaraan pribadi. BPTJ sudah bekerja sama dengan berbagai operator kendaraan umum untuk menambah armada bus. Sekarang bus Transjakarta menuju venue Asian Games sudah ditambah 76 unit lagi dari jumlah sebelumnya 294 unit. Bus umum trayek menuju venue disediakan 57 unit, dan terdapat 204 bus khusus untuk wilayah-wilayah yang terdampak perluasan kebijakan ganjil-genap. Selain itu, untuk keperluan nonpertandingan (wisata) juga disediakan 10 unit bus. Semua bus dengan trayek menuju venue akan digratiskan untuk masyarakat umum. Keren, kan, Jakarta.

Asian Games 2018 Lancar
Sumber foto: Tim Komunikasi Menpora.

Rekayasa Lalu Lintas untuk Asian Games 2018
Sumber foto: Tim Komunikasi Menpora.

Bagi pengguna transportasi umum, ada satu aplikasi lagi yang harus kita punya di ponsel, yaitu aplikasi Moovit. Aplikasi ini digunakan untuk mengecek jadwal kereta, bus, dan angkot. Kita dapat melihat waktu kedatangan, notifikasi tujuan, dan rute detail di dalam maps, sehingga kita bisa dengan mudah menemukan rute di jakarta dengan cara paling efisien dan efektif. Yang lebih keren, untuk kebutuhan Asian Games 2018, aplikasi ini memberi informasi rute ke lokasi pertandingan tiap cabang olahraga.

Semua menjadi semakin mudah, bukan? Setidaknya selama Asian Games, kita bisa mencoba untuk kembali naik kendaraan umum. Aku sendiri mulai terbiasa naik Transjakarta, nih. Apalagi ada fasilitas gratis selama Asian Games untuk orang-orang yang mau nonton pertandingan. Aku nggak boleh ketinggalan euforia Asian Games 2018 mumpung diadakan di negara sendiri. Kalau naik kendaraan pribadi, pasti repot mau parkir di mana. Kita harus mulai membiasakan diri dari sekarang. Seperti di luar negeri, orang lebih suka naik bis atau KRL dibanding bawa mobil sendiri. Simbol kemapanan itu tidak diukur dari gengsi mengendarai mobil atau motor sendiri, tetapi dari seberapa antusias orang-orang menggunakan kendaraan publik.

Rekayasa Lalu Lintas untuk Asian Games 2018
Sumber foto: Tim Komunikasi Menpora.

Sukses untuk Asian Games 2018 dan sukses untuk Indonesia, Energy of Asia.
#AsianGamesLancar


Read More

Share Tweet Pin It +1

7 Comments

In Abroad Land Journey Land

Cara Mendapatkan Visa Bulgaria

Aku baru saja menghabiskan musim semi di Bulgaria sekaligus melewatkan awal Ramadan di negeri bunga mawar itu. Kalau diingat-ingat, persiapanku untuk sampai ke negeri penghasil yogurt terbaik ini butuh proses yang panjang. Aku ke sana bukan untuk sekolah, kok, tapi bukan untuk liburan juga. Aku kembali diminta ibuku untuk mendampingi beliau dan tim tarinya ikut dalam festival The World Cup of Folklore-Veliko Tarnovo 2018. Aku tentu tidak menolak saat diajak ke luar negeri lagi sekaligus mengemban tugas sebagai Road Manager dan penerjemah padahal bahasa Inggrisku nggak bagus-bagus amat. Setidaknya hal paling krusial--saat kami harus melewati imigrasi border--bisa kuurus dengan mulus. Jadi tanggung jawabku-lah semua anggota tim dapat lolos border itu. Maklum, paspor berlambang Garuda masih sering dipertanyakan saat pengecekan di imigrasi border wilayah Eropa.


Berada di landmark Kota Veliko Tarnovo.

Proses persiapan keberangkatannya kurang lebih 6 bulan dan keputusan untuk berangkat itu hanya tidak kurang dari 2 bulan karena menunggu sponsor dan izin lain-lain. Aku cuma punya waktu tak lebih dari 2 bulan untuk mencari info pengurusan visa Bulgaria. Aku sedikit berharap Bulgaria ini bisa menggunakan e-visa seperti perjalananku ke Georgia tahun lalu. Tapi harapanku salah.

Belum banyak info tentang pengurusan visa Bulgaria untuk orang Indonesia di website, blog, atau pun youtube. Kalau pun ada, artikelnya ditulis beberapa tahun lalu. Mari ku-update, ya. FYI, Bulgaria tidak termasuk negara Schengen yang menaungi sebagian besar negara-negara di Eropa. Jadi kita tidak bisa mengajukan visa Schengen untuk memasuki negara Bulgaria. Kecuali kalau kamu punya visa Schengen mutiple entry yang masih berlaku, kamu bisa seenaknya keluar-masuk Bulgaria, kok, asalkan datangnya dari negara anggota Schengen. Dengar-dengar, Bulgaria sedang mengajukan diri untuk masuk klub schengen. Mudah-mudahan bisa berhasil. Untuk sementara, bagi yang ingin ke Bulgaria, kamu harus susah payah langsung urus ke kedutaannya langsung. Lebih baik begitu dibanding lewat lembaga pengurusan visa lainnya.

Begini langkah-langkah yang kuambil untuk pengurusan visa.

1. Cek website resmi Ministry of Foreign Affairs The Republic of Bulgaria

Website untuk informasi pengurusan visa Bulgaria
Klik website resminya.

Aku menemukan website ini saat membuka laman resmi Kementerian Luar Negeri RI tentang KBRI di Sofia, ibukota Bulgaria. Tinggal buka www.mfa.bg lalu pilih menu English di sudut kanan atas biar kamu jadi nggak buta huruf. Klik box bertuliskan 'Visas' di samping kanan laman utama website. Nanti kita akan dirujuk ke kanal Consular Services. Tinggal pilih menu Travel to Bulgaria. Di sana muncul sejumlah aturan dan syarat pengajuan visa. Sesuaikan jenis visa dengan tujuan kedatangan ke negara itu. Karena aku datang ke Bulgaria dalam rangka misi pertukaran kebudayaan, berarti jenis visa yang kuajukan adalah Tipe C (untuk kedatangan singkat yang bertujuan khusus seperti bisnis, pertukaran budaya, dan liburan).

2. Unduh formulir pengajuan visa dari website

Formulir Pengajuan Visa Bulgaria
Formulir pengajuan Visa Bulgaria.

Setelah baca semua persyaratan, aku mengunduh formulir pengajuan visa dan mengisinya lengkap (langsung klik link ini). Kosongkan bagian tanda tangan dan tanggal pengisian formulir di 2 halaman terakhir. Kita baru boleh tanda tangan saat berada di depan konsulat di kantor Kedutaan Bulgaria setelah sesi wawancara. Ini penting karena aku sempat disuruh print ulang formulir dan mengisinya kembali. Cuma gara-gara tanda tangan yang langsung dibubuhi, aku harus isi formulir yang meminta informasi diri super detail itu dari awal.

3. Siapkan semua persyaratan pengajuan visa

Syarat penting yang bikin deg-degan (bagi yang sudah biasa mengajukan visa Schengen, tentu tahu persyaratan panjang ini. Lebih kurang sama kok untuk Bulgaria), antara lain:
  • Paspor yang masih berlaku dan fotokopinya.

  • Fotokopi semua halaman yang sudah ada cap imigrasi.

    Mungkin mereka ingin melihat track records perjalanan luar negeri kita.
  • Fotokopi visa Schengen 3 tahun terakhir jika punya. 

    Ini jadi pertimbangan utama visa disetujui jika sudah ada visa schengen duluan. Sayangnya, aku pernah punya visa schengen 5 tahun yang lalu waktu ke Swiss, jadi tidak masuk hitungan.
  • Fotokopi KTP. 

    Bawa KTP asli juga saat wawancara, jangan ditinggal di satpam kedutaan ya. Pihak security biasanya minta tanda pengenal untuk ditinggal di pintu gerbang, berikan SIM atau tanda pengenal lain selain KTP karena KTP penting saat ketemu konsulat.
  • Pas Foto 3,5 x 4,5 cm berlatar putih dengan wajah dan telinga terlihat. 

    Bagi yang berjilbab, dengan berat hati harus rela berfoto dengan menampakkan sedikit garis rambut dan garis telinga.
  • Surat undangan dari instansi di Bulgaria untuk tujuan bisnis dan cultural exchange. 

    Aku melampirkan surat undangan dari EAFF (European Association of Folklore Festivals), pihak penyelenggara The World Cup of Folklore Veliko Tarnovo, Bulgaria dan juga surat rekomendasi dari Municipality of Veliko Tarnovo. Ini surat ampuh untuk mendapatkan visa Bulgaria karena rekomendasi langsung dari pejabat pemerintahnya. Sebagai tambahan, aku juga menghubungi KBRI di Bulgaria untuk memberi tahu keikutsertaan kami dalam festival di sana. KBRI menyambut baik dan mengirimkan surat rekomendasi 'Visa Calling' secara resmi untuk Kedutaan Besar Republik Bulgaria di Jakarta.
  • Dokumen polis asuransi perjalanan. 

    Aku pakai asuransi Allianz untuk perjalanan ke Bulgaria ini.
  • Bukti booking tiket pesawat pulang-pergi ke Bulgaria. 

    Aku langsung beli tiketnya di Traveloka karena murah. Ini modal nekat, sih, langsung membeli tiket padahal belum tentu visa diterima. Itulah sebabnya aku deg-degan selama pengajuan visa ini.
  • Bukti reservasi hotel dan transportasi.

    Panitia sudah menyiapkan akomodasi untuk kami selama berada di Veliko Tarnovo. Mereka mengirimkan dokumen reservasi hotel dan restoran untuk mempermudah kami mengurus visa. Jadi, aku tinggal melampirkan semua dokumen itu.
  • Rekening koran atau bukti pembayaran kepada travel agent atau surat rekomendasi dari sponsor. 

    Aku melampirkan yang terakhir, surat rekomendasi dari pihak sponsor dan penyelenggara program pertukaran budaya. Kalau rekening sendiri, bisa-bisa pengajuan visa-ku ditolak lantaran isi tabungan sekarat.
  • Surat pernyataan dari instansi tempat bekerja atau surat keterangan sekolah bagi yang sedang studi. 

    Surat menyurat ini ditulis dalam bahasa Inggris. Karena aku blogger yang berkantor di mana saja, aku melampirkan surat keterangan keanggotaan dari Galang Dance Community. Keanggotaanku berstatus seumur hidup sepertinya karena yang punya ibuku sendiri. Itu artinya aku harus mengabdi dunia-akhirat kepada beliau. *berat
  • Bagi traveler di bawah umur (di bawah 18 tahun) harus memenuhi syarat khusus, yaitu surat izin kedua orangtua yang ditandatangani di atas segel notaris, akte kelahiran, dan surat izin sekolah.

    Surat notaris dan surat izin sekolah ditulis dalam bahasa Inggris.

4. Buat janji temu dengan Konsulat Bulgaria via telepon

Setelah syarat dipenuhi, saatnya membuat janji untuk datang ke kantor Kedutaan Besar Republik Bulgaria di Jakarta. Iya, harus bikin janji dulu, ya. Mereka punya jadwal sendiri untuk menerima tamu yang ingin mengajukan visa. Kalau belum buat janji, kita tidak diperkenankan masuk. Nomor telepon atau email tercantum di website, kok. Setelah diberi tahu jadwalnya, kita baru boleh datang ke kantornya dengan menyerahkan semua dokumen untuk pengajuan visa. Ohya, pengajuan visa ke Bulgaria tidak dapat diwakilkan. Aku mengurusi visa untuk 8 orang, jadi 8 orang itu harus hadir pada waktu yang telah ditentukan oleh konsulat saat kita membuat janji temu. Hal ini memang sangat merepotkan mengingat tim Galang yang berangkat ini berdomisili di Padang. Jadi aku harus memastikan mereka berangkat ke Jakarta sehari sebelum jadwal pertemuan di kedutaan.

5. Datang ke Kantor Kedutaan Bulgaria di Jakarta

Mengurus Visa Bulgaria di Kedutaan Bulgaria di Jakarta
Wajah lega usai wawancara pengajuan visa di Kedutaan Besar Republik Bulgaria.
Di kantor kedutaan Bulgaria, kita akan bertemu konsulat dan langsung ditanyai macam-macam tentang persiapan perjalanan ke negaranya itu. Nggak perlu grogi karena konsulatnya sangat ramah. Beliau antusias sekali saat kami diundang datang ke negaranya untuk ikut festival. Dia malah ingin melihat display tarian tradisional Minangkabau yang akan kami bawa ke sana. Setelah sesi wawancara selesai, satu per satu personel kami diminta menandatangani formulir pengajuan visa. Setelah itu, satu per satu pula kami diminta untuk masuk ruangan foto. Lagi-lagi, yang berjilbab kali ini harus merenggangkan jilbab sampai belakang telinga, macam pas foto zaman Orde Baru. Untungnya konsulatnya perempuan. Dia memberikan privasi kepadaku untuk merapikan jilbab sebelum berfoto dan setelahnya. Tujuan foto ini untuk mendeteksi garis dan titik wajah hingga telinga. Ini prosedur wajib dari negara mereka. Yang penting, fotonya harus senyum karena katanya orang Bulgaria suka senyum. Iya, deh. :)

6. Siapkan uang 60 Euro

Pengajuan visa Bulgaria dikenai tarif 60 Euro per orang untuk usia di atas 25 tahun. Di bawah itu,--karena tujuan perjalanan kami untuk pertukaran budaya--pengajuan visa tidak dikenai biaya. Alasan mereka karena di bawah 25 tahun masih usia pelajar sementara Bulgaria sangat concern dengan pendidikan. Untungnya sebagian besar anggota tim Galang masih usia 17-18 tahun. Mereka jadi bebas biaya. Namun, repot mengurusi surat izin orangtua menggunakan segel dari notaris.

Pembayaran visa dalam bentuk cash, ya dan sudah ditukarkan dalam bentuk Euro, bukan rupiah.

7. Status visa diinformasikan lewat telepon setelah 14 hari kerja

Menunggu telepon dari kedutaan dalam 14 hari kerja memang bikin senewen. Kita nggak bisa seenaknya menanyakan kapan proses visa selesai. Di sini kesabaranku sangat diuji karena benar-benar harus menunggu entah sampai kapan. Yang pasti ponsel selalu aktif dan siap menerima kabar dari kedutaan Bulgaria kapan pun. Aku jadi tidak bisa menjanjikan persiapan apa-apa kepada anggota tim selama visa belum di tangan.

8. Siapkan tiket pesawat yang sudah issued untuk pengambilan visa

Akhirnya, suatu hari sekretaris kedutaan meneleponku. Katanya pengajuan visaku diterima. Beliau menyuruhku menyiapkan tiket yang sudah issued untuk dibawa ke kantornya saat pengambilan visa. Karena memang saat pengajuan visa, aku sudah melampirkan tiket pesawat yang issued (padahal bisa melampirkan bookingan tiket sebelum issued jika memesan tiket pesawat lewat travel agent), jadi tanpa harus repot mencari tiket pesawat, aku langsung meluncur ke kedutaan. Di sana, aku harus menunggu beberapa saat. Mereka langsung mencetak visa dan menempelnya di paspor pada saat aku menyerahkan tiket pesawat resmi. Dan... visa Bulgaria sudah di tangan.

Aku mendapatkan visa single entry yang berlaku 1 bulan. Sebentar sekali memang. Tapi, bisa menginjakkan kaki di negara Bulgaria saja, aku sangat bersyukur. Aku memang tidak berniat extend padahal sangat ingin menjelajah negara Bulgaria. Ya, karena faktor pekerjaan dan tanggung jawab kepada tim, aku harus mendampingi mereka dari berangkat dan memulangkan anggotanya dengan selamat.

Visa Bulgaria. source: jurnaland.com
Ini penampakan visa Bulgaria-ku.

Sofia Airport, Bulgaria
Aku dan Tim Galang Dance tiba di Sofia Airport dan disambut oleh KBRI Bulgaria.

Konsulatnya berpesan padaku bahwa bulan Juni masih musim semi. Cuaca cenderung tidak stabil. Kami harus bisa menyesuaikan diri dengan iklim. Dia mendoakan perjalanan kami lancar dan misi kebudayaan kami sukses. Konsulat yang sangat bersemangat ini menyuruhku berjanji untuk mengirimkan video tari saat penampilan di sana. Janji itu akan kupenuhi setelah tulisan ini tayang karena baru selesai tahap editing. Kalau kamu mau lihat juga, bisa langsung cek di youtube Galang Art.


BACA JUGA: Musim Semi di Veliko Tarnovo

Informasi

Kedutaan Besar Republik Bulgaria di Jakarta
Jalan Imam Bonjol no. 34-36, Jakarta 10310
Telepon: +62213904048; +62 21 391 31 30
Consulate: embassy.jakarta@mfa.bg 

Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria, Albania, dan Macedonia
Jalan Yosef Valdhard no. 5 (Simeonovsko Shosse) 1700 Sofia BULGARIA
Telepon: (359-2) 9625240, 9626170, 8683220
Email : kbrisofia@indonesia.bg

Read More

Share Tweet Pin It +1

29 Comments

In Movie Land

Dari Rote, Road Trip Pulau Jawa, Lalu Kulari ke Pantai

Kulari ke Pantai: frasa yang sangat dekat dengan kita, mudah dilafalkan, dan memang dipahami semua orang. Kulari ke Pantai menjadi satu judul film anak yang digarap oleh tim Mira Lesmana dan Riri Riza di bawah payung Miles Film. Rasanya mendengar atau membaca frasa 'Kulari ke Pantai' membuat kita termotivasi untuk piknik, tersirat keceriaan, dan sarat dengan perjalanan. Karena itu, aku memutuskan nonton film ini pada hari pertama penayangannya di bioskop.

Kulari ke Pantai bercerita tentang Samudera Biru alias Sam (Maisha Kanna), anak dari Ibu Uci yang tinggal di Rote. Saat liburan sekolah tiba, Sam sudah merencanakan perjalanan jalur darat dari Jakarta menuju Banyuwangi hanya bersama ibunya. Ayahnya saja tidak diajak. Rupanya di balik keceriaannya di Rote, Sam berasal dari Jakarta. Pekerjaan ayahnya lah yang membawanya pindah dan menyatu dengan Rote, laut, dan olahraga surfing. Inilah tujuan perjalanan Sam, bertemu dengan tokoh surfing idolanya, Kailani Johnson.

Namun, rencana baik biasanya selalu ada rintangan. Pengacaunya adalah sepupu Sam sendiri, Happy (Lil'li Latisha), yang hidup bertolak belakang dengan Sam. Happy tumbuh di kota besar Jakarta dengan segala gemerlapnya, membuatnya manja dan selalu ingin jadi pusat perhatian. Happy terpaksa ikut road trip Sam dengan ibunya lantaran dihukum karena mengatai Sam 'anak kampung'. Dari sanalah perjalanan punya cerita.

Review film Kulari ke Pantai (1) - source: www.instagram.com/milesfilms

Tingkah Sam dan Happy yang bermusuhan, saling mengisengi, dan saling gengsi bergulir dari daerah ke daerah. Ada beberapa daerah yang mereka singgahi dan di setiap daerah itu, ada saja yang membuat kita tertawa, terenyuh, bahkan geli sendiri. Sam tanpa Happy mungkin akan hambar. Begitu juga sebaliknya. Lalu, ibu Sam (Marsha Timothy) menjadi penengah di antara mereka. Ada juga Kaka Dani (Suku_Dani), teman seperjalanan mereka yang tiba-tiba muncul ketika Sam atau Happy butuh.

Memang benar ya, yang paling penting dalam setiap perjalanan bukanlah destinasinya tapi perjalanan itu sendiri. Tujuan Sam untuk bertemu idola surfernya di pantai G-Land Banyuwangi harus menghadapi banyak rintangan. Padahal dari awal ia sudah menegaskan pada ibunya bahwa Happy tidak boleh mengacaukan rencananya bertemu Kailani. Lalu, apa yang terjadi?

Tonton ajalah sendiri. Aku nggak mau spoiler.

Plot perjalanan Kulari ke Pantai paling banyak memang diambil di mobil yang sedang berjalan dengan view sawah, perbukitan, jalur panjang, dan alun-alun setiap daerah yang disinggahi. Natural view ini menjadi hal yang sangat memanjakan mata. Apalagi temanya perjalanan keluarga. Secara keseluruhan, plot sangat mengikat penonton anak-anak dan menawan mereka di sepanjang cerita. Isu-isu tentang Sam yang punya sindrom sugar rush dan tingkah kelebihan energinya mengundang gelak tawa. Belum lagi kekocakan Mukhidi, sang pemilik penginapan di daerah Temanggung yang selalu teriak-teriak di lingkungan penginapannya yang asri dan tenang untuk kontemplasi. Adegan juara menurutku adalah saat Ibu Uci yang marah sepanjang jalan layaknya ibu yang kelelahan menghadapi 2 anak gadisnya, ditambah rasa lelah menyetir sebagai single fighter, dan mungkin pula sedang PMS. Acting Marsha Timothy memang tidak sia-sia menjadi ibu Sam yang asyik tetapi juga tegas. Lalu, ada isu tegas lain, seperti sentilan penggunaan bahasa Inggris yang dilekatkan pada karakter Happy dan dibuat kontradiktif dengan tokoh Kakak Dani, bule kelahiran Papua yang fasih berbahasa Indonesia dialek Papua. Sentilan juga datang saat Sam, ibunya, dan Happy bertemu geng Ordinary di Bromo, yang lebih mementingkan foto wajah daripada pemandangan alam yang indah. Kebayang serunya perjalanan ketika bertemu tingkah orang yang berbeda-beda, bukan?

Review film Kulari ke Pantai (2) - source: www.instagram.com/milesfilms


Kehadiran Happy sangat menyorot perhatian. Perjalanan selalu mengubah seseorang. Karakter Happy mengalami proses itu. Matanya lebih banyak memandang dari biasanya dan kakinya lebih banyak melangkah dari biasanya. Happy pun banyak sekali belajar dari pengalaman road trip itu yang belum pernah keluarganya lakukan. Berbeda dengan Sam yang memang hidup sangat dekat dengan alam menawan kita dengan sosoknya yang benar-benar menyatu dalam perjalanan.

Cerita demi cerita bergulir, menyatukan kita dengan keindahan Pulau Jawa, dari suasana pedesaan, gunung, sungai hingga pantai berombak besar. Namun, ada beberapa hal yang mengganjal. Nilai kelokalan kurang terekspose lantaran filmmaker asyik dengan gambar dan warna, padahal setiap singgah di satu daerah, seharusnya kita diberi corak dialek dan nilai budaya yang dapat dieksplor di tempat itu. Lalu, ketika karakter Happy berjalan dalam cerita dan mengalami gejolak dan perubahan, karakter Sam kadang jadi bayang-bayangnya. Namun, beberapa kali juga menguat ketika Sam memainkan peran sebagai surfer, bocah pulau polos, dan semangatnya ketika bertemu orang baru. Tujuan destinasi Sam, Happy, dan ibunya adalah bertemu Kailani. Bertemu atau tidak di bagian akhir (aku nggak mau spoiler di sini), seharusnya cerita mengantarkan kita untuk mengenal Kailani terlebih dahulu. Siapa dia? Surfer dari manakah dia? Dan sehebat apa dia hingga diidolakan oleh anak pulau seperti Sam? Karena aku bukan surfer, jadi aku tidak mengenal nama Kailani Johnson. Dan, nama Kailani kerap disebut hampir di setiap langkah Sam. Seharusnya ini jadi sebuah pengetahun baru buat orang awam sepertiku dan cerita di film ini tentu akan lebih bermakna lagi. Dengan demikian, Kulari ke Pantai memang mengisi kisah perjalanan, mendekatkan kita dengan keluarga, memberi nilai positif tentang kehidupan alam laut, dan ditambah dengan satu pengetahuan kecil tentang dunia surfing.

Review Film Kulari ke Pantai (3) - source: www.instagram.com/milesfilms


Kalau untuk anak-anak, film ini akan sangat membuai. Aku sudah menanyakan ke beberapa adik yang kubawa menonton bersama film ini. Kalau untukku sendiri, Kulari ke Pantai berlari-lari dari jalan ke jalan, bertemu kenalan, sahabat, saudara, dan mendekatkan semuanya dalam keakraban, tapi sedikit lupa dengan detail serta tujuan destinasinya. Ada bagian antiklimaks di dalam alur yang menurutku dapat dipoles lagi sehingga Marsha Timothy setidaknya dapat mengambil peran bagus di situ. Ada jeda alur yang begitu lambat sehingga membuat jenuh penonton (aku). Akhirnya, alam memanjakan pemainnya saja, ada bagian yang kurang menyentuh penontonnya, seolah ada satu paket yang tak sampai ke alamat.

Ohya, mengenai Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, aku suka dengan penggambaran kehidupan keluarga Sam di Rote. Begitu sederhana, menyatu dengan alamnya, kaya dengan keindahan lautnya. Rote menjadi pembuka dan penutup yang manis dalam film Kulari ke Pantai. Rote bisa jadi ramai ketika film ini sukses di box office ya, seperti lokasi-lokasi film Mira Lesmana dan Riri Riza sebelum ini. Selain itu, barangkali road trip Cirebon, Temanggung, Pacitan, Blitar, Bromo, dan Banyuwangi juga bakal jadi ide baru untuk liburan keluarga di luar mudik lebaran sambil memutar lagu "Selamat Pagi" dari RAN yang menjadi OST film ini. Lantunan lagu "Selamat Pagi" yang dinyanyikan ulang oleh Maisha Kanna dan Lil'li Latisha bersama RAN terasa lebih ceria, segar, dan cocok untuk anak. Mungkin lagu ini juga yang membuatku semangat ke bioskop untuk nonton Kulari ke Pantai.


Review Film Kulari ke Pantai (4) - source: www.instagram.com/milesfilms


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments