In Abroad Land Journey Land

Cara Mendapatkan Visa Bulgaria

Aku baru saja menghabiskan musim semi di Bulgaria sekaligus melewatkan awal Ramadan di negeri bunga mawar itu. Kalau diingat-ingat, persiapanku untuk sampai ke negeri penghasil yogurt terbaik ini butuh proses yang panjang. Aku ke sana bukan untuk sekolah, kok, tapi bukan untuk liburan juga. Aku kembali diminta ibuku untuk mendampingi beliau dan tim tarinya ikut dalam festival The World Cup of Folklore-Veliko Tarnovo 2018. Aku tentu tidak menolak saat diajak ke luar negeri lagi sekaligus mengemban tugas sebagai Road Manager dan penerjemah padahal bahasa Inggrisku nggak bagus-bagus amat. Setidaknya hal paling krusial--saat kami harus melewati imigrasi border--bisa kuurus dengan mulus. Jadi tanggung jawabku-lah semua anggota tim dapat lolos border itu. Maklum, paspor berlambang Garuda masih sering dipertanyakan saat pengecekan di imigrasi border wilayah Eropa.


Berada di landmark Kota Veliko Tarnovo.

Proses persiapan keberangkatannya kurang lebih 6 bulan dan keputusan untuk berangkat itu hanya tidak kurang dari 2 bulan karena menunggu sponsor dan izin lain-lain. Aku cuma punya waktu tak lebih dari 2 bulan untuk mencari info pengurusan visa Bulgaria. Aku sedikit berharap Bulgaria ini bisa menggunakan e-visa seperti perjalananku ke Georgia tahun lalu. Tapi harapanku salah.

Belum banyak info tentang pengurusan visa Bulgaria untuk orang Indonesia di website, blog, atau pun youtube. Kalau pun ada, artikelnya ditulis beberapa tahun lalu. Mari ku-update, ya. FYI, Bulgaria tidak termasuk negara Schengen yang menaungi sebagian besar negara-negara di Eropa. Jadi kita tidak bisa mengajukan visa Schengen untuk memasuki negara Bulgaria. Kecuali kalau kamu punya visa Schengen mutiple entry yang masih berlaku, kamu bisa seenaknya keluar-masuk Bulgaria, kok, asalkan datangnya dari negara anggota Schengen. Dengar-dengar, Bulgaria sedang mengajukan diri untuk masuk klub schengen. Mudah-mudahan bisa berhasil. Untuk sementara, bagi yang ingin ke Bulgaria, kamu harus susah payah langsung urus ke kedutaannya langsung. Lebih baik begitu dibanding lewat lembaga pengurusan visa lainnya.

Begini langkah-langkah yang kuambil untuk pengurusan visa.

1. Cek website resmi Ministry of Foreign Affairs The Republic of Bulgaria

Website untuk informasi pengurusan visa Bulgaria
Klik website resminya.
 
Aku menemukan website ini saat membuka laman resmi Kementerian Luar Negeri RI tentang KBRI di Sofia, ibukota Bulgaria. Tinggal buka www.mfa.bg lalu pilih menu English di sudut kanan atas biar kamu jadi nggak buta huruf. Klik box bertuliskan 'Visas' di samping kanan laman utama website. Nanti kita akan dirujuk ke kanal Consular Services. Tinggal pilih menu Travel to Bulgaria. Di sana muncul sejumlah aturan dan syarat pengajuan visa. Sesuaikan jenis visa dengan tujuan kedatangan ke negara itu. Karena aku datang ke Bulgaria dalam rangka misi pertukaran kebudayaan, berarti jenis visa yang kuajukan adalah Tipe C (untuk kedatangan singkat yang bertujuan khusus seperti bisnis, pertukaran budaya, dan liburan).

2. Unduh formulir pengajuan visa dari website

Formulir Pengajuan Visa Bulgaria
Formulir pengajuan Visa Bulgaria.

Setelah baca semua persyaratan, aku mengunduh formulir pengajuan visa dan mengisinya lengkap (langsung klik link ini). Kosongkan bagian tanda tangan dan tanggal pengisian formulir di 2 halaman terakhir. Kita baru boleh tanda tangan saat berada di depan konsulat di kantor Kedutaan Bulgaria setelah sesi wawancara. Ini penting karena aku sempat disuruh print ulang formulir dan mengisinya kembali. Cuma gara-gara tanda tangan yang langsung dibubuhi, aku harus isi formulir yang meminta informasi diri super detail itu dari awal.

3. Siapkan semua persyaratan pengajuan visa

Syarat penting yang bikin deg-degan (bagi yang sudah biasa mengajukan visa Schengen, tentu tahu persyaratan panjang ini. Lebih kurang sama kok untuk Bulgaria), antara lain:
  • Paspor yang masih berlaku dan fotokopinya.

  • Fotokopi semua halaman yang sudah ada cap imigrasi.

    Mungkin mereka ingin melihat track records perjalanan luar negeri kita.
  • Fotokopi visa Schengen 3 tahun terakhir jika punya. 

    Ini jadi pertimbangan utama visa disetujui jika sudah ada visa schengen duluan. Sayangnya, aku pernah punya visa schengen 5 tahun yang lalu waktu ke Swiss, jadi tidak masuk hitungan.
  • Fotokopi KTP. 

    Bawa KTP asli juga saat wawancara, jangan ditinggal di satpam kedutaan ya. Pihak security biasanya minta tanda pengenal untuk ditinggal di pintu gerbang, berikan SIM atau tanda pengenal lain selain KTP karena KTP penting saat ketemu konsulat.
  • Pas Foto 3,5 x 4,5 cm berlatar putih dengan wajah dan telinga terlihat. 

    Bagi yang berjilbab, dengan berat hati harus rela berfoto dengan menampakkan sedikit garis rambut dan garis telinga.
  • Surat undangan dari instansi di Bulgaria untuk tujuan bisnis dan cultural exchange. 

    Aku melampirkan surat undangan dari EAFF (European Association of Folklore Festivals), pihak penyelenggara The World Cup of Folklore Veliko Tarnovo, Bulgaria dan juga surat rekomendasi dari Municipality of Veliko Tarnovo. Ini surat ampuh untuk mendapatkan visa Bulgaria karena rekomendasi langsung dari pejabat pemerintahnya. Sebagai tambahan, aku juga menghubungi KBRI di Bulgaria untuk memberi tahu keikutsertaan kami dalam festival di sana. KBRI menyambut baik dan mengirimkan surat rekomendasi 'Visa Calling' secara resmi untuk Kedutaan Besar Republik Bulgaria di Jakarta.
  • Dokumen polis asuransi perjalanan. 

    Aku pakai asuransi Allianz untuk perjalanan ke Bulgaria ini.
  • Bukti booking tiket pesawat pulang-pergi ke Bulgaria. 

    Aku langsung beli tiketnya di Traveloka karena murah. Ini modal nekat, sih, langsung membeli tiket padahal belum tentu visa diterima. Itulah sebabnya aku deg-degan selama pengajuan visa ini.
  • Bukti reservasi hotel dan transportasi.

    Panitia sudah menyiapkan akomodasi untuk kami selama berada di Veliko Tarnovo. Mereka mengirimkan dokumen reservasi hotel dan restoran untuk mempermudah kami mengurus visa. Jadi, aku tinggal melampirkan semua dokumen itu.
  • Rekening koran atau bukti pembayaran kepada travel agent atau surat rekomendasi dari sponsor. 

    Aku melampirkan yang terakhir, surat rekomendasi dari pihak sponsor dan penyelenggara program pertukaran budaya. Kalau rekening sendiri, bisa-bisa pengajuan visa-ku ditolak lantaran isi tabungan sekarat.
  • Surat pernyataan dari instansi tempat bekerja atau surat keterangan sekolah bagi yang sedang studi. 

    Surat menyurat ini ditulis dalam bahasa Inggris. Karena aku blogger yang berkantor di mana saja, aku melampirkan surat keterangan keanggotaan dari Galang Dance Community. Keanggotaanku berstatus seumur hidup sepertinya karena yang punya ibuku sendiri. Itu artinya aku harus mengabdi dunia-akhirat kepada beliau. *berat
  • Bagi traveler di bawah umur (di bawah 18 tahun) harus memenuhi syarat khusus, yaitu surat izin kedua orangtua yang ditandatangani di atas segel notaris, akte kelahiran, dan surat izin sekolah.

    Surat notaris dan surat izin sekolah ditulis dalam bahasa Inggris.

4. Buat janji temu dengan Konsulat Bulgaria via telepon

Setelah syarat dipenuhi, saatnya membuat janji untuk datang ke kantor Kedutaan Besar Republik Bulgaria di Jakarta. Iya, harus bikin janji dulu, ya. Mereka punya jadwal sendiri untuk menerima tamu yang ingin mengajukan visa. Kalau belum buat janji, kita tidak diperkenankan masuk. Nomor telepon atau email tercantum di website, kok. Setelah diberi tahu jadwalnya, kita baru boleh datang ke kantornya dengan menyerahkan semua dokumen untuk pengajuan visa. Ohya, pengajuan visa ke Bulgaria tidak dapat diwakilkan. Aku mengurusi visa untuk 8 orang, jadi 8 orang itu harus hadir pada waktu yang telah ditentukan oleh konsulat saat kita membuat janji temu. Hal ini memang sangat merepotkan mengingat tim Galang yang berangkat ini berdomisili di Padang. Jadi aku harus memastikan mereka berangkat ke Jakarta sehari sebelum jadwal pertemuan di kedutaan.

5. Datang ke Kantor Kedutaan Bulgaria di Jakarta

Mengurus Visa Bulgaria di Kedutaan Bulgaria di Jakarta
Wajah lega usai wawancara pengajuan visa di Kedutaan Besar Republik Bulgaria.
Di kantor kedutaan Bulgaria, kita akan bertemu konsulat dan langsung ditanyai macam-macam tentang persiapan perjalanan ke negaranya itu. Nggak perlu grogi karena konsulatnya sangat ramah. Beliau antusias sekali saat kami diundang datang ke negaranya untuk ikut festival. Dia malah ingin melihat display tarian tradisional Minangkabau yang akan kami bawa ke sana. Setelah sesi wawancara selesai, satu per satu personel kami diminta menandatangani formulir pengajuan visa. Setelah itu, satu per satu pula kami diminta untuk masuk ruangan foto. Lagi-lagi, yang berjilbab kali ini harus merenggangkan jilbab sampai belakang telinga, macam pas foto zaman Orde Baru. Untungnya konsulatnya perempuan. Dia memberikan privasi kepadaku untuk merapikan jilbab sebelum berfoto dan setelahnya. Tujuan foto ini untuk mendeteksi garis dan titik wajah hingga telinga. Ini prosedur wajib dari negara mereka. Yang penting, fotonya harus senyum karena katanya orang Bulgaria suka senyum. Iya, deh. :)

6. Siapkan uang 60 Euro

Pengajuan visa Bulgaria dikenai tarif 60 Euro per orang untuk usia di atas 25 tahun. Di bawah itu,--karena tujuan perjalanan kami untuk pertukaran budaya--pengajuan visa tidak dikenai biaya. Alasan mereka karena di bawah 25 tahun masih usia pelajar sementara Bulgaria sangat concern dengan pendidikan. Untungnya sebagian besar anggota tim Galang masih usia 17-18 tahun. Mereka jadi bebas biaya. Namun, repot mengurusi surat izin orangtua menggunakan segel dari notaris.

Pembayaran visa dalam bentuk cash, ya dan sudah ditukarkan dalam bentuk Euro, bukan rupiah.

7. Status visa diinformasikan lewat telepon setelah 14 hari kerja

Menunggu telepon dari kedutaan dalam 14 hari kerja memang bikin senewen. Kita nggak bisa seenaknya menanyakan kapan proses visa selesai. Di sini kesabaranku sangat diuji karena benar-benar harus menunggu entah sampai kapan. Yang pasti ponsel selalu aktif dan siap menerima kabar dari kedutaan Bulgaria kapan pun. Aku jadi tidak bisa menjanjikan persiapan apa-apa kepada anggota tim selama visa belum di tangan.

8. Siapkan tiket pesawat yang sudah issued untuk pengambilan visa

Akhirnya, suatu hari sekretaris kedutaan meneleponku. Katanya pengajuan visaku diterima. Beliau menyuruhku menyiapkan tiket yang sudah issued untuk dibawa ke kantornya saat pengambilan visa. Karena memang saat pengajuan visa, aku sudah melampirkan tiket pesawat yang issued (padahal bisa melampirkan bookingan tiket sebelum issued jika memesan tiket pesawat lewat travel agent), jadi tanpa harus repot mencari tiket pesawat, aku langsung meluncur ke kedutaan. Di sana, aku harus menunggu beberapa saat. Mereka langsung mencetak visa dan menempelnya di paspor pada saat aku menyerahkan tiket pesawat resmi. Dan... visa Bulgaria sudah di tangan.

Aku mendapatkan visa single entry yang berlaku 1 bulan. Sebentar sekali memang. Tapi, bisa menginjakkan kaki di negara Bulgaria saja, aku sangat bersyukur. Aku memang tidak berniat extend padahal sangat ingin menjelajah negara Bulgaria. Ya, karena faktor pekerjaan dan tanggung jawab kepada tim, aku harus mendampingi mereka dari berangkat dan memulangkan anggotanya dengan selamat.

Cara mendapatkan visa Bulgaria
Ini penampakan visa Bulgaria punyaku.

Sofia Airport, Bulgaria
Aku dan Tim Galang Dance tiba di Sofia Airport dan disambut oleh KBRI Bulgaria.

Konsulatnya berpesan padaku bahwa bulan Juni masih musim semi. Cuaca cenderung tidak stabil. Kami harus bisa menyesuaikan diri dengan iklim. Dia mendoakan perjalanan kami lancar dan misi kebudayaan kami sukses. Konsulat yang sangat bersemangat ini menyuruhku berjanji untuk mengirimkan video tari saat penampilan di sana. Janji itu akan kupenuhi setelah tulisan ini tayang karena baru selesai tahap editing. Kalau kamu mau lihat juga, bisa langsung cek di youtube Galang Art.


Informasi

Kedutaan Besar Republik Bulgaria di Jakarta
Jalan Imam Bonjol no. 34-36, Jakarta 10310
Telepon: +62213904048; +62 21 391 31 30
Consulate: embassy.jakarta@mfa.bg 

Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria, Albania, dan Macedonia
Jalan Yosef Valdhard no. 5 (Simeonovsko Shosse) 1700 Sofia BULGARIA
Telepon: (359-2) 9625240, 9626170, 8683220
Email : kbrisofia@indonesia.bg

Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In Movie Land

Dari Rote, Road Trip Pulau Jawa, Lalu Kulari ke Pantai

Kulari ke Pantai: frasa yang sangat dekat dengan kita, mudah dilafalkan, dan memang dipahami semua orang. Kulari ke Pantai menjadi satu judul film anak yang digarap oleh tim Mira Lesmana dan Riri Riza di bawah payung Miles Film. Rasanya mendengar atau membaca frasa 'Kulari ke Pantai' membuat kita termotivasi untuk piknik, tersirat keceriaan, dan sarat dengan perjalanan. Karena itu, aku memutuskan nonton film ini pada hari pertama penayangannya di bioskop.

Kulari ke Pantai bercerita tentang Samudera Biru alias Sam (Maisha Kanna), anak dari Ibu Uci yang tinggal di Rote. Saat liburan sekolah tiba, Sam sudah merencanakan perjalanan jalur darat dari Jakarta menuju Banyuwangi hanya bersama ibunya. Ayahnya saja tidak diajak. Rupanya di balik keceriaannya di Rote, Sam berasal dari Jakarta. Pekerjaan ayahnya lah yang membawanya pindah dan menyatu dengan Rote, laut, dan olahraga surfing. Inilah tujuan perjalanan Sam, bertemu dengan tokoh surfing idolanya, Kailani Johnson.

Namun, rencana baik biasanya selalu ada rintangan. Pengacaunya adalah sepupu Sam sendiri, Happy (Lil'li Latisha), yang hidup bertolak belakang dengan Sam. Happy tumbuh di kota besar Jakarta dengan segala gemerlapnya, membuatnya manja dan selalu ingin jadi pusat perhatian. Happy terpaksa ikut road trip Sam dengan ibunya lantaran dihukum karena mengatai Sam 'anak kampung'. Dari sanalah perjalanan punya cerita.

Review film Kulari ke Pantai (1) - source: www.instagram.com/milesfilms

Tingkah Sam dan Happy yang bermusuhan, saling mengisengi, dan saling gengsi bergulir dari daerah ke daerah. Ada beberapa daerah yang mereka singgahi dan di setiap daerah itu, ada saja yang membuat kita tertawa, terenyuh, bahkan geli sendiri. Sam tanpa Happy mungkin akan hambar. Begitu juga sebaliknya. Lalu, ibu Sam (Marsha Timothy) menjadi penengah di antara mereka. Ada juga Kaka Dani (Suku_Dani), teman seperjalanan mereka yang tiba-tiba muncul ketika Sam atau Happy butuh.

Memang benar ya, yang paling penting dalam setiap perjalanan bukanlah destinasinya tapi perjalanan itu sendiri. Tujuan Sam untuk bertemu idola surfernya di pantai G-Land Banyuwangi harus menghadapi banyak rintangan. Padahal dari awal ia sudah menegaskan pada ibunya bahwa Happy tidak boleh mengacaukan rencananya bertemu Kailani. Lalu, apa yang terjadi?

Tonton ajalah sendiri. Aku nggak mau spoiler.

Plot perjalanan Kulari ke Pantai paling banyak memang diambil di mobil yang sedang berjalan dengan view sawah, perbukitan, jalur panjang, dan alun-alun setiap daerah yang disinggahi. Natural view ini menjadi hal yang sangat memanjakan mata. Apalagi temanya perjalanan keluarga. Secara keseluruhan, plot sangat mengikat penonton anak-anak dan menawan mereka di sepanjang cerita. Isu-isu tentang Sam yang punya sindrom sugar rush dan tingkah kelebihan energinya mengundang gelak tawa. Belum lagi kekocakan Mukhidi, sang pemilik penginapan di daerah Temanggung yang selalu teriak-teriak di lingkungan penginapannya yang asri dan tenang untuk kontemplasi. Adegan juara menurutku adalah saat Ibu Uci yang marah sepanjang jalan layaknya ibu yang kelelahan menghadapi 2 anak gadisnya, ditambah rasa lelah menyetir sebagai single fighter, dan mungkin pula sedang PMS. Acting Marsha Timothy memang tidak sia-sia menjadi ibu Sam yang asyik tetapi juga tegas. Lalu, ada isu tegas lain, seperti sentilan penggunaan bahasa Inggris yang dilekatkan pada karakter Happy dan dibuat kontradiktif dengan tokoh Kakak Dani, bule kelahiran Papua yang fasih berbahasa Indonesia dialek Papua. Sentilan juga datang saat Sam, ibunya, dan Happy bertemu geng Ordinary di Bromo, yang lebih mementingkan foto wajah daripada pemandangan alam yang indah. Kebayang serunya perjalanan ketika bertemu tingkah orang yang berbeda-beda, bukan?

Review film Kulari ke Pantai (2) - source: www.instagram.com/milesfilms


Kehadiran Happy sangat menyorot perhatian. Perjalanan selalu mengubah seseorang. Karakter Happy mengalami proses itu. Matanya lebih banyak memandang dari biasanya dan kakinya lebih banyak melangkah dari biasanya. Happy pun banyak sekali belajar dari pengalaman road trip itu yang belum pernah keluarganya lakukan. Berbeda dengan Sam yang memang hidup sangat dekat dengan alam menawan kita dengan sosoknya yang benar-benar menyatu dalam perjalanan.

Cerita demi cerita bergulir, menyatukan kita dengan keindahan Pulau Jawa, dari suasana pedesaan, gunung, sungai hingga pantai berombak besar. Namun, ada beberapa hal yang mengganjal. Nilai kelokalan kurang terekspose lantaran filmmaker asyik dengan gambar dan warna, padahal setiap singgah di satu daerah, seharusnya kita diberi corak dialek dan nilai budaya yang dapat dieksplor di tempat itu. Lalu, ketika karakter Happy berjalan dalam cerita dan mengalami gejolak dan perubahan, karakter Sam kadang jadi bayang-bayangnya. Namun, beberapa kali juga menguat ketika Sam memainkan peran sebagai surfer, bocah pulau polos, dan semangatnya ketika bertemu orang baru. Tujuan destinasi Sam, Happy, dan ibunya adalah bertemu Kailani. Bertemu atau tidak di bagian akhir (aku nggak mau spoiler di sini), seharusnya cerita mengantarkan kita untuk mengenal Kailani terlebih dahulu. Siapa dia? Surfer dari manakah dia? Dan sehebat apa dia hingga diidolakan oleh anak pulau seperti Sam? Karena aku bukan surfer, jadi aku tidak mengenal nama Kailani Johnson. Dan, nama Kailani kerap disebut hampir di setiap langkah Sam. Seharusnya ini jadi sebuah pengetahun baru buat orang awam sepertiku dan cerita di film ini tentu akan lebih bermakna lagi. Dengan demikian, Kulari ke Pantai memang mengisi kisah perjalanan, mendekatkan kita dengan keluarga, memberi nilai positif tentang kehidupan alam laut, dan ditambah dengan satu pengetahuan kecil tentang dunia surfing.

Review Film Kulari ke Pantai (3) - source: www.instagram.com/milesfilms


Kalau untuk anak-anak, film ini akan sangat membuai. Aku sudah menanyakan ke beberapa adik yang kubawa menonton bersama film ini. Kalau untukku sendiri, Kulari ke Pantai berlari-lari dari jalan ke jalan, bertemu kenalan, sahabat, saudara, dan mendekatkan semuanya dalam keakraban, tapi sedikit lupa dengan detail serta tujuan destinasinya. Ada bagian antiklimaks di dalam alur yang menurutku dapat dipoles lagi sehingga Marsha Timothy setidaknya dapat mengambil peran bagus di situ. Ada jeda alur yang begitu lambat sehingga membuat jenuh penonton (aku). Akhirnya, alam memanjakan pemainnya saja, ada bagian yang kurang menyentuh penontonnya, seolah ada satu paket yang tak sampai ke alamat.

Ohya, mengenai Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, aku suka dengan penggambaran kehidupan keluarga Sam di Rote. Begitu sederhana, menyatu dengan alamnya, kaya dengan keindahan lautnya. Rote menjadi pembuka dan penutup yang manis dalam film Kulari ke Pantai. Rote bisa jadi ramai ketika film ini sukses di box office ya, seperti lokasi-lokasi film Mira Lesmana dan Riri Riza sebelum ini. Selain itu, barangkali road trip Cirebon, Temanggung, Pacitan, Blitar, Bromo, dan Banyuwangi juga bakal jadi ide baru untuk liburan keluarga di luar mudik lebaran sambil memutar lagu "Selamat Pagi" dari RAN yang menjadi OST film ini. Lantunan lagu "Selamat Pagi" yang dinyanyikan ulang oleh Maisha Kanna dan Lil'li Latisha bersama RAN terasa lebih ceria, segar, dan cocok untuk anak. Mungkin lagu ini juga yang membuatku semangat ke bioskop untuk nonton Kulari ke Pantai.


Review Film Kulari ke Pantai (4) - source: www.instagram.com/milesfilms


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Journey Land

Road Trip Jakarta-Madura: Mengantar Emak Mudik ke Sumenep

Perjalanan ini terjadi saat mamaku berniat mengantar asisten rumah dinasnya mudik ke Madura. Aku memanggilnya si Emak. Tadinya mama hendak memesankan tiket pesawat saja untuk si emak berangkat, tapi karena asisten rumah dinas itu sudah tua, khawatir malah beliau lupa arah dan bingung sama rumah. Maklum, sudah 6 tahun si emak nggak pulang. Lalu entah idenya siapa, beberapa hari menjelang lebaran, diambillah keputusan bahwa kami mengantar emak mudik ke Madura lewat jalur darat.

Sehari setelah Idul Fitri, kami pun berangkat menggunakan mobil. Perjalanan tersendat selama 5 jam di jalanan tol Jakarta hingga Cikampek. Aku jadi harus hemat energi untuk bergantian menyetir dengan Junisatya dan uwaknya karena perjalanan masih sangat panjang. Jalanan luar biasa macet padahal arus mudik sudah lewat. Mobil baru bisa lancar melaju saat memasuki Cipali dan matahari pun sudah merangkak turun.

Beruntung sekali tol Pemalang-Pejagan sudah dibuka meski belum layak pakai. Jalanannya masih bergelombang dan jalur berlawanan masih belum selesai. Namun, tol baru ini menghemat waktu kami sangat banyak. Nggak kebayang jika kami harus melewati jalur Pantura yang penuh dengan truk dan bis. Meski jalanan tol sempat dialihkan masuk Kota Semarang, setidaknya kami tidak tersendat di Pantura. Semua memang serba harus disyukuri, ya. Saat memasuki Semarang, saat itu pula aku ambil alih setir mencari pintu tol Salatiga-Kertosono yang menjadi penghubung kami menuju Surabaya.

Pagi di Tol Solo-Kertosono.
Semarang malam hari begitu sepi. Jalanan tolnya jauh lebih mulus meski harus naik-turun bukit beberapa kali. Ini pengalaman pertamaku menyetir mobil di luar Jakarta. Untung saja, jalanannya rapi. Ketika masuk tol Solo-Salatiga-Kertosono, masalah lain datang. Mobil mulai kehabisan bensin dan sepanjang rest area tol belum tersedia pom bensin. Tol ini masih tergolong baru. Masuk tolnya saja gratis karena masih bestatus fungsional. Rest area pun masih dalam pembangunan. Sebelum sempat berniat keluar saja di pintu exit Madiun, kami mendapat angin segar. Rupanya di tiap rest area tersedia beberapa tong bensin yang dapat dibeli terbatas. Aku mengucap syukur lagi. Lumayanlah, kami dapat mengisi bensin setidaknya 30 liter. Katanya, sampai di Surabaya, ada pom bensin dan kami dapat mengisi full tank. Oke, baik.

Kami memasuki perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur saat subuh menjelang. Aku harus sabar dengan kondisi jalanan tol yang beberapa kali dialihkan keluar sehingga kami harus repot mencari jalur masuk tol fungsional lagi agar bisa menghemat waktu menuju Surabaya. Kalau semua bagian di Pulau Jawa sudah dihubungkan tol, tentu perjalanan jalur darat saat mudik begini jadi lebih cepat, ya. Semoga tahun depan sudah rapi semua.


Jembatan Suramadu.

Kota Surabaya masih sangat sepi pagi itu. Tanpa mampir-mampir lagi, kami langsung melaju ke Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura. Perjalanan kami masih jauh rupanya karena kampung si Emak itu di daerah Sumenep, 3-4 jam dari Jembatan Suramadu. Kami pun mampir dulu membeli tahu petis dan sarapan di Bebek Sinjay. Kuliner Jawa Timur pun dimulai dari sini. Pagi-pagi dibuka dengan makan bebek khas Madura. Pembuka yang yahud sekali saat memasuki pulau ini.

Kami menyusuri wilayah pantai utara Pulau Madura. Setelah menempuh jalanan sempit berkelok, sedikit bergelombang, menembus kebun-kebun jagung dan persawahan, akhirnya sampai jugalah kami di kampung si Emak, Pasongsongan, Sumenep. Hal yang lebih lucu lagi, kami tidak dapat langsung menemukan rumah keluarga Emak lantaran si Emak jackpot berkali-kali karena mabuk darat. Dalam kondisi lemas, beliau cuma memberi instruktsi, "Cari Junaedi, tukang ojek di pasar Pao!"

Bersama keluarga si Emak di Sumenep.
Ternyata si Emak punya kapal lho di Sumenep.

Ke mana pula kami bisa menemukan orang bernama Junaedi di tengah sejuta orang yang juga menyandang nama yang sama. Setelah tanya sana-sini, menyodorkan wajah si Emak yang lemas--barangkali ada yang mengenali--kami pun bertemu orang yang tepat. Beliau memang tidak kenal Emak, tapi tahu keluarga Junaedi yang dimaksud yang tinggal dekat pondok pesantren. Alhamdulillah, kami diantar sampai tujuan. Orang Madura baik-baik ya dan memang saling mengenal satu sama lain. Tinggal kita yang pendatang ini harus menjunjung sopan santun saat bertanya di perjalanan. Emak sudah bertemu dengan keluarganya yang sudah 6 tahun ditinggal merantau. Lalu kami? Masih harus balik lagi ke Surabaya. Misi mengantar emak mudik sudah selesai.

Meski bukan kampung halaman sendiri, aku senang bisa berada di tengah-tengah keramaian orang mudik ke Jawa. Apalagi dapat menghabiskan waktu penuh bersama keluarga di sepanjang jalan. Arus mudik lebaran kali ini menurutku lebih tertata dengan baik. Aparat polisi lalu lintas jauh lebih siap dari tahun sebelumnya. Apalagi infrastruktur juga sedang dibenahi dan banyak tol baru yang masih berstatus fungsional dibuka untuk perjalanan mudik. Seharusnya tahun depan tidak ada kendala mudik jalur darat lagi, ya. Jalur transportasi Pulau Jawa bisa jadi role model untuk pulau-pulau lainnya, khusus Sumatera. Infrastruktur yang oke juga harus diiringi dengan keamanan, kenyamanan, dan jaminan diri dalam perjalanan. Perjalanan yang serba terburu-buru tidak akan membawa penumpangnya ke jalan yang mulus. Jaminan jadi suatu kebutuhan jika mengingat mudik lebaran menjadi perjalanan wajib kita setiap tahun.

Jasa Raharja memberikan pelayanan asuransi jiwa bagi para pemudik karena tidak ada yang menjamin kondisi kita dalam perjalanan, bukan? Si Emak yang tidak bisa naik mobil ber-AC berkali-kali muntah di jalan. Makan susah, tidur pun salah. Kasihan badannya yang melemas saja di bangku belakang karena mabuk perjalanan darat. Kurasa jaminan kesehatan dan jiwa memang sangat diperlukan. Alhamdulillah perjalanan kami lancar jaya. Jasa Raharja sudah memberi fasilitas terbaiknya untuk ikut serta meramaikan kegiatan mudik lebaran 2018. Tinggal kita yang sadar untuk peduli keselamatan dalam berkendara.


Read More

Share Tweet Pin It +1

21 Comments

In Advertorial Land Story Land

Cetak Foto Kekinian di Fujifilm Wonder Photo Shop

Dulu, saat kamera masih berwujud tustel dengan rol film di dalamnya, studio dan percetakan foto begitu laris. Kini, setelah semuanya serba digital, orang lebih senang menyimpan memori foto di laptop atau hardisk. Bahkan, ada yang cukup puas menyimpannya di ponsel dan dapat dibuka kapan saja. Apalagi social media sekarang sudah cukup membantu mengabadikan sejumlah momen kita. Aku sendiri jadi jarang sekali mencetak foto. Hanya sesekali ke studio foto untuk cetak pas foto atau foto wisuda, tunangan, dan nikah. Keperluan cetak foto jadi lebih dikhususkan untuk momen-momen besar.
Cetak Photo Kekinian Fujifilm WPS
Kamera Instax yang makin banyak desain lucu.

Ternyata urusan cetak-mencetak foto itu nggak sepenuhnya ditinggal orang, kok. Buktinya kamera polaroid banyak beredar. Kamera jenis instax ini dapat mencetak foto ukuran kecil dengan instan. Sekali jepret, hasilnya langsung jadi. Nanti hasil foto itu bisa jadi album sendiri bahkan dipajang jadi hiasan dinding kamar. Akhirnya, urusan cetak-mencetak foto berpindah dari sekadar album yang disimpan menjadi kreasi yang punya nilai kepuasan sendiri di setiap momen.

Kebutuhan-kebutuhan serba instan semacam itu direalisasikan oleh Fujifilm dengan membuka Fujifilm Wonder Photo Shop (Fujifilm WPS). Kebetulan sekali aku hadir dalam acara pembukaan gerai kedua di Central Park, Jakarta. Store Fujifilm WPS di Central Park ini didekorasi sangat menarik dan playful. di bagian pintu masuk, kita langsung disambut dengan display hasil cetak kamera instax yang dikreasikan dengan beberapa aksesori. Cetak foto kekinian bukan sekadar cetak foto biasa. Di WPS ini, kita akan dikenalkan dengan metode crafting foto, salah satunya dalam wujud scrapbook atau pop up. Nah, beberapa hiasannya juga disediakan di WPS ini. Buat kamu yang gemar dekorasi dan hias-menghias, kayaknya kamu harus datang ke Fujifilm WPS biar kreasimu makin ciamik dengan tambahan foto-foto dalam berbagai momen.

Cetak foto juga jadi lebih mudah dan cepat. Ada area quick print service yang jadi favoritku. WPS sudah menyediakan beberapa monitor dan aplikasi di dalamnya yang dilengkapi beberapa metode photo editing standar serta pilihan ukuran foto. Cukup dengan mengunduh aplikasi WPS Photo Transfer di ponsel, kita bisa dengan sangat gampang mentransfer foto ke monitor yang ada di WPS. Pilih, edit, cetak. Langsung jadi. Kalau mau foto-foto cantik dulu sebelum dicetak dan dikreasikan, kita bisa langsung masuk ke mini studio-nya. Photobox-nya muat untuk beberapa orang, kok.

Cetak Foto Kekinian Fujifilm Wonder Photo Shop
Cetak foto kekinian.

Cetak Foto Kekinian Fujifilm WPS
Crafting corner WPS.

Cetak Foto Kekinian di WPS
Hasil kreasi kami yang ala kadarnya.

Area lain yang paling kusuka adalah crafting corner. Lokasinya persis di sudut ruangan Fujifilm WPS. Setelah seru-seruan di mini studio, lalu cetak foto sendiri, kita bisa langsung crafting di area ini. Tempatnya nyaman dan instagramable banget. Siapa tau ruang yang instagramable itu bisa bikin daya kreatif kita muncul untuk menghias foto.

Sepertinya Fujifilm tahu kebutuhan anak kekinian, ya. Cetak foto tidak jadi suatu hal yang kuno lagi. Malah di sisi lain WPS, di-display kamera Fujifilm X-series dan kamera instax. Ada edisi Minions dan Hello Kitty yang lucu. Ketika mampir di WPS ini, aku jadi paham bahwa mencetak foto itu bukan sekadar untuk mengabadikan foto jadi album, tapi juga jadi wujud kreasi yang punya nilai seni dan menimbulkan kepuasan tersendiri. Kalau kamu penasaran, kamu bisa langsung mampir ke store-nya di Mall Central Park lantai 1, Jakarta, ya.


Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In Abroad Land Journey Land

Wisata Keliling Kota Tbilisi-Georgia

Aku baru saja membuka-buka folder foto perjalananku ke Georgia tahun lalu. Walaupun cuma sebentar di sana, tapi ada kesan hangat yang ditinggalkan oleh Tbilisi (cara baca: Tiblis), ibukotanya. Sebelumnya, aku pernah bahas tentang sisa-sisa peradaban awal di Old Tbilisi dan misi kebudayaan apa yang aku bawa ke sana (bisa dibaca di sini) Di postingan kali ini, aku mau cerita tentang wisata Tbilisi yang membuatku terkesan.

Georgia itu sebenarnya punya alam yang cantik. Berada di pinggiran laut hitam dan dikelilingi perbukitan membuat Georgia menjadi pusat wisata alam bagi orang Eropa Timur. Namun, sayangnya aku tak punya kesempatan banyak untuk mengeksplor negeri yang dipenuhi dengan geraja-gereja usia ratusan tahun ini. Katanya pemeluk Kristen Orthodox di Georgia adalah yang tertua di dunia. Aku hanya sempat berwisata mengelilingi ibukotanya, Tbilisi. Lihat apa saja yang kutemukan di sana.

Hari itu, aku bersama teman-teman seniman dari Galang Dance Community, sarapan di Hotel Nina, tempat kami menginap. Aku cuma menemani mereka sarapan (karena sedang puasa) sambil berbincang-bincang dengan petugas hotelnya yang super ramah. Petugas hotel memberikan kami tips jika ingin berjalan-jalan tanpa pemandu di Tbilisi. Ada 3 pilihan transportasi di kota itu yang dapat kami tumpangi:

Metro yang wujudnya seperti subway atau KRL

Ongkosnya hanya 0,5 Lari (sekitar 3000-an rupiah) saja untuk oneway dengan mengisi Metromini Card. Metro ini persis seperti commuter line di Jakarta. Perbedaannya, rel kereta berada di bawah tanah. Kita akan naik-turun terowongan bawah tanah dengan eskalator yang super panjang dan curam. Agak gamang.
Wisata Tbilisi-Georgia naik metro. (source: jurnaland.com)

Marshrutkas yang merupakan sebutan untuk bus di Georgia

Ongkosnya 0,5-2 Lari katanya. Aku cuma sempat mencoba metro, jadi nggak sempat naik bus keliling kota. Warna busnya kuning, persis seperti di UI. Mungkin kalau aku naik bus di sana, aku malah akan teriak "Terima kasih, Pak," pada Pak Sopir dan lupa membayar ongkos karena serasa di kampus sendiri naik tumpangan gratis.

Taksi

Kalau naik taksi memang terbilang lebih mahal. Tapi dari bandara ke pusat kota Tbilisi saja cuma dikenai 15 Lari (alias 100ribu rupiah). Per kilometernya dikenai tarif 4 Lari. Pantas saja orang-orang Georgia bahagia, ya.

Setelah tahu sarana transportasi selama tinggal di Tbilisi, aku punya sederetan daftar wisata apa saja yang dapat dilakukan di Tbilisi.

1. City Tour di Freedom Square

Dengan city tour di Freedom Square, salah satu lokasi bersejarah di Georgia, sudah membuatku senang sekali. Kami memilih naik metro ke Freedom Square. Dari Hotel Nina di kawasan Varketili, kami bisa berjalan kaki ke arah Stasiun Varketili. Aku harus membeli Metromani Card yang dapat digunakan 1 untuk semua. Jadi aku cukup mengisi saldo Metromani Card sejumlah ongkos yang kami butuhkan untuk pulang-pergi. Aku mengisi saldo 10 Lari dan cukup untuk kami bertujuh, bahkan masih sisa 3 Lari tentunya.

Dari Varketili, kami melewati 5 stasiun untuk mencapai stasiun Liberty (Freedom) Square. Kamu mau menyebutnya Liberty atau Freedom, sama saja. Artinya sama-sama bebas atau merdeka. Begitu kami menaiki eskalator setelah turun dari metro, monumen Freedom Square menyambut kami. Yeay, inilah Tbilisi yang terkenal itu.

City Tour Tbilisi Georgia. (Source: jurnaland.com)


Freedom Square Tbilisi Georgia. (source: www.jurnaland.com)

Georgia dulunya berada di bawah rezim Kekaisaran Rusia. Awalnya Freedom Square ini dikenal dengan Pashkevich-Erivanskaya Square, untuk mengenang Ivan Paskevich, seorang Jenderal Ukraina yang telah menaklukkan Erivan di Armenia (yang kini jadi negara tetangga Georgia) untuk negara Rusia. Tempat ini menjadi pusat perampokan bank dan pertumpahan darah. Semacam Monas kalau di Jakarta. Saat keruntuhan Rusia, area ini berganti nama menjadi Beria Square dan berubah lagi menjadi Lenin Square saat memasuki rezim Uni Soviet. Di bagian puncak monumen dibangun patung Vladimir Lenin yang berjasa dalam sejarah Uni Soviet, yaitu orang yang membawa paham komunis di negeri lawan Amerika Serikat itu.

Begitu Georgia dinyatakan benar-benar merdeka, Patung Vladimir Lenin ini dihancurkan dan digantikan dengan patung St. George yang sedang menunggang kuda. Tak tanggung-tanggung, patungnya dibuat berlapis emas sehingga terus berkilau sepanjang masa. Monumen Freedom Square inilah yang selalu ditandai oleh rakyat Georgia sebagai simbol kebebasan dan kemerdekaan mereka. Kalau dihitung-hitung, umur Georgia dengan Indonesia tak beda jauh. Georgia lahir usai Perang Dunia II. Jadi hanya beda beberapa tahun, kan, dengan negara kita. Konon, katanya masa-masa itu adalah masa-masa tersulit bagi Georgia untuk membangun ideologi dan perekonomian mereka.

Freedom Square kini menjadi Tbilisi City Hall. Jadi kalau kamu traveling ke Georgia, kamu wajib ke lokasi ini. Monumennya persis di tengah bundaran jalan raya. Kalau bahasa kampungnya, Freedom Square ini jadi simpang enam-nya Tbilisi. Di sekeliling monumen berdiri gedung-gedung penting bagi Georgia, seperti bank nasional Georgia dan Rushtaveli State Academic Theatre (gedung teater tertua di Georgia). Freedom Square ini juga jadi gerbang menuju Kota Tua Tbilisi. Ternyata di balik bangunan megah di kawasan Freedom Square, ada rumah-rumah tua Tbilisi dan usianya sudah ratusan tahun.

2. Wisata Kota Tua Tbilisi

Kota Tua Tbilisi sudah menjadi area wisata. Banyak kujumpai tour travel yang menawarkan jasa keliling Tbilisi bahkan tempat-tempat cantik lainnya di Georgia. Aku sempat tergiur. Lumayan, kan, bisa keliling Tbilisi dan kota-kota lainnya dalam 1 hari penuh. Ah, tapi nggak bakal mungkin karena kami cuma sempat berjalan-jalan sebentar sebelum rehearsal dan malam pertunjukan.

Berjalan-jalan di komplek Kota Tua Tbilisi tak seperti Kota Tua di Jakarta yang pasti. Banyak bangunan-bangunan yang sudah berumur ratusan tahun masih terawat hingga sekarang. Itu artinya bangunan-bangunan itu jadi saksi sejarah sekian abad kota itu. Aku sempat mengunjungi galeri dan gedung teater di sana. Jangan tanya nama gedung teaternya karena ditulis dengan aksara Georgia.


Wisata Kota Tua Tbilisi Georgia. (source: www.jurnaland.com)

Wisata Kota Tua Tbilisi Georgia 2. (Source: www.jurnaland.com)

Wisata Kota Tua Tbilisi Georgia 3. (source: www.jurnaland.com)

Wisata Kota Tua Tbilisi Georgia 4. (source: www.jurnaland.com)

Di komplek Kota Tua Tbilisi ini juga banyak gereja khatolik dan gereja sion. Ada juga masjid yang kutemukan berdampingan dengan gereja-gereja itu. Kubah masjid meski kecil tampak mencolok di sekitar puncak-puncak kastil gereja yang megah. Ada banyak ruang publik yang di sekitar gereja-gereja itu. Taman-taman itu sangat mendukung sekali untuk dijadikan ruang berdiskusi, bersantai, piknik dan segala aktivitas sosial lainnya. Tempatnya begitu rindang dan bersih.

Tak jauh dari sana, satu lagi menara yang dijadikan landmark di Kota Tua Tbilisi, The Leaning Clock Tower. Menaranya tidak terlalu tinggi, tetapi bergaya unik. Sekilas mengingatkanku pada visualisasi The Burrow, rumah Keluarga Weasley di Film Harry Potter. Ternyata menara ini didirikan dari sisa-sisa bangunan tua yang rusak akibat gempa bumi, dirangkai oleh Rezo Gabriadze. Katanya, membangun menara ini butuh waktu 30 tahun. Menara ini menandai lokasi teater boneka di Kota Tua Tbilisi.

Setiap jam, bagian puncak menara yang seperti jendela akan terbuka dan menampilkan atraksi sepasang boneka yang sedang bermain sandiwara tentang kisah siklus hidup manusia: perempuan bertemu dengan laki-laki, menikah, punya anak, dan meninggal. Karena ini menara jam, atraksi ini menandai pergantian jam. Tema sandiwara boneka kayu yang ditampilkan itu juga erat kaitannya dengan waktu.

The Leaning Clock Tower-Old Tbilisi (source: jurnaland.com)

Oh iya, di kawasan Kota Tua Tbilisi ini jangan khawatir dengan paket data. Wifi yang tersedia di area ini. Rupanya, Kota Tua Tbilisi menjadi pusat kuliner makanan-makanan Asia, banyak kujumpai restoran India, Arab, dan China. Setidaknya area ini menjadi sangat familiar bagi lidahku. Namun, sayangnya, aku tak bisa mampir untuk sekadar mencicipi makanannya karena sedang berpuasa di tengah-tengah Ramadhan. Sayang sekali, ya.

Di Kota Tua Tbilisi sudah tersedia bus city tour yang membawa wisatawan untuk berkeliling dari sini hingga Tbilisi Wall. Aku pernah cerita soal Tbilisi Wall yang indah ini di postingan sebelumnya. Ada yang bilang bus city tour ini gratis. Kami tetap memilih jalan kaki biar bisa masuk ke gang-gang sempit di dalam kawasan Kota Tua yang bersih dan terawat ini.

3. Telusur Bridge of Peace

Bridge of Peace menjadi landmark Kota Tbilisi yang baru diresmikan tahun 2010. Jembatan perdamaian ini membelah sungai Kura yang bermuara ke Laut Hitam. Desain jembatannya menarik dan futuristik di tengah bangunan-bangunan tua di sekelilingnya. Terlihat atap melengkung dengan ditutup tempered glass yang membuat jembatan ini dari kejauhan tampak dibalut kristal. Kalau siang, Bridge of Peace tampak berkilau seperti kristal saat kena sinar matahari. Kalau malam, katanya di sini penuh dengan lampu-lampu gemerlap yang menyala dengan sensor gerak. Bridge of peace menjadi lambang perdamaian rakyat Georgia dan menghubungkan kota tua dengan kota baru Tbilisi. Kalau menyeberang dari Kota Tua, tepat di seberangnya berdiri gedung parlemen Georgia yang megah. Wah, gedung parlemen di pinggir sungai Kura. Para pekerja di gedung parlemen itu pasti awet muda melihat pemandangan bagus ke arah sungai Kura, Bridge of Peace, dan Tbilisi Wall setiap hari.

Telusur Bridge of Piece Tbilisi. (source: www.jurnaland.com)

Wisata Bridge of Piece Tbilisi. (source: jurnaland.com)

Wisata Kota Tbilisi Georgia. (source: www.jurnaland.com)

Ketika menyeberangi Bridge of Peace, aku langsung masuk ke public space yang lain, berupa taman-taman bunga. Namanya Rike Park. Lokasinya sangat dekat dengan gedung parlemen Georgia. Ada patung, kolam dengan air mancur (saat kami berkunjung ke sana, air mancurnya tidak menyala), dan bangku-bangku taman.

4. Wisata Kuliner Tbilisi

Aku tak banyak mencoba jenis makanan di Tbilisi karena tepat saat itu adalah Ramadhan. Makanan-makanan yang kucoba hanya makanan yang disediakan hotel. Rata-rata makanan pokok mereka adalah roti gandum. Harganya murah meriah, lho. Roti yang ukurannya besar seperti roti buaya bagi masyarakat Betawi hanya seharga 1,5 - 7 Lari (1 Lari = 6.000 rupiah pada saat itu). Aku sempat mencoba makanan dari bahan roti dengan lapisan ayam di dalamnya. Namanya imeruli kachapuri. Irisannya mirip pizza. Bagi orang Georgia, kachapuri menjadi makanan pokok sehingga 1 orang harus makan 4 potong. Buatku, makan 1 roti saja sudah sangat kenyang.

Orang Georgia juga punya salad tradisional berupa sayur-sayuran dan bawang-bawangan yang diiris tipis. Mereka juga makan menggunakan lauk atau selai dari buah-buahan yang melimpah juga di negeri ini. Ada selai peach, selai anggur, selai bluberi, dan selai stoberi. Mereka juga sering memasak sup sayuran yang aku kurang tahu namanya. Rasanya enak tapi bukan seleraku karena mereka menggunakan jenis daun seperti seledri dan daun bawang ala mereka. Aku sendiri lupa namanya.

Ketika berjalan di Kota Tua, aku menemukan jajanan churhkhela, sejenis permen lilin yang terbuat dari adonan anggur, kacang-kacangan, dan tepung. Bentuknya panjang seperti lilin dan agak keras. Harganya hanya 3 Lari untuk 5 permen lilin ini. Kalau jajanan ini sudah pasti kusuka karena rasa manisnya universal. Kalau kamu ke Georgia, jajanan inilah yang menjadi khas di negara ini. Jadi kamu harus mencoba, ya.

Wisata kuliner Tbilisi. (source: jurnaland.com)

Satu lagi yang harus dicoba kalau ke Georgia, yaitu wine. Negeri Georgia terkenal dengan negeri penghasil wine terbesar di Eropa. Georgia telah mengekspor wine-nya ke 48 negara di dunia. Orang Georgia mengistimewakan tanggal 4 Oktober karena ditetapkan sebagai Georgian Wine Day. Pesta wine dan festival buah-buahan hasil panen mereka digelar di jalanan. Sayangnya, saat aku ke sana belum bulan Oktober. 

Tapi, nggak menunggu tanggal 4 Oktober pun tak jadi masalah. Toko-toko wine tersebar di mana-mana. Selama menelusuri Kota Tua, entah berapa toko wine yang kulewati. Harganya pun murah. Wine merah cuma seharga 6 Lari/botol. Saat akan pulang ke Indonesia, pemilik hotel yang senang dengan kehadiran kami pun memberikan wine racikannya sebagai oleh-oleh. Baik sekali, kan. Tapi, aku nggak minum wine, kok (klarifikasi sebelum banyak yang bertanya-tanya).


Wisata kuliner Tbilisi 2. (source: jurnaland.com)

Wisata kuliner Tbilisi Georgia 3. (source: jurnaland.com)

5. Wisata Budaya Georgia

Entah kenapa, segala hal yang berhubungan dengan kesenian selalu diterima di Eropa. Gedung-gedung teater tersebar di mana-mana, termasuk di Tbilisi. Dan, selalu ramai. Kedatanganku ke Georgia memang membawa misi kebudayaan. Kami mengikuti International Folk Dance and Music Perkhuli Festival-Tbilisi 2017 serta Georgia Folk Festival. Ada serangkaian kegiatan yang kami ikuti. Mulai dari workshop, rehearsal, parade, dan festival. Jadi, wisata budaya memang jadi agenda utama kami datang ke negara Kaukasus ini.

Wisata budaya Georgia. (source: jurnaland.com)

Wisata budaya Georgia. (source: jurnaland.com)

Wisata budaya Georgia. (source: jurnaland.com)


Selama mengikuti rangkaian festival di Georgia, aku bisa melihat langsung tarian kartuli, khas Georgia, tari berpasangan yang gemulai antara perempuan dan laki-laki. Aku juga melihat proses latihannya saat workshop bersama penari-penari itu, yang rata-rata usia anak-anak dan remaja. Selain Kartuli, ada tarian rakyat Georgia yang menjadi favoritku. Tarian ini ditampilkan secara massal di atas panggung (sekitar 20 penari laki-laki dan perempuan). Kostum yang mereka kenakan juga cantik. Perempuan mengenakan baju tradisional (gaun dengan penutup kepala seperti selendang, lalu kepangan rambut panjang terjulur hingga pinggang) dan laki-laki mengenakan pakaian serba hitam dengan peluru di saku baju dan belati tergantung di pinggang. Kostum perempuan menyerupai pakaian yang dipakai untuk bertani, mungkin karena negeri Georgia juga termasuk negara agraris dan perkebunan buah terbentang luas. Tarian Georgia ini diperkuat dengan musik bernuansa Timur Tengah. Peraduan budaya Eropa Timur dengan Asia menghasilkan tarian keren itu. Perempuan menari begitu gemulai sementara laki-laki bergerak dengan kaki menghentak cepat seperti tentara yang ingin berperang. Rupanya tarian ini memang lazim diadakan untuk memberikan semangat kepada tentara yang akan berperang. Kecepatan geraknya, ketegapan tubuhnya, tentu tak didapat dengan instan. Para penari ini telah menempa kelenturan tubuh sejak mereka kecil.

Negeri Georgia terasa amat kental dengan percampuran budaya Rusia dan negara-negara pecahannya, seperti Ukraina, Tajikistan, Polandia, dan Uzbekistan. Tidak heran jika jenis tarian dan musik mereka begitu mirip. Menghabiskan malam di Tbilisi harus dengan musik. Jika kamu datang ke Tbilisi, kamu harus melihat jadwal pertunjukan tarian atau musik tradisional mereka. Kurasa gedung Tbilisi Art Hall, tempat tim kami tampil malam itu menjadi salah satu gedung pertunjukan yang tak pernah sepi. Selalu ada hari untuk kesenian di Tbilisi.

6. Berburu Kerajinan ala Georgia

Saat berjalan di Kota Tua Tbilisi, beragam handycraft dipajang di emperan. Ada yang jenis sepatu, kain, tas, bahkan karpet yang punya motif enamel. Aku sampai menyediakan satu hari khusus sebelum pulang ke Indonesia untuk melihat-lihat hasil kerajianan tangan orang Georgia. 

Wisata Kota Tua Tbilisi. (source: jurnaland.com)

Wisata Tbilisi-Georgia. (source: jurnaland.com)

Tidak sah ke Georgia kalau belum bawa pulang salah satu hasil kerajinan tangan mereka. Penampakannya persis seperti pasar tradisional yang menjual pernak-pernik dan souvenir. Tbilisi itu pencinta motif dan warna-warna yang kalem. Sesuai negerinya yang kalem dan harmonis.

Read More

Share Tweet Pin It +1

8 Comments

In Story Land

Merancang Liburan Mewah ke Lombok dengan Budget Minimalis

Seperti yang sudah kutulis di postingan sebelumnya, aku berencana liburan ke Sumbawa dan transit di Lombok selama 2 hari. Beberapa persiapan sudah kulakukan, mulai dari beli tiket pesawat, membuat to-do-list, menyewa motor dan perahu untuk berlayar ke Kenawa dan Pulau Moyo. Sebulanan ini, aku membuat itinerary Lombok-Sumbawa selama beberapa hari. Aku jarang menggunakan jasa tour agent. Lebih enak berjalan sendiri bersama teman-teman karena fleksibel soal waktu dan keuangan. Seperti perjalananku ke Nusa Penida tahun lalu. Entah sejak kapan, selalu aku yang diminta untuk menyusun itinerary perjalanan seminggu di Ubud, Seminyak, dan Nusa Penida (kisahnya bisa dibaca di sini). Mungkin karena aku yang punya jadwal paling kosong di antara sekumpulan teman-teman gengku (udah sebesar ini masih nge-geng macam anak SMA). Iya, mereka rata-rata adalah budak omset perusahaan, sementara aku cuma gundik untuk diri sendiri. :)

Liburan ke Lombok

Liburan mewah budget murah di Lombok. (2)

Nah, rupanya menyusun itinerary Lombok-Sumbawa tampak mudah tapi punya tantangan sendiri. Lokasi antara Lombok dan Sumbawa harus ditempuh dengan kapal ferry. Lalu, kami harus menyewa perahu dua kali. Yang satu untuk bolak-balik Pulau Kenawa yang eksotik itu dan yang satu lagi untuk ke Pulau Moyo, pulau yang pernah jadi pelarian almarhumah Putri Diana bersama pangerannya zaman dulu kala. Masalahnya lagi, pelabuhan menuju Pulau Kenawa berada di Sumbawa Barat, sementara pelabuhan menuju Pulau Moyo berada di Sumbawa Besar. Kami harus menyewa mobil atau motor atau malah naik bus. Rasanya menyusun itinerary saja, aku sudah lelah duluan. Masukan demi masukan kuterima biar kami tidak tersesat di belantara Sumbawa. Di Sumbawa, jangan harap ada ojek online.

PR terbesarku satu lagi adalah penginapan. Itinerary untuk ke Sumbawa sudah rampung. Perlengkapan kemah juga sudah disiapkan. Iya, kami akan berkemah saja setiap malam, entah di Kenawa atau di Moyo. Eh, tapi mungkin kalau ada alternatif rumah penduduk yang bisa diinapi selama kami di Moyo nanti, boleh juga. Semua masih kutulis dalam pilihan alternatif. Untuk itinerary Lombok belum kususun sempurna. Kami akan terbang dari Jakarta menuju Lombok dan akan mampir di sana selama 2 hari sebelum nge-camp di Sumbawa. Jadi, aku harus pintar-pintar menyusun jadwal destinasi kami dan disesuaikan dengan jarak menuju pelabuhan Kayangan untuk naik kapal ferry ke Sumbawa. Aku masih belum menentukan penginapan dan transportasi dalam kota selama di Lombok.

Ketika aku ketemu beberapa teman sesama travel blogger, ada yang menyarankanku untuk cek lalalaway.com. Wah, situs apa lagi, tuh? Namanya baru kudengar baru-baru ini. Unik juga, Lalalaway. Melafalkan kata 'Lalalaway' saja lidahku sampai belok-belok. Kupikir itu semacam sekuel La La Land. Ternyata bukan.

Liburan ke Lombok pakai Lalalaway. Source: Lalalaway

Situs booking hotel Lalalaway. Source: lalalaway.com

Lalalaway ini merupakan situs booking hotel yang baru saja di-launching menemani kehidupan kita-kita ini yang haus traveling. Lalalaway memang meramaikan persaingan booking hotel via pihak ketiga secara online. Bedanya, Lalalaway hanya memasukkan list hotel dengan status bintang 4 ke atas. Begitu tahu Lalalaway hanya untuk booking hotel berbintang, aku langsung mencoretnya dari list karena pasti harganya tinggi. Namun, anggapan itu terbantahkan begitu mengecek langsung situsnya. Isinya memang daftar hotel-hotel mewah di kota-kota besar, tapi harganya merosot tajam seharga budget hotel. Wah, menarik, nih.

Aku pun langsung membuat akun biar bisa melihat harganya. Begitu login, aku serasa orang tajir banget, ingin pergi liburan mewah dengan budget minimalis. Nuansa desain Lalalaway sungguh fancy dan elegan tanpa menghapus kesan asyiknya liburan. Sebelum aku makin bertele-tele karena terlalu excited menyusun itinerary liburan versi mewah di Lombok dengan budget minimalis ini, ada 3 keunggulan memilih booking hotel di situs Lalalaway.

1. Cocok buat yang ingin staycation di hotel berbintang dengan harga murah

Sesuai dengan tujuanku ke Lombok, ada beberapa pilihan hotel di Lalalaway yang termasuk hotel bintang 4 dan 5. Agak gemetar, ya, kalau memesan hotel berbintang ini karena takut overbudget. Namun, nggak perlu khawatir. Lalalaway sudah membuat deal harga terendah dan diskon besar-besaran di setiap hotel yang ditawarkan. Yes, kalau begini, aku harus memasukkan itinerary Gili Trawangan, nih karena ingin merasakan staycation di resort mewah Jambuluwuk Oceano Resort. Sekali-kali liburan fancy, tak masalahlah, ya sebelum melakukan petualangan di Sumbawa.

Situs booking hotel berbintang lalalaway. Source: lalalaway.com

2. Selalu ada Flash Sale macam e-commerce yang kini sedang hits

Satu lagi keunggulan Lalalaway yang beda dari situs booking hotel lain, yaitu selalu menyediakan flash sale. Jadi, harga hotel-hotel yang ditawarkan di Lalalaway tidak pernah sama. Lalalaway menerapkan sistem flash sale untuk mendapatkan deal harga terbaik untuk hotel terbaik pilihan kita. Seperti Jambuluwuk Oceano Resort yang sedang kupilih ini. Harga dengan diskon 71% ini hanya tersisa 9 hari 8 jam lagi (pada saat artikel ini ditulis). Jadi, kita nggak punya banyak waktu untuk mikir-mikir mau pilih hotel yang mana. Rata-rata flash sale ini dilakukan 5-10 hari setiap hotel. Makanya, kita harus rajin-rajin cek situsnya, nih, untuk dapat harga terbaik. Ini semacam nunggu promo tiket pesawat yang harus sering-sering dicek dan diburu apalagi saat travel fair.

Liburan ke Lombok booking lewat Lalalaway. Source: Lalalaway.com

3. Sistem sign up yang mudah

Kalau kamu berminat liburan mewah dengan budget minimalis seperti yang sedang kurencanakan ini, coba buat akun di situs Lalalaway, ya. Caranya gampang dan tidak bertele-tele. Sign up bisa lewat Facebook maupun email. Tidak perlu notifikasi verifikasi, kok. Jadi begitu sign up, akunmu sudah resmi terdaftar. Kenapa harus bikin akun dulu? Karena best deal hanya untuk yang punya akun. Kalau cuma buka-buka situs tanpa memasukkan akun, kita tidak akan tahu harga hotel-hotel yang ditawarkan.

Lalalaway, situs booking hotel mewah yang murah. Image source: www.lalalaway.com

Lalalaway, situs booking hotel mewah yang murah. Imager source: Doc. Lalalaway

Kini Lalalaway sedang melebarkan relasi hotelnya dengan menjangkau lokasi-lokasi wisata di Indonesia dan Asia. Kita bisa pesan hotel dan tiket pesawat sekaligus di sini tentu dengan harga bersaing dengan e-commerce lainnya. Sekali-kali merencanakan liburan mewah dengan harga rendah, siapa takut? Lalalaway sudah menyiapkannya untuk kita, para traveler.

Read More

Share Tweet Pin It +1

8 Comments

In Story Land

Kenapa Kita Harus Beralih ke Angkutan Umum


Ayo naik bus transjakarta lagi

Sebagai orang yang kini ber-KTP Jakarta, aku merasakan hidup penuh sesak dan drama di ibukota ini. Khususnya drama tentang kemacetan yang rasanya seumur hidup tidak akan pernah tamat. Namun, sebenarnya di balik drama itu, tersimpan cinta yang besar pada kota besar ini. Lihat saja, kota ini tidak pernah sepi kecuali Idul Fitri. Sekian banyak orang yang pergi meninggalkan Jakarta, tapi lebih banyak lagi yang datang dan tinggal. Itu artinya, Jakarta tak pernah kehilangan pesonanya. Macet itu adalah bukti kecintaan orang terhadap kota terpadat di Indonesia itu.

Sejak sekian tahun terakhir, pembangunan jalan di Jakarta dibenahi. Berbagai inovasi dilakukan biar penduduk kota besar ini hidup nyaman. Banyak momok sangar tentang kemacetan Jakarta. Yang pasti, pagi dan sore hari adalah jadwal terpadat jalanan Jakarta. Orang yang bekerja di Jakarta datang dari berbagai sudut, Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi. Lihat kan, kata Bekasi saja diletakkan terakhir. Bukan berarti paling jauh, ya. Tapi lebih tepatnya paling padat karena keganasan macet ke arah Bekasi dimulai pukul 4 sore hingga 8 malam setiap hari kerja. Kita bisa menghabiskan waktu minimal 3 jam dari Jakarta Pusat ke Kota Bekasi. Kalau hujan, sudahlah, lebih baik menginap saja di tempat teman yang tinggalnya lebih dekat dengan kantor, kampus, atau sekolah. Tidak heran Bekasi dibilang planet lain, beda negara, dan butuh visa. Duh, sampai sebegitunya ya efek kemacetan Jakarta.

Beberapa waktu lalu, aku diajak diskusi sama Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) dan Kama Digital tentang kemacetan Jakarta yang sudah berada pada tahap kritis. BPTJ menjelaskan berbagai upaya sedang dilakukan oleh mereka demi kemacetan itu bisa terurai sedikit demi sedikit. Salah satunya adalah dengan mengajak masyarakat untuk kembali menggunakan kendaraan umum. Buat yang sudah lama tinggal di sekitar Jabodetabek, tentu sangat menyadari bahwa kini jalanan kita agak tersendat akibat pembangunan jalan di mana-mana. Ada jalan tol, pelebaran jalan, jalan layang, hingga rel LRT dan MRT. Bohong jika kita tidak bisa mengakui kalau kini infrastruktur transportasi di Jakarta makin baik. KRL sudah jauh lebih nyaman dibanding 10 tahun lalu. Jadi ingat, waktu kuliah di UI, beberapa kali akhir pekan mengadakan acara di Puncak dan harus naik kereta ke Bogor yang padatnya luar biasa. Orang-orang sampai bergelantungan di pintu kereta dan duduk di atap kereta. Itu, kan bahaya. Lalu, kini KRL disediakan lebih nyaman dengan full AC, gerbongnya ditambah, armadanya juga ditambah, dan disediakan gerbong khusus wanita.


ayo naik bus transjakarta

Belum cukup dengan commuter line, Transjakarta juga dibenahi. Halte-halte busway direnovasi dan koridor juga ditambah. Tarifnya malah flat ke mana-mana. Yang lagi hangat-hangatnya dibahas sekarang adalah bis premium Transjabodetabek ke arah Bekasi. Katanya bis premium itu super nyaman, ber-AC, dan ada colokan mengingat kebutuhan orang pada ponsel sangat tinggi. Naik bis ke mana-mana sekarang sudah jauh lebih nyaman. Persebaran angkutan umum sudah mulai ditata. Apalagi jalur LRT dan MRT sebentar lagi akan diresmikan. Rasanya tidak ada lagi alasan kita untuk tidak menggunakan angkutan umum. Yang masih kurang sepertinya masalah ketepatan waktu, tapi sebagian besar juga didukung oleh pengguna kendaraan pribadi jauh lebih banyak. Keadaan ini masih perlu ditangani khusus oleh BPTJ. Masa pengguna kendaraan pribadi di Jakarta mencapai 60% dan 49% di dalamnya itu didominasi oleh motor. Pantas saja, drama macet Jakarta tidak ada habisnya. Memang sudah saatnya kita menggunakan angkutan umum.

Aku sendiri dulu adalah pengguna angkutan umum, seperti bis, KRL, dan angkot. Namun, berkali-kali kecewa karena tingkat kenyamanan rendah, menghabiskan waktu dan tenaga lebih besar, kurang aman karena copet ada di mana-mana, serta ongkosnya jadi lebih mahal. Aku pun selama 2 tahun beralih membawa kendaraan sendiri ke mana-mana. Macet sedikit tidak apa-apa, yang penting nyaman. Begitu pikirku, dulu. Sekarang aku sudah jauh lebih sadar kalau pemikiran semacam itu seharusnya dibalik. Apalagi angkutan umum sudah berbenah. Kenapa kita harus cepat-cepat beralih ke kendaraan umum? Ini alasannya.


1. Hemat waktu

Kalau tujuan kita adalah tempat-tempat yang berada di sekitar stasiun kereta, memang jauh lebih baik kita menggunakan KRL saja. Lebih cepat dan aman. Nggak perlu resah dengan kemacetan jalanan. Aku yang sekarang tinggal di kawasan Depok memilih naik KRL jika ada meeting di luar, misalnya di kawasan Tebet. KRL memang pilihan tepat. Nggak kebayang kalau aku menyetir mobil sendiri dari Depok ke Tebet. Pasti akan menghabiskan waktu 2 jam sendiri. Jika menggunakan KRL, aku cukup menghabiskan waktu 45 menit saja.


2. Hemat biaya

Naik KRL dan Transjakarta sungguh murah meriah. Buat yang biasa pakai mobil ke mana-mana, cobain naik KRL dan Transjakarta berulang kali. Kita bisa menekan pengeluaran untuk ongkos di perjalanan. Beda, sih buat pengendara motor. Tapi lelah berkendara tidak sebanding dengan duduk manis atau berdiri di KRL atau Transjakarta yang full AC, ya.


3. Hidup sehat

Dengan menggunakan jasa angkutan umum, kita jadi jauh lebih banyak berjalan kaki ke halte dan stasiun. Biar lebih panas, tapi kita lebih sehat. Kalau ke luar negeri saja, kita bisa senang-senang berjalan kaki berkilo-kilo meter dan tahan naik tram, subway, metro, atau bus ke mana-mana. Kenapa di Jakarta tidak bisa? Memang belum bisa disamakan, sih, infrastruktur trasnportasi di Jakarta dengan negara-negara besar di luar sana. Tapi, negara semacam Prancis saja butuh ratusan tahun membenahi kondisi trasnportasi mereka sehingga nyaman digunakan semua orang. Tentunya Jakarta, bahkan Indonesia juga bisa begitu. Kita hanya perlu bersabar. Anggap saja olahraga. Traveling selama ini mengajarkan kita untuk berkaca pada dunia dan menancapkan harapan yang tinggi untuk hidup lebih baik, bukan? Nah, Jakarta nggak akan bisa begitu kalau bukan dimulai dari kita.


4. Banyak yang dapat dilakukan di angkutan umum dibanding mengendarai kendaraan sendiri

Pernah, nggak, kamu dikejar deadline sementara waktunya mepet? Atau tiba-tiba kamu harus terima telepon penting dari orang padahal kamu sedang menyetir? Aku pernah. Pernah waktu harus bimbingan tesis tapi drafnya belum sempurna. Aku naik KRL menuju kampus dan mengerjakan draf itu selama di perjalanan menggunakan tablet. Kebetulan KRL sedang kosong siang itu. Pernah pula ketika aku sedang terima telepon penting dari klien, syukurlah aku sedang di Transjakarta, jadi bisa mencatat poin penting dengan sigap di ponsel atau kertas kecil. Itu nggak akan bisa kulakukan kalau aku sedang menyetir mobil. Bahaya, kan. Angkutan umum bikin kita lebih leluasa melakukan sesuatu, mengatur waktu sendiri dan bisa menguji tingkat kepekaan kita lebih tinggi.


PR BPTJ memang masih banyak demi keteraturan transportasi di wilayah Jabodetabek. Namun, PR itu dapat kita bantu dengan kembali menggunakan angkutan umum yang kini jauh lebih tertib. Dengan begitu, polusi pun bisa ditekan, bukan? Metode ganjil-genap saja lumayan berdampak dan mengurai macet meski persentasenya masih kecil. Pokoknya sudah saatnya kita mengkampanyekan #ayonaikbus dan #naikbusitukeren untuk #enjoypublictransport.

Read More

Share Tweet Pin It +1

10 Comments