In Journey Land

Jelajah Sumbawa, Bertahan Hidup di Pulau Kenawa

Sumbawa memang tak pernah mengecewakan, apalagi pada saat musim kemarau. Pagi itu aku dan geng travelingku sudah berada lagi di dermaga kecil pelabuhan Poto Tano. Kami baru saja turun gunung dari Bukit Mantar, diantar mobil pick up sampai ke dermaga ini. Bukit dan jalan yang kering kerontang menjadi daya tarik tersendiri. Pelabuhan Poto Tano jadi spot instagramable banget hari itu.

Hari itu giliran kemping di Pulau Kenawa, satu pulau di seberang Poto Tano yang tak berpenghuni. Pulau Kenawa ini masih bagian dari Desa Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Hanya ada savana, bukit tunggal yang tidak terlalu tinggi, laut, dan kami. Aku dan teman-teman menunggu perahu yang sudah kami sewa lebih dulu. Aku mencari info penyewaan perahu yang bisa mengantar-jemput kami di Pulau Kenawa. Jadi, berangkatnya diantar, lalu bapak pemilik perahu akan menjemput kembali esok paginya. Persis seperti saat kami berkemah di Bukit Mantar. (baca tulisannya di sini)
Jelajah Sumbawa-Kenawa

Jelajah Sumbawa-Kenawa (2)

Ohya, sebelum berlayar ke Pulau Kenawa, kami membeli perbekalan untuk makan siang dan makan malam sekaligus. Kata si bapak pemilik perahu, lebih baik sedia bekal dari pelabuhan karena Pulau Kenawa sedang sepi. Sedang sepi ini maksudnya gimana? Kami sendiri tahu sekali kalau di Pulau Kenawa tidak ada rumah penduduk. Aku sudah membaca banyak sekali info tentang pulau ini dari blog dan website pariwisata. Tapi, bukankah banyak warung yang dibuka di sana karena mengingat Pulau Kenawa adalah destinasi wajib saat kita berkunjung ke Sumbawa?

Faktanya, begitu kami berlayar sekitar 15 menit dari pelabuhan Poto Tano, perahu kami merapat di satu sisi pantai Pulau Kenawa. Kosong, sepi, semua warung tutup. Pulau Kenawa benar-benar tidak berpenghuni. Kata Pak pemilik perahu, orang yang jaga warung pulang semua ke Sumbawa, masih trauma dengan gempa Lombok. Mereka mengamankan diri untuk sementara, sampai Lombok dan Sumbawa benar-benar aman. Kami seketika merinding. Jadi hari itu memang tidak ada orang satu pun di Pulau Kenawa. Tapi si bapak pemilik perahu menghibur. Katanya itu ketakutan orang-orang saja. Weekend minggu depannya juga pasti Kenawa sudah ramai lagi. Oke, Pak. Kami pun berpisah dengan si bapak pemilik perahu.

Angin semilir menggoyang-goyang savana yang berwarna kekuningan. Rasanya ingin langsung guling-guling di padang savana itu. Yang pertama harus dicari itu adalah tempat terbaik untuk basecamp seharian itu sampai malam nanti. Kami menyisiri pantai yang putih dengan karang-karang kecil tersapu ombak di pesisir. Angin bertiup lumayan kencang. Karena angin mulai nggak santai padahal masih pukul 11, kami berteduh saja di sebuah pondok kosong di pinggir dermaga, sembari membuka bekal makan siang. Hanya ada nasi dengan lauk teri dan telur mata sapi. Tapi kok nikmat sekali, ya. Bahkan kami berempat rebutan menghabiskan jatah satu sama lain. Ingin sekali aku mengulang momen makan di pondokan Pulau Kenawa itu.

Jelajah Sumbawa-Kenawa (3)


Usai makan, air laut seakan melambai-lambai memanggil kami untuk terjun siang itu. Aku mulanya berniat snorkeling di sekitaran pantai. Ada ikan-ikan kecil di sela-sela pasir berkerikil. Namun, begitu menyelam beberapa meter, Junisatya menarikku ke permukaan.

"Ada yang lewat di bawah. Hitam gede."
"Di mana?" tanyaku. Dia menunjuk ke arah kanan.
Aku masuk lagi ke air dan nggak melihat apa-apa. Begitu berenang lebih maju lagi, aku juga melihat ada yang lewat dari sudut mata.
"Hiu," jawabku asal.

Saat itu juga aku melipir ke bibir pantai lagi, berlomba dengan Junisatya. Ry dan Rara, dua teman kami yang dengan semena-mena nggak mau main air hanya menatap keheranan. Awalnya panik, tapi langsung tertawa-tawa. Siapa yang nggak ketawa, belum tentu juga itu beneran hiu. Belum tentu juga itu ikan. Baru juga nyemplung beberapa meter, tapi aku sudah menyerah. Yah, entah ikan apa yang lewat dan agak besar itu, aku nggak mau masuk ke laut lagi. Ada rasa tidak aman saat kami bermain-main di laut siang itu. Nggak ada perahu nelayan yang bertengger di dermaga. Nggak ada orang yang jaga warung. Kalau aku mendadak nggak kuat berenang ke tepi, siapa yang bakal nolongin? Nggak ada tim Baywatch yang siap sedia di sana. Pulau Kenawa terlalu sepi, saking sepinya, kita memang harus bisa bertahan sendiri.

Jelajah SUmbawa-Kenawa (4)
Membicarakan Kenawa kini dan cara bertahan hidup di sana.

Angin di Pulau Kenawa mengundang ombak ribut. Jadi memang lebih aman kami eksplor daratan di pulau yang luasnya hanya sekitar 15 hektar itu. Aku bebersih badan (nggak pakai air bersih), cuma lap-lap dan ganti pakaian. Ada kamar mandi darurat yang didirikan orang-orang warung untuk buang hajat dan bilas. Tapi, tentu saja tidak ada air bersih, kan, karena sudah semingguan itu Pulau Kenawa kosong. Nggak ada nelayan/warga yang memasok drum berisi air bersih dari Poto Tano. Nah, ini jadi masalah baru lagi buat kami. Aku belum mandi dari hari sebelumnya, sejak kami kemping di Bukit Mantar. Rara mengeluhkan rambutnya yang sudah sangat lepek, nggak mampu ditolong oleh bedak tabur saja. Ry dan Junisatya mulai diam-diam nahan pup. Kami nggak boleh sembarangan bersih-bersih pakai air mineral yang sudah dibawa. Takut kehabisan. Jadi harus hemat.

Akhirnya aku dan Rara memberi kuliah singkat tentang jurus-jurus mengorek pasir ala kucing dan cara menimbunnya kembali kalau memang nggak mau mencemari laut. Meski enggan, Ry dan Junisatya akhirnya mencari lokasi ternyaman untuk buang hajat. Masih di sekitaran pantai, kok. Dengan hanya ditutup dengan matras yang diberdirikan melingkar, pas dijadikan jamban darurat. Mereka mengisi botol bekas kosong dengan air laut. Aku dengan sangat keras melarang mereka menggunakan bekal air minum kami yang hanya sisa 3 botol besar. Maaf ya, teman-teman. Maaf juga ya, suami. *nyengir.

Siang itu angin melenakanku. Masih terlalu panas untuk berjalan-jalan di padang savana. Selesai berenang, kenyang, lalu tidur siang. Eh, bukan aku, ya. Tapi Ry, sambil mendengarkan musik lewat speaker portable yang kami bawa. Lalu...

Gempa.

Sekali.

Dua kali.

Pondokan kami bergetar. Aku menjerit. Ry reflek melompat bersama dengan Rara. Lalu di mana Junisatya? Dia masih serius buang hajat rupanya. Aku memanggil-manggilnya. Aku yakin dia nggak merasakan gempa yang lumayan kuat barusan. Kami menunggu beberapa menit di pantai, lalu menyadari bahwa air laut sempat surut. Jantungku mencelos. Kami harus evakuasi secepatnya. Untungnya Junisatya sudah selesai dan kami langsung berjalan cepat ke arah bukit di tengah Pulau Kenawa. Aku cuma sempat menenteng tas kecil berisi dompet dan kamera. Rara dan Junisatya hanya membawa hape. Sementara Ry menggendong ranselnya yang tampak berantakan karena belum dikancing. Dia yang paling panik di antara kami berempat.

Jelajah SUmbawa0Kenawa (5)

Jelajah Sumbawa-Kenawa (6)

Kami berjalan membelah savana yang kering karena kemarau. Lalu kami berhenti kelelahan di dataran yang agak tinggi, tapi masih jauh dari bukit Kenawa yang lebih tinggi lagi. Baru juga setengah jalan menuju bukit, kami sudah menyerah. Jiwa siap siaga dan penyelamatan diri kami lemah, nih. Dari tempat kami berdiri, aku lumayan bisa melihat hampir keseluruhan Pulau Kenawa dan kondisi lautnya. Angin masih tanpa lelah bertiup. Air laut juga masih tampak surut. Ah, indah sekali. Langit pun biru. Pulau-pulau tetangga tampak eksotis. Kami berdoa bersama semoga tidak terjadi hal yang nggak diinginkan semacam gempa susulan dan tsunami. Tidak ada siapa-siapa di pulau itu tempat kami bisa minta tolong. Hanya saling percaya di antara kami berempat.

Setidaknya kami harus menunggu di gundukan dataran yang agak tinggi itu selama satu jam. Seharusnya ya. Tapi faktanya, kami kepanasan. Ya iyalah, matahari menyengat sekali di musim kemarau. Tidak ada pohon untuk berteduh. Akhirnya dengan menyerahkan diri kepada alam dan Tuhan, kami kembali lagi ke pondokan. Kecemasan mulai luntur, kami hanya bisa menertawai diri sendiri karena bisa-bisanya kami melanggar ketentuan evakuasi dini menghindari bencana, belum sampai 30 menit, kami sudah turun bukit. Ry mengecek informasi BMKG di aplikasi. Dia sudah mengunduh aplikasi itu sejak kami berangkat ke Sumbawa karena berita gempa susulan di Lombok masih menghantui waktu itu. Memang kami aja yang nekat nggak mau membatalkan tiket pesawat saat tau Lombok kena bencana gempa dan masih berduka. Tapi nggak apa-apa, kondisi Sumbawa sebenarnya jauh lebih aman. Gempa yang kami rasakan di pulau saat itu juga berpusat di Lombok Timur, sebesar 6,2 SR. Cukup besar tapi tidak berpotensi tsunami. Kami lega sekali. Banyak teman dan kerabat yang menghubungiku saat itu karena tau aku sedang berada di Sumbawa. Aku hanya memberi info singkat bahwa kami baik-baik saja.

Setelah melewati masa tegang lantaran melihat air laut surut pasca gempa dan segala kepanikan evakuasi, aku pun memutuskan untuk mendirikan tenda. Kemudian berjalan-jalan sore di tengah savana, menikmati angin dan lambaian rumput berwarna kekuningan itu. Aku juga mampir ke rumah botol, satu-satunya bangunan permanen yang terlihat di tengah Pulau Kenawa. Bangunan rumah botol ini memang sebuah upaya dari komunitas pencinta laut untuk mendaur ulang botol-botol kaca bekas. Siapa sangka bisa mewujud menjadi 2 bangunan unik di tengah pulau seperti itu, persis menghadap ke timur. Namun, aku sampai saat ini belum paham betul maksud bangunan itu didirikan tapi dibiarkan kosong dan pintunya dikunci seperti itu. Ada loker-loker di bagian depannya. Kupikir ini semacam galeri.

Pembangunan rumah botol ini dirancang oleh arsitek dari Amerika, Michael Reynolds, yang memelopori Gerakan Rumah Ramah Lingkungan. Nah, rumah botol di Kenawa ini adalah pilot project-nya bersama beberapa relawan. Mereka mengumpulkan segala limbah di sekitar dan membangun rumah berkonsep earthships pertama di Indonesia. Bentuk bangunannya unik. Dan, katanya bakal bisa menjadi rumah bertenaga surya pasif dari barang daur ulang dan material alami. Keren banget ya. Tapi saat kami ke sana, rumahnya kosong begitu aja. Ditinggal terbengkalai, padahal dekorasi tamannya bagus. Hanya beberapa meter jalan kaki menuju pantai, mengarah ke matahari terbit.

Jelajah SUmbawa-Kenawa (7)


Karena nggak bisa masuk ke rumah botol, aku hanya bermain-main di tengah savana. Pulau Kenawa sungguh sangat kering. Begitu juga dengan pulau-pulau yang tampak di sekitarnya. Aku belum cerita kondisi bukit Kenawa yang tampak eksotik dari kejauhan ya? Karena kemarau panjang, bukit Kenawa menghitam. Beberapa bulan sebelum kami menginjakkan kaki di Kenawa, bukit itu sempat terbakar akibat percikan kembang api seorang pengunjung. Agak sedih melihat bukit itu berwarna hitam, kurang senada dengan savana kuning kecokelatan yang membelai-belai kaki sekeliling kaki bukitnya.

Malam di Pulau Kenawa penuh bintang. Lagi-lagi aku puas memandang bintang tanpa hambatan seperti malam itu. Tetapi nggak bisa lama. Rupanya angin lumayan memporak-porandakan tenda kami. Aku sampai menambatkan ikatan tenda ke tiang pondokan, tempat sesiangan kami beristirahat. Malam membuatku lumayan sibuk, memberi pemberat di setiap sudut tenda karena pasak saja nggak mempan dan menabur garam di sekeliling tenda untuk menghindari ular. Konon, katanya di sana banyak ular yang muncul dari laut. Ada yang bilang itu jenis ular mematikan nomor dua di dunia. What? Oke, lebih baik aku menutup malam dengan cepat.

Mengunjungi Pulau Kenawa sepertinya harus 2 kali. Pertama, saat musim kemarau seperti ini. Melihat savana kuning kecokelatan dan pulau-pulau yang terlihat gersang sekali sungguh menjerat hati. Pesonanya tiada dua. Kedua, saat baru melewati musim hujan karena savana dan bukit di Pulau Kenawa akan menghijau, ranum, dan rimbun. Rasanya sejuk di mata. Kali lain semoga aku berkesempatan mengunjungi Kenawa saat rumputnya menghijau ya. Dalam kondisi alam Sumbawa dan orang-orang tidak sedang berduka dan trauma karena bencana.

Rencanakan Perjalanan ke Sumbawa
Kalau kamu ingin sampai ke Sumbawa juga dan mampir ke Pulau Kenawa, lebih baik rencanakan dari sekarang, mumpung Pegipegi sedang ada diskon besar-besaran akhir tahun ini.

Rencanaku untuk trip ke Sumbawa ini nggak dalam sekali kedipan mata. Aku sudah merencanakannya 6 bulan sebelumnya. Kenapa sampai selama itu? Selain karena kebetulan dapat tiket pesawat promo Jakarta-Lombok dan Sumbawa-Jakarta, aku juga butuh riset ekstra tentang destinasi di Sumbawa. Akses dan informasi tentang wisata Sumbawa ini ternyata masih sangat terbatas, apalagi aku banyak maunya. Ingin ke Bukit Mantar, Pulau Kenawa, dan Pulau Moyo yang lokasinya agak lebih jauh. Sebenarnya banyak sekali destinasi keren di Sumbawa yang ingin kujelajahi. Sumbawa bagian timur belum. Pantai-pantai di Bima juga belum terjamah oleh kami. Ya, mungkin memang harus ada kali kedua ya seperti lagunya Raisa.

Pegipegi rencanakan perjalanan ke Sumbawa

Untuk menjangkau Sumbawa, aku berangkat dari Jakarta ke Lombok dan lanjut naik kapal selama 3 jam menuju Sumbawa Barat. Pulangnya, aku memesan penerbangan Sumbawa-Jakarta dengan transit di Lombok selama 1 jam. Kamu coba cek tiket pesawatnya di Pegipegi dan nggak perlu khawatir juga soal penginapannya. Asalkan tujuanmu jelas selama di Sumbawa dan berapa hari, penginapannya juga bisa langsung dipesan sekaligus. Lebih untung lagi dengan program GEMPITA (Gemerlap Promo Akhir Tahun) dari Pegipegi ini, kita bisa pesan tiket pesawat dan hotel jauh lebih murah di aplikasi. Ada promo khusus member karena dapat pepepoin. Semua jadi praktis, kan.

Pegipegi kini lebih firendly use buat traveler. Transportasi dan akomodasi sudah dirangkum dalam satu aplikasinya. Menjelang akhir tahun ini, diskon tiket pesawatnya bisa mencapai 212.000 dan booking hotel dapat diskon 30%. Lumayan banget. Ayo, ke Sumbawa.


Read More

Share Tweet Pin It +1

6 Comments

In Story Land

Kuliner Bebek Bentu di BSD

Kalau ada yang nanya, siapa pencinta bebek di sini? Aku akan langsung tunjuk tangan. Saat ada agenda ke Surabaya setelah lebaran lalu, aku sengaja banget menyeberang jembatan Suramadu demi bisa makan bebek Madura yang rasanya khas. Aku juga punya langganan warung bebek madura di dekat rumah, dagingnya empuk, tidak amis, dan bumbunya enak. Segila itu aku menyukai masakan bebek.

Kebetulan sekali, beberapa waktu lalu aku diajak teman untuk ketemuan di sebuah restoran Bebek Bentu yang baru buka di kawasan Serpong Jaya. Begitu mendengar itu restoran bebek, aku langsung mengiyakan. Lumayan, kan, akhir minggu bisa jalan-jalan ke kawasan BSD untuk kuliner bebek. Seperti apa menu bebek di Bebek Bentu Serpong Jaya, ya?

Kuliner Bebek Bentu Serpong Jaya

Menu bebek goreng ataupun bakar bisa dikatakan enak jika dagingnya empuk, tidak alot, tidak amis, dan bumbu bebek meresap hingga daging bagian dalam. Untuk sambal dan bumbu tambahan adalah bonusnya. Yang penting rasa bebeknya 'berasa'. Berangkat dari filosofi itu, Bebek Bentu meracik menu bebek dengan bumbu rempah yang kuat. Pemilik Bebek Bentu, Pak Bangkit Kuncoro menjamin bahwa bebek yang mereka sediakan selalu segar. Hal ini bisa jadi kelebihan dari restoran Bebek Bentu yang kini sudah memilik 5 cabang se-Jabodetabek.

Kuliner bebek bentu Serpong Jaya (2)
Bebek Kecombrang.

Kuliner Bebek Bentu Serpong Jaya (3)
Bebek Goreng dan minuman segar.

Bebek Bentu mengolah menu bebek dan menyajikannya dengan berbagai varian menu. Ada bebek goreng, bebek cabe ijo, bebek bakar, bebek bakar saos padang, bebek cemeng, bebek lada hitam, bebek rica-rica, dan bebek kecombrang. Yang mana favoritku? Hampir semua sebenarnya. Tapi yang paling mantap dan beda dari yang lain itu adalah bebek kecombrang dan bebek cemeng. Sekilas, bebek cemeng terlihat mirip dengan bebek madura, ya. Tapi bumbu rempah yang dijadikan toping bebek lebih kuat terasa dan pedas. Bebek kecombrang juga nggak kalah enak. Taburan sambal kecombrangnya gurih nikmat gimana, gitu. Teman-temanku bilang bebek kecombrang ini pedas banget. Tapi menurutku pedasnya masih standar, kok. Rata-rata menu Bebek Bentu memang pedas. Jadi, pencinta pedas pasti suka.

Eh, bagi yang bukan penyuka bebek, jangan sedih. Kamu tetap bisa nongkrong asyik di restoran Bebek Bentu Serpong Jaya ini. Ada variasi menu lain yang memungkinkan warung bebek satu ini tetap laris manis dan tidak monoton pada menu bebek. Ada menu seafood, ayam, chinese food, dan western food. Dan....semua menunya nggak ada yang failed. Aku sudah coba 21 menu makanan di resto ini dan enak semua. Selain bebek, ikan gurame sambal petirnya juga menarik.

Kuliner Bebek Bentu Serpong Jaya (4)
Salah satu menu seafood di Bebek Bentu.

Kuliner Bebek Bentu Serpong Jaya (5)
Gurame sambal petir.
Kuliner Bebek Bentu Serpong Jaya (7)
Salah satu menu western yang kusuka.

Untuk menu minuman, Bebek Bentu memiliki minuman beragam. Mulai dari es teh manis hingga jus beberapa jenis buah. Aku rekomendasikan jus mangga, jus stroberi, dan jus kedondong. Jusnya kental da fresh. Kamu harus coba. Jangan khawatir soal harga, karena setiap menunya hanya kisaran harga 10-50 ribu rupiah.

Saat mencoba menu-menu di Bebek Bentu, terasa sekali pemilik dan pengelola restoran ini sungguh matang dalam menggarap resepnya. Pak Bangkit dan sang istri memang pencinta kuliner. Jadi mereka sudah riset banyak tempat dan banyak makanan yang dijadikan referensi dan inspirasi dalam mengelola Bebek Bentu.


Bagi anak BSD dan sekitarnya, Bebek Bentu bisa jadi pilihan tempat makan sekaligus tempat nongkrong. Ssst, ada wifi kok. Restoran Bebek Bentu ini memang didesain sebagai restoran keluarga. Restonya terdiri dari 2 lantai dan terdapat toilet dan musala di lantai 2. Ada kawasan indoor dan semi outdoor. Restorannya sendiri bisa menampung sekitar 70 orang. Bisa dijadikan tempat buka puasa bareng nih next Ramadhan.

Kuliner Bebek Bentu Serpong Jaya (6)
Bebek kecombrang favoritku.

Kebetulan sekali lokasinya dekat sekali dengan rumah saudaraku yang tinggal di Pamulang 2. Lumayan bisa dijadikan alternatif makan siang, nih. Bisa pesan delivery juga melalui Go Food. Semua jadi serba lebih mudah.


Bebek Bentu Serpong Jaya
Alamat: Ruko Orlin Arcade No. 8 Perum Serpong Jaya
Jalan Purpiptek Raya Serpong, Tangerang Selatan
Instagram : @bebekbentu14
Twitter : @bebekbentu14


Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In Story Land

Camilan-Kenyang untuk Traveling

Setiap ada agenda traveling, jauh atau dekat, jelata atau mewah, aku bisa berjam-jam berada di swalayan atau minimarket untuk menentukan camilan mana yang bisa dibawa. Tentu disesuaikan dengan ukuran dan berat camilannya serta kebutuhannya saat perjalanan. Maklum, aku anaknya kurang suka nyemil. Biasanya urusan camilan, kuserahkan pada Junisatya, itu pun kalau travelingnya bareng. Kalau enggak, aku pasrah ambil camilan apa aja yang enteng-enteng. Aku biasanya menghindari bawa mi instan kecuali kalau traveling ke luar negeri yang susah cari makanan enak.

Kamu punya camilan favorit buat traveling? Karena aku nggak terlalu doyan ngemil, jadinya buat traveling aku selalu pilih camilan yang pasti-pasti aja. Pasti ngenyangin dan pasti juga bentukannya nggak bikin penuh seisi tas. Camilan aku garing banget deh dibanding Junisatya yang selalu senang jajan, ada camilan baru pasti dicobain. Chiki dan biskuit apa aja langsung dilahap sama dia. Sementara aku, agak milih-milih sih ya.


Aku ketemu Krakakoa ini belum lama. Kemasannya nampang di salah satu swalayan. Aku pikir sejenis kopi karena kemasannya memanjang dan ramping, mirip kemasan kopi kekinian itu. Tapi kok  ya dipajangnya bukan di bagian kopi-kopian, melainkan di area snack dan camilan cantik lainnya. Aku jadi penasaran dong.

Krakakoa ini pada dasarnya cokelat yang dicampur dengan rempah-rempah. Jadi, rasanya nusantara banget. Yang bikin bangga itu adalah Krakakoa ini memakmurkan para petani kita dengan hasil panen mereka dan bisa langsung dipasarkan.
Aku udah coba 2 varian Krakakoa: Cacao Nibs Coconut & Cashew dan Cacao Nibs Mixed Spices. Nama variannya unik, ya. Bagi pencinta cokelat murni, yang rasanya ada pahit-pahitnya pasti suka dengan Krakakoa ini. Kandungannya apa aja? Sini aku bahas satu-satu.

1. Krakakoa Cacao Nibs Coconut & Cashew

Pertama kali lihat bungkus Krakakoa berwarna hijau ini, aku langsung buka dan numpahin isinya ke wadah. Biji-biji cokelat terlihat bergumul dengan kacang mete. Begitu aku coba, rasanya agak pahit di lidah. Untungnya kacang metenya mampu menyelamatkan kepahitan itu. Ada sensasi renyah dan garing saat dikunyah. Kalau lagi traveling dan lapar banget, nyemil Cacao Nibs Coconut & Cashew ini bisa menyelamatkan perut dan sehat. Bahannya alami dari biji cokelat asli, kelapa, kacang mete, gula kelapa/gula aren, dan jeruk nipis. Kandungannya per 100 gram terdiri dari 564 kilo kalori.

2. Krakakoa Cacao Nibs Mixed Spices

Aku lebih suka varian yang satu ini. Rasa cokelatnya lebih manis, teksturnya juga lebih halus. Biji cokelatnya kecil-kecil. Langsung tumpahkan ke tangan dan masuk mulut hingga penuh. Enak. Karena berbahan rempah, rasanya memang cokelat campur jahe, kayu manis, biji pala, dan cengkeh. Ada sensasi pedas dari jahe dan cengkeh, ada sensasi wangi juga dari kayu manis dan biji pala. Rasanya nggak mengecewakan. Kandungan per 100 gram terdiri dari 527 kilo kalori. Ini bisa banget jadi camilan untuk traveling.

Satu kemasan Krakakoa Cacao Nibs lumayan bisa untuk sharing karena isinya yang banyak dengan berat 100 gram. Di kemasannya ada beberapa cara untuk menikmati Krakakoa ini, apalagi buat yang nggak terlalu suka dengan rasa pahit biji cokelat murni.


How to enjoy?
1. Cemal-camil cantik dengan santai.
2. Camilan bersama sambil nonton film dan bisa di-share bareng.
3. Dijadikan topping untuk yang ingin ada ekstra crunch pada cookie, cakes, brownies, dan roti.
4. Untuk sarapan dengan campuran yogurt, cereal, dan outmeal.

Kamu tim yang mana, hayoo?

Ada banyak sekali varian Krakakoa. Masih ada yang bentuknya chocolate bar dan chocolate bark. Jadi, camilan satu ini memang cocok dikonsumsi dalam segala keadaan, apalagi demi meningkatkan mood. Mengonsumsi Krakakoa sama dengan memakmurkan para petani lokal karena bahan rempah, cokelat, dan kacang-kacangan merupakan produk asli lokal. Biji cokelatnya organik dan sedang proses pengajuan sertifikat organik untuk US dan EU. Kita juga nggak perlu khawatir dengan nilai gizi bahan organik, bukan? Semua produk Krakakoa nggak pakai pengawet, pewarna, dan penyedap rasa.

Kalau penasaran dengan produk Krakakoa, kamu bisa cek langsung websitenya di krakakoachocolate.com atau mampir ke akun Instagram @krakakoa. Mau coba cokelat rasa Indonesia, ya cuma di Krakakoa.

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Advertorial Land Story Land

Cerita Seru Traveling Bareng Anak Kecil

Dalam keluarga besar, aku paling disayang anak-anak kecil. *pede

Tapi benar, kok. Alasannya cuma satu: mereka ada maunya. Maunya diajak jalan-jalan. Anehnya, orang tua mereka rela-rela aja anaknya kubawa jalan.

Berada di dalam keluarga besar, aku dan Junisatya memang terbilang sering bawa adik-adik kecil bahkan kemenakan kami jalan. Prinsipku, kapan lagi bawa saudara sendiri jalan-jalan, kalau ada rezeki kenapa enggak. Junisatya pun pernah bilang padaku, kalau ada waktunya, sekali-sekali bisa bawa anak-anak kecil jalan biar mereka senang. Menyenangkan anak-anak itu juga kan baik. Anak-anak kecil kasihan juga kalau di rumah terus. Repot-repot seru kalau bawa anak kecil jalan. Jadi begini rasanya jadi emak-emak?
Cerita seru traveling bareng anak kecil

Meski belum punya anak, aku jadi tau banget tantangan besar ibu-ibu muda saat membawa anaknya jalan-jalan. Zaman sekarang bukan generasi anak aja yang dibilang milenial, tapi generasi emak-emak juga harus kekinian. Segala sesuatu sudah lebih mudah, apalagi kebutuhan ibu-ibu muda.

Prinsipnya sederhana: jangan pernah menjadikan anak kecil itu hambatan besar untuk tetap bisa jalan-jalan. Makanya aku suka sedih lihat sepupu yang punya anak tapi anaknya ditinggal di rumah terus. Itulah yang memotivasiku untuk sering-sering bawa emak dan anaknya piknik. Nggak jauh-jauh kok. Yang penting keluar rumah seharian.

Aku punya beberapa cerita tentang traveling bareng anak kecil. Seru-seru-mendebarkan sih.

1. Ke Cikole Lembang Bersama Safira

Safira ini anak sepupu Junisatya yang paling sering main ke rumahku. Usianya masih 3 tahun tapi nggak pernah rewel. Dia paling senang kalau aku datang ke rumahnya dan selalu menarik tanganku untuk masuk ke mobil. Yap, waktu itu kami jalan-jalan ke Cikole, Lembang.

Safira senang sekali. Ibunya membekali beberapa kotak makanan untuk bekal di jalan. Sepanjang jalan ke Bandung, dia tidur. Namun, begitu sampai di Cikole, dia langsung berlarian. Aku curiga, kalau nanti dia sudah besar, Safira bisa-bisa traveling keliling dunia ya. Satu yang bikin agak repot, emaknya Safira nggak ngebekalin anaknya stroller. Awalnya sih anak ini santai. Tapi menjelang sore dan mendung, tenaganya mulai terkuras. Aku harus menggendongnya sesekali karena wajahnya tampak lesu.

Cerita seru traveling bareng anak kecil (2)

Saat itu aku benar-benar butuh stroller. Bisa-bisanya aku lupa membawa benda berharga ibu-ibu muda yang satu itu. Omong-omong soal stroller, aku baru dikenalin satu stroller canggih terbaru keluaran Hamilton. Aku nggak begitu paham beda setiap stroller kecuali warna dan bentuk. Kenapa harga stroller itu beda-beda? Karena bergantung pada fiturnya.

Stroller Hamilton seri Ezee Elite type ini dirancang lebih dinamis, lebih ringan, dan dapat melipat otomatis dengan sekali sentuhan yang disebut magicfold. Nggak pakai baterai, nggak pakai kabel. Stroller Ezee Elite punya keranjang penyimpanan barang di bagian bawah yang lebih lebar. Anak bisa tidur flat sehingga lebih nyaman karena sandaran bangkunya bisa diatur. Stroller yang didesain dari Jerman ini menyesuaikan kebutuhan orang tua yang punya mobilitas tinggi. Stroller jenis ini praktis dibawa ke mana-mana. Aku suka dengan fiturnya, bikin hidup lebih simple. Ohya, untuk yang sering bawa anak terbang naik pesawat, malah stroller ini masih aman untuk dibawa ke kabin pesawat.

Untuk kegiatan outdoor, Hamilton Ezee Elite dilengkapi dengan kanopi UPF 50+ yang dapat melindungi si anak dari terik matahari. Stroller aja punya sun protector ya. Ada jaring anti serangga juga. Duh, cocok sekali dalam kondisiku yang bawa-bawa Safira keliling hutan pinus di Cikole. Nanti aku mau rekomendasikan stroller ini ke sepupuku, ah. Dia harus punya.

Cerita Seru traveling bareng anak kecil (3)

Cerita seru traveling bareng anak kecil (4)

Kalau sudah punya stroller dari Hamilton, kayaknya ibu-ibu muda nggak perlu khawatir untuk bawa anak-anaknya jalan. Setidaknya nggak sekhawatir aku yang waktu itu mesti gendong-gendong Safira yang kelelahan main di Cikole.

2. Dipipisin Gama di Perjalanan Lampung-Jakarta

Baru beberapa hari lalu aku ke Palembang dan pulang lewat jalur darat melalui Lampung. Aku naik bus dari Lampung menuju Jakarta dan sengaja memilih bangku di dekat jendela agar lebih leluasa. Saat itu, aku berkenalan dengan ibu muda yang bawa anak umur 5 bulannya naik bus. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, si ibu ini agak kerepotan jalan sendiri. Suaminya tidak ikut karena sedang bekerja. Gama yang lagi lucu-lucunya itu sangat murah senyum. Begitu aku mengajaknya bercanda, Gama langsung minta dipangku. Jadilah ia duduk di pangkuanku beberapa saat sembari melihat jalanan lewat jendela. Gama anak yang ceria. Meski giginya belum tumbuh, tapi dia mampu berbahasa lewat senyuman. Gemas sekali.

Setelah mengobrol beberapa lama dengan ibunya Gama, Gama pun minta susu. Tapi dia maunya dipangku olehku. Waduh! Untungnya sang ibu bawa botol susu ASI-nya. Jadilah aku memegangi botol susu itu sampai Gama tertidur. Lucu, ya.

Oops, tunggu dulu.

Ada yang mendebarkan. Saat tidur itu, ada yang hangat terasa di pahaku. Aku terkejut dan menyadari bahwa Gama ngompol dan popoknya sepertinya sudah penuh. Saat ku menoleh ke ibunya Gama, sang ibu rupanya juga tertidur. Terlihat sekali dia kelelahan mengurus bayinya dalam perjalanan sendirian. Karena tidak tega membangunkan, aku pun mengalasi bekas pipis Gama dengan kain selimutnya yang cukup tebal. Lalu duduk diam menghadap jendela sembari berdoa agar baunya tidak menyebar ke seisi bus. Duh!

Sepanjang Gama dan ibunya tidur, aku mengecek hape dan mencari-cari perlengkapan bayi di aplikasi iLotte. Aku lupa bawa tisu basah. Tisu kering pun sudah habis. Tidak ada benda yang bisa membersihkan bekas ompol bayi darurat di dalam bus. Begitu ibu Gama bangun, dia sedikit panik dan membongkar isi tasnya mencari tisu basah dan wangi-wangian. Lalu, zonk! Si ibu ini nggak membawa peralatan bersih-bersih bayi. Cuma bawa popok dan pakaian ganti untuk Gama. Rasanya saat itu mau nyodorin aplikasi iLotte dan ngasih voucher Rp50.000,00 yang kudapat dari iLotte untuk dipakai ibu Gama ini belanja perlengkapan bayinya.

Cerita seru traveling bareng anak kecil (5)

Cerita seru traveling bareng anak kecil

Betapa pentingnya bawa perlengkapan bayi dan balita saat bepergian, ya. Terasa sekali repotnya di saat kejadian tak terduga seperti itu. Adegan dipipisi bayi sebenarnya bukan masalah besar. Tapi perjalanan menuju Jakarta masih sekitar 5 jam lagi waktu itu. Apa jadinya kalau baunya menyebar di seisi bus ya? Saat bus berhenti di sebuah rumah makan, aku langsung turun dan bebersih dengan air mengalir. Ibu Gama beberapa kali minta maaf padaku dan kubalas dengan senyuman. Ku bisa apa, kan, ya? Namanya juga bayi. Saat Gama bangun pun, dia membuka mata dengan begitu polosnya, celingak-celinguk mengenal situasi menjelang kesadarannya kembali utuh.

Sayang sekali ya, si ibu juga nggak bawa stroller untuk mempermudahnya dalam perjalanan. Aku banyak belajar dari perjalanan bersama anak kecil. Banyak list yang kucatat di dalam benak. Hal-hal sepele seperti minyak telon, sabun dan sampo bayi, serta lotion anti nyamuk sepertinya nggak boleh ketinggalan jika bepergian dengan anak kecil.

Kalau ibu-ibu nggak punya waktu untuk pergi berbelanja, bisa belanja online juga. iLotte sendiri menyediakan kebutuhan ibu dan anak sangat lengkap. Barang-barangnya pun original, harganya bersaing sesuai kualitas produk, dan proses pengiriman yang cepat. Dari kebutuhan sehari-hari anak sampai benda-benda pelengkap seperti baby car seat dan stroller pun tersedia di iLotte.com. Stroller Hamilton Ezee Elite sudah ada di iLotte.com dengan harga promo 3.799.000. Aku nggak akan bilang kalau harganya itu murah atau mahal. But, it's really worth to buy.

Read More

Share Tweet Pin It +1

6 Comments

In Journey Land

Jelajah Palembang, Ini List Wajibnya

Pagi-pagi buta, aku lagi-lagi ada di bandara. Sepertinya baru beberapa bulan lalu aku memantapkan diri untuk nggak mau ambil penerbangan pagi ke luar kota apalagi ke luar negeri. Tapi, sekali lagi aku melanggarnya. Pukul 5 subuh, aku sudah berada di boarding room sambil terkantuk-kantuk. Aku bertekad, begitu masuk pesawat, aku akan langsung tidur sampai pesawat mendarat di Palembang, karena hari itu dan beberapa hari ke depan, ada serangkaian agenda perjalanan yang harus dituntaskan. Jadwal padat merayap, yay.

Setiba di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, aku yang naik penerbangan sendiri ini janjian dengan seorang travel blogger sesama dari Jakarta juga, biar nggak sendirian mulu kayak anak hilang. Karena namanya Ogie--bahkan aku nggak tau dia ini cewek atau cowok, profil whatsapp-nya tak membantu mendeteksi sama sekali--jadilah aku celingak-celinguk menguatkan radar mencari teman. Akhirnya kami ketemu di Tourism Centre. Untungnya Ogie ini cowok, lumayan bisa direpotin bawain barang dan bonus difotoin sepanjang jalan. Kami lantas bergabung dengan beberapa media dan tour agent dari berbagai daerah dan negara. Semua peserta yang berkumpul pagi itu adalah rombongan pertama yang akan dibawa ke penginapan, sembari menunggu peserta lain datang. Kami semua akan ikut tur Musi and Beyond Travel Fair 2018 yang diadakan Dinas Pariwisata Kota Palembang, mengitari sejumlah Palembang heritage, mencicipi kuliner Palembang, dan masih akan bertemu dengan teman-teman travel blogger lainnya.
Jelajah Palembang
Ngapain aja aku selama di Palembang? Ini list kunjungan mengitari kota pempek itu.

1. Naik LRT


Jelajah Palembang (2)

Usai penyambutan di Tourism Centre bandara, aku dan peserta lain lanjut naik LRT dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II menuju stasiun Jakabaring. FYI, stasiun Jakabaring ini stasiun nomor 2 terakhir dari bandara. Ongkosnya Rp10.000. Kebetulan, pagi itu LRT tidak terlalu ramai. Aku sudah membayangkan betapa ribetnya geret-geret koper naik-turun kereta. Masih terkena sindrom naik KRL dari Depok-Jakarta pagi hari yang nggak pernah sepi. Lama perjalanan dari bandara ke stasiun Jakabaring sekitar 1 jam. Ku mengira lajunya akan secepat MRT di Singapura, ternyata belum selincah itu. So far, naik LRT di Palembang pagi itu cukup nyaman karena nggak perlu mpet-mpetan, perjalanan lancar, dan aku bisa puas melihat-lihat suasana Kota Palembang dari ujung ke ujung.

2. Kampung Atlet Jakabaring


Jelajah Palembang (3)

Jelajah Palembang (4)

Jelajah Palembang (5)

Jelajah Palembang (6)

Stasiun LRT Jakabaring nggak begitu jauh dari gerbang Jakabaring Sport City (JSC). Kamu tentu nggak asing kan dengan kawasan olahraga besar di Palembang ini? Ya iyalah, Jakabaring Sport City ini jadi lokasi Asian Games 2018 lalu dan sebagian besar atlet menginap di wisma atlet di kawasan ini. Nah, rupanya aku dan teman-teman ikutan menginap di wisma atlet JSC. Ini pertama kalinya aku menginap di wisma atlet yang satu kamarnya terdiri dari 4 tempat tidur yang masing-masing dilengkapi lemari dan  nakas. Ada pantry dan kamar mandi yang dibagi dalam 2 bilik dengan shower dan kloset dipisah. Serasa menjadi atlet beneran, kan. Oh iya, sayangnya wisma atlet ini nggak dilengkapi wifi dan televisi. Atlet memang harus fokus satu titik seperti lirik lagu Via Valen, nggak boleh keasyikan internetan dan nonton sinetron. Begitu juga dengan aku. Nggak boleh malas-malasan di kamar. Untungnya aku ketemu teman sesama blogger lagi di sana. Ada Melly dari Bogor dan Yuni dari Surabaya. Mereka datang ke Palembang melalui jalur darat. Formasi kami bertambah, jadi lebih seru untuk eksplor Kampung Atlet ini.

Ternyata beralasan sekali lokasi wisma atlet dinamakan Kampung Atlet Jakabaring atau Athlete Village. Area ini terdiri dari banyak gedung-gedung penginapan yang dapat menampung ribuan atlet dalam satu waktu. Di sebuah sudut Kampung Atlet ini terdapat danau mungil yang dipenuhi oleh bunga teratai yang tampak cantik pagi hari. Senang melihat embun yang masih menempel di dedaunannya saat aku berkeliling pagi dengan sepeda di area danau ini. Ada dangau-dangau sebagai tempat santai dan pohon-pohon rindang di sekitarnya. Dangau ini dilengkapi dengan colokan. Kalau punya waktu bersantai, aku bakalan memilih dangau ini sebagai tempat semedi mengerjakan beberapa konten yang harus diselesaikan. Sungguh quality time yang sehat.

3. Makan Pempek di Rumah Dinas Walikota Palembang

Cuaca Palembang memang susah ditebak. Bisa aja siang hari panas menyengat, lalu sorenya langsung mendung dan malamnya hujan. Malam itu kami diundang oleh Bapak Walikota Palembang untuk makan malam di rumah dinasnya. Tepat saat hujan rintik-rintik turun dan diikuti oleh angin kencang. Namun, tak menyurutkan semangat kami untuk bertandang ke sana karena sudah terlalu lapar. Dan, benar saja, setelah rangkaian acara ramah tamah dari protokoler walikota, sajian dibuka dengan pempek, menu makanan khas Palembang. Sudah dari awal sejak kedatanganku di Palembang, aku mengincar pempeknya: pempek lenjer, pempek adaan, pempek pistel, pempek kulit, dan pempek keriting. Aku diajarkan cara ternikmat makan pempek ala orang Palembang. Pempek disediakan dalam mangkok mini, gigit terlebih dahulu pempeknya dan seruput kuah cukonya. Rasa ikan dan cuko akan menyatu di lidah. Bikin aku pengen nambah terus. Tapi...karena menu pempek di rumah dinas jadi favorit semua undangan, jadi nggak heran langsung habis dalam seketika. Aku nggak kebagian jatah tambahan. Sabar, hari-hari di Palembang masih panjang.

4. Gelora Sriwijaya

Esok harinya, saat formasi travel blogger kian lengkap (ada Mia, Doel dari Jakarta, Mami Rai dari Bogor, Awie dari Makassar, Vika dari Surabaya, Pandu dari Blitar, dan Mbah Kakung dari Bengkulu, Ira dari Palembang), kami bersenang-senang sepagian di Gelora Sriwijaya yang luasnya lebih besar dari Gelora Bung Karno. Aku mengikuti serangkaian tur arena olahraga. Dimulai dari bowling, arena tembak, tenis, voli pantai, dan stadion sepak bola. Rupanya Gelora Sriwijaya baru saja diterjang angin puting beliung beberapa hari sebelum kedatanganku. Jadi ada beberapa bagian di arena olahraga yang rusak. Sayang banget, ya. Semoga cepat direparasi.

Jelajah Palembang (8)

Jelajah Palembang (9)

Jelajah Palembang (7)

Karena luas Gelora Sriwijaya ini kebangetan, kami berkeliling dengan mobil golf, lalu mengajak bapak sopir baik hati untuk berhenti di tempat-tempat cantik yang bisa dijadikan spot foto. Mengunjungi arena olahraga saat tak ada pertandingan ternyata nggak bikin kami mati gaya. Justru kami punya privilege untuk mengeksplor setiap sudut Gelora Sriwijaya yang meriah dengan warna-warna cerahnya.

5. Museum Sultan Mahmud Badaruddin 2 (SMB 2)

Dari Jakabaring, aku berpindah ke pusat kota. Jakabaring memang masih berlokasi di Kota Palembang, kok, tapi lokasinya lumayan ujung. Untungnya pada hari kedua, aku check out dari wisma atlet dan pindah ke Hotel Batiqa biar bisa eksplor Palembang lebih gampang. Kalau datang ke Palembang, kamu harus bertandang ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin 2, yang dulu merupakan Istana Kesultanan Palembang Darussalam yang disebut Keraton Kuto Kecik atau Keraton Kuto Lamo. Istananya berlokasi di tepian sungai Musi. Untuk saat ini, Museum SMB 2 sedang dalam tahap renovasi, maklum usia bangunannya sudah lebih dari 1 abad. Perlu perbaikan di beberapa bagian dan akan dibuat lebih menarik. Koleksi dari masa Sriwijaya, Kesultanan Palembang hingga penjajahan Belanda dipajang di dalamnya. Ada yang asli dan ada yang replika. Kita juga bisa meresapi tatanan adat Palembang di museum ini dengan beberapa koleksi benda-benda tradisionalnya serta koleksi hasil kerajinan songket dengan berbagai motif.

Jelajah Palembang (10)

Jelajah Palembang (11)

6. Jembatan Ampera dan Sungai Musi

Siapa yang nggak kenal jembatan ikonik dari Sumatera Selatan? Dari zaman SD, aku sudah mendengar nama Jembatan Ampera dan mengetahui sejarahnya sebagai bentuk monumen Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera). Bahkan saat memasuki bangku kuliah, aku dikenalkan dengan lagu mars Genderang UI yang lirik terakhirnya, "Kobarkan semangat kita, demi Ampera". Ampera sering banget disebut-sebut dalam sejarah nasional dan jadi lambang semangat dalam bidang apa pun, termasuk pendidikan. Akhirnya, kesampaian juga melihat kemegahan Jembatan Ampera yang megah membentang sekitar 1 km di sungai Musi. Jembatan ini menjadi penghubung 2 area di Kota Palembang, Seberang Ulu dan Seberang Ilir, yang dipisah oleh Sungai Musi, sungai terbesar di Sumatera. Katanya, dulu sekali, jembatan ini sempat dinamakan Jembatan Soekarno pada peresmiannya tahun 1965. Namun, satu tahun kemudian, suasana politik di Indonesia gonjang-ganjing yang menyebabkan nama jembatan ini berubah menjadi Jembatan Ampera.

Jelajah Palembang (12)

Jelajah Palembang (13)

Kini, Jembatan Ampera ada di hadapanku, berwarna merah terang. Berdampingan dengannya, kini juga dibangun jalur LRT dan stasiun Ampera. Jadi, kalau mau jalan-jalan keliling Kota Palembang, cukup naik LRT ke Stasiun Ampera. Tinggal loncat sedikit, aku sudah bisa melihat kemegahan Jembatan Ampera. Lalu turun ke bawahnya, aku sudah sampai di dermaga yang bisa digunakan untuk melintasi sungai Musi, mengeskplor Palembang dari sisi berbeda dan dengan kendaraan yang berbeda pula.

7. Pagoda Pulau Kemaro dan Kisah Cinta Pangeran dari Cina dengan Putri Palembang

Aku berkesempatan menyusuri sungai Musi naik perahu menuju Pulau Kemaro, pulau yang jadi legenda kisah cinta tragis antara Saudagar Cina, Tan Bun An dengan Putri Fatimah, putri kerajaan Palembang. Konon, legenda itu pula yang melatarbelakangi munculnya Pulau Kemaro di tengah-tengah sungai Musi. Ketika Tan Bun An berlabuh di Palembang, saat menghadap Raja Palembang, ia jatuh cinta kepada putri raja, Putri Fatimah. Mereka pun menikah dan Putri Fatimah ikut Tan Bun An berlayar ke Cina untuk bertemu orang tua suaminya. Saat mereka kembali lagi ke Palembang, Tan Bun An dan Putri Fatimah dibekali 9 guci. Ketika sampai di sungai Musi, Tan Bun An sangat kecewa dengan isi ke-9 guci itu yang hanya berisi sawi asin. Dia lantas memerintahkan pengawalnya untuk membuang guci itu ke sungai. Guci terakhir sempat terguling ke dek kapal dan menumpahkan isinya yang tak sekadar sawi asin. Rupanya orang tua Tan Bun An menyimpan banyak emas batangan di dalam kesemua guci. Tan Bun An dan seorang pengawal segera terjun ke sungai dan menyelam menyelamatkan guci-gucinya. Namun, karena mereka berdua tak kunjung muncul ke permukaan, Putri Fatimah pun ikut terjun mencari suaminya. Sejak saat itu, ketiganya hilang di dalam air. Entah ke mana arus sungai membawanya. Yang pasti, sejak saat itu daratan Pulau Kemaro itu mencuat lalu didirikan vihara yang berisi makam Tan Bun An dan Putri Fatimah, serta pengawalnya yang ikut tenggelam di sana.

ziarah makam jelajah palembang

Jelajah Palembang (14)

Biasanya vihara ini hanya dibuka untuk orang-orang Buddha yang ingin berdoa dan berziarah. Pintu makam dibuka pada acara-acara tertentu seperti Imlek dan Cap Go Meh. Beruntungnya kami saat itu, vihara sedang dibuka untuk umum. Di belakang vihara, terdapat bangunan pagoda 9 lantai. Pagoda sering digunakan sebagai tempat ibadah orang Buddha. Biasanya pengunjung hanya dapat menikmati arsitekturnya dari luar yang sekilas mirip dengan Pagoda Avalokitesvara di Semarang.

Nah, beruntung pangkat dua nih, pagoda di Kemaro hari itu dibuka dan kami bisa naik hingga lantai 9. Dengan senang hati, aku pun menaiki tangga demi tangga menuju puncak pagoda. Kok, ya, nggak sampai-sampai, ya. Di lantai 3, Mia menyerah. Aku sempat tergoda untuk menyerah di anak tangga menuju lantai 5 karena Yuni juga ikutan ingin turun. Napas ngos-ngosan. Sepertinya aku harus ikut pertapaan dulu nih biar kastanya langsung terbang ke lantai 9. Saat akan turun, aku disemangati oleh beberapa teman sesama influencer dari Malaysia. Katanya sedikit lagi sampai, tinggal satu lantai lagi. Masa iya? Aku kan baru menapaki lantai 5, harusnya masih ada 4 lantai lagi. Tapi, benar lho, begitu aku menaiki anak tangga itu, aku sudah ada di puncak Pagoda. Kok, aneh ya. Rasanya jumlahnya nggak sampai 9 lantai. Doel menyuruhku balik lagi ke atas dan menghitung lantai per lantai dengan benar. Ah, itu pasti akal-akalannya saja. Meski penasaran, aku masih waras untuk cukup sekali menaiki puncak Pagoda sebelum dehidrasi.

8. Lorong Basah Night Culinary


Jelajah Palembang (15)

Malam-malam gerimis, kami melintasi Pedestrian Sudirman yang merupakan kawasan pecinan di Palembang. Kami berhenti di Lorong Basah Night Culinary yang menjadi pusat kumpulan jajanan enak dan murah. Biasanya Lorong Basah ini ramai pada saat weekend. Karena aku datang bukan pada saat akhir pekan, Lorong Basah Night Culinary jadi lorongnya kami. Semua peserta Musi and Beyond bisa bernyanyi dan berjoget gembira di sana, sembari cemal-cemil cantik.

9. Sarapan Laksan dan Celimpungan di Lenggok


Kuliner PalembangKuliner Palembang (2)

Saat orang-orang berburu oleh-oleh Palembang, aku, Doel, Ogie, dan Mia melipir ke restoran Lenggok yang menyajikan beberapa menu tradisional Palembang. Kami memesan Laksan dan Celimpungan yang juga berbahan dasar pempek. Bedanya, Laksan diberi kuah gulai berwarna kemerahan, sedangkan celimpungan berkuah kuning seperti kuah opor.

10. Ziarah Makam Panglima, Putri, dan Raja di Bukit Siguntang


Jelajah Palembang ziarah makam raja

Bukit Siguntang jadi dataran tertinggi di Kota Palembang. Jadi kata orang lokal, kalau Bukit Siguntang sempat kebanjiran, artinya Palembang tenggelam. Bukit Siguntang ini termasuk bukit yang dianggap keramat juga karena merupakan kawasan makam raja dan para petinggi kerajaan yang berpengaruh di kawasan Sriwijaya. Ada 7 makam yang terdapat di sana, salah satunya makam Raja Segentar Alam alias Raja Zulkarnaen Alamsyah dari Kerajaan Mataram yang pernah menaklukkan sebagian besar Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka. Ada makam Pangeran Radja Batu Api yang membawa pengaruh Islam ke Palembang dan Putri Rambut Selako yang berasal dari Keraton Yogyakarta. Sekilas, Bukit Siguntang memang dipenuhi akulturasi pengaruh beberapa budaya dan agama. Kalau menapak tilas sejarah, tentu nama-nama yang tertera di makam ini punya kisah panjang tentang bawaan budaya dari negeri asalnya. Jika ingin melihat perbedaan dalam satu pinggan, berziarahlah ke Bukit Siguntang. Sejarah akan mengenang bahwa banyak sekali tokoh dengan latar belakang berbeda yang membawa pengaruh besar dalam perkembangan Palembang dari masa Sriwijaya dulu kala.

Di bagian puncak kawasan Bukit Siguntang, ada semacam bundaran air mancur yang saat itu tampak tak terawat. Di tengah-tengah bundaran itu seharusnya berdiri patung Buddha besar berwarna emas. Saat ini patung itu sedang diungsikan ke museum sampai proses renovasi taman Bukit Siguntang selesai.

11. Bayt Alquran Al Akbar

Kalau ada karya dan proyek besar yang dibanggakan oleh orang Palembang, ukiran Al Quran Raksasa adalah jawabannya. Kunjungan ke Bayt Alquran Al Akbar sempat dibatalkan, tetapi karena kegigihanku dan sejumlah travel blogger yang ingin sekali ke sana, akhirnya kami menerabas hujan deras siang hari naik ojek online. Sungguh perjuangan yang tak sia-sia. Lokasi Bayt Alquran ini memang agak jauh dari pusat kota, sehingga butuh effort menembus kemacetan Palembang jika tidak berangkat sedari pagi.

Wisata religi Al quran raksasa

Sesampai di depan gedung Bayt Alquran yang masih belum dibangun dengan rapi karena menyatu dengan sebuah yayasan pondok pesantren, aku langsung membeli tiket masuk seharga Rp10.000,- Ingat ya, masuk ke kawasan ini harus menutup aurat. Ada peminjaman selendang dan sarung juga di pintu masuk. Begitu masuk, ukiran bertuliskan ayat-ayat Al Quran menjulang hingga menyentuh langit-langit. Sampai saat aku ke sana, Al Quran yang terpajang baru sampai 15 juz. Masih ada 15 juz lagi yang harus diselesaikan oleh tim pengukir. Ayat-ayat Al Quran diukir dan dicat emas di atas lembaran-lembaran kayu lebar berwarna hitam. Pinggirannya dihiasi oleh ukiran-ukiran khas Palembang. Butuh bertahun-tahun merampungkan ukiran-ukiran itu. Tak sekadar wisata religi, alquran raksasa ini patut diapresiasi sebagai mahakarya generasi muda lokal yang positif. Tapi ada sedikit pertanyaan, mengingat ukiran-ukiran itu berisi kitab suci, apa sebaiknya dilindungi dan dijaga dari sikap tangan dan kaki yang kurang bertanggung jawab ya? Soalnya, saat aku ke sana, pas banget rombongan anak sekolah datang berkunjung. Sebagian mereka ada yang langsung naik ke pelataran lembaran papan alquran dengan memanjat, bukan dengan naik anak tangga dengan semestinya. Sayang aja, kan?!

12. Makan Pindang di Sri Melayu


Kuliner Palembang (3)

Berada di jalan protokol Palembang, Rumah Makan Sri Melayu lumayan ramai siang itu. Aku sudah tak sabar ingin mencicipi pindang ikan patinnya. Dari hari pertama ke Palembang, aku belum mencicipi pindang ikan. Siang-siang, menyesap kuah pindang tentu segar sekali. Ada rasa asam-manis dari potongan nanas yang membuat kuah pindang lebih segar dan ikan patinnya tidak amis. Disajikannya bahkan dalam tungku kecil untuk memastikan kuah pindah tetap hangat.

13. Kampung Kapitan

Lagi-lagi kami memilih jalan alternatif menuju Kampung Kapitan dengan naik ketek. Tinggal menyeberang dari dermaga Ilir, cuma sekitar 5 menit, aku berlabuh di pintu masuk kawasan Kampung Kapitan. Kampung ini merupakan kampung pecinan lama yang berasal dari Dinasti Ming Cina. Kenapa disebut Kampung Kapitan? Belanda memberi gelar kapten atau kapitan pada perwira Tiongkok untuk mengatur kawasan 7 Ulu. Karena itu, sejak keturunan Tjoa Kie Cuan bertugas, Belanda pun menyebut perwira ini sebagai Kapitan. Sejak itulah Kampung Kapitan disebut-sebut sebagai kampung tempat tinggal orang Tiongkok berpangkat mayor dan diwariskan turun-temurun.

Jelajah Palembang (16)

Jelajah Palembang (17)

Jelajah Palembang (18)

Katanya ada 15 rumah yang merupakan rumah yang masih bergaya campuran Cina, Belanda, dan Palembang sekaligus. Yang mencolok itu adalah 3 rumah peninggalan seorang perwira bernama Kapitan yang kini menjadi cagar budaya dan direnovasi tanpa merusak bentuk dan gaya bangunan. Rumah Kapitan ini memanjang dengan konsep rumah panggung beratap limas, khas rumah tradisional Palembang. Sentuhan bangunan Belanda terlihat pada pilar-pilar bagian depan dan tembok batu di bagian bawah tangga. Ketika masuk ke rumah perwira Kapitan ini, kita akan tertumbuk pada pelataran doa kepercayaan Buddha. Diikuti dengan potret-potret sang perwira Kapitan dan keturunannya. Lalu ada kamar-kamar besar dengan jendela-jendela lebar seperti peninggalan Belanda. Ketiga rumah ini punya connecting door dan koridor yang sambung-menyambung.

Sampai saat ini, Rumah Kapitan ini dihuni oleh keluarga Pak Mul yang merupakan keturunan Kapitan generasi ke-14. Kata Pak Mul, dulunya Kampung Kapitan ini adalah warisan keluarganya.
Berarti luas kan tanah milik sang perwira kapitan.

14. Kampung Al Munawar

Satu lagi kampung yang kukunjungi di seberang Ulu dengan naik ketek adalah kampung Arab Al Munawar. Aku terpesona dengan tatanan di kampung ini. Karena sudah menjadi tujuan wisata, Kampung Al Munawar memang sudah terbiasa kedatangan turis. Tapi tetap harus menutup aurat ya selama berada di kawasan kampung. Tak jauh dari tepian sungai, aku disambut bangunan-bangunan rumah yang unik. Masuk ke kawasan ini serasa berada di kampung Arab tapi tetap bergaya Palembang. Kebayang kan, saat kamu jalan-jalan di sekitar kampung, lalu ada ibu-ibu dan bapak-bapak yang berdiri di depan rumah berparas turunan Arab banget. Sebagian bangunan rumah di kampung ini juga telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Jelajah Palembang (19)

Jelajah Palembang (20)

Aku nggak bisa berlama-lama berada di Kampung Al Munawar karena sudah mau magrib, sementara kampung ini hanya dibuka untuk wisata sampai pukul 5 sore. Kalau ada kesempatan ke Palembang lagi, mungkin aku akan eksplor lebih banyak tentang cara keturunan Arab di kampung ini mempertahankan tradisinya. Begitu juga dengan orang-orang turunan Tionghoa di Kampung Kapitan. Bagaimana mereka bisa hidup bersisian dan melebur menjadi masyarakat lokal di pinggiran Ulu Sungai Musi.

Ah sudah mau gelap. Langit sudah mendung dan kami harus kembali menyeberang ke Ilir. Semoga ada kali lain mengunjungi Palembang. Perjalanan kami ditutup dengan badai di Sungai Musi dan harus hujan-hujanan menuju parkiran bus dari dermaga Ilir.

15. Farewell Dinner Travel Blogger

Hujan-hujanan dan kena badai di atas ketek tak menyurutkan semangat kami untuk mengikuti farewell dinner yang diadakan Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang. Setelah ganti baju kilat di Hotel Batiqa, kami meluncur segera ke Ballroom The Zuri Hotel untuk farewell dinner. Aku makan ikan patin lagi, kali ini lebih banyak sampai kepala mulai pusing, kolaborasi apik antara masuk angin, kehujanan, dan sedikit terkena pengaruh kolesterol. Tapi tak apa, sudah terobati dengan kemeriahan jalan-jalan kami yang menyenangkan walau sedikit drama.

Kuliner Palembang (4)

Jelajah Palembang (21)

Usai makan malam di ballroom The Zuri, kami pun menutup malam dengan nongkrong bareng di Pempek Candy. Awalnya aku cuma menemani mereka yang ingin memborong oleh-oleh pempek, tapi ujung-ujungnya kami memesan pempek bakar, mie celor, dan es kacang sebagai dessert.

Terima kasih, wong kito galo, untuk semua hidangan dan kisah perjalanannya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

28 Comments