In Journey Land

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi

Banyuwangi, Jawa Timur, sudah ada di wishlist-ku sejak lama. Sebelum ini ada beberapa rencana untuk menjelajah daerah di ujung timur Pulau Jawa itu, entah dengan roadtrip dari Jakarta sekalian mencoba tol baru, entah dengan kereta, bahkan ada ajakan teman untuk menemaninya naik sleeper bus yang katanya nyaman. Namun, rencana-rencana itu menguap seiring dengan masuknya pandemi. Semua harapanku untuk piknik bahkan jarak dekat pun pupus.

Namun, setelah 7 bulan di rumah, kesempatan untuk menjelajah Banyuwangi akhirnya datang. Aku sudah sangat iri membaca blog teman-teman yang mendaki Kawah Ijen dan bersenang-senang di Baluran, atau foto cantik di De Djawatan Benculuk. Siapa sangka, Banyuwangi memanggilku dan trip #TransmateJourney Banyuwangi ini tersampaikan menjelang akhir tahun 2020.

Aku mau berbagi cerita seru tentang perjalananku di Banyuwangi. Aku ingin memulainya dengan trasnportasi, sebuah penghubung krusial yang menghubungkan Jakarta dengan Banyuwangi. Kalau kamu mengunjungi Banyuwangi, aku sarankan kamu untuk memilih jalur berangkat dan pulang yang berbeda karena setiap jengkal perjalanan kita selama menjelajah Banyuwangi adalah sebuah cerita. Apalagi dengan kondisi pandemi seperti ini, kisah perjalanan bermasker pun dimulai.
Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi- jurnaland.com
Savana Bekol Taman Nasional Baluran

Berangkat ke Banyuwangi

Kereta Api Argo Bromo Anggrek Eksekutif (Stasiun Gambir - Stasiun Pasar Turi)

Melangkah ke Banyuwangi adalah sebuah perjalanan panjang. Aku memilih kereta api agar perjalanan lebih nyaman mengingat kita harus memperhatikan protokol kesehatan. Kapasitas penumpang kereta api dikurangi agar bisa menerapkan seat distancing. Aku bisa duduk di kereta dengan leluasa karena bangku sebelah kosong. Senang deh, semua penumpang berjarak begini. Perjalanan ini memang terasa sangat berbeda. PT KAI sudah menyiapkan fasilitas angkutan publik demi mencegah penularan Covid-19.

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi - jurnaland.com
Stasiun Gambir

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
Magic hour di Stasiun Pasar Turi Surabaya

Kereta Api Argo Bromo Anggrek

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
Pastikan face shield dipakai ya.

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
Protokol Kesehatan di Stasiun Gambir
Sadarkah kamu, ketika kita di rumah aja beberapa bulan ini, ada orang yang harus tetap bekerja, seperti penjaja makanan, petugas ekspedisi, media, pewarta, petugas kebersihan, dan khususnya agen transportasi. Dunia boleh terputus, tapi para pelaku yang kusebutkan tadi adalah agen terdepan di tengah pandemi. Karena itu, aku rasa sekarang saatnya kita ikut menghubungkan kembali dunia yang terputus itu.

Aku berangkat naik kereta api Argo Bromo Anggrek kelas Eksekutif dari Stasiun Gambir. Harga tiketnya Rp450.000 per Oktober 2020. Kamu bisa pesan tiket kereta api di aplikasi KAI Access atau di web KAI. Seperti halnya bepergian dengan pesawat, naik kereta api jarak jauh pun harus membawa surat keterangan sehat, hasil rapid test, atau PCR test. Ada loket untuk rapid test dengan harga Rp85.000 khusus penumpang kereta api. Kita tinggal menunjukkan tiket dan hanya dibuka pukul 07.00-19.00. Kebijakan tiap stasiun berbeda karena tidak semua stasiun menyediakan posko rapid test. Jika ingin rapid test murah di stasiun, aku sarankan datang sehari sebelum berangkat ya, untuk mengantisipasi antrean yang panjang.

Saat check in dan pengecekan dokumen kesehatan, petugas KAI membagikan face shield sebagai tambahan keamanan. Pastikan face shield ini kamu gunakan selama berada di gerbong kereta. Aku masih melihat beberapa penumpang melepas face shield bahkan tidak membuka bungkusnya sama sekali. Mari sama-sama kita jaga protokol kesehatan saat berada di dalam kereta api. Apalagi perjalanan dari Jakarta ke Surabaya menghabiskan waktu 9 jam naik KA Argo Bromo Anggrek. Bukan waktu yang singkat, lho.

Kereta Api Wijayakusuma Eksekutif (Stasiun Surabaya Gubeng - Stasiun Banyuwangi Kota)

Aku sengaja naik kereta dari Stasiun Gambir pukul 08.15 agar sampai di Surabaya menjelang magrib, pukul 17.15. Aku masih bisa makan malam di sekitar Stasiun Pasar Turi sebelum pindah stasiun ke Stasiun Surabaya Gubeng karena waktu transitnya lumayan lama, hampir 7 jam. Jadwal kereta api Wijayakusuma dari Stasiun Surabaya Gubeng itu pukul 00.25 dan sampai di Stasiun Banyuwangi Kota pukul 06.39. Percayalah, kini jadwal kereta api serba tepat waktu. Ketepatan waktunya lebih baik daripada beberapa maskapai pesawat yang sering delay.

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
Transit di Surabaya Gubeng

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
Kereta Api Wijayakusuma Eksekutif

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
Pagi di Stasiun Banyuwangi Kota

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
Protokol kesehatan di Stasiun Gubeng


Memilih jadwal kereta ke Banyuwangi ini sungguh tricky. Kamu harus benar-benar cek jadwal kedatangan di Surabaya dan jadwal keberangkatan ke Banyuwangi. Jadi bisa dilihat rentang waktu transitnya karena tidak ada jadwal yang sinkron dan waktu transit yang sebentar. Seperti kasusku, ada beberapa pilihan jadwal kereta Surabaya-Banyuwangi. Namun, karena aku mencari kereta eksekutif dan perjalanan malam, jadwalnya cuma pukul 00.25 dan perjalanannya memakan waktu 6 jam, jadi aku memilih KA Wijayakusuma Eksekutif dengan harga tiket Rp190.000. Apalagi saat pandemi, armada kereta yang bolak-balik Surabaya-Banyuwangi dikurangi. Cek-ricek lagi ya, untuk info jadwal kereta ke Banyuwangi.

Tips transit panjang dalam perjalanan selama era pandemi:
  • Ganti masker
  • Bebersih, ganti pakaian (mandi jika memungkinkan)
  • Semprot pakaian dengan disinfektan untuk mencegah penyebaran virus yang siapa tahu menempel di pakaian
  • Bersihkan face shield dengan tisu basah dan semprot disinfektan juga (walaupun saat check in di Gubeng, kita dapat face shield yang baru)
  • Minum air putih cukup
  • Minum suplemen
  • Selalu pakai baju lengan panjang (aturan dari KAI)
  • Hindari kerumunan dan tetap jaga jarak
Transit di Stasiun Surabaya Gubeng cukup nyaman. Tak jauh beda dengan Stasiun Pasar Turi, toiletnya jauh lebih bersih dan musala juga disediakan tanpa karpet. Kita bisa menunggu di bangku-bangku yang sudah disediakan di dalam stasiun. Semuanya seat distancing, kok. Jadi jangan khawatir. Siapkan saja unduhan streaming film atau drama Korea untuk menemani kita selama waktu transit.

Keliling Banyuwangi GRATIS

DAMRI

Nggak sia-sia perjalanan panjang dari Jakarta ke Banyuwangi dan transit di Surabaya. Begitu sampai di Banyuwangi, aku menemukan banner angkutan DAMRI dengan beberapa rute tempat-tempat wisata. Ini yang kucari. Dan, yang paling membuat mata berbinar-binar adalah kata 'GRATIS' di banner itu. Aku langsung unduh DAMRI Apps dan melihat rute yang disediakan. Wow, ada 4 rute yang kebetulan rute yang sejalur dengan itinerary-ku selama 4 hari di Banyuwangi. Ini, sih, aku setiap hari bisa naik DAMRI aja.

Fasilitas DAMRI gratis ini merupakan bagian dari program Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang disiapkan oleh Kementerian Perhubungan, Dinas Perhubungan Banyuwangi, dan DAMRI. Aku bahagia ketika melihat rute-rutenya, bisa menjangkau kawasan wisata Banyuwangi bagian utara, tengah, dan selatan. Titik keberangkatan semua rute ada di alun-alun Banyuwangi, Taman Sritanjung. Namun, bagi kita yang traveler, DAMRI juga melewati stasiun, terminal, dan bandara. Tinggal kita sesuaikan dengan jawal di tiap-tiap titik. 

Jadi, sepertiku, yang kebetulan turun di Stasiun Banyuwangi Kota, aku bisa langsung menemukan DAMRI di stasiun dan bisa langsung berangkat ke destinasi tujuan pertama. Aku naik DAMRI rute Taman Nasional Baluran pada hari pertama yang berhenti di Pantai Watudodol, tempat menyeberang ke Pulau Tabuhan. Setelah itu, aku bisa snorkeling di penangkaran hiu Pantai Bangsring (keseruannya aku tulis di blog post terpisah ya).

Dengan naik DAMRI yang sudah ada di Stasiun Banyuwangi Kota, aku tidak perlu lagi bingung mencari penyewaan motor atau mobil untuk keliling Banyuwangi. Kalau ada pilihan angkutan yang langsung ke lokasi tujuan  dan praktis begini, kenapa harus mengeluarkan budget banyak. Bandara, terminal bus, dan stasiun kereta sudah terkoneksi dan terintegrasi di Banyuwangi.

Buat yang penasaran rute DAMRI ini ke mana aja? Aku tulis detailnya di bawah ya.

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
Ada DAMRI di TN Baluran

Rute DAMRI Gratis di Banyuwangi
  • Taman Sritanjung - Taman Nasional Baluran
Rute: Taman Sritanjung - Pantai Watudodol - Pantai Bangsring - TN Baluran
Armada: Bus
Jadwal: 
Start dari Taman Sritanjung pukul 06.00, 10.00, 14.00
Start dari TN Baluran pukul 08.00, 12.00, 16.00 
  • Taman Sritanjung - Taman Nasional Alas Purwo
Rute: Taman Sritanjung - Terminal Terpadu Wisata - Bandara Banyuwangi - Terminal Muncar - TN Alas Purwo
Armada: Hiace
Jadwal: 
Start dari Taman Sritanjung pukul 07.00, 13.00
Start dari TN Alas Purwo pukul 10.00, 16.00
  • Taman Sritanjung - Kawah Ijen
Rute: Taman Sritanjung - Terminal Brawijaya - Stasiun Banyuwangi Kota, Kawah Ijen
Armada: Hiace
Jadwal: 
Start dari Taman Sritanjung pukul 08.00, 13.00, 18.00
Start dari Kawah Ijen pukul 10.30, 15.30, 20.30
  • Taman Sritanjung - Pulau Merah
Rute: Taman Sritanjung - Terminal Terpadu Wisata -Bandara Banyuwangi - Djawatan Benculuk - Kampung Primitif - Pulau Merah
Armada: Bus
Jadwal: 
Start dari Taman Sritanjung pukul 06.00, 12.00
Start dari Pulau Merah pukul 09.00, 16.00

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
DAMRI setia menunggu kita kalau ingin turun buat foto-foto sebentar.

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
Tuh, kan, banner Gratis-nya menggiurkan.

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
DAMRI masuk TN Alas Purwo


Karena sebelumnya banyak yang bertanya padaku tentang DAMRI gratis ini di DM dan komen Instagram, aku mau klarifikasi di sini. Jadi yang gratis itu ongkos angkutan DAMRI saja ya. Untuk tiket masuk tempat wisata dan konsumsi ditanggung sendiri. DAMRI sifatnya hanya sebagai angkutan kita ke tempat tujuan, ya seperti naik bus lainnya. Bedanya, setiap mau naik DAMRI baik berangkat maupun pulang, jangan lupa pesan lewat DAMRI Apps ya untuk meminimalisir kontak fisik dengan orang lain.

Angkutan DAMRI ini sudah menerapkan protokol kesehatan. Semua unit armadanya rutin disemprot disinfektan. Bangkunya seat distancing. Sopirnya menggunakan masker, face shield, dan sarung tangan. Di dalam mobil pun tersedia hand sanitizer.

Rupanya Banyuwangi telah menerapkan protokol kesehatan seperti ini untuk semua aspek publik. Tempat-tempat wisatanya pun merupakan kawasan wajib mengenakan masker. Di pintu masuk selalu ada wastafel untuk cuci tangan. Tempat-tempat makan, termasuk warung kecil sekalipun juga menyediakan tempat cuci tangan. Sebegitu disiplinnya mereka menerapkan protokol kesehatan demi mencegah penularan Covid-19.

Menyeberang ke Gilimanuk, Bali

Kapal Ferry (Pelabuhan Ketapang - Pelabuhan Gilimanuk)

Sudah sejak dulu orang-orang familiar dengan Pelabuhan Ketapang karena Banyuwangi memang gerbang penyeberangan menuju Pulau Bali. Melihat kapal-kapal datang dan pergi meninggalkan dermaga Pelabuhan Ketapang, aku tergoda untuk menyeberang sebentar. Waktu tempuhnya cuma 45 menit. Sampai di Gilimanuk, aku bisa berkeliling Taman Nasional Bali Barat dan mencoba ayam betutu khas Gilimanuk yang terkenal enak.

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
Kapal dari Gilimanuk mau merapat.

Seperti angkutan luar kota lainnya, protokol kesehatan juga diterapkan petugas ASDP sebelum naik kapal. Pembelian tiket dalam pelabuhan ditiadakan. Jadi yang mau menyeberang ke Gilimanuk, dapat membeli tiket secara online di www.indonesiaferry.co.id.

Harga tiket kapal ferry Ketapang-Gilimanuk
Penumpang dewasa Rp 8.500
Penumpang anak-anak Rp2.200

Penumpang dengan kendaraan
Sepeda: Rp 9.000
Sepeda motor: Rp27.000 - Rp39.000
Mobil sedan: Rp185.500

Namun, ada aturan yang sedikit membingungkan. Pelabuhan Ketapang sendiri tidak mewajibkan membawa hasil rapid test/PCR test. Namun, pemerintah Bali masih menerapkan pemeriksaan itu. Jadi, bagi yang ingin menyeberang di pelabuhan ini, tetap bawa surat rapid test/PCR test. Lagipula itu demi keamanan kita dalam bepergian, kok.

Kembali ke Jakarta

Pesawat Garuda Indonesia Explore Jet Bombardier (direct flight Bandara Banyuwangi - Bandara Internasional Soekarno-Hatta)

Pulang dari Banyuwangi, aku memilih jalur yang berbeda. Berangkat dengan kereta api, pulangnya dengan pesawat. Ini membuktikan bahwa Banyuwangi terkoneksi dengan berbagai jalur transportasi. Banyuwangi semakin terbuka untuk dikunjungi, apalagi status bandaranya adalah bandara internasional. Selama pandemi, penerbangan internasional ditiadakan sementara. Tapi tenang, untuk penerbangan dalam negeri masih ada kok.

Begitu sampai di Bandara Banyuwangi, aku langsung terkesima dengan konsep berbeda yang diusung bandara ini. Biasanya bandara identik dengan pintu kaca otomatis, AC yang terasa dingin, konsep interiornya modern dan futuristik. Namun, tidak bagi Bandara Banyuwangi. Ini adalah bandara pertama yang mengusung konsep green airport.

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
Takut telat.

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
Bandara terasri yang pernah aku lihat.
Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
Kayu ulin di ruang tunggu Bandara Banyuwangi


Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
Cuci tangan dulu ya sebelum validasi dokumen kesehatan.

Ada 2 puncak segitiga di bagian atap yang terinspirasi dari udeng Banyuwangi, ikat kepala laki-laki khas Banyuwangi. Atap berbentuk udeng itu dikelillingi rumput hijau yang sepenuhnya memenuhi sisi atap. Lalu terlihat pula tanaman lee kwan yew menjuntai yang membuat suasana sejuk di bagian teras bandara. Aku paling senang duduk di pinggir kolam ikan sebelum masuk ruang tunggu. Areanya open space dengan sunroof di atap untuk penerangan lebih baik pada siang hari. Ruangan dipenuhi kayu ulin yang memberikan nuansa asri. Kayu ulin ini yang sebagian besar memafaatkan bahan pembuat badan kapal yang tak terpakai lagi. Ventilasi besar dan kipas angin di langit-langit memberikan sirkulasi udara yang baik. Ternyata ada ya, bandara yang ramah lingkungan dan hemat energi begini. Ini bandara non-AC pertama yang aku datangi.

Jika kamu ingin bepergian naik pesawat, ini beberapa hal yang harus kamu perhatikan.
  • Tunjukkan hasil rapid test/PCR test di pos pemeriksaan
  • Unduh aplikasi eHAC (Indonesia Health Alert Card) resmi dari Kementerian Kesehatan, isi formulir kesehatannya pengganti kertas kuning yang biasanya dibagikan di pesawat. Kali ini QR Code yang didapat setelah mengisi form tinggal di-scan di bandara kedatangan
  • Wajib memakai masker
  • Tidak semua maskapai menerapkan seat distancing, jadi sesuaikan dengan budget perjalananmu
  • Maskapai yang tidak menerapkan seat distancing biasanya membagikan face shield saat naik pesawat
  • Ada maskapai yang memberikan fasilitas rapid test gratis
  • Datang ke bandara lebih awal
Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
Open space ini jadi favoritku.

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
Duduknya sendiri-sendiri.

Aku naik pesawat Garuda Indonesia jenis Explore Jet Bombardier. Aku beli tiket beberapa hari sebelum berangkat ke Banyuwangi dengan harga Rp904.900 (Oktober 2020). Karena ini jenis pesawat kecil yang bangkunya 2-2, aku leluasa duduk sendirian karena seat distancing. Duduk di window seat selalu jadi favoritku. Dan, kini nggak perlu permisi ke orang sebelah untuk lewat dan berjalan ke toilet. Seat distancing ada untungnya juga ya. 

Dengar-dengar, Garuda sudah melepas pesawat Explore Jet Bombardier ini per November 2020. Itu artinya ini perpisahanku dengan pesawat GA Explore Jet Bombardier. Rasanya berat meninggalkan Banyuwangi. Tapi, nanti aku akan kembali ke sana.

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
Terharu, petugas bandara dadah-dadah ke pesawat yang akan lepas landas.

Kupas Tuntas Transportasi Selama Jelajah Banyuwangi
View favoritku dari jendela pesawat.

Penerbangan langsung dari Banyuwangi ke Jakarta memakan waktu lebih kurang 2 jam. Kalau bisa ambil penerbangan pagi atau siang ya agar bisa melihat pemandangan cantik Jawa Timur lewat jendela pesawat. Untuk cerita tempat-tempat yang aku kunjungi selama di Banyuwangi, aku akan tulis di blog post terpisah ya.


Foto-foto di artikel ini adalah hasil kolaborasi perjalanan #TransmateJourney Banyuwangi ku bersama Salman Faris.

Read More

Share Tweet Pin It +1

40 Comments

In Story Land

Support Pelaku UKM dengan Dana Awal Rp100.000

Tahu nggak, hal positif apa yang terjadi selama pandemi Covid-19 dan kita semua membatasi diri untuk beraktivitas di luar? Aku lebih banyak belajar hal baru. Salah satunya belajar tentang keuangan, bisnis, dan modal usaha. Mau nggak mau, di tengah pandemi yang belum juga berakhir ini, banyak usaha kecil yang akhirnya gulung tikar. Namun, hebatnya, banyak juga usaha baru yang bermunculan. Beberapa teman yang tadinya nggak mengerti tentang bisnis, jadi mulai membuka usaha kecil-kecilan, entah itu di bilang kuliner, fashion, pernak-pernik, stationary, bahkan jasa. Aku sendiri pernah memulai usaha di bidang travel agent tapi harus berhenti sementara karena sektor wisata benar-benar genting sejak pandemi Covid-19.

Ketika aku banyak browsing tentang modal usaha, aku mendarat di website akseleran yang merupakan start up bidang fintech yang menerapkan Peer to Peer (P2P) Lending. Awalnya aku belum paham tentang konsep P2P Lending ini. Setelah membaca banyak tentang bisnis, oh, jadi P2P Lending mempertemukan pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dengan pemilik modal yang ingin meminjamkan dananya dalam satu aplikasi yang bisa dimonitor. Sistemnya lebih seperti patungan pinjam-meminjam sehingga siapa pun bisa memberikan pinjaman modal.

Support Pelaku UKM dengan Akseleran
Support Pelaku UKM dengan Akseleran (3)


Akseleran sendiri khusus memberikan pinjaman untuk para pelaku UKM. Jadi cocok buat orang-orang yang ingin membuka usaha kecil-kecilan, tentu dengan beberapa syarat khusus. Contohnya, sudah memiliki badan usaha, sudah berjalan dan punya laba bersih selama 1 tahun. Akseleran sangat mempermudah urusan untuk pinjam-meminjam modal usaha. Bisa lewat website, bisa pula lewat aplikasinya. Alurnya terbagi dua, pengguna sebagai peminjam atau pelaku usaha UKM (Borrower) dan pengguna sebagai pemberi pinjaman atau pemodal (Lender).

Akseleran menangkap fenomena tentang banyak UKM yang kesulitan mendapatkan modal usaha, sementara ada banyak pula pemilik dana yang ingin join tapi tidak tahu menyalurkannya ke mana. Dengan menggabungkannya dalam satu aplikasi, tentu ini akan mempermudah kedua pihak itu bertemu. Ada sistem imbal hasil bagi pemberi pinjaman.

Dengan membaca banyak tentang P2P Lending dan Akseleran, aku mulai tertarik untuk ikut serta sebagai pemberi pinjaman. Menggunakan Akseleran untuk memonitor dan menyaring jenis usaha yang mau kita support juga sangat mudah. Dan, yang paling menyenangkan lagi adalah kita bisa memulai dengan dana Rp100.000. Tentu nggak berat, kan.

Ini beberapa kelebihan menggunakan Akseleran sebagai pemberi pinjaman.

Support Pelaku UKM dengan Akseleran

Support Pelaku UKM dengan Akseleran (2)


  1. Imbal Hasil hingga 21% per tahun
  2. Prosedurnya mudah, yang penting saat registrasi kita memasukkan data dengan benar dan membaca kontrak yang sudah diberikan pihak Akseleran. Setelah itu, kita bisa melihat-lihat campaign pinjaman yang sedang berlangsung. Kita bisa ikut serta di satu campaign sesuai bidang industri yang dipilih.
  3. Transaksi aman dan terpercaya
  4. Pengajuan pinjaman di Akseleran sudah melalui tahap seleksi.
  5. Nominal pemberian pinjaman mulai dari Rp100.000 (tidak berlaku kelipatan)

Ada program kode referal yang dapat disebar untuk membantu menyebarkan kelebihan Akseleran kepada yang lain. Dengan kode referal ini, pengguna baru akan dapat saldo Rp100.000, sehingga pengguna lain bisa memulai transaksi dan belajar tentang dunia bisnis dan modal dari aplikasi ini. Untuk kamu yang ingin mendapatkan free saldo senilai Rp100.000, kamu bisa masukkan kode referal AKSLSULUNG367818, dana tersebut bisa langsung kamu berikan pinjaman ke UKM yang sedang menggalang dana di Akseleran. Mudah, kan?

Oiya, untuk free saldo ini hanya berlaku selama 7 (tujuh) hari sejak kamu melakukan registrasi. Well, yuk mulai dari sekarang kembangkan dana selain mendapatkan bunga hingga mencapai 21% per tahun tapi dengan dana kecil kita sudah membantu roda perekonomian bangsa.

Selain kita bisa men-support para pelaku usaha dan memajukan ekonomi, apalagi di tengah pandemi ini, kita juga bisa belajar berinvestasi dan jeli terhadap banyak peluang. Transparansi yang dilakukan Akseleran, tentu tidak membuat penggunanya waswas. Saat kita mulai memberikan dana kepada salah satu badan usaha atau ikut salah satu campaign pinjaman di dalam aplikasi, dana kita akan dikumpulkan bersama pemberi dana yang lain sesuai permohonan pinjaman. Jika tidak mencukup nominal target 80%, dana akan kembali ke saldo si pemberi pinjaman. Jadi uang kita nggak serta merta hilang. Kita bisa menyaring dan mengeceknya di dalam aplikasi Akseleran.

Semua orang dituntut untuk produktif saat ini, putar otak jungkir balik untuk mempertahankan cash flow keluarga. Apalagi bagi UMKM dan pedagang kecil. Meski selama PSBB kemarin, restoran dan pelaku usaha di bidang kuliner menjadi salah satu bidang yang diizinkan tetap buka, tapi tentu kondisinya tak senormal biasanya. Kecemasan masyarakatlah yang mengubahnya. Aku rasa belajar bisnis dari rumah dan menggunakan Akseleran sebagai wadah berinvestasi jenis P2P Lending tentu akan menambah wawasan dan support laju perekonomian kita. Jangan sampai pandemi justru membuat kita ragu untuk memulai.


Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Movie Land

Time-Travel-Date ala K-Drama The King: Eternal Monarch

Drama Korea membuatku waras selama pandemi Covid-19 dan PSBB Jabodetabek. Setelah nggak bisa ke mana-mana, drama pulang terpaksa dari perjalanan Singapura-Langkawi, batal stay di Kuala Lumpur untuk satu pekerjaan, dan alhasil, sampai tulisan ini diterbitkan, aku belum ada rencana traveling ke mana pun. Sejumlah rencana harus diurungkan karena Covid-19 masih merajalela.

Untung kewarasanku masih terjaga berkat tontonan bioskop kecil di rumah ini. Setelah dipikir-pikir, sudah 4 bulan aku nggak nonton di bioskop. Sekarang semua berpindah ke aplikasi streaming. Drama Korea untungnya tetap seperti biasa, menayangkan tontonan seru. Anyway, aku bukan anak baru di drama Korea ya. Aku udah nonton sejumlah judul drakor yang bagus-bagus itu selama 2 tahun terakhir. Jadi udah nggak asinglah dengan alur cerita drama korea yang ajaib-ajaib, percaya reinkarnasi, budaya minum soju dengan ayam goreng, sampai kode-kode cinta yang tersimpan dari semangkuk ramyeon.

Sayang juga ya kalau aku cuma duduk lalu nonton tanpa cuap-cuap di sini. Mumpung lagi puasa traveling, aku mau bahas drama Korea yang baru aja tamat, The King: Eternal Monarch. Biasanya aku review film sih di blog ini, tapi mau coba bahasa drakor juga sekalian ah. Soalnya begitu nonton The King: Eternal Monarch di episode pertama, aku langsung terpikat dengan plot dunia paralel yang imajinatif banget.

The King: Eternal Monarch


Cerita yang Imajinatif dengan Manpasikjeok (Seruling Pusaka Ajaib)

Plot dasar The King: Eternal Monarch adalah adanya dua dunia paralel dan bagaimana beberapa orang yang berwajah mirip dari dua dunia itu mulai bertemu dan bahkan bertukar tempat. Cerita berawal dari Lee Rim (diperankan dengan sangat apik oleh Lee Jung Jin), salah satu keluarga Kerajaan Corea yang telah membunuh rajanya sendiri demi mengambil seruling ajaib (Manpasikjeok) yang menjadi benda pusaka kerajaan turun-temurun. Namun, pemberontakan itu digagalkan oleh Lee Gon yang merupakan anak raja dengan mematahkan seruling menjadi 2. Lee Rim berhasil membawa belahan seruling itu dan kabur dari istana.

Manpasikjeok dipercaya sebagai benda yang jika ditiup akan membuat dunia sejahtera dan penuh keseimbangan. Lee Rim sudah lama mengincar seruling pusaka ini karena ia bukannya mengincar tahta kerajaan yang akhirnya jatuh ke tangan Lee Gon kecil. Ia mengincar keabadian dan dapat menguasai dunia. Sesuatu yang lebih besar dari sekadar menguasai Kerajaan Corea.

Drama Korea The King: Eternal Monarch

Sementara itu, Lee Gon yang masih berusia 8 tahun langsung diangkat menjadi raja setelah upacara pemakaman ayahnya. Pada saat bersamaan, Lee Rim sudah menemukan keajaiban belahan serulingnya, ia menyeberang ke dunia lain, Republik Korea. Lee Rim pun menyadari bahwa di dunia lain itu ia mengenali wajah-wajah yang sama dengan peran dan nasib berbeda. Ia mulai bermain di sana, menukar-nukar beberapa wajah untuk dibawa ke Kerajaan Corea layaknya pion-pion catur dan membunuh salah satunya. Itu terjadi selama 25 tahun. Selama itu pula ia telah membunuh kembarannya di Republik Korea dan mengirim mayatnya ke Kerajaan Corea, sehingga ia dapat dinyatakan meninggal biar tidak terus-terusan jadi buron kerajaan. Namun, tidak bagi Lee Gon (diperankan oleh Lee Min Ho).

Plot drama ini mengambil dunia paralel sebagai pusat sumbunya. Sejauh ini belum ada K-drama yang pernah kutonton mengambil jalan cerita seperti ini. Biasanya plot drama Korea yang paling sering diangkat berkisar tentang kehidupan masa lalu dan reinkarnasi masa kini. Lalu tokoh yang hidup sekian ratus tahun untuk menebus dosanya atau menemukan jodohnya. Ada juga plot drama tentang dunia nyata dengan dunia komik. Serupa tapi tak sama, The King: Eternal Monarch justru menyuguhkan perbedaan dunia Republik Korea dengan Kerajaan Corea pada garis waktu yang sama. Ini juga sekaligus membayangkan apa jadinya ya Korea kalau berjalan dengan sistem kerajaan? Apa jadinya juga ya Korea jika tidak terpecah antara Korea Utara dan Korea Selatan. Soalnya di dunia Kerajaan Corea, negeri Korea menyatu. Berbeda dengan Republik Korea yang cuma punya wilayah Korea Selatan. 

Dengan garis cerita dunia paralel, bumbunya pun seperti biasa, ada kisah cinta yang dalam antara dua orang beda dunia itu. Lee Gon bertemu dengan Jung Tae Eul (diperankan oleh Kim Go Eun) ketika nggak sengaja menemukan gerbang dunia paralel berkat bilah Manpasikjeok. Lee Gon yang merupakan raja di Kerajaan Corea dan punya misi memburu Lee Rim di kedua dunia itu harus mengahapi kisah romansa yang rumit dengan Jung Tae Eul yang merupakan Letnan di kantor polisi Seoul, Republik Korea. Masalahnya, Jung Tae Eul juga memburu kasus pembunuhan dan orang hilang yang jika dirunut, ternyata disebabkan oleh Lee Rim.

Menarik, kan, plotnya. Bikin greget. Misteri dan kisah detektif menjadikan The King: Eternal Monarch melekat dan ditunggu-tunggu.

Jo Eun Sup Menjadi Scene Stealer

Keberadaan Jo Eun Sup (dimainkan oleh Woo Do Hwan) yang mirip dengan pedang abadi sang raja di Kerajaan Corea menjadi bumbu komedi di The King. Tanpa Jo Eun Sup, mungkin The King akan jadi drama serius antara Lee Gon, Lee Rim, dan Jung Tae Eul.

Review Drama Korean The King: Eternal Monarch 2

Review Drama Korean The King: Eternal Monarch 3

Adegan paling kusuka adalah saat Jo Eun Sup bertemu pertama kali dengan Jo Yeong yang diajak Lee Gon melintasi gerbang dunia paralel. Mereka bertemu di rumah Jung Tae Eul. Lalu, Jo Yeong ditugaskan untuk tinggal beberapa waktu di Republik Korea untuk mengintai Lee Rim dan antek-anteknya. Sementara Jo Eun Sup menggantikan perannya jadi pengawal di Kerajaan Corea. Sungguh pertukaran yang tidak menguntungkan untuk image Jo Yeong yang teramat serius dan tangguh dalam beladiri di istana. Belum apa-apa, Jo Eun Sup sudah kena tembak saat menyelamatkan sang raja dari anak buah Lee Rim.

Jo Eun Sup yang terluka masih bisa membuat alur cerita menjadi sedikit ringan dengan tingkahnya di rumah sakit. Lucu sekali. Jo Eun Sup memang tak bisa beladiri, tapi dia sangat pintar dalam strategi dan menyintas program. Ia bisa membuka password laptop Jo Yeong yang merupakan bagian dari keamanan data istana. Ia juga berhasil menjebak anak buah Lee Rim saat akan menikamnya di rumah sakit berkat ia menemukan alat penyadap di ruang rawatnya. Hebat, ya. Ia dihadiahi masker topeng raja dan dibelikan mobil mewah setelah 'perjalanan dinasnya' ke Kerajaan Corea selesai.

Lucunya, Eun Sup sendiri tidak pernah berhasil lulus tes driving untuk mendapatkan SIM. Katanya, ia sulit menentukan arah belok karena jadi laki-laki itu berjalan lurus. Well, kebayang kan Jo Yeong emosi menghadapi kembaran dua dunia ini. SIM-nya justru didapatkan oleh Jo Yeong yang mengikuti serangkaian tes saat ia berada di Republik Korea dengan menggunakan identitas Eun Sup. Btw, nggak cuma wajah yang mirip, sidik jari dan DNA mereka juga sama. Jadi, gampang bagi mereka bertukar peran beda dunia. 

Adanya Teori Lintas Waktu

Di 3 episode terakhir, kita nggak cuma akan melihat alur orang yang melintasi gerbang berkat seruling ajaib yang dipegang Lee Gon dan Lee Rim. Kita disuguhi kejutan baru tentang seruling ini. Jika utuh, seruling pusaka ini bisa membuka gerbang lintas ruang dan waktu sekaligus.

Kebayang kan mengapa Lee Rim tega berkhianat pada keluarganya sendiri demi bisa mendapatkan Manpasikjeok. Rasanya nyawa orang lain tidak ada harganya lagi. Lee Rim membutuhkan keabadian. Terlihat dari dia yang awet muda selama 25 tahun. Selama seruling ajaib itu terbelah, ruang di antara 2 gerbang yang terbuka menjadi ruang yang disebut Lee Gon 'ruang dimensi 0'. Di sana waktu berjalan sangat lambat, tanaman tidak tumbuh, dan udara tidak bergerak. 

Review The King: Eternal Monarch

Lee Gon pernah harus terjebak di dalam ruang dimensi 0 saat ia terjebak di masa lalu. Ia harus menunggu selama 25 tahun waktu dunia normal. Itu artinya, menurut hitungannya, ia akan berada di ruang dimensi 0 selama 4 bulan lebih. Selama berada di sana, Lee Gon harus menghitung lompatan waktu dengan cermat jika ingin kembali ke masa kini.

Masalah lain yang ditimbulkan oleh Manpasikjeok yang terbelah ini adalah adanya sumbu ruang dimensi 0 yang membuat setiap orang yang melewati gerbang, waktu akan berhenti. Awalnya cuma beberapa detik, tetapi semakin banyak orang yang lalu lalang di gerbang dan ruang dimensi 0, waktu pun berhenti lebih lama.

Lee Gon menghitung dengan cermat perhentian waktu itu. Uniknya hanya dia dan Lee Rim yang dapat bergerak selama waktu berhenti, sebagai orang yang memegang bilah Manpasikjeok. Lee Gon akhirnya memprediksi, jika ini terus berlanjut, waktu akan berhenti selamanya. Ruang waktu akhirnya akan berlaku hanya untuk mereka berdua. Teori ini tentu menjadi isu kuat yang menggiring cerita dari episode ke episode.

Apalagi ada bumbu cinta yang menjadikan alasannya untuk merebut kembali Manpasikjeok itu. Ia tidak mau waktu yang dijalani Jung Tae Eul berhenti, khususnya saat mereka sedang bersama.

Puncak dari segala konflik, Lee Gon hanya punya satu cara untuk keluar dari masalah ini. Membunuh Lee Rim tidak akan bisa karena pengikutnya sudah banyak. Orang-orang kepercayaannya tentu akan jadi taruhannya. Lee Gon memutuskan untuk membuka gerbang ke masa lalu. Sesuatu yang belum pernah dia lakukan.

Ngapain Lee Gon ke masa lalu? Apakah dia mengubah masa depan? Ini pertanyaan sungguh mengandung spoiler. Bagi yang belum nonton, bisa berhenti baca sampai di sini. Kalau udah, yuk kita bahas bagaimana akhirnya.

Lee Gon Mengubah Masa Depan

Sepertinya hampir semua K-drama sangat memanjakan penonton. Episode paling mendebarkan adalah 3 episode terakhir.

Namun, menurutku, cerita sebenarnya berakhir di episode 15 saat semua konflik memuncak meski, Lee Rim memberi skakmat untuk Perdana Menteri Koo yang oportunis dan ingin menjadi ratu Kerajaan Corea. Sepanjang episode, kehadirannya hanya mengganggu hidup Lee Gon saja. Culasnya sama, tapi PM Koo masih punya kelemahan yang dapat ditumbangkan oleh Lee Rim, yaitu menukar ibunya. Itu artinya ibu kandungnya sudah dibunuh. Ibunya tak lagi ibunya. Mirip judul FTV ya. Well, adegan PM Koo berteriak keras saat menyadari ibunya bukan ibu kandungnya lagi menjadi adegan pamungkas di episode 15.

Setengah hati aku berharap, ada celah untuk menyelesaikan masalah pertukaran dua dunia ini yang konfliknya nggak antiklimaks. Tapi apa yang dilakukan Lee Gon menjadi sebuah twist sendiri. Lee Gon kembali ke masa lalu sebanyak 2x. Yang pertama, untuk melihat dirinya menyelamatkan Lee Gon kecil sambil membawa-bawa ID Card Jung Tae Eul. Terjawab sudah misteri ID Card Jung Tae Eul yang selama ini disimpan dari kecil oleh Lee Gon. Lee Gon sudah mengetahui bahwa ID Card itu adalah pesan dari masa depan karena ada angka tahun kartu itu dibuat, 2019.

Review The King: Eternal Monarch

Lalu, misi perjalanan ke masa lalu keduanya benar-benar akan menjadikan sejarah berubah. Lee Gon harus mendapatkan Manpasikjeok utuh sebelum Lee Rim mengambilnya. Dia harus mencabut akar yang mengganggu sebelum akar itu tumbuh menjadi benalu. Itu artinya dia bisa saja mengorbankan dirinya sendiri di masa kecil saat Lee Rim berusaha mencekik lehernya. Jika itu terjadi, Lee Gon dewasa tak pernah eksis.

Soal masa lalu berubah dan eksistensi para karakternya menjadi isu menegangkan menjelang akhir episode. Kalau nggak konsentrasi, kita nggak akan ngerti alur ceritanya. Teori tentang lintas waktu memang memusingkan, ya. Satu kejadian kecil diubah, masa depan berubah. Seperti saat perjalanan pertama Lee Gon dan terjebak di masa lalu, Lee Gon bertemu Jung Tae Eul muda beberapa kali. Tentu ini akan menjadi ingatan baru bagi Jung Tae Eul dewasa. Ini juga menjadikan pertemuan pertama  yang ditampilkan di episode 1 berulang dan memberi kesan berbeda.

Namun, perkara ingatan tambahan dan masa depan berubah, ada yang namanya garis takdir yang tidak berubah. Meski pertemuan Jung Tae Eul dan Lee Gon menjadi lebih hangat (tidak sedingin pertemuan pertama mereka di awal episode), takdir mereka untuk menghadapi beberapa tantangan cinta dan hidup masih sama. Dengan kata lain, ada sistem qada dan qadar (dalam ajaran agama) yang memang sudah kita yakini, bukan? Pokoknya, persoalan lintas waktu ini akan jadi rumit, tapi menjadi sedikit sederhana di K-drama ini. Satu yang aku pahami sejak dulu, ada berbagai kemungkinan hidup terbuka jika kita berandai-andai dapat mengubah masa lalu, tetapi tidak dengan takdir yang sudah ditetapkan.

Itu serupa dengan ungkapan orang, "Kalau jodoh, nggak akan lari ke mana." Eaaa... Ya, mau mengambil pilihan hidup macam apa pun, mau berbelok ke kiri atau ke kanan, hal yang sudah ditetapkan untuk kita akan menjadi milik kita juga.

Review The King: Eternal Monarch

Balik lagi ke kisah Lee Gon mengubah masa lalunya sendiri. Sebenarnya aku kurang puas dengan eksekusi kisah menjelang akhir ini. Ini sama saja Lee Gon mengakhiri perang sebelum perang itu dimulai. Kejahatan Lee Rim dicegah dari awal bahkan sebelum kejahatan itu terjadi. Jadi, rasanya sia-sia menonton kisah yang panjang dan penuh misteri dari awal, jika semua kisah rumit tentang dunia paralel ini di-reset. Semua orang yang dibunuh Lee Rim, tetap hidup di dunianya masing-masing, orang yang bertukar peran juga tak mengenal satu sama lain. Bahkan kembaran Lee Gon di Republik Korea yang dulu dibunuh Lee Rim pun masih hidup dan punya nasib hidup yang baik. Agak kurang puas ya.

Bagaimana nasib Lee Gon dan Jung Tae Eul yang beda dunia? Apa yang terjadi jika pintu gerbang dunia paralel ditutup? Well, di episode 15, sebelum berpisah, Lee Gon berjanji untuk membuka semua gerbang semesta demi bertemu Jung Tae Eul. Dan, mungkin ini yang menghibur di episode 16.

Time-travel-date

Karena mengikuti drama ini on-going, jadi nungguin banget episode 16 dan akhir ceritanya. Karena sudah pasti Lee Gon dan Jung Tae Eul tidak dapat bersama begitu ia mengubah masa lalu dan mendapatkan Manpasikjeok dengan utuh sebelum dicuri Lee Rim. Jika gagal, Lee Gon dewasa tidak pernah eksis dan ingatan Jung Tae Eul tentang Lee Gon akan hilang.

Sebenarnya episode 16 ini adalah episode hiburan. Semua misteri sudah dipecahkan dan Lee Gon sudah me-reset dunia. Seharusnya semua kembali normal. Tetapi Lee Gon mencoba menggunakan Manpasikjeok utuh untuk kembali ke tahun 2020. Ternyata ada yang mengejutkan. Jika sebelumnya kita mengenal ada 2 dunia, ternyata ketika seruling ajaib itu utuh, benda itu dapat membuka gerbang ke banyak dunia. Nggak cuma 2. Jadi Lee Gon membuka gerbang dunia satu per satu hingga menemukan Jung Tae Eul yang benar. Dia memasuki gerbang secara random dan bertemu dengan kembaran Tae Eul dengan berbagai sifat dari berbagai dunia. Sepertinya janjinya untuk membuka semua gerbang semesta benar-benar ditepati. Kalau kamu nonton langsung, pasti geli sendiri, deh. Butuh 1 tahun baginya untuk menemukan gerbang ke Republik Korea. 

Review Drama Korean The King: Eternal Monarch 5

Dengan menjalin hubungan LDR beda dunia ini, Lee Gon dan Jung Tae Eul sepakat untuk menyembunyikan hubungan mereka dari semua orang. Toh, orang yang mereka kenal juga sudah saling melupakan eksistensi dunia paralel. Kecuali Jo Yeong yang ikut dalam perang ke masa lalu bersama Lee Gon. Dia masih mempunyai ingatan tentang dunia paralel dan kembarannya Jo Eun Sup di dunia Republik Korea. Namun, mereka sepakat tidak akan saling menyeberang gerbang dunia lagi demi rahasia dan keamanan dunia masing-masing.

Nah, masalah lain yang menjadi penutup kisah The King: Eternal Monarch adalah dapatkah Jung Tae Eul menjadi ratunya Lee Gon? Jawabannya sudah pasti tidak karena Jung Tae Eul sendiri punya kembaran di dunia Kerajaan Corea. Itu tentu akan membuyarkan identitas Luna, kembaran Jung Tae Eul di dunia itu.

Jadi kisah ditutup dengan cerita kencan mereka yang menarik pada akhir minggu. Mereka mendatangi berbagai ruang dunia dan memastikan waktunya tidak sama dengan waktu dunia mereka, memastikan mereka tidak punya kembaran di dunia yang dituju. Cuma K-drama ini yang punya ide cerita kencan traveling lintas waktu, ya dan mereka sudah menyiapkan satu koper perlengkapan pakaian dan aksesoris sesuai tren waktu dan dunia yang mereka tuju. Mereka selalu janjian di depan gerbang dimensi 0. Manis-menarik-menegangkan, bukan?

Kisah romansa yang dibuat dengan level berbeda dari kisah kebanyakan.



Read More

Share Tweet Pin It +1

18 Comments

In Journey Land Story Land

Jelajah Sumbawa, Perjalanan Penuh Drama, Nyasar, dan Ditinggal Kapal

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Journey Land Story Land

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown, Tiket Pulang Batal

Setelah 4 hari di Singapura, aku bertolak ke Langkawi, Malaysia. Dan kamu tahu, hari saat aku berangkat dari Changi Airport ke Langkawi adalah hari saat Singapura memperketat border imigrasinya. Negara yang di-lockdown untuk masuk ke Singapura bertambah. Untuk kita yang berasal dari negara ASEAN wajib memperlihatkan surat keterangan kesehatan di imigrasi. Kalau tidak, ya nggak boleh masuk Singapura. Intinya, kita tidak bisa traveling with no purpose. Yes, Singapura lockdown hari itu. Saat aku keluar border, maka aku tidak bisa masuk Singapura lagi untuk sementara waktu.

Aku naik Air Asia dari Singapura ke Langkawi yang membutuhkan waktu 1 jam. FYI, Langkawi ini adalah salah satu pulau di sisi utara Malaysia, berbatasan dengan perairan Thailand. Begitu sampai di sana, aku melepas masker karena udaranya panas sekali. Seperti kata seorang temanku yang tinggal di Singapura, udara panas bagus buatmu to kill the virus. Oke, aku harus berpikiran positif, semoga tidak membawa virus dari Singapura masuk ke pulau kecil ini. Belum ada kasus pasien positif di Pulau Langkawi saat aku di sana.

Bagi foreigners, kami wajib mengisi formulir pernyataan tidak baru saja traveling dari negara Cina, Korea Selatan, Iran, Italia, dan Jepang. Setelah itu formulir ditandatangani dengan meninggalkan sejumlah kontak termasuk alamat hotel tempatku menginap. Selebihnya Langkawi aman pada saat itu, tanggal 16 Maret 2020.

Baru saja menikmati suasana pantai sore hari di Langkawi dan menikmati bersihnya udara di sini yang jauh dari perkotaan, aku mendengar kabar gempar malam harinya dari pemerintah pusat Malaysia. Malaysia akan melakukan lockdown dan melarang semua aktivitas di luar sampai akhir Maret 2020. Pemberlakuan itu dimulai dari 18 Maret 2020.

Aku cuma bisa berjalan-jalan di tempat-tempat wisata Geopark di Langkawi pada tanggal 17 Maret, ke Telaga Tujuh dan Dataran Lang. Suasana lokasi wisata relatif sepi karena hari kerja. Beberapa pengunjung ada yang berendam di Telaga Tujuh. Aku harus trekking sekitar 200 meter sebelum melihat telaga dengan view lembah air terjun. Ah indahnya. Ini menjadi tempatku merilis stres setelah dapat beberapa pertanyaan dan hujatan di DM terkait perjalananku di tengah wabah virus corona.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (2)

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (3)

Aku berpikir untuk mematikan sinyal sejenak biar bisa menikmati keindahan Langkawi ini, yang tentu saja berbeda dengan suasan kota besar di Singapura. Dataran Lang menjadi tujuan berikutnya. Lagi-lagi lokasinya sepi. Tapi Langkawi sangat panas. Suhu mencapai 35-36 derajat Celcius. Panas banget sampai mungkin virus corona tak ingin mampir ke sana (bercanda :)). Lebih panas dari Jakarta bahkan. Anw, di Dataran Lang ini ada monumen burung elang raksasa. Jadi, Langkawi itu diambil dari kata 'lang' yang berarti 'elang'. Langkawi memang dikenal sebagai daratan elang. Aku beberapa kali melihat elang terbang bebas di udara. Lega sekali melihat habitat elang di sini masih aman.

Malam sebelum lockdown, bukannya bisa beristirahat, sebelum makan malam, aku melihat kepanikan kental sekali terasa di pusat perbelanjaan di Langkawi. Beberapa orang mulai belanja stok makanan dan obat-obatan. Untung orang-orang di sini nggak panic buying karena esok harinya semua pertokoan dan mall tutup kecuali beberapa restoran. Restoran dan swalayan tetap buka dengan syarat social distancing dan hanya boleh take away makanan.

Lalu bagaimana nasibku dengan status foreigner? Banyak sekali berita simpang-siur. Lockdown berlaku untuk warga negara Malaysia. Tapi ada berita bahwa Malaysia juga menutup penerbangan keluar dan masuk. Jadi, kami putuskan malam itu pukul 12 malam, kami melaju ke kantor polisi terdekat, katanya ada ketentuan wajib lapor. Ah, berita beneran simpang siur. Ketika 1 kantor polisi tutup, kami mencari kantor polisi yang lain di Langkawi. Aku sudah mengantongi paspor dan pulpen. Namun, lucunya, begitu sampai kantor polisi, suasana sangat sepi. Kata pak polisi, kami bisa pergi ke mana pun dan tak perlu lapor. Wah, ternyata Langkawi santai sekali ya. Ada beberapa video beredar dari Kuala Lumpur bahwa kantor polisinya dipenuhi antrean. Well, kita nggak tau mana yang benar kan.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (4)

Ya, hari ketiga aku di Langkawi, aku hanya berdiam diri di hotel bersama beberapa teman Malaysia yang tim kerjaku. Di Indonesia, kabarnya saat itu penuh desakan lockdown juga. Aku tak mau ambil pusing berita itu daripada stres sendiri. Kami hanya berjalan keluar hotel untuk membeli makanan dan kembali pulang, mengisolasi diri. Langkawi yang sepi seketika menjadi sangat sepi dan seperti kota mati. Aku hanya membeli roti Subway untuk bekal makan siang dan memasak Indomie di hotel. Setelah itu, biar nggak bosan, nilai plusnya lockdown hari ini, kami masih bisa berjalan-jalan ke pantai di seberang jalan dan menunggu sunset di sana. Pantai cukup sepi, lho.

Setelah menjalani seharian isolasi di hotel, setidaknya aku masih bisa menikmati sunset terbaik di Langkawi. Hari itu, aku dan teman-teman melakukan meeting. Jadwal kepulanganku ke Indonesia dimajukan. Seharusnya, setelah selesai eksplor Langkawi, aku akan berada di Kuala Lumpur hingga tanggal 26 Maret 2020. Namun, situasi benar-benar tidak memungkinkan lagi. Meski Indonesia tidak memberlakukan lockdown, ada himbauan resmi dari Menteri Luar Negeri RI kepada semua traveler WNI untuk segera pulang sebelum kondisi semakin sulit. Apalagi kudengar Bali saat itu sudah tertutup bagi wisatawan asing. Jalur internasional menuju Bali pun memang agak sulit. Seorang temanku ada yang pulang ke Denpasar, tetapi karena info itu, dia berniat untuk pulang ke Jakarta.

Jadilah tiket pulang sudah dipesankan untukku tanggal 19 Maret 2020. Dari Langkawi, aku akan transit di Kuala Lumpur dan langsung terbang ke Jakarta. Aku packing malam itu juga.

Namun, semua tidak berjalan lancar. Pagi-pagi sekali, teman sekamarku sudah dihebohkan dengan tiket pesawatnya di-cancel. Kami terpecah dalam 2 penerbangan. Beberapa teman naik Air Asia (yang di-cancel itu) sementara aku dan sisanya naik maskapai Malindo Airlines. Bagi temanku yang warga negara Malaysia, mereka memang kesulitan untuk traveling dalam negeri karena setiap warga negara harus tetap di rumah. Tapi mumpung aturannya belum ketat-ketat amat pada saat itu, mereka masih bisa pulang ke kota asal.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (5)

Nah, yang bikin geger tanggal 19 Maret itu adalah semua penerbangan Air Asia dibatalkan baik dalam, maupun luar negeri. Jadi sebagian temanku akan tetap stay di Langkawi sampai hari berikutnya, beli tiket baru. Kami antisipasi untuk tidak membeli tiket Air Asia lagi. Sementara aku masih bisa terbang dengan Malaysia Airlines. Namun, risikonya aku harus menginap satu malam di Kuala Lumpur International Airport menunggu penerbangan tanggal 20 Maret dengan Malaysia Airlines juga. Sempat konfirmasi ke Air Asia untuk penerbangan berikutnya ke Jakarta dan mereka hanya menjawab tidak janji akan terbang. :(

Semua keluarga dan teman dekat sudah khawatir dengan isu lockdown Malaysia yang diperketat. Sebagian mereka menyangka aku sama sekali tidak bisa pulang ke Indonesia. Aku juga sempat berpikir seperti itu saat melihat jadwal keberangkatan di bandara dipenuhi dengan status cancel untuk penerbangan ke luar negeri. Beruntungnya aku, satu-satunya maskapai yang terbang ke Jakarta tanggal 20 Maret adalah Malaysia Airlines. Aku bernapa lega. Aku tidak bisa tidur semalaman meski sudah menyewa kamar di capsule hotel KLIA. Setelah sejauh ini perjalanan dan beberapa kali ganti tiket, tentu aku tidak mau tiket pulangku di-cancel lagi. Kalau sempat cancel, mungkin aku akan menghubungi KBRI di Kuala Lumpur hari itu.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (6)

Dan, ya, kabar gembiranya aku bisa pulang dengan sehat ke Jakarta. Meski sempat alot di counter check in karena pembelian bagasi-ku tidak confirmed. Jadinya aku harus bayar bagasi per kilo. 1 kg dikenakan 62 RM. Total bagasiku saat itu adalah 18 kg. Hitung sendiri berapa biaya yang harus aku bayar. Aku sudah berusaha mengurangi bagasi di tempat dan cuma berkurang sebanyak 5 kg. Jadi ya daripada ketinggalan pesawat, aku terpaksa membayar sejumlah uang yang mereka minta. Sampai saat ini, temanku sedang berusaha komplain ke pihak maskapai dan travel agent untuk refund dan sebagainya. Aku sendiri sudah terlalu lelah untuk memikirkannya. Sampai hari ini saja, tiket Air Asia yang cancel belum sempat di-refund. Yang penting bisa sampai di rumah dulu deh.

Di bandara Soekarno-Hatta sendiri, penjagaan border imigrasi diperketat juga. Katanya koper-koper di bagasi disemprot disinfektan, tapi aku tidak melihatnya. Entah benar atau tidak. Di samping itu, kami dibagikan formulir kewaspadaan kesehatan untuk 2 minggu ke depan. Jadi diharapkan untuk setiap traveler yang pulang dari negara terjangkit pandemi memang harus diisolasi selama 14 hari. Kalau terjadi sesuatu, aku bisa membawa formulir itu ke RS rujukan untuk diperiksa.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (7)

Saat artikel blog ini terbit, aku masih menjalani hari-hari karantina di rumah sebagai antisipasi. Semoga aku baik-baik saja dalam 2 minggu ke depan dan semua yang baca artikel ini juga baik-baik saja. Mari berdoa untuk kesembuhan banyak orang dan berharap wabah ini cepat berhenti.

Jangan lupa, cuci tangan pakai sabun sesering mungkin dan berlakukan social distancing, ya teman-teman. Penyebaran virus corona itu melalui droplet (percikan dari penderita yang menempel di permukaan benda). Jadi kunci pencegahannya adalah di tangan kita yang kadang-kadang suka rese pegang ini-pegang itu lalu lanjut usap-usap muka. Yang penting rajin cuci tangan pakai sabun.


Read More

Share Tweet Pin It +1

28 Comments

In Journey Land Story Land

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 1), Apakah Singapura Lockdown?

Hai, rasanya lama tidak menulis di sini. Kali ini aku mau share tentang pengalaman perjalanan di tengah merebaknya wabah Covid-19 alias virus corona dan berdampak pada beberapa negara lockdown. Jadi ceritanya dimulai dari sini.

Aku dapat jadwal untuk perjalanan Singapura dan Malaysia dalam waktu yang lumayan panjang, 2 minggu. Ada beberapa pekerjaan yang dilakukan di sana terkait konten video dan shoot untuk Facebook Live. Pada saat aku akan berangkat, Indonesia digemparkan dengan masuknya kasus positif Covid-19 sebanyak 2 orang dan bertambah banyak dalam waktu 1 minggu. Banyak info beredar apalagi aku berangkat ke Singapura, negara yang terdampak Virus Corona pertama di Asia Tenggara.
Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (3)

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (2)
Jewel Changi Airport Mall.

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah
Changi Airport yang super sepi.
Jangan tanya apakah keluarga dan teman dekat tidak melarangku berangkat? Tentu saja aku dibanjiri chat penuh kekhawatiran. Sempat terpikir juga untuk membatalkan keberangkatan. Namun, kalau batal, aku akan merugikan beberapa pihak tentu saja. Karena agendaku ke Singapura untuk melakukan beberapa project. Untungnya Junisatya memberi semangat, "Jangan khawatir. Santai aja. Kan berangkatnya karena pekerjaan. Lakukanlah pekerjaan itu." Tak ada kalimat yang paling menenangkan dibanding ucapan suami sendiri.

Aku berangkat juga ke Singapura tanggal 13 Maret. Saat itu, Singapura hanya memberi peringatan untuk pendatang yang berasal dari 4 negara--Korea Selatan, China, Iran, dan Italia--tidak dapat memasuki Singapura.  Ini berlaku juga buat travelers yang dalam 14 hari ke belakang baru aja balik dari 4 negara itu. Pasporku diperiksa per halaman apakah punya riwayat traveling di ke-4 negara yang di-lock itu. Bagi warga negara Singapura yang baru saja traveling dari 4 negara yang disebutkan wajib mengisolasi diri selama 14 hari di rumah masing-masing. Aku melewati kamera screening suhu tubuh sampai 2x. Pengecekan termometer tembak diberlakukan untuk anak-anak.

Aku sudah siap dengan beberapa lembar masker, tisu basah, botol minum yang siap refill di mana saja, toilet seat sanitizer. Sementara itu, aku beli hand sanitizer di Guardian stasiun MRT Bedok di sana.

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (4)
Hand Sanitizer di Singapura masih tersedia banyak sekali, nggak selangka di Indonesia

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (5)
Situasi di dalam MRT Singapura sore hari.
Selebihnya, masuk Singapura sangat aman dan sangat terkontrol. Negara itu tampak lebih siap dalam penanganan virus. Aku melihat hand sanitizer disediakan di beberapa spot keramaian, termasuk stasiun MRT. Banyak orang mengenakan masker. Suasana di Singapura lebih terkontrol, tidak ada kepanikan dan berita hoax yang beredar. 

Sebaliknya, respons lain kudapatkan dari teman-teman di Indonesia. Ada banyak yang khawatir dan share info penyebaran virus Corona yang menyebar sangat cepat di Indonesia. Aku sangat sedih dan prihatin. Tapi harus tetap semangat menuntaskan pekerjaan di Singapura. Bekerja dengan kepanikan dan kehebohan negatif di sana-sini sungguh bikin tidak nyaman. The show must go on. Yang pasti aku baik-baik saja di Singapura. Pihak hotel tempatku menginap pun menyediakan termometer tembak untuk mengukur suhu tubuh kami saat check in. Sepertinya itu sudah prosedur wajib mereka.

Beberapa hari di Singapura, ternyata isu Corona di Indonesia meningkat pesat. Ada ratusan orang terinfeksi. Aku menjadi takut baca-baca berita online apalagi saat masih harus menuntaskan pekerjaan di negeri orang. Bahkan ada beberapa akun social media yang mengecam para traveler sebagai pembawa virus ke mana-mana. Ada semacam stigma negatif terbentuk saat itu terhadap para traveler. Ada yang bilang traveler itu egois, pamer foto traveling saat saudaranya sakit dan dilanda kecemasan terhadap wabah penyakit ini. Ada pula yang dengan langsung menyuruhku untuk jangan pulang karena siapa tau aku menjadi carrier virus dan bisa menyebarkan kepada yang lain saat aku pulang. Hei, c'mon, kita boleh khawatir, tapi jangan saling menyalahkan orang lain. Aku sedih mendengar komentar dan stigma seperti itu.

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (6)
Jalanan yang lengang.
Akhirnya ada 1 hari di Singapura, aku hanya berjalan sebentar untuk shoot di salah satu dessert cafe, kemudian aku balik ke hotel dan berdiam diri di kamar sampai malam. Kalian tahu, betapa lelahnya aku, sedikit stres, agak sedih mengingat aku masih harus lanjut perjalanan esok harinya ke Malaysia, dan mungkin sedikit tertekan dengan beberapa komentar negatif yang kuterima di social media. Seketika social mediaku yang tak seberapa followers-nya itu menjadi ramai DM karena aku share beberapa info tentang Singapura, khususnya info positif tentang penanganan Virus Corona di sana. Aku sangat berterima kasih buat teman-teman yang mendukung perjalananku saat itu. Dukungan kalian sangat berharga sekali lho. :)

Percayalah, teman-teman, setiap orang punya alasan berbeda kenapa mereka traveling (sementara yang lain bisa memilih untuk stay at home). Hey, itu privilege lho bisa memilih di rumah aja. Bukan berarti nggak waspada atau gegabah. Aku percaya, semua teman-teman  yang sedang berada di luar negeri saat ini saling connect dan berbagi info terkini tentang isu yang mereka hadapi di wilayah masing-masing. Dan, aku yakin, setiap traveler itu juga menghadapi kesulitan di negara yang mereka datangi serta kekhawatiran apakah masih bisa pulang atau tidak. Jadi, stop bully traveler, ya. Kita semua seharusnya saling bantu dan memberi semangat.

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (7)
Suasana malam minggu di depan hotel Butternut Tree.


Read More

Share Tweet Pin It +1

26 Comments