In Story Land

Kenapa Kita Harus Beralih ke Angkutan Umum


Ayo naik bus transjakarta lagi

Sebagai orang yang kini ber-KTP Jakarta, aku merasakan hidup penuh sesak dan drama di ibukota ini. Khususnya drama tentang kemacetan yang rasanya seumur hidup tidak akan pernah tamat. Namun, sebenarnya di balik drama itu, tersimpan cinta yang besar pada kota besar ini. Lihat saja, kota ini tidak pernah sepi kecuali Idul Fitri. Sekian banyak orang yang pergi meninggalkan Jakarta, tapi lebih banyak lagi yang datang dan tinggal. Itu artinya, Jakarta tak pernah kehilangan pesonanya. Macet itu adalah bukti kecintaan orang terhadap kota terpadat di Indonesia itu.

Sejak sekian tahun terakhir, pembangunan jalan di Jakarta dibenahi. Berbagai inovasi dilakukan biar penduduk kota besar ini hidup nyaman. Banyak momok sangar tentang kemacetan Jakarta. Yang pasti, pagi dan sore hari adalah jadwal terpadat jalanan Jakarta. Orang yang bekerja di Jakarta datang dari berbagai sudut, Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi. Lihat kan, kata Bekasi saja diletakkan terakhir. Bukan berarti paling jauh, ya. Tapi lebih tepatnya paling padat karena keganasan macet ke arah Bekasi dimulai pukul 4 sore hingga 8 malam setiap hari kerja. Kita bisa menghabiskan waktu minimal 3 jam dari Jakarta Pusat ke Kota Bekasi. Kalau hujan, sudahlah, lebih baik menginap saja di tempat teman yang tinggalnya lebih dekat dengan kantor, kampus, atau sekolah. Tidak heran Bekasi dibilang planet lain, beda negara, dan butuh visa. Duh, sampai sebegitunya ya efek kemacetan Jakarta.

Beberapa waktu lalu, aku diajak diskusi sama Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) dan Kama Digital tentang kemacetan Jakarta yang sudah berada pada tahap kritis. BPTJ menjelaskan berbagai upaya sedang dilakukan oleh mereka demi kemacetan itu bisa terurai sedikit demi sedikit. Salah satunya adalah dengan mengajak masyarakat untuk kembali menggunakan kendaraan umum. Buat yang sudah lama tinggal di sekitar Jabodetabek, tentu sangat menyadari bahwa kini jalanan kita agak tersendat akibat pembangunan jalan di mana-mana. Ada jalan tol, pelebaran jalan, jalan layang, hingga rel LRT dan MRT. Bohong jika kita tidak bisa mengakui kalau kini infrastruktur transportasi di Jakarta makin baik. KRL sudah jauh lebih nyaman dibanding 10 tahun lalu. Jadi ingat, waktu kuliah di UI, beberapa kali akhir pekan mengadakan acara di Puncak dan harus naik kereta ke Bogor yang padatnya luar biasa. Orang-orang sampai bergelantungan di pintu kereta dan duduk di atap kereta. Itu, kan bahaya. Lalu, kini KRL disediakan lebih nyaman dengan full AC, gerbongnya ditambah, armadanya juga ditambah, dan disediakan gerbong khusus wanita.


ayo naik bus transjakarta

Belum cukup dengan commuter line, Transjakarta juga dibenahi. Halte-halte busway direnovasi dan koridor juga ditambah. Tarifnya malah flat ke mana-mana. Yang lagi hangat-hangatnya dibahas sekarang adalah bis premium Transjabodetabek ke arah Bekasi. Katanya bis premium itu super nyaman, ber-AC, dan ada colokan mengingat kebutuhan orang pada ponsel sangat tinggi. Naik bis ke mana-mana sekarang sudah jauh lebih nyaman. Persebaran angkutan umum sudah mulai ditata. Apalagi jalur LRT dan MRT sebentar lagi akan diresmikan. Rasanya tidak ada lagi alasan kita untuk tidak menggunakan angkutan umum. Yang masih kurang sepertinya masalah ketepatan waktu, tapi sebagian besar juga didukung oleh pengguna kendaraan pribadi jauh lebih banyak. Keadaan ini masih perlu ditangani khusus oleh BPTJ. Masa pengguna kendaraan pribadi di Jakarta mencapai 60% dan 49% di dalamnya itu didominasi oleh motor. Pantas saja, drama macet Jakarta tidak ada habisnya. Memang sudah saatnya kita menggunakan angkutan umum.

Aku sendiri dulu adalah pengguna angkutan umum, seperti bis, KRL, dan angkot. Namun, berkali-kali kecewa karena tingkat kenyamanan rendah, menghabiskan waktu dan tenaga lebih besar, kurang aman karena copet ada di mana-mana, serta ongkosnya jadi lebih mahal. Aku pun selama 2 tahun beralih membawa kendaraan sendiri ke mana-mana. Macet sedikit tidak apa-apa, yang penting nyaman. Begitu pikirku, dulu. Sekarang aku sudah jauh lebih sadar kalau pemikiran semacam itu seharusnya dibalik. Apalagi angkutan umum sudah berbenah. Kenapa kita harus cepat-cepat beralih ke kendaraan umum? Ini alasannya.


1. Hemat waktu

Kalau tujuan kita adalah tempat-tempat yang berada di sekitar stasiun kereta, memang jauh lebih baik kita menggunakan KRL saja. Lebih cepat dan aman. Nggak perlu resah dengan kemacetan jalanan. Aku yang sekarang tinggal di kawasan Depok memilih naik KRL jika ada meeting di luar, misalnya di kawasan Tebet. KRL memang pilihan tepat. Nggak kebayang kalau aku menyetir mobil sendiri dari Depok ke Tebet. Pasti akan menghabiskan waktu 2 jam sendiri. Jika menggunakan KRL, aku cukup menghabiskan waktu 45 menit saja.


2. Hemat biaya

Naik KRL dan Transjakarta sungguh murah meriah. Buat yang biasa pakai mobil ke mana-mana, cobain naik KRL dan Transjakarta berulang kali. Kita bisa menekan pengeluaran untuk ongkos di perjalanan. Beda, sih buat pengendara motor. Tapi lelah berkendara tidak sebanding dengan duduk manis atau berdiri di KRL atau Transjakarta yang full AC, ya.


3. Hidup sehat

Dengan menggunakan jasa angkutan umum, kita jadi jauh lebih banyak berjalan kaki ke halte dan stasiun. Biar lebih panas, tapi kita lebih sehat. Kalau ke luar negeri saja, kita bisa senang-senang berjalan kaki berkilo-kilo meter dan tahan naik tram, subway, metro, atau bus ke mana-mana. Kenapa di Jakarta tidak bisa? Memang belum bisa disamakan, sih, infrastruktur trasnportasi di Jakarta dengan negara-negara besar di luar sana. Tapi, negara semacam Prancis saja butuh ratusan tahun membenahi kondisi trasnportasi mereka sehingga nyaman digunakan semua orang. Tentunya Jakarta, bahkan Indonesia juga bisa begitu. Kita hanya perlu bersabar. Anggap saja olahraga. Traveling selama ini mengajarkan kita untuk berkaca pada dunia dan menancapkan harapan yang tinggi untuk hidup lebih baik, bukan? Nah, Jakarta nggak akan bisa begitu kalau bukan dimulai dari kita.


4. Banyak yang dapat dilakukan di angkutan umum dibanding mengendarai kendaraan sendiri

Pernah, nggak, kamu dikejar deadline sementara waktunya mepet? Atau tiba-tiba kamu harus terima telepon penting dari orang padahal kamu sedang menyetir? Aku pernah. Pernah waktu harus bimbingan tesis tapi drafnya belum sempurna. Aku naik KRL menuju kampus dan mengerjakan draf itu selama di perjalanan menggunakan tablet. Kebetulan KRL sedang kosong siang itu. Pernah pula ketika aku sedang terima telepon penting dari klien, syukurlah aku sedang di Transjakarta, jadi bisa mencatat poin penting dengan sigap di ponsel atau kertas kecil. Itu nggak akan bisa kulakukan kalau aku sedang menyetir mobil. Bahaya, kan. Angkutan umum bikin kita lebih leluasa melakukan sesuatu, mengatur waktu sendiri dan bisa menguji tingkat kepekaan kita lebih tinggi.


PR BPTJ memang masih banyak demi keteraturan transportasi di wilayah Jabodetabek. Namun, PR itu dapat kita bantu dengan kembali menggunakan angkutan umum yang kini jauh lebih tertib. Dengan begitu, polusi pun bisa ditekan, bukan? Metode ganjil-genap saja lumayan berdampak dan mengurai macet meski persentasenya masih kecil. Pokoknya sudah saatnya kita mengkampanyekan #ayonaikbus dan #naikbusitukeren untuk #enjoypublictransport.

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments

In Journey Land

Perjalanan Panjang ke Padang Lawas, Sumatera Utara

Bulan Maret lalu, aku bertualang ke Padang Lawas, Sumatera Utara. Jarang-jarang aku pakai kata bertualang di blog ini. Tapi memang kali ini, perjalanan ke Padang Lawas punya cerita sendiri.

Suatu ketika, aku dihubungi oleh dosen saat kuliah dulu di UI. Beliau menawarkanku untuk terlibat dalam proyek pendidikan tingkat nasional yang sedang dilaksanakan oleh Pusat Penilaian Pendidikan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Berasa keren, ya, proyeknya. Aku diminta mendampingi dan memberikan materi motivasi terkait penggunaan sebuah aplikasi uji kompetensi siswa dalam skala internasional. Dosenku itu bilang, nanti akan ada pelatihan sebelum berangkat. Karena memang kupikir ini akan jadi pengalaman menarik, aku langsung 'ayo-ayo' saja tanpa bertanya detailnya. Maklum, aku anaknya 'ayokable' banget.
Pasar di Padang Lawas, Tapanuli Selatan
Usai meeting dengan pihak Puspendik Kemdikbud di kawasan Senen, aku dibekali beberapa materi motivasi terkait pemahaman anak-anak usia SMP dalam menggunakan Programme for International Student Assesment (PISA). Yang harus di-highlight dalam tulisanku ini, aku dikirim ke Padang Lawas, sebuah daerah di Sumatera Utara yang jaraknya ratusan kilometer alias 10 jam perjalanan dari Kota Medan. Aku tidak menyangka Sumatera Utara seluas itu. Kalau di Pulau Jawa, mungkin 10 jam itu setara dengan jarak Jakarta-Semarang dan itu sudah melewati 2 propinsi. Wow. Ternyata masih banyak sudut di negeri ini yang belum kujelajahi. 

Perjalanan panjang menuju Padang Lawas, Sumatera Utara

Yang membuatku sedikit tertantang adalah aku dibekali sejumlah uang saku oleh Puspendik yang harus cukup untuk biaya hidup di Padang Lawas 2 hari. Ya, 2 hari mulanya. Aku mendapat jatah mengisi materi di 2 sekolah. Puspendik tidak memberikan instruksi apa-apa mengenai transportasi, akomodasi, dan orang yang harus kutemui. Bekal uang saku dan daftar sekolah jadi satu-satunya pegangan pada saat surat tugas resmi diturunkan. Oke, aku harus mencari sendiri bagaimana cara sampai ke Padang Lawas. Aku diberi waktu seminggu untuk menyusun materi dan mempersiapkan keberangkatan.

Nah, kupikir awalnya, ketika Puspendik menitahkanku untuk mengunjungi Padang Lawas tanpa informasi detail, aksesnya ke lokasi gampang. Rupanya aku salah total. Mulanya aku ditugaskan sendirian, jadi otomatis aku harus mencari jalur teraman dan ternyaman menuju lokasi. Akses termudah yang kutahu, ya, penerbangan ke Bandara Internasional Kuala Namu, Medan. Aku sampai bertanya kepada beberapa teman yang berada di Medan dan saudara yang juga tinggal di Medan. Sepupuku bilang, Padang Lawas itu jauh sekali dan masuk kawasan Tapanuli Selatan. Bahkan sepupu dan temanku di sana belum pernah ke daerah itu. Tapi temanku menyarankan untuk naik Executive Bus dari Medan ke Padang Sidempuan, akses terdekat ke Padang Lawas. Begitu aku melihat jalur dan aksesnya, aku langsung mengajukan tambahan hari dan uang saku perjalanan menjadi 4 hari. Iya, dong, karena naik bus executive aja bolak-balik udah menghabiskan 2 malam sendiri.

Seorang teman dari Kemdikbud sudah mencari info mengenai lokasi yang akan kukunjungi. Katanya, Padang Lawas itu memang jauh. Kalau ke sana harus menggunakan pesawat ATR dari Kuala Namu-Medan ke bandara perintis Aek Godang. Temannya temanku adalah seorang auditor. Dia pernah ke Dinas Pendidikan Kabupaten Padang Lawas untuk mengaudit. Jadi sangat tahu rute dan akses ke sana. Dia bilang, dari Bandara Aek Godang ke Padang Lawas bisa ditempuh 4 jam lagi jalur darat. Sebelum aku senyum sumringah, masih ada kata 'tapi' untuk kesekian kalinya. Katanya, di sana tidak ada angkutan umum bahkan becak motor yang banyak terdapat di Sumatera Utara. Yang ada hanya mobil pick up untuk mengangkut sawit karena Sumatera Utara bagian selatan memang terkenal dengan kebun sawitnya yang luas. Aku sempat membayangkan berangkat demi tugas negara naik pick up yang isinya tumpukan sawit. Kalau kodisinya untuk traveling backpacking, nggak masalah. Kalau tidak ada yang jemput, sungguh riskan terbang ke sana, sendirian, cewek pula. Fix, ini bukan alternatif yang baik. Begitu aku konfirmasi ke Puspendik, biaya naik pesawat jenis ATR di luar anggaran mereka, apalagi mengingat aku harus menyewa mobil beberapa hari yang tentunya biayanya tidak sedikit. Duh, repot, ya tugas dari kementerian ini. Seharusnya mereka evaluasi anggaran lagi untuk akses perjalanan dinas para pejabat negara. Jangan cuma dilihat takaran akses untuk kota-kota besar saja, karena banyak sudut di negeri ini yang sulit ditempuh dan butuh biaya cukup besar untuk sampai di sana. Ini baru rimba Sumatera Utara, belum pulau-pulau di sekitarnya. Oke, alternatif lewat bandara Aek Godang resmi kucoret dari daftar.

Kebun sawit di Padang Lawas, Sumatera Utara

Setelah semedi satu hari mencari info, ada seorang sahabat yang baru saja balik dari Tapanuli. Wah, aku bahagia. Eh, ternyata dia ke kawasan Tapanuli Utara. Tak apalah, ya, yang penting sama-sama Tapanuli. Sahabatku itu menyarankanku berangkat ke Bandara Internasional Silangit, yang dekat ke Danau Toba. FYI, Sumatera Utara punya 7 bandara yang beberapa di antaranya masih jadi bandara perintis. Seluas itu, ya, Sumatera Utara karena akses dari daerah satu ke daerah lain sungguh sulit. Dari Silangit ke Padang Lawas cuma 6 jam. Untungnya pula, kini sudah ada pesawat langsung dari Soekarno-Hatta ke Silangit dengan maskapai Garuda Indonesia. Wui, tahu nggak apa yang kupikirkan saat itu? Aku berniat extend di Silangit dan menghabiskan hari di Pulau Samosir. Pasti menyenangkan bisa explore Toba. Mumpung berjarak cuma 1 jam, kan, dan termasuk kawasan wisata. Tapi, jangan senang dulu. Kegembiraanku serta merta dipatahkan oleh Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Barumun yang akan kukunjungi. Beliau menyarankan untuk lewat dari Pekanbaru saja karena lebih gampang aksesnya. Katanya perjalanan dari Pekanbaru 7 jam naik travel dan langsung sampai ke Barumun, kecamatan tujuan pertamaku di Padang Lawas.

Awalnya aku ragu. Dari Silangit saja bisa 6 jam, mendingan lewat Silangit, kan? Kenapa si kepala sekolah menyarankan harus lewat Pekanbaru? Namun, karena tawaran si bapak kepala sekolah itu lebih meyakinkan, aku mengalah. Beliau menjanjikan untuk memesankan travel dan penginapan di dekat sekolah yang ia pimpin. Kalau dari Silangit, beliau tidak begitu tahu akses travelnya. Biasanya travel dari Silangit hanya sampai Padang Sidempuan dan masih 2 jam lagi sampai di Padang Lawas. dengan menyambung bis. Malah, salah satu guru dari SMP Negeri 1 Aek Nabara Barumun yang juga kuhubungi untuk konfirmasi kedatangan menyarankanku terbang ke bandara Dr. Ferdinand Lumban Tobing di Sibolga. Katanya dari Sibolga ke daerah Barumun juga lebih cepat. Ah, tapi masih harus menyambung pesawat ATR dari Kuala Namu sementara biayanya di luar anggaran. Aku memutuskan mengikuti saran Bapak Kepsek SMPN 1 Barumun dan melupakan niat extend di Toba beberapa hari.  Kupikir, cukup untuk drama mencari akses ke Padang Lawas yang tak ada habisnya itu.

Sampailah pada hari keberangkatan, tiket Jakarta-Pekanbaru sudah kukantungi. Aku terbang ke bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Dari sana, aku lanjut naik mobil travel yang mengangkut kami ke Barumun. Perjalanan 7 jam kulewati dengan tingkat kebosanan tinggi. Kami melintasi jalur Lintas Sumatera Timur menuju ke Sumatera Utara. Untungnya aku dihibur oleh berhektar-hektar kebun sawit yang cantik dan sesekali mengobrol dengan sesama penumpang travel. Kami hanya berhenti sekali untuk makan siang di sebuah rumah makan padang. Setelah itu lanjut lagi langsung menuju daerah Barumun, kawasan Padang Lawas.

Kuliner di Padang Lawas, Sumatera Utara
Kuliner di Padang Lawas.
Kedatanganku disambut oleh Kepala Sekolah SMPN 1 Barumun dan Komite Sekolah. Kami berbincang-bincang sebentar. Perjalanan yang sungguh panjang ditutup dengan makan malam di sebuah rumah makan khusus ikan bakar fresh di Barumun. Tadinya aku ingin coba arsik, makanan khas Padang Lawas yang semua tulang ikannya sudah diangkat. Tapi, kata bapak Kepsek yang menemaniku makan malam, arsik sudah mulai jarang yang buat di Padang Lawas. Kalau mau coba arsik, harus pesan dulu. Akhirnya aku cuma makan dengan ikan mujair yang ukurannya jumbo dan diselingi dengan gulai telur ikan. Ah, lezat sekali.

Kami berbincang santai malam itu tentang mata pencaharian penduduk Barumun yang berasal dari perkebunan sawit. Dari sana juga aku tahu bahwa Padang Lawas ini punya adat yang berbeda dari Batak meskipun sama-sama di Sumatera Utara. Oleh karena itu, ada pembedaan kawasan Tapanuli Utara dan Selatan karena tradisi mereka berbeda. Mereka lebih dekat dengan tradisi Mandailing yang mayoritas penduduknya muslim. Bahasa mereka pun berbeda. Pak Kepsek sempat berkelakar, aku tidak perlu ragu dengan tingkat kehalalan makanan-makanan di sini.

Dalam hati ku hanya berdecak, "Bisa sampai di sini tanpa harus hilang di belantara kebun sawit saja, aku sudah bersyukur, Pak."

Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In Advertorial Land Story Land

To-Do-List sebelum Traveling Tengah Tahun Ini


Tahun ini aktivitas traveling-ku memang tidak sebanyak tahun lalu. Jadi jeda antara perjalanan satu dengan perjalanan berikutnya memberikan cukup waktu bagiku untuk menjaga kesehatan. Aku sudah punya beberapa agenda perjalanan tengah tahun ini. Persiapan khusus nggak ada. Namun, ada beberapa hal penting yang harus aku siapkan sebelum berangkat. Kenapa? Karena aku akan melakukan dua perjalanan dalam kondisi cuaca yang berbeda.
to-do-list travelingku tengah tahun ini

Ketika tulisan ini tayang, aku sedang mengajukan visa ke salah satu negara di Eropa (agak deg-degan). Perjalanannya direncanakan bulan depan, tepat pada hari pertama Ramadhan. Itu artinya aku akan menghabiskan beberapa hari pada akhir musim semi di sana dalam keadaan berpuasa. Seperti tahun lalu, aku sempat merasakan puasa 18 jam di Georgia dan pengalamannya luar biasa berkesan. Kali ini, doakan visaku diterima, ya, biar aku bisa sharing lebih banyak lagi tentang perjalananku di negara yang berbeda nanti.

Jarang sekali aku menulis tentang trip spoiler seperti ini karena bisa saja batal seketika. Tapi aku sekadar mau cerita mengenai trip plan-ku tengah tahun ini dan persiapan apa saja yang sedang kulakukan. Bulan lalu, aku baru kembali dari Padang Lawas, kawasan Tapanuli Selatan, Sumatera Utara yang kutempuh dengan jalur darat 7 jam dari Pekanbaru, Riau. Ada satu misi khusus terkait pendidikan yang kulakukan di sana. Ketika itu, Padang Lawas sedang musim hujan. Lalu bulan depan, jika visa diterima, aku akan berangkat ke Bulgaria untuk misi pertukaran kebudayaan. Bulan Mei di Bulgaria adalah bulan penutup musim semi. Siang bisa sangat panas, malam bisa begitu dingin. Itu akan jadi tantanganku dalam berpuasa, di samping harus aktif membawa nama baik Indonesia di festival internasional. Kemudian, setelah lebaran, aku sudah merencanakan liburan ke Sumbawa bersama teman-teman jalan terbaikku, yang kamu tentu tahu, Sumbawa akan sangat terik pada bulan Agustus. Ya, kita harus siap dalam berbagai kondisi cuaca ke mana kita berjalan. Jeda dua bulan untuk setiap perjalanan itu harus kuisi dengan recovery, khususnya kesehatan badan dan kulit.

Traveling ke berbagai daerah kuterima sebagai sebuah tantangan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi kita bisa mempersiapkan diri lebih baik untuk menghindari hal-hal yang tidak mengenakkan, khususnya kesehatan. Ya, let me talk about health. Aku udah buat to-do-list sebelum traveling tengah tahun ini. To-do-list ini bukan dalam bentuk benda seperti pakaian dan printilan, tetapi to-do-list investasi kesehatan.

1. Memperbaiki Pola Makan

Traveling memang seru. Tapi banyak di antara kita yang lupa makan dan minum yang cukup. Banyak juga yang nggak sadar bahwa perut yang kenyang adalah sumber kebahagiaan dan sumber energi untuk bisa terus berjalan. Penyakit saat traveling itu apalagi buatku yang sering backpacker, tentu nggak jauh-jauh dari masuk angin, asam lambung naik, meriang, bahkan demam. Semacam penyakit receh, ya. Paling parah tifus dan malaria. Namun, sumbernya cuma satu, yaitu pencernaan. Aku selalu terngiang ucapan ibuku, "Pencernaan itu sumber segala-galanya. Makan itu wajib. Kalau nggak makan, gimana kita bisa mikir, bisa gerak, bisa sehat." Karena itu juga, sih, aku jadi doyan makan. *alasan

Makin ke sini, aku semakin sadar, tubuh butuh suplemen. Sebelum ini aku langganan habbatussauda dan virgin coconut oil. Nah, sekarang aku lagi nyoba suplemen makanan yang berbeda. Namanya FIB (bukan Fakultas Ilmu Pengetahun Budaya, ya. Sama sekali bukan). Aku dikasih pencerahan saat datang ke sebuah talkshow kesehatan bahwa pencernaan kita itu membutuhkan prebiotik dan probiotik yang seimbang. Aku nggak begitu paham dengan istilah-istilah kedokteran tingkat tinggi semacam ini. Yang jelas, tubuh itu butuh nutrisi sayur dan buah untuk menjaga kesehatan lambung dan usus. Makanan kita setiap hari tidak selalu cukup memenuhi nutrisi itu, karena itu tubuh butuh suplemen. Produk minuman serbuk FIB memberikan pilihan yang tepat untuk menjaga lambung dan usus kita dari peradangan dan penyumbatan. Aku udah coba minum FIB seminggu terakhir. Dalam satu kemasan FIB, terkandung 19 jenis sayuran dan buah-buahan yang kaya probiotik, inulin, dan psyllium husk. Minuman ini nantinya akan mengontrol nafsu makan kita dan menghindari obesitas, serta melancarkan pencernaan dan mencegah kanker usus.

to-do-list travelingku dari FIB

Aku mulai rutin minum FIB setiap pagi. Cukup diseduh dengan air dingin dan diaduk agak lama sampai mengental. Kalau belum mengental, berarti harus diaduk lagi. Aromanya memang mangga-lemon banget. Begitu diminum, rasanya manis seperti jus mangga dicampur lemon. Enak, kok. Bagiku yang pemakan segala dan punya selera Minang garis keras dengan makanan berminyak dan bersantan, tentu minuman ini sangat membantu nutrisi tubuh. Aktivitas traveling yang padat juga sedikit bikin pola hidup berubah. FIB (bisa cek Instagram-nya di sini) jadi pilihan tepat untuk saat ini. Apalagi nanti mau puasa di negeri orang pula. FIB kali ini masuk to-do-list minuman kaya serat dan manfaat biar tubuh segar menjelang puasa di Bulgaria. Pasti pencernaan bakal kaget dengan perubahan cuaca dan jenis makanan. Semoga aku tetap sehat.

2. Renang 2x seminggu

Aku punya agenda khusus untuk mengikuti kelas renang, olahraga yang sudah 1,5 tahun ini rutin kulakukan di sela waktu kosong. Nggak heran kalau ada agenda staycation di salah satu hotel yang punya kolam renang, aku pasti menyempatkan diri untuk berenang meski cuma 30 menit. Sisanya, renang jadi agenda rutinku di sport centre Hotel Bumi Wiyata, yang memang dekat dari rumah dan harganya murah. Setidaknya selama renang, aku dapat menggerakkan seluruh badan hingga 500 meter dalam 1x latihan. Lumayanlah, ya.

Berenang jadi to-do-list traveling tengah tahun
Berenang ketika sempat.

Aku mulai rutin renang sejak seorang teman bilang kalau renang itu punya teknik khusus. Meski banyak orang yang bisa berenang, belum tentu tekniknya benar. Nah, aku pun berguru padanya untuk belajar teknik renang yang benar. Progress-nya menyenangkan. Aku jadi bisa mengatur napas, menggerakkan tubuh, dan meditasi di dalam air. Setidaknya, dengan melakukan teknik renang yang benar, kita jadi tidak sembarang bergerak di air, tetapi membantu melancarkan sirkulasi darah. Setiap orang punya olahraga favoritnya masing-masing. Aku memilih renang sebagai bagian dari rutinitas olahragaku karena aku suka bermain di air, apalagi di laut. Lumayan juga untuk persiapan main air lagi di Sumbawa. Oh, laut bersih di arah timur Indonesia, aku merindukannya.

3. Perawatan kulit

Sebagai manusia berkulit super kering, wajahku memang rentan terbakar. Kulit wajahku pernah mengelupas saat aku pulang dari Taka Bonerate, Sulawesi Selatan, 2015 lalu. Sejak itu pula aku mulai concern sama kesehatan kulit wajah, mulai perawatan dan rajin menggunakan sunscreen. Ternyata punya kulit kering itu lebih berbahaya dibanding orang yang kulitnya berminyak. Rangkaian perawatannya berbeda karena lebih rentan terkena radiasi dan pengeriputan.

Mengingat hasrat traveling-ku semakin besar dan beberapa agenda traveling ada di depan mata, aku harus makin selektif dalam memilih produk perawatan kulit. Kapok bawa pulang kulit terbakar lagi. Waktu ke Padang Lawas bulan lalu, karena sibuk dengan aktivitas di sana, aku lupa menggunakan sunscreen. Kulitku jadi super kusam. Butuh waktu seminggu untuk mengembalikan kelembaban kulit. Pada saat itu pula, aku mengenal produk skincare dr. CARE (bisa cek Instagram-nya di sini) untuk kulit kering dan sensitif. Aku mau saja mencoba produk ini karena dapat rekomendasi langsung dari dokter yang tergabung di dr. Care Indonesia. Sebenarnya produk-produk di pasaran Indonesia itu lebih pro terhadap kulit berminyak dan berjerawat. Rata-rata kondisi kulit orang Indonesia memang berminyak. Jadi, bagi yang berkulit kering agak didiskriminasi, ya.

to-do-list travelingku dari dr. Care

Produk dr. CARE menawarkan rangkaian produk basic dalam perawatan kulit, khususnya wajah: facial cleanser, facial toner, peeling gel, dan sun protector SPF 30. Kandungan utamanya adalah witch hazel untuk antioksidan, vitamin E, dan D-panthenol untuk nutrisi kulit. Cara kerja dr. CARE itu berfokus pada pengelupasan sel kulit mati biar kulit lebih segar dan cerah. Di antara rangkaian itu, yang jadi favoritku adalah peeling gel yang punya zat aktif melembabkan kulit. Peeling ini efektif mengangkat sel kulit mati yang tidak terangkat oleh facial cleanser. Wanginya enak dan bulir-bulir gel-nya berwarna merah muda. Aku menggunakan peeling ini dua hari sekali dan sejauh ini memberi efek dingin di wajah. Ada kandungan madu dan aloe vera juga ternyata. Karena aku langganan soothing gel aloe vera, jadi pas pakai peeling gel ini sesekali, rasanya perawatannya jadi lengkap.

Aku mau rajin menggunakan dr. CARE ini untuk nutrisi kulit mumpung sempat. Musim semi di Eropa sudah pasti akan mengikis kelembaban kulitku dan musim kemarau di Sumbawa makin melengkapi kesengsaraan kulit ini. Jadi aku harus investasi dari sekarang, nih.

perawatan dengan dr. Care masuk ke dalam to-do-list travelingku
Sun protector wajib banget dipakai setiap hari untuk menangkal sinar UV matahari.

Sekian to-do-list sebelum traveling-ku pada tengah tahun ini. Bentuknya memang tidak terlihat sekarang. Tapi investasi itu penting. Perawatan diri luar dan dalam itu juga dibutuhkan. Makanan nggak sehat, agenda yang bikin jadwal tidur berantakan, kelelahan dalam perjalanan menjadi tantanganku. Makin ke sini, aku makin sadar, hidup itu butuh keseimbangan. Seperti tanaman, sehat itu perlu dipupuk. Biar traveling nggak terhambat karena sakit, kita perlu menyambut hari-hari penuh investasi kesehatan.

Read More

Share Tweet Pin It +1

6 Comments

In Journey Land

Lihat Giant Panda di Taman Safari Indonesia

Makin ke sini, aku makin percaya bahwa Tuhan memang memeluk mimpi-mimpi kita, sekalipun itu adalah mimpi terkecil. Aku bukan anak yang lahir dan tumbuh di Jakarta atau sekitarnya. Aku cuma pendatang yang baru mengecap hidup di kota besar beberapa tahun terakhir. Dan, kamu tahu, aku belum pernah ke Taman Safari. Iya, Taman Safari yang di kawasan Puncak itu tuh.

Awal tahun, Junisatya sempat mencetuskan mengajakku ke Taman Safari. "Safari Night, yuk, Han."
Aku cuma bilang, "Oke, kita lihat aja nanti."
Lalu, bulan lalu aku dapat telepon dari seorang sahabat, "Gue punya voucher Safari Lodge dan bisa free pass masuk ke Taman Safari. Tapi nginepnya di Caravan. Mau nggak?"
Tanpa harus konfirmasi ke Junisatya, aku langsung bilang, "Oke. Bisa. Kuota 2 orang."

Aku merasa beruntung sekali dan kegirangan padahal cuma dapat tiket masuk Taman Safari aja, lho. Bukan tiket pesawat ke Tanzania atau Madagaskar. Kalau tiket pesawat, udah jingkrak-jingkrak kali. Ketika harinya tiba, berangkatlah kami dengan personil 4 orang menuju Puncak (bukan Akademi Fantasi).
Lihat giant panda di Taman Safari

Lihat giant panda di Taman Safari
Sambil nunggu antrean panda, ada spot foto bagus di Istana Panda.

Kami berangkat Jumat malam dan mulus tanpa macet. Dari pintu masuk Taman Safari, kami diarahkan ke Safari Lodge untuk check in caravan. Kami dapat tipe caravan yang family untuk 4 orang. Itu tipe paling kecil. Untuk review caravannya, aku cerita di post selanjutnya saja. Sekarang mau fokus cerita euforia ke Taman Safari dan ketemu panda.

Kami masuk Taman Safari siang esoknya. Setelah ngobrol dengan bagian humas Taman Safari dan dikasih free pass untuk masuk gerbang Taman Safari, mobil langsung merayap naik bergabung dengan mobil pengunjung lain. Wow, ini pertama kalinya aku ke Taman Safari dan super senang. Sebenarnya senang karena landscape hutan dan habitat hewannya cakep, memanjakan mata. Gratis pula. Sekawanan gajah menyambutku. Aku sudah pernah ketemu dan bersentuhan langsung dengan gajah Sumatera di Waykambas, Lampung. Namun, kerumunan gajah di Taman Safari ini rupanya banyak juga. Seru melihat mereka bersama. Setelah gajah, ada jenis rusa, banteng Amerika, dan kuda nil malas. Ada sekawanan unta yang menyapa kami di pinggir jalan. Ada antelop yang turun ke jalan dan minta disuapi makanan. Aku baru kali ini lihat langsung sekawanan antelop yang posturnya mirip kancil. Antelop jantan punya tanduk panjang dengan bulir melingkar. Meskipun tanduknya sangar, antelop bukanlah binatang buas, malah bikin gemas.

Selanjutnya, aku melihat beberapa ekor burung merak yang lagi nggak mau pamer bulu mekarnya. Lalu ada zebra yang freeze. Kok, bisa, ya zebra-zebra itu berdiri kaku bermenit-menit. Hebat. Ada sekawanan burung unta, jerapah yang kali ini berbeda dengan jerapah yang aku lihat di kebun binatang. Jerapah ini beneran kurus dan lehernya panjang sekali. Tapi habitatnya di sini kece sekali. Pasti jerapah ini bahagia.

Lihat giant panda di Taman Safari
Jerapahnya gede.

Lihat giant panda di Taman Safari
Aku suka sama tanduknya.
Lihat giant panda di Taman Safari
Unta-unta yang punya 2 punduk.
Lihat Panda di Taman Safari
Si harimau malas di pinggir jalan.


Setelah melewati beberapa hewan yang jinak, alias bisa disodorin makanan macam sayur-sayuran, sampailah mobil kami di kawasan karnivora. Kami dilarang turun, buka jendela mobil, bahkan berhenti. Mobil dianjurkan jalan terus karena singa-singa dan harimau berkeliaran. Rasanya jantung ini mencelos melihat si raja hutan memperhatikan di pinggir jalan. Ada sekawanan singa betina di sekitarnya. Lucu, ya, ketika kita bersafari untuk melihat hewan-hewan buas ini, justru merekalah yang memperhatikan kita satu per satu. Mereka heran kali, ya, kok banyak mobil yang lewat dan begitu terus setiap akhir pekan. "Maunya apa manusia-manusia ini? Dimangsa nggak mau, tapi berani sekali mendekat."

Sekawanan singa memperhatikan kami. Ada singa-singa yang berada di balik jendela kaca (yang di dalam ini yang tampangnya lebih sangar). Ada pula singa-singa yang dilepas begitu saja. Saat mobil kami menyusuri jalanan, ada singa betina mendekat ke jendela. Tampangnya biasa saja, tapi karena aku tahu dia singa, aku langsung ketar-ketir. Jangan remehkan singa betina.

Dari area kawanan singa, kami masuk ke area harimau. Meskipun singa adalah raja hutan, postur badan harimau jauh lebih besar. Sebenarnya saat melihat harimau, aku langsung teringat, Goku, kucing persiaku di rumah. Eh, tapi ini kan harimau ya, nggak bisa dicolek-colek. Aturan memasuki area ini juga masih sama, dilarang berhenti, buka jendela, dan memberi makan kalau tidak mau hilang diterkam. Di beberapa sudut, ada harimau putih yang terkenal di cerita silat. Harimau putih yang muncul cuma 2 ekor dan terlihat malas. Mungkin mereka belum tidur siang. Sisanya ada cheetah, macan tutul, dan beruang yang juga lagi malas-malasnya. Mungkin lebih asyik saat safari night kalau ingin melihat mereka aktif.

Puas bersafari, saatnya kami mencari jalan menuju lokasi panda. Lokasinya tersendiri berada di lereng bukit yang merupakan bagian dari Gunung Gede-Pangrango. Kami diminta untuk parkir mobil dan naik shuttle bus yang mengangkut pengunjung ke area Istana Panda Indonesia. Aku antusias sekali saat mengantre di halte, lalu naik shuttle bus dan melewati lereng bukit yang kini sudah ditanami berbagai jenis bambu. Dalam perjalanan menuju istana panda, sang sopir bus menceritakan sekilas tentang kebiasaan panda yang sekarang dikonservasi di Indonesia. Panda yang akan kami kunjungi adalah giant panda yang bisa menghabiskan 20 kg bambu dalam sehari. Gimana nggak giant tuh badan. Sejak menjalin kerja sama dengan lembaga konservasi panda di China, pengelola Taman Safari mulai menanam berbagai jenis bambu sejak 3 tahun terakhir. Kelihatan, sih, bambunya masih kecil-kecil.

Kawasan Istana Panda didesain khusus berupa bangunan bergaya arsitektur Tiongkok. Kupikir ini klenteng, ternyata bukan. Kami diturunkan di halte dan disambut dengan pemandangan hijau lereng Gunung Gede-Pangrango. Kabut tipis turun dan suhu di sini memang lebih dingin, cocok sebagai habitat panda. Pengunjung digiring masuk ke gedung merah dan naik ke lantai 2. Di sana antrean lumayan panjang. Sembari mengantre, kita bisa menonton video kehidupan panda selama ini di China dan bagaimana populasinya semakin menipis karena bencana alam. Panda termasuk dalam keluarga beruang. Karena warnanya beda sendiri, makanya disebut panda. Ada beberapa spot foto keren kalau kamu bosan mengantre. Awalnya aku bertanya-tanya, kami mengantre apa ya sebenarnya?

Lihat giant panda di Taman Safari
Panda itu masih keluarga beruang.

Rupanya kami digiring ke ruang edukasi yang menjelaskan riwayat panda, klan panda yang, dan perawatan panda. Setelah itu, kami masuk ke studio yang menayangkan video kerja sama Indonesia (Taman Safari) dengan pemerintah China untuk mengangkut giant panda ke Indonesia bulan September 2017. Tujuannya untuk konservasi dan edukasi, tentunya. Di video, ditampilkan pula bagaimana penyambutan panda ini saat sampai di bandara. Heboh ya, ada semprotan air untuk menyambut panda-panda dari China ini. Segitu istimewanya mereka. Mereka datang menggunakan maskapai Garuda. Ya ampun, aku aja jarang-jarang bisa terbang menggunakan Garuda kalau lagi nggak promo.

FYI, giant panda yang dibawa ke Indonesia ini ada 2 ekor, namanya Cai Tao dan Hu Chun. Kedua giant panda ini didaulat sebagai ambassador kaum panda untuk Indonesia. Astaga, aku geli mendengarnya. Panda bisa jadi ambassador? (Lalu membayangkan tingkah bodoh dan malas si panda yang nggak peduli dengan jabatan besar yang dia emban). Sebelum dibuka untuk umum, giant panda ini dikarantina dulu agar terbiasa dengan atmosfer di Taman Safari.

Setelah video diputar, kami pun digiring ke alam terbuka tempat si panda ini berada, dan mereka lagi sama-sama... tidur pulas. Oke, aku jauh-jauh ke sini melihat si duta panda yang lagi asyik tidur siang. Sesekali Cai Tao bergerak telungkup dan telentang. Sementara Hu Chun yang sengaja dipisah karena ada saatnya nanti mereka tinggal bersama, malah meringkuk di pojokan. Kami dipisahkan oleh dinding kaca saat melihat si panda ini tidur. Iya, tidur. Cuma itu yang dilakukan si panda, kalau nggak makan, ya tidur.

Lihat giant panda di Taman Safari
Namanya Cai Tao, si ambassador giant panda.



Ketemu Giant Panda di Taman Safari
Hu Chun juga lagi tidur.
Pertama Kali ke Taman Safari langsung lihat Panda
Red panda yang menggemaskan.



Aku berpindah ke area red panda. Postur badannya seperti musang, punya kumis seperti kucing, dan punya ekor tebal dan panjang seperti kemoceng. Red panda ini juga 2 ekor dikembangbiakkan di Taman Safari. Mereka jauh lebih menggemaskan daripada giant panda yang lagi tidur itu karena karakternya lebih aktif. Kita bisa memberi makan red panda ini dengan ketentua khusus dan harus ditemani oleh petugas. Seru melihat red panda ini bermain dan makan. Rasanya ingin bawa pulang. Junisatya agak lama berdiri di arena bermain red panda karena tingkah gemas mereka. Aku malah ingin gelar sleeping bag cuma demi bisa bermain langsung dengan binatang lucu jenis beruang bertubuh paling kecil ini.

Semoga panda-panda ini betah ya tinggal di Indonesia, dapat dirawat dengan baik, dan bahagia. Selama ini panda cuma bisa kita lihat di video Youtube dan TV. Panda memang menjadi salah satu spesies yang dilindungi di tingkat internasional. Sebuah tantangan besar saat Taman Safari mengantongi izin mengembangbiakkan binatang lucu asal negeri China ini. Untuk datang melihat si panda, sebaiknya datang pada waktu makan mereka yang 4x sehari. Jangan sepertiku, datang pas mereka sedang tidur.

Istana Panda Indonesia serasa di negeri China.


HTM Taman Safari : Rp180.000,- weekend
HTM Istana Panda : Rp50.000,- weekend (tiket dapat dibeli sepaket di pintu masuk Taman Safari)

Read More

Share Tweet Pin It +1

22 Comments

In Gallery Land

SMESCO Indonesia Relaunching Produk Unggulan Lokal yang Makin Ciamik

Selama ini, apa sih yang kamu tahu tentang SMESCO Indonesia? Atau malah belum tahu, ya, jangan-jangan? Buat sebagian warga Jakarta, tentu sudah tidak asing dengan gedung SME Tower yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto, tak jauh dari patung Dirgantara, Pancoran. Yang banyak orang nggak tahu itu bahwa SMESCO Indonesia menyediakan 34 paviliun provinsi yang menjajakan produk-produk khas daerah masing-masing.

SMESCO Indonesia Relaunching Produk Unggulan Lokal yang Makin Ciamik

Karena banyak orang awam yang kurang tahu dengan besarnya manfaat SMESCO dalam memajukan industri kreatif negara kita, SMESCO pun melakukan evaluasi. Aku sendiri sempat menyangka bahwa produk-produk lokal di SMESCO itu dijual dengan harga tinggi. Ternyata anggapan itu salah saat aku datang ke Relaunching Produk Unggulan Provinsi SMESCO, Sabtu (31/03) lalu. Relaunching yang dilakukan SMESCO Indonesia bertujuan untuk menata kembali produk-produk berkualitas yang dipasarkan di setiap paviliun. Saat aku mendatangi beberapa paviliun provinsi, aku melihat aneka ragam kekayaan negeri kita yang terwakili dengan hasil kerajinan yang berbagai rupa. Setiap paviliun menjajakan produk yang berbeda, mulai dari kain batik, tenun, songket, ukiran, anyaman, dalam berbagai bentuk. Ada yang berupa pakaian, tas, aksesoris, alas kaki, pajangan, dan lain-lain. Yang membuatku kaget, harganya tidak terlalu tinggi, kok.

Relaunching Produk Unggulan Provinsi bersamaan dengan SMESCO Minang Festival 2018 dibuka langsung oleh Ibu Mufidah Jusuf Kalla selaku Ketua Umum Dekranas. Ibu Mufidah sempat berpesan bahwa kualitas produk unggulan yang mulai dibuka tanggal 31 Maret 2018 itu harus tetap terjaga. Beliau berharap SMESCO Indonesia dapat dijadikan referensi bagi wisatawan untuk mencari souvenir berbagai daerah di Indonesia. Hal ini juga disetujui oleh Menteri Koperasi dan UKM. Bapak Puspayoga ingin menjadikan SMESCO ini sebagai miniatur Indonesia dalam bidang kerajinan. Paviliun provinsi ditata ulang dan khusus di lantai 1 dan 2 gedung SME Tower ditampilkan produk-produk unggulannya.

Smesco Indonesia relaunching produk unggulan provinsi
Beberapa koleksi unggulan di paviliun Sumatera Utara.


Smesco Indonesia relaunching produk unggulan provinsi
Ternyata harga tas rotan yang lagi hits sekarang termasuk murah di Smesco.

Smesco Indonesia relaunching produk unggulan provinsi
Pengrajin songket dari Sumatera Barat.

Buat kamu pencinta karya-karya anak bangsa dan ingin tahu ada benda apa saja dari berbagai daerah se-Nusantara, mestinya kamu harus datang ke gedung SME Tower. Sekarang penampakan SMESCO sudah di desain cocok untuk didatangi anak muda. Nuansanya lebih kreatif. Kalau datang ke sini, serasa masuk ke sebuah mall yang berisi segala macam hasil industri kreatif lokal se-Indonesia. Layaknya pusat penjualan oleh-oleh di beberapa tempat wisata ramai di berbagai daerah, Smesco merangkumnya dalam satu tempat saja. Menurutku, saat ini SMESCO bisa dijadikan satu referensi wisata belanja di Jakarta yang memuat produk lokal. Jadi, kalau ada teman dan kerabat datang ke Jakarta, jangan lupa untuk diajak berjalan-jalan di SMESCO. Buat yang ingin mencari souvenir khas pun SMESCO memang jadi lokasi yang tepat karena menyediakan referensi produk unggulan yang kualitasnya tentu saja sudah dikurasi dengan baik.

Selain sebagai pusat promosi hasil UKM negeri kita, SMESCO Indonesia juga dapat dijadikan sebagai sarana edukasi. Dengan mendatangi setiap paviliunnya, kita jadi tahu apa saja produk-produk yang dihasilkan dari daerah setempat. Sambil jalan-jalan, kita juga jadi bisa belajar dan menambah wawasan. Buat aku yang hobi traveling, SMESCO sungguh menjadi arena yang seru. Karena belum semua provinsi di Indonesia terjamahi olehku, setidaknya aku tahu hasil karya dari macam-macam daerah yang mewakili budaya di daerah itu.

Smesco Indonesia relaunching produk unggulan provinsi
Ibu Mufidah Jusuf Kalla meresmikan Relaunching Produk Unggulan Provinsi.

Smesco Indonesia relaunching produk unggulan provinsi
Tari Pasambahan dari Minang membuka acara Relaunching Smesco.

Smesco Indonesia relaunching produk unggulan provinsi
Peragaan pakaian adat dari Sumatera Barat.

Smesco Indonesia relaunching produk unggulan provinsi
Sebagai anak muda, kami bangga menggunakan produk lokal.


Sekarang, kamu sudah tahu, kan, SMESCO Indonesia itu apa? Kebetulan karena Relaunching Produk Unggulan bersamaan dengan SMESCO Minang Festival, aku dapat bonus melihat pertunjukan seni dan budaya dari kampung halaman sendiri. Paviliun Sumatera Barat pun diletakkan di bagian paling depan dekat pintu masuk SMESCO. Rasanya rindu terobati. Tarian Minang, peragaan busana pakaian adat dari berbagai kabupaten di Sumatera Barat, serta kulinernya dihimpun dalam satu kesatuan festival yang dilaksanakan dua hari, 31 Maret-1 April 2018. 

Kata Ibu Mufidah, SMESCO Minang Festival memang menandai Relaunching Produk Unggulan Provinsi, tapi bukan berarti festivalnya berhenti sampai di sini. Promosi budaya akan terus dilakukan dan akan ada festival seni-budaya dari daerah lain yang diadakan bergantian di Creative Gallery gedung SMESCO. Festival semacam ini diharapkan dapat menarik perhatian banyak orang untuk menyadari bahwa rasa bangga terhadap produk lokal itu penting dimiliki kita semua. Koperasi dan UKM kita berjaya. Dan, aku ingin menjadi salah satu bagian dari kemajuan industri kreatif negeri kita. #lokalbikinbangga

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Hospitality Land

Batiqa Hotel Pekanbaru Jadi Pilihan Transit Terbaik di Pekanbaru


Setelah melakukan perjalanan darat dari Kabupaten Padang Lawas Sumatera Utara selama 9 jam, Batiqa Hotel Pekanbaru menjadi pilihan tepat untuk bermalam saat itu. Entah kenapa aku nggak mau melirik hotel lain. Kondisinya saat itu adalah aku ada kegiatan seharian penuh di Barumun, salah satu kampung di Padang Lawas, dan sorenya langsung melintasi jalur lintas timur Sumatera dan baru sampai di Pekanbaru pukul 12 malam. Aku reservasi hotel Batiqa ini saat sedang berada di jalan menuju Pekanbaru sore itu juga, sebelum sinyal hilang total di tengah kebun sawit yang luasnya berhektar-hektar sepanjang perjalanan. Kontak Batiqa Pekanbaru ini sudah kusimpan sebelumnya karena sempat menanyakan rate per malam di sana. Jadi, tanpa harus repot search hotel lagi di browser, aku langsung memesan kamar di Batiqa Hotel. Pokoknya begitu sampai Pekanbaru, kamar sudah siap menampung badanku yang super lelah hari itu.


Ternyata pilihanku tidak salah. Batiqa hotel menerimaku dengan hangat. Lokasinya juga gampang ditemukan, berada 1,5 km dari bandara. Saat malam hari, tulisan Batiqa berpendar kebiruan. Halaman parkirnya tampak memanjang di bagian depan. Lobinya memang tidak besar. Aku didrop sopir mobil sewaan persis di depan pintu masuk. Cahaya kuning keemasan menerangiku yang sibuk menurunkan koper di lobi. Aku diantar menuju meja resepsionis. Begitu masuk lobi, dekorasi batik tampak menyala menyambutku. Interiornya tampak sederhana tapi elegan. Lukisan batik berbagai jenis motif dipajang di area lobi, serta macam-macam ukiran juga memenuhi sisi lainnya. Ada lukisan wilayah Pekanbaru zaman dulu dipajang berhadapan dengan lukisan batik. Nuansa Nusantara-nya makin terasa di Batiqa. Apalagi saat aku memasuki lobi ini sudah tengah malam. Dekorasi ruangan dipercantik dengan sorot lampu yang ditata apik pula. Jadinya kesan ornamennya jadi terasa dramatik.

Area lobi Batiqa Hotel Pekanbaru


Area lobi Batiqa Hotel Pekanbaru

Area lobi Batiqa Hotel Pekanbaru

Meja resepsionis terdapat persis di seberangnya. Ada 2 bangku balok kayu yang tersedia di depan meja resepsionis untuk para pengunjung yang sedang mengurus administrasi. Proses check in-ku malam itu tidak lama. Semua dataku sudah masuk di sistem mereka. Begitu mencocokkan dengan KTP, kunci kamar langsung diberikan. Aku kebagian kamar 508. Fyi, bangunan Batiqa Pekanbaru memang tidak besar tapi terdiri dari 10 lantai, dengan fasilitas gym serta meeting room di lantai 2.

Aku memesan kamar tipe Superior dengan 1 double bed. Begitu masuk, lantai vinyl dan sentuhan kayu berwarna kuning memenuhi interiornya. Ciri khas Batiqa terdapat di bagian dinding atas tempat tidur. Ada ornamen ukiran dipajang di sana. Dekorasinya simple tapi nuansanya sangat kusuka. Ada kulkas di bawah TV dan jenis minuman seduhan disediakan. Lemari lengkap dengan hanger, brankas, laundry bag, serta slipper bermotif batik disimpan rapi di dalamnya. Kalau soal kamar mandi, nggak usah ditanya lagi. Super nyaman dan bersih.

Spot untuk kerja di kamar ini juga jadi favoritku. Persis dekat jendela. Sebelum istirahat setelah road trip Sumatera Utara-Riau, aku sempat membalas beberapa email masuk. Wifi di dalam kamar cukup kencang. Aku tergoda untuk nonton beberapa web series dulu nih di Youtube dan aplikasi film lain. Eh, tapi sudah ngantuk karena sudah lewat tengah malam. Memang kasur sudah menunggu, apalagi aku tidur sendiri. Puas banget guling-gulingan.


Batiqa Hotel Pekanbaru

 Batiqa Hotel Pekanbaru

Batiqa Hotel Pekanbaru

Batiqa Hotel Pekanbaru


Aku terbangun pagi hari. AC sengaja kumatikan dan jendela kamar kubuka lebar. Udara pagi di Pekanbaru masuk sayup-sayup ke kamar. Pagi itu tidak begitu dingin. Pekanbaru memang tak pernah dingin. Tapi paginya sungguh tenang. Aku pun turun untuk sarapan di lantai dasar, Fresqa Bistro. Di Fresqa Bistro ini terbagi dalam 2 nuansa; indoor dan outdoor. Menu-menu serapannya enak meski tak banyak. Aku menikmati sarapan dengan santai. Di antara tamu hotel, aku melihat beberapa muda-mudi yang asyik berdiskusi dengan bahasa Inggris. Tampaknya mereka baru pulang mengikuti konferensi entah di mana. Ruang makan Batiqa Hotel memang tempat yang tenang untuk melakukan pertemuan dengan menyediakan beberapa meja panjang besar.

Di lantai 2 hotel ini tersedia ruang gym dan beberapa ruang pertemuan. Karena tidak banyak yang nge-gym pagi itu, lantai 2 relatif sepi. Cuma ada ornamen-ornamen berupa ukiran dan foto-foto suasana Pekanbaru zaman dulu. Aku memutuskan turun saja dan berjalan-jalan ke luar hotel. Tak banyak yang dilihat karena lokasinya bukan di pusat Kota Pekanbaru. Eh, tapi ada landmark kota ini di sebuah bundaran simpang tiga lebar tak jauh dari hotel. Hotel Batiqa Pekanbaru ini memang disediakan untuk tamu yang sedang transit karena berada di jalan akses bandara. Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, kan, sekarang sudah termasuk bandara internasional dan menjadi lokasi transit orang-orang yang ingin berangkat ke atau dari Batam, Padang, bahkan kawasan Tapanuli, Sumatera Utara. Ya, seperti aku ini yang baru saja kembali dari kawasan Padang Lawas, Sumatera Utara. Akses paling dekat dari sana ya Pekanbaru, dibanding dari Kota Medan sendiri.


Fresqa Bistro Batiqa Hotel Pekanbaru


Fresqa Bistro Batiqa Hotel Pekanbaru


Batiqa Hotel Pekanbaru

Batiqa Hotel Pekanbaru

Yang paling aku suka dari hotel ini adalah antar-jemput gratis bandara dan mall terdekat. Aku lupa nama mall-nya apa karena nggak sempat main ke mall hari itu. Mulanya aku minta tolong memesankan taksi untuk ke bandara kepada resepsionis sebelum check out. Ternyata mereka menawarkan angkutan gratis ke bandara setiap satu jam. Katanya, mereka juga bisa menjemputtamu dari bandara jika sudah reservasi dan konfirmasi ke pihak resepsionis hotel. Asyik sekali, ya, pelayanan yang disediakan hotel ini. Lumayan, aku bisa menghemat uang taksi ke bandara.

Terima kasih, Batiqa Hotel Pekanbaru. Hotel ini memang cocok sekali dijadikan tempat transit. Perjalanan panjangku dari Padang Lawas terbayar dengan kenyamanan di Batiqa. Jadi, begitu balik ke Jakarta, aku sudah merasa segar kembali tanpa harus merasa jetlag mengarungi daratan perkebunan sawit beberapa hari sebelumnya.




Batiqa Hotel Pekanbaru

Read More

Share Tweet Pin It +1

17 Comments

In Journey Land

Wisata Hemat Panorama Pabangbon Bogor

Aku paling nggak bisa menghabiskan akhir pekan di rumah saja. Rasanya berdiam di rumah tanpa alasan membuat badan ini pegal-pegal. Karena aku tidak punya rencana apa-apa selain harus belanja bulanan, aku entah kenapa mengirim pesan pada seorang teman. Aku cuma bertanya, "Kalau akhir pekan Bogor sepadat apa? Ajak aku main ke Bogor dong."

Temanku langsung membalas sapaku. Karena orang Bogor, kalau ditanya tentang tempat wisata Bogor pasti dia kebingungan. Kebun Raya Bogor dan Puncak adalah jawaban jitu. Lalu kuliner juga jadi alternatif karena jika ingin makan murah dan kenyang, main-mainlah ke Bogor. Yang pasti aku nggak mau ke Bogor kota atau pun Puncak karena arus padat merayap. Udah 2 tahun aku nggak ke Puncak. Nggak mau lagi ke sana kalau akhir pekan. Parah macetnya. Aku teringat temanku ini pernah ke salah satu spot cantik yang katanya masih di sekitaran Bogor. Dia bilang lokasinya di Desa Pabangbon, Leuwiliang, masih kawasan Kabupaten Bogor. Cuma 2 jam dari Kota Bogor.

Serta merta aku semangat lagi. Hari Sabtu yang lesu tak jadi kuhabiskan dalam sendu. Tanpa berpikir panjang, aku menarik Junisatya dari kemulan selimutnya pagi-pagi sekali, lalu berkendara menuju Leuwiliang. Aku harus menjemput Ry di Depok dan Vi di Bogor, dekat rumahnya. Sarapan pagi di McD membuka pagi itu. Begitu kami berempat siap, mobil pun melaju ke kawasan Leuwiliang. Beruntungnya, hari itu Bogor tidak terlalu ramai. Kalau kata Vi, "Bogor rame kalau akhir bulan dan libur panjang. Kalau weekend tengah bulan, cenderung sepi." Syukurlah.

Perjalanan tak ada kendala berarti. Jalanan menuju kawasan Pabangbon cukup mulus dan yang paling penting tidak ada pungli. Aku paling risih jika di setiap belokan ada preman yang meminta uang masuk, uang kebersihan, uang parkir, atau semacamlah. Beberapa tempat wisata di kawasan Jawa Barat banyak dan aku sudah merasakannya sendiri. Untungnya Pabangbon tidak seperti itu. Jalanan mulus meski agak sempit dan beberapa kali tersendat karena lewat pasar. Sekitar 2 jam sampailah kami di kawasan hutan pinus dengan jalan yang agak sedikit menanjak. Kami sempat ditawari parkir di sebuah warung karena katanya mobil nggak akan sanggup naik. Jadi bisa naik ojek saja dan bayar 10.000 rupiah. Tapi aku tidak mempan dengan trik ini. Selagi jalanannya bagus, kenapa enggak dicoba. Kulihat memang banyak mobil yang parkir di bawah. Ini bisa jadi alternatif juga buat kamu yang datang. Tapi kalau pakai kendaraan pribadi, tidak ada salahnya mencoba jalan terus di depan.

Aku dan 2 temanku turun, membiarkan Junisatya melajukan mobil melewati tanjakan. Kami menyusulnya dengan jalan kaki. Begitu jalan mulai datar lagi, kami kembali masuk ke mobil. Gerbang Panorama Pabangbon tidak jauh kok dari sana dan halaman parkir juga terbentang luas.

Panorama Pabangbon Leuwiliang


Panorama Pabangbon Leuwiliang

Panorama Pabangbon Leuwiliang

Kawasan wisata Pabangbon terbagi 2 area, camping area dan panorama. Kalau kamu ke sana, kamu tentu akan memilih langsung ke Panoramanya karena memang cenderung lebih ramai. Tapi kata temanku, di camping area juga ada spot melihat panorama yang bagus. Kawasan wisata Pabangbon ini sebenarnya kawasan hutan pinus di Leuwiliang. Jadi lokasinya berada di bukit dan adem. Aku berjalan ke camping area dan membayar tiket masuk Rp10.000 saja. Niat kami memang bukan untuk kemping, tapi untuk melihat panorama lembah yang dapat terlihat dari puncak hutan pinus itu. Camping area cenderung lebih sepi jadi aku lebih leluasa mengeksplor lokasi. Di sana ada titik-titik foto yang instagramable. Ada jembatan kayu yang dibuat sedemikian rupa. Kalau nggak salah di bagian camping ground ini ada sekitar 5 spot foto panorama. Setiap spot ada penjaganya dan dikenai biaya Rp5.000. Aku setuju dengan tarif biaya foto 5.000 per spot karena jembatan kayu yang dibangun di sana murni swadaya sehingga mereka butuh biaya perawatan. Oiya,Kalau sedang sepi, kita bisa foto sepuasnya. Kalau sedang ramai, ya sadar diri aja ya foto-fotonya.

Panorama lembah yang terlihat memang bagus. Ada bukit yang bersusun manis di kejauhan. Waktu terbaik untuk menikmati panorama ini adalah pagi hari karena langit sedang cerah dan panas belum terlalu menyengat. Bonusnya, angin sepoi-sepoi menyapa. Camping area ini dipercantik dengan beberapa bangku dan saung untuk istirahat pengunjung. Untuk kawasan kempingnya sendiri, kita bisa menyewa tenda dan hammock di loket. Untuk yang ingin outbond, bisa coba flying fox yang tarifnya Rp35.000 per orang. Flying fox-nya tidak terlalu ekstrem hingga membelah panorama, jadi aman buat anak-anak.

Omong-omong soal hammock, usai puas menikmati panorama, aku menemukan hammock yang disusun ke atas. Ini hammock umum, kok buat pengunjung yang sekadar ingin foto atau beneran hammock-an. Ya, bentuknya memang kekinian. Jadi aku nggak ketinggalan untuk memanjat hammock itu bersama yang lain. Hammock yang dipasang bertingkat ini memang tampak photogenic. Tapi tahukah kamu bahwa untuk sampai ke tingkat paling atas itu butuh perjuangan. Junisatya yang hanya mampu naik sampai ke tingkat ketiga sudah gemetaran karena gamang. Dia freeze di atas sana. Wah, orang yang bisa sampai di tingkat atas tentu hebat, ya.




Panorama Pabangbon Leuwiliang

Panorama Pabangbon Leuwiliang

Penorama Pabangbon Leuwiliang Bogor

Lepas tengah hari, kami turun dari camping ground Pabangbon karena kelaparan. Satu lagi yang aku suka dari spot ini, tidak ada orang berjualan di dalam sehingga lingkungannya lebih tertib dan tetap terjaga. Oleh karena itu, memang sangat disarankan ke sini bawa makanan dan bisa piknik bersama keluarga atau teman jalan di tengah hutan pinus Pabangbon di pinggir lembah. Karena kami tidak membawa bekal makanan, jadilah kami keluar dari kawasan itu dan turun ke arah parkiran. Di sana banyak warung kecil yang siap menyemangati perut kita. Kata temanku harga makanan di sini relatif murah. Aku memesan soto bogor dan kamu tahu harganya berapa? Cuma Rp5.000. Ini murah banget dan enak. Nggak ada nih soto bogor harga segini di Jakarta. Jadi kunikmati saja hal-hal yang membahagiakan mata, perut, dan pikiran di kawasan Pabangbon ini.

Usai makan siang, niat hati ingin masuk ke kawasan Panorama Pabangbon untuk sekedar melihat-lihat. Tapi tiba-tiba hujan mengguyur. Semua pengunjung bubar dan berteduh di warung. Lagipula kami sudah puas menikmati panorama di camping area. Kata Vi, di Panorama Pabangbon tempatnya sama. Pemandangan lembahnya juga sama. Jadi kami putuskan untuk turun gunung saja sebelum jalan menuju kota terlalu padat jelang sore hari.

Berbagai celoteh riang kami lontarkan di sepanjang perjalanan. Bagiku Pabangbon membawa kesan manis di hari Sabtu. Rasanya puas melihat panorama cantik yang tidak terlalu jauh dari lokasi tempat tinggalku. Bogor menjadi begitu hangat menemani akhir pekanku bersama teman-teman sesama pejalan ini. Begitu sampai di Kota Bogor yang memang hari itu relatif ramai lancar, Vi mengajakku mampir ke Momomilk, sebuah kafe susu segar. Kami nongkrong hingga magrib tiba di kafe itu. Minum susu segar dengan berbagai rasa sehabis trekking di Pabangbon itu rasanya tak kalah nikmat. Susu segar di sini ada bebebapa varian dan harganya di bawah Rp20.000. Ada menu dessert lain yang disajikan di kafe ini yang berbahan dasar susu, tapi aku lebih tertarik dengan susu segarnya biar sehat.

Momomilk Bogor

Belum puas bermain hari itu, sebelum pulang dan mengantar Vi si anak Bogor pulang, aku diajak mampir lagi makan sate taichan yang lagi hits akhir-akhir ini. Di depok juga ada sebenarnya restoran taichan ini tapi aku belum pernah mampir. Taichan menjadi penutup hari Sabtu kami. Makan taichan kulit menjadi favoritku. Aku langsung pesan 10 tusuk dengan harga Rp25.000. Aku bahagia menghitung jajanan hari ini. Kupikir jalan seharian akan menghabiskan uang di atas Rp200.000. Tapi ternyata tidak. Ah, senang sekali. Kapan-kapan, aku mampir lagi, ya, Bogor.

Read More

Share Tweet Pin It +1

19 Comments