In Advertorial Land Story Land

Cetak Foto Kekinian di Fujifilm Wonder Photo Shop

Dulu, saat kamera masih berwujud tustel dengan rol film di dalamnya, studio dan percetakan foto begitu laris. Kini, setelah semuanya serba digital, orang lebih senang menyimpan memori foto di laptop atau hardisk. Bahkan, ada yang cukup puas menyimpannya di ponsel dan dapat dibuka kapan saja. Apalagi social media sekarang sudah cukup membantu mengabadikan sejumlah momen kita. Aku sendiri jadi jarang sekali mencetak foto. Hanya sesekali ke studio foto untuk cetak pas foto atau foto wisuda, tunangan, dan nikah. Keperluan cetak foto jadi lebih dikhususkan untuk momen-momen besar.
Cetak Photo Kekinian Fujifilm WPS
Kamera Instax yang makin banyak desain lucu.

Ternyata urusan cetak-mencetak foto itu nggak sepenuhnya ditinggal orang, kok. Buktinya kamera polaroid banyak beredar. Kamera jenis instax ini dapat mencetak foto ukuran kecil dengan instan. Sekali jepret, hasilnya langsung jadi. Nanti hasil foto itu bisa jadi album sendiri bahkan dipajang jadi hiasan dinding kamar. Akhirnya, urusan cetak-mencetak foto berpindah dari sekadar album yang disimpan menjadi kreasi yang punya nilai kepuasan sendiri di setiap momen.

Kebutuhan-kebutuhan serba instan semacam itu direalisasikan oleh Fujifilm dengan membuka Fujifilm Wonder Photo Shop (Fujifilm WPS). Kebetulan sekali aku hadir dalam acara pembukaan gerai kedua di Central Park, Jakarta. Store Fujifilm WPS di Central Park ini didekorasi sangat menarik dan playful. di bagian pintu masuk, kita langsung disambut dengan display hasil cetak kamera instax yang dikreasikan dengan beberapa aksesori. Cetak foto kekinian bukan sekadar cetak foto biasa. Di WPS ini, kita akan dikenalkan dengan metode crafting foto, salah satunya dalam wujud scrapbook atau pop up. Nah, beberapa hiasannya juga disediakan di WPS ini. Buat kamu yang gemar dekorasi dan hias-menghias, kayaknya kamu harus datang ke Fujifilm WPS biar kreasimu makin ciamik dengan tambahan foto-foto dalam berbagai momen.

Cetak foto juga jadi lebih mudah dan cepat. Ada area quick print service yang jadi favoritku. WPS sudah menyediakan beberapa monitor dan aplikasi di dalamnya yang dilengkapi beberapa metode photo editing standar serta pilihan ukuran foto. Cukup dengan mengunduh aplikasi WPS Photo Transfer di ponsel, kita bisa dengan sangat gampang mentransfer foto ke monitor yang ada di WPS. Pilih, edit, cetak. Langsung jadi. Kalau mau foto-foto cantik dulu sebelum dicetak dan dikreasikan, kita bisa langsung masuk ke mini studio-nya. Photobox-nya muat untuk beberapa orang, kok.

Cetak Foto Kekinian Fujifilm Wonder Photo Shop
Cetak foto kekinian.

Cetak Foto Kekinian Fujifilm WPS
Crafting corner WPS.

Cetak Foto Kekinian di WPS
Hasil kreasi kami yang ala kadarnya.

Area lain yang paling kusuka adalah crafting corner. Lokasinya persis di sudut ruangan Fujifilm WPS. Setelah seru-seruan di mini studio, lalu cetak foto sendiri, kita bisa langsung crafting di area ini. Tempatnya nyaman dan instagramable banget. Siapa tau ruang yang instagramable itu bisa bikin daya kreatif kita muncul untuk menghias foto.

Sepertinya Fujifilm tahu kebutuhan anak kekinian, ya. Cetak foto tidak jadi suatu hal yang kuno lagi. Malah di sisi lain WPS, di-display kamera Fujifilm X-series dan kamera instax. Ada edisi Minions dan Hello Kitty yang lucu. Ketika mampir di WPS ini, aku jadi paham bahwa mencetak foto itu bukan sekadar untuk mengabadikan foto jadi album, tapi juga jadi wujud kreasi yang punya nilai seni dan menimbulkan kepuasan tersendiri. Kalau kamu penasaran, kamu bisa langsung mampir ke store-nya di Mall Central Park lantai 1, Jakarta, ya.


Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In Abroad Land Journey Land

Wisata Keliling Kota Tbilisi-Georgia

Aku baru saja membuka-buka folder foto perjalananku ke Georgia tahun lalu. Walaupun cuma sebentar di sana, tapi ada kesan hangat yang ditinggalkan oleh Tbilisi (cara baca: Tiblis), ibukotanya. Sebelumnya, aku pernah bahas tentang sisa-sisa peradaban awal di Old Tbilisi dan misi kebudayaan apa yang aku bawa ke sana (bisa dibaca di sini) Di postingan kali ini, aku mau cerita tentang wisata Tbilisi yang membuatku terkesan.

Georgia itu sebenarnya punya alam yang cantik. Berada di pinggiran laut hitam dan dikelilingi perbukitan membuat Georgia menjadi pusat wisata alam bagi orang Eropa Timur. Namun, sayangnya aku tak punya kesempatan banyak untuk mengeksplor negeri yang dipenuhi dengan geraja-gereja usia ratusan tahun ini. Katanya pemeluk Kristen Orthodox di Georgia adalah yang tertua di dunia. Aku hanya sempat berwisata mengelilingi ibukotanya, Tbilisi. Lihat apa saja yang kutemukan di sana.

Hari itu, aku bersama teman-teman seniman dari Galang Dance Community, sarapan di Hotel Nina, tempat kami menginap. Aku cuma menemani mereka sarapan (karena sedang puasa) sambil berbincang-bincang dengan petugas hotelnya yang super ramah. Petugas hotel memberikan kami tips jika ingin berjalan-jalan tanpa pemandu di Tbilisi. Ada 3 pilihan transportasi di kota itu yang dapat kami tumpangi:

Metro yang wujudnya seperti subway atau KRL

Ongkosnya hanya 0,5 Lari (sekitar 3000-an rupiah) saja untuk oneway dengan mengisi Metromini Card. Metro ini persis seperti commuter line di Jakarta. Perbedaannya, rel kereta berada di bawah tanah. Kita akan naik-turun terowongan bawah tanah dengan eskalator yang super panjang dan curam. Agak gamang.
Wisata Tbilisi-Georgia naik metro. (source: jurnaland.com)

Marshrutkas yang merupakan sebutan untuk bus di Georgia

Ongkosnya 0,5-2 Lari katanya. Aku cuma sempat mencoba metro, jadi nggak sempat naik bus keliling kota. Warna busnya kuning, persis seperti di UI. Mungkin kalau aku naik bus di sana, aku malah akan teriak "Terima kasih, Pak," pada Pak Sopir dan lupa membayar ongkos karena serasa di kampus sendiri naik tumpangan gratis.

Taksi

Kalau naik taksi memang terbilang lebih mahal. Tapi dari bandara ke pusat kota Tbilisi saja cuma dikenai 15 Lari (alias 100ribu rupiah). Per kilometernya dikenai tarif 4 Lari. Pantas saja orang-orang Georgia bahagia, ya.

Setelah tahu sarana transportasi selama tinggal di Tbilisi, aku punya sederetan daftar wisata apa saja yang dapat dilakukan di Tbilisi.

1. City Tour di Freedom Square

Dengan city tour di Freedom Square, salah satu lokasi bersejarah di Georgia, sudah membuatku senang sekali. Kami memilih naik metro ke Freedom Square. Dari Hotel Nina di kawasan Varketili, kami bisa berjalan kaki ke arah Stasiun Varketili. Aku harus membeli Metromani Card yang dapat digunakan 1 untuk semua. Jadi aku cukup mengisi saldo Metromani Card sejumlah ongkos yang kami butuhkan untuk pulang-pergi. Aku mengisi saldo 10 Lari dan cukup untuk kami bertujuh, bahkan masih sisa 3 Lari tentunya.

Dari Varketili, kami melewati 5 stasiun untuk mencapai stasiun Liberty (Freedom) Square. Kamu mau menyebutnya Liberty atau Freedom, sama saja. Artinya sama-sama bebas atau merdeka. Begitu kami menaiki eskalator setelah turun dari metro, monumen Freedom Square menyambut kami. Yeay, inilah Tbilisi yang terkenal itu.

City Tour Tbilisi Georgia. (Source: jurnaland.com)


Freedom Square Tbilisi Georgia. (source: www.jurnaland.com)

Georgia dulunya berada di bawah rezim Kekaisaran Rusia. Awalnya Freedom Square ini dikenal dengan Pashkevich-Erivanskaya Square, untuk mengenang Ivan Paskevich, seorang Jenderal Ukraina yang telah menaklukkan Erivan di Armenia (yang kini jadi negara tetangga Georgia) untuk negara Rusia. Tempat ini menjadi pusat perampokan bank dan pertumpahan darah. Semacam Monas kalau di Jakarta. Saat keruntuhan Rusia, area ini berganti nama menjadi Beria Square dan berubah lagi menjadi Lenin Square saat memasuki rezim Uni Soviet. Di bagian puncak monumen dibangun patung Vladimir Lenin yang berjasa dalam sejarah Uni Soviet, yaitu orang yang membawa paham komunis di negeri lawan Amerika Serikat itu.

Begitu Georgia dinyatakan benar-benar merdeka, Patung Vladimir Lenin ini dihancurkan dan digantikan dengan patung St. George yang sedang menunggang kuda. Tak tanggung-tanggung, patungnya dibuat berlapis emas sehingga terus berkilau sepanjang masa. Monumen Freedom Square inilah yang selalu ditandai oleh rakyat Georgia sebagai simbol kebebasan dan kemerdekaan mereka. Kalau dihitung-hitung, umur Georgia dengan Indonesia tak beda jauh. Georgia lahir usai Perang Dunia II. Jadi hanya beda beberapa tahun, kan, dengan negara kita. Konon, katanya masa-masa itu adalah masa-masa tersulit bagi Georgia untuk membangun ideologi dan perekonomian mereka.

Freedom Square kini menjadi Tbilisi City Hall. Jadi kalau kamu traveling ke Georgia, kamu wajib ke lokasi ini. Monumennya persis di tengah bundaran jalan raya. Kalau bahasa kampungnya, Freedom Square ini jadi simpang enam-nya Tbilisi. Di sekeliling monumen berdiri gedung-gedung penting bagi Georgia, seperti bank nasional Georgia dan Rushtaveli State Academic Theatre (gedung teater tertua di Georgia). Freedom Square ini juga jadi gerbang menuju Kota Tua Tbilisi. Ternyata di balik bangunan megah di kawasan Freedom Square, ada rumah-rumah tua Tbilisi dan usianya sudah ratusan tahun.

2. Wisata Kota Tua Tbilisi

Kota Tua Tbilisi sudah menjadi area wisata. Banyak kujumpai tour travel yang menawarkan jasa keliling Tbilisi bahkan tempat-tempat cantik lainnya di Georgia. Aku sempat tergiur. Lumayan, kan, bisa keliling Tbilisi dan kota-kota lainnya dalam 1 hari penuh. Ah, tapi nggak bakal mungkin karena kami cuma sempat berjalan-jalan sebentar sebelum rehearsal dan malam pertunjukan.

Berjalan-jalan di komplek Kota Tua Tbilisi tak seperti Kota Tua di Jakarta yang pasti. Banyak bangunan-bangunan yang sudah berumur ratusan tahun masih terawat hingga sekarang. Itu artinya bangunan-bangunan itu jadi saksi sejarah sekian abad kota itu. Aku sempat mengunjungi galeri dan gedung teater di sana. Jangan tanya nama gedung teaternya karena ditulis dengan aksara Georgia.


Wisata Kota Tua Tbilisi Georgia. (source: www.jurnaland.com)

Wisata Kota Tua Tbilisi Georgia 2. (Source: www.jurnaland.com)

Wisata Kota Tua Tbilisi Georgia 3. (source: www.jurnaland.com)

Wisata Kota Tua Tbilisi Georgia 4. (source: www.jurnaland.com)

Di komplek Kota Tua Tbilisi ini juga banyak gereja khatolik dan gereja sion. Ada juga masjid yang kutemukan berdampingan dengan gereja-gereja itu. Kubah masjid meski kecil tampak mencolok di sekitar puncak-puncak kastil gereja yang megah. Ada banyak ruang publik yang di sekitar gereja-gereja itu. Taman-taman itu sangat mendukung sekali untuk dijadikan ruang berdiskusi, bersantai, piknik dan segala aktivitas sosial lainnya. Tempatnya begitu rindang dan bersih.

Tak jauh dari sana, satu lagi menara yang dijadikan landmark di Kota Tua Tbilisi, The Leaning Clock Tower. Menaranya tidak terlalu tinggi, tetapi bergaya unik. Sekilas mengingatkanku pada visualisasi The Burrow, rumah Keluarga Weasley di Film Harry Potter. Ternyata menara ini didirikan dari sisa-sisa bangunan tua yang rusak akibat gempa bumi, dirangkai oleh Rezo Gabriadze. Katanya, membangun menara ini butuh waktu 30 tahun. Menara ini menandai lokasi teater boneka di Kota Tua Tbilisi.

Setiap jam, bagian puncak menara yang seperti jendela akan terbuka dan menampilkan atraksi sepasang boneka yang sedang bermain sandiwara tentang kisah siklus hidup manusia: perempuan bertemu dengan laki-laki, menikah, punya anak, dan meninggal. Karena ini menara jam, atraksi ini menandai pergantian jam. Tema sandiwara boneka kayu yang ditampilkan itu juga erat kaitannya dengan waktu.

The Leaning Clock Tower-Old Tbilisi (source: jurnaland.com)

Oh iya, di kawasan Kota Tua Tbilisi ini jangan khawatir dengan paket data. Wifi yang tersedia di area ini. Rupanya, Kota Tua Tbilisi menjadi pusat kuliner makanan-makanan Asia, banyak kujumpai restoran India, Arab, dan China. Setidaknya area ini menjadi sangat familiar bagi lidahku. Namun, sayangnya, aku tak bisa mampir untuk sekadar mencicipi makanannya karena sedang berpuasa di tengah-tengah Ramadhan. Sayang sekali, ya.

Di Kota Tua Tbilisi sudah tersedia bus city tour yang membawa wisatawan untuk berkeliling dari sini hingga Tbilisi Wall. Aku pernah cerita soal Tbilisi Wall yang indah ini di postingan sebelumnya. Ada yang bilang bus city tour ini gratis. Kami tetap memilih jalan kaki biar bisa masuk ke gang-gang sempit di dalam kawasan Kota Tua yang bersih dan terawat ini.

3. Telusur Bridge of Peace

Bridge of Peace menjadi landmark Kota Tbilisi yang baru diresmikan tahun 2010. Jembatan perdamaian ini membelah sungai Kura yang bermuara ke Laut Hitam. Desain jembatannya menarik dan futuristik di tengah bangunan-bangunan tua di sekelilingnya. Terlihat atap melengkung dengan ditutup tempered glass yang membuat jembatan ini dari kejauhan tampak dibalut kristal. Kalau siang, Bridge of Peace tampak berkilau seperti kristal saat kena sinar matahari. Kalau malam, katanya di sini penuh dengan lampu-lampu gemerlap yang menyala dengan sensor gerak. Bridge of peace menjadi lambang perdamaian rakyat Georgia dan menghubungkan kota tua dengan kota baru Tbilisi. Kalau menyeberang dari Kota Tua, tepat di seberangnya berdiri gedung parlemen Georgia yang megah. Wah, gedung parlemen di pinggir sungai Kura. Para pekerja di gedung parlemen itu pasti awet muda melihat pemandangan bagus ke arah sungai Kura, Bridge of Peace, dan Tbilisi Wall setiap hari.

Telusur Bridge of Piece Tbilisi. (source: www.jurnaland.com)

Wisata Bridge of Piece Tbilisi. (source: jurnaland.com)

Wisata Kota Tbilisi Georgia. (source: www.jurnaland.com)

Ketika menyeberangi Bridge of Peace, aku langsung masuk ke public space yang lain, berupa taman-taman bunga. Namanya Rike Park. Lokasinya sangat dekat dengan gedung parlemen Georgia. Ada patung, kolam dengan air mancur (saat kami berkunjung ke sana, air mancurnya tidak menyala), dan bangku-bangku taman.

4. Wisata Kuliner Tbilisi

Aku tak banyak mencoba jenis makanan di Tbilisi karena tepat saat itu adalah Ramadhan. Makanan-makanan yang kucoba hanya makanan yang disediakan hotel. Rata-rata makanan pokok mereka adalah roti gandum. Harganya murah meriah, lho. Roti yang ukurannya besar seperti roti buaya bagi masyarakat Betawi hanya seharga 1,5 - 7 Lari (1 Lari = 6.000 rupiah pada saat itu). Aku sempat mencoba makanan dari bahan roti dengan lapisan ayam di dalamnya. Namanya imeruli kachapuri. Irisannya mirip pizza. Bagi orang Georgia, kachapuri menjadi makanan pokok sehingga 1 orang harus makan 4 potong. Buatku, makan 1 roti saja sudah sangat kenyang.

Orang Georgia juga punya salad tradisional berupa sayur-sayuran dan bawang-bawangan yang diiris tipis. Mereka juga makan menggunakan lauk atau selai dari buah-buahan yang melimpah juga di negeri ini. Ada selai peach, selai anggur, selai bluberi, dan selai stoberi. Mereka juga sering memasak sup sayuran yang aku kurang tahu namanya. Rasanya enak tapi bukan seleraku karena mereka menggunakan jenis daun seperti seledri dan daun bawang ala mereka. Aku sendiri lupa namanya.

Ketika berjalan di Kota Tua, aku menemukan jajanan churhkhela, sejenis permen lilin yang terbuat dari adonan anggur, kacang-kacangan, dan tepung. Bentuknya panjang seperti lilin dan agak keras. Harganya hanya 3 Lari untuk 5 permen lilin ini. Kalau jajanan ini sudah pasti kusuka karena rasa manisnya universal. Kalau kamu ke Georgia, jajanan inilah yang menjadi khas di negara ini. Jadi kamu harus mencoba, ya.

Wisata kuliner Tbilisi. (source: jurnaland.com)

Satu lagi yang harus dicoba kalau ke Georgia, yaitu wine. Negeri Georgia terkenal dengan negeri penghasil wine terbesar di Eropa. Georgia telah mengekspor wine-nya ke 48 negara di dunia. Orang Georgia mengistimewakan tanggal 4 Oktober karena ditetapkan sebagai Georgian Wine Day. Pesta wine dan festival buah-buahan hasil panen mereka digelar di jalanan. Sayangnya, saat aku ke sana belum bulan Oktober. 

Tapi, nggak menunggu tanggal 4 Oktober pun tak jadi masalah. Toko-toko wine tersebar di mana-mana. Selama menelusuri Kota Tua, entah berapa toko wine yang kulewati. Harganya pun murah. Wine merah cuma seharga 6 Lari/botol. Saat akan pulang ke Indonesia, pemilik hotel yang senang dengan kehadiran kami pun memberikan wine racikannya sebagai oleh-oleh. Baik sekali, kan. Tapi, aku nggak minum wine, kok (klarifikasi sebelum banyak yang bertanya-tanya).


Wisata kuliner Tbilisi 2. (source: jurnaland.com)

Wisata kuliner Tbilisi Georgia 3. (source: jurnaland.com)

5. Wisata Budaya Georgia

Entah kenapa, segala hal yang berhubungan dengan kesenian selalu diterima di Eropa. Gedung-gedung teater tersebar di mana-mana, termasuk di Tbilisi. Dan, selalu ramai. Kedatanganku ke Georgia memang membawa misi kebudayaan. Kami mengikuti International Folk Dance and Music Perkhuli Festival-Tbilisi 2017 serta Georgia Folk Festival. Ada serangkaian kegiatan yang kami ikuti. Mulai dari workshop, rehearsal, parade, dan festival. Jadi, wisata budaya memang jadi agenda utama kami datang ke negara Kaukasus ini.

Wisata budaya Georgia. (source: jurnaland.com)

Wisata budaya Georgia. (source: jurnaland.com)

Wisata budaya Georgia. (source: jurnaland.com)


Selama mengikuti rangkaian festival di Georgia, aku bisa melihat langsung tarian kartuli, khas Georgia, tari berpasangan yang gemulai antara perempuan dan laki-laki. Aku juga melihat proses latihannya saat workshop bersama penari-penari itu, yang rata-rata usia anak-anak dan remaja. Selain Kartuli, ada tarian rakyat Georgia yang menjadi favoritku. Tarian ini ditampilkan secara massal di atas panggung (sekitar 20 penari laki-laki dan perempuan). Kostum yang mereka kenakan juga cantik. Perempuan mengenakan baju tradisional (gaun dengan penutup kepala seperti selendang, lalu kepangan rambut panjang terjulur hingga pinggang) dan laki-laki mengenakan pakaian serba hitam dengan peluru di saku baju dan belati tergantung di pinggang. Kostum perempuan menyerupai pakaian yang dipakai untuk bertani, mungkin karena negeri Georgia juga termasuk negara agraris dan perkebunan buah terbentang luas. Tarian Georgia ini diperkuat dengan musik bernuansa Timur Tengah. Peraduan budaya Eropa Timur dengan Asia menghasilkan tarian keren itu. Perempuan menari begitu gemulai sementara laki-laki bergerak dengan kaki menghentak cepat seperti tentara yang ingin berperang. Rupanya tarian ini memang lazim diadakan untuk memberikan semangat kepada tentara yang akan berperang. Kecepatan geraknya, ketegapan tubuhnya, tentu tak didapat dengan instan. Para penari ini telah menempa kelenturan tubuh sejak mereka kecil.

Negeri Georgia terasa amat kental dengan percampuran budaya Rusia dan negara-negara pecahannya, seperti Ukraina, Tajikistan, Polandia, dan Uzbekistan. Tidak heran jika jenis tarian dan musik mereka begitu mirip. Menghabiskan malam di Tbilisi harus dengan musik. Jika kamu datang ke Tbilisi, kamu harus melihat jadwal pertunjukan tarian atau musik tradisional mereka. Kurasa gedung Tbilisi Art Hall, tempat tim kami tampil malam itu menjadi salah satu gedung pertunjukan yang tak pernah sepi. Selalu ada hari untuk kesenian di Tbilisi.

6. Berburu Kerajinan ala Georgia

Saat berjalan di Kota Tua Tbilisi, beragam handycraft dipajang di emperan. Ada yang jenis sepatu, kain, tas, bahkan karpet yang punya motif enamel. Aku sampai menyediakan satu hari khusus sebelum pulang ke Indonesia untuk melihat-lihat hasil kerajianan tangan orang Georgia. 

Wisata Kota Tua Tbilisi. (source: jurnaland.com)

Wisata Tbilisi-Georgia. (source: jurnaland.com)

Tidak sah ke Georgia kalau belum bawa pulang salah satu hasil kerajinan tangan mereka. Penampakannya persis seperti pasar tradisional yang menjual pernak-pernik dan souvenir. Tbilisi itu pencinta motif dan warna-warna yang kalem. Sesuai negerinya yang kalem dan harmonis.

Read More

Share Tweet Pin It +1

8 Comments