In Journey Land

Membuka Tahun Baru dengan yang Segar-Segar di Grafika Cikole

Libur panjang Natal dan Tahun Baru tak membuat nyaliku surut untuk menjajaki jalur tol Cikampek dan Cipularang. Mulanya aku dan keluarga berniat ke pemandian air panas di Ciater, Jawa Barat menemani kakek dan nenek Junisatya berendam biar makin bugar di usia lanjutnya. Namun, apa daya, kondisi jalanan tak bersahabat. Kesalahan besar kami adalah kami dengan keras kepala keluar tol Pasteur dan mengambil jalur Punclut yang biasanya menjadi jalur alternatif menuju Jalan Tangkuban Perahu. Ternyata musim liburan begini, jalur Punclut pun padat. Dari Kota Bandung ke Lembang saja menghabiskan waktu 3 jam di jalan. Karena tak mau berlama-lama di jalan, aku mengubah tujuan. Kami mampir ke Taman Grafika Cikole yang berada di jalur Tangkuban Perahu tepat tengah hari.

Taman Grafika Cikole merupakan kawasan resort dan wahana outbond di tengah hutan pinus. Entah kenapa, padahal hampir di setiap perbukitan tentu ada, hutan pinus selalu diminati. Aku sudah mendatangi beberapa kawasan hutan pinus di berbagai daerah. Meski bentuknya sama, tapi hutan pinus itu selalu memesona. Apalagi jika kawasan itu dijaga sebagai lokasi wisata. Karena itu pula, aku dan Junisatya sudah sejak lama ingin sekali ke Grafika Cikole.

Tahun Baru di Grafika Cikole

Tahun baru di Grafika Cikole Lembang

Tahun baru di Grafika Cikole Lembang

Begitu sampai di kawasan Cikole, kami memutuskan makan siang di saung makan Sawarga. Saung ini persis berada di sebelah terminal taman wisata Grafika Cikole. Kupikir karena berlokasi di dekat pusat wisata, harga makanannya akan melonjak tinggi. Tapi tidak di Sawarga. Restoran yang menyediakan saung-saung lesehan di tepi kolam ikan dengan pemandangan suasana outbond hutan pinus, memajang menu makanan tradisional Sunda dengan harga bersahabat di dompet. Jadilah aku memesan makanan sekenyang-kenyangnya di sini sebelum beraktivitas di dalam kawasan hutan pinus Cikole.

Usai makan siang, kami dengan santai berjalan ke pusat informasi Grafika Cikole. Maklum, ini pertama kalinya aku ke Grafika Cikole. Meski sudah baca beberapa artikel tentang Grafika Cikole ini, aku tetap saja masih awam berada di sini. Jadi tuh, voucher tiket masuk dikenai Rp15.000/orang. Voucher itu bisa ditukarkan untuk outbond atau snack di dalam kawasan Grafika Cikole ini. Jadilah aku membeli beberapa tiket masuk. Namun ketika berjalan masuk ke kawasan hutan pinus itu, kami tidak dimintai bukti tiket masuk. Jadi pengunjung bebas langsung berhamburan ke titik-titik cantik di Grafika Cikole itu.

Aku berjalan-jalan di jalan setapak rapi melewati saung-saung restoran dan jajanan. Jalan setapaknya dibuat rapi dengan jalan mendaki dan menurun. Kontur tanahnya memang tidak rata. Mungkin itu pula yang membuat Grafika Cikole ini cantik. Lereng-lerengnya diisi dengan bangku dari beberapa lodge, lalu patung-patung hobbit yang lucu, serta rumah-rumah berbentuk segitiga yang mungil tapi di dalamnya muat hingga 4 orang.

Tahun baru di Grafika Cikole Lembang


Tahun baru di Grafika Cikole Lembang

Tahun baru di Grafika Cikole Lembang

Tahun baru di Grafika Cikole Lembang


Ada beberapa model penginapan yang tersedia di sini. Karena lokasinya berada di tengah hutan pinus, penginapan-penginapan ini juga disesuaikan dengan konsep dekat dengan alam, mulai dari rumah hobbit, glamping, bahkan kemping dengan tenda beneran yang bisa disewa. Area outbondnya juga menarik kok dan cukup luas. Sayangnya aku sedang tidak siap dengan kostum outbond, maklum bawa mamak-mamak dengan para bocahnya serta kakek-nenek. Kalau bawa orangtua sekeluarga seperti ini aku maunya pakai pakaian simple tapi nggak terlalu banyak bawaan, nanti jadi serba repot. Sayang sekali ya, padahal di area seluas ini bisa banget dimanfaatkan untuk kegiatan macam-macam.

Ada beberapa jembatan gantung yang kulihat, terhubung dari rumah pohon satu ke rumah pohon lain. Ada pula area outbond dewasa dan anak-anak. Ada taman strawberry juga, kebun labu dan bunga-bungaan, serta yang paling penting banyak spot foto kece yang bikin hari kita jadi lebih ceria.

Lalu, seorang sepupu menyeletuk, "Kalau begitu, orang nggak perlu bayar tiket masuk. Kalau yang mau naik flying fox, kan memang bayarnya 15.000 rupiah. Kalau yang mau snack juga harganya sama."

Benar juga, ya. Makanya mereka menyebutnya voucher di pusat informasi, bukan tiket masuk. Jadi kalau tidak bayar 15.000 di depan pun tidak apa-apa. Di dalam ada banyak wahana semacam flying fox, rumah pohon, jembatan gantung yang masing-masingnya dikenai biaya sendiri. Itu juga belum termasuk jajanan dan saung-saung restoran. Untungnya sebagian dari kami langsung menukarkan voucher tiket untuk naik flying fox. Jadi nggak rugi.

Tapi, aku nggak jadi menukar dengan outbond (sayang yah), jadinya aku mampir ke saung yang menjual makanan. Aku menukar dengan tempe mendoan saja. Anyway, untuk penukaran snack, ada 3 jenis snack yang bisa ditukar: mendoan, pisang bakar, atau martabak mini. Terserah deh tuh mau pilih yang mana. Terus, kenapa aku memilih melipir ke saung ketimbang ikut flying fox, karena langit Lembang mendadak mendung. Hujan pun turun rintik-rintik dan semakin lebat. Satu lagi kesalahanku, jaket kutinggal di mobil. Udara di sekeliling hutan ini begitu dingin dan angin bertiup kencang. Saung terbuka hanya membantuku dan yang lainnya untuk berteduh. Tidak membantu menghangatkan badan sama sekali. Ternyata Lembang masih dingin, ya, sampai badanku menggigil sendiri.

Tahun baru di Grafika Cikole Lembang


Tahun baru di Grafika Cikole Lembang

Tahun baru di Grafika Cikole Lembang

Begitulah Grafika Cikole dengan segala keindahan yang ditata semenarik mungkin. Area luas di bagian dalamnya masih menunggu untuk ditata juga sepertinya. Siapa tahu nanti saat aku ke sini lagi, Grafika Cikole jadi lebih hidup dengan kebun strawberry, labu, dan jenis buah-buah lain yang tumbuh ranum di area perbukitan.

Oh iya, aku juga punya tips untuk bisa sampai ke lokasi Grafika Cikole ini dari arah Jakarta. Karena akhir-akhir ini Lembang sungguh padat saat weekend, bagi yang mau ke Cikole lebih baik lurus ke tol Cipali dan keluar di pintu tol Subang. Perjalanan dari Subang ke Cikole lebih lega melewati Ciater, daripada harus bermacet-macet dari Kota Bandung menuju Lembang. Perjalanan memang sedikit memutar tapi sangat menghemat waktu dan tenaga.

Read More

Share Tweet Pin It +1

15 Comments

In Abroad Land Journey Land

Dari Minum Jamu Anti Masuk Angin Sebungkus Berdua hingga Dikira TKW di Singapura



Aku paling gemas jika ada yang bilang, "Enak, ya, bisa jalan-jalan terus," atau "Uangnya nggak abis-abis, ya?"

Aku nggak tahu orang yang kerap menanyakan ini beneran pengin tahu atau sekadar sindiran halus, atau sirik terselubung, atau mengamini doa-doa di hatiku yang selalu ingin jalan. Satu hal yang mereka nggak tahu tentang perjalanan demi perjalanan yang kutempuh selama ini: tidak selamanya perjalanan itu identik dengan duit. Lalu aku teringat perjalananku 2 hari di Singapura. Kalau aku ceritakan tentang saat 2 hari itu, apakah kamu akan berhenti menyindirku berduit banyak (aamiin!) dan selalu hidup enak (aamiin!) lalu menghambur-hamburkannya untuk sesuatu yang nggak perlu-perlu amat? Karena tak selamanya perjalanan itu tentang yang enak-enak. Ada kisah pencarian diri, penenangan emosi, dan negosiasi sudut pandang yang sungguh itu tak mudah saat kita lagi di negeri orang. Dan, tidak selamanya perjalanan itu berarti foya-foya. Aku bersyukur di tengah zaman milenial ini, orang tak lagi menganggap jalan-jalan itu foya-foya, tetapi malah dianggap sebagai kebutuhan. Itulah alasan nomor 1 kenapa aku menyukai traveling. Kebutuhan. Yap.

Kali ini aku mau cerita tentang perjalananku di Singapura. Ini bukan tulisan tentang negeri singanya dan destinasi-destinasi yang aku kunjungi karena aku sudah pernah menulis tentang perjalanan ini sebelumnya. Nah, di sini aku mau cerita tentang kenapa aku memilih Singapura waktu itu yang cuma 2 hari dan nggak tahu mau ngapain di sana.

Baca kisahku : Alam Buatan versi Gardens by The Bay, Singapura

Singapura trip dari minum jamu anti masuk angin sebungkus berdua hingga disangka TKW


Backpacker ke Singapura
Ada cerita dari trip Singapura ini.

Tenang, aku nggak sendiri. Aku ditemani seorang teman sehati yang mau-maunya berangkat ke Singapura cuma buat numpang bobo dan pup. Namanya Avi. Ini kisah kami 3 tahun lalu dan sampai kini masih sering dibahas tentang ketololan-ketololan menyesakkan saat berada di sana.

Jadi, apa saja yang terjadi?

1. Kenapa memilih Singapura?

Sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya aku ke Singapura. Begitu juga dengan Avi. Aku pernah ke Singapura pada zaman SMA, dikirim dari sekolah untuk mengikuti Singapore Youth Festival di Esplanade bertahun-tahun yang lalu. Macam anak muda inspiratif yang penuh karya ya waktu itu. Berbeda kisahnya saat aku ke Singapura lagi kali ini.

Jadi ceritanya aku sedang galau dengan tesis dan masalah percintaan (klasik). Lalu, aku punya teman Avi yang mungkin setengah evil kali, ya. Dia menyodorkan pilihan, "Num, kalau lo stres kita ke Singapura aja, yuk. Ada tiket promo, nih. Lumayan." FYI, si Avi ini juga lagi pengin jalan tapi nggak punya teman jalan. Dia sedang proses persiapan kuliah di London tapi beberapa kali gagal. Kisah cintanya juga waktu itu tidak bisa dibanggakan. Jadilah dia meracuniku dengan tiket promo. Dia padahal baru jalan-jalan ke Singapura bersama geng travelingnya yang lain setahun sebelumnya. Dia rela ke sana lagi demi menemaniku yang sedang galau dan hanya demi dia bisa meninggalkan Jakarta beberapa jam. Aku dan Avi memesan tiket promo Tiger Air pulang-pergi Singapura untuk 2 hari saja. Berangkat subuh dan pulang subuh dua hari kemudian. Oh iya, satu lagi, saat kami memesan tiket itu, aku belum gajian. Uang di tangan pas-pasan (derita karyawan yang lagi kuliah S2 dan ngekos bangetlah itu). Kami pun meminjam kartu kredit seorang teman yang sungguh amat percaya pada kami berdua. Berangkatlah kami ke Singapura selang sebulan kemudian.

2. Lari dari kantor

Karena jadwal penerbangan kami pada saat weekdays, aku terpaksa harus mencari alasan untuk kabur dari kantor. Alasannya masuk akal, sih. Aku mengajukan cuti 2 hari lantaran ada uji seminar tesis di kampus (yang sebenarnya gagal karena draf tesis belum di-approve). Pokoknya begitulah, ya. Aku gagal lulus semester itu, makanya aku mengiyakan ajakan Avi untuk melarikan diri dari kesedihan. Lupakan kantor, lupakan kuliah, lupakan cinta juga. Aku dan Avi sudah berada di bandara pagi-pagi buta.

3. Bawa bekal untuk 2 hari di Singapura

Oh iya, aku belum cerita tentang persiapan darurat menjelang berangkat ke Singapura. Sehari sebelumnya, aku ke money changer untuk menukarkan rupiah ke dolar Singapura yang cuma senilai 50 dolar singapura. Lalu, sepulang kantor, aku berkeliling mencari warung makan padang yang menjual dendeng kering. Aku membeli 2 potong dendeng yang ukurannya cukup lebar. Aku melengkapinya dengan 2 bungkus Indomie, 1 pak Tolak Ingin berisi 5 pcs,  dan 1 bungkus Chitato. Aku memasukkan semua bekal itu dalam 1 tas ransel dengan tambahan 1 kotak penuh nasi putih. Kenapa aku harus bawa bekal? Aku dan Avi sudah sepakat tidak akan jajan dan mampir restoran mana pun di Singapura. Cuma 2 hari, kok. Alasannya selain penghematan, biar jalan-jalannya afdhol tanpa harus menghabiskan waktu mampir buat makan. Bawa bekal pasti cukup untuk bertahan hidup di sana. Tapi bekal itu harus masuk dalam 1 ransel berisi pakaian. Jadi nggak perlu ada tentengan tambahan. Itulah syarat backpacking utama versi aku.

Avi pun membawa bekal yang serupa dengan 1 kotak bekal bihun goreng buatan ibunya, 1 bungkus Indomie, dan 1 bungkus Chitato dengan varian rasa berbeda. Wow, ternyata memang kami sehati. Menunya nggak janjian, lho. Aku deg-degan, gimana jadinya kalau bekal ini tidak cukup 2 hari? FYI lagi, aku cuma mengantongi 50 dolar singapura untuk kebutuhan transportasi, akomodasi, perjalanan wisata. Untuk keperluan tak terduga aku berniat menarik uang di ATM sana saja (sambil berdoa waktu itu semoga nggak ada kejadian tak terduga).

Backpacker ke Singapura
Sentosa Island.

3. Makan Sembunyi-sembunyi

Kamu tahu, kan, kalau Singapura itu negara paling rapi se-Asia Tenggara. Bahkan kerapian dan keteraturan setingkat di bawah negeri Swiss (sejauh yang aku tahu ya). Jadi, kami tidak bisa piknik sembarangan. Tapi bukan aku namanya kalau nggak kreatif mencari tempat makan darurat atas dorongan perut yang lapar. Hari pertama di Singapura mengharuskan kami bolak-balik naik MRT bandara Changi-China Town-Marina Bay. Tujuan kami adalah Garden by The Bay. Karena kami memesan segala tiket masuk wisata jauh hari sebelum berangkat, kami harus menukarkan voucher pemesanan di kantor travel agent-nya di China Town. Dengan ransel tersandang, sesiangan itu kami menempuh jarak berkilo-kilometer dengan beberapa kali transit stasiun. Itu juga pakai nyasar dulu di belantara China Town.

Wajar, kan, kalau perutku memanggil-manggil makanan. Gardens by The Bay menawarkan pemandangan cantik dan luas. Untung sepi hari itu. Ada danau-danau buatan di area depan begitu masuk. Aku melongok-longok lokasi pas untuk membuka wadah piknik kami. Akhirnya aku menemukan tempat tersuruk di sudut danau dan tertutupi dahan pohon. Aku sebelumnya sudah mengisi botol minum dengan air kran. Jadi tinggal gelar bekal makanan. Aku makan berdua dengan Avi: nasi plus dendeng dan bihun goreng. Kami makan seirit mungkin dan menyisakannya untuk makan malam. Alhamdulillah, kenyang kok dan aku siap untuk berkeliling di Gardens by The Bay, masuk ke Cloud Forest dan Flower Dome.

4. Perkara masuk angin di bawah Supertree Grove

Begitu keluar dari Cloud Forest, aku kedinginan dan hari sudah gelap. Sebagian baju jadi basah terkena percikan air terjun buatan di dalam dome Cloud Forest. Jadilah kami berdua masuk angin. Kaki pun mulai tak sanggup lagi berjalan. Tujuan akhir malam itu adalah menikmati lampu-lampu kota di Skyway yang masih berada di kawasan Gardens by The Bay. Rasanya ransel di punggung kami mulai berat karena ditarik gravitasi. Di bawah lampu-lampu Skyway yang gemerlap, kami terduduk di bangku-bangku taman sembari mengeringkan badan. Aku juga sempat merebahkan tubuh dengan beralaskan ransel sebagai bantal. Cuaca Singapura sungguh hangat malam itu. Bahkan kami berniat untuk bermalam di taman besar itu saja.  Avi tidak membawa bekal obat-obatan sama sekali. Jadilah bekal Tolak Angin yang kubawa jadi andalan kami berdua untuk segala penyakit dalam perjalanan. Malam di bawah lampu-lampu Supertree Grove menghapus lelah kami yang masuk angin. Tak lama, aku dan Avi mencari tempat yang tertutup bayangan untuk menggelar makan malam kami, menghabiskan sisa makanan tadi siang.

Baca juga : Flower Dome, Istana Megah Para Bunga

Backpacker ke Singapura
Menikmati lampu Skyway yang meriah sambil memijit kaki yang pegal.

Backpacker ke Singapura
Basah-basahan di Sentosa Island abis itu masuk angin.

5. Bermalam di hostel kapsul

Ini pengalaman pertama aku menginap di tempat tidur kapsul berukuran 2x1x1 m. Kami mengambil female room, bergabung dengan wisatawan cewek lain yang tidur seruangan. Tapi, sungguh hostelnya nyaman, cukup bisa membuang lelah kami mengarungi seperempat Singapura seharian. Aku mengerang karena punggung yang super pegal dan telapak kaki bengkak bin lecet karena berjalan kaki seharian. Jalan-jalan itu penuh warna, kan?

6. Sarapan sepuasnya lalu merebus Indomie untuk bekal hari ke-2

Hari kedua akan jadi hari yang melelahkan karena tujuan kami hari itu adalah Universal Studio Singapore. Untungnya sarapan sudah tersedia di hostel. Seduh sendiri dan cuci piring sendiri. Itu artinya kami juga bisa menyeduh Indomie untuk bekal hari itu. Begitu perut kenyang, makanan sudah aman di tas, kami pun check out hostel. Iya, langsung check out meski penerbangan pulang masih esok paginya. Itu artinya pula, kami ke Universal Studio masih dengan menenteng ransel kesayangan. Dari sana aku belajar untuk mandiri, jadi orang yang nggak ribet dan nggak merepotkan orang lain.

Backpacker ke Singapura
Hostel murah meriah yang menampung kami.

Backpacker ke Singapura
Persiapan bekal hari ke-2.

7. Di saat orang jajan hotdog, kami makan mi goreng dingin

Seharian di Universal Studio Singapore, kami tak lagi makan sembunyi-sembunyi. Tapi miris juga, sih. Di saat banyak jajanan di sana, kami memilih melipir, duduk di pinggiran jalan dengan membuka bekal yang telah dibuat di hostel, mi goreng andalan. Karena yang bawa kotak makan cuma aku, jadilah kami makan sepiring berdua. Syahdu sekali, kan. Nggak ada yang benar-benar memperhatikan kami. Hanya aku yang agak miris, di kiri-kanan orang makan hotdog dan burger, kami memilih makanan pengisi perut andalan semua orang Indonesia.

Baca ini : Universal Studio Singapore Tak Sekadar Wahana Bermain

8. Makan chiki irit kayak nyicil kartu kredit

Sebenarnya aku nggak terlalu suka ngemil apalagi chiki. Tapi kali ini chitato yang kubawa bukan lagi sekadar camilan, melainkan menu makanan primer. Saat perut sedikit lapar setelah menonton berbagai atraksi di USS dan memasuki semua wahananya, aku membuka bungkusan chiki kami. Mencamilnya sembari jalan dan menyimpan sisanya kembali. Jadi chiki itu tidak langsung dihabiskan. Siapa tahu nanti tengah malam lapar lagi. Makan chiki aja nyicil kayak bayar tagihan kartu kredit.

9. Menunggu jadwal MRT paling malam

Bermain di USS benar-benar menguras tenaga. Rasanya aku ingin memesan hostel lagi untuk istirahat. Tapi kami sudah memutuskan untuk menginap di Changi Airport biar nggak kesiangan ikut penerbangan pagi ke Jakarta. Sembari menunggu malam, aku dan Avi akhirnya menunggu saja di kawasan Sentosa Island. Udah nggak ada yang dilihat karena sebagian besar toko dan atraksi ditutup. Jadilah kami duduk-duduk santai di pinggir Resort World Sentosa, melihat kapal-kapal pesiar megah di perairan. Asli, buatku ini perjalanan paling lelah karena sepanjang hari menyandang ransel dan perjalanan paling sedih karena super irit, sesedih kisah tesisku yang gagal maju sidang serta kisah cintaku yang mengawang-awang.

Selelah-lelahnya badan, Avi ternyata lebih lelah. Dia sudah mulai nggak konsen melihat jalur peta MRT menuju Changi. Sekitar pukul 10 malam, kami memutuskan naik MRT terakhir dan harus berdebat membaca peta. Ada beberapa kali transit dan beberapa alternatif arah transit. Karena MRT ke Changi benar-benar terbatas, aku harus berpikir cepat memilih jalur tersingkat, menghitung menit-menit MRT yang lewat sehingga kami bisa tiba di Changi tepat waktu.

Baca lagi : Potret 'Life is Waiting' di Changi Airport

Backpacker ke Singapura
Avi dengan tas ransel andalan.

Backpacker ke Singapura
Bisa tidur di mana aja.

10. Minum Tolak Angin sebungkus berdua

Changi Airport punya fasilitas untuk para traveler istirahat. Tapi beda cerita dengan kami yang tiba malam itu. Kami tidak menemukan celah masuk ke kawasan hiburan Changi. Usut diusut ternyata kami harus check in dulu sementara loket check in Tiger Air sudah ditutup (3 tahun lalu belum ada web check in se-simple sekarang). Jadilah kami berputar-putar antar terminal naik skytrain mencari tempat paling nyaman untuk tidur. Apalagi AC Changi menyengat badan. Aku merasa sangat butuh minum yang hangat-hangat. Tolak Angin sisa 1 bungkus. Akhirnya aku rela berbagi dengan Avi. Belum pernah, kan, kamu minum Tolak Angin sebungkus berdua? Aku sendiri belum pernah. Ini demi kami nggak mati kedinginan malam itu. Kami mencari tempat salat, semua fasilitas bagus itu ada di area 'waiting area'. Sementara kami belum bisa masuk. Jadilah salat di lorong-lorong sepi dekat lift. Lalu tidur di bangku-bangku kayu sambil meringkuk kedinginan.

Rupanya Avi masih punya pundi-pundi receh. Aku mengucap syukur. Lewat tengah malam, setelah menghitung sisa pundi-pundi recehnya cukup untuk membeli 1 paket burger di McD, kami masuklah ke McD bandara. Tujuannya bukan buat makan, tapi buat tidur karena bangkunya terlihat lebih nyaman untuk tidur. 1 paket burger + kentang goreng menemani malam kami terdampar di bandara. Lalu dengan bantal berupa mukena dan menutupi kaki dengan ransel, kami meringkuk bersama para traveler lain di bangku-bangku McD.

11. Disangka TKW mau pulang kampung

Aku bahagia ketika pagi datang. Itu artinya loket check in sudah dibuka. Meski badan rasanya remuk semua, kami punya waktu 2 jam untuk tur Changi Airport antar terminal. Aku mencoba semua fasilitas Changi Airport sebagai terminal penerbangan terbaik se-Asia. Nggak pakai mandi. Mandinya pas udah sampai Jakarta saja. Begitu kataku pada Avi. Setelah puas menikmati fasilitas di Changi Airport, ada seorang ibu yang kebetulan orang Indonesia ikut berjalan dengan kami menuju gate. Kira-kira percakapannya begini:
Ibu : Mau pulang ke mana, dek?
Aku : Ke Jakarta.
Ibu : Kerja di daerah mana?
Aku : Di perusahaan swasta pokoknya.
Ibu : Oh. Ini dapat cuti berapa hari?
Aku : ???
Ibu : Saya pulang mau nengokin anak.
Aku : Oh begitu.
Ibu : Kamu balik lagi ke sini kapan?
Aku : (agak heran) Belum tau, Bu. Kan saya kerja juga.
Ibu : Oh, di Jakarta kerja juga. Bisa cuti lama gitu ya di sini?
Aku : ~!@#$%^&*()_+

Jadi kesimpulannya, ibu ini mengira aku TKW di Singapura dan sedang ambil cuti buat bisa pulang ke Jakarta. Oke sip.

Backpacker ke Singapura
Biar disangka TKW tapi tetap hepi.

12. Last Call dan Kehilangan Paspor

Berlari-lari karena last call di terminal Changi yang super besar ini beneran menjadi penutup kisah perjalanan kami di Singapura. Di gate yang dituju, perjalanan kami diakhiri dengan petugas yang meminta kami mengeluarkan paspor. Aku mengeluarkan pasporku dan boarding pass kami berdua, sementara Avi bahkan tidak tahu paspornya ada di mana. Dia hanya menyerahkan tentengan tas kepada petugas tanpa sadar. Dia pun tidak menjawab saat diintrogasi petugas. Seketika kemampuan bahasa Inggrisnya hilang begitu saja lantaran tenaganya overlimit. Avi hanya bengong dan pelanga-pelongo karena tubuhnya butuh waktu untuk mencerna bahwa paspornya hilang. Untungnya petugasnya tahu kalau pesawat kami sudah detik-detik berangkat. Kami dibiarkan berlari menuju kabin pesawat. Misteri paspor Avi terjawab begitu kami sampai di bangku kabin. Paspornya ada di tasku, tersimpan di sana usai kami check in.

Begitulah kisah 2 hariku di Singapura. Oh iya, itu belum sepenuhnya lengkap. Begitu sampai di Jakarta, aku nggak langsung pulang. Ingat, kan, aku izin kantornya cuma 2 hari. Itu artinya aku langsung ke kantor dari bandara. Tanpa mandi. Sekian.

Backpacker ke Singapura
Partner trip paling kece.

Sampai kini, Avi masih jadi partner traveling terbaikku. Friends who travel together, stay forever. Kisah percintaannya sudah terjawab di akhir tahun kemarin saat ia menikah dengan mantan teman kantornya. Lalu soal cerita studi di luar negeri pun diganti dengan lanjut S2 di UI dan sudah lulus dengan gelar cumlaude. What a year. Tuhan selalu punya rencana manis untuk kita. Saat aku mengakhiri seluruh kegalauan hati di tahun 2015, Avi meraih pencapaiannya di tahun 2017. Sejak 2 hari di Singapura itu, aku banyak belajar tentang negosiasi dengan keadaan.  Meski cuma Singapura, yang dilihat bukan destinasinya, melainkan bagaimana kami bisa menikmati proses perjalanan itu sendiri sebagai bentuk kontemplasi diri.

Jadi, di balik foto yang manis, ada kisah miris juga, lho.
 

Read More

Share Tweet Pin It +1

10 Comments

In Journey Land

Menjemput Rindu di Candi Borobudur

Dulu, beberapa tahun silam kalau ada pertanyaan tentang 7 keajaiban dunia, aku pasti menyebutkan Candi Borobudur salah satunya. Begitu bangganya seorang aku yang masih mengenakan rok pendek merah dan kemeja putih lalu duduk di bangku sekolah dasar. Padahal aku mengenyam sekolah jauh dari lokasi Candi Borobudur berdiri. Sejak sekolah dasar, semua murid senasional telah mengenal Candi Borobudur, entah dari buku pelajaran sekolah, buku ilmu pengetahuan umum, foto-foto yang dibingkai dan dipajang di dinding sekolah, bahkan melihat liputannya di televisi. Sedari kecil, telah ditanamkan rasa bangga terhadap keberadaan candi megah ini sebagai peninggalan Dinasti Syailendra berpuluh abad silam. Candi Borobudur ada di Indonesia dan bersanding dengan 7 keajaiban dunia. Kurang bangga apa anak-anak sekolah mendengar cerita itu. Begitulah aku mengenal Candi Borobudur lewat gambar dan kisah.

Baru-baru inilah aku akhirnya bisa menginjakkan kaki langsung di tanah Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah. Iya, setelah sekian tahun berlalu. Jangan tertawa, ya.

Berawal dari tiket KAI murah di KAI Travel Fair tahun lalu, aku mengambil tiket eksekutif seharga kereta api ekonomi tujuan Yogyakarta. Ssst. Ini juga pertama kalinya aku naik kereta api kelas eksekutif. Maklum, anaknya biasa naik pesawat. :))

Menjemput rindu di candi borobudur

Aku sengaja mengambil perjalanan malam agar sampai di Yogyakarta sebelum subuh. Pengennya sih subuh udah sampai di Magelang karena katanya Candi Borobudur tampak lebih syahdu saat sunrise. Tapi apa daya, sunrise di candi telat karena harus check in hotel dulu di Jogja bersama Junisatya dan beberapa teman. Kami baru bisa bertolak ke Magelang setelah menyewa mobil di Jogja.

Betapa senangnya aku pagi itu. Stupa-stupa dan relief candi sudah berjajar di depan mata. Inilah angan masa kecilku, ingin menyentuh batu-batu purba ini. Candi Borobudur menjadi terkenal di seluruh dunia karena keunikan arsitekturnya yang mampu bertahan berabad-abad. Untuk ukuran bangunan yang disusun dengan batu dan dibangun pada abad ke-8 Masehi, tentu menjadi suatu hal yang menarik. Itu artinya pengetahuan masyarakat setempat dalam penyusunan undakan bebatuan ini sudah maju.

Aku mengagumi pijakan-pijakan yang kulalui untuk naik ke setiap undakan dan teras di candi ini. Undakan-undakan itu tak serta merta tanpa makna. Ada sistem tingkatan pencapaian menuju kesucian dalam agama Buddha, Kamadhatu (hawa nafsu), Rupadhatu (wujud), dan Arupadhatu (tak berwujud). Setiap tingkatan di candi ini juga memiliki cerita sendiri yang tergambar dalam relief-relief yang terdapat di dindingnya. Setiap relief dibatasi oleh pagar langkan dengan arca-arca Buddha berukuran kecil serta stupa yang juga berukuran kecil. Stupa besar aku temui di lantai atas yang berjumlah 72 stupa yang mengelilingi satu stupa utama yang ukurannya lebih besar lagi. Di setiap 72 stupa itu terdapat patung Buddha yang menghadap ke semua penjuru.

Menjemput rindu di Candi Borobudur
Panorama alam di sekeliling candi juga jadi objek penyegar mata.

Menjemput rindu di Candi Borobudur
Junisatya dengan sabar menemaniku berkeliling candi.


Ketika berada di undakan teratas Candi Borobudur ini, aku melihat alam perbukitan mengelilingi candi. Aku membayangkan sunrise di sini pasti cantik sekali. Dengan siluet stupa-stupa ini dan beberapa arca Buddha yang menghadap ke perbukitan itu, pemandangannya tentu sangat menarik. Namun, sesiangan begini juga tak kalah cantik. Yang terlihat justru barisan bukit yang subur dengan langit cerah menaungi. Pantas saja orang betah berada di Candi Borobudur meski panas. Pemandangan alam sekitarnya malah tak kalah cantik dari bangunan candinya sendiri.

Konon katanya, bukit-bukit inilah yang melindungi Candi Borobudur selama berabad-abad. Jika langit sedang cerah, tampak puncak Gunung Merapi dan Merbabu serta Menoreh yang seakan memang menjadi penjaga candi megah ini. Berada di tingkat paling atas candi, bersisian dengan satu stupa paling besar, mau tak mau membuatku mengagumi lokasi candi ini berdiri. Desa Borobudur sudah sejak lama memelihara produk dari Dinasti Syailendra ini meski sempat ditinggalkan saat Gunung Merapi meletus hebat pada abad ke-10 yang menyebabkan candi ini terkubur.

Ketika aku mengunjungi museum Candi Borobudur yang masih berada di kawasan taman candi ini, aku membaca sejarah renovasi candi. Ternyata pada saat Gunung Merapi meletus lagi beberapa tahun lalu, beberapa stupa sempat rubuh diguncang gempa. Permukaan candi pun tak bisa dielakkan dari abu vulkanik. Beberapa bencana alam memang mempengaruhi kekokohan dan bentuk candi. Karena itu Candi Borobudur sendiri sudah mengalami beberapa periode pemugaran. Dari gambar-gambar yang dipajang di museum, aku baru tahu bahwa dulu kala, saat Gubernur Jenderal Inggris bernama Raffles yang menemukan Candi Borobudur, kondisinya jauh dari bentuk candi yang bisa kita lihat sekarang. Dulu kala, susunan stupa dan arca tidak serapi sekarang. Tumpukan batu begitu berlumut serta batu dengan ukiran gambar yang kini kita sebut relief masih jauh dari bersih. Rupanya, tim penemu di bawah pemerintahan Raffles pada saat itu menafsirkan adanya satu situs besar yang tersusun dari bebatuan dan bentuknya berundak-undak. Sampai saat ini masih dilakukan penelitian terhadap candi ini, baik dari segi relief, prasasti, maupun temuan jenis batu, karena belum diketahui pasti siapa yang membangun candi ini.

Menjemput rindu di Candi Borobudur
Susunan batu berundak-undak dengan undakan penuh stupa dan arca Buddha.


Menjemput rindu di Candi Borobudur
Geng trip ke Candi Borobudur.


Menjemput rindu di Candi Borobudur
Setiap tangga menghadap ke 4 arah mata angin.

Kini, setelah Candi Borobudur ditangani oleh UNESCO untuk renovasi bangunan, kondisinya jauh lebih kokoh. Pondasi bebatuannya diperkuat. Perawatan terhadap batu yang berjamur juga dilakukan dengan rutin. Di museum ada beberapa keterangan jenis jamur yang biasa tumbuh di batu-batu candi dan bagaimana cara penanganannya. Di museum Candi Borobudur itu pula disimpan sisa-sisa batu yang hancur karena gempa atau bencana lain. Ada pula arca Buddha khusus yang sengaja disimpan di museum. Konon, arca itulah yang mengisi rongga stupa induk di tingkatan candi paling atas.

Mungkin kalau kita tahu sepenuhnya tentang makna relief yang terdapat di dinding candi serta bagaimana awal mula candi ini terbentuk, aku rasa Candi Borobudur jadi monumen kaya inspirasi. Kisah-kisah perjalanan hidup Buddha serta pola hidup umat Buddha bisa jadi inspirasi kisah kemanusiaan, tak hanya berbicara tentang agama dan kepercayaan, melainkan tentang manusia itu sendiri.

Berjalan-jalan di Candi Borobudur membuatku me-refresh beberapa pengetahuan sejarah. Meski tidak terlalu mendalam, tapi aku puas bisa melihat langsung bangunan berusia berabad-abad itu sebagai bentuk bukti sejarah, bahwa para pembangunnya sudah berpikiran maju tentang arsitektur. Kini, Candi Borobudur menjadi tempat ziarah bagi umat Buddha serta dibuka untuk wisata dari berbagai negara. Situs yang jadi warisan dunia ini memang menjadi ikonik sekali. Indonesia rasanya tak lepas dari bentuk stupa yang ada di Candi Borobudur. Iya, Candi Borobudur seterkenal itu.

Menjemput rindu di Candi Borobudur
Batu-batu candi yang dipamerkan di museum Candi Borobudur.

Menjemput rindu di Candi Borobudur
Akhirnya bisa ke Candi Borobudur juga.

Lihat saja pasar souvenir yang berjajar di pintu keluar candi, sungguh padat. Kalau tidak tahu jalan keluar langsung, kita akan terjebak berputar-putar di pasar souvenir menjelang pintu keluar terbuka. Aku sendiri terjebak padahal sedang tidak ingin berbelanja souvenir. Yang penting sudah melihat dan menelusuri kemegahan Candi Borobudur, kurasa cukup. Aku menata rindu bertahun-tahun pada kebesaran candi ini dan kini pun tersampaikan. Mungkin memang lain kali aku menjemput sunrise di Borobudur agar kunjungan ke candi ini jadi lengkap sempurna.

Read More

Share Tweet Pin It +1

22 Comments