In Journey Land

Jelajah Sumbawa (I), Sambutan Hangat dari Poto Tano

"Aku ingin ke Sumbawa," ucapku sekenanya saat berbincang dengan Junisatya tentang rencana traveling berikutnya.

Lalu, di lain kesempatan, teman seperjalananku sekaligus partner kerja terbaik yang sering mentraktirku makan juga sempat mengirim pesan lewat Whatsapp suatu hari, "Kita jalan ke mana gitu, yuk. Masa tahun ini nggak ada rencana jalan bareng."

Perbincangan singkat bersama Junisatya dan Ry Azzura itu berakhir di sebuah warung kopi awal tahun 2018. Tahun lalu kami berangkat ke Ubud dan Nusa Penida bareng, tahun ini pun kami merencanakan destinasi yang berbeda. Awalnya Ry bilang ingin ke Yogyakarta atau Malang. Lalu kupikir-pikir, kenapa tidak merealisasikan keinginanku untuk menginjak tanah Sumbawa. Bukan Sumba, ya. Sumbawa itu di Nusa Tenggata Barat, sementara Sumba itu di Nusa Tenggara Timur. Bukannya aku nggak pengin ke Sumba, tapi Sumbawa juga tak kalah menarik kok. Siapa tahu, setelah ini aku beneran bisa ke Sumba. Aku ingin menjelajahi Pulau Kenawa dan ingin berenang-renang di kolam legendaris Mata Jitu di Pulau Moyo.

Akhirnya semua setuju dengan usulku untuk menjelajah Sumbawa. Rara, teman kantor Ry sekaligus geng renangku di Bumi Wiyata Depok ikut bergabung bersama kami kali ini. Dan, lagi-lagi perjalanan kami ini tidak menggunakan tour agent mana pun. Modal nekat aja dengan persiapan yang kurang lebih hampir 6 bulan. Kami merancang itinerary, bikin tabungan trip bersama, hingga berharap dapat tiket promo ke Lombok. Anyway, sangat sedikit info tentang detail perjalanan ke Sumbawa. Kalau pun ada, informasinya masih kurang jelas. Karena itulah, aku berbagi di sini, berbagi tentang indahnya Sumbawa dan bagaimana bisa menjelajahi tanah itu.

Sampailah kami pada Agustus 2018, sesuai dengan yang kami rencanakan. Pesawatku mendarat di Lombok International Airport yang kini berganti nama jadi Zainuddin Abdul Madjid International Airport. Duh, kenapa nama bandaranya jadi panjang, ya? Susah untuk menghafal nama bandara pakai nama pahlawan lokal ini. Tapi, tak apa, hitung-hitung bisa mengenal nama tokoh yang mendirikan organisasi Islam terbesar di Lombok zaman dulu kala.

Saat aku turun pesawat, di sekitarku banyak sekali orang mengenakan rompi, kayak wartawan. Siapa ya mereka? Kami sama-sama menunggu barang dikeluarkan dari bagasi. Agak lama dari biasanya. Oh, aku baru mengerti, tentu saja, saat itu Lombok sedang berduka. Beberapa hari sebelum aku sampai di sana, Sembalun dan sekitar Lombok Utara dirundung gempa bumi hingga 6,4 SR. Gempa yang cukup besar hingga beberapa bangunan rusak kulihat dari berita di TV dan media sosial. Orang-orang berompi ini adalah para relawan dari berbagai instansi yang membawa barang-barang sumbangan yang akan didistribusikan ke camp-camp pengungsian. Jadi bukan wartawan, melainkan relawan.

Gunung Rinjani dari Pelabuhan Kayangan Lombok. Source: jurnaland.com

Gunung Rinjani dari kapal ferry. Source: jurnaland.com

Saat aku keluar di pintu kedatangan, banyak turis mancanegara yang duduk santai bahkan tiduran di pelataran bandara. Ramai sekali. Tidak biasanya bandara Lombok jadi penuh. Rupanya sebagian besar para turis asing ini sedang menunggu jadwal penerbangan masing-masing untuk evakuasi keluar dari Lombok. Ketika orang-orang ingin terbang meninggalkan pulau ini, aku bersama teman-teman traveling-ku baru saja sampai di sini. Memang awalnya kami sempat ragu untuk berangkat, terutama seorang temanku yang bernama Ry Azzura. Dia khawatir perjalanan ke Sumbawa yang sudah kami rancang berbulan-bulan itu tidaj kondusif. Tapi  entah karena tekad atau nekat, kami tetap berangkat dengan segala pikiran positif di dalam kepala, bahwa semua akan baik-baik saja.

Kami langsung memesan taksi online yang bisa mengantar kami langsung ke Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur. Lumayan jauh perjalanannya sekitar 2 jam. Selama 2 jam itu pula kami memanfaatkan waktu untuk tidur atau sekadar melihat-lihat sepanjang jalan.

Sepanjang jalan itu pula sopir kami bercerita bahwa sebagian bangunan di Lombok Utara rubuh dan rusak parah. Sudah 3 hari berlalu tapi banyak juga korban yang belum mau pulang ke rumahnya (bagi yang rumahnya masih utuh). Sebagian masih trauma, takut ada gempa besar lagi karena dalam 2 hari itu sudah ada ratusan gempa susulan. Sedih mendengarnya. Apalagi saat memasuki kawasan Lombok Timur, aku dapat melihat langsung tenda-tenda pengungsian yang didirikan seadanya di halaman sekolah, masjid, bahkan di depan kantor dinas pemerintah. Semoga mereka baik-baik saja, ya. Melihat banyaknya relawan yang satu pesawat denganku dari Jakarta, hatiku lega. Bantuan tiba tepat pada waktunya. Dan banyak yang mengapresiasi kesigapan relawan lokal yang mengevakuasi masyarakat. Alhamdulillah.

Aku sempat khawatir dengan jadwal kapal ferry untuk menyeberang ke Sumbawa. Untungnya sopir taksi online itu menenangkan. Semua transportasi sudah beroperasi normal. Jadi jadwal kapal pun aman. Begitu sampai di pelabuhan Kayangan, aku langsung membeli tiket kapal untuk kami berempat. Satu tiketnya seharga Rp17.000,00. Kapal berangkat setiap setengah jam sekali. Sebelum naik kapal, kami menyempatkan diri makan siang di sebuah warung makan yang menjajakan banyak makanan laut. Enak dan murah. Kalau kata Ry, beli apa saja di warung itu harganya tetap Rp20.000,00.

Suasana Pelabuhan Kayangan begitu tenang. Kata ibu warung, sebagian masih trauma sama gempa. Pelabuhan Kayangan ini berseberangan langsung dengan Gunung Rinjani. Jadi guncangan gempa sangat terasa. Saat aku menaiki kapal, aku melihat kemegahan Rinjani. Tak menyangka, para pendaki di sana ikut dievakuasi turun beberapa hari sebelum ini. Rinjani melepas kapal kami yang perlahan pergi meninggalkan Lombok. Semoga tetap aman, ya Rinjani, semoga tetap tentram, ya Lombok. Begitu iringan doaku kala berlayar siang itu.


Jelajah Sumbawa, Sambutan Hangat dari Poto Tano. Source: jurnaland.com

Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat. Source: jurnaland.com

Pelabuhan Poto Tano Sumbawa Barat (2). Source: jurnaland.com

Geng traveling ke Sumbawa. Source: jurnaland.com

Kami meninggalkan Pulau Lombok dengan syahdu. Setelah 2,5 jam naik ferry, kami merapat di Pelabuhan Poto Tano. Dan, begitu turun kapal, panorama bukit-bukit gersang tapi cantik terhampar di depan mata. Ya ampun, aku tak menyangka Poto Tano secantik ini. Jika sebelumnya pelabuhan Kayangan menawarkan kemegahan Rinjani yang kaki gunungnya menyentuh laut, Poto Tano malah menyambut kami dengan segala eksotika tak terkira. Ya, ya, mungkin aku berlebihan. Tapi kalau kamu ada di sana dan melihat langsung bukit gersang menguning serta perairan jernih di bawahnya, kamu akan paham bahwa inilah yang kamu butuhkan. Heaven on earth.

Dengan menyandang ransel di punggung dan menenteng stok makanan, kami berjalan ke arah pintu keluar pelabuhan hendak menyewa pick up yang mau mengantar ke Bukit Mantar. Ke sanalah tujuan kami sesungguhnya. Satu bukit dengan panorama yang indah ke arah barat. Agak susah mencari tumpangan di pelabuhan karena banyak calo berkeliaran menawarkan kami mobil sewaan dengan harga tidak rasional. Kami sempat kebingungan dan akhirnya mampir di sebuah warung untuk istirahat. Kami sekalian numpang bebersih badan yang sudah lepek, numpang men-charging hape karena sebentar lagi kami akan berada di kawasan yang tidak ada listrik dan air bersih.

Untungnya kami bertemu dengan seorang teman yang merupakan orang Bima tapi pernah tinggal di Jakarta. Ia memberikan kontak penyewaan ranger yang bisa antar-jemput ke Bukit Mantar. Sekarang transportasi ke sana cuma bisa pakai pick up. Dulu masih ada ojek, tetapi sudah dilarang karena ada kejadian motor jatuh ke jurang saat melewati tanjakan berliku di lereng bukit. Dengan menyew Rp400.000 untuk antar-jemput, kami menaikkan semua perlengkapan ke atas pick up. Percayalah, jalanan ke Bukit Mantar tidaklah ramah. Kami terguncang-guncang hebat di atas pick up, terguncang sambil melihat penorama cantik.

Saat menaiki pick up itu, kami masih bebas berdiri dan heboh sendiri melihat gugusan bukit gersang di pinggir laut. Inilah yang kucari, pemandangan yang membebaskan beban pikiran, bahkan beban ransel pun teringankan. Angin senja menyapa. Sesekali aku berteriak saat melewati jalanan berkelok dan disambut dengan bukit-bukit lainnya. Namun, kesenangan itu hanya sementara. Begitu tanjakan mulai terasa berat dan jalanan mulai tak karuan rusaknya, kami mulai tertawa-tawa karena tak bisa memotret dengan baik dalam keadaan kendaraan yang bergerak terus. Setiap ada jalan berlubang, di sana pulalah kami bersorak. Seseru itu. Baru hari pertama di sana, Sumbawa sudah memberikan suguhan cerita perjalanan yang sungguh menarik untuk kubagi di blog ini.







Kami melewati desa budaya Mantar sebelum sampai ke puncak. Desa Mantar sungguh kecil dan kebanyakan terdiri dari rumah panggung. Kami melintasi jalanan kampung itu sambil dilihat oleh beberapa warga yang senyum-senyum melihat kami. Tak jauh dari sana, ada tanjakan lebih terjal dan berkelok hingga sampai ke sebuah dataran. Inilah yang dinamakan panorama Bukit Mantar. Hari sudah sangat senja. Pemandangan di bawah kami tampak keemasan dijilat matahari.

Tak mau berlama-lama karena sama sekali tidak ada penerangan di atas sana, kami langsung mendirikan tenda. Iya, tenda di pinggiran panorama Bukit Mantar. Hanya kami saja, bersama bapak penjaga camping ground yang tinggal tak jauh dari sana. Rupanya saat kami menghubungi ranger untuk menyewa pick up-nya, sang ranger sudah memberi tahu soal kedatangan kami kepada bapak penjaga camping ground, sekaligus menitipkan kami yang cuma berempat ini. Katanya, ranger akan menjemput kami untuk turun besok pagi. Oke, dengan senang hati, Pak.



Kami membawa 2 tenda dan didirikan berdampingan menghadap panorama. Ketika gelap merayap, aku mengeluarkan lampu emergency mini sebagai penerangan kami. Lalu kami menggelar tikar kecil yang dipinjamkan oleh ranger yang mengantar kami. Katanya untuk duduk-duduk di luar tenda menikmati bintang. Ah, ya, milky way, itu yang kami tunggu. Semoga cahaya-cahaya kecil dari permukiman di bawah sana tak mengganggu saat kami mengabadikan milky way dalam lensa.

Lanjut baca : Jelajah Sumbawa (II): Salam dari Bukit Mantar
 

Hal yang harus kamu tahu sebelum kemping di Bukit Mantar

1. Sewa pick up Rp400.000/pp.
2. Beli bekal makanan dan minuman di pelabuhan Poto Tano.
3. Jika ingin bebersih, ada kamar mandi di camping ground yang bisa digunakan bergantian. Tidak bisa buat mandi karena stok air bersih terbatas. Bayar Rp5.000 per orang untuk penggunaan air bersih.
4. Ada colokan di pondokan. Disarankan bawa colokan T atau kabel rol kecil untuk menge-charge gadget. Bayar Rp5.000 per item untuk penggunakan listrik.
5. Bayar jasa Pak penjaga camping ground seikhlasnya. Bapaknya baik, mau bantu kami mendirikan tenda gelap-gelapan.

Read More

Share Tweet Pin It +1

21 Comments

In Journey Land Story Land

Kuliner Papua dan Sensasi Makan Papeda Pertama Kali

Buat yang sudah pernah ke Papua, pasti familiar dengan papeda, makanan khas dari Indonesia bagian timur yang berbahan dasar sagu. Karena aku belum pernah ke Papua, aku juga belum pernah mencoba papeda. Bahkan awalnya kupikir papeda itu sejenis sambal seperti sambal roa. Duh aku salah besar.

Baru beberapa hari lalu aku akhirnya bisa makan sagu ini. Aku diajak meeting dengan seorang penulis yang merupakan teman lama. Kami sudah lama nggak ketemu karena dia pindah ke Bali. Kami pernah sama-sama menulis di satu penerbit dan diorbitkan oleh editor yang sama. Walaupun nggak terlalu dekat, ya seenggaknya kami pernah melakukan trip bareng ke Gunung Padang dan Stone Garden sebelum ia pindah. Nama akun Instagramnya sih @backpackertampan, tapi kami memanggilnya tetap Pandu atau Ndup.

Kuliner Papua di Alenia Papua Coffee. Source: jurnaland.com
Kuliner Papua di Alenia Papua Coffee and Kitchen.
Alenia Papua Coffee and Kitchen. Source: pergikuliner.com
Alenia Papua Coffee and Kitchen
 
Setahun lalu, tepatnya saat aku dan Ry, editor kami, berada di Bali, Ry sempat janjian bertemu dengan Pandu di Seminyak, tetapi karena beberapa hal, rencana itu gagal. Ya, akhirnya baru beberapa hari lalu kami bertemu lagi. Kebetulan ia sedang berada di Jakarta. Pandu mengajakku dan Ry nongkrong di satu restoran makanan Papua, Alenia Papua coffee and kitchen di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Katanya, temannya adalah keponakan Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, pemilik kafe itu.

Ya, aku sih senang-senang saja diajak ke Kemang karena aksesnya gampang. Aku malah baru dengar tentang kafe ini, kupikir semacam coffee shop biasa, ternyata otentik, punya ciri khas.

Memasuki pelataran parkir Alenia Papua Coffee and Kitchen, aku melihat ada 2 patung berdiri di antara pintu kaca. Patung itu ternyata salah satu hasil kerajinan seni ukit Kamoro. Kubuka pintunya lalu masuk. Dekorasi unik dan etnik mengisi sisi kiri ruangan. Bangku-bangku kayu dihiasi dengan cushion bersarung batik. Ada peta lama Indonesia bagian timur terpajang lebar dengan deretan bentuk-bentuk kerajinan ukir Kamoro juga, khas kerajinan ukiran Papua dipampang di rak kiri-kanan peta. Ada beberapa hasil kerajinan dari berbagai suku di Papua dan ternyata dijual juga lho. Aku melihat label 'sold' di beberapa barang panjangan. Berdiri di dalam kafe yang sepi siang itu, aku serasa masuk ke mesin waktu, saat Belanda, Portugis, dan Spanyol pernah berada di garis Indonesia Timur.

Saat itu, Pandu dan Ry belum datang. Aku bingung mau memesan menu apa. Kupikir di sana ada pasta, tapi ternyata benar-benar komitmen mengangkat menu makanan Papua dan Indonesia bagian timur. Aku lantas memesan singkong goreng sambal roa dan green tea latte sebagai menu pembuka. Sebenarnya karena bingung aja mau pesan apa. Singkong gorengnya enak dan garing. Bisa dicocol dengan sambal roa yang nggak terlalu pedas. Pas aja di lidah.

Tak lama Ry datang lalu mengejekku, "Lo belum pernah coba papeda?" Aku menggeleng. "Ya, belumlah. Kan gue pikir itu sejenis sambal roa." Dia menertawakanku seketika. Kemudian dia memesan papeda goreng dan segelas kopi susu mamakota. Katanya kopi di sini memang sengaja disuplai dari produsen kopi di Papua.

Singkong goreng sambal roa ALenia Papua Coffee. Source: jurnaland.com
Singkong goreng sambal roa.

Papeda goreng Alenia Papua Coffee. Source: jurnaland.com
Papeda goreng

Kopi susu mamakota Alenia Papua Coffee. Source: instagram.com/aleniapapuacoffee
Kopi susu mamakota

Aku mencicipi papeda goreng. Bentuknya seperti cireng tapi bentuknya lebih lebar dan warnanya lebih kecokelatan. Paling enak disantap dalam keadaan masih hangat. Jadi garingnya lebih berasa dan sagunya juga tidak terlalu kenyal. Papeda goreng ini ditaburi bumbu sambal teri untuk memperkuat rasa. Enak, kok.

Menu pamungkas dipesan oleh Pandu saat ia datang paling telat. Ia memesan papeda ikan kuah kuning. Katanya ini papeda yang nggak digoreng. Aku langsung membayangkan sagu kenyal seperti permen yupi. Papeda ikan kuah kuning ini dihidang untuk empat porsi. Jadi jangan heran kalau menu ini heboh sekali, mengundang lirikan pengunjung di sebelah. Maklum, makin sore, Alenia Papua Coffee and Kitchen ini makin ramai.

Mba waitress mengajarkan kami cara makan papeda ikan kuah kuning ini. Jadi potongan ikan kakap dan kuahnya diambil duluan di piring, lalu papedanya dicolek dan digulung-gulung menggunakan semacam sumpit dari bambu dan dicampur ke kuah kuning yang telah disiapkan. Bisa ditambahkan irisan cabai rawit dan perasan jeruk nipis biar lebih sedap. Ada kemangi yang bikin wangi di kuahnya. Ikannya juga tidak amis.

Sensasi makan papeda ikan kuah kuning. Source: jurnaland.com
Papeda ikan kuah kuning.

Sepertinya cara makannya langsung diseruput bersamaan ya, karena papeda sendiri kenyal dan susah diangkat dengan sendok. Tapi aku mau makan dengan anggun aja ah. Katanya juga, makan papeda ini jangan dikunyah, langsung telan. Pada suapan pertama, aku menuruti yang mereka bilang. Papeda berkuah itu lewat begitu saja di lidah dan meluncur ke tenggorokan. Rasanya... seperti menelan sesuatu yang kenyal. Ada kuah kuning yang memberi rasa kuat pada papedanya, jadi semacam kolaborasi yang pas di lidah. Rasa kuah kuningnya persis seperti pindang ikan dari Lampung. Karena aku suka ikan, enak-enak saja makan ini, bahkan nambah. Sagunya memang agak ganggu awalnya di tenggorokan, tapi bisa ditelan dengan bantuan kuah ikan ini. So far so good. Ini yang namanya cita rasa nusantara dari negeri timur. Sagu ini selayaknya nasi dan kuah kuningnya lauk pauk. Enak. Kalau ada sambal tentu lebih mantap kali, ya.

Kami makan papeda sembari bercerita pengalaman masing-masing setelah lama tidak berjumpa. Pandu bercerita tentang Bali dan pekerjaannya sebagai video editor untuk salah satu vlogger bule. Dia juga bercerita tentang Sumba dan Filipina. Katanya, kalau mau jalan nggak jauh-jauh amat dengan harga murah, Filipina bisa jadi pilihan. Kebetulan sekali aku memang sedang merencanakan perjalanan tahun depan. Aku memang kepikiran ke Filipina, eksplor Manila dan pulau-pulau di sekitarnya. Pandu bilang, kalau mau eksplor alam dan laut di arah timur yang biayanya terjangkau, Filipina aja. Lautnya mirip Maluku karena tetanggaan. Aduh, aku teracuni. Ry juga. Yang tadinya dia ingin roadtrip 5 negara Asia Tenggara, jadi berubah haluan.

Obrolan kami meluas seputar traveling. Pandu ingin menuntaskan keinginannya untuk ke India lagi dan masuk ke Taj Mahal. Buat yang pernah baca buku Bucket List punya Pandu ini tentu tahu ceritanya jelajah Asia dengan backpacker. Ya, tahun depan dia mau ke India lagi. Siapa tahu setelah itu dia bisa nulis buku kedua. Aku dan Ry juga saling melempar cerita tentang keinginan masing-masing menjelajah berbagai tempat. Papua tentu jadi salah satunya, tapi kok ya mahal amat biaya ke sana. Begitulah hidup, ya. Kalau sudah mencoba traveling sekali, akan ada rencana-rencana traveling berikutnya. Kami punya bucket list masing-masing. Dengan adanya teman ngobrol seasyik mereka ini, yang nggak melihat hidup itu harus muluk dengan segala materinya, aku jadi bersyukur. Berjalan adalah tujuannya dan ceritanya bisa dibawa pulang dengan senang. Aku mantap menyantap sendokan terakhir kuah papeda.

Kuliner Papua dan sensasi makan papeda
Coba kuliner bareng Pandu dan Ry.

Makan papeda dari Papua membuat kami bersemangat untuk eksplor timur. Sebelum bisa ke Papua, bisa coba papeda di Alenia Papua Coffee and Kitchen di Kemang buat pemanasan. Merasa belum kenyang, kami memesan kue bola persipura yang berbahan dasar ubi dan gula merah. Lengkap sudah santapan sore hingga malam kami. Dari singkong, papeda goreng, papeda kuah, dan ubi. Sudah cocok jadi orang Indonesia bagian timur belum? Sebenarnya ada banyak menu di kafe ini. Nggak semuanya ubi dan sagu kok. Ada menu nasi juga. Kalau ke sana lagi, aku ingin coba nasi campur papua, nasi kuning papua, ikan goreng biak sambal colo-colo, nasi sop brenebon, dan ikan bakar manokwari. Kopi-kopian dari Papua juga belum tuntas semua dicoba. Wah, banyak juga list-nya.



Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Movie Land

Film Belok Kanan Barcelona, Serasa Traveling Lintas 4 Benua


Akhirnya Belok Kanan Barcelona sampai juga di bioskop. Aku beruntung dapat menontonnya pada hari premier bersama teman-teman penerbit Gagas Media, bertemu dengan penulis novelnya dan bertemu dengan seluruh cast di film ini. Dari judulnya saja, kita sudah tahu kalau film ini bercerita tentang perjalanan. Namun, perjalanan yang seperti apa? Aku berani jamin bahwa sepanjang film, Belok Kanan Barcelona akan mendongengkan kita tentang ajaibnya pesan cinta yang bisa membawa orang menemukan jati dirinya lewat perjalanan. Perjalanannya bukan perjalanan biasa. Dari film ini, kita akan jauh lebih akrab dengan bandara, stasiun kereta, hingga terminal bus. Kita juga akan akrab dengan peta dunia karena siap-siap, Belok Kanan Barcelona akan membawa kita terbang lintas benua.
Film Belok Kanan Barcelona. Source: instagram.com/belokkananbarcelona


Apa jadinya saat 4 sahabat SMA terlibat cinta segi empat? Kalau kisah drama cinta remaja sudah biasa menghiasi layar lebar kita, mari berbelok sejenak ke Barcelona. Film yang disutradarai Guntur Soeharjanto ini dikemas dalam kisah percintaan 4 orang yang terpaut jauh antarbenua. Namun, jangan membayangkan kisahnya akan rumit sekali, ya. Belok Kanan Barcelona berkisah tentang sahabat SMA yang juga tetanggan, yaitu Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Farah (Anggika Bolsterli), dan Yusuf alias Ucup (Deva Mahendra). Karena sering bersama, mereka pun saling jatuh cinta tetapi dipendam satu sama lain.

Francis sempat mengungkapkan perasaannya kepada Retno dan langsung ditolak karena alasan perbedaan keyakinan. Ya, akhirnya mereka menjalani kisah SMA mereka hanya cukup dengan status sahabat. Merasa tak cukup dengan perbedaan keyakinan, takdir pun memisahkan mereka dengan tinggal berbeda negara setelahnya. Diferensiasi yang diambil dalam film ini begitu kental tetapi terasa lebih ringan dengan dibalut banyak komedi. Alur cerita pun dibuat berbeda dengan adanya tarik ulur maju-mundur. Meskipun banyak sekali flashback, kamu tidak akan kebingungan mana yang masa kini, mana yang masa lalu karena garisnya sangat jelas, malah sangat kunikmati.

Plot berpindah saat mereka lulus SMA. Keempat sahabat ini dipisahkan oleh benua. Francis yang merupakan seorang pianis yang sudah sering tur berbagai negara saat itu menetap di Los Angeles, Amerika Serikat. Retno dengan kemampuan seorang baker dan koki, bekerja di sebuah kafe di Copenhagen, Denmark. Farah memilih mengejar mimpinya jadi arsitek sampai ke Hoi An, Vietnam, sementara Yusuf bekerja di Cape Town, Afrika Selatan. Rentang jarak tak membuat persahabatan mereka pudar, malah menjadi suatu kekuatan yang dapat ditonjolkan dari film Belok Kanan Barcelona dan sekaligus biang konflik yang bikin cerita cinta yang terpendam bertahun-tahun jadi kian rumit. Apa jadinya jika Francis, 'a man who are loved by everygirls' bilang bahwa ia akan menikah di Barcelona? Sebenarnya biasa aja sih, toh Francis memang sudah punya karier dan hidup sendiri di Los Angeles. Tetapi ini mengundang reaksi yang berbeda bagi sahabat-sahabatnya. Secara kebetulan pula, ketiga sahabat SMA Francis tidak bisa datang karena memang jauh. Lalu, entah bagaimana, takdir malah menuntun mereka untuk sama-sama bergerak dari titik masing-masing menuju Barcelona.
Film Belok Kanan Barcelona (3). Source: kincir.com

Jadi alurnya begini: Francis bilang mau nikah; lalu Retno curhat ke Farah kalau ia akan datang ke Barcelona; Farah yang sedikit patah hati curhat ke Yusuf karena juga ingin menyusul ke Barcelona; Yusuf yang awalnya damai-damai saja di Afrika mendadak panik dan ingin mengejar Farah ke Barcelona untuk menyatakan cintanya sebelum terlambat. Sementara Francis, mulai diteror oleh calon istrinya sendiri yang tidak ingin Retno hadir di pernikahan mereka nanti.

Film Belok Kanan Barcelona merupakan adaptasi dari novel Traveler’sTale terbitan Gagas Media karya Adhitya Mulya, Alaya, Setya, Iman Hidajat, dan Ninit Yunita. Suatu hal yang berani ketika filmmaker memproduksi film ini dengan lokasi luar negeri yang berpindah-pindah. Adhitya Mulya yang mendapat kehormatan langsung  untuk menulis skenarionya memberikan nyawa traveling yang ada di Traveler’s Tale terasa lebih nyata di dalam film. Ya, Belok Kanan Barcelona menjadi film mahal Starvision yang mengangkat kota-kota dari 4 benua sekaligus dalam 1 film. Ada sederetan kota-kota cantik yang diharapkan mengundang daya tarik, seperti Abidjan, Morocco, Gurun Sahara, dan Cape Town di Afrika. Empat lokasi itu paling mencuri perhatian di tengah kemegahan Praha, Budapest, Vienna, Copenhagen, dan Barcelona sendiri yang juga menjadi cerita perjalanan dalam film ini. Perjalanan Yusuf mengejar cintanya yang lintas benua sungguh menjadi sebuah tragedi perjalanan bagi dirinya. Perjuangan cintanya dibuktikan dengan kisah perjalanannya yang tidak mudah. Urusan bisnisnya di Abidjan berantakan karena perang, sempat dievakuasi setelah mengalami kecelakaan pesawat, ia pun lantas tersesat sampai Ghana dan Maroko, serta mesti terkena badai pasir di Gurun Sahara. Begitu sampai di Spanyol, ia ditangkap di imigrasi karena disangka teroris lantaran namanya Yusuf. Yusuf yang diperankan oleh Deva Mahendra menjadi scene stealer dalam film ini karena seringkali mengundang tawa. Jika tidak ada karakter Yusuf, mungkin film ini akan menjadi cerita cinta biasa.

Karakternya juga berimbang dengan Farah yang dikirim dari kantornya di Hoi An ke Budapest dan Praha untuk riset arsitektur Eropa bersama rekan kantornya. Perjalanannya awalnya mulus saja, diimbuhi sedikit dengan kejahilan rekan kantor yang dengan terang-terangan mengejar cinta Farah, meski ditolak berkali-kali. Saat kepatahhatian Farah tak dapat dibendung lagi, ia selalu curhat dan kontak-kontakan dengan Yusuf hanya biar hatinya lega, padahal setiap kali teleponan, ujung-ujungnya Farah sewot dan Yusuf malah yang patah hati. Hubungan mereka berdua lucu tetapi manis. Apalagi ada lantunan lagu "Bicara" dan "Time Will Tell" yang jadi OST Belok Kanan Barcelona dari The Overtune. Nggak kalah manis. Anggika Borsterli memberikan chemistry terbaiknya dengan karakter Yusuf ini.
Film Belok Kanan Barcelona. Source: beritagar.id

Cerita di film ini dibangun dengan sistem flashback yang dapat dinikmati dengan utuh, bukan potongan-potongan kecil, tetapi bisa jadi satu kesatuan. Delivery karakternya juga dapat dengan segala emosinya. Perkenalan dan persahabatan antara Francis, Retno, Farah, dan Yusuf dibangun dengan sangat baik. Drama cinta mereka juga begitu, berkonflik tapi dikemas jenaka dengan hadirnya beberapa segmen para komika. Sebenarnya Farah dan Yusuf sendiri sudah mengisi kejenakaan itu dengan aksi konyol mereka yang nggak hilang-hilang dari SMA hingga dewasa. Sementara itu, Francis dan Retno mengambil bagian sisi romantis-melankolis tanpa harus berdrama panjang. Karena itulah film ini akan jadi sangat manis bagi penonton remaja. Jika Maroko itu eksotik, Barcelona memberikan visual kotanya yang penuh dengan cerita romantika.

Belok Kanan Barcelona menjadi film yang sangat ringan dengan plot sederhana, tapi punya keseruan saat setiap karakter berjuang mencapai impiannya. Nuansa perjalanannya dalam film ini sungguh kuat. Bukan eksotika suatu negara yang diincar, tetapi bagaimana karakter berpindah-pindah dan menjadikan perjalanan mereka punya tujuan, entah itu cinta, persahabatan, atau malah sekadar pelarian. OST film ini sepertinya sengaja mengambil lagu-lagu hits pada masanya untuk memperkuat suasana cinta dalam perjalanan yang dibangun cerita. Ada lagu "Untuk Dikenang" versi Endah N Rhesa serta "Sahabat Sejati" dari Sheila on 7 yang bikin kita nostalgia, persis saat cerita flashback ke masa-masa SMA keempat sahabat ini. Next, lagu-lagu OST Belok Kanan Barcelona akan jadi tambahan playlist-ku di Spotify. Lumayan, buat lagu pengantar saat traveling.

Sebuah film yang mengangkat lebih dari 3 negara dengan bersih, apalagi ini lintas 4 benua, memang patut diapresiasi. Jika ada yang berkomentar tentang jalan ceritanya yang terlalu sederhana, tujuan Belok Kanan Barcelona sendiri memang untuk kisah cinta antarbenua yang tidak rumit karena perjalanan sudah membuatnya rumit. Seperti cerita-cerita traveling pada umumnya, karakter harusnya mengalami perubahan diri, ujian dalam perjalanan, hingga membuat diri masing-masing tau apa yang sebenarnya mereka cari. Dan, sudah dibuktikan dengan sangat baik oleh setiap karakternya, bahwa perjalanan akan jadi biasa jika tidak melalui hal-hal luar biasa. Tidak perlu ekspektasi lebih karena ekspektasi itu pupus dengan gambar indah tiap negara yang disinggahi tiap karakter berbeda dengan cara mereka sendiri. Setelah belok kanan ke Barcelona, mungkin aku akan balik kanan ke Gurun Sahara. Serasa traveling lintas benua sekaligus, ya.


Quote terfavorit:
Farah: Gue kayaknya naksir sama Francis.
Yusuf: Masih kayaknya, kan? Masih yang tipe-tipe yang 'pengen martabak, nih, tapi nggak jadi ah'. Gitu, kan?

Read More

Share Tweet Pin It +1

11 Comments

In Advertorial Land Story Land

Akhir Pekan Berfaedah dengan Donor Darah


Suatu sore, aku dapat pesan chat yang isinya begini, “Hanum, kamu mau ikut donor darah nggak?”

Beberapa detik aku mikir lalu kujawab, “Boleh. Tapi tergantung dokternya, ya, ngizinin aku buat donor darah apa enggak. Soalnya selama ini aku kekurusan buat donor darah. :D”

Sudah beberapa kali aku ikut donor darah dan selalu gagal karena beberapa alasan. Kadang-kadang HB yang rendah, tensi yang rendah juga, atau berat badan kurang. Problem hidupku pada masa pertumbuhan itu bukan menurunkan berat badan, melainkan menaikkan berat badan. Jadi, ya pasrah, aku belum pernah donor darah sama sekali.

Saat temanku itu mengajakku ke event donor darah yang diadakan oleh Dokter Sehat, bekerja sama dengan Blood4Life Indonesia, Ciputra Medical Center, dan Indodax, aku semangat sekali untuk ikut. Lumayan juga saat aku nggak punya jadwal traveling, aku masih bisa mengisi akhir pekan dengan aksi berfaedah. Apakah akan diizinkan jadi pendonor kali ini? Yang penting aku daftar aja dulu. Jarang-jarang, nih, aku datang ke event kesehatan seperti ini.
Kalau dipikir-pikir, acara donor darah seperti ini memang harus didukung penuh mengingat kesadaran masyarakat kita masih kurang tentang kesehatan. Apalagi di daerah-daerah. Ada beberapa fakta yang mencengangkan soal stok kantung darah kita di Palang Merah Indonesia (PMI). Indonesia itu masih kekurangan sekitar 500.000 kantung darah setahun. Agak sedih pas tau data ini. Konsekuensinya besar sekali. Pasien yang membutuhkan akan kesulitan mendapatkan kantung darah.
Akhir Pekan Berfaedah dengan Donor Darah. Source: doktersehat.com

Akhir Pekan Berfaedah dengan Donor Darah. jurnaland.com

Begitu sampai di Ciputra Medical Center di Lotte Shopping Avenue Lantai 5, aku ikut dalam diskusi Health Talk bertema Healthy Life Style in General Life dengan dr. Christopher Andrian, M. Gizi, Sp. GK. Beberapa hal yang kucatat saat diskusi gaya hidup sehat ini salah satunya adalah potensi obesitas pada perempuan. Obesitas menjadi tak terkontrol saat kita nggak mengontrol pola makan. Dokter menyarankan untuk menghindari karbohidrat dari tepung karena kadar kalorinya cukup tinggi. Duh, aku jadi malu. Aku pencinta mi yang tentu saja berbahan dasar tepung. Sementara dokter menjabarkan tentang angka kecukupan gizi setiap orang berbeda-beda, dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia, dan tinggi badan. AKG laki-laki dewasa rata-rata 2500 kkal dan AKG perempuan dewasa 2100 kkal. Jadi kamu bisa hitung sendiri kan asupan kalori setiap hari untuk menghindari obesitas.

Salah satu cara untuk mengurangi penyakit dalam tubuh, ya, pastinya donor darah. Blood4Life Indonesia sudah siap membuka posko di sana. Ketika aku mendaftarkan diri sebagai pendonor, ada formulir yang harus kuisi dan sedikit survei. Syarat donor darah itu yang pasti adalah kita nggak boleh mengonsumsi obat-obatan dalam 48 jam terakhir, tidak dibolehkan untuk perempuan yang sedang menstruasi, ibu hamil atau menyusui. Aku juga sempat ditanya pernah ke luar negeri dalam 6 bulan terakhir? Nah, aku checklist di kolom “Ya” karena terakhir aku ke Bulgaria dan Malaysia pada bulan Mei lalu, baru berlalu 4 bulan. Aku baru tau kalau traveling berpengaruh pada kondisi darah kita. Ternyata orang yang tinggal di luar negeri atau pernah ke negara yang punya wabah penyakit tertentu, belum bisa mendonorkan darahnya dalam jangka waktu tertentu. Jadi, harus didata dulu kamu baru aja kembali dari negara mana. Saat aku mengisi formulir, untungnya negara yang kukunjungi beberapa bulan lalu termasuk wilayah yang aman. Aku bisa lanjut ke tahap berikutnya.

Akhir Pekan Berfaedah dengan Donor Darah. Source: doktersehat.com


Akhir pekan berfaedah dengan donor darah. jurnaland.com

Ketika cek tensi darah, aku senang tensiku normal. Namun, ketika cek darah, sayang sekali hemoglobinku (HB) 11 gram, sedangkan pendonor minimal punya HB 12,5 gram. Baiklah, jelas sudah, untuk kesekian kalinya aku ditolak donor darah. Akhirnya aku hanya bisa menunggu teman-temanku yang sedang donor darah di ruang tunggu Ciputra Medical Center yang nyaman sambil mengunduh aplikasi Indodax. Soalnya saat Health Talk, Indodax ini juga aktif mengajak pendengarnya untuk sadar dengan perdagangan dan digital asset. Selain diskusi kesehatan yang kuperoleh hari itu, aku juga dapat tambahan pengetahuan tentang digital asset, nih. Jadi penasaran juga sama bentuk aplikasinya.

FYI, Indodax merupakan platform jual-beli digital asset seperti Etherum, Ripple, dan Bitcoin. Digital Asset ini khususnya dapat dibeli dengan rupiah atau bitcoin itu sendiri. Buat yang kuliah bisnis, pasti mengerti masalah trading di pasar saham. Nah, acara #AksiSehatCeria ini jadi salah satu bentuk kontribusi bagian Corporate Social Responsibilty (CSR) Indodax untuk memperingati hari PMI bersama Dokter Sehat. Meski arah bisnisnya tak sejalan, tapi edukasi tentang kesehatan masyarakat harus dibangun oleh berbagai instansi. Ketika melihat pendonor darah di ruang donor, aku jadi sadar kalau sehat itu mahal dan berharga, apapun background kita.

Biar banyak yang tergerak untuk donor darah (walaupun aku masih gagal), aku mengajak teman-teman semua untuk sama-sama mengedukasi lebih banyak orang lagi tentang pentingnya aksi sosial semacam ini. Karena itu, Dokter Sehat mengadakan blog competition bertema Aksi Sehat Ceria yang berhadiah uang tunai dengan total senilai jutaan rupiah. 

Kamu bisa baca syarat penulisan di www.doktersehat.com/blogsehatceria. Gampang kok, cukup tulis pengalaman hidup sehatmu dalam 500 kata dan publish di blog pribadi. Jangan lupa submit link artikelmu ke www.bit.ly/BlogSehatCeria, ya.

Makin banyak yang ikut nulis tentang #AksiSehatCeria ini di berbagai laman blog, makin banyak pula yang baca dan akhirnya punya kesadaran untuk donor darah. Biar hidup juga lebih sehat. Biar sel darah merah kita beregenerasi dengan teratur dan kadar zat besi kita juga bisa diatur ulang.

Akhir Pekan Berfaedah dengan Donor Darah.

Sekian cerita akhir pekan berfaedahku bersama #AksiSehatCeria dari tim Dokter Sehat, Blood4Life Indonesia, dan Indodax, dan Ciputra Medical Center.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments