In Journey Land Story Land

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown, Tiket Pulang Batal

Setelah 4 hari di Singapura, aku bertolak ke Langkawi, Malaysia. Dan kamu tahu, hari saat aku berangkat dari Changi Airport ke Langkawi adalah hari saat Singapura memperketat border imigrasinya. Negara yang di-lockdown untuk masuk ke Singapura bertambah. Untuk kita yang berasal dari negara ASEAN wajib memperlihatkan surat keterangan kesehatan di imigrasi. Kalau tidak, ya nggak boleh masuk Singapura. Intinya, kita tidak bisa traveling with no purpose. Yes, Singapura lockdown hari itu. Saat aku keluar border, maka aku tidak bisa masuk Singapura lagi untuk sementara waktu.

Aku naik Air Asia dari Singapura ke Langkawi yang membutuhkan waktu 1 jam. FYI, Langkawi ini adalah salah satu pulau di sisi utara Malaysia, berbatasan dengan perairan Thailand. Begitu sampai di sana, aku melepas masker karena udaranya panas sekali. Seperti kata seorang temanku yang tinggal di Singapura, udara panas bagus buatmu to kill the virus. Oke, aku harus berpikiran positif, semoga tidak membawa virus dari Singapura masuk ke pulau kecil ini. Belum ada kasus pasien positif di Pulau Langkawi saat aku di sana.

Bagi foreigners, kami wajib mengisi formulir pernyataan tidak baru saja traveling dari negara Cina, Korea Selatan, Iran, Italia, dan Jepang. Setelah itu formulir ditandatangani dengan meninggalkan sejumlah kontak termasuk alamat hotel tempatku menginap. Selebihnya Langkawi aman pada saat itu, tanggal 16 Maret 2020.

Baru saja menikmati suasana pantai sore hari di Langkawi dan menikmati bersihnya udara di sini yang jauh dari perkotaan, aku mendengar kabar gempar malam harinya dari pemerintah pusat Malaysia. Malaysia akan melakukan lockdown dan melarang semua aktivitas di luar sampai akhir Maret 2020. Pemberlakuan itu dimulai dari 18 Maret 2020.

Aku cuma bisa berjalan-jalan di tempat-tempat wisata Geopark di Langkawi pada tanggal 17 Maret, ke Telaga Tujuh dan Dataran Lang. Suasana lokasi wisata relatif sepi karena hari kerja. Beberapa pengunjung ada yang berendam di Telaga Tujuh. Aku harus trekking sekitar 200 meter sebelum melihat telaga dengan view lembah air terjun. Ah indahnya. Ini menjadi tempatku merilis stres setelah dapat beberapa pertanyaan dan hujatan di DM terkait perjalananku di tengah wabah virus corona.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (2)

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (3)

Aku berpikir untuk mematikan sinyal sejenak biar bisa menikmati keindahan Langkawi ini, yang tentu saja berbeda dengan suasan kota besar di Singapura. Dataran Lang menjadi tujuan berikutnya. Lagi-lagi lokasinya sepi. Tapi Langkawi sangat panas. Suhu mencapai 35-36 derajat Celcius. Panas banget sampai mungkin virus corona tak ingin mampir ke sana (bercanda :)). Lebih panas dari Jakarta bahkan. Anw, di Dataran Lang ini ada monumen burung elang raksasa. Jadi, Langkawi itu diambil dari kata 'lang' yang berarti 'elang'. Langkawi memang dikenal sebagai daratan elang. Aku beberapa kali melihat elang terbang bebas di udara. Lega sekali melihat habitat elang di sini masih aman.

Malam sebelum lockdown, bukannya bisa beristirahat, sebelum makan malam, aku melihat kepanikan kental sekali terasa di pusat perbelanjaan di Langkawi. Beberapa orang mulai belanja stok makanan dan obat-obatan. Untung orang-orang di sini nggak panic buying karena esok harinya semua pertokoan dan mall tutup kecuali beberapa restoran. Restoran dan swalayan tetap buka dengan syarat social distancing dan hanya boleh take away makanan.

Lalu bagaimana nasibku dengan status foreigner? Banyak sekali berita simpang-siur. Lockdown berlaku untuk warga negara Malaysia. Tapi ada berita bahwa Malaysia juga menutup penerbangan keluar dan masuk. Jadi, kami putuskan malam itu pukul 12 malam, kami melaju ke kantor polisi terdekat, katanya ada ketentuan wajib lapor. Ah, berita beneran simpang siur. Ketika 1 kantor polisi tutup, kami mencari kantor polisi yang lain di Langkawi. Aku sudah mengantongi paspor dan pulpen. Namun, lucunya, begitu sampai kantor polisi, suasana sangat sepi. Kata pak polisi, kami bisa pergi ke mana pun dan tak perlu lapor. Wah, ternyata Langkawi santai sekali ya. Ada beberapa video beredar dari Kuala Lumpur bahwa kantor polisinya dipenuhi antrean. Well, kita nggak tau mana yang benar kan.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (4)

Ya, hari ketiga aku di Langkawi, aku hanya berdiam diri di hotel bersama beberapa teman Malaysia yang tim kerjaku. Di Indonesia, kabarnya saat itu penuh desakan lockdown juga. Aku tak mau ambil pusing berita itu daripada stres sendiri. Kami hanya berjalan keluar hotel untuk membeli makanan dan kembali pulang, mengisolasi diri. Langkawi yang sepi seketika menjadi sangat sepi dan seperti kota mati. Aku hanya membeli roti Subway untuk bekal makan siang dan memasak Indomie di hotel. Setelah itu, biar nggak bosan, nilai plusnya lockdown hari ini, kami masih bisa berjalan-jalan ke pantai di seberang jalan dan menunggu sunset di sana. Pantai cukup sepi, lho.

Setelah menjalani seharian isolasi di hotel, setidaknya aku masih bisa menikmati sunset terbaik di Langkawi. Hari itu, aku dan teman-teman melakukan meeting. Jadwal kepulanganku ke Indonesia dimajukan. Seharusnya, setelah selesai eksplor Langkawi, aku akan berada di Kuala Lumpur hingga tanggal 26 Maret 2020. Namun, situasi benar-benar tidak memungkinkan lagi. Meski Indonesia tidak memberlakukan lockdown, ada himbauan resmi dari Menteri Luar Negeri RI kepada semua traveler WNI untuk segera pulang sebelum kondisi semakin sulit. Apalagi kudengar Bali saat itu sudah tertutup bagi wisatawan asing. Jalur internasional menuju Bali pun memang agak sulit. Seorang temanku ada yang pulang ke Denpasar, tetapi karena info itu, dia berniat untuk pulang ke Jakarta.

Jadilah tiket pulang sudah dipesankan untukku tanggal 19 Maret 2020. Dari Langkawi, aku akan transit di Kuala Lumpur dan langsung terbang ke Jakarta. Aku packing malam itu juga.

Namun, semua tidak berjalan lancar. Pagi-pagi sekali, teman sekamarku sudah dihebohkan dengan tiket pesawatnya di-cancel. Kami terpecah dalam 2 penerbangan. Beberapa teman naik Air Asia (yang di-cancel itu) sementara aku dan sisanya naik maskapai Malindo Airlines. Bagi temanku yang warga negara Malaysia, mereka memang kesulitan untuk traveling dalam negeri karena setiap warga negara harus tetap di rumah. Tapi mumpung aturannya belum ketat-ketat amat pada saat itu, mereka masih bisa pulang ke kota asal.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (5)

Nah, yang bikin geger tanggal 19 Maret itu adalah semua penerbangan Air Asia dibatalkan baik dalam, maupun luar negeri. Jadi sebagian temanku akan tetap stay di Langkawi sampai hari berikutnya, beli tiket baru. Kami antisipasi untuk tidak membeli tiket Air Asia lagi. Sementara aku masih bisa terbang dengan Malaysia Airlines. Namun, risikonya aku harus menginap satu malam di Kuala Lumpur International Airport menunggu penerbangan tanggal 20 Maret dengan Malaysia Airlines juga. Sempat konfirmasi ke Air Asia untuk penerbangan berikutnya ke Jakarta dan mereka hanya menjawab tidak janji akan terbang. :(

Semua keluarga dan teman dekat sudah khawatir dengan isu lockdown Malaysia yang diperketat. Sebagian mereka menyangka aku sama sekali tidak bisa pulang ke Indonesia. Aku juga sempat berpikir seperti itu saat melihat jadwal keberangkatan di bandara dipenuhi dengan status cancel untuk penerbangan ke luar negeri. Beruntungnya aku, satu-satunya maskapai yang terbang ke Jakarta tanggal 20 Maret adalah Malaysia Airlines. Aku bernapa lega. Aku tidak bisa tidur semalaman meski sudah menyewa kamar di capsule hotel KLIA. Setelah sejauh ini perjalanan dan beberapa kali ganti tiket, tentu aku tidak mau tiket pulangku di-cancel lagi. Kalau sempat cancel, mungkin aku akan menghubungi KBRI di Kuala Lumpur hari itu.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (6)

Dan, ya, kabar gembiranya aku bisa pulang dengan sehat ke Jakarta. Meski sempat alot di counter check in karena pembelian bagasi-ku tidak confirmed. Jadinya aku harus bayar bagasi per kilo. 1 kg dikenakan 62 RM. Total bagasiku saat itu adalah 18 kg. Hitung sendiri berapa biaya yang harus aku bayar. Aku sudah berusaha mengurangi bagasi di tempat dan cuma berkurang sebanyak 5 kg. Jadi ya daripada ketinggalan pesawat, aku terpaksa membayar sejumlah uang yang mereka minta. Sampai saat ini, temanku sedang berusaha komplain ke pihak maskapai dan travel agent untuk refund dan sebagainya. Aku sendiri sudah terlalu lelah untuk memikirkannya. Sampai hari ini saja, tiket Air Asia yang cancel belum sempat di-refund. Yang penting bisa sampai di rumah dulu deh.

Di bandara Soekarno-Hatta sendiri, penjagaan border imigrasi diperketat juga. Katanya koper-koper di bagasi disemprot disinfektan, tapi aku tidak melihatnya. Entah benar atau tidak. Di samping itu, kami dibagikan formulir kewaspadaan kesehatan untuk 2 minggu ke depan. Jadi diharapkan untuk setiap traveler yang pulang dari negara terjangkit pandemi memang harus diisolasi selama 14 hari. Kalau terjadi sesuatu, aku bisa membawa formulir itu ke RS rujukan untuk diperiksa.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (7)

Saat artikel blog ini terbit, aku masih menjalani hari-hari karantina di rumah sebagai antisipasi. Semoga aku baik-baik saja dalam 2 minggu ke depan dan semua yang baca artikel ini juga baik-baik saja. Mari berdoa untuk kesembuhan banyak orang dan berharap wabah ini cepat berhenti.

Jangan lupa, cuci tangan pakai sabun sesering mungkin dan berlakukan social distancing, ya teman-teman. Penyebaran virus corona itu melalui droplet (percikan dari penderita yang menempel di permukaan benda). Jadi kunci pencegahannya adalah di tangan kita yang kadang-kadang suka rese pegang ini-pegang itu lalu lanjut usap-usap muka. Yang penting rajin cuci tangan pakai sabun.

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Journey Land Story Land

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 1), Apakah Singapura Lockdown?

Hai, rasanya lama tidak menulis di sini. Kali ini aku mau share tentang pengalaman perjalanan di tengah merebaknya wabah Covid-19 alias virus corona dan berdampak pada beberapa negara lockdown. Jadi ceritanya dimulai dari sini.

Aku dapat jadwal untuk perjalanan Singapura dan Malaysia dalam waktu yang lumayan panjang, 2 minggu. Ada beberapa pekerjaan yang dilakukan di sana terkait konten video dan shoot untuk Facebook Live. Pada saat aku akan berangkat, Indonesia digemparkan dengan masuknya kasus positif Covid-19 sebanyak 2 orang dan bertambah banyak dalam waktu 1 minggu. Banyak info beredar apalagi aku berangkat ke Singapura, negara yang terdampak Virus Corona pertama di Asia Tenggara.
Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (3)

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (2)
Jewel Changi Airport Mall.

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah
Changi Airport yang super sepi.
Jangan tanya apakah keluarga dan teman dekat tidak melarangku berangkat? Tentu saja aku dibanjiri chat penuh kekhawatiran. Sempat terpikir juga untuk membatalkan keberangkatan. Namun, kalau batal, aku akan merugikan beberapa pihak tentu saja. Karena agendaku ke Singapura untuk melakukan beberapa project. Untungnya Junisatya memberi semangat, "Jangan khawatir. Santai aja. Kan berangkatnya karena pekerjaan. Lakukanlah pekerjaan itu." Tak ada kalimat yang paling menenangkan dibanding ucapan suami sendiri.

Aku berangkat juga ke Singapura tanggal 13 Maret. Saat itu, Singapura hanya memberi peringatan untuk pendatang yang berasal dari 4 negara--Korea Selatan, China, Iran, dan Italia--tidak dapat memasuki Singapura.  Ini berlaku juga buat travelers yang dalam 14 hari ke belakang baru aja balik dari 4 negara itu. Pasporku diperiksa per halaman apakah punya riwayat traveling di ke-4 negara yang di-lock itu. Bagi warga negara Singapura yang baru saja traveling dari 4 negara yang disebutkan wajib mengisolasi diri selama 14 hari di rumah masing-masing. Aku melewati kamera screening suhu tubuh sampai 2x. Pengecekan termometer tembak diberlakukan untuk anak-anak.

Aku sudah siap dengan beberapa lembar masker, tisu basah, botol minum yang siap refill di mana saja, toilet seat sanitizer. Sementara itu, aku beli hand sanitizer di Guardian stasiun MRT Bedok di sana.

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (4)
Hand Sanitizer di Singapura masih tersedia banyak sekali, nggak selangka di Indonesia

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (5)
Situasi di dalam MRT Singapura sore hari.
Selebihnya, masuk Singapura sangat aman dan sangat terkontrol. Negara itu tampak lebih siap dalam penanganan virus. Aku melihat hand sanitizer disediakan di beberapa spot keramaian, termasuk stasiun MRT. Banyak orang mengenakan masker. Suasana di Singapura lebih terkontrol, tidak ada kepanikan dan berita hoax yang beredar. 

Sebaliknya, respons lain kudapatkan dari teman-teman di Indonesia. Ada banyak yang khawatir dan share info penyebaran virus Corona yang menyebar sangat cepat di Indonesia. Aku sangat sedih dan prihatin. Tapi harus tetap semangat menuntaskan pekerjaan di Singapura. Bekerja dengan kepanikan dan kehebohan negatif di sana-sini sungguh bikin tidak nyaman. The show must go on. Yang pasti aku baik-baik saja di Singapura. Pihak hotel tempatku menginap pun menyediakan termometer tembak untuk mengukur suhu tubuh kami saat check in. Sepertinya itu sudah prosedur wajib mereka.

Beberapa hari di Singapura, ternyata isu Corona di Indonesia meningkat pesat. Ada ratusan orang terinfeksi. Aku menjadi takut baca-baca berita online apalagi saat masih harus menuntaskan pekerjaan di negeri orang. Bahkan ada beberapa akun social media yang mengecam para traveler sebagai pembawa virus ke mana-mana. Ada semacam stigma negatif terbentuk saat itu terhadap para traveler. Ada yang bilang traveler itu egois, pamer foto traveling saat saudaranya sakit dan dilanda kecemasan terhadap wabah penyakit ini. Ada pula yang dengan langsung menyuruhku untuk jangan pulang karena siapa tau aku menjadi carrier virus dan bisa menyebarkan kepada yang lain saat aku pulang. Hei, c'mon, kita boleh khawatir, tapi jangan saling menyalahkan orang lain. Aku sedih mendengar komentar dan stigma seperti itu.

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (6)
Jalanan yang lengang.
Akhirnya ada 1 hari di Singapura, aku hanya berjalan sebentar untuk shoot di salah satu dessert cafe, kemudian aku balik ke hotel dan berdiam diri di kamar sampai malam. Kalian tahu, betapa lelahnya aku, sedikit stres, agak sedih mengingat aku masih harus lanjut perjalanan esok harinya ke Malaysia, dan mungkin sedikit tertekan dengan beberapa komentar negatif yang kuterima di social media. Seketika social mediaku yang tak seberapa followers-nya itu menjadi ramai DM karena aku share beberapa info tentang Singapura, khususnya info positif tentang penanganan Virus Corona di sana. Aku sangat berterima kasih buat teman-teman yang mendukung perjalananku saat itu. Dukungan kalian sangat berharga sekali lho. :)

Percayalah, teman-teman, setiap orang punya alasan berbeda kenapa mereka traveling (sementara yang lain bisa memilih untuk stay at home). Hey, itu privilege lho bisa memilih di rumah aja. Bukan berarti nggak waspada atau gegabah. Aku percaya, semua teman-teman  yang sedang berada di luar negeri saat ini saling connect dan berbagi info terkini tentang isu yang mereka hadapi di wilayah masing-masing. Dan, aku yakin, setiap traveler itu juga menghadapi kesulitan di negara yang mereka datangi serta kekhawatiran apakah masih bisa pulang atau tidak. Jadi, stop bully traveler, ya. Kita semua seharusnya saling bantu dan memberi semangat.

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (7)
Suasana malam minggu di depan hotel Butternut Tree.


Read More

Share Tweet Pin It +1

24 Comments

In Hospitality Land

The Village Resort, Menginap di Bogor Rasa Bali

Liburan yang nggak jauh-jauh dari Jakarta, enaknya ke mana, ya? Pasti hampir semuanya sepakat menyebut kata 'Bogor'. Tapi rasanya, kalau akhir minggu dihabiskan di Bogor lagi, bosen nggak ya? Belum lagi macet sekali kan Kota Bogor, apalagi jalan menuju kawasan Puncak.

Nah, biar nggak bosan, Bogor ternyata masih punya spot untuk liburan keluarga atau bersama teman-teman kok. Aku staycation di The Village Resort beberapa waktu lalu. Begitu melihat lokasi resort ini di Google Maps, wah ternyata nggak jauh dari pintu tol Ciawi, tepatnya di kawasan Pancawati. Kebetulan banget, kalau berangkat lebih pagi, tentu tol belum semacet siang. Arus ke Bogor akhir pekan memang susah ditebak, tapi setidaknya aku dan Junisatya sudah meminimalisir jenuh di jalan sejak pagi.

Kali ini, aku staycation nggak cuma berdua sama Junisatya. Ada 3 orang lagi yang gabung bersamaku, teman-teman si pejuang konten Jalan Jajan Seru. Ada Mia (jejakjelata), Ogie, dan istrinya Ribka. Udah nonton video Youtube kami belum? Niatnya waktu itu, kami mau liburan bersama biar lebih akrab sekaligus membayar kesibukan satu tahun terakhir bikin konten bersama. Sekali-kali liburan tanpa beban-lah, ya.



Oke, aku mau cerita tentang The Village Resort. Aku sengaja meminta check in lebih awal sehingga bisa menikmati area resort ini lebih lama. Ternyata kami nggak sendiri, ada rombongan kantor datang yang membuat suasana resort kian ramai. Waduh, jumlah kami yang cuma berlima ini, akan ketiban banget dong sama hebohnya rombongan yang datang sampai 2 bus itu.

Namun, ternyata enggak. The Village Resort cukup luas menampung puluhan bahkan ratusan orang. Tipe kamarnya pun beda-beda. Karena konsepnya resort dan ala-ala di kampung Sunda gitu, kita bisa memilih kamar yang bisa diisi 2 orang, 4 orang, 8 orang, bahkan sampai 30 orang. Wew, barak.



Suasana outdoor The Village Resort sungguh tenang dan nyaman. Areanya cukup luas. Ada gazebo, area bermain, area taman, dan outbond. Kolam renangnya juga ada 2 buah. Jadi nggak perlu rebutan. Setelah makan siang, aku dan teman-teman menghabiskan sore dengan main tenis meja dan bilyar. Sungguh receh ya kebahagiaan kami saat itu. Sore yang mendung, pesan makanan delivery, dan berjam-jam battle tenis meja dan bilyar sudah membuat kami senang dan banyak tertawa.

Oiya, selama di The Village Resort kami dapat jatah makan siang, makan malam, dan sarapan. Seru banget deh. Karena kami cuma grup kecil (dibanding rombongan yang datangnya pakai bus), jadi makanan kami sudah disediakan ekslusif di area gazebo. Menunya sederhana, menu rumahan Sunda. Sambelnya enak banget dan lalapannya segar. Hasil metik langsung di kebun kali, ya.




Area gazebo The Village Resort jadi area favorit kami. Ada kasur double bed untuk bersantai ala di Bali, saung dengan meja dan bangku kayu, posisinya persis di atas kolam ikan, ada sofa untuk duduk bermalas-malasan. Areanya berupa teras terbuka yang view-nya taman dan kolam renang. Suasananya menyenangkan.

Seakan nggak kehabisan ide, kami masih bisa seru-seruan di malam Bogor yang dingin. Ada area untuk api unggun, areanya mirip amphiteater mini. Kayunya udah disediakan pihak resort. Bahkan kita bisa minta tolong petugas untuk menyalakan api unggun. Dan, voila... ini dia api unggunnya.


Cihuy, malam kami jadi hangat. Apalagi ada dendangan lagu dari arah restoran. Rupanya rombongan besar yang datang bersamaan dengan kami sedang berpesta dan berjoget bersama. Ada yang menembakkan kembang api. Lumayan kan, kami bisa ikutan bisa berjoget mengelilingi api unggun dan melihat langit malam hingar bingar. Kurang jagung bakar, marshmallow, dan ubi bakar, nih. Pasti makin lengkap dan kenyang.

The Village Resort super menyenangkan buat yang butuh suasana hijau, tenang, udara segar, dan nggak jauh dari Jakarta. Rate kamarnya mulai dari Rp400.000. Disesuaikan dengan tipe yang ingin dipilih. Dengan rate mulai harga segitu, menurutku worth it banget karena kita bisa dapat mengitari area resort sepuasnya. Cocok sekali untuk weekend escape, bukan?!

Read More

Share Tweet Pin It +1

12 Comments

In Story Land

8 Tips Outwear Nyaman untuk Hijab Traveler

Sebenarnya sudah lama aku ingin menulis tips ini. Ya, meskipun aku nggak terlalu concern dengan fashion, tapi ternyata fashion hijab untuk traveling cukup jadi perhatian. Ya, selain karena banyak yang mengira, hijab traveler itu tentu ribet bawaannya. Padahal nggak juga lho, asal disiasati dengan trik mix and match outwear.

Style outwear memang favoritku. Aku cukup menyiapkan beberapa inner yang tipis dan bawahan polos, tinggal divariasikan dengan outwear-nya. Ini tujuannya untuk meminimalisir bawaan, apalagi kalau traveling lebih dari seminggu. Kita harus cermat memilih pakaian terbaik dan nggak berlebihan.
8 Tips Outwear Nyaman untuk Hijab Traveler



Di luar dugaan, outwear untuk para hijaber sekarang variatif banget. Model dan bentuk layernya juga beragam. Kamu bisa menyesuaikan dengan destinasi tujuan traveling-mu. Misalnya, pakai outwear yang tipis, bahan transparan, dan warna cerah untuk liburan di pantai. Kita bisa juga pakai outwear bermotif untuk piknik di taman atau kemping di hutan. Kalau mengunjungi negeri 4 musim, coat berbahan rajut atau suede jadi andalan, terutama saat penerbangan panjang.

Mau tahu lebih lengkap?

Aku share 8 tips outwear nyaman untuk hijab traveler yang jadi andalanku. Tips ini nggak sekadar tips, tapi kamu bisa cek juga online store-nya. Siapa tahu bisa menginspirasi teman-teman sesama hijab traveler sepertiku.

Kamu bisa cek artikel lengkapnya di sini ya.

https://my-best.id/lists/131956

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Movie Land

Nonton Film Temen Kondangan Biar Move On di Kondangan [Review Film]

Apa jadinya saat mantanmu mengundang ke resepsi pernikahannya? Galaunya  dua kali. Kalau nggak datang, dikira belum move on. Kalau datang dan sendirian, harga diri tercabik-cabik. Itulah yang dirasakan Putri yang diperankan oleh Prisia Nasution di film drama komedi Temen Kondangan.

Sungguh premis film ini sangat sederhana, bukan? Cuma tentang kegalauan datang ke kondangan mantan. Kalau aku jadi Putri, nggak kebayang sih mesti mikirin gandengan buat datang kondangan Deny, mantannya yang diperankan oleh Samuel Rizal. Apalagi Putri ini diceritakan sebagai selebgram yang paling gampang diserbu dengan komen negatif netizen.

Putri yang sudah memutuskan untuk tidak datang ke resepsi mantannya, mendadak diserbu oleh teman-teman se-geng. Teman-temannya menantang Putri, "Kalau emang udah move on, seharusnya datang, dong." Lalu, ada yang nyeletuk, "Mau datang sama siapa?"
Nonton Film Temen Kondangan - image: MNC Pictures documents

Nonton Film Temen Kondangan - Image: MNC Pictures Documents

Nah, dalam 1 hari, Putri harus menemukan gandengan terbaik untuk dipamerkan di kondangan mantan esok harinya. Masalahnya, Putri belum punya pacar lagi sejak putus dengan Deny. Dari sinilah kekonyolan-kekonyolan di film ini dimulai. Putri dikenalkan oleh teman kantornya sekaligus asistennya pada Juna (Kevin Julio) yang sudah biasa membuka jasa temen kondangan. Ya, dengan nekat, Putri langsung mengirimkan chat kepada Juna yang merupakan sepupu dari asistennya itu (Chika Waode).

Karena pesannya belum dibalas Juna, seharian Putri hanya duduk berdiam diri di kantornya. Lantas, saat atasannya, Galih (Gading Marten) mencoba menghiburnya, Putri pun sempat menawarkan Galih untuk jadi gandengannya, tetapi Galih tidak mengiyakan.

Duh, cari temen kondangan ternyata lebih susah daripada cari pacar beneran, ya.
Padahal seharusnya gampang banget, kan. Tinggal ajak temen aja buat kondangan demi nggak disangka belum move on. Tapi urusannya jadi panjang. Belum lagi kejadian di kondangan Deny dan Fitri yang seketika rusuh karena urusan permantanan ini. 

Siapakah yang akan jadi temen kondangan Putri?

Drama komedi produksi MNP Pictures ini mengangkat kegelisahan yang related dengan kehidupan milenial. Menariknya, film ini punya alur yang cukup cepat, diambil dari sudut pandang Putri. Film Temen Kondangan hanya mengambil set waktu dalam 3 hari. Hari pertama saat Putri menerima undangan. Hari ke-2, Putri mencari temen kondangan. Hari ke-3, hari H kondangan mantan. 80% peristiwa di film ini justru berfokus pada sesi resepsi itu.

Unsur komedi di film ini juga terasa natural dan sangat ringan. Berkat Gading Marten dan Reza Nangin, komedi di film ini terasa hidup. Karakter Putri yang serius bisa menjadi sangat renyah berkeliaran di hall resepsi mantannya sendiri.

Nonton Film Temen Kondangan - Image: MNC Pictures Doc

Sebenarnya apa yang diangkat di film ini adalah sebuah tragedi kekinian ulah cuitan social media. Dulu mungkin datang kondangan mantan nggak akan sepanjang dan seribet ini urusannya. Namun, semua berubah dengan adanya social media dan apalagi ada banyak sekali tipe orang yang lebih mementingkan cuitan netizen ketimbang suara hati.

By the way, ini juga pertama kalinya Prisia Nasution berakting dengan Gading Marten. Sama-sama aktor peraih Piala Citra pula. Karakter mereka sangat kuat dan saling mengimbangi karakter yang lainnya. Duet Prisia dan Gading malah nggak failed sama sekali, apalagi Prisia juga baru pertama kali main drama komedi. Tentu kita semua penasaran dengan film Temen Kondangan, bukan. Jajaran cast-nya nggak main-main, lho. Ada Olivia Jensen, Diah Permatasari, Febi Febiola, dan sebagainya.

Kamu lebih baik siap-siap rusuh di bioskop mulai tanggal 30 Januari untuk nonton Temen Kondangan. Mendingan rusuh di bioskop daripada rusuhin kondangan mantan, kan?! Coba latihan bawa gandengan ke bioskop dulu, biar nggak kaku saat datang kondangan mantan.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Journey Land Story Land

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya

Kunjunganku ke Kota Surabaya kali ini punya banyak sekali pesan moral. Aku tak sekadar berkunjung, tapi bertemu dengan para guru hebat dari berbagai daerah di Indonesia. Iya, kali ini aku ke Surabaya dalam rangka Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila yang diadakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Ini semacam reuni dengan teman-teman Blogger yang hadir di Persamuhan Nasional para penggiat kampung di Anyer lalu (ceritanya ada di sini) Eits, lalu ini perkumpulan guru se-nasional, ya. Aku diminta datang lagi. Rupanya Blogger itu multiprofesi. Kami bisa menyublim ke profesi apa saja. Hehehe

Aku belum beralih profesi jadi guru kok. Aku hanya terinspirasi dengan para guru yang pasti punya segudang cerita tentang lika-likunya menjadi pendidik dan beragamnya tingkah polah para siswa. Wah, aku merasa berada di 2 persimpangan, apakah harus menempatkan diri sebagai siswa atau sebagai guru? Karena rupanya banyak sekali yang belum aku tahu tentang makna Pancasila seperti yang dipertanyakan banyak siswa. Tetapi apakah sebagai pendidik kita bisa memberikan penanaman nilai-nilai itu kalau fenomena Pancasila saja seakan tak digubris. Mari, aku tidak sabar ingin cerita tentang pendidik Pancasila ini.

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 2

Kamu masih ingat tentang pelajaran PPKn atau Kewarganegaraan zaman sekolah? Ada macam-macam namanya ya. Pada masa ku sekolah, ya aku sempat punya mata pelajaran untuk pembinaan budi pekerti Pancasila. Kalau diingat, dulu aku belajar PPKn ini setengah hati tapi tetap dapat nilai tinggi. Iyalah, pelajarannya terasa ringan, tentang kehidupan sehari-hari, tentang adab apa yang mesti dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Dan, tadaaaa... Nilai A atau nilai 9 sudah di tangan selama nggak ada catatan hitam perilaku buruk di sekolah.

Nah, ternyata aku baru menyadari 1 hal tentang pelajaran budi pekerti ini, yaitu pelajaran tentang nilai-nilai Pancasila juga harus diselaraskan dengan pelajaran Sejarah dan Agama. Okelah untuk pelajaran Agama masih nyambung. Lalu bagaimana dengan Sejarah? Iya, saat di Surabaya, acara Persamuhan Pendidik Pancasila ini didominasi oleh para guru Sejarah perwakilan 34 provinsi. Kebetulan juga, aku sekamar dengan salah satu guru Sejarah dari Kalimantan Timur. Jadi beliau bercerita bahwa penting sekali pemahaman sejarah bagi anak-anak muda karena dari sanalah moral Pancasila terbentuk. Kalau nggak tahu sejarah, tahu apa kita soal Pancasila? Ada spirit yang terkandung dari cerita sejarah yang selaras dengan pembentukan Pancasila. Begitu inti pembicaraanku dengan guru sejarah di kamarku selama beberapa malam kami bersama. Well, obrolan malamku dengan beliau sangat berisi ya.

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 3

Aku jadi ingat kata JJ Rizal, seorang sejarawan yang jadi pemateri di event ini. "Pancasila itu multitafsir. Bung Karno yang merangkumnya jadi satu," tegasnya saat obrolan makan siang di mejaku. Itu artinya bahwa Pancasila itu sudah ada jauh sebelum dirangkum tahun 1945. Itu artinya pula, kita perlu belajar sejarah agar tahu bahwa cerita kepahlawanan, perang, kerajaan itu adalah bagian dari perjalanan Nusantara membangun karakternya. Makin menarik ya topik Pancasila ini.

Amalan Pancasila sebenarnya sudah ada di nadi bangsa, tetapi sulit sekali untuk benar-benar meyakini dan melakukan. Ya, seperti nilai PPKn-ku yang cukup tinggi di sekolah, tidak berbanding lurus dengan nilai mata pelajaran Sejarah. Kenapa? Karena amalan itu ada di PPKn tetapi pemahaman terhadap nilai-nilainya ada di Sejarah. Benar juga ya kata orang, bahwa sejarah itu berguna untuk membangun bangsa. Mau jadi apa kita hari ini dan besok kalau tidak bisa belajar dari masa lalu.

Keragaman Budaya dalam Satu Persamuhan Pancasila

Serupa dengan keragaman yang dihadirkan oleh Anyer saat persamuhan nasional lalu, di Surabaya juga menghadirkan keragaman yang serupa. Sebagai wujud Pancasila, keragaman ini menjadi harmoni 5 dasar Pancasila. Pada hari pertama, semua peserta diminta untuk memakai pakaian adat masing-masing. Kali ini, aku siap dengan atasan kebaya modern dan bawahan kain batik. Bukan ciri khas Minang memang yang sarat dengan songketnya. Tapi, yang penting ciri ini adalah Indonesia.

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 4

Dan, uniknya, sekumpulan blogger se-nasional yang hadir mewakili kotanya masing-masing juga mengenakan pakaian tradisional yang beragam. Ini tentu saja di luar komunitas guru yang juga memiliki semangat yang sama mengenakan pakaian adat masing-masing. Aku bahagia melihat hampir semua peserta sadar dengan kekayaan identitas bangsa. Aku melihat berbagai wastra Nusantara dikenakan. Ini sih parade kain tradisional ya. Senang sekali.

Semua peserta yang mengenakan pakaian tradisional ini dimobilisasi ke Pandaan, Pasuruan. Rupanya di sini aku bisa menikmati ragam kesenian daerah yang menggetarkan jiwa. Ada penampilan duo pemusik yang mahir memainkan sasando dan sape. Iya, dua alat musik berbeda negeri. Yang satu dari Nusa Tenggara Timur, yang satu dari Kalimantan Timur. Apa jadinya saat kedua alat musik itu dimainkan bersama? Aku sudah pernah bilang belum, ya, bahwa aku jatuh cinta dengan negeri timur Indonesia. Nah, itu dia. Sasando dan sape ini mengingatkanku pada rasa cinta itu.
Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 5

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 6

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 7

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 8

Selanjutnya ada penampilan Tari Remo dari Surabaya, Tari Saman dari Aceh, dan Tari Anire dari Papua. Semua penampilan itu meriah. Wah, mulai terasa Nusantaranya. Mulai terasa pula nilai Pancasila-nya, bukan?

Renungan Nilai Pancasila dari Jawa Timur

Di sela-sela acara, aku menyempatkan diri mengunjungi beberapa tempat di Pandaan dan Surabaya. Tidak jauh dari lokasi suka ria ragam budaya yang ditampilkan dari berbagai daerah yang dibawa oleh guru kesenian, aku mengunjungi Masjid Cheng Ho. Aku melihat implementasi nilai-nilai Pancasila yang berwujud. Salah satunya ya Masjid Cheng Ho ini. Arsitektur yang mengambil unsur arsitektur Jawa dan Cina terlihat jelas di bangunan masjid ini. Unsur warna merah yang dominan terlihat mencolok. Di luar kabar tentang Laksamana Cheng Ho yang menjadi mualaf masih desas-desus, namanya diabadikan menjadi nama masjid ini sungguh berarti. Bagaimana pun juga Laksamana Cheng Ho adalah traveler asal Tiongkok yang mengarungi belahan dunia dengan kapalnya dan mampir ke Pulau Jawa. Namanya juga disebut-sebut sebagai tokoh yang berjasa dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa dan membentuk komunitas besar di luar Jawa. Karena itulah, namanya diabadikan sebagai nama masjid yang punya bentuk atap bertingkat mirip pagoda.

Aku suka dengan tatanan masjid yang punya pelataran luas di depannya. Berdirinya Masjid Cheng Ho di Pandaan ini membuktikan bahwa adanya akulturasi 2 kebudayaan. Tentu saja akulturasi itu menyeimbangkan tatanan hidup masyarakat di sekitarnya pula. Kalau bicara Pancasila, tatanan hidup yang harmonis seperti inilah yang dimaksud Pancasila. Tidak mengganggu, tidak menuding, tidak pula saling bertolak belakang.

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 9

Pada lain hari, aku berjalan kaki di kawasan Putat Jaya, Surabaya. Aku diajak melihat-lihat produk-produk ekonomi kreatif yang tumbuh di sana setelah lokalisasi besar-besaran kawasan prostitusi Gang Dolly beberapa tahun lalu. Banyak sekali masyarakat yang terdampak dari lokalisasi itu. Karena itu, para penggiat kampung mulai bangkit membantu para warga sekitar untuk mengembangkan diri. Ada yang membuka garmen, pangkas rambut, toko kecil-kecilan, setra batik, membangun KUKM bersama. Salah satunya Dolly Saiki Point.

Aku juga berkunjung ke pesantren yang berada di jalur merah Gang Dolly. Rupanya pesantren ini berdiri di sebelah wisma-wisma pusat prostitusi pada masanya. Ya, namanya juga kehidupan. Yang positif dan negatif selalu tumbuh berdampingan. Masih ada wisma yang aktif rupanya meski tidak terbuka seperti dulu.

Yang bikin aku takjub adalah Gang Dolly dan kawasan Putat Jaya berproses menjadi sentra batik. Melihat bagaimana masa lalu di Gang Dolly, tentu tidak membuat kawasan ini serta merta redup. Kreativitas menjadi sumber kehidupannya. Butuh para penggiat yang bisa fokus membangun ekonomi kampung itu tumbuh kembali. Kepedulian ini yang menjadi nilai tambahnya. Kali ini tentu sumbernya bukan lagi dari prostitusi.

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 10

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 11

Aku jadi ingat Pak Sudjiwo Tedjo menjelaskan dengan sederhana makna Pancasila lebih lanjut. Di forum persamuhan, ia pernah bilang, "Puncak tertinggi Pancasila adalah tidak mengganggu orang lain." Nah, ini barangkali yang dimaksud dengan akulturasi dan hidup dengan ragam budaya. Mengunjungi Masjid Cheng Ho membuatku merenung bahwa arti Pancasila itu sangat luas. Untuk itu, nggak perlu muluk-muluk, cukup dengan prilaku tidak saling ganggu.

Begitu pula saat aku mengunjungi KUKM di Putat Jaya, aku menyadari bahwa masyarakat di sana sedang bangkit kembali, berkreasi, membangun kepercayaan diri dan image kampung itu dengan wajah baru. Belajar dari sejarah, bukan? Aku rasa nilai-nilai Pancasila itu sedang membumi.

Bu Risma sebagai Walikota Surabaya yang sempat hadir di persamuhan mengatakan bahwa menumbuhkan Pancasila itu sama dengan menumbuhkan rasa cinta kepada sesama. Beliau membuat area publik untuk dinikmati warga Surabaya karena ia mencintai warganya. Beliau memberikan apa yang warganya butuhkan. Taman bukan sekadar taman, tapi tempat rekreasi.

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 12

Bahkan Bu Risma berpesan untuk mengajarkan generasi muda untuk mencintai tanah air. Jika anak mencinta negara, dia tidak akan menyakiti negaranya. Itulah prinsip Bu Risma, Pancasila itu tumbuh karena cinta.

Aku terbuai dengan lirik yang ditulis oleh Raden Kartono (Kakak RA Kartini) yang dinyanyikan oleh Sujiwo Tejo.

Sudih tanpo bondo
Digdoyo tanpo aji
Trimah mawi pasrah
Sepi pamrih tebih ajrih
Langgeng tanpo susah, tanpo seneng
Antheng mantheng
Sugeng jeneng

Ah, meski aku nggak pandai bahasa Jawa, tapi makna lirik ini dalam sekali. Ada nilai tentang keihklasan dari lirik itu. Itu juga pucuk Pancasila, bukan? Sederhana sekali tapi sulit untuk diamalkan. Karena itulah acara Persamuhan Pendidik Pancasila yang dihadiri ratusan guru menjadi sangat bermakna. Karena itu pula, aku banyak merenung tentang arti Pancasila yang multitafsir itu ketika pulang dari Surabaya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments

In Journey Land

3 Museum Unik di Mekah-Madinah yang Harus Dikunjungi Saat Umroh

Ah, umroh. Sampai hari ini, umroh masih berada dalam daftar tunggu perjalananku. Aku sudah mendaftar untuk keberangkatan umroh, tapi belum tahu kapan bisa berangkat. Doakan rezeki itu segera datang, ya, teman-teman.

Biar doa itu semakin diijabah, aku ingin cerita tentang beberapa lokasi yang penting untuk dikunjungi saat kita umroh. Ini juga jadi catatan buatku, jika suatu saat aku dicukupkan untuk berangkat umroh, aku sudah punya beberapa list yang bisa dikunjungi selama perjalanan ibadah. Siapa tahu setelah ini aku semakin didekatkan dengan negeri asal kelahiran Islam itu. Aamiin.

Ada 3 lokasi museum yang aku list untuk dikunjungi saat umroh dan haji. Ini berdasarkan cerita seorang teman yang baru saja pulang dari sana. Aku selalu suka nungguin update teman-teman yang sedang umroh di social media. Serasa beneran berada di sana. Kebetulan ada seorang teman yang perjalanannya sedikit beda. Dia meng-update beberapa tempat yang jarang aku lihat di timeline teman-teman lain yang umroh. Ini temanku yang rajin update social media di Mekah dan Madinah pakai Paket Umroh & Haji XL kali, ya. Sinyalnya oke sepertinya di sana.

Dari info temanku inilah aku jadi tahu bahwa ternyata ada beberapa museum di Mekah dan Madinah, ya. Di sela-sela ibadahnya, temanku ini menyempatkan diri untuk melihat-lihat museum yang seringkali membuatnya merinding dan mengucap syukur. Ini dia museum-museum itu yang sering luput dikunjungi para jamaah umroh dan haji.

1. The Holy Quran Exhibition Madinah

3 Museum Unik di Mekah-Madinah yang Harus Dikunjungi Saat Umroh (2) - source: npr.org
3 museum uni di Mekah-Madinah - source: arabnews.pk
Koleksi Al Quran dari masa ke masa. (Foto diambil dari sini)
Selain untuk tujuan ibadah dan berkunjung ke makam Nabi Muhammad, ada satu tempat yang nggak boleh kita lewatkan, yaitu The Holy Quran Exhibition Madinah. Seorang temanku yang sudah berkunjung ke sana, mengatakan bahwa dia beruntung bisa masuk ke sini karena nggak semua jamaah umroh yang bisa ke sana. Harus reservasi dan hanya pada waktu-waktu tertentu saja museum ini dibuka.

Museum ini memuat sejarah Al Quran dan proses penulisannya. FYI, Al Quran yang asli itu nggak pakai tanda baca sama sekali alias arab gundul. Nah, kita juga bisa melihat sejak kapan Al Quran itu mulai diberikan tanda baca untuk mempermudah umat muslim membaca dan memaknainya.

Selain itu koleksi museum ini juga beragam. Ada berbagai kitab Al Quran yang langka, ada koleksi kaligrafi yang telah menjadi karya seni Islam yang terkenal. Ukuran Al Quran juga beragam, lho. Ada Al Quran raksasa berukuran 143 x 80 cm dengan berat 154 kg. Ada juga kaligrafi bertinta emas yang ditulis tangan oleh Sultan Mahmud II, Kesultanan Usmaniyah. Wow.

Kata temanku, setelah selesai tur museum Al Quran, kita bisa beli Al Quran di sini untuk dihibahkan menjadi koleksi Masjidil Haram. Kalau ada yang ingin punya amal jariyah beribu-ribu kali lipat, memang banyak jamaah dari Indonesia yang beli Al Quran di sini.

Semestinya informasi tentang Museum Al Quran ini bisa di-share lebih luas khususnya untuk calon jamah Indonesia. Sayang sekali kalau umroh dan haji, tapi belum mampir melihat keagungan AL Quran dari masa ke masa. Thanks to Paket Umroh & Haji XL kalau gitu yang kini menyediakan paket data roaming internasional biar kita bisa sharing dan berbagi cerita tentang perjalanan umroh lebih gampang.

2. Exhibition of Two Holy Mosque Architecture

3 Museum Unik di Mekah-Madinah yang harus dikunjungi saat umroh
Salah satu museum wajib kunjung saat umroh. (Foto diambil dari sini)
Museum ini berisi benda-benda bersejarah yang berhubungan dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Exhibition of Two Holy Mosque Architecture memiliki 7 ruangan. Dimulai dari reception hall, Masjid Al Ahram hall, Ka'bah hall, The Photographic hall, Inscription and Manuscript hall, The Prophet's mosque hall, dan Zam Zam Well hall. Secara keseluruhan, museum ini merupakan perwujudan miniatur 2 masjid yang menjadi pusat ibadah yang melengkapi Rukun Islam semua umat Muslim.

Museum eksibisi ini juga memajang koleksi manuskrip dan ukiran dari perpustakaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, beberapa foto tua, dan barang-barang antik. Di antara koleksi-koleksi itu, yang menjadi pusat perhatian adalah salah satu pilah kayu Ka'bah, tangga kayu, pintu Ka'bah yang usianya bahkan ada yang lebih tua dari tahun hijrah. Berarti masih sangat orisinal dan dijaga sekali. Di sini pula kita dapat melihat perkembangan pembangunan Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Duh, aku menulis tentang ini sambil merinding dan membaca Al Fatihah di dalam hati. Berharap Allah segera mengaminkan doaku untuk melihat langsung kemegahan 2 masjid besar itu.

3. Alamoudi Museum Makkah

3 Museum Unik di Mekah-Madinah yang Harus Dikunjungi Saat Umroh (3)
Belajar kebudayaan Arab ya dari museum ini. (foto diambil dari sini)

Nah, kalau ingin melihat sejarah perkembangan Islam dan budaya negeri Arab, kita bisa berkunjung ke Alamoudi Museum Makkah. Temanku memotret beberapa sisi dan koleksi museum ini. Aku sampai bertanya-tanya, dia pakai paket data apa, ya? Beneran pakai Paket Umroh & Haji XL, ya? Kok, ya bisa aktif sekali berbagi di Instagram tentang museum-museum yang dia kunjungi selama berada di Mekah.

Lokasi museum ini di pinggiran Kota Mekah, katanya sekitar 15 menit naik bus dari Masjidil Haram. Kata temanku, kunjungan ini mendadak karena nggak ada di itinerary perjalanan umrohnya. Bangunan museumnya ini terbilang unik karena temboknya menyerupai tembok bangunan arsitektur Arab zaman dulu. Kita juga bisa melihat wujud 3 dimensi Hajar Aswad.

Ada beberapa properti peradaban budaya Arab masa dulu yang terlihat dari perlengkapan sehari-hari, bentuk rumah, arsitekturnya, bentuk sumur, hingga pernak-pernik rumah lainnya. Model dapur orang Arab zaman dulu beda sekali ya. Bangunannya rata-rata berasal dari bahan pelepah kurma dan tanah. Pakaian tradisional Arab dan peralatan perangnya juga di-display sehingga kita serasa kembali ke suasana Mekah tempo dulu. 

Temanku bilang, isi museum ini sungguh unik dan seru. Beda dengan 2 museum yang aku tulis di atas. Alamoudi lebih berisi sejarah kebudayaan dan tatanan hidup orang Arab Saudi zaman dulu. Wah, aku semakin ingin ke Mekah.

Aku berterima kasih sekali ke cerita-cerita temanku ini selama dia umroh. Ada hal-hal baru tentang sejarah Mekah dan Madinah yang aku temukan. Dia juga kerap mem-posting beberapa gambar cantik selama umrohnya, eh tentu di luar waktu ibadahnya ya. Kata temanku, dia baru bisa posting untuk social media ketika sehari sebelum pulang ke Indonesia.

Suatu hari nanti, ketika aku berangkat umroh, aku sudah menyiapkan beberapa printilan umroh sampai ke paket data luar negeri. Kebetulan banget aku sudah baca mengenai keunggulan Paket Umroh & Haji XL yang bisa kita pakai selama perjalanan umroh, bahkan haji. Paket Umroh & Haji XL ini juga ada pilihannya. Aku sampai cek sedetail ini, ya. Soalnya penasaran juga gimana caranya bisa tetap aktif berkomunikasi selama perjalanan umroh dan haji, terutama dengan keluarga di Indonesia. Paket data roaming biasanya mahal.

Paket Umroh & Haji XL ini tergolong terjangkau harganya. Kita dapat menikmati kemudahan nelepon, SMS, akses internet sepuasnya selama perjalanan umroh dan haji di Arab Saudi. Paket untuk 10 hari cuma Rp199.000 dengan kapasitas internet 3G/4G unlimited. Untuk Paket Umroh & Haji XL 20 hari dikenai harga Rp249.000. Murah sekali, ya. Kalau mau paket komplit untuk menelepon ke Indonesia dan SMS, kita bisa beli Paket Umroh & Haji Xl seharga Rp399.000. Aku senang dengan judul internet unlimited Paket Umroh & Haji XL. Beneran praktis digunakan di mana aja selama perjalanan umroh kita.

Suamiku, Junisatya yang sudah lebih dulu berangkat umroh pernah merasa kesulitan untuk akses internet. Wifi hanya ada di kamar hotel. Sementara itu, kebanyakan dia menghabiskan hari hingga lewat tengah malam untuk beribadah di masjid atau berjalan-jalan keliling Mekah dan Madinah. Aku sulit sekali menghubunginya saat akses internet tidak ada. Telepon jadi susah karena interlokal sungguh mahal, menyedot pulsa. Waktu itu Junsatya hanya menggunakan paket roaming terbatas sehingga tidak leluasa berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia. Padahal katanya ada banyak hal menarik di setiap sudut Kota Mekah dan Madinah yang sangat ingin ia ceritakan padaku. Katanya aku pasti suka terutama tentang budaya Arab.

Andai waktu itu aku sudah tahu tentang Paket Umroh & Haji XL ini, tentu aku langsung merekomendasikannya kepada Junisatya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In Movie Land

Review Nonton Charlie's Angels 2019, Beli Tiket Via M-Tix

Bicara Charlie's Angels, artinya bicara topik film yang dapat dibahas lintas generasi. Iya, kan. Bagi anak generasi 90-an, tentu tahu aksi laga 3 cewek agen rahasia ini, walaupun dulu aku belum ngerti-ngerti banget siapa mereka. Tapi setidaknya aku tahu bahwa ada 3 cewek bisa jadi agen rahasia saja sudah keren. Ada 2 film Charlie's Angels yang booming tahun 2000 dan 2003. Saat itu aku umur berapa, ya? Masih SD-SMP sepertinya. Poster mereka ada di berbagai majalah dan dipajang juga di beberapa tempat. Pada masa itu, meski aku nggak ngerti-ngerti amat dengan film laga--(ngertinya cuma Doraemon, Boboho, dan AADC)--siapa yang nggak kenal dengan Charlie's Angels. Lalu akhirnya filmnya ditayangkan di stasiun TV berkali-kali. Jadi kalau bicara Charlie's Angels, tentu bicara film legendaris tahun 2000-an.

Eh, ternyata, Charlie's Angels sendiri lebih tua lagi umurnya. Karakternya merupakan serial TV terkenal pada tahun 1971. Duh, itu kan zaman ibu-bapakku baru remaja. Terlihat, kan, bagaimana gap generasi bersatu kalau ngobrolin Charlie's Angels. 

Saking legendarisnya para Angels ini, aku baru saja nonton versi kekinian Charlie's Angels. Akhirnya aku bisa menikmati film ini, lebih fresh dan pemainnya familiar. Ada Kristen Stewart sebagai Sabina, Naomi Scott sebagai Elena, dan Ella Balinska sebagai Jane.

Nonton Charlie's Angels and M-Tix 3 - source: charliesangels.movie

Charlie's Angels 2019 dan M-Tix - source: liputan6.com

Charlie's Angels 2019 bercerita tentang Townsend Agency yang sudah memperluas jaringan perekrutan para gadis-gadis berbakat dari berbagai negara. Beberapa Angels dipimpin oleh para Bosley. Ada banyak Angels muncul. Secara tidak sengaja, Sabina dan Jane yang belum begitu kenal dekat harus bahu-membahu menjalani misi baru: menyelamatkan Elena dari sindikat mafia. Elena ternyata semacam 'harta karun' karena cerdas di bidang IT. Dia juga yang jadi otak penemu benda semacam prototipe energi yang ternyata bisa menjadi senjata pembunuh massal. Karena itulah nyawanya terancam. Satu Bosley meninggal saat misi penyelamatannya. Kemudian, karena telah terlibat dalam adegan kejar-kejaran, mau tidak mau Elena ditarik sebagai Angels. Meski nggak punya kemampuan beladiri, Elena bisa diandalkan untuk menjebol berbagai sistem keamanan.

Aku suka sekali dengan versi Charlie's Angels 2019. Aku penasaran dengan aksi laga Kristen Stewart di film ini. Dan, ternyata Kristen Stewart benar-benar menjadi komedian yang punya ocehan-ocehan tepat sasaran di sela-sela aksi laganya. Meski masih mempertahankan ekspresi datar yang elegan ala Bella Swan di Twilight Saga, setidaknya kali ini Kristen Stewart lebih luwes bergerak dengan image tomboy sebagai Sabina. Kurasa, ini menjadi film comeback Stewart yang sukses ia perankan berbeda.

Nonton Charlie's Angels and M-Tix - Source: charliesangels.movie/

Lalu, predikat keren banget aku berikan untuk Naomi Scott. She is not Princess Yasmin "Aladdin" anymore. Masih ingat sekali di kepala tentang visualisasi live action Aladdin karena baru beberapa bulan lalu tayang di bioskop. Bahkan aku masih suka mendengar lagu OST-nya di Spotify dan sering pula muncul di radio. Nah, Princess Yasmin yang lemah, tapi tegas, yang anggun, tapi ternyata cerdas sangat berbeda dengan karakter Elena di Charlie's Angels. Naomi berhasil keluar dari perannya di Aladdin dan menjelma menjadi 'hacker terbaik di dunia' versinya. Karakter Elena sengaja dibuat punya jiwa pemberontak, penuh perlawanan, tetapi tetap tertutup dengan gestur anggunnya. Siapa sangka kalau cewek cantik ini bisa saja menghancurkan dunia dalam sekejap, bukan? Prototipe energi yang dia ciptakan bisa membunuh banyak orang dalam hitungan detik karena jangkauannya begitu luas. Nggak heran kalau nyawa Elena menjadi taruhannya.

Unsur komedi di Charlie's Angels adalah satu hal yang sangat menghibur. Chemistry 3 Angels baru ini menjadi sangat kuat padahal masing-masing punya latar belakang hidup berbeda. Yang bikin penasaran adalah misi itu sendiri. 3 dara ini menjalani misi berbahaya menyangkut perdagangan prototipe energi buatan Elena. Namun, rupanya usut-diusut, otak dari segala kekacauan dan fitnah tak jauh-jauh dari circle si Angels itu sendiri.

Sejak misi berjalan, 3 Angels ini menyibak satu per satu misteri otak dari perdagangan gelap senjata berbahaya itu. Meski tidak begitu dalam dan detail, perjuangan menyelesaikan misi ini tentu jadi perhatian besar kita. Jangan bandingkan dengan Mission Imposible, ya. Misi Charlie's Angels sebenarnya sederhana, tetapi teka-tekinya menjadi plot twist di bagian akhir film. Ada unsur women empowering yang diusung sepanjang cerita. So far, aku tidak terganggu sama sekali dengan isu-isu perempuan tersebut karena memang ingin menikmati filmnya apa adanya.

Coba, aku tantang kamu untuk menebak manakah pihak yang benar di antara para Bosley dari Townsend Agency? Tonton dulu, ya filmnya. Aku nggak akan kasih bocoran teka-teki yang muncul di tengah-tengah film itu apa. Yang pasti, kamu nggak akan sendiri, kok, kalau ingin bahas film Charlie's Angels, karena kini filmnya sudah menyentuh 3 generasi sekaligus; Generasi X (baby boomer), Generasi Y (millennial), dan Generasi Z. Tanya saja orang tua kita, mereka tentu kenal dengan Charlie's Angels.

Kalau mau nonton ramean bersama keluarga, aku sarankan lebih baik memesan tiket online via M-Tix. Apalagi nontonnya film Charlie's Angels, ya kan?! Sekarang hampir semua transaksi untuk atraksi dan nonton sudah serba online. Pembelian tiket online memang mengoptimalkan kenyamanan kita para penikmat film untuk memastikan ketersediaan tiket, memilih jadwal nonton, dan memilih kursi yang paling nyaman, tanpa antre. Tentu ini juga menjadikan transaksi lebih efektif dan fleksibel.

Nonton Charlie's Angels and M-Tix 4Nonton Charlie's Angels and M-Tix 5

Review Nonton Charlie's Angels 2019, Beli Tiket Via M-Tix

Review Nonton Charlie's Angels 2019, Beli Tiket Via M-Tix

Hal-hal semacam ini ditangkap juga oleh M-Tix. Rata-rata, pengguna M-Tix adalah orang-orang dari Gen-Y dan Gen-Z. Apalagi sejak bioskop Indonesia kembali hidup. Cinema XXI menggaungkan banyak sekali film Box Office yang layak ditonton masyarakat. Penikmatnya sebagian besar, ya, Gen-Y dan Gen-Z. Otomatis, industri aplikasi digital mengakomodir kebutuhan 2 generasi ini yang punya kemiripan, yaitu nggak mau ribet.

M-Tix sendiri baru saja mengeluarkan fitur baru, yaitu e-voucher dan pembelian F&B (Food and Beverage). Jadi, selain pesan tiket, kita bisa pesan makanan dan minuman di M-Tix. Bahkan ada yang paketan dengan harga tiket. Begitu sampai di Cinema XXI, kamu tinggal ambil pesanan makanan di bagian pick up point food and beverage. Nggak perlu antre di kasir lagi, kan. Apalagi kalau pesanannya makanan berat, biasanya kita harus menunggu 5-15 menit, bahkan baru bisa tersedia saat kita sudah berada di dalam studio. Agak mengganggu, kan. Jadi M-Tix menangkap kebutuhan untuk pemesanan F&B lewat aplikasi, sehingga bisa mengakomodir kenyamanan pengunjung.

Jangan khawatir, kini fitur baru dari M-Tix ini sudah bisa digunakan di lebih dari 130 lokasi bioskop. Secara umum, kedua fitur ini membuat layanan mobile ticketing M-Tix semakin mudah, praktis, dan asyik. Ada banyak promo pula. Pasti anak millennials dan Gen-Z senang nih berburu promo begini. To Infini-Z and beyond! 

Review Nonton Charlie's Angels 2019, Beli Tiket Via M-Tix

Yuk, nonton Charlie's Angels. Abis itu kita bisa ngobrol bareng. Nggak peduli kamu berasal dari gap generasi mana, yang penting semuanya tahu universe Angels. Iya, kan?! #NontonAsikPakeMtix

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments