In Journey Land

Bali Selalu Punya Cara Memanggil Kita

Petualanganku di Nusa Penida, Bali beberapa waktu lalu memang tidak bisa dilupakan. Pertama, karena aku mengatur sendiri jadwal location visit di setiap spot terbaik di Nusa Penida. Kedua, karena aku datang ke Bali untuk bertemu seorang teman lama yang memilih hidup di Ubud. Jadi, sesampai di Bali, kami mampir dulu ke Ubud dan menghabiskan 2 hari di sana. Lalu kami melanjutkan perjalanan ke The Golden Egg of Bali. Ini semacam reunian dengan jalan-jalan.

Meski di Nusa Penida cuma satu malam, tapi banyak tindak konyol yang aku alami bersama geng trip kali ini. Dimulai dari pelayaran ke Nusa Penida yang sudah pernah kutulis sebelumnya di blog ini (intip kisahnya di sini). Lalu, bagaimana hebohnya kami mencari penginapan dan nyasar-nyasar untuk sampai ke Pantai Atuh yang view-nya luar biasa, yang seketika bikin aku jatuh cinta. Dan, terakhir pagi-pagi sekali saat kami siap berkendara ke Crystal Bay tapi hujan deras. Harapan yang suram.

Aku mengepak ransel karena harus check out penginapan hari ini dan kembali berlayar ke dermaga Sanur nanti sore. Tapi, sebelumnya, aku berangkat ke Kelingking Beach dan Pasih Uug, lokasi wajib lain yang harus dilihat jika kita ke Nusa Penida. Rencana awal kami mestinya snorkeling dan mengeksplor bawah laut Nusa Penida sambil melihat manta-manta yang berenang cantik di dekat tebing. Namun, rencana itu gagal karena cuaca kurang bersahabat. Aku menunggu hujan reda sambil terus memandangi detak jam. Jika hujan bertahan sampai siang, kami tidak akan bisa ke mana-mana lagi selain harus kembali ke dermaga Toyapakeh.

Bali selalu punya cara memanggil kita
Satu spot dramatik di Pasih Uug alias Broken Beach.
Bali Selalu Punya Cerita Memanggil Kita
Travelmate Nusa Penida (minus Junisatya yang jadi Kang Foto)

Untungnya langit mulai memberi harapan meski nggak cerah-cerah amat. Dengan menyandang ransel masing-masing, aku dan teman-teman melaju ke arah barat Nusa Penida menggunakan motor sewaan. Dengan mengandalkan offline maps di ponsel (sinyal pasang surut seperti air laut), untungnya kali ini marka jalan lebih mudah ditafsir. Kelingking Beach dan Pasih Uug ada di 2 jalur yang berseberangan. Kami sempat berhenti untuk sarapan dan memboyong pisang goreng untuk bekal di jalan. Sembari sarapan, aku mengobrol dengan beberapa anak SD yang kami temui di warung makan. Mereka bilang, trek ke Kelingking Beach lebih mulus. Kalau jalanan ke Pasih Uug malah rusak parah. Jarak kedua tempat itu sama. Mereka berpendapat, lebih baik ke Kelingking Beach saja. Pasih Uug bagus, tapi ya gitu, susah ditempuh. Kecil-kecil begitu, mereka tahu jalan, lho. Please, jangan remehkan anak kecil.

Setelah menakar-nakar jarak dan waktu, kami punya waktu sekitar 4 jam untuk mencapai dua tempat itu jika tak ingin ketinggalan kapal sore hari. Ini gila, sih. Liburan macam apa ini, berpindah-pindah tanpa bisa menikmati alam dan tawa teman seperjalanan. Yak, mari pilih opsi pertama yang disarankan si anak-anak SD itu. Mari ke Kelingking Beach. Kalau memang tak sempat, Pasih Uug terpaksa harus dikorbankan.

 1. Kelingking Beach

Ketika menemukan pertigaan, Kelingking Beach belok kiri, Pasih Uug alias Broken Beach belok kanan, Junisatya berbelok ke kiri dan diikuti oleh 2 motor teman kami yang lain. Jalanan menyempit tetapi view-nya menyenangkan. Kami menempuh sekitar 4 km untuk sampai di kawasan Kelingking Beach. Oiya, harus bayar Rp15.000 untuk biaya retribusi sekaligus parkir.

Di kawasan Kelingking Beach terdapat rumah makan dengan halaman yang luas. Lalu, sisi pinggir tebing yang jadi primadona kawasan ini dipenuhi warung-warung jajanan. Yang orang-orang sebut sebagai 'kelingking' itu adalah tebing yang menjorok ke laut berbentuk kelingking. Aku seketika merinding memandangi ketinggian tebing dan melihat ombak menghempas pantai putih di bawahnya. Jika berjalan di sini, harus serba hati-hati karena tebing hanya dibatasi pagar kayu yang dipasak ke tanah. Tanpa ada kekokohan pelindung lain. Mungkin saat Kelingking Beach belum seramai ini, pasak-pasak kayu itu belum ada. Pinggiran tebing polos begitu saja, hanya berbatas rerumputan liar. Agak seram jika dibayangkan.



Kelingking Beach Nusa Penida
Mari berlayar.

Kelingking Beach Nusa Penida
Salah satu lokasi instagramable di Kelingking Beach.

Sisi Kelingking Beach yang lain juga seru buat spot foto.

Ada beberapa spot foto mainstream yang instagramable di Kelingking Beach, foto cantik di miniatur kapal yang harus bayar Rp5.000 untuk biaya perawatan, foto kece di dahan pohon tak berdaun, dan foto persis dengan view tebing Kelingking jadi pilihan kami. Kalau mau lebih jauh lagi, bisa turun merayapi 'punggung' tebing Kelingking yang tipis itu. Tapi aku nggak berani. Dera anginnya lebih hebat dari berat badan. Kalau mau lebih ekstrem, bisa turun dengan mengikuti anak tangga kecil menuju pantai. Lagi-lagi, terima kasih, waktu kami tidak cukup untuk mengeksplor hingga ke pantainya. Ah, sayang sekali.

Sembari duduk menikmati pemandangan tebing-tebing, kami mengobrol dengan orang warung. Mengingat waktu sisa cuma 2,5 jam, kami menanyakan kemungkinan untuk tetap ke Pasih Uug. Bapak-bapak yang berjaga di pinggiran tebing menimpali bahwa kalau dipaksakan ke Pasih Uug, malah serba nanggung. Dari Kelingking ke Pasih Uug bisa menghabiskan waktu 1 jam. Itu artinya, kami hanya punya waktu 20-30 menit untuk eksplore Pasih Uug dan Angel's Billabong. Lalu, harus siap kembali ke dermaga yang juga memakan waktu 1 jam. Agak mustahil ya.

Oke, mari sandang ransel kembali. Kami membulatkan tekad untuk melaju ke Pasih Uug.

2. Pasih Uug

Ternyata jalanan tak seperti yang dibayangkan. Dengan ransel tersandang di bahuku, aku harus mengimbangi laju motor dengan jalanan yang  becek. Ada saatnya aku harus turun dari motor karena roda slip. Ada pula saatnya kami tergelincir karena posisi ransel tidak seimbang. Andai tidak membawa ransel, pasti perjalanan ini lebih mulus. Hari semakin terik. Tapi Pasih Uug masih jauh. Kami terus melaju semata-mata karena terpicu oleh semangat beberapa bule yang berseliweran dengan motor mereka hanya dengan mengenakan singlet. Mereka juga membawa ransel berat di punggungnya. Mereka saja bisa, kenapa kami tidak? Motivasi kosong tapi membawa hasil.

Ini dia Pasih Uug alias Broken Beach
Ini dia Pasih Uug alias Broken Beach.


Pasih Uug Nusa Penida, Bali
Padang rumput di sekitar Pasih Uug.
Bali punya cerita
Pasih Uug, sampai jumpa lagi.

Kami sampai di hamparan Pasih Uug 40 menit kemudian. Setelah mengikat ransel di motor, aku terhenti. Pemandangan yang kulihat saat itu...masya Allah. Pasih Uug adalah hidden gem Nusa Penida yang lain. Banyak orang menyebutnya dengan Broken Beach karena ada lubang di tebing tengah membentuk pintu masuk ombak. Ceruk besar dan tinggi di dalamnya menjadi sasaran hempasan ombak. Tebingnya, suara ombaknya yang membahana, membuat kita semakin kecil. Aku melihat orang-orang berjalan mengitari sisi Pasih Uug. Dataran yang mengitari tebing Pasih Uug ditumbuhi rumput hijau yang membuat orang semakin nyaman untuk berjalan bahkan duduk-duduk di sini. Saking besarnya lokasi Pasih Uug ini, orang-orang itu tampak seperti semut di bibir tebing.

Aku sama sekali tidak menyesal menempuh perjalanan rusak dan jauh ini karena apa yang ada di hadapan sungguh membayar lelah itu. Saat langit tak begitu cerah saja, barisan tebing yang tampak di Pasih Uug sungguh dramatik dan luar biasa. Apalagi pemandangan saat langit biru, ya. Ini adalah lokasi sempurna bagi yang menyukai fotografi. Rasanya aku ingin duduk menikmati suara-suara alam yang riang di sini. Seperti Pantai Atuh, Pasih Uug seperti sahabat karibnya. Sama-sama keren dan melengkapi. Katanya lebih indah lagi kalau melihat Pasih Uug ini dari arah laut dengan perahu. Mungkin lain kali, ya, aku akan eksplore perairan di barat Nusa Penida ini.

3. Angel's Billabong

Angel's Billabong masih berada di kawasan Pasih Uug. Hanya berjalan sekitar 5 menit ke arah kanan, Angel's Billabong tersembunyi di balik karang-karang dan tebing yang lebih landai. Kalau menginjak karang-karang ini sangat disarankan mengenakan sendal anti slip karena karangnya tidak rata dan beberapa sisinya tajam. Tempat ini dipercaya sebagai tempat pemandian para bidadari. Itulah kenapa dinamakan Angel's Billabong.

Aku mendekat ke sebuah ceruk di antara karang-karang itu, ceruk kecil melekuk yang membentuk kolam renang sendiri dengan pemandangan lepas pantai. Tapi sayangnya kami dilarang untuk turun dan berenang-renang cantik di ceruk itu. Saat aku ke sana, baru saja ada kejadian dua orang yang hanyut dibawa arus pasang. Cuaca dan laut memang susah diprediksi. Karena kejadian itu lagi hangat-hangatnya dibicarakan dan police line masih terpasang di sekeliling karang, jadi aku sama sekali tidak turun untuk sekadar celup-celup kaki. Agak kecewa, sih. Namun, aku harus berbesar hati karena kami harus segera melaju lagi ke dermaga.

Nusa Penida Bali
Main di karang ini bisa jadi alternatif spot foto juga.

Nusa Penida Bali
Karang di kawasan Pasih Uuh dan Angel's Billabong

Angel's Billabong Nusa Penida
V di pinggir Angel's Billabong.

Bali Selalu Punya Cara Memanggil Kita
Angel's Billabong, tempat mandinya para bidadari.
Kami kembali ke tebing Pasih Uug untuk mengucapkan "Sampai jumpa." Kalau ditaya, apakah aku mau jika diajak ke Nusa Penida lagi? Tanpa harus mikir panjang, aku akan menggangguk pasti.

Ini adalah bagian dari doa. Aku percaya sekali. Pasih Uug yang syahdu takkan menjemukan. Trip bersama sahabat-sahabat terbaik menjadikan momen perjalanan ini serasa berada di rumah, meski agak gokil. Kenapa? Begitu kami melewati jalanan rusak lagi, hujan kembali turun. Namun, kami tak berhenti sedikit pun hingga mendekati dermaga Toyapakeh. Sialnya, tiba-tiba kami disuruh berhenti oleh Ry yang lebih suka mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Rupanya bensinnya abis persis di persimpangan jalan masuk ke dermaga. Daripada repot cari bensin, kami akhirnya mendorong motor Ry yang tertatih-tatih berjalan di jalan berkerikil. Pemilik motor yang sudah menunggu di dermaga sedikit kesal karena motornya kehabisan bensin. "Maaf, ya, Pak," ujar Ry pada pemilik motor itu sembari menyodorkan sisa bekal pisang goreng kami.

Untung saja bensinnya abis saat kami sudah dekat. Repot juga jika mesin motor mendadak mati saat kami masih di belantara yang tidak terdeteksi sinyal GPS. Fiuh, kami akhirnya check in kapal. Rasanya lega mengakhiri perjalanan Nusa Penida ini meski masih banyak banget yang belum dilihat dan dieksplor. Bawah lautnya belum. Ketemu Pari Manta belum. Berendam di mata air Guyangan juga belum. Kami kewalahan mengatur waktu yang sudah kami jadwalkan sendiri. Ya, begitulah. Gokil, kan?!

Tak apalah. Yang penting perjalanannya, baru destinasinya. Itu artinya aku memang akan kembali lagi.

Bali selalu punya cara memanggil kita
View di depan kamar Bukit Sunrise di Nusa Penida.

Aku bilang ke Junisatya, "Kenapa, ya, aku selalu ingin balik ke Bali?"

Junisatya setuju. Ia bilang, "Karena Bali punya cara memanggil kita. Setiap perjalanan selalu punya cerita berbeda. Kamu bisa balik lagi, kok, ke sini."

Ya, Nusa Penida adalah satu dari sekian banyak pesona Bali. Aku menunggu waktu yang pas buat kembali ke Bali mengeksplor banyak tempat, karena Bali memang tak pernah membuatku jemu

Read More

Share Tweet Pin It +1

22 Comments

In Gallery Land

Ketemu Totoro di The World of Ghibli Exhibition

Dari dulu, aku suka datang ke pameran unik, eksibisi kece, atau sekadar menikmati instalasi mencolok di sebuah mall. Menurutku, eksibisi yang cuma musiman atau diadakan hanya untuk periode tertentu--entah untuk merayakan sebuah euforia--menjadi hiburan singkat dari kepenatan sesaat kaum urban. Makanya kalau ada eksibisi tertentu yang lokasinya masih bisa dijangkau, aku akan berburu mencari tahu. Apalagi eksibisi anime Jepang. Saat masih berstatus sebagai warga kampus, aku sering datang ke Gelar Jepang UI. Kalau ditarik lebih jauh lagi ke memori lama (jangan kejauhan juga sampai ke masa penjajahan Jepang, ya), rasanya memang anime Jepang terasa lebih dekat dengan pertumbuhan anak-anak Indonesia generasi 90-an. Bayangkan saja, setiap hari Minggu, serentetan judul kartun Jepang diputar dari pagi hingga tengah hari. Itu baru hari Minggu, belum hari-hari lainnya yang juga memutar film superhero Jepang di sore hari. Pokoknya, aku punya agenda khusus nonton film anak produksi Jepang yang nggak boleh diganggu gugat.

Beberapa tahun lalu sempat diadakan Doraemon 100 Gadget Expo di Ancol, Jakarta untuk bernostalgia dengan boneka robot kucing pintar yang menemani hari Minggu pagi kita bahkan sampai saat ini. Lalu, kini ada sebuah studio produksi film anime besar dari Jepang yang mengadakan festival film mereka di Indonesia. Namanya Ghibli. Tapi bukan sekadar festival film. Ghibli tak cuma ingin pamer film-film produksi mereka sejak tahun 1980-an. Kamu tahu boneka atau ikon Totoro? Mungkin merchandise Totoro sudah banyak berseliweran, tapi kita sendiri nggak banyak yang tahu bahwa Totoro adalah salah satu karakter film animasi produksi Ghibli, My Neighbor Totoro. Nggak tahu, kan? Totoro hits di tahun 1988 dan merchandise-nya mulai populer di awal tahun 90-an sampai sekarang. Nah, biar orang-orang kita nggak kudet tentang dunia Ghibli yang hits di Jepang dan sebagian Eropa serta para pencinta anime di seluruh dunia, Ghibli punya inovasi membuat The World of Ghibli Exhibition yang berisi tentang perjalanan Ghibli, proses pembuatan film mereka dari masa ke masa, sampai pameran instalasi dunia film-film Ghibli yang ikonik. Exhibition ini dapat dinikmati selama sebulan lebih sedikit dari 10 Agustus-17 September 2017. Siapa yang menolak kalau diajak ketemu Totoro di Ghibli World Jakarta.

Ketemu Totoro di The World of Ghibli Exhibition
Menunggu Nekobasu bersama Totoro.
Aku tahu tentang exhibition ini juga telat, kok. Aku dan Junisatya baru menyempatkan diri buat ke exhibition yang diadakan di Ballroom Ritz Carlton, Pasific Place Jakarta menjelang penutupan. Tapi ada untungnya juga tahu telat. Karena kata beberapa teman, pada hari-hari awal exhibition dibuka, semua instalasi belum terpasang dengan sempurna. Setelah cari-cari info tiket yang harganya lumayan, ya, aku dan Junisatya dapat harga khusus mahasiswa (anggap saja kami memang masih mahasiswa).

Exhibition dibagi dua area, ruangan yang dilarang memotret dan ruangan yang diizinkan memotret. Untuk urusan ini, Studio Ghibli di Jepang memang mulanya tidak memperbolehkan pengunjung memotret. Tapi, karena ini jadi eksibisi Ghibli terbesar di Asia, kita bisa datang membawa kamera.

Begitu masuk, setelah melewati bagian pemeriksaan tiket, aku disambut dengan sejarah Studio Ghibli yang berawal dari penerbitan komik. Lalu, poster-poster film animasi produksi Ghibli dipajang di hampir seluruh dinding. Ghibli rupanya sedang bercerita kepada pengunjung tentang proses kreatif tim pembuat film animasi dari tahun ke tahun. Di ruangan berbeda, aku melihat satu per satu detail penggambaran karakter dan bagaimana setiap scene bergerak yang hanya bermula dari sebuah ilustrasi komik. Bagian ini keren sih menurutku. Di zaman sekarang, teknologi audio-visual sudah mempermudah segala hal dalam pembuatan karakter animasi. Jika melihat ke belakang, 20 tahun yang lalu, teknologi masih terbatas tetapi tidak membatasi ruang gerak anime-creator untuk menciptakan sebuah film yang kompleks dengan detail karakter dan detail lokasi yang apik. Kita bisa melihat proses kreatif itu di Ghibli Exhibition.

Aku membaca beberapa sinopsis film animasi yang sempat box office pada masanya. Cerita perang, cerita tentang harta karun, cerita tentang cita-cita dan mimpi, serta cerita tentang keluarga ternyata pernah menghiasi bioskop di Jepang sejak tahun 1980-an. Sayangnya, aku tidak bisa mengabadikan satu pun gambar pajangan yang ada di area ini. Dari area sinopsis film, aku beralih ke ruangan gelap yang merupakan movie theater untuk pemutaran trailer film-film Ghibli. Bukan filmnya ya. Filmnya sendiri tayang secara marathon di CGV kota-kota besar Indonesia hingga Maret 2018.


The World of Ghibli Exhibition Jakarta
The Secret World of Arrietty.
Ghibli World Jakarta
When Marnie was There.
Setelah puas melihat sejarah, proses kreatif, sampai trailer film, akhirnya aku sampai di area bebas memotret. Ada beberapa instalasi yang dicomot dari ikon-ikon menarik di film sukses produksi Ghibli. Laputa Castle mengawali petualangan seru kami di area bebas berfoto. Castle yang melayang-layang ini berasal dari film Castle in The Sky. Lalu ada replika Golden Ship yang tampak megah sekali. Aku suka, sih, desain replikanya dengan ukuran sangat besar. Kemudian nanti diikuti dengan Flappter Flying Machine dan Laputa Robot yang berdiri di depan goa. Yubaba's Bathouse dari film Spirited Away juga mendominasi di bagian depan dengan miniatur kuil Jepang. Karena kami datang saat weekdays, jadi exhibition ini terbilang sepi. Aku mengambil kesempatan untuk berfoto di setiap instalasi.

Ghibli World Jakarta
Toko roti Kiki.

Kiki's Delivery Service.
Ghibli World Jakarta
Bantuin Kiki jaga toko bakery.

Spot-spot foto yang agak ramai itu ada di bagian tengah, yaitu Kiki's Delivery Service Bakery, Totoro, dan Neko Basu (Cat Bus). Mungkin karena kita lebih familiar dengan ikon dua film ini, My Neighbor's Totoro dan Kiki's Delivery Service. Mungkin juga karena dekorasinya lebih lucu dan menarik. Dua instalasi ini juga favoritku. Miniatur rumah keluarga Kusakabe di film Totoro juga menarik karena dibuat seidentik mungkin dengan model rumah di film animasinya. Dekorasi interior dari ruang depan, ruang keluarga, kamar, dan ruang kerja ayah Mei dan Satsuki yang penuh buku dibuat begitu detail. Katanya yang menggarap bangunannya Usher dari Indonesia, tapi untuk dekorasi dan printilannya didatangkan langsung dari Jepang. Mereka punya semacam quality control untuk setiap instalasi yang dipajang di exhibition.

Kediaman rumah keluarga Kusakabe.

Ruang kerja Ayah Mei dan Satsuki yang berantakan.

Lagi mau bikin PR.

Berfoto di dalam rumah bergaya rumah tradisional Jepang ini jadi daya tarik sendiri. Ukurannya jadi real-size dan bangunannya cukup kokoh untuk berfoto di bagian dalam. Sayangnya kami hanya diberi waktu 3 menit untuk berfoto di masing-masing instalasi agar semua yang antre kebagian. Serasa ngantre masuk wahana Dufan. Minusnya, ya, aku nggak bisa eksplore berbagai ekspresi foto jadinya. Nggak kebayang kalau datangnya pas weekend.

Di sayap kanan ballroom, instalasi dari film-film Ghibli yang lain juga nggak kalah menarik. Seperti miniatur hutan Princess Mononoke yang dibuat seperti rimba dan gelap. Lalu ada Hawl's The Castle yang bikin gemes, miniatur pesawat Porco Rosso di pinggir pantai. Aku menikmati setiap detail instalasi yang dipajang. Berkeliling di sini serasa berkeliling di komplek imajinasi yang pernah disajikan studio Ghibli. Aku tidak mengenal semua film animasinya, tetapi cukup familiar dengan ikon-ikon yang populer dari beberapa film.

The World of Ghibli Exhibition Jakarta
Nekobasu dalam My Neighbor Totoro.


Ghibli Jakarta
Replika Bathouse dari film Spirited Away.
Ghibli World Jakarta
Hutan Princess Mononoke.
Sebenarnya ada satu hal yang disayangkan saat berada di sini. Ketiadaan informasi di setiap instalasi. Bagi pengunjung awam (sepertiku) hanya bisa sebatas menikmati nilai seni dari instalasi-instalasi ini. Seandainya ada informasi detail di setiap spot kece ini, tentu akan membantu pengunjung mencerna kisah-kisah yang ingin disampaikan Ghibli dalam exhibition-nya di Indonesia. Anyway, sayang juga ya exhibition-nya sudah berakhir. Kudengar, banyak pengunjung dari kalangan penggemar anime ingin exhibition ini diperpanjang. Namun, permintaan itu tidak dikabulkan oleh pihak Ghibli Jepang. Dan, katanya juga, usai exhibition, instalasi-instalasi ini dihancurkan. Hanya disisakan miniatur Totoro dan Neko Bus yang akan dipajang di pelataran CGV Pasific Place selama film-film Ghibli diputar sampai tahun depan. Jadi, buat kamu yang ketinggalan event ini, masih bisa ketemu Totoro kok di bioskopnya. Totoro masih akan menemani kita sampai Maret 2018.

Read More

Share Tweet Pin It +1

16 Comments

In Advertorial Land Story Land

Keliling Mataram dengan Hasanah Card

Aku cuma punya satu hari untuk keliling Kota Mataram. Kalau kamu jadi aku, kamu bakal ngapain? Yang pasti aku nggak akan sempat untuk mengunjungi pantai, gili, dan wisata perbukitan di Pulau Lombok. Butuh lebih dari seminggu untuk mengarungi semua pesona wisata halal di pulau 1000 masjid ini. Karena traveling ke Lombok kali ini dalam rangka memenuhi undangan mengikuti International Halal Travel Fair 2017 di Kota Mataram. Jadi, aku cuma bisa wisata kuliner dan wisata belanja oleh-oleh. Mungkin ini yang disebut flashpacker kali, ya.

Lombok, seperti yang sudah kita kenal adalah tujuan wisata halal terbaik, wisata bulan madu halal terbaik, website wisata halal terbaik kelas dunia. Sepertinya yang halal-halal memang tersedia di Lombok. Tidak heran, kok, kalau melihat sejarahnya, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat menjadi salah satu perluasan wilayah kerajaan Islam besar zaman dulu, yaitu Kerajaan Mataram. Suku asli di Lombok pun--Suku Sasak--sebagian besar memeluk agama Islam. Rasanya pesona Lombok ini memang pantas mendapatkan penghargaan destinasi halal.

Wisata Halal Lombok
Wisata Halal Lombok

Meski perjalananku kali ini cukup singkat, tapi Mataram sukses membuatku terkesan dengan setiap sudut pesona halalnya. Usai datang ke event IHTF 2017, aku jadi punya teman baru dalam perjalanan. Namanya BNI iB Hasanah Card. Komitmen BNI Syariah untuk membuat kartu yang berlabel Hasanah Travel Partner menjadikan perjalanan 100 kali lebih nyaman, tenang, dan aman. Kenapa? Ini alasannya.


1. Nggak perlu bawa cash berlebihan

Kita tentu harus punya persiapan matang dalam merencanakan sebuah perjalanan, khususnya keuangan. Coba cek destinasi yang dituju, memungkinkan bawa uang cash atau cukup dengan bawa kartu saja? Nah, karena destinasi tujuanku adalah Lombok yang merupakan destinasi wisata halal negeri ini, aku tidak perlu bawa uang cash yang berlebihan. Aku hanya bawa sedikit uang tunai untuk jaga-jaga dan sisanya di-cover oleh Hasanah Card. Dengan limit yang diberikan Hasanah Card sesuai jenis kartu, aku bisa mengelola pengeluaran dengan baik saat traveling.


2. Dapat asuransi perjalanan bebas premi


Kini, aku bisa memesan tiket pesawat kapan saja dengan menggunakan Hasanah Card. Dan, FYI, ketika kamu membayar tiket pesawat dengan Hasanah Card, kamu langsung mendapat perlindungan dari asuransi perjalanan dan bebas premi senilai 500 juta rupiah. Mobilitas yang tinggi tentu membuat aku mulai memikirkan asuransi selama traveling. BNI Syariah sangat mengerti kebutuhanku itu. Hasanah Card sengaja memfasilitasi kenyamanan kita selama perjalanan udara dan khusus untuk pemegang Hasanah Card Gold.


3. Banyak diskon menggunakan Hasanah Card

Ada beberapa merchant di Mataram yang sudah bekerja sama dengan BNI Syariah dalam memajukan UMKM mereka. Banyak juga promo-promo diskon yang ditawarkan beberapa toko dengan berbagai kebutuhan jika kamu bayar pakai Hasanah Card. Seperti saat aku mampir ke toko mutiara, Lia Pearl. Lombok terkenal dengan budidaya kerang penghasil mutiara. Rasanya belum ke Lombok kalau nggak beli mutiara asli Lombok. Aku diantar oleh seorang teman ke Lia Pearl yang menjual perhiasan mutiara berkualitas baik dengan harga terjangkau. Begitu masuk ke dalam tokonya, aku langsung tergiur ingin borong beberapa perhiasan. Ada cincin, kalung, gelang, dan anting. Silau, kan?!

Wisata halal Lombok dengan Hasanah Card
Lombok kaya dengan mutiara hasil budidaya kerang.

Belanja oleh-oleh Khas Lombok
Toko Lia Pearl, salah satu merchant yang kerja sama dengan BNI Syariah.

Keliling Mataram dengan Hasanah Travel Partner
Cukup bayar dengan Hasanah Card.

Tapi karena Hasanah Card ikut jalan-jalan bersamaku, aku langsung memilih beberapa perhiasan mutiara yang unik dan lucu. Beli beberapa lagi untuk dibagikan ke kerabat juga bisalah, ya. Begitu aku tanya penjaga toko, ada diskon 20% jika aku membayar dengan Hasanah Card. Mungkin saat itu juga mataku ikut berkilau kena pantulan silau mutiara-mutiara ini. Hasanah Card sangat membantu sekali. Kalau kamu pengin beli mutiara juga, mampir saja ke Lia Pearl yang saat ini membuka 2 outlet di Kota Mataram, di Jl. Adi Sucipto dan Jl. A. A. Gede Ngurah.

4. Kuliner puas, santai, dan sekenyang-kenyangnya

Saat mengunjungi suatu tempat, yang jadi incaranku adalah kulinernya. Apalagi di Lombok. Dengan label wisata halal, aku tidak perlu khawatir mencari kuliner halal di Kota Mataram. Kebetulan, ada beberapa rekomendasi warung makan asyik yang memanjakan mata. Salah satunya Lesehan Green Asri. Dengan konsep di tepi sawah dan pondokan-pondokan bergaya bangunan tradisional suku Sasak, Lesehan Green Asri nggak boleh dilewatkan. Apalagi menu makanannya khas Lombok pula. Ada ikan bakar, plecing kangkung, beberok terong, dan minuman dengan tambahan madu sebagai pengganti gula. Rasanya juga tidak mengecewakan sama sekali. Lesehan Green Asri cocok untuk piknik santai liburan bareng teman, pasangan, dan keluarga.

Keliling Mataram dengan Hasanah Card
Kuliner halal di Lesehan Green Asri Lombok

Keliling Mataram dengan Hasanah Card
Menu makan siangku di Mataram.

WIsata halal Lombok dengan hasanah travel partner
Suasana asri Green Asri.

Ibuku bilang, untuk urusan perut jangan pernah ditawar. Jadi aku memang sedikit kalap melahap makanan di Green Asri. Makanan enak, suasana juga mendukung sedap, dan yang penting halal. Bahkan aku betah menghabiskan hari di sini hingga magrib tiba. Musala yang disediakan tersebar di beberapa titik demi kenyamanan pelanggan. Tampaknya Green Asri tahu apa yang dibutuhkan pengunjungnya. Kalau kamu mampir ke Lombok, kamu bisa mampir untuk merasakan nikmatnya makan di pinggir sawah kawasan Sayang Sayang, Cakranegara, Kota Mataram. Dengan harga yang tidak terlalu tinggi, masih sangat terjangkau bagi backpacker, aku lagi-lagi bayar dengan Hasanah Card, lalu dapat diskon pula 10%. Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?!

5. Oleh-oleh aman

Entah ini budaya sejak kapan, tapi memang mendarah daging di masyarakat Indonesia, yaitu tradisi membawakan oleh-oleh setelah perjalanan jauh. Sebenarnya aku tidak begitu suka membeli oleh-oleh karena nggak praktis dan menambah barang bawaan. Lagipula keluarga, relasi, sahabat, kerabat ada berapa orang yang mesti kita bawakan oleh-oleh? Bisa-bisa overbudget. Kecuali jika memang ada yang sengaja nitip barang, aku tentu dengan senang hati akan membelikan barang titipan itu. Itu, kan, bagian dari amanah.

Keliling Mataram dengan Hasanah Card
Belanja oleh-oleh di Toko Gandrung.

Keliling Mataram dengan Hasanah Card
Hasil kerajinan lokal di Lombok.

Keliling Mataram dengan Hasanah Card
Sudah saatnya cashless dengan Hasanah Card.

Namun, untuk perjalanan ke Lombok kali ini, bolehlah aku melihat-lihat sedikit barang-barang unik hasil kerajinan lokal. Ada banyak tempat yang menjual kain tenun, songket, berbagai kerajinan tangan dan prakarya yang lain. Lokasinya sedikit berjauhan. Kalau mau praktis, tinggal ke Toko Gandrung di kawasan Meninting, Batu Layar, Mataram sebagai pusat oleh-oleh khas Lombok. Aku akhirnya mampir dan memilih beberapa barang yang sekiranya nggak memberatkan bagasi pesawat dalam perjalanan pulang. Untuk urusan bayar-membayar, aku sudah keenakan pakai Hasanah Card. Tinggal gesek, dapat potongan, bisa menggunakan pin atau tanda tangan, lalu barang sudah bisa dibawa pulang.

6. Pulang traveling tenang, nggak perlu memikirkan tagihan

Aku nggak pusing soal tagihan sepulang traveling karena tagihan minimumnya sangat rendah setiap bulan, yaitu 10% dari total tagihan atau Rp50.000. Lagipula dengan limit yang ada, tentu kita juga harus smart dalam penggunaan sehingga tagihan nggak mendadak bengkak. Kecuali jika ada hal-hal yang mendesak. Oiya, Hasanah Card cuma akan menemani kita untuk transaksi yang sesuai syariah saja, ya. Jadi jangan gunakan untuk hal yang aneh-aneh, semua akan terdeteksi dan terekam dalam sistem.

Hasanah Card memang Hasanah Travel Partner.
Hasanah Card memang Hasanah Travel Partner.

Sebenarnya masih sangat banyak keuntungan yang ditawarkan oleh Hasanah Card dalam mengedukasi kita mengelola keuangan dengan baik. Untuk kebutuhan traveling juga sangat membantu dan meringankan. Apalagi sekarang Hasanah Card nggak sekadar kartu kredit berbasis syariah biasa. Hasanah Card kini menjadi Hasanah Travel Partner yang wajib dibawa, khususnya dalam kelancaran perjalananku ke destinasi halal, seperti Lombok.

Kalau kamu tertarik untuk membuat Hasanah Card, kamu tinggal apply di kantor cabang BNI Syariah terdekat. Untuk aktivasinya malah gampang banget. Karena memang dirancang untuk para traveler yang tidak selalu ada di satu tempat, cukup hubungi BNI Call di 1500046. Hasanah Card segera dapat digunakan.

Oiya, aku dapat bocoran, khusus untuk program kampanye wisata halal di Lombok, BNI Syariah akan meluncurkan Hasanah Card Platinum dengan desain khusus bergambar Danau Segara Anak, Lombok tanggal 22 September 2017 di Garuda Airlines Travel Fair. Wah, Hasanah Card bakalan resmi jadi travelmate-ku, nih.

Read More

Share Tweet Pin It +1

20 Comments

In Advertorial Land Story Land

Wisata Halal Lombok dan Hasanah Travel Partner di IHTF 2017

Aku sengaja terbang ke Lombok demi melihat keseruan International Halal Travel Fair (IHTF) tanggal 14-17 September 2017 di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Worth nggak sih jauh-jauh ke Lombok cuma buat IHTF 2017 aja? Buat aku, sekalian liburan, ya. Sejak Lombok dinobatkan oleh World Halal Tourism Awards sebagai Best Halal Destination 2015 dan Best Hahal Honeymoon Destination tahun 2016, Pulau Lombok ini berbenah makin cantik.

Wisata Halal Lombok
Islamic Centre NTB, masjid megah dan terbesar di Lombok.

Kategori Halal di sini bukan berarti khusus muslim atau ada batasan halal-haram. Kategori Halal untuk Lombok artinya Pulau Lombok itu menjadi destinasi wisata yang muslim friendly, dimulai dari halal destinations, halal meals, praying spacespraying time break, dan all kind of halal services, termasuk jaminan kebersihan, keamanan, dan pelayanan. Untuk itulah IHTF diadakan sebagai ajang promosi wisata halal di Negeri 1000 Masjid ini agar makin dikenal dunia.

IHTF sendiri merupakan bagian dari rangkaian Bulan Pesona Lombok-Sumbawa 2017 yang sudah berlangsung selama dua bulan terakhir dengan berbagai parade dan kegiatan budaya. Nah, khusus event IHTF kali ini, Dinas Pariwisata NTB mengundang para pelaku industri sektor pariwisata di Lombok-Sumbawa dan peserta dari dalam dan luar negeri yang merupakan pengusaha kecil dan menengah sebagai buyer (pembeli) di kegiatan ini. Jika kita bicara pasar wisata halal, Lombok sudah menjadi tuan rumah sejak dua tahun lalu. Jika kita bicara servis halal, IHTF menjadi ruang konferensi dan pertemuan bisnis berbagai produk dan jasa yang nantinya akan memajukan wisata halal Lombok dan Sumbawa. Aku sendiri optimis, kok, kalau Lombok dan Sumbawa punya potensi besar di bidang pariwisata dan budaya. Banyak kekayaan Lombok dan Sumbawa yang belum tereksplor. Aku yakin, pemerintah daerah sedang membenahi berbagai infrastruktur dan servis demi pengembangan ikon halal tourism yang disandang Lombok tahun lalu.

Wisata Halal Lombok
Suasana Fashion on The Street di Kota Mataram.

International Halal Travel Fair 2017 Lombok
Fashion Show on The Street IHTF 2017
Wisata Halal Lombok
Perpaduan busana muslim dengan songket.

IHTF 2017 dibuka dengan parade Fashion on The Street di jalan depan Pendopo Gubernur Nusa Tenggara Barat. Tepat pukul 9 malam, aku sudah memasuki kawasan Fashion on The Street yang gemerlap dengan lampu-lampu sorot warna-warni. Jalan raya di antara Kantor Gubernur dan Pendopo Gubernur disulap menjadi panggung bagi para desainer kenamaan Indonesia yang akan memamerkan berbagai rupa songket dan kain tenun khas Nusa Tenggara Barat. Semua pengunjung dan peserta IHTF pun sudah rapi dengan dresscode songket mereka. Karena tema halal menjadi highlight dalam event ini, tentu desain pakaian yang diperagakan di Fashion on The Street mengangkat songket hijab untuk wanita dan busana muslim untuk pria. Fashion on The Street membuktikan bahwa nama-nama sekelas Irna Mutiara, Ria Miranda, dan Ipoel Daeng Hasanung dapat bersanding dengan desainer-desainer lokal untuk memajukan industri kreatif NTB di bidang fashion. Khasanah lokal berbalut busana muslim dan muslimah merupakan daya tarik yang sengaja diciptakan oleh Lombok untuk mengangkat pesona halal tourism mereka.

Wisata Halal Lombok
IHTF 2017
Wisata Halal Lombok
IHTF 2017 tempat berkumpulnya para pelaku UMKM sektor pariwisata.

Meriahnya malam Fashion on The Street di pusat Kota Mataram diiringi pula dengan suasana akrab Halal Travel Fair keesokan harinya. Ballroom Islamic Centre NTB seketika dipenuhi oleh booth produk jasa tourism dari berbagai merchant. Aku berkeliling booth satu per satu. Ada banyak tour travel, tour agent, hospitality, bahkan juga bank. Aku tergiur dengan paket-paket wisata yang ditawarkan di IHTF 2017. Berbagai resort cantik dan beach hotel sungguh menggoda. Tour travel dan tour agent juga menyodorkan banyak brosur tentang tempat-tempat kece di Lombok dan Sumbawa. Highlight destination mereka kali ini adalah Sembalun, wilayah perbukitan di Lombok Timur yang menjadi bagian dari Pegunungan Rinjani.

Sembalun merupakan salah satu lokasi wisata populer di Lombok dengan panorama alam dan hutan. Wisata Sembalun menjadi satu paket lengkap tujuan wisata perbukitan, wisata budaya desa tertua di Lombok, serta keasrian lembah dan air terjun yang damai. Sembalun seketika menjadi favorit sejak menyandang World Best Honeymoon Halal Destination. Sepertinya aku akan mengambil paket liburan ke Sembalun dalam waktu dekat. Nah, tinggal cara mengelola keuangan untuk persiapan traveling aja, nih, yang harus super ketat agar aku bisa kembali ke Lombok dengan direct flight dari Jakarta dan mengambil paket wisata halal untuk eksplor Sembalun dan Lombok Timur.

Wisata Halal Lombok
Booth Tour Agent dan Hospitality IHTF 2017 dipenuhi para buyer.

wisata halal Lombok
Suasana akrab IHTF 2017 di Islamic Centre.

Wisata Halal Lombok
Open Booth BNI Syariah mengenalkan pengelolaan keuangan berbasis syariah.

Kebetulan IHTF 2017 didukung penuh oleh BNI Syariah yang mengeluarkan Official Travel Card for World's Best Halal Tourism Destination. Aku pun mampir ke booth BNI Syariah yang saat itu laris manis dikunjungi peserta. BNI Syariah menjadi satu-satunya bank nasional yang mendukung program Halal Travel saat ini. Aku jadi penasaran, apa, ya, yang ditawarkan BNI Syariah dalam memajukan industri wisata halal ini?

Kalau dari sisi bisnis, BNI Syariah bekerja sama dengan Dinas Pariwisata NTB untuk membantu UMKM dalam pembiayaan, pengelolaan keuangan, serta manajemen bisnis mereka. Edukasi berbasis halal dan syariah menjadi bentuk kampanye BNI Syariah dalam kontribusinya sebagai bank partner memajukan wisata halal di NTB.

Nah, ternyata dari sisi pengguna, BNI Syariah sudah punya strategi matang untuk memfasilitasi para traveler dengan produk BNI iB Hasanah Card. Dengan mempertimbangkan keberadaan wisata halal yang sedang dikembangkan Lombok saat ini, Hasanah Card diharapkan menjadi Hasanah Travel Partner. Kenapa? Karena kemajuan wisata sebuah lokasi diiringi dengan tingginya tingkat transaksi di daerah tersebut. Untuk pasar wisata halal seperti Lombok ini, sudah saatnya pula didukung oleh Hasanah Travel Partner sebagai rekan pengelolaan keuangan yang baik berbasis syariah. Edukasi yang menarik tentang dunia perbankan yang tahu kebutuhan kita dalam traveling, ya.

Wisata Halal Lombok
Hasanah Card Travel Partner yang baru.
Usai kegiatan IHTF 2017, aku langsung apply pembuatan Hasanah Card di booth BNI Syariah. Dengan sejumlah benefit yang bisa aku dapatkan dengan kartu ini, aku bisa eksplor Lombok dan Sumbawa bahkan daerah lain di Indonesia tanpa ketar-ketir menghitung pengeluaran. Wisata halal rasanya lebih afdhol dengan Hasanah Card. Sebagai smart traveler dan smart muslim di negara yang mayoritas muslim, kita tentu tidak bisa melewatkan sistem pengelolaan keuangan yang mendukung wisata halal seperti ini. Halal travel with Hasanah (Travel) Card. Sangat serasi, ya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

8 Comments

In Journey Land

Dari Gunung, Lanjut ke Lampung Culture and Tapis Carnival

Masih ada yang seru di rangkaian Lampung Krakatau Festival 2017. Selain mengikuti Tur Krakatau, aku juga hadir di Lampung Culture and Tapis Carnival. Gimana ceritanya turun gunung bisa ikut parade budaya di tengah kota?

Jadi, begini...

Usai mendaki Gunung Anak Krakatau yang cuma dijatahkan 2 jam itu oleh pusat konservasi cagar alam, kami turun gunung dan diharuskan masuk kapal. Bukan karena Anak Krakatau mau meletus lagi. Bukan. Karena masih ada acara yang harus kami kejar. Waktu masih pukul 9 pagi saat kami masuk kapal. Kami akan berlayar langsung ke dermaga BOM, Kalianda, nggak pakai mampir lagi ke Sebesi. Itu artinya, pelayaran ini memakan waktu 4 jam. Sementara kami sudah harus sampai lagi di Kota Bandar Lampung paling lambat pukul 1 siang jika tidak ingin terlambat ikut kemeriahan parade budaya sebagai puncak Lampung Krakatau Festival.

Jadi, daripada deg-degan sama kondisi laut dan angin yang sama kencangnya saat kami berangkat ke Pulau Sebesi sehari sebelumnya, aku memilih tidur di kapal. Meski setelah terlelap, lalu bangun, lalu tidur lagi, dan bangun lagi, kapal belum merapat juga di Kalianda. Memang butuh kesabaran ya dalam pelayaran 4 jam dan sinyal ponsel belum muncul. Betapa aku merindukan sinyal.

Nah, begitu kapal merapat, aku langsung lompat ke dermaga. Mobil jemputan sudah menunggu, siap membawa kami ke Bandar Lampung. Usai 4 jam jalur laut, masih ada 1,5 jam jalur darat menuju pusat kota. Beberapa ruas jalan sudah dialihkan di area carnival. Acara sudah berlangsung tetapi paradenya belum dimulai, kok. Syukurlah kami belum terlambat. Sopir mengantarku ke hotel. Setelah check in dan bersih-bersih beberapa menit, aku bergabung kembali dengan teman-teman blogger dan media. Rupanya parade langsung melewati hotel kami. Yeay, tidak perlu repot menemukan lokasi carnival.

Bagian dari rangkaian Lampung Krakatau Festival 2017
Carnival dimulai.

Rangkaian Lampung Krakatau Festival 2017
Lampung Culture and Tapis Carnival. (Photo by Mba Oliep)
Rangkaian Lampung Krakatau Festival 2017
Gubernur Lampung membuka Festival dan Mengomandoi Karnaval keliling Kota Bandar Lampung.
(Photo by Mba Oliep)

Di lapangan utama, Gubernur Lampung, Bapak Ridho Ficardo membuka Lampung Culture and Tapis Carnival dengan parade gajah sebagai simbol propinsi Lampung. Sang gubernur memimpin parade yang diikuti semua perwakilan kota dan kabupaten yang ada di Lampung. Parade ini meriah sekali dengan berbagai bentuk kostum unik yang mewakili karakter setiap kota atau kabupaten. Mereka tidak lupa mengenakan kain tapis dengan kreasi sendiri sebagai wujud khasanah kerajinan Lampung.

Gubernur Lampung sendiri ikut turun memeriahkan pesta kostum ini. Menarik, ya. Kita bisa melihat aneka kekayaan budaya Lampung dan simbol-simbolnya. Aku sendiri baru tahu kalau kota dan kabupaten di Lampung itu banyak sekali. Dan, yang membuatku takjub itu adalah respons warga terhadap event besar ini. Sejumlah warga meramaikan sisi kiri dan kanan jalan untuk menonton parade dan bersorak-sorak menyemangati. Rupanya acara semacam ini memang menjadi hiburan umum warga khususnya di Kota Bandar Lampung. Tidak ada acara yang akan sukses tanpa sorak-sorai penontonnya. Beginilah Lampung dengan rangkaian acara tahunannya.

Rangkaian Lampung Krakatau Festival 2017
Pesona gajah yang jadi pembuka karnaval. (Photo by Mba Oliep)
Rangkaian Lampung Krakatau Festival 2017
Pesta kostum warga Lampung. (Photo by Mba Oliep)
Rangkaian Lampung Krakatau Festival 2017
Karnaval berlanjut hingga menjelang magrib.
Aku hanya mengikuti acara hingga menjelang magrib. Acara malam berpusat di Lapangan Saburai Bandar Lampung dengan diramaikan oleh beberapa band, stand kerajinan dan jajanan. Aku memilih kembali ke hotel lantaran energi sudah terkuras habis. Bangun pukul setengah 3 dini hari, perjalanan laut menuju kawasan Krakatoa, lalu trekking, dan perjalanan laut lagi tengah hari, hingga parade, badan rasanya tidak mau kompromi. Tapi, hingar bingar acara malam di lapangan Sabura masih bisa kudengar dari jendela hotel. Meriahnya kembang api juga dapat dinikmati dari kasur nyaman berbalut selimut. Ini malamnya orang Lampung dan orang-orang lain yang menikmati perayaan budaya salah satu negeri. Lampung Krakatau Festival memang berwarna. Dan tahun ini aku dapat melihat langsung ronanya.

Terima kasih, Lampung. Terima kasih juga untuk pihak Badan Penghubung Provinsi Lampung di Jakarta yang memberi banyak informasi tentang destinasi wisata di propinsi ini. Kamu yang dari luar Lampung atau warga Lampung yang berada di perantauan, bisa datangi kantor Badan Penghubung Provinsi Lampung di Jakarta untuk mencari tahu tentang event-event mengenai Lampung.

Lampung Festival Krakatau 2017
Bersama Badan Penghubung Propinsi Lampung di Jakarta.

Read More

Share Tweet Pin It +1

7 Comments