In Movie Land

Film Dilan 1991 Masih Menyenangkan

Lagi-lagi film Dilan mencuri perhatian banyak orang. Kali ini film Dilan 1991 memecahkan rekor box office Indonesia dengan ditonton sebanyak 800.000 kali pada hari pertama penayangan dan langsung mendapat rekor MURI. Rekor ini malah mengalahkan film The Avengers: Infinity War yang menggemparkan pencinta Marvel tahun lalu. Belum selesai sampai di situ. Dilan 1991 malah sudah memperoleh angka 2 juta penonton dalam 3 hari pertama. Film Indonesia mana pun belum pernah mencapai rekor sebanyak itu, bahkan Dilan 1990 butuh seminggu penayangan untuk mencapai 2 juta lebih.

Film Dilan 1991 masih menyenangkan. Source: youtube.com

Akhirnya aku memutuskan menonton Dilan 1991 pada tengah minggu. Weekend pasti ramai. Weekdays pun harus memesan tiket beberapa jam sebelumnya. Niatku menonton mulanya karena film bagus lagi lesu. Tidak ada film yang menarik di sepanjang Februari 2019. Beberapa teman sudah menonton Dilan 1991 lebih dulu dan review positif-negatif tentang film ini sudah berseliweran di social media. Karena nggak mau ketinggalan hype (maklum, anaknya suka ngikut), aku pun melangkah ke bioskop tanpa berekspektasi apa-apa. Hanya ingin dihibur oleh gombalan-gombalan Dilan ke Milea. Hanya ingin tersenyum-senyum ingat masa remaja.

Lalu, ada apa dengan Dilan 1991 besutan sutradara Fajar Bustomi dan Pidi Baiq ini sebenarnya?

Ekspektasiku yang rendah terbantahkan. Seharusnya orang lain juga berpikir sama. Seharusnya ya. Mari samakan kacamata kita bahwa film Dilan ini untuk remaja, bukan untuk orang-orang tua. Jadi perspektifnya juga tentu harus disamakan. Menurutku, film Dilan dan Milea masih menyenangkan, semenyenangkan film pertamanya, Dilan 1990 (baca reviewnya di sini). Karena di blog ini aku cuma ingin bahas yang bikin aku senang--seperti kata Dilan--ada beberapa hal yang masih membuat film Dilan 1991 layak tonton.

1. Dilan masih jadi juara di hati Milea dan hati penonton

Sosok Dilan kini melekat pada diri Iqbaal. Setelah pembuktiannya yang berhasil menjadi Dilan yang gemas di film pertama, Iqbaal semakin matang mendalami peran Dilan di film Dilan 1991. Tatapan-tatapan Dilan saat sedang bersama Milea--yang masih dimainkan dengan manis oleh Vanesha Prescilla--mewakili kecamuk cintanya pada gadis itu. Tak perlu banyak bicara, tatapan Dilan sudah memiliki sejuta makna; sayang, rindu, bahagia, juga sekaligus bingung, marah, dan sedih. Dari tatapan itu juga kita dapat melihat bahwa Dilan ini cerdas, jujur, dan cuma ingin menyenangkan Milea. Dari keseluruhan plot, Dilan yang diisi oleh Iqbaal selalu memberikan nyawa di film ini. Tektok dialog antara dirinya dengan Milea berhasil menembus hati penonton dengan kejenakaannya. Saat Dilan menjemput Milea di rumahnya, lalu Milea menyodorkan roti sambil mereka bercanda. Atau saat Milea menjenguk Dilan di kantor polisi dan mereka berbicara serius. Lalu belum lagi obrolan-obrolan receh mereka di motor lengkap dengan gestur Dilan dan Milea yang sepertinya masih membuat para remaja melayang. Bahwa memang sesederhana itu kisah pacaran Dilan dan Milea yang membuat mereka bahagia. Bahkan penonton pun ikut bahagia. Hayoo, siapa yang senyum-senyum di bioskop?

Film Dilan 1991 masih menyenangkan - source: idntimes.com

Lalu kita sampai pada scene yang paling tidak diinginkan, saat Milea harus putus dengan Dilan. Adegan paling juara itu saat di Dago, ada Dilan, Milea, dan Bunda. Menurutku di antara scene sedih-sedihan, adegan ini paling berasa chemistry ketiga pemainnya. Tektok dialog Dilan dengan Bunda sangat melekat. Bagaimana Iqbaal menyampaikan ekspresi sedihnya hanya lewat kedipan mata dan tundukan kepala. Lalu, bagaimana Dilan dapat berbicara tetap tenang tetapi terlihat di ekspresinya menyimpan sejuta emosi kepada Milea. Puncaknya saat Dilan berucap, "Jangan nangis, Ya. Jangan berlebihan." Sungguh, ucapan tenang itu terkirim dengan baik tidak hanya kepada Milea, tetapi juga kepada penonton. Emosi yang paling sulit diperlihatkan itu adalah saat pemeran itu harus berucap sangat tenang sementara emosi lainnya tertahan. Dan, Iqbaal mampu melakukannya dengan baik.

2. Diiringi OST yang ciamik

Untuk scoring, film kedua ini lebih baik daripada yang pertama. Meskipun OST-nya tak terlalu istimewa, tetapi mampu menemani cerita sepanjang film yang berdurasi 100 menit ini agar alur dan konfliknya terjaga. Sebenarnya pada pertengahan film, ada rasa jenuh yang muncul. Ketika Dilan ditahan polisi dan melihat aksi Milea yang sedih berlarut-larut bahkan nyaris jadi drama tak beralasan, saat itu dinamika cerita agak terganggu. Namun kejenuhan itu diisi oleh scoring yang menderu mengiri emosi-emosi Milea yang naik-turun. Ketika Dilan muncul lagi, cerita kembali hidup dan alurnya mulai bergerak normal. Tidak lagi melambat seperti saat-saat Milea yang seakan berjuang sendiri menghidupkan nyawa film ini. Beruntung pemeran senior bermain apik sehingga menutupi kekurangan itu.

3. Kehadiran pemain pendamping yang menguatkan Dilan 1991

Jajaran artis senior mengisi peran yang memperkuat chemistry Dilan dan Milea yang sudah kuat. Jika di film Dilan 1990, keberadaan Ira Wibowo sebagai Bunda Dilan dan Happy Salma sebagai Ibu Milea belum memberikan peran apa-apa meski chemistry mereka ada satu sama lain dan saling terkait. Di film Dilan 1991, peran itu berkembang dan semakin utuh. Aku suka dengan eksekusi Ira Wibowo yang sempurna memainkan karakter Bunda Dilan yang jenaka, penyayang sekaligus tegas. Dari sosok Bunda yang kuat, santai dan tegar itu kita bisa melihat alasan mengapa Dilan sangat menyayangi Bundanya. Itu juga jadi alasan pembentukan karakter Dilan yang meski ketua geng motor, tapi tetap hormat pada bundanya.

Wujud Bunda yang menerima anaknya apa adanya itu dan punya komunikasi yang baik pada pacar anaknya adalah wujud camer impian semua orang, ya. Apalagi anak muda zaman sekarang. Sosok Bunda dihidupkan sedemikian rupa dan seketika semua orang mengidolakan sosok Bunda ini yang menjadi penengah hubungan Dilan dan Milea. Belum lagi pesona Happy Salma yang menemani kesedihan Milea juga tidak dapat dihilangkan. Happy Salma berperan sebagai ibu yang baik, mengayomi anaknya, dan cepat tanggap dengan hubungan Milea dengan Dilan. 

Adegan yang mengena itu saat Bunda, Milea, dan ibu Anhar berdialog. Terlihat jenaka tapi serius dan diakhiri dengan kalimat, "Kalau Bunda tau kau ditampar Anhar, Bunda granat rumahnya." Dialog yang tak biasa, bukan? Wajar Dilan menjadi begitu impulsif melindungi Milea, ibunya saja seperti itu. Chemistry-nya terasa kuat sekali.

Film Dilan 1991-source: imdb.com

4. Peletakan humor yang tak terduga

Seperti film pertamanya, Dilan 1991 bakalan mengundang kita tertawa. Memang tidak semua part menjadi lucu karena lucu itu selera. Ya, gombalan Dilan bolehlah bikin senyum-senyum sedikit. Adegan di ruang kepala sekolah justru yang membuatku tertawa saat Dilan berpamitan dan salah satu guru memanggilnya, "Kamu tau kepanjangan nama Dilan?" Dilan menatap dengan penuh tanya. "Hadi-Hadi di Jalan." Kamu pun akan tertawa melihat layar.

Lalu saat perdebatan tidak penting antara ibu Anhar dan Bunda di sekolah. Serius tapi lucu. Dan, terakhir, part yang ku suka dan terasa natural adalah saat Dilan membacakan surat cinta dari Pak Dedi untuk Milea. Rasa tertawanya sangat jujur dan melekat. Chemistry mereka hebat.

Dari beberapa part favoritku di atas, keutuhan film Dilan 1991 memang tak luput dari cacat. Aku tau di mana kurangnya dan memang agak gemas dengan eksekusi film yang seharusnya jadi bagus banget ini. Mungkin, kadang-kadang terlalu setia itu juga nggak baik ya. Film ini misalnya. Dilan 1991 ini terlalu setia pada novelnya sehingga plot film tidak berkembang dan tidak berdiri sendiri. Film ini sangat bergantung pada film pertama dan mungkin film berikutnya, Milea, sesuai dengan urutan novelnya. Romansa Dilan dan Milea masih menjadi nyawa di film Dilan 1991, tapi narasinya terasa monoton tanpa pembangunan nuansa plot yang lebih kuat. Chemistry mereka berdua tak terbantahkan, tetapi mereka memainkan formula yang sama dengan Dilan 1990. Terasa ada yang kurang greget.

Lalu kehidupan geng motor di Bandung tahun 90-an kurang diangkat nuansanya. Minimal dengan adanya berita di koran atau televisi lokal tentang persatuan geng motor. Orang yang menonton hari ini tidak relate dengan gaya hidup geng motor tahun 1990. Penonton tidak tahu bagaimana bahayanya pergaulan geng motor masa itu jadi tidak menangkap emosi Milea yang berlebihan melarang Dilan tetap di geng motor.

Dilan dan Milea 1991-source: youtube.com

Selebihnya, menonton film ini masih menyenangkan, bukan?! Sedikit dilanda bosan di pertengahan karena plot yang panjang sekali, tetapi berkat ada Dilan, semua terkaburkan. Dilan yang dimainkan sangat baik oleh Iqbaal masih menjadi bintangnya di sini. 

Satu pertanyaan dariku, kenapa yang jadi berperan sebagai Mas Herdi yang serius dan berwibawa justru Andovi yang berwajah jenaka dan konyol? Sungguh, ku reflek tertawa saat Mas Herdi muncul di beberapa scene terakhir film ini.

Selamat menunggu film Milea. Salam rindu untuk jari-jari yang bertemu.

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Hospitality Land

Dua Hari Puas Staycation di Novotel Lampung

Beberapa kali ke Lampung, aku sudah lumayan hafal tata kota dan jalanan di Kota Bandar Lampung. Suatu ketika, Junisatya mengajakku ke Lampung lewat jalur darat. Aku setuju-setuju saja meski harus tetap terjaga sepanjang perjalanan agar dia tidak ikut mengantuk. Kami berangkat pukul 10 malam dan memaksakan diri tidur selama di kapal, biar segar lagi saat berkendara dari Bakauheni ke Bandar Lampung. Jalur darat Jakarta-Lampung sekarang sudah lebih aman dan tenang. Selain karena kapal-kapal ferry yang berlayar di Selat Sunda sudah bagus-bagus semua, ada tol baru yang menghubungkan pelabuhan Bakauheni dengan Kota Bandar Lampung. Jadi nggak perlu sikut-sikutan sama truk besar di jalur Lintas Sumatera yang sempit dan banyak berlubang. Waktu aku melintasi tol baru itu, ruas yang dibuka baru sebatas Bakauheni Selatan ke Bakauheni Utara dengan tarif free. Senang sekali meski belum selesai sempurna, jalan tol ini akan mempermudah akses kita melintas Sumatera nantinya. Sebagai anak berdarah Sumatera, aku bahagia.


Mobil kami melaju sangat santai pagi itu, menanti fajar. Jalanan Lampung terasa sepi. Sinar matahari sayup-sayup menerangi jalan kami dari balik pohon-pohon yang kami lalui. Aku sangat antusias menjelajahi Bandar Lampung hari itu. Namun, sepertinya kami butuh istirahat. Hotel Novotel Lampung sudah menanti kedatanganku dan Junisatya. Aku sudah meminta early check in agar kami bisa merebahkan badan pagi itu setelah perjalanan 8 jam melintasi Selat Sunda.



Memasuki halaman parkirnya yang besar, ambience mewah Novotel sungguh terasa. Meski berlokasi di pinggir jalan raya, hotel ini tidak terkesan bising. Malah sebaliknya. Memasuki lobi, aku disambut oleh resepsionis yang ramah. Lobinya cukup lebar dan menyatu dengan restoran dan kafe. Jendela kaca di seberang langsung memberikan pemandangan bukit dan pesisir yang menenangkan.

Novotel Hotel Lampung berlokasi di kawasan Tanjung Karang. Kalau yang sudah pernah ke Lampung, pasti tahu bahwa Tanjung Karang itu pinggir laut. Jadi, beruntungnya, aku mendapat kamar yang punya view langsung menghadap ke arah Selat Sunda. Kamarku memiliki 2 sisi jendela kaca besar sehingga kamarnya sangat terang jika tirai dibuka lebar. Lantai beralaskan karpet memberi kesan hangat di kamar itu.





Perlengkapan di kamar ya seperti kamar-kamar hotel bintang 4 pada umumnya. Ada lemari, kulkas kecil, kimono handuk, dan toiletries yang dikemas menarik. Karena didominasi kaca jendela besar, kamar mandinya juga ikut-ikutan transparan. Ternyata kamar di Novotel ini mengedepankan bukaan yang lebar agar cahaya matahari bebas masuk, sehingga hemat energi penggunaan listrik. Mata juga dimanja dengan view laut yang eksotik. Ada 2 sofa dan 1 meja yang diletakkan di pinggir jendela. Sarapan pagi atau bersantai sore cocok sekali di sana.

Gedung hotel bintang 4 ini memang terlihat mentereng di tengah Kota Lampung. Sebenarnya ada 2 view yang 'dijual' oleh Novotel. Kamarku ini merupakan Standard Ocean Room. Ada lagi yang Standard Mountain Room yang viewnya ke arah bebukitan. Yaa, mumpung berada di Lampung yang banyak pantainya, aku memilih kamar Standard Ocean Room. Jendelanya benar-benar tidak menghalangi mata melihat keindahan Selat Sunda di ketinggian. Bahkan aku nggak perlu ke mana-mana saat menunggu sunset karena bisa dinikmati dari dalam kamar saja.






Untuk fasilitas, yang paling kece dari semua fasilitas level bintang 4--selain makanan--adalah kolam renang outdoor dan hall untuk segala macam acara. Sebenarnya Novotel punya 2 kolam renang, outdoor dan indoor. Untuk kolam renang indoor terbagi lagi buat kolam dewasa dan anak-anak. Bahkan ada jacuzzi juga. Namun, saat aku ke sana, kolam indoor sedang direnovasi. Jadi aku berenang-renang di kolam outdoor sambil menikmati semilir angin dan pemandangan hijau di sekitarnya. Oh iya, ada ruang gym yang luas dengan fasilitas lengkap. Di ruang ganti yang sekaligus kamar mandi juga disediakan tempat sauna. Setelah renang, nge-gym, ditutup dengan sauna, lalu pesan makan malam dari kamar.

Tak jauh dari arena kolam, ada bangunan segitiga yang tampak cantik. Rupanya itu hall yang bisa disewakan untuk berbagai event. Novotel juga menyediakan wedding package di tempat ini. Nuansanya sangat tropical apalagi menghadap ke laut. Novotel sudah mirip resort-resort mewah yang ada di Bali. Sejenak aku bahkan lupa kalau ini di Lampung.



Yang paling menggembirakan dari staycation di Novotel Lampung, aku nggak perlu buru-buru check out sebelum pukul 12 siang pada hari terakhir. Aku bisa extend check out paling lambat pukul 5 sore tanpa dikenai biaya tambahan. Jadi aku bisa jalan-jalan dulu di sekitar Bandar Lampung, lalu bisa mandi sore di hotel sebelum check out dan menempuh perjalanan pulang ke Jakarta dalam keadaan segar.


Novotel Lampung

Garuntang, Jl. Gatot Subroto No.136, Sukaraja, Bumi Waras, Kota Bandar Lampung, Lampung 35226

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments

In Gallery Land

Artsy dan Instagramable, Wisata Alternatif di Jakarta

Di Jakarta lagi banyak exhibition yang instagramable sejak akhir tahun lalu. Untuk ukuran kota besar, exhibitions yang artsy dan instagramable seperti ini memang jadi wisata alternatif anak muda. Apalagi dengan maraknya social media. Wisata alternatif seperti ini memang jadi sebuah kebutuhan. Setelah Museum Macan ramai sekali tahun lalu dengan exhibition yang mengedepankan dekorasi ciamik, muncul akhirnya beberapa exhibition yang juga mengusung tema cantik, manis, dan photogenic. Mari aku list beberapa di antaranya, ya.

1. HOUSE OF SWEETS

Seberapa suka kamu dengan menu dessert yang manis-manis? Tentu bagian ini yang paling ditunggu. Sensasi manis, dingin, dan menyegarkan terasa di lidah. Nah, ada satu temporary exhibition yang bikin kita berpesta dengan rasa manis itu. Nggak cuma tertinggal di lidah, tetapi puas dipandang mata hingga melegakan hati.

House of Sweets artsy dan instagramable

House of Sweets artsy dan Instagramable (2)

House of Sweets jadi salah satu pameran dengan total 12 spot instagramable yang bikin kita puas berpose. Nggak akan mati gaya. Exhibition-nya didominasi warna-warna cerah dengan ornamen-ornamen lucu. Lokasinya tidak besar tetapi karena warna-warna cerah ini, exhibition terasa lebih hidup. Dekorasi di setiap spot juga beda-beda. Ada ruangan gelap dengan salju buatan yang tampak menarik, sebagai dedikasi perayaan Natal akhir tahun lalu. Kalau nggak salah, spot ini didekorasi berbeda sesuai season. Karena aku datangnya persis usai Natal dan tahun baru, jadi masih aroma-aroma winter season gitu deh. Kalau sekarang tampilannya lebih cerah sesuai dengan imlek dan valentine sepertinya.

Lalu, ada 2 kolam bola dengan donat-donat besar. Percayalah, kolam bola oranye jadi favoritku. Ada spot berwarna merah dengan pinata dan balon-balon yang bikin aku gemas ingin memukul pinatanya. Warna merahnya cocok dengan nuansa Imlek. Nah, yang favoritku berikutnya ya spot dessert dengan es krim dan besar yang menggiurkan. Foto di sini bikin aku balik ke masa remaja lagi.

Karena exhibition ini punya misi khusus untuk kegiatan sosial, jangan heran di setiap spot ada logo brand yang jadi sponsor exhibition ini. Tapi nggak ganggu foto-foto kece kita, kok. Kita sesuaikan aja angle-nya.

House of Sweets artsy dan instagramable (3)

House of Sweet artsy dan instagramable (4)

House of Sweets cuma akan dibuka hingga tanggal 15 Februari 2019. Pas banget sehari setelah perayaan Valentine. Setelah itu, House of Sweets akan pindah kota ke Surabaya dan Makassar. Kalau kamu yang di Jakarta nggak mau ketinggalan foto-foto hits di House of Sweets, langsung datang aja ke Pacific Place Mall Lantai 1, ya. Setelah puas foto-foto bisa langsung nongkrong di kafenya dan mencoba beberapa dessert manis semanis hasil foto-fotomu.


2. MOJA

Moja Museum di kawasan Pondok Indah ini nggak masuk mall. Lokasinya nggak jauh dari Pondok Indah Mall Jakarta. Karena namanya museum, jadi Moja Museum ini nggak temporary exhibition seperti House of Sweets, meskipun konsepnya seasoning. Moja Museum dibuka pertama kali bulan Oktober tahun lalu. Jadi konsep exhibitionnya juga lebih beragam karena lokasinya lebih besar.

Moja artsy dan instagramable

Moja artsy and instagramable (2)

Moja artsy dan instagramable (3)

Nama Moja merupakan singkatan dari Museum of Jakarta. Sebenarnya agak boros ya kalau kita menyebutnya Moja Museum. Karena Moja sendiri sudah ada kata 'museum'-nya. Ada 14 ruang tematik yang terdapat di Moja. Tapi buat melihat semua ruangan itu, kita harus ikut alur lorong-lorongnya yang seperti labirin. Dari pintu masuk, begitu memasuki satu ruangan, kita dilarang untuk mundur. Buat yang niat berfoto atau shooting video, puas-puasin dulu di satu tempat sebelum jalan ke ruangan berikutnya.

Katanya ruang tematik yang terdapat di Moja terinspirasi dari beberapa film, seperti Charlie and The Millennial, Captain Snowman's Underpants, dan 500 Days of Summer. Kalau aku lihat ya, ada banyak sekali film yang menginspirasi dekorasi ruang-ruang tematik di Moja ini. Founder Moja tentu sudah memikirkan konsep-konsep itu dengan sangat matang. Jadi dari pintu masuk hingga pintu keluar, tema-tema ruangannya nggak ada yang bikin bosan karena sifatnya interaktif. Hilangkan bayangan tentang museum yang bikin jenuh di ruang yang mati. Moja memiliki ruang-ruang dan lorong-lorong menarik. Rasanya setiap sudut bisa dijadikan angle berfoto ria. Malah ada beberapa arena yang bagi-bagi camilan. Selain bisa seru-seruan, bisa icip-icip makanan pula. Seru, kan.

Moja artsy dan instagramable (4)

Moja artsy dan instagramable (5)

Tentu ruang-ruang tematik yang punya konsep tersendiri ini cuma akan ada sampai bulan April nanti. Setelah itu, Moja akan mengganti tema exhibitionnya. Jadi, buat yang nggak mau ketinggalan foto-foto cantik, menikmati warna-warna cerah di setiap ruangan Moja, kamu lebih baik antre tiket dari sekarang. Peminatnya lumayan banyak. Exhibitionnya baru dibuka pukul 11.00 tapi antrean pengunjung sudah ada dari pukul 09.00.


3. HALUU

"Haluu, apa kabar?"
"Haluu banget."

Ini satu lagi tempat wisata selfie yang instagramable. Sejak dibuka bulan Desember lalu, Haluu World yang ada di Plaza Indonesia Mall Jakarta ini nggak pernah sepi pengunjung. Aku sempat mau ke sana saat musim libur Natan dan Tahun Baru, tapi antreannya panjang sekali, mengular sampai pintu lift lantai 5. Aku langsung menyerah dan berniat ke sana weekdays setelah masa liburan sekolah berakhir. Meski hari biasa, Haluu tetap ramai. Jadi dari pintu masuk pun, petugas sudah memandu pengunjung dengan sorak-sorai haluu dan menjabarkan beberapa ketentuan. Peraturannya mirip dengan Moja, begitu sampai di satu ruangan, pengunjung dilarang kembali ke ruangan sebelumnya. Aturan ini dibuat lebih ketat dengan waktu memasuki tiap-tiap ruang tematik itu. Ada ruangan yang cuma dibolehkan berfoto 30 detik saja. Ada juga yang sampai 1 menit. Pokoknya di dalam Haluu World, pengunjung hanya boleh maksimal 1 jam berada di sana karena harus bergantian dengan pengunjung lainnya yang baru datang.

Haluu World artsy dan instagramable

Haluu artinya keinginan dalam bahasa Finlandia. Dari sanalah filosofi wisata artsy ini berasal. Setiap spot yang diusung oleh Haluu punya makna yang dalam. Seperti ruang pertama bertema Moulin Rouge dibuka dengan instalasi jerapah terbalik dengan kaki flaminggo. Itu merupakan cerminan keinginan orang yang tak pernah puas ingin kaki cantik berjenjang dan leher panjang. "I want longer legs, I want longer neck, I want the most fabulous outfits in town."

Setelahnya ada trek dengan tema Path of Riches yang merupakan ruangan dengan hutan yang dipenuhi salju (diwakili dengan instalasi pohon berwarna putih). Ada jalur kuning yang harus diikuti yang konon katanya akan membawa keberuntungan. "Follow the yellow brick road to your fortune, but don't lose your way in this winding forests of hearts."

Filosofi keinginan lebih tajam di ruang penuh Gnome dan kita bisa mendonasikan koin atau lembaran recehan ke salah satu lubang yang tersedia sebagai wujud harapan dan doa yang ingin dikabulkan. Setelah itu kita dimanja dengan memasuki bubble bening besar dengan blower yang menerbangkan ratusan keinginan yang bisa kita tangkap. Diwakili dengan kertas berwarna emas yang beterbangan di dalam bubble bening itu.

Haluu World artsy dan instagramable (2)

Haluu World artsy dan instagramable (3)

Ada pula ruang bertema bed of roses. Ini sih kawasan cewek-cewek yang menginginkan banyak hal yang indah, wangi, cantik. "Because life is a bed of roses and the world is better through rose-tinted glasses."

Dari bed of roses, kita disambut dengan ruang carousel of life. Jadi dengan dipenuhi gedung-gedung, ada putaran di tengahnya yang mesti kita naiki. Simbolis aja. Tapi buat yang sadar dengan makna carousel ini, tentu bisa memaknai tema ruangan yang jadi miniatur kehidupan manusia ini dengan baik. "Tick Tock. Hop on for the ride before your time is up!"

Begitulah lebih kurang tema-tema bermakna yang terdapat di Haluu World. Semua bermula dari sebuah keinginan. Keinginan-keingin itu diwakilkan dalam 13 ruang tematik yang punya makna sendiri-sendiri. Kalau kamu penasaran, mending datang langsung aja, mumpung Haluu masih dibuka sampai 3 Maret 2019.

Read More

Share Tweet Pin It +1

24 Comments

In Journey Land

Seru-seruan di Taman Legenda Keong Emas


Entah apa yang terlintas di benakku saat mengiyakan ajakan dua orang teman #JalanJajanSeru, Ogie dan Mia buat seru-seruan di Taman Legenda Keong Emas. Aku sendiri belum pernah ke sana, tapi dari namanya saja aku sudah membayangkan sebuah arena bermain keluarga yang didominasi oleh anak-anak. Ogie yang sudah beberapa kali ke sana meyakinkan bahwa Taman Legenda ini tempat yang asyik, kok. Jadilah aku sudah berada di pintu masuk Taman Legenda hari Sabtu yang ramai.

Ramai. Itu kesan pertama yang kudapatkan saat memasuki arena Taman Legenda Keong Emas. Lokasinya persis di sebelah Teater Keong Emas Taman Mini Indonesia Indah. Karena sedang musim liburan sekolah, arena rekreasi keluarga semacam ini memang akan ramai sekali. Tapi itu gak menyurutkan semangatku untuk eksplor hal-hal menarik di Taman Legenda ini. Apalagi langit biru cerah sekali. Terik memang, tapi indah buat bergaya dan bikin wajah ceria makin bercahaya.

Seru-seruan di Taman Legenda Keong Emas 
Seru-seruan di Taman Legenda Keong Emas (2)

Seru-seruan di Taman Legenda Keong Emas (3)

Yang menjadi highlight Taman Legenda adalah sebuah bianglala yang disebut Mata Legenda. Dari pintu gerbangnya memang langsung terlihat karena Mata Legenda ini jadi bianglala tertinggi di Indonesia sampai saat ini. Eits, tapi tahan dulu. Aku masih ingin jalan-jalan dulu sebelum naik bianglala. Jadilah aku masuk ke Museum Asmat yang berbentuk kerucut, khas rumah adat suku Asmat di Papua. Museum ini bisa jadi pusat edukasi mengenai cara hidup dan budaya orang-orang suku Asmat. Ada peralatan 'perang' mereka yang digunakan untuk berburu dan bercocok tanam. Ada pula rangka manusia Asmat dan sistem kepercayaan mereka. Dan, yang menarik lagi, aku bisa mencoba beberapa alat musik yang di-display di sana serta menggunakan aksesoris tradisional mereka. Karena aku sendiri belum pernah menginjak Papua, bermain-main di museum Asmat sudah bikin aku senang. Dummy-nya dulu, jalan-jalan kemudian.

Keluar dari museum Asmat, aku ke arena ATV dan car gowes. Ini salah satu jenis seru-seruan ala aku dan teman-teman. Treknya pendek, tapi lumayan berkeringat. Cuma karena Mia yang mengendarai ATV dengan sangat amatir lalu disalip oleh 2 motor yang dikendarai oleh anak kecil, aku sudah berteriak kegirangan. Lalu, juga karena aku yang ternyata nggak jago mengayuh car gowes, berkali-kali nabrak border dan nyusruk ke rumput, bikin kaki keram, nggak bikin aku ngambek lantas pulang.  Ditambah pula dengan wajah ketakutan dan teriak histeris saat kami naik wahana Bajak Laut yang berayun kencang. Aku nggak pernah terbiasa naik wahan ekstrem. Jantung serasa nyangkut di atas, sementara badan sudah berayun ke bawah. Setelahnya aku jadi bahan tertawaan Mia dan Ogie seharian.

Menjelang siang, sebelum kami makan siang, aku memberi makan beberapa hewan yang dipelihara di arena Taman Legenda. Ada sapi mini, unta, kuda poni, kambing, kelinci, hingga marmut. Mereka lucu-lucu sekali. Semoga binatang-binatang yang dipelihara di sini dan jadi pusat edukasi ini hidup makmur dan bahagia, ya. Memberi makan binatang-binatang ini juga ada aturannya. Kamu bisa membelikan mereka jenis makanan yang disediakan di pos makanan. Setelah itu, kita bisa seru-seruan bareng binatang-binatang yang kooperatif ini, nggak galak.

Seru-seruan di Taman Legenda Keong Emas (4)

Seru-seruan di Taman Legenda Keong Emas (5)

Seru-seruan di Taman Legenda Keong Emas (6)

Tempat paling seru dari keseluruhan wahana di Taman Legenda Keong Emas adalah Petualangan Dinosaurus. Kami memasuki area hutan dengan trek rapi yang disediakan untuk pengunjung. Di beberapa titik, kita akan menemukan jenis dinosaurus yang mengeluarkan suara-suara menggelegar dan beberapa gerakan khas jenis dino ini. Ada keterangan jenis dinosaurus di setiap posisi mereka berdiri, jadi pengunjung tahu jenis dinosaurus ini berasal dari mana dan habitatnya seperti apa. Tempat ini seru banget serasa berada di Jurassic Park versi mini. Suara-suara lengkingan, kicauan, lenguhan, hingga dengkuran menjadi harmoni tersendiri di hutan buatan ini. Ada kejutan-kejutan di beberapa spot di dalam arena Petualangan Dinosaurus, salah satunya air yang tiba-tiba menyembur saat melewati salah satunya. Jadi, hati-hati, ya bagi yang nggak mau basah-basahan.

Menjelang sore di Taman Legenda, paling asyik menikmatinya di tempat ketinggian. Saatnya naik Mata Legenda sekaligus bersantai diterpa angin sepoi-sepoi. Dari atas Mata Legenda, aku bisa melihat taman bunga yang lagi mekar di sisi lain Taman Legenda. Lalu melihat danau TMII yang tampak kecil dari atas, puncak-puncak rumah adat, hingga jalur LRT di pinggir jalan tol. Tinggi sekali ya Mata Legenda ini. Saat langit sedang cerah, jangkauan pemandangan jadi lebih luas. Saking asyiknya duduk di Mata Legenda, kami menghabiskan 2x putaran, hampir setengah jam. Putarannya begitu pelan dan melenakan. Kalau bukan karena bersama teman-teman yang heboh ini, mungkin aku bisa sekaligus tidur siang di sana karena keenakan dengan semilir anginnya.

Seru-seruan di Taman Legenda Keong Emas (7)


Seru-seruan di Taman Legenda Keong Emas (8)

Seru-seruan di Taman Legenda Keong Emas (9)

Seru-seruan di Taman Legenda Keong Emas (10)

Seru-seruan di Taman Legenda Keong Emas (11)

Begitulah Taman Legenda Keong Emas yang mengisi libur akhir pekanku. Seru-seru gemas. Gemas dengan dinosaurus-dinosaurus yang tampak nyata. Gemas juga dengan cuaca cerah seharian. Benar-benar seharian hingga aku bisa menikmati sunset yang indah. Senja menutup keceriaan kami hari itu. Jakarta memberikan hari terbaiknya untuk kurengkuh di Taman Legenda bersama teman-teman #JalanJajanSeru.


HTM Taman Legenda Keong Emas


All-in 9 wahana = Rp115.000,00 
Museum Asmat = Rp10.000,00
ATV = Rp30.000,00/3x putaran
Car gowes = Rp15.000-20.000,00

Read More

Share Tweet Pin It +1

23 Comments

In Journey Land

Pertama Kali Mengisi Workshop Folklore di Bulgaria

Perjalanan ke Bulgaria tahun lalu memang perjalanan yang singkat tapi sangat berkesan. Ya iyalah, orang mana yang rela jalan-jalan kaki keliling kota kecil Veliko Tarnovo pakai songket ketat dan mahkota bundo kanduang terpasang di kepala. Tampil mencolok di tengah masyarakat Bulgaria yang berpakaian biasa-biasa saja saat musim semi waktu itu membuatku nggak akan pernah lupa pengalaman itu.

Bulgaria saat musim semi adalah negeri kembang. Satu kembangnya yang terkenal adalah pink rose. Tidak heran jika orang-orang Bulgaria menyukai bunga-bungaan. Aku bertemu dengan beberapa teman baru dari Bulgaria yang sedang mengenakan pakaian tradisional mereka. Sederhana saja, pakaian dengan celemek terpasang di pinggang dan properti spatula tersampir di saku celemek. Mereka tak hanya menganggap bunga sebagai wangi-wangian, tetapi juga jadi bahan makanan dan minuman. Itu sudah jadi tradisi. Kebayang nggak kamu minum wine air mawar? Aku dikasih satu botol wine berbahan dasar rose pink, katanya buat oleh-oleh dari Bulgaria. Orang-orang Bulgaria, khususnya Veliko Tarnovo memang manis sekali. Super sweet seperti suasana musim seminya. Dingin tapi senyum mereka menghangatkan.

Workshop Folklore Bulgaria- jurnaland.com
Workshop Folklore di Bulgaria (2)

Pagi itu aku harus bangun lebih awal. Suhu udara di luar ruangan di bawah 10 derajat Celcius. Suara serak dan badan meriang. Mariana, gadis Bulgaria baik hati sudah menungguku di lobi. Mariana sudah memastikan saat makan malam sebelumnya bahwa aku dan tim Galang Dance dari Indonesia harus standby esok hari pukul 9 pagi di lobi untuk briefing. Usai briefing, aku pun berjalan ke restoran untuk sarapan sekitar 10 menit. Setelah itu aku, Mariana, dan tim penari Galang Dance berjalan kaki ke taman kota Veliko Tarnovo, Summer Theatre, bersama dengan tim tari dari India. Begitu tahu lokasi workshop itu di outdoor, aku meminta izin kembali ke hotel untuk mengambil jaket. Suhu udara menggigit, apalagi dengan kondisi fisik yang kurang fit.

Ada apa hari ini? Ada 3 rangkaian kegiatan yang harus kuikuti hari itu. Pukul 10 pagi aku dan tim Galang Dance Community harus hadir di acara Friends in Diversity dan pertukaran budaya. Aku mewakili Indonesia untuk mengisi workshop tradisi Minangkabau di hadapan teman-teman peserta The World Cup of Folklore yang berasal dari berbagai negara. Aku udah wanti-wanti ke tim penari Galang, termasuk pimpinannya (baca: bundo sendiri), "Jangan malu-maluin, ya." Begitu aku ngomong, kepalaku langsung dikeplak oleh bundo. Padahal yang lebih memalukan itu ya aku sendiri. *Anak durhaka memang.

Seharusnya yang mengisi workshop folklore dan tari tradisional itu ya pimpinan grup. Tapi karena masalah bahasa, aku seperti biasa harus berani maju ke panggung. Jadi materinya ya suka-suka aku ya. Bundo paling cuma angguk-angguk kepala aja, padahal beliau nggak tahu anaknya ngomong apa.
Workshop Folklore di Bulgaria (3)



 Wokrshop Folklore di Bulgaria (4)- jurnaland.com

Workshop folklore di Bulgaria (5)


Materi workshop sudah kusiapkan 50% sejak keberangkatan kami ke Bulgaria. 50% lagi on the spot. Ini pertama kalinya aku mengisi workshop kesenian tradisi di hadapan orang-orang asing di negeri orang pula. Aku memberikan materi tentang tari-tarian dari Indonesia dan khususnya Minangkabau, satu tempat di sudut Indonesia yang punya beragam budaya. Aku menjabarkan beberapa alat musik tradisional yang kami bawa semacam talempong, seruling, gendang, indang, dan bansi. Semua peserta mendengarkan dengan baik (nggak tau apakah mereka mengerti atau tidak). Namun, karena Indonesia sudah meraih medali emas malam sebelumnya untuk pertunjukan tari piring (baca kisahnya di sini ya), mereka sangat tertarik dengan detail-detail properti dan energi yang kami bawakan. FYI, satu hal yang membuat orang luar salut dengan kesenian kita adalah energi besar yang harus kita keluarkan dalam menampilkan sebuah karya tari. Dulu, aku juga pernah dijelaskan oleh orang Georgia, bahwa tari-tarian tradisional Georgia mengusung gerak tangan saja atau kaki saja. Khusus untuk perempuan, geraknya sangat gemulai dan berporos pada tangan. Tidak jauh berbeda dengan tari-tarian dari Bulgaria dan negara sekitarnya di Eropa Timur.

Sementara itu, bagi orang Indonesia, tari-tarian kita melibatkan semua anggota tubuh. Mulai dari mata, mulut, mimik, tangan, badan, dan kaki. Begitu juga dengan tarian Minangkabau. Inilah yang jadi nilai plus kesenian Indonesia saat itu di rangkaian event The World Cup of Folklore. Belum lagi pakaian kita yang gonjreng dan penuh aksesoris. Sangat menarik buat mereka.

Begitu aku menjabarkan dengan santai mengenai tari-tarian dan alat musik Minang, banyak peserta yang mengajukan diri untuk mencoba salah satu celana andalan yang bisa mengeluarkan bunyi seperti gendang, celana galembong. Aku sudah meminta tim penari untuk memeragakan cara mengenakan celana itu dan cara menggunakannya dalam gerak tari dan silat. Seketika suasana panggung jadi heboh. Kami mengajarkan beberapa gerak dasar dalam ilmu silat dan tari Minangkabau. Ada yang antusias mengikuti sampai beberapa kali terjengkang. Mereka mengakui, susah sekali jadi orang Indonesia. Geraknya rumit karena budaya dan kehidupan masyarakat lokal kita juga kompleks. Kesenian dan tradisi lisan kita tentu merekam berbagai memori kolektif yang dikolaborasi menjadi bentuk kesenian kita. Latar belakang sejarah juga sangat berpengaruh. Itu yang membuat kesenian tradisi kita dengan kesenian tradisi Timur Tengah dan Eropa Timur jauh sekali berbeda. Diskusi dan workshop kami tentang kesenian tradisi cukup menarik siang itu.

Workshop Folklore di Bulgaria (6) - jurnaland.com

Usai workshop hingga jam makan siang, aku langsung mengikuti briefing untuk persiapan parade budaya sore hari di pusat Kota Veliko Tarnovo. Ada sesi interview dengan Euro Folk TV sekitar 15 menit. Dan, kondisiku saat itu dalam keadaan mulai teler. Bahkan aku sendiri lupa aku menjelaskan apa saja tentang Indonesia.

Sesiangan itu acara bebas kok. Jadi aku bisa bersantai sejenak dengan berjalan-jalan ke pusat souvenir di Veliko Tarnovo. Sayang juga kalau waktu cuma kuhabiskan di kamar hotel. Lokasinya tidak terlalu jauh dari hotel, dapat ditempuh dengan jalan kaki biar sehat. Seharusnya sih aku sehat ya, tapi sebenarnya kepala mulai pening akibat jadwal festival yang padat itu.

Setelah sempat berjalan-jalan sebentar, aku kembali ke hotel. Karena, sebelum pukul 5 sore aku sudah harus siap dengan dandanan pakaian adat Koto Gadang, salah satu pakaian tradisional dari Bukittinggi. Yang lain juga harus siap dengan pakaian tari sesuai formasi masing-masing. Sore itu adalah waktunya parade budaya. Seluruh peserta The World Cup of Folklore diarak sepanjang jalan raya lengkap dengan pakaian tradisional dan bendera negara masing-masing. Nggak tau lagi bagaimana bangganya aku dan tim membawa bendera merah putih di antara negara-negara yang berjajar di kiri-kanan-depan-belakangku. Setiap negara diberi kesempatan display kesenian selama 15 menit di halaman gedung Konstantin Kisimov Music and Drama Theatre yang berada persis di pusat kota Veliko Tarnovo.

Parade Budaya The World Cup of Folklore


Tema besar yang diusung oleh tim Galang Dance saat parade adalah "Maanta Jamba", sebuah tradisi mengantar berbagai makanan dalam piring besar yang ditaruh di atas kepala. Biasanya tradisi ini dilakukan oleh sekelompok orang Minang dalam acara pernikahan dan hajatan besar lainnya. Aku sendiri berdiri paling depan dengan melambai-lambaikan bendera merah putih sepanjang jalan. Berada di tengah-tengah banyak orang yang juga mengenakan pakaian tradisional masing-masing membuatku terharu. Betapa banyak budaya dunia yang tidak kita tahu. Jangankan dunia, di dalam negeri saja, budaya kita sudah berbagai rupa. Aku hanya membawakan satu tradisi kecil dari masyarakat Minang. Namun, rasanya senang mewakili negara ini untuk event kelas dunia itu.

Parade budaya berlangsung selama 2 jam. Setelah itu, semua peserta digiring masuk ke gedung pertunjukan Konstantin Kisimov. Tim tari Galang langsung berganti pakaian untuk pementasan terakhir berjudul "Rantak Bagalabuak", sekaligus puncak paket kesenian Tradisi Bajamba yang diusung oleh Galang Dance sejak hari pertama festival. Sambutan meriah kami terima dari segenap penonton yang hadir di gedung pertunjukan. Aku yang sedari awal berpindah-pindah dari backstage ke ruang ganti memeluk satu per satu tim penari yang energinya luar biasa didedikasikan untuk festival ini.

Pada malam penutupan itu pula aku harus berpisah dengan Mariana yang sejak awal menemaniku dan dengan sabar menghadapi kami yang seringkali telat jadwal. Sering mengomel, tetapi pada detik berikutnya dia tertawa lagi. Dia juga sesekali menunjukkan wajah kagetnya melihat tingkah kami yang pernah berdandan sambil jalan karena takut ditinggal rombongan. Meski masih 18 tahun, dia gadis yang cerdas dan banyak sekali mengajarkanku bahasa sapaan di Bulgaria. Dia sempat bertanya umurku berapa, kujawab, "Kita sebaya." Dan, dia percaya. Hebat! Pengalaman dan kesan menarik tentang orang-orang Bulgaria kudapat dari Mariana. Blagodarya, Mariana.

The World Cup of FOlklore Bulgaria - jurnaland.com

The WOrld Cup of FOlklore 2018 - jurnaland.com

Begitulah pengalaman pertama kali mengisi workshop folklore di Bulgaria, pertama kali parade di tengah jalan dengan pakaian adat bersama negara lain, dan pertama kali pula tampil di TV Eropa. Percayalah, bahasa Inggrisku berantakan. Tetapi berada di tengah-tengah orang yang sama-sama bukan penutur asli bahasa Inggris, membuatku banyak belajar bahwa ada lebih dari sekadar bahasa lisan yang mempersatukan orang.

Read More

Share Tweet Pin It +1

24 Comments