In Abroad Land Story Land

8 Tempat Wisata Veliko Tarnovo, Bulgaria

Aku belum sempat cerita banyak tentang Kota Veliko Tarnovo, Bulgaria, ya. Kota itu sangat tenang pada musim semi. Tidak ada bangunan tinggi seperti di Sofia, ibukota Bulgaria sendiri. Berada di Veliko Tarnovo beberapa hari membuatku dapat merasakan atmosfer sisi lain dari negeri Eropa yang pernah kukunjungi sebelum ini. Veliko Tarnovo terasa lebih tua, kuno, tetapi 'hidup'. Tidak terasa seperti kota mati. Itulah istimewanya kota yang pernah menjadi simbol kenegaraan Bulgaria itu.

Sebelum menginjak Bulgaria, aku tidak pernah mendengar nama Kota Veliko Tarnovo. Namun, ketika melaju dari Sofia International Airport menuju Veliko Tarnovo, aku langsung tahu bahwa kota itu adalah satu tempat yang wajib dikunjungi ketika kita menginjak Bulgaria. Jaraknya cukup jauh, sekitar 3,5 jam perjalanan. Aku sudah pernah cerita tentang perjalanan itu di sini. Aku berada di Bulgaria memang tidak lama. Namun, aku bangga bisa bawa nama Indonesia dan mengenalkan keseniannya pada warga Veliko Tarnovo saat itu. Begitu juga sebaliknya, aku senang bisa mengenal Bulgaria melalui kacamata Veliko Tarnovo. Karena, segala hal yang ingin kamu tahu tentang Bulgaria tempo dulu ada di Veliko Tarnovo.


Selain mengemban misi pertukaran kebudayaan dalam The World Cup of Folklore di Bulgaria, aku sempat mengunjungi beberapa tempat di Veliko Tarnovo. Musim semi yang sedikit bikin badanku menggigil tak membuatku melewatkan kesempatan untuk berkeliling. Kebetulan aku menginap di City Hotel yang berlokasi di pusat wisata Veliko Tarnovo. Jadi, untuk mengunjungi tempat wisatanya, aku tidak perlu menggunakan transportasi umum. Cukup dengan berjalan kaki.

Apa saja tempat-tempat wisata yang wajib kamu kunjungi ketika berada di Veliko Tarnovo?

1. Municipal Administration Building




Ini gedung pemerintahannya yang dipimpin oleh walikota. Sebuah kehormatan untukku dapat memasuki gedung ini dan mengikuti pertemuan antar negara lalu bisa presentasi tentang Indonesia. Setelah pertemuan itu, aku diajak ke rooftop gedung Municipal Administration Building untuk melihat view Veliko Tarnovo yang dikelilingi bukit. Tatanan kota kecil Veliko Tarnovo terlihat rapi dan jalanannya pun terbilang sepi. Senang bisa melihat keindahan kota dari rooftop. Jangan-jangan itu tujuan gedung pemerintahan dibangun di persimpangan jalan itu, agar pemerintah bisa memonitor aktivitas kota setiap hari, ya. Hmmm...

2. Mother Bulgaria War Memorial


Tahu nggak, negara besar Eropa sangat menghargai sosok ibu. Sebelumnya aku pernah cerita tentang pesona Mother of Georgia saat mengunjungi Tbilisi. Nah, kali ini aku bertemu lagi dengan sosok ibu yang lain di Bulgaria lewat Mother Bulgaria War Memorial.

Uniknya, aku melewati monumen ini pagi-pagi sekali saat akan mengisi talkshow di TV Eurofolk dan sedang mengenakan pakaian bundo kanduang khas Minang. Matching sekali bukan? Aku dengan identitas adat yang melekat di kostumku, lalu monumen ini berdiri dengan identitas sejarah yang diukir bangsanya di tempat itu. Jaraknya sangat dekat dari hotel tempatku menginap. Cuma 100 meter kok.

Monumen ini didirikan untuk mengenang orang-orang Bulgaria yang terbunuh di Rusia-Turki, Serbia-Bulgaria, Balkan, dan Perang Dunia I. Nah, patung ini sengaja dibangun dengan sosok perempuan  yang sedang berlutut mengenang dan menghormati pahlawan-pahlawan Bulgaria yang tewas itu. Di sekitar taman Mothe Bulgaria War Memorial juga ada beberapa patung tentara Bulgaria yang sedang di medan perang yang berbeda-beda. Monumen inilah yang jadi pusat memorial mereka.


Katanya sih, karena tempat ini jadi pusat mengenang sejarah bangsa, dan patung yang dibangun dinamai Mother of Bulgarian, banyak yang berfoto pasca nikah di sini. Mungkin karena tamannya rapi dan pelatarannya luas. Mungkin juga sekaligus minta restu ibu untuk pernikahan mereka. Bisa aja kan. Kawasan monumen ini berada di jalan protokol Veliko Tarnovo, ada di tengah-tengah persimpangan jalan, dan berseberangan dengan gedung walikotanya. Nggak heran monumen ini sangat penting di Veliko Tarnovo.

3. The Birth of Holy Mother Chatedral


Saat berjalan menyusuri Kota Veliko Tarnovo yang masih sepi, aku sampai di salah satu bangunan berkubah berwarna hijau toska. Ternyata bangunan itu adalah gereja The Birth of Holy Mother Chatedral. Aku mengagumi bangunannya dari luar. Ada beberapa kubah yang menjulang. Konon gereja ini dibangun pada tahun 1842 dari ukiran batu pasir dan bata merah. Aku hanya memandangnya sekilas, lalu melanjutkan perjalanan lagi ke Sarah benteng besar yang terkenal di Bulgaria.

4. Tsarevets Fortress Entrance

Tsarevets Fortress adalah tujuan utamaku dari sekian banyak tempat menarik di Veliko Tarnovo. Sebelum berangkat ke Bulgaria, aku mencari tahu tempat wisata terbaik di negara itu. Aku membaca sekilas tentang benteng peninggalan negeri Balkan itu dan kebetulan sekali lokasinya di Kota Veliko Tarnovo. Begitu aku sampai di Veliko Tarnovo, masuk hotel, akses wifi, lalu langsung buka maps mencari lokasi Tsarevets Fortress yang katanya besar itu.

Yes, lokasinya bahkan cuma 2 km dari hotelku dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Yay.

Aku menyocokkan jadwal festival dengan berapa jam free time yang aku punya. Jadilah Minggu pagi, saat kabut masih pekat dan bahkan jalanan masih sangat sepi, aku langsung ganti pakaian dan jalan kaki ke benteng itu berdasarkan petunjuk peta. Jalan pagi dengan suhu 10 derajat Celcius nggak buruk-buruk amat. Hanya sesekali  mengelap ingus yang meleleh begitu aja. Huh, jorok sekali.


Aku jalan kaki tentu nggak sendiri. Berdua bareng bundo yang mau aja diajak jalan jauh begitu. Semangat banget lagi melebihi anaknya. Iya, kapan lagi kan kami bisa jalan santai, ngobrol, curhat, ketawa-tawa kalau nggak di momen seperti ini. Soalnya kan hari-hari biasa aku hidup di Jakarta, ibuku menetap di Padang. Justru di negeri oranglah kami bisa ketemu dan quality time bersama.

Setelah berjalan kaki sekitar hampir 1 jam, akhirnya aku sampai juga di Tsarevets Fortress. Dan, aku tercengang. Bangunannya bahkan lebih megah dari ekspektasiku. Tembok-tembok batu yang usianya sudah ratusan tahun memanjang dan mengelilingi bukit Tarnovo. Mungkin tembok itu serupa megahnya dengan Tembok Besar Cina. Tapi aku belum pernah ke Cina sih, jadi hanya memperkirakan.

Kemegahan Tsarevets Fortress ini mewakili kegemilangan negeri Bulgaria pada Abad Pertengahan. Tsarevets ini merupakan benteng Kekaisaran Bulgaria Kedua pada abad ke-12 sampai 14 Masehi. Tapi masuk ke kawasan benteng ini dikenai biaya 6 leva (mata uang Bulgaria) atau setara dengan 3 euro.

Kebanyakan orang nggak tahu bahwa dulu sekali Bulgaria ini adalah salah satu negara kuat di Eropa pada Abad Pertengahan. Bayangkan aja, Kekaisaran Bulgaria Kedua pernah menduduki negeri di Semenanjung Balkan, seperti Laut Hitam, Laut Aegea, dan Laut Adriatik. Nama dinasti yang menjajaki sebagian besar negeri Balkan adalah Dinasti Assen. Saking kuatnya negara ini, Veliko Tarnovo disebut juga Roma Ketiga, setelah sebutan Roma Baru atau Roma Kedua dirujuk pada Kota Istanbul, Turki. Tolong koreksi ya kalau aku salah soal sejarah negara-negara besar ini. Pokoknya, pada masa kejayaan itu, Veliko Tarnovo pernah menjadi pusat utama arsitektur Eropa, sastra, dan seni selama Abad Pertengahan.



Sebenarnya aku hanya sempat eksplor bagian depan dari benteng ini saking luasnya. Karena nggak lama berjalan-jalan di sana aku sudah ditelepon untuk kembali ke hotel untuk briefing dengan crew International Folklore Festival. Padahal di dalam Tsarevets ini, ada istana raja yang megah dan Patriarchal Church yang persis berada di puncak bukit. Dari sana katanya kita  bisa melihat panorama Kota Veliko Tarnovo dan sisi lain keindahan Bulgaria.

Kalau kamu ke Bulgaria, jangan lewatkan kemegahan benteng ini. Di sekitar benteng, kita juga bisa melihat keunikan kota tua Veliko Tarnovo sambil berjalan santai di pedestriannya. Ada banyak toko yang menjual souvenir juga di sekitar gerbang masuk Tsarevets Fortress.

5. Boris Denev Art Gallery



Art gallery ini berlokasi persis bersebelahan dengan Monumen Assen Dynasty. Masih satu kawasan pelayaran lebar di sisi Sungai Yantra. Bangunannya lebar dan klasik. Awalnya aku nggak tahu kalau gedung di sebelah Monumen Assen Dynasty itu adalah museum karya seni karena nggak ada petunjuk dalam bahasa Inggris. Tapi ternyata di dalamnya menyimpan banyak sekali lukisan dari seniman-seniman ternama Eropa dan Bulgaria khususnya. Seperti yang sudah kutulis di atas, negara Bulgaria ini pernah jadi pusat karya seni dan sastra. Nggak heran kalau ada Boris Denev Art Gallery yang menyimpan sebagian besar karya besar itu. Nggak heran juga Boris Denev Art Gallery jadi museum terkaya, bisa karena galerinya besar atau bisa juga karena menyimpan karya-karya besar yang harganya mahal.

6. Monumen to the Assen Dynasty



Monumen ini ternyata berlokasi persis di belakang hotel tempatku menginap di Veliko Tarnovo. Jalan-jalan pagi ke sana nggak terlalu jauh. Awalnya aku sudah melihat ujung pedang yang menjulang itu saat berjalan-jalan ke Tsarevets Fortress. Monumen itu terlihat jauh di bawah dan terlihat seperti dasar mangkuk. Dengan kontur Veliko Tarnovo yang berbukit-bukit, dan lereng bukit itu dipenuhi dengan bangunan yang bersusun, memandang Monumen Assen Dynasti itu seperti menonton pertunjukan di ampiteater. Penonton berada di atas melingkari panggung di tengahnya.

Ternyata, begitu lihat maps, lokasinya tidak terlalu jauh dari hotel. Orang lokal menyebut monumen ini sebagai monumen penunggang kuda. Ini juga salah satu monumen bersejarah penting tentang Kekaisaran Bulgaria Kedua. Kenapa? Karena yang menunggang kuda itu adalah Assen bersaudara yang memimpin kekaisaran pada masa itu. Dinasti Assen yang terdiri dari Asen, Petar, Kaloyan, dan Ivan-Asen II telah memimpin Bulgaria pada masa kejayaannya. Katanya monumen ini juga baru dibangun tahun 2017 untuk memperingati 800 tahun Kekaisaran Bulgaria Kedua.

7. Stambolov Bridge


Ketika mengunjungi Monumen Assen Dynasty, aku berjalan kaki melewati University of Veliko Tarnovo dan melintasi jembatan pendek yang dinamai Stambolov Bridge. Jembatan ini nggak terlalu lebar. Ada sungai di bawahnya yang dinamakan Yantra River. Di sekitarnya pohon-pohon rindang bergoyang-goyang diterpa angin musim semi. Katanya jembatan ini jadi favorit para remaja Veliko Tarnovo untuk main skateboard dan pacaran. Apalagi di ujung jembatan ada taman lebar yang mengeliling Monumen Penunggang Kuda.

8. Samovodska Charshia (Old Bazaar Street)

Nah ini kawasan yang aku suka. Aku bolak-balik 2 kali ke Samovodska Charshia. Ya alasannya apalagi kalau bukan untuk berburu souvenir cantik. Jadi, Samovodska Charshia ini jadi pusat kerajinan tangan di Veliko Tarnovo. Di sepanjang jalan terlihat toko-toko souvenir yang memajang benda-benda hasil kerajinan tangan rumahan mereka. Nggak salah kalau tempat ini digemari para turis. Apalagi bangunan di kawasan ini klasik sekali, mempertahankan gaya bangunan pedesaan di Bulgaria zaman dulu. Aku berjalan kaki menyusuri toko demi toko di sana.

Karena Bulgaria adalah negara Bunga pink rose, jadi bank sekali olahan makanan, minuman beralkohol, hingga skincare yang berbahan pink rose itu. Aku pun membeli lotion, sabun mandi, dan shampoo yang berbahan dasar Bulgarian yogurt dan pink rose. Wanginya khas lho. Harganya juga murah di kawasan ini. Aku sempat kalap belanja waktu itu.



Kalau berjalan sampai ujung, ada pasar tradisional yang menjual buah-bahan murah meriah. Yaa, di sana buah sekelas stroberi dan kiwi memang murah banget sih. Rata-rata 1,5 Leva atau setara dengan 14 ribu rupiah untuk 1 kg stroberi. Wow. Sama seperti di Georgia dulu, aku paling senang belanja buah yang di negara kita harganya mahal sekali. Sebut saja plum, bluberi, rasberi, peach, dan stroberi.

Kawasan Samovodska Charshia ini juga dijadikan pusat crafting. Banyak kerajinan tangan khas Bulgaria yang dibuat dan langsung dijual di sini. Ada yang berbentuk aksesoris, tas, topi, pakaian, sepatu, hingga karpet. Kalau kamu ingin mencoba pakaian tradisional Bulgaria, bisa dicoba di kawasan ini kok. 

Dari semua tempat menarik di Veliko Tarnovo, Tsarevets Fortress adalah yang termegah. Pastikan saat kamu ke Bulgaria, harus mengunjungi Veliko Tarnovo. Jika Sofia adalah gambaran kehidupan modern di Bulgaria, Veliko Tarnovo sungguh kebalikannya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

34 Comments

In Advertorial Land Story Land

Ada Inovasi Pengobatan Kanker Payudara HER2-Positif

Mumpung aku lagi selow dari aktivitas traveling, aku mau share sedikit cerita tentang kesehatan. Perlu lah ya sekali-sekali bahas tentang kesehatan dan pola hidup sehat. Nah, kali ini aku mau bahas tentang pengobatan kanker payudara HER2-positif yang sudah ada kemajuan.

Apa itu kanker payudara HER2-positif?

Kamu tahu nggak penyakit kanker payudara yang paling meresahkan di Indonesia? Tingkat kematiannya paling tinggi khususnya bagi perempuan. Namanya HER2-positif yang diproduksi oleh protein dari gen tertentu dan memiliki potensi untuk menyebabkan kanker jika terekspresi berlebihan di permukaan sel-sel. Pertumbuhannya sangat cepat sekali.

Nah, sebelumnya pasien kanker payudara HER2-positif diprediksikan memiliki harapan hidup yang lebih rendah dibanding pasien dengan HER2-negatif. Tentu saja ini menjadi PR besar ilmu pengetahuan khususnya farmasi dan kedokteran dalam menangani kanker payudara HER2-positif. Kemoterapi, radioterapi dan terapi target sudah dilakukan, tetapi masih ada beberapa efek samping yang harus dipecahkan bersama.



Terobosan Baru Ilmu Kedokteran dan Farmasi Menemukan Obat Kanker Payudara HER2-Positif

Sebenarnya yang jadi beban dalam pengobatan kanker payudara jenis ini bagi orang Indonesia secara umum adalah masalah ekonomi, psikologis, dan psikososial. Itu pula yang membuat penurunan harapan hidup si penderita kanker payudara. Hal-hal seperti ini perlu ditangani serius.

Dr. dr. Andhika Rachman, SpPD-KHOM
Bagi pasien kanker payudara HER2-positif stadium lanjut, tujuan pengobatan kanker ini adalah untuk mengendalikan penyakitnya agar memiliki harapan dan kualitas hidup yang lebih baik.

Dr. dr. Cosphiadi Irawan, SpPD-KHOM
Apabila pasien mendapatkan akses pengobatan inovatif seperti trastuzumab emtansine, mereka dapat memiliki banyak tambahan waktu bersama keluarga. Trastuzumab sudah masuk ada di skema pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional sehinga dapat mengurangi beban ekonomi, psikologis, dan psikososial yang ditanggung oleh pasien serta orang-orang terdekatnya.


Jadi intinya, melalui Roche sebagai pelopor global dalam bidang farmasi dari Swiss resmi mengumumkan bahwa sudah ada pengobatan HER2-positif yang dinamakan trastuzumab emtansine. Sebenarnya di luar negeri, metode pengobatan ini sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Di Indonesia baru akan diterapkan setelah pengobatan ini telah disetujui oleh BPOM kita.


Apa itu trastuzumab emtansine?

Trastuzumab emtansine adalah antibody-drug conjugate aliasobat tunggal yang mensinergikan 2 perlawanan terhadap kanker, yaitu kemoterapi dan terapi target dalam 1 obat. Cara kerjanya mengikat reseptor HER2 di permukaan sel kanker dan memblokir sinyalnya untuk bertumbuh. Cara ini efektif menghancurkan sel dari dalam sehingga dapat meminimalisir kerusakan pada jaringan sel normal. Itu artinya, efek samping kemoterapi dan terapi target dapat ditekan. Setidaknya gejala mual dan muntah pada pasien juga berkurang. Ide bagus kan?! Tapi sayangnya efek rambut rontok tidak dapat ditekan karena beda kondisi. Kita harus bersyukur nih, harapan hidup pasien penderita kanker payudara dapat diperpanjang, bahkan ada yang bisa bertahan 3-5 tahun.


Namun, inovasi pengobatan kanker payudara HER2-positif ini bisa sia-sia kalau kita nggak menjaga perkembangan hormon. Bagi penderita kanker payudara harus banget menjaga keseimbangan hormonnya. Risiko kanker payudara bisa menyerang siapa saja, bahkan orang yang pola hidupnya sehat sekalipun. Jadi kontrol metabolik paling penting untuk mengurangi risiko kanker payudara. Jaga makanan, jaga berat badan, dan jaga kolesterol. Itu penting. Catatan buat diriku sendiri yang pola makannya sampai hari ini belum seimbang. Mari kita sehat bersama.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Story Land

Unboxing Kado Besar di Car Free Day Sudirman #UnboxToDiscover


Aku mau cerita sesuatu nih tentang keseruan Car Free Day minggu lalu di Senayan, Jakarta. Kamu tentu pernah nonton video unboxing di Youtube, kan, bagaimana antusiasnya orang yang membuka bingkisan atau barang yang mereka beli atau terima dari orang lain. Nah, begitu juga aku yang semangat banget waktu mau unboxing sekotak besar sesuatu yang aku sendiri nggak mendapat gambaran sama sekali sama isinya. Ini bukan soal unbox barang yang beli di online shop atau kado ulang tahun, ya. Tapi ini unbox sesuatu yang lebih besar dari itu.

Ini berawal saat aku berjalan-jalan di FX Mall Senayan, Sabtu lalu yang kebetulan bertepatan dengan HUT Republik Indonesia. Ada banyak sekali e-commerce dan brand yang menawarkan diskon di Hari kemerdekaan itu. Nah, di antara diskon yang menggoda di tia restoran, toko kosmetik dan skin care, atau toko pakaian, aku justru tertarik dengan satu box biru muda yang tergeletak mencolok tak jauh dari pintu masuk utama Mall FX tersebut. Ada tulisan “Ready to Discover?” di kotak itu. Ya, lantas saja aku penasaran. Box itu terasa memanggil-manggilku. Lalu aku hampirilah box itu dan bilang “Yes, I’m ready” ke orang yang berjaga di sana.

Unboxing Kado Besar di Car Free Day Sudirman (1) - jurnaland.com

Unboxing Kado Besar di Car Free Day Sudirman (2) - jurnaland.com

Sayangnya, orang yang berjaga di sana tidak memberi tahu apa-apa isi kado itu. Aku harus discover sendiri kalau memang penasaran. Di sana ada tutup kecil yang bisa dibuka. Begitu aku buka dan melihat isinya.

Jeng...jeng...jeng... Isinya QR Code.

Wah, apalagi ini?

Aku mengeluarkan ponsel dan men-scan QR Code itu. Lalu di layar muncul sebuah undangan dari satu brand e-commerce mengajak unboxing ramai-ramai kotak yang lebih besar lagi di Car Free Day tanggal 18 Agustus 2019.

Tulisannya adalah...
“You are invited to unbox new experience with us at Plaza Selatan GBK (Gate 6).” 

“Limited seats will be available. First come, first serve.”

Aku merasa ditantang untuk unbox to discover yang katanya new experience itu. Ini jadi semacam permainan teka-teki dan kita harus temukan sendiri jawabannya. Yes, aku datang pagi- pagi buta untuk car free day di Jalan Sudirman esok harinya demi unbox to discover benda biru muda yang bikin penasaran ini. Pagi-pagi sekali naik KRL dan dilanjut MRT lalu turun tepat di depon gate 6 Gelora Bung Karno. Benar saja, sudah ada box biru muda yang lebih besar lagi berdiri di trotoar. Ukurannya seperti studio mini yang bisa memuat belasan orang sepertinya. Seukuran kamarku di rumah sepertinya. Ada jadwal show di sana, ada juga teropong-teropong kecil di satu sisi dindingnya untuk mengintip isi di dalam box tersebut. Kali aja ada yang penasaran. Begitu aku coba mengintip, kamu tahu apa yang kulihat? Tulisan “Penasaran, ya?” Kesal juga ya lama-lama. Ini sebenarnya apa, sih?

Unboxing Kado Besar di Car Free Day Sudirman (3) - jurnaland.com

Unboxing Kado Besar di Car Free Day Sudirman (4) - jurnaland.com

Di sisi berlawanan ada taman buatan dengan payung-payung serta bean bag buat orang-orang yang ingin bersantai menunggu giliran unboxing. Aku mengantre untuk kloter kedua karena telat. Kloter pertama sudah masuk duluan. Yeah, benar juga tulisan di undangan saat aku scan QR Code, first come, first serve. Karena telat, aku duduk-duduk di sekitar box sambil melihat berbagai aktivitas di CFD. Aku mendengar hingar-bingar lagu-lagu yang upbeat dan membangkitkan semangat pagi itu. Matahari sayup-sayup meninggi dan semakin panas. Aku mengetuk-ngetukkan kaki dan mengangguk-anggukkan kepala mengikuti beat yang terdengar dari dalam box. Orang-orang ngapain ya, di dalam? Senam zumba atau salsa kali, ya. Ada beberapa lagu OST telenovela jadul juga bahkan. Aku suka sekali beat-nya. Bikin semangat. Aku langsung berpikir, oh ini tuh unboxing gerakan senam? Tapi tetap aku belum dapat gambaran apa-apa tentang unbox to discover ini.

Sekitar pukul 8.45, akhirnya kloter kedua. Yeay, saatnya unboxing. Setelah penyaringan peserta undangan, aku sudah siap-siap joget zumba. Nah, begitu pintu box dibuka, aku masuk dan melihat ada panggung kecil di sisi kiri dan bagian teknisi lampu dan sound di sisi kanan. Setelah semua orang masuk, pintu box ditutup dan di layar muncul tulisan Traveloka. Oooh, ini persembahan dari Traveloka, si online travel agent yang sudah bertengger lama di hape-ku sejak lama. Oke, next, siap-siap joget. *masih ngarep senam zumba pada saat itu.

Tapi ternyata unboxing ini isinya bukan zumba lagi. Setelah MC chit chat dan kami tertawa-tawa di depan panggung, RAN masuk dan menyapa seisi studio yang kecil banget ini. Ini sih cocoknya buat RAN lagi olah vokal kali, ya atau rekaman lagu terbaru mereka. Tanpa ba-bi-bu, trio Rayi, Asta, dan Nino langsung pemanasan dengan lagu “Selamat Pagi” dan kami bernyanyi bersama. Ada sederetan lagu hits RAN yang dinyanyikan di box itu seperti “Jadi Gila”, “Kulakukan semua Untukmu”, dan “Dekat di Hati”. Ah, deg-degan bisa nyanyi bareng RAN di studio mini ini. Jadi beneran jadi gila dan dekat di hati. *eaaa

Unboxing Kado Besar di Car Free Day Sudirman (5) - jurnaland.com

Unboxing Kado Besar di Car Free Day Sudirman (6) - jurnaland.com


Unboxing Kado Besar di Car Free Day Sudirman (7) - jurnaland.com

45 menit bersama RAN nggak berasa sama sekali. Begitu selesai, RAN pamit, pintu box dibuka dan kami pun keluar. Unbox to Discover hari itu temanya adalah Unboxing RAN. Lucu juga ya, kita unboxing penyanyi kelas wahid beserta sepaket lagu hitsnya. Nah, baru deh aku mikir jadi intinya apa ya acara yang dibuat ole Traveloka ini. Aku buka-buka aplikasinya dan ternyata aku baru nyadar. Kami nggak sekadar unboxing RAN pagi itu, tapi kami unboxing aplikasi Traveloka yang menyediakan tiket konser artis lokal dan international di sana di banian entertainment. Untuk kloter pertama yang senam zumba pagi-pagi di dalam box, pastinya mereka unboxing atraksi atau sports yang sudah disiapkan Traveloka di aplikasinya. Kalau kamu buka Traveloka di hape, ada pilihan Xperience dan begitu diklik, kita langsung masuk ke berbagai pilihan lifestyle yang disiapkan oleh Traveloka. Wah, makin luas aja yang bisa kita eksplor dari Traveloka ya, nggak cuma tiket pesawat, kereta, pesan hotel, dan airport transfer. Ada new experience di sana. Let discover more. Kamu mesih bisa unboxing box biru ini tanggal 1 September 2019. Kira-kira ada apalagi ya di dalam box?

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Journey Land

Wisata Malam Solo, Menikmati Mural Street dan Keroncong Night

Bengawan Solo
riwayatmu ini
Sedari dulu jadi
perhatian insani
Musim kemarau
tak seberapa airmu
Di musim hujan air
meluap sampai jauh

Lantunan lagu keroncong street di Jalan Gatot Subroto Solo meramaikan malam yang tidak terlalu dingin, menyambutku yang baru saja sampai di Kota Surakarta itu. Lagu "Bengawan Solo" versi keroncong menenangkan hati yang lelah sembari menghirup udara Solo yang tak sepolusi Jakarta. Aku tenang. Aku senang.

Menginjak Kota Surakarta bukan hal baru lagi bagiku. Ini kali ketigaku berada di Solo. Namun, selalu ada hal baru dalam setiap cerita perjalanan, bukan? Dalam setiap kedatanganku ke kota itu, Solo selalu memberikan pengalaman baru. Satu hal yang pasti, berada di Solo nggak selamanya tentang batik. Ada banyak hal di Solo yang harus kamu datangi sendiri lalu rasakan. Memang Solo mengingatkanku pada batik, tapi Solo juga punya cerita lebih dari sekadar batik.


Wisata malam Solo, Menikmati mural street dan keroncong night - jurnaland.com

Wisata malam Solo, Menikmati mural street dan keroncong night (2) - jurnaland.com

Wisata malam Solo, Menikmati mural street dan keroncong night (8) - jurnaland.com

Perjalananku ke Solo kali ini nggak sendiri. Meski naik kereta api dari Jakarta ke Solo ya sendiri, sudah ada teman-teman yang menungguku, siap mengeksplor pesona Solo bersama-sama. Tim dari Dinas Pariwisata Surakarta juga secara khusus menjamu kami merasakan suasana Solo dari sudut pandang berbeda. Aku sampai di Stasiun Solo Balapan usai magrib. Perjalanan panjang di kereta seharian tidak membuatku bosan di jalan. Ada banyak sekali pemandangan yang kunikmati dari jendela kereta. Ah, selama ini aku naik kereta ngapain aja, ya? Bisa-bisanya aku melewatkan panorama sepanjang Pulau Jawa yang canti itu. Semakin dekat ke Solo, semakin inginku sampai dengan cepat di Solo Balapan.

Setelah check in di Harris Hotel and Convention Solo, aku nggak mau ketinggalan makan malam. Trip hari itu sebenarnya sudah dimulai dengan menyusuri Kampung Batik Laweyan dan Ndalem Gondosuli. Sayang sekali ya aku melewatkannya karena masih dalam perjalanan dari Jakarta. Karena itu, aku bertekad untuk nggak mau ketinggalan satu momen pun selama di Solo ini.

Usai makan malam gudeg Solo di Restoran Adem Ayem yang ayam kremesnya enak banget, aku menyusuri kawasan Jalan Gatot Subroto. Solo malam hari tetap hidup rupanya. Saat itu sudah pukul 9 malam dan kami sengaja menunggu toko-toko tutup di kawasan itu. Lho kenapa? Karena justru pesona jalanan yang penuh ruko itu akan tampak berbeda saat semua toko sudah tutup. Orang setempatnya menyebutnya koridor Gatsu. Benar saja. Begitu toko terakhir menutup gerainya, ada warna-warna merona tertembak lampu jalanan. Mural menghiasi sepanjang jalan Gaton Subroto dengan lukisan yang berbeda-beda. Gang-gang sempit di sekitar sana pun ikut dipenuhi gambar-gambar berbagai tema, ada tema perjuangan, budaya, pemuda, sampai ke pop culture. Aku menemukan satu mural dengan gambar wajah Pak Jokowi yang tersenyum lebar. Detail sekali. Sampai kerut-kerutan presiden terpilih kita itu juga dilukis dengan baik. Maklum, Solo adalah kampung halaman Pak Jokowi dan senyum lebarnya turut menghiasi salah satu sisi ruko di Gatot Subroto Solo itu.

Wisata malam Solo, Menikmati mural street dan keroncong night (3) - jurnaland.com

Wisata malam Solo, Menikmati mural street dan keroncong night (4) - jurnaland.com

Wisata malam Solo, Menikmati mural street dan keroncong night (5) - jurnaland.com


Kabarnya ada sekitar 40 mural di sepanjang jalanan ini. Rasanya mural-mural di sini menjadi semacam wajah Kota Surakarta yang dinamis. Kerinduan, kritik sosial, keresahan, dan kebanggaan tergambar dari mural-mural ini. Fasad-fasad ruko yang siang hari penuh dengan orang lewat dan segala kesibukan toko, malam hari menjadi galeri art yang dapat dinikmati sembari memagut angin malam.

Beruntung sekali aku malam itu, saat sedang melihat mural-mural cantik, aku juga mendengar lantunan musik keroncong. Ada sekelompok pemusik yang menghibur para pejalan kaki malam hari di Gatot Subroto. Mereka bermain lengkap dengan alat musik tradisionalnya. Inilah Keroncong Night yang saat itu diisi oleh pemain keroncong dari @dejavakeroncong. Alat musik mereka lengkap sekali, ada gitar, biola, ukulele, suling, gendang, bas, dan sebagainya. Malam pertama di Solo menjadi meriah karena mendengar keroncong night ini. Oh iya, pada hari-hari tertentu kamu bisa bertemu mereka juga kalau berjalan-jalan malam di kawasan Gatot Subroto ini.

Wisata malam Solo, Menikmati mural street dan keroncong night (6) - jurnaland.com

Wisata malam Solo, Menikmati mural street dan keroncong night (7) - jurnaland.com

Mendengar nyanyian keroncong di pinggir jalan sambil menyeduh wedang ronde nikmat banget rasanya. Aku memesan satu wedang ronde untuk menghangatkan badan. Kebetulan ada gerobak wedang yang parkir di sebelah para pemain keroncong. Wisata malam di Solo terlalu menyenangkan bagiku. Khususnya hari itu. Sebelumnya aku juga pernah melewatkan malam di Solo pada kedatangan pertamaku di kota itu. Kamu bisa baca ceritanya di sini. Namun, malam dengan mendengar lantunan Bengawan Solo versi keroncong itu membuat kunjunganku ke Solo saat itu terasa istimewa. Ada banyak lagu yang dilantunkan dengan merdu oleh penyanyi-penyanyi keroncong putra-putri Solo ini.

Kalau kamu ke Solo dan merasakan suasana malam Solo yang tenang, datanglah ke Jalan Gatot Subroto pukul 9 malam. Rata-rata pertokoan tutup jam segitu dan kamu bisa menikmati mural-mural di sepanjang jalan yang mulai lengang itu. Kalau beruntung, kamu bisa ketemu keroncong night juga sepertiku hari itu. Seru, kan.

Read More

Share Tweet Pin It +1

25 Comments

In Movie Land

Film Mahasiswi Baru, Ketika Oma-Oma 70 Tahun Kuliah Lagi


Mau nonton film ringan, lucu banget, dan punya pesan dalem banget tentang kehidupan? Film Mahasiswi Baru bisa diagendakan buat nonton bareng teman-teman geng kuliah, bareng keluarga, atau bareng pasangan. Ini bukan cerita tentang anak muda saja, tapi juga cerita lintas generasi. Coba kamu bayangin, saat kuliah, kamu punya teman se-geng yang sudah oma-oma? Kira-kira bagaimana dunia perkuliahanmu berjalan? Apakah si oma-oma ini kamu jauhin dari pergaulan lantaran sudah terlalu tua atau malah kamu rangkul biar bisa dipermak kemuda-mudaan?

Film Mahasiswi Baru, Ketika Oma-Oma 70 Tahun Kuliah Lagi - source jurnaland.com

Nah, kira-kira begitu yang terjadi dengan Oma Lastri (Widyawati) usia 70 tahun yang memutuskan untuk kuliah lagi dan mengikuti semua prosedur mahasiswa baru di kampusnya. Nggak tanggung-tanggung, kampus tempat Lastri kuliah itu adalah kampus Cyber Indonesia. Kebayang kan bagaimana Lastri menyesuaikan diri dengan teman kuliahnya yang merupakah anak millennials yang melek digital. Lha, ini si oma satu ini masih saja pakai hape jadul polyphonic. Ya ampun, perbedaan usia dan zaman nggak bikin Lastri menyerah. Padahal dia ditantang Pak Dekan (Slamet Rahardjo) untuk menaikkan nilainya agar bisa bertahan di kampus itu.

Lastri tinggal bersama anaknya yang diperankan oleh Karina Suwandi. Yang jadi lucu adalah saat anaknya harus menunggu Lastri pulang kuliah tanpa kabar. Kehidupan kampus yang penuh dengan tugas makalah tentu bikin Lastri sering pulang sampai larut malam. Otomatis menjadikannya terkesan jadi mahasiswi rebel yang siap disemprot oleh anaknya sendiri saat pulang ke rumah. Drama keluarga ini menjadi menarik ketika mereka berganti peran, siapa yang harus mencemaskan dan siapa yang pantas dicemaskan. Apalagi ada adegan Lastri minggat dari rumah karena nggak kuat dikekang anaknya dan mematuhi aturan di rumah. Ada-ada saja ya tingkah oma-oma. Lastri akhirnya kos bersama Sarah dan menjadi dekat satu sama lain. Oiya, latar Yogyakarta juga cukup kental di film ini. Aku suka dengan indekos Sarah yang nuansanya anak kos Jogja banget. Pantas saja Lastri mau-mau aja ikutan ngekos dekat dengan Sarah.

Sebenarnya apa yang jadi motivasi Lastri untuk kuliah lagi? Mampukah dia bertahan di kampusnya?

Bagaimana dengan kehidupan teman-teman se-geng Lastri? Film-film Widyawati memang nggak ada yang mengecewakan. Setelah sebelumnya aku menonton film yang lucunya serupa di Sweet 20, aku bisa melihat lagi duet Widyawati dengan Slamet Rahardjo di film Mahasiswi Baru ini. Ada chemistry yang baik pula antara teman se-geng Lastri, yaitu Danny (Morgan Oey), Mikha Tambayong (Sarah), Reva (Sonia Alyssa), dan Erfan (Umay Shahab). Meski terpaut usia yang sangat jauh, keempat tokoh actor muda ini mampu mengimbangi acting Widyawati. Morgan tampil sangat berbeda di film kali ini dan lucunya natural. Bisa dibilang Morgan Oey jadi scene stealer di Mahasiswi Baru.

Gala Premiere Film Mahasiswi Baru - source jurnaland.com

Morgan Oey di Film Mahasiswi Baru - source jurnaland.com

Aku menyukai plot dan scoring film produksi MNC Pictures ini. Lagu “Hip Hip Hura” menjadi OST yang berkumandang di beberapa scene film. Rasanya semangat sekali mendengar irama musiknya. Seisi bioskop ingin berjoget bersama. Meskipun bercerita tentang mahasiswi yang sudah 70 tahun, film ini tidak menjadi ikutan memble dalam pengisahannya. Justru malah sebaliknya. Menonton film yang tokoh utamanya sudah lanjut usia ternyata menyenangkan juga. Aku takjub Indonesia bisa bikin film yang mengangkat cerita seperti ini dan dapat manisnya, lucunya, serta pesan hidupnya. Rasanya menonton film Mahasiswi Baru semenyenangkan menonton film remaja lainnya. Oh iya, ssst, ada spoiler dari aku. Di film Mahasiswi Baru kamu akan dibikin baper oleh pasangan Lastri dan Pak Dekan. Emmm, seperti apa ya sweet-nya mereka?

Mahasiswi Baru akan kuliah di bioskop mulai tanggal 8 Agustus 2019. Jadi, pastikan kamu sudah punya jadwal menonton bersama teman ya. Nggak seru kalau menonton sendiri. Ini adalah film terbaik Monty Tiwa dari sepanjang filmnya yang aku tonton.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Story Land

Kota Wisata Cibubur jadi Hunian Kekinian

Rata-rata anak muda Jakarta pasti tahu Kota Wisata Cibubur. Kalau dulu tuh, Kota Wisata itu megah dengan bangunan-bangunan Eropa Klasik. Gerbangnya besar dan sering dijadikan spot foto cantik. Bahkan ada beberapa sinetron yang mengambil lokasi di Kota Wisata Cibubur ini. Iya, Kota Wisata se-hits itu. Karena termasuk salah satu kawasan hunian elit di Cibubur, Kota Wisata termasuk ramah dengan pengunjung sekitar. Ada banyak area wisata di dalam Kota Wisata sendiri, sesuai namanya, ya. Ayo sebutkan, kamu sudah ke tempat mana saja di Kota Wisata? Fantasy Island? Kampung Eropa? Kampung Indonesia? Atau Kampung Cina?

Sayangnya sekarang yang tersisa dari arena wisata tinggal Kampung Cina. Lho, kenapa begitu? Nggak rame lagi, ya? Bukan begitu. Zaman kan berubah. Dulu bangunan megah Eropa Klasik menjadi pusat perhatian. Kini, gaya minimalis dan Scandinavia lebih banyak digemari. Eh, tapi bukan berarti Kota Wisata Cibubur kalah pamor ya. Justru itu, Sinarmas Land, pengembang Kota Wisata Cibubur ingin membuatkan destinasi baru untuk hunian nyaman ini. Kota Wisata Cibubur akan ganti wajah. Di atas tanah seluas 700 Ha, hanya sebagian yang baru didirikan bangunan. Karena itu Sinarmas Land ingin mengembangkan Kota Wisata Cibubur ini menjadi hunian dan kota mandiri. Apa aja tuh inovasinya?
Kota Wisata Cibubur jadi Hunian Kekinian

1. Akses Tol

Kini orang yang tinggal di Kota Wisata nggak perlu risau lagi karena sudah banyak akses tol yang dibuka. Bahkan tahun 2020 rencananya akan ada pintu tol Cibitung-Cimanggis yang lokasinya persis di dekat gerbang Kota Wisata. Jalan tol ini akan terhubung dengan tol Jagorawi dan JORR. Jadi yang mau ke bandara Soekarno-Hatta nggak akan khawatir telat lagi. Oiya, kalau LRT sudah resmi beroperasi, penghuni Kota Wisata boleh  berbahagia karena ada LRT rute Cibubur-Cawang-Dukuh Atas. Seru, ya. Makin banyak alternatif jalan dan kendaraan yang bisa digunakan.

2. Kafe, Restoran, dan Mall

Nah, ini nih satu inovasi baru dari Sinarmas Land untuk Kota Wisata. Katanya sekarang orang lebih cenderung suka jalan-jalan ke mall, nonton bioskop, nongkrong di kafe. Perilaku yang berubah itu ditangkap oleh Kota Wisata Cibubur untuk membangun ruko-ruko yang telah diisi penuh oleh pusat kuliner, kafe, toko buku, sekolah musik, dan lain-lain. Dalam waktu dekat di Kota Wisata sendiri akan dibangun sebuah mall. Jadi, buat yang tinggal di Kota Wisata Cibubur nggak harus macet-macetan ke luar sana untuk main ke mall.

Kota Wisata Cibubur jadi Hunian Kekinian (2)

Kota Wisata Cibubur jadi Hunian Kekinian (3)- jurnaland.com

3. Central Business District

Sinarmas Land sudah menyiapkan Central Business District di dalam kawasan Kota Wisata Cibubur. Apa untungnya? Dari sini diharapkan bermunculan lapangan pekerjaan baru, pusat-pusat perkantoran pindah ke Kota Wisata, sehingga kegiatan bisnis di kawasan ini akan hidup. Tidak mustahil membangun kawasan CBD di sini. Dengan akses yang semakin terbuka untuk Kota Wisata dan lingkungannya yang amat luas, orang-orang akan semakin banyak datang ke Kota Wisata. Tujuannya tidak sekadar rekreasi, tetapi juga untuk bekerja.

4. Eka Hospital

Layanan kesehatan juga penting nih dibangun di Kota Wisata. Ada Eka Hospital yang akan rampung pembangunannya pertengahan tahun ini. Lokasinya nggak jauh dari gerbang Kota Wisata yang arah Cibubur, kok.

5. Sekolah

Kota Wisata Cibubur sendiri sudah punya beberapa sekolah dari yayasan berbeda. Ada Fajar Hidayah Islamic School, Yayasan Asti Dharma BHK, dan BPK Penabur. Sekolah-sekolah ini sudah bertaraf nasional dan internasional. Jadi para orangtua yang mau menyekolahkan anaknya di sini, nggak perlu khawatir dengan kualitas sekolahnya lagi. Unggulan pokoknya.

Kota Wisata Cibubur jadi Hunian Kekinian (4) - jurnaland.com

Kota Wisata Cibubur jadi Hunian Kekinian (5) - jurnaland.com

6. Sarana Ibadah

Ini, nih, yang penting dalam kawasan hunian. Sarana ibadah memang seharusnya disediakan oleh setiap developer perumahan. Di Kota Wisata Cibubur sudah ada Masjid Darussalam dan Gereja Bunda Maria Segala Bangsa.

7. Hunian Baru

Kota Wisata Cibubur lagi gencar-gencarnya membuka lahan baru untuk cluster-cluster baru. Tapi, kali ini konsepnya lebih minimalis. Buat kamu yang mau cari rumah, bisa intip dulu hunian ekslusif yang lagi dibangun oleh Sinarmas land. Beberapa waktu lalu aku survei ke Cluster Nashville. Rumah-rumah di Nashville ini bakal banyak disukai kaum millenials karena konsepnya yang modern tropical. Ukurannya beda-beda sesuai kebutuhan dan budget. Aku sempat mendatangi rumah contohnya lengkap dengan perabotan. Nyaman sekali. Ada 4 kamar disediakan dengan konsep interior yang berbeda. Wah, kalau aku punya uang cash, aku mau beli rumah contoh aja deh, biar nggak perlu bayar jasa interior lagi.

Kota Wisata Cibubur jadi Hunian Kekinian (6) - jurnaland.com

Kota Wisata Cibubur jadi Hunian Kekinian (7) - jurnaland.com

Kota Wisata Cibubur jadi Hunian Kekinian (8) - jurnaland.com

Kota Wisata Cibubur jadi Hunian Kekinian (9) - jurnaland.com

Selain Nashville, juga ada Visalia yang elegan dan Bellwood yang lebih mewah. Semua sentuhan modern-nya akan bikin jatuh cinta. Dengan segudang fasilitas yang dibangun di kawasan Kota Wisata, rasanya worth it untuk beli rumah di kawasan ini. Apalagi sekarang konsepnya sudah lebih modern dan minimalis, kan. Kamu pasti suka. Coba deh liat-liat rumah di Kota Wisata Cibubur.

Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In Story Land

KJSA 2019 Menjaring Impian Anak untuk Jadi Ilmuwan


KJSA 2019 Menjaring Impian Anak untuk Jadi Ilmuwan Cilik

Saat ditanya apa impianmu waktu kecil, aku menjawab banyak sekali pilihan. Iya, saat kita masih anak-anak, pilihan sangat banyak membentang. Mungkin saat itu kita belum cermat memilih. Kita tentu memilih sesuatu yang kita tahu, relatable, dan terlihat menyenangkan. Itulah anak-anak. Aku dulu pernah punya impian menjadi dokter, detektif, dan pengacara. Lalu waktu SMP, cita-cita berubah menjadi lebih sederhana, ingin menjelajah alam dan keliling dunia. Jangan ketawa, ya. Aku suka traveling saat ini ya karena pernah punya mimpi hidup dengan jalan-jalan. Sederhana banget ya, impiannya.

Lalu, pendidikan berkembang. Aku naik kelas dengan mempelajari banyak sekali hal baru. Salah satunya sains. Aku mulai menyukai sains sejak berhasil bikin komponen lampu paralel saat latihan praktik. Aku mulai menyukai pelajaran Biologi dan Fisika saat itu. Eh, tapi aku nggak berakhir dengan memilih jurusan IPA saat SMA. Aku punya pilihan lain karena ilmu sosial jauh lebih menggoda untuk kuarungi saat SMA. Saat kuliah pun segalanya tampak berbeda. Aku mempelajari sastra dan budaya lebih dalam. Aku punya minat besar terhadap bidang ini karena berhubungan sekali dengan hobi baruku saat itu, jalan-jalan. See, anak-anak berubah. Keinginan dan pilihanku yang banyak tadi jadi mengerucut hingga mengarahkanku ke potensi yang benar-benar bisa digali. Yang penting, aku pernah punya kesempatan untuk mencoba banyak hal di bangku sekolah, tentang sains, tentang kesenian, tentang sastra, hingga tentang ilmu sosial lainnya. Dengan begitu, aku lebih mengenal diriku, potensi baik mana yang bisa dikembangkan.

Begitu juga seharusnya anak-anak Indonesia lainnya. Meski sekarang zaman berubah dan generasi pun bertambah cerdas, anak-anak Indonesia butuh mengenyam pendidikan yang layak sekali yang bisa membantu mereka mewujudkan impiannya. Mumpung sekarang masih dalam rangka Hari Anak Nasional,  aku merenung lagi ke masa kecil, apa yang sudah kulakukan dulu? Apakah membanggakan banyak orang atau aku malah menyia-nyiakan masa kecil yang penuh dunia tanya? Hasilnya, aku senang dan aku bangga. Aku menjadi seperti sekarang ini karena menghabiskan masa kecil yang menyenangkan, mengenyam pendidikan lengkap, serta belajar untuk selalu optimis. Apa pun bidangnya, potensi anak harus dieksplor sedari kecil. Ketika berada di umur yang semakin matang, anak-anak itu tumbuh menjadi generasi berharga.




Beberapa hari lalu, aku bertemu Fira Fatmasiefa, gadis berbakat di bidang sains di event Kalbe Junior Science Awards (KJSA) 2019. Aku mendengar cerita-cerita darinya yang penuh semangat, enerjetik, dan tentu saja inspiratif. Fira ini merupakan alumni KJSA 2011 yang waktu itu berduet dengan adiknya sendiri membuat temuan Wet Alarm Baby. Fira bercerita bagaimana hidupnya berubah sejak mengikuti ajang sains nasional yang diadakan oleh Kalbe ini. Saat itu dia masih kelas 6 SD dan adiknya masih kelas 4 SD. Dia bersekolah di Medan dan untuk pertama kalinya dipanggil ke Jakarta mengikuti babak final KJSA. Siapa sangka, setelah itu, Fira menggali potensinya di bidang sains terus-menerus. Dia telah menjelma menjadi ilmuwan cilik. Beragam ajang sains diikutinya, baik nasional maupun internasional. Gadis ini bahkan terlibat dalam proyek riset yang diadakan oleh NASA dan Quest Institute USA. Hebat sekali, ya. Betapa dia sangat mencintai sains. Bahkan, sains membawanya untuk keliling dunia. Fira bercerita saat ia mengikuti berbagai konferensi di Australia, Eropa, Nepal, Amerika Serikat, dan negara lainnya. Ah, aku berdecak takjub. Andai anak Indonesia lain dapat pengalaman pendidikan yang baik di lingkungannya dan cepat mengetahui potensi dirinya seperti Fira, tentu Indonesia akan cepat menjadi negara maju.

KJSA secara tidak langsung menjemput anak-anak berbakat dari berbagai daerah untuk berkarya. Ada ruang di bidang sains yang disiapkan KJSA untuk generasi SD dan SMP yang ingin menggali potensi dirinya. Kini KJSA 2019 sudah di depan mata. Konsepnya dibuat lebih luas. KJSA Goes Digital diharapkan dapat mengikuti perkembangan zaman dan mengikuti selera anak-anak Indonesia yang menjadi generasi pengguna gadget. Dunia IT yang berkembang pesat saat ini juga berpengaruh pada perkembangan cabang ilmu pengetahuan yang lain. Khususnya sains. Nggak heran kan melihat sekolah-sekolah sekarang sudah menggunakan beberapa tool basic pemprograman untuk anak didiknya. Bukan tidak mungkin juga ke depannya lahir pula ilmuwan-ilmuwan cilik baru di bidang IT. KJSA 2019 memulai pergerakan itu lewat KJSA Goes Digital.


Jadi buat adik-adikku SD dan SMP yang berminat sekali di bidang sains, bisa coba ikut KJSA 2019 ini. Pendaftarannya sudah dibuka. Silakan cek website KJSA. Siapa tau kamu bisa menjadi Fira yang baru aja diterima beasiswa di University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Keren, ya. KJSA sudah menjaring impian banyak anak Indonesia untuk jadi ilmuwan. Kenapa kamu enggak?

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments