In Journey Land

Road Trip Jakarta-Madura: Mengantar Emak Mudik ke Sumenep

Perjalanan ini terjadi saat mamaku berniat mengantar asisten rumah dinasnya mudik ke Madura. Aku memanggilnya si Emak. Tadinya mama hendak memesankan tiket pesawat saja untuk si emak berangkat, tapi karena asisten rumah dinas itu sudah tua, khawatir malah beliau lupa arah dan bingung sama rumah. Maklum, sudah 6 tahun si emak nggak pulang. Lalu entah idenya siapa, beberapa hari menjelang lebaran, diambillah keputusan bahwa kami mengantar emak mudik ke Madura lewat jalur darat.

Sehari setelah Idul Fitri, kami pun berangkat menggunakan mobil. Perjalanan tersendat selama 5 jam di jalanan tol Jakarta hingga Cikampek. Aku jadi harus hemat energi untuk bergantian menyetir dengan Junisatya dan uwaknya karena perjalanan masih sangat panjang. Jalanan luar biasa macet padahal arus mudik sudah lewat. Mobil baru bisa lancar melaju saat memasuki Cipali dan matahari pun sudah merangkak turun.

Beruntung sekali tol Pemalang-Pejagan sudah dibuka meski belum layak pakai. Jalanannya masih bergelombang dan jalur berlawanan masih belum selesai. Namun, tol baru ini menghemat waktu kami sangat banyak. Nggak kebayang jika kami harus melewati jalur Pantura yang penuh dengan truk dan bis. Meski jalanan tol sempat dialihkan masuk Kota Semarang, setidaknya kami tidak tersendat di Pantura. Semua memang serba harus disyukuri, ya. Saat memasuki Semarang, saat itu pula aku ambil alih setir mencari pintu tol Salatiga-Kertosono yang menjadi penghubung kami menuju Surabaya.

Pagi di Tol Solo-Kertosono.
Semarang malam hari begitu sepi. Jalanan tolnya jauh lebih mulus meski harus naik-turun bukit beberapa kali. Ini pengalaman pertamaku menyetir mobil di luar Jakarta. Untung saja, jalanannya rapi. Ketika masuk tol Solo-Salatiga-Kertosono, masalah lain datang. Mobil mulai kehabisan bensin dan sepanjang rest area tol belum tersedia pom bensin. Tol ini masih tergolong baru. Masuk tolnya saja gratis karena masih bestatus fungsional. Rest area pun masih dalam pembangunan. Sebelum sempat berniat keluar saja di pintu exit Madiun, kami mendapat angin segar. Rupanya di tiap rest area tersedia beberapa tong bensin yang dapat dibeli terbatas. Aku mengucap syukur lagi. Lumayanlah, kami dapat mengisi bensin setidaknya 30 liter. Katanya, sampai di Surabaya, ada pom bensin dan kami dapat mengisi full tank. Oke, baik.

Kami memasuki perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur saat subuh menjelang. Aku harus sabar dengan kondisi jalanan tol yang beberapa kali dialihkan keluar sehingga kami harus repot mencari jalur masuk tol fungsional lagi agar bisa menghemat waktu menuju Surabaya. Kalau semua bagian di Pulau Jawa sudah dihubungkan tol, tentu perjalanan jalur darat saat mudik begini jadi lebih cepat, ya. Semoga tahun depan sudah rapi semua.


Jembatan Suramadu.

Kota Surabaya masih sangat sepi pagi itu. Tanpa mampir-mampir lagi, kami langsung melaju ke Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura. Perjalanan kami masih jauh rupanya karena kampung si Emak itu di daerah Sumenep, 3-4 jam dari Jembatan Suramadu. Kami pun mampir dulu membeli tahu petis dan sarapan di Bebek Sinjay. Kuliner Jawa Timur pun dimulai dari sini. Pagi-pagi dibuka dengan makan bebek khas Madura. Pembuka yang yahud sekali saat memasuki pulau ini.

Kami menyusuri wilayah pantai utara Pulau Madura. Setelah menempuh jalanan sempit berkelok, sedikit bergelombang, menembus kebun-kebun jagung dan persawahan, akhirnya sampai jugalah kami di kampung si Emak, Pasongsongan, Sumenep. Hal yang lebih lucu lagi, kami tidak dapat langsung menemukan rumah keluarga Emak lantaran si Emak jackpot berkali-kali karena mabuk darat. Dalam kondisi lemas, beliau cuma memberi instruktsi, "Cari Junaedi, tukang ojek di pasar Pao!"

Bersama keluarga si Emak di Sumenep.
Ternyata si Emak punya kapal lho di Sumenep.

Ke mana pula kami bisa menemukan orang bernama Junaedi di tengah sejuta orang yang juga menyandang nama yang sama. Setelah tanya sana-sini, menyodorkan wajah si Emak yang lemas--barangkali ada yang mengenali--kami pun bertemu orang yang tepat. Beliau memang tidak kenal Emak, tapi tahu keluarga Junaedi yang dimaksud yang tinggal dekat pondok pesantren. Alhamdulillah, kami diantar sampai tujuan. Orang Madura baik-baik ya dan memang saling mengenal satu sama lain. Tinggal kita yang pendatang ini harus menjunjung sopan santun saat bertanya di perjalanan. Emak sudah bertemu dengan keluarganya yang sudah 6 tahun ditinggal merantau. Lalu kami? Masih harus balik lagi ke Surabaya. Misi mengantar emak mudik sudah selesai.

Meski bukan kampung halaman sendiri, aku senang bisa berada di tengah-tengah keramaian orang mudik ke Jawa. Apalagi dapat menghabiskan waktu penuh bersama keluarga di sepanjang jalan. Arus mudik lebaran kali ini menurutku lebih tertata dengan baik. Aparat polisi lalu lintas jauh lebih siap dari tahun sebelumnya. Apalagi infrastruktur juga sedang dibenahi dan banyak tol baru yang masih berstatus fungsional dibuka untuk perjalanan mudik. Seharusnya tahun depan tidak ada kendala mudik jalur darat lagi, ya. Jalur transportasi Pulau Jawa bisa jadi role model untuk pulau-pulau lainnya, khusus Sumatera. Infrastruktur yang oke juga harus diiringi dengan keamanan, kenyamanan, dan jaminan diri dalam perjalanan. Perjalanan yang serba terburu-buru tidak akan membawa penumpangnya ke jalan yang mulus. Jaminan jadi suatu kebutuhan jika mengingat mudik lebaran menjadi perjalanan wajib kita setiap tahun.

Jasa Raharja memberikan pelayanan asuransi jiwa bagi para pemudik karena tidak ada yang menjamin kondisi kita dalam perjalanan, bukan? Si Emak yang tidak bisa naik mobil ber-AC berkali-kali muntah di jalan. Makan susah, tidur pun salah. Kasihan badannya yang melemas saja di bangku belakang karena mabuk perjalanan darat. Kurasa jaminan kesehatan dan jiwa memang sangat diperlukan. Alhamdulillah perjalanan kami lancar jaya. Jasa Raharja sudah memberi fasilitas terbaiknya untuk ikut serta meramaikan kegiatan mudik lebaran 2018. Tinggal kita yang sadar untuk peduli keselamatan dalam berkendara.


Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In Advertorial Land Story Land

Cetak Foto Kekinian di Fujifilm Wonder Photo Shop

Dulu, saat kamera masih berwujud tustel dengan rol film di dalamnya, studio dan percetakan foto begitu laris. Kini, setelah semuanya serba digital, orang lebih senang menyimpan memori foto di laptop atau hardisk. Bahkan, ada yang cukup puas menyimpannya di ponsel dan dapat dibuka kapan saja. Apalagi social media sekarang sudah cukup membantu mengabadikan sejumlah momen kita. Aku sendiri jadi jarang sekali mencetak foto. Hanya sesekali ke studio foto untuk cetak pas foto atau foto wisuda, tunangan, dan nikah. Keperluan cetak foto jadi lebih dikhususkan untuk momen-momen besar.
Cetak Photo Kekinian Fujifilm WPS
Kamera Instax yang makin banyak desain lucu.

Ternyata urusan cetak-mencetak foto itu nggak sepenuhnya ditinggal orang, kok. Buktinya kamera polaroid banyak beredar. Kamera jenis instax ini dapat mencetak foto ukuran kecil dengan instan. Sekali jepret, hasilnya langsung jadi. Nanti hasil foto itu bisa jadi album sendiri bahkan dipajang jadi hiasan dinding kamar. Akhirnya, urusan cetak-mencetak foto berpindah dari sekadar album yang disimpan menjadi kreasi yang punya nilai kepuasan sendiri di setiap momen.

Kebutuhan-kebutuhan serba instan semacam itu direalisasikan oleh Fujifilm dengan membuka Fujifilm Wonder Photo Shop (Fujifilm WPS). Kebetulan sekali aku hadir dalam acara pembukaan gerai kedua di Central Park, Jakarta. Store Fujifilm WPS di Central Park ini didekorasi sangat menarik dan playful. di bagian pintu masuk, kita langsung disambut dengan display hasil cetak kamera instax yang dikreasikan dengan beberapa aksesori. Cetak foto kekinian bukan sekadar cetak foto biasa. Di WPS ini, kita akan dikenalkan dengan metode crafting foto, salah satunya dalam wujud scrapbook atau pop up. Nah, beberapa hiasannya juga disediakan di WPS ini. Buat kamu yang gemar dekorasi dan hias-menghias, kayaknya kamu harus datang ke Fujifilm WPS biar kreasimu makin ciamik dengan tambahan foto-foto dalam berbagai momen.

Cetak foto juga jadi lebih mudah dan cepat. Ada area quick print service yang jadi favoritku. WPS sudah menyediakan beberapa monitor dan aplikasi di dalamnya yang dilengkapi beberapa metode photo editing standar serta pilihan ukuran foto. Cukup dengan mengunduh aplikasi WPS Photo Transfer di ponsel, kita bisa dengan sangat gampang mentransfer foto ke monitor yang ada di WPS. Pilih, edit, cetak. Langsung jadi. Kalau mau foto-foto cantik dulu sebelum dicetak dan dikreasikan, kita bisa langsung masuk ke mini studio-nya. Photobox-nya muat untuk beberapa orang, kok.

Cetak Foto Kekinian Fujifilm Wonder Photo Shop
Cetak foto kekinian.

Cetak Foto Kekinian Fujifilm WPS
Crafting corner WPS.

Cetak Foto Kekinian di WPS
Hasil kreasi kami yang ala kadarnya.

Area lain yang paling kusuka adalah crafting corner. Lokasinya persis di sudut ruangan Fujifilm WPS. Setelah seru-seruan di mini studio, lalu cetak foto sendiri, kita bisa langsung crafting di area ini. Tempatnya nyaman dan instagramable banget. Siapa tau ruang yang instagramable itu bisa bikin daya kreatif kita muncul untuk menghias foto.

Sepertinya Fujifilm tahu kebutuhan anak kekinian, ya. Cetak foto tidak jadi suatu hal yang kuno lagi. Malah di sisi lain WPS, di-display kamera Fujifilm X-series dan kamera instax. Ada edisi Minions dan Hello Kitty yang lucu. Ketika mampir di WPS ini, aku jadi paham bahwa mencetak foto itu bukan sekadar untuk mengabadikan foto jadi album, tapi juga jadi wujud kreasi yang punya nilai seni dan menimbulkan kepuasan tersendiri. Kalau kamu penasaran, kamu bisa langsung mampir ke store-nya di Mall Central Park lantai 1, Jakarta, ya.


Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments

In Abroad Land Journey Land

Wisata Keliling Kota Tbilisi-Georgia

Aku baru saja membuka-buka folder foto perjalananku ke Georgia tahun lalu. Walaupun cuma sebentar di sana, tapi ada kesan hangat yang ditinggalkan oleh Tbilisi (cara baca: Tiblis), ibukotanya. Sebelumnya, aku pernah bahas tentang sisa-sisa peradaban awal di Old Tbilisi dan misi kebudayaan apa yang aku bawa ke sana (bisa dibaca di sini) Di postingan kali ini, aku mau cerita tentang wisata Tbilisi yang membuatku terkesan.

Georgia itu sebenarnya punya alam yang cantik. Berada di pinggiran laut hitam dan dikelilingi perbukitan membuat Georgia menjadi pusat wisata alam bagi orang Eropa Timur. Namun, sayangnya aku tak punya kesempatan banyak untuk mengeksplor negeri yang dipenuhi dengan geraja-gereja usia ratusan tahun ini. Katanya pemeluk Kristen Orthodox di Georgia adalah yang tertua di dunia. Aku hanya sempat berwisata mengelilingi ibukotanya, Tbilisi. Lihat apa saja yang kutemukan di sana.

Hari itu, aku bersama teman-teman seniman dari Galang Dance Community, sarapan di Hotel Nina, tempat kami menginap. Aku cuma menemani mereka sarapan (karena sedang puasa) sambil berbincang-bincang dengan petugas hotelnya yang super ramah. Petugas hotel memberikan kami tips jika ingin berjalan-jalan tanpa pemandu di Tbilisi. Ada 3 pilihan transportasi di kota itu yang dapat kami tumpangi:

Metro yang wujudnya seperti subway atau KRL

Ongkosnya hanya 0,5 Lari (sekitar 3000-an rupiah) saja untuk oneway dengan mengisi Metromini Card. Metro ini persis seperti commuter line di Jakarta. Perbedaannya, rel kereta berada di bawah tanah. Kita akan naik-turun terowongan bawah tanah dengan eskalator yang super panjang dan curam. Agak gamang.
Wisata Tbilisi-Georgia naik metro. (source: jurnaland.com)

Marshrutkas yang merupakan sebutan untuk bus di Georgia

Ongkosnya 0,5-2 Lari katanya. Aku cuma sempat mencoba metro, jadi nggak sempat naik bus keliling kota. Warna busnya kuning, persis seperti di UI. Mungkin kalau aku naik bus di sana, aku malah akan teriak "Terima kasih, Pak," pada Pak Sopir dan lupa membayar ongkos karena serasa di kampus sendiri naik tumpangan gratis.

Taksi

Kalau naik taksi memang terbilang lebih mahal. Tapi dari bandara ke pusat kota Tbilisi saja cuma dikenai 15 Lari (alias 100ribu rupiah). Per kilometernya dikenai tarif 4 Lari. Pantas saja orang-orang Georgia bahagia, ya.

Setelah tahu sarana transportasi selama tinggal di Tbilisi, aku punya sederetan daftar wisata apa saja yang dapat dilakukan di Tbilisi.

1. City Tour di Freedom Square

Dengan city tour di Freedom Square, salah satu lokasi bersejarah di Georgia, sudah membuatku senang sekali. Kami memilih naik metro ke Freedom Square. Dari Hotel Nina di kawasan Varketili, kami bisa berjalan kaki ke arah Stasiun Varketili. Aku harus membeli Metromani Card yang dapat digunakan 1 untuk semua. Jadi aku cukup mengisi saldo Metromani Card sejumlah ongkos yang kami butuhkan untuk pulang-pergi. Aku mengisi saldo 10 Lari dan cukup untuk kami bertujuh, bahkan masih sisa 3 Lari tentunya.

Dari Varketili, kami melewati 5 stasiun untuk mencapai stasiun Liberty (Freedom) Square. Kamu mau menyebutnya Liberty atau Freedom, sama saja. Artinya sama-sama bebas atau merdeka. Begitu kami menaiki eskalator setelah turun dari metro, monumen Freedom Square menyambut kami. Yeay, inilah Tbilisi yang terkenal itu.

City Tour Tbilisi Georgia. (Source: jurnaland.com)


Freedom Square Tbilisi Georgia. (source: www.jurnaland.com)

Georgia dulunya berada di bawah rezim Kekaisaran Rusia. Awalnya Freedom Square ini dikenal dengan Pashkevich-Erivanskaya Square, untuk mengenang Ivan Paskevich, seorang Jenderal Ukraina yang telah menaklukkan Erivan di Armenia (yang kini jadi negara tetangga Georgia) untuk negara Rusia. Tempat ini menjadi pusat perampokan bank dan pertumpahan darah. Semacam Monas kalau di Jakarta. Saat keruntuhan Rusia, area ini berganti nama menjadi Beria Square dan berubah lagi menjadi Lenin Square saat memasuki rezim Uni Soviet. Di bagian puncak monumen dibangun patung Vladimir Lenin yang berjasa dalam sejarah Uni Soviet, yaitu orang yang membawa paham komunis di negeri lawan Amerika Serikat itu.

Begitu Georgia dinyatakan benar-benar merdeka, Patung Vladimir Lenin ini dihancurkan dan digantikan dengan patung St. George yang sedang menunggang kuda. Tak tanggung-tanggung, patungnya dibuat berlapis emas sehingga terus berkilau sepanjang masa. Monumen Freedom Square inilah yang selalu ditandai oleh rakyat Georgia sebagai simbol kebebasan dan kemerdekaan mereka. Kalau dihitung-hitung, umur Georgia dengan Indonesia tak beda jauh. Georgia lahir usai Perang Dunia II. Jadi hanya beda beberapa tahun, kan, dengan negara kita. Konon, katanya masa-masa itu adalah masa-masa tersulit bagi Georgia untuk membangun ideologi dan perekonomian mereka.

Freedom Square kini menjadi Tbilisi City Hall. Jadi kalau kamu traveling ke Georgia, kamu wajib ke lokasi ini. Monumennya persis di tengah bundaran jalan raya. Kalau bahasa kampungnya, Freedom Square ini jadi simpang enam-nya Tbilisi. Di sekeliling monumen berdiri gedung-gedung penting bagi Georgia, seperti bank nasional Georgia dan Rushtaveli State Academic Theatre (gedung teater tertua di Georgia). Freedom Square ini juga jadi gerbang menuju Kota Tua Tbilisi. Ternyata di balik bangunan megah di kawasan Freedom Square, ada rumah-rumah tua Tbilisi dan usianya sudah ratusan tahun.

2. Wisata Kota Tua Tbilisi

Kota Tua Tbilisi sudah menjadi area wisata. Banyak kujumpai tour travel yang menawarkan jasa keliling Tbilisi bahkan tempat-tempat cantik lainnya di Georgia. Aku sempat tergiur. Lumayan, kan, bisa keliling Tbilisi dan kota-kota lainnya dalam 1 hari penuh. Ah, tapi nggak bakal mungkin karena kami cuma sempat berjalan-jalan sebentar sebelum rehearsal dan malam pertunjukan.

Berjalan-jalan di komplek Kota Tua Tbilisi tak seperti Kota Tua di Jakarta yang pasti. Banyak bangunan-bangunan yang sudah berumur ratusan tahun masih terawat hingga sekarang. Itu artinya bangunan-bangunan itu jadi saksi sejarah sekian abad kota itu. Aku sempat mengunjungi galeri dan gedung teater di sana. Jangan tanya nama gedung teaternya karena ditulis dengan aksara Georgia.


Wisata Kota Tua Tbilisi Georgia. (source: www.jurnaland.com)

Wisata Kota Tua Tbilisi Georgia 2. (Source: www.jurnaland.com)

Wisata Kota Tua Tbilisi Georgia 3. (source: www.jurnaland.com)

Wisata Kota Tua Tbilisi Georgia 4. (source: www.jurnaland.com)

Di komplek Kota Tua Tbilisi ini juga banyak gereja khatolik dan gereja sion. Ada juga masjid yang kutemukan berdampingan dengan gereja-gereja itu. Kubah masjid meski kecil tampak mencolok di sekitar puncak-puncak kastil gereja yang megah. Ada banyak ruang publik yang di sekitar gereja-gereja itu. Taman-taman itu sangat mendukung sekali untuk dijadikan ruang berdiskusi, bersantai, piknik dan segala aktivitas sosial lainnya. Tempatnya begitu rindang dan bersih.

Tak jauh dari sana, satu lagi menara yang dijadikan landmark di Kota Tua Tbilisi, The Leaning Clock Tower. Menaranya tidak terlalu tinggi, tetapi bergaya unik. Sekilas mengingatkanku pada visualisasi The Burrow, rumah Keluarga Weasley di Film Harry Potter. Ternyata menara ini didirikan dari sisa-sisa bangunan tua yang rusak akibat gempa bumi, dirangkai oleh Rezo Gabriadze. Katanya, membangun menara ini butuh waktu 30 tahun. Menara ini menandai lokasi teater boneka di Kota Tua Tbilisi.

Setiap jam, bagian puncak menara yang seperti jendela akan terbuka dan menampilkan atraksi sepasang boneka yang sedang bermain sandiwara tentang kisah siklus hidup manusia: perempuan bertemu dengan laki-laki, menikah, punya anak, dan meninggal. Karena ini menara jam, atraksi ini menandai pergantian jam. Tema sandiwara boneka kayu yang ditampilkan itu juga erat kaitannya dengan waktu.

The Leaning Clock Tower-Old Tbilisi (source: jurnaland.com)

Oh iya, di kawasan Kota Tua Tbilisi ini jangan khawatir dengan paket data. Wifi yang tersedia di area ini. Rupanya, Kota Tua Tbilisi menjadi pusat kuliner makanan-makanan Asia, banyak kujumpai restoran India, Arab, dan China. Setidaknya area ini menjadi sangat familiar bagi lidahku. Namun, sayangnya, aku tak bisa mampir untuk sekadar mencicipi makanannya karena sedang berpuasa di tengah-tengah Ramadhan. Sayang sekali, ya.

Di Kota Tua Tbilisi sudah tersedia bus city tour yang membawa wisatawan untuk berkeliling dari sini hingga Tbilisi Wall. Aku pernah cerita soal Tbilisi Wall yang indah ini di postingan sebelumnya. Ada yang bilang bus city tour ini gratis. Kami tetap memilih jalan kaki biar bisa masuk ke gang-gang sempit di dalam kawasan Kota Tua yang bersih dan terawat ini.

3. Telusur Bridge of Peace

Bridge of Peace menjadi landmark Kota Tbilisi yang baru diresmikan tahun 2010. Jembatan perdamaian ini membelah sungai Kura yang bermuara ke Laut Hitam. Desain jembatannya menarik dan futuristik di tengah bangunan-bangunan tua di sekelilingnya. Terlihat atap melengkung dengan ditutup tempered glass yang membuat jembatan ini dari kejauhan tampak dibalut kristal. Kalau siang, Bridge of Peace tampak berkilau seperti kristal saat kena sinar matahari. Kalau malam, katanya di sini penuh dengan lampu-lampu gemerlap yang menyala dengan sensor gerak. Bridge of peace menjadi lambang perdamaian rakyat Georgia dan menghubungkan kota tua dengan kota baru Tbilisi. Kalau menyeberang dari Kota Tua, tepat di seberangnya berdiri gedung parlemen Georgia yang megah. Wah, gedung parlemen di pinggir sungai Kura. Para pekerja di gedung parlemen itu pasti awet muda melihat pemandangan bagus ke arah sungai Kura, Bridge of Peace, dan Tbilisi Wall setiap hari.

Telusur Bridge of Piece Tbilisi. (source: www.jurnaland.com)

Wisata Bridge of Piece Tbilisi. (source: jurnaland.com)

Wisata Kota Tbilisi Georgia. (source: www.jurnaland.com)

Ketika menyeberangi Bridge of Peace, aku langsung masuk ke public space yang lain, berupa taman-taman bunga. Namanya Rike Park. Lokasinya sangat dekat dengan gedung parlemen Georgia. Ada patung, kolam dengan air mancur (saat kami berkunjung ke sana, air mancurnya tidak menyala), dan bangku-bangku taman.

4. Wisata Kuliner Tbilisi

Aku tak banyak mencoba jenis makanan di Tbilisi karena tepat saat itu adalah Ramadhan. Makanan-makanan yang kucoba hanya makanan yang disediakan hotel. Rata-rata makanan pokok mereka adalah roti gandum. Harganya murah meriah, lho. Roti yang ukurannya besar seperti roti buaya bagi masyarakat Betawi hanya seharga 1,5 - 7 Lari (1 Lari = 6.000 rupiah pada saat itu). Aku sempat mencoba makanan dari bahan roti dengan lapisan ayam di dalamnya. Namanya imeruli kachapuri. Irisannya mirip pizza. Bagi orang Georgia, kachapuri menjadi makanan pokok sehingga 1 orang harus makan 4 potong. Buatku, makan 1 roti saja sudah sangat kenyang.

Orang Georgia juga punya salad tradisional berupa sayur-sayuran dan bawang-bawangan yang diiris tipis. Mereka juga makan menggunakan lauk atau selai dari buah-buahan yang melimpah juga di negeri ini. Ada selai peach, selai anggur, selai bluberi, dan selai stoberi. Mereka juga sering memasak sup sayuran yang aku kurang tahu namanya. Rasanya enak tapi bukan seleraku karena mereka menggunakan jenis daun seperti seledri dan daun bawang ala mereka. Aku sendiri lupa namanya.

Ketika berjalan di Kota Tua, aku menemukan jajanan churhkhela, sejenis permen lilin yang terbuat dari adonan anggur, kacang-kacangan, dan tepung. Bentuknya panjang seperti lilin dan agak keras. Harganya hanya 3 Lari untuk 5 permen lilin ini. Kalau jajanan ini sudah pasti kusuka karena rasa manisnya universal. Kalau kamu ke Georgia, jajanan inilah yang menjadi khas di negara ini. Jadi kamu harus mencoba, ya.

Wisata kuliner Tbilisi. (source: jurnaland.com)

Satu lagi yang harus dicoba kalau ke Georgia, yaitu wine. Negeri Georgia terkenal dengan negeri penghasil wine terbesar di Eropa. Georgia telah mengekspor wine-nya ke 48 negara di dunia. Orang Georgia mengistimewakan tanggal 4 Oktober karena ditetapkan sebagai Georgian Wine Day. Pesta wine dan festival buah-buahan hasil panen mereka digelar di jalanan. Sayangnya, saat aku ke sana belum bulan Oktober. 

Tapi, nggak menunggu tanggal 4 Oktober pun tak jadi masalah. Toko-toko wine tersebar di mana-mana. Selama menelusuri Kota Tua, entah berapa toko wine yang kulewati. Harganya pun murah. Wine merah cuma seharga 6 Lari/botol. Saat akan pulang ke Indonesia, pemilik hotel yang senang dengan kehadiran kami pun memberikan wine racikannya sebagai oleh-oleh. Baik sekali, kan. Tapi, aku nggak minum wine, kok (klarifikasi sebelum banyak yang bertanya-tanya).


Wisata kuliner Tbilisi 2. (source: jurnaland.com)

Wisata kuliner Tbilisi Georgia 3. (source: jurnaland.com)

5. Wisata Budaya Georgia

Entah kenapa, segala hal yang berhubungan dengan kesenian selalu diterima di Eropa. Gedung-gedung teater tersebar di mana-mana, termasuk di Tbilisi. Dan, selalu ramai. Kedatanganku ke Georgia memang membawa misi kebudayaan. Kami mengikuti International Folk Dance and Music Perkhuli Festival-Tbilisi 2017 serta Georgia Folk Festival. Ada serangkaian kegiatan yang kami ikuti. Mulai dari workshop, rehearsal, parade, dan festival. Jadi, wisata budaya memang jadi agenda utama kami datang ke negara Kaukasus ini.

Wisata budaya Georgia. (source: jurnaland.com)

Wisata budaya Georgia. (source: jurnaland.com)

Wisata budaya Georgia. (source: jurnaland.com)


Selama mengikuti rangkaian festival di Georgia, aku bisa melihat langsung tarian kartuli, khas Georgia, tari berpasangan yang gemulai antara perempuan dan laki-laki. Aku juga melihat proses latihannya saat workshop bersama penari-penari itu, yang rata-rata usia anak-anak dan remaja. Selain Kartuli, ada tarian rakyat Georgia yang menjadi favoritku. Tarian ini ditampilkan secara massal di atas panggung (sekitar 20 penari laki-laki dan perempuan). Kostum yang mereka kenakan juga cantik. Perempuan mengenakan baju tradisional (gaun dengan penutup kepala seperti selendang, lalu kepangan rambut panjang terjulur hingga pinggang) dan laki-laki mengenakan pakaian serba hitam dengan peluru di saku baju dan belati tergantung di pinggang. Kostum perempuan menyerupai pakaian yang dipakai untuk bertani, mungkin karena negeri Georgia juga termasuk negara agraris dan perkebunan buah terbentang luas. Tarian Georgia ini diperkuat dengan musik bernuansa Timur Tengah. Peraduan budaya Eropa Timur dengan Asia menghasilkan tarian keren itu. Perempuan menari begitu gemulai sementara laki-laki bergerak dengan kaki menghentak cepat seperti tentara yang ingin berperang. Rupanya tarian ini memang lazim diadakan untuk memberikan semangat kepada tentara yang akan berperang. Kecepatan geraknya, ketegapan tubuhnya, tentu tak didapat dengan instan. Para penari ini telah menempa kelenturan tubuh sejak mereka kecil.

Negeri Georgia terasa amat kental dengan percampuran budaya Rusia dan negara-negara pecahannya, seperti Ukraina, Tajikistan, Polandia, dan Uzbekistan. Tidak heran jika jenis tarian dan musik mereka begitu mirip. Menghabiskan malam di Tbilisi harus dengan musik. Jika kamu datang ke Tbilisi, kamu harus melihat jadwal pertunjukan tarian atau musik tradisional mereka. Kurasa gedung Tbilisi Art Hall, tempat tim kami tampil malam itu menjadi salah satu gedung pertunjukan yang tak pernah sepi. Selalu ada hari untuk kesenian di Tbilisi.

6. Berburu Kerajinan ala Georgia

Saat berjalan di Kota Tua Tbilisi, beragam handycraft dipajang di emperan. Ada yang jenis sepatu, kain, tas, bahkan karpet yang punya motif enamel. Aku sampai menyediakan satu hari khusus sebelum pulang ke Indonesia untuk melihat-lihat hasil kerajianan tangan orang Georgia. 

Wisata Kota Tua Tbilisi. (source: jurnaland.com)

Wisata Tbilisi-Georgia. (source: jurnaland.com)

Tidak sah ke Georgia kalau belum bawa pulang salah satu hasil kerajinan tangan mereka. Penampakannya persis seperti pasar tradisional yang menjual pernak-pernik dan souvenir. Tbilisi itu pencinta motif dan warna-warna yang kalem. Sesuai negerinya yang kalem dan harmonis.

Read More

Share Tweet Pin It +1

8 Comments

In Story Land

Merancang Liburan Mewah ke Lombok dengan Budget Minimalis

Seperti yang sudah kutulis di postingan sebelumnya, aku berencana liburan ke Sumbawa dan transit di Lombok selama 2 hari. Beberapa persiapan sudah kulakukan, mulai dari beli tiket pesawat, membuat to-do-list, menyewa motor dan perahu untuk berlayar ke Kenawa dan Pulau Moyo. Sebulanan ini, aku membuat itinerary Lombok-Sumbawa selama beberapa hari. Aku jarang menggunakan jasa tour agent. Lebih enak berjalan sendiri bersama teman-teman karena fleksibel soal waktu dan keuangan. Seperti perjalananku ke Nusa Penida tahun lalu. Entah sejak kapan, selalu aku yang diminta untuk menyusun itinerary perjalanan seminggu di Ubud, Seminyak, dan Nusa Penida (kisahnya bisa dibaca di sini). Mungkin karena aku yang punya jadwal paling kosong di antara sekumpulan teman-teman gengku (udah sebesar ini masih nge-geng macam anak SMA). Iya, mereka rata-rata adalah budak omset perusahaan, sementara aku cuma gundik untuk diri sendiri. :)

Liburan ke Lombok

Liburan mewah budget murah di Lombok. (2)

Nah, rupanya menyusun itinerary Lombok-Sumbawa tampak mudah tapi punya tantangan sendiri. Lokasi antara Lombok dan Sumbawa harus ditempuh dengan kapal ferry. Lalu, kami harus menyewa perahu dua kali. Yang satu untuk bolak-balik Pulau Kenawa yang eksotik itu dan yang satu lagi untuk ke Pulau Moyo, pulau yang pernah jadi pelarian almarhumah Putri Diana bersama pangerannya zaman dulu kala. Masalahnya lagi, pelabuhan menuju Pulau Kenawa berada di Sumbawa Barat, sementara pelabuhan menuju Pulau Moyo berada di Sumbawa Besar. Kami harus menyewa mobil atau motor atau malah naik bus. Rasanya menyusun itinerary saja, aku sudah lelah duluan. Masukan demi masukan kuterima biar kami tidak tersesat di belantara Sumbawa. Di Sumbawa, jangan harap ada ojek online.

PR terbesarku satu lagi adalah penginapan. Itinerary untuk ke Sumbawa sudah rampung. Perlengkapan kemah juga sudah disiapkan. Iya, kami akan berkemah saja setiap malam, entah di Kenawa atau di Moyo. Eh, tapi mungkin kalau ada alternatif rumah penduduk yang bisa diinapi selama kami di Moyo nanti, boleh juga. Semua masih kutulis dalam pilihan alternatif. Untuk itinerary Lombok belum kususun sempurna. Kami akan terbang dari Jakarta menuju Lombok dan akan mampir di sana selama 2 hari sebelum nge-camp di Sumbawa. Jadi, aku harus pintar-pintar menyusun jadwal destinasi kami dan disesuaikan dengan jarak menuju pelabuhan Kayangan untuk naik kapal ferry ke Sumbawa. Aku masih belum menentukan penginapan dan transportasi dalam kota selama di Lombok.

Ketika aku ketemu beberapa teman sesama travel blogger, ada yang menyarankanku untuk cek lalalaway.com. Wah, situs apa lagi, tuh? Namanya baru kudengar baru-baru ini. Unik juga, Lalalaway. Melafalkan kata 'Lalalaway' saja lidahku sampai belok-belok. Kupikir itu semacam sekuel La La Land. Ternyata bukan.

Liburan ke Lombok pakai Lalalaway. Source: Lalalaway

Situs booking hotel Lalalaway. Source: lalalaway.com

Lalalaway ini merupakan situs booking hotel yang baru saja di-launching menemani kehidupan kita-kita ini yang haus traveling. Lalalaway memang meramaikan persaingan booking hotel via pihak ketiga secara online. Bedanya, Lalalaway hanya memasukkan list hotel dengan status bintang 4 ke atas. Begitu tahu Lalalaway hanya untuk booking hotel berbintang, aku langsung mencoretnya dari list karena pasti harganya tinggi. Namun, anggapan itu terbantahkan begitu mengecek langsung situsnya. Isinya memang daftar hotel-hotel mewah di kota-kota besar, tapi harganya merosot tajam seharga budget hotel. Wah, menarik, nih.

Aku pun langsung membuat akun biar bisa melihat harganya. Begitu login, aku serasa orang tajir banget, ingin pergi liburan mewah dengan budget minimalis. Nuansa desain Lalalaway sungguh fancy dan elegan tanpa menghapus kesan asyiknya liburan. Sebelum aku makin bertele-tele karena terlalu excited menyusun itinerary liburan versi mewah di Lombok dengan budget minimalis ini, ada 3 keunggulan memilih booking hotel di situs Lalalaway.

1. Cocok buat yang ingin staycation di hotel berbintang dengan harga murah

Sesuai dengan tujuanku ke Lombok, ada beberapa pilihan hotel di Lalalaway yang termasuk hotel bintang 4 dan 5. Agak gemetar, ya, kalau memesan hotel berbintang ini karena takut overbudget. Namun, nggak perlu khawatir. Lalalaway sudah membuat deal harga terendah dan diskon besar-besaran di setiap hotel yang ditawarkan. Yes, kalau begini, aku harus memasukkan itinerary Gili Trawangan, nih karena ingin merasakan staycation di resort mewah Jambuluwuk Oceano Resort. Sekali-kali liburan fancy, tak masalahlah, ya sebelum melakukan petualangan di Sumbawa.

Situs booking hotel berbintang lalalaway. Source: lalalaway.com

2. Selalu ada Flash Sale macam e-commerce yang kini sedang hits

Satu lagi keunggulan Lalalaway yang beda dari situs booking hotel lain, yaitu selalu menyediakan flash sale. Jadi, harga hotel-hotel yang ditawarkan di Lalalaway tidak pernah sama. Lalalaway menerapkan sistem flash sale untuk mendapatkan deal harga terbaik untuk hotel terbaik pilihan kita. Seperti Jambuluwuk Oceano Resort yang sedang kupilih ini. Harga dengan diskon 71% ini hanya tersisa 9 hari 8 jam lagi (pada saat artikel ini ditulis). Jadi, kita nggak punya banyak waktu untuk mikir-mikir mau pilih hotel yang mana. Rata-rata flash sale ini dilakukan 5-10 hari setiap hotel. Makanya, kita harus rajin-rajin cek situsnya, nih, untuk dapat harga terbaik. Ini semacam nunggu promo tiket pesawat yang harus sering-sering dicek dan diburu apalagi saat travel fair.

Liburan ke Lombok booking lewat Lalalaway. Source: Lalalaway.com

3. Sistem sign up yang mudah

Kalau kamu berminat liburan mewah dengan budget minimalis seperti yang sedang kurencanakan ini, coba buat akun di situs Lalalaway, ya. Caranya gampang dan tidak bertele-tele. Sign up bisa lewat Facebook maupun email. Tidak perlu notifikasi verifikasi, kok. Jadi begitu sign up, akunmu sudah resmi terdaftar. Kenapa harus bikin akun dulu? Karena best deal hanya untuk yang punya akun. Kalau cuma buka-buka situs tanpa memasukkan akun, kita tidak akan tahu harga hotel-hotel yang ditawarkan.

Lalalaway, situs booking hotel mewah yang murah. Image source: www.lalalaway.com

Lalalaway, situs booking hotel mewah yang murah. Imager source: Doc. Lalalaway

Kini Lalalaway sedang melebarkan relasi hotelnya dengan menjangkau lokasi-lokasi wisata di Indonesia dan Asia. Kita bisa pesan hotel dan tiket pesawat sekaligus di sini tentu dengan harga bersaing dengan e-commerce lainnya. Sekali-kali merencanakan liburan mewah dengan harga rendah, siapa takut? Lalalaway sudah menyiapkannya untuk kita, para traveler.

Read More

Share Tweet Pin It +1

8 Comments

In Story Land

Kenapa Kita Harus Beralih ke Angkutan Umum


Ayo naik bus transjakarta lagi

Sebagai orang yang kini ber-KTP Jakarta, aku merasakan hidup penuh sesak dan drama di ibukota ini. Khususnya drama tentang kemacetan yang rasanya seumur hidup tidak akan pernah tamat. Namun, sebenarnya di balik drama itu, tersimpan cinta yang besar pada kota besar ini. Lihat saja, kota ini tidak pernah sepi kecuali Idul Fitri. Sekian banyak orang yang pergi meninggalkan Jakarta, tapi lebih banyak lagi yang datang dan tinggal. Itu artinya, Jakarta tak pernah kehilangan pesonanya. Macet itu adalah bukti kecintaan orang terhadap kota terpadat di Indonesia itu.

Sejak sekian tahun terakhir, pembangunan jalan di Jakarta dibenahi. Berbagai inovasi dilakukan biar penduduk kota besar ini hidup nyaman. Banyak momok sangar tentang kemacetan Jakarta. Yang pasti, pagi dan sore hari adalah jadwal terpadat jalanan Jakarta. Orang yang bekerja di Jakarta datang dari berbagai sudut, Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi. Lihat kan, kata Bekasi saja diletakkan terakhir. Bukan berarti paling jauh, ya. Tapi lebih tepatnya paling padat karena keganasan macet ke arah Bekasi dimulai pukul 4 sore hingga 8 malam setiap hari kerja. Kita bisa menghabiskan waktu minimal 3 jam dari Jakarta Pusat ke Kota Bekasi. Kalau hujan, sudahlah, lebih baik menginap saja di tempat teman yang tinggalnya lebih dekat dengan kantor, kampus, atau sekolah. Tidak heran Bekasi dibilang planet lain, beda negara, dan butuh visa. Duh, sampai sebegitunya ya efek kemacetan Jakarta.

Beberapa waktu lalu, aku diajak diskusi sama Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) dan Kama Digital tentang kemacetan Jakarta yang sudah berada pada tahap kritis. BPTJ menjelaskan berbagai upaya sedang dilakukan oleh mereka demi kemacetan itu bisa terurai sedikit demi sedikit. Salah satunya adalah dengan mengajak masyarakat untuk kembali menggunakan kendaraan umum. Buat yang sudah lama tinggal di sekitar Jabodetabek, tentu sangat menyadari bahwa kini jalanan kita agak tersendat akibat pembangunan jalan di mana-mana. Ada jalan tol, pelebaran jalan, jalan layang, hingga rel LRT dan MRT. Bohong jika kita tidak bisa mengakui kalau kini infrastruktur transportasi di Jakarta makin baik. KRL sudah jauh lebih nyaman dibanding 10 tahun lalu. Jadi ingat, waktu kuliah di UI, beberapa kali akhir pekan mengadakan acara di Puncak dan harus naik kereta ke Bogor yang padatnya luar biasa. Orang-orang sampai bergelantungan di pintu kereta dan duduk di atap kereta. Itu, kan bahaya. Lalu, kini KRL disediakan lebih nyaman dengan full AC, gerbongnya ditambah, armadanya juga ditambah, dan disediakan gerbong khusus wanita.


ayo naik bus transjakarta

Belum cukup dengan commuter line, Transjakarta juga dibenahi. Halte-halte busway direnovasi dan koridor juga ditambah. Tarifnya malah flat ke mana-mana. Yang lagi hangat-hangatnya dibahas sekarang adalah bis premium Transjabodetabek ke arah Bekasi. Katanya bis premium itu super nyaman, ber-AC, dan ada colokan mengingat kebutuhan orang pada ponsel sangat tinggi. Naik bis ke mana-mana sekarang sudah jauh lebih nyaman. Persebaran angkutan umum sudah mulai ditata. Apalagi jalur LRT dan MRT sebentar lagi akan diresmikan. Rasanya tidak ada lagi alasan kita untuk tidak menggunakan angkutan umum. Yang masih kurang sepertinya masalah ketepatan waktu, tapi sebagian besar juga didukung oleh pengguna kendaraan pribadi jauh lebih banyak. Keadaan ini masih perlu ditangani khusus oleh BPTJ. Masa pengguna kendaraan pribadi di Jakarta mencapai 60% dan 49% di dalamnya itu didominasi oleh motor. Pantas saja, drama macet Jakarta tidak ada habisnya. Memang sudah saatnya kita menggunakan angkutan umum.

Aku sendiri dulu adalah pengguna angkutan umum, seperti bis, KRL, dan angkot. Namun, berkali-kali kecewa karena tingkat kenyamanan rendah, menghabiskan waktu dan tenaga lebih besar, kurang aman karena copet ada di mana-mana, serta ongkosnya jadi lebih mahal. Aku pun selama 2 tahun beralih membawa kendaraan sendiri ke mana-mana. Macet sedikit tidak apa-apa, yang penting nyaman. Begitu pikirku, dulu. Sekarang aku sudah jauh lebih sadar kalau pemikiran semacam itu seharusnya dibalik. Apalagi angkutan umum sudah berbenah. Kenapa kita harus cepat-cepat beralih ke kendaraan umum? Ini alasannya.


1. Hemat waktu

Kalau tujuan kita adalah tempat-tempat yang berada di sekitar stasiun kereta, memang jauh lebih baik kita menggunakan KRL saja. Lebih cepat dan aman. Nggak perlu resah dengan kemacetan jalanan. Aku yang sekarang tinggal di kawasan Depok memilih naik KRL jika ada meeting di luar, misalnya di kawasan Tebet. KRL memang pilihan tepat. Nggak kebayang kalau aku menyetir mobil sendiri dari Depok ke Tebet. Pasti akan menghabiskan waktu 2 jam sendiri. Jika menggunakan KRL, aku cukup menghabiskan waktu 45 menit saja.


2. Hemat biaya

Naik KRL dan Transjakarta sungguh murah meriah. Buat yang biasa pakai mobil ke mana-mana, cobain naik KRL dan Transjakarta berulang kali. Kita bisa menekan pengeluaran untuk ongkos di perjalanan. Beda, sih buat pengendara motor. Tapi lelah berkendara tidak sebanding dengan duduk manis atau berdiri di KRL atau Transjakarta yang full AC, ya.


3. Hidup sehat

Dengan menggunakan jasa angkutan umum, kita jadi jauh lebih banyak berjalan kaki ke halte dan stasiun. Biar lebih panas, tapi kita lebih sehat. Kalau ke luar negeri saja, kita bisa senang-senang berjalan kaki berkilo-kilo meter dan tahan naik tram, subway, metro, atau bus ke mana-mana. Kenapa di Jakarta tidak bisa? Memang belum bisa disamakan, sih, infrastruktur trasnportasi di Jakarta dengan negara-negara besar di luar sana. Tapi, negara semacam Prancis saja butuh ratusan tahun membenahi kondisi trasnportasi mereka sehingga nyaman digunakan semua orang. Tentunya Jakarta, bahkan Indonesia juga bisa begitu. Kita hanya perlu bersabar. Anggap saja olahraga. Traveling selama ini mengajarkan kita untuk berkaca pada dunia dan menancapkan harapan yang tinggi untuk hidup lebih baik, bukan? Nah, Jakarta nggak akan bisa begitu kalau bukan dimulai dari kita.


4. Banyak yang dapat dilakukan di angkutan umum dibanding mengendarai kendaraan sendiri

Pernah, nggak, kamu dikejar deadline sementara waktunya mepet? Atau tiba-tiba kamu harus terima telepon penting dari orang padahal kamu sedang menyetir? Aku pernah. Pernah waktu harus bimbingan tesis tapi drafnya belum sempurna. Aku naik KRL menuju kampus dan mengerjakan draf itu selama di perjalanan menggunakan tablet. Kebetulan KRL sedang kosong siang itu. Pernah pula ketika aku sedang terima telepon penting dari klien, syukurlah aku sedang di Transjakarta, jadi bisa mencatat poin penting dengan sigap di ponsel atau kertas kecil. Itu nggak akan bisa kulakukan kalau aku sedang menyetir mobil. Bahaya, kan. Angkutan umum bikin kita lebih leluasa melakukan sesuatu, mengatur waktu sendiri dan bisa menguji tingkat kepekaan kita lebih tinggi.


PR BPTJ memang masih banyak demi keteraturan transportasi di wilayah Jabodetabek. Namun, PR itu dapat kita bantu dengan kembali menggunakan angkutan umum yang kini jauh lebih tertib. Dengan begitu, polusi pun bisa ditekan, bukan? Metode ganjil-genap saja lumayan berdampak dan mengurai macet meski persentasenya masih kecil. Pokoknya sudah saatnya kita mengkampanyekan #ayonaikbus dan #naikbusitukeren untuk #enjoypublictransport.

Read More

Share Tweet Pin It +1

9 Comments

In Journey Land

Perjalanan Panjang ke Padang Lawas, Sumatera Utara

Bulan Maret lalu, aku bertualang ke Padang Lawas, Sumatera Utara. Jarang-jarang aku pakai kata bertualang di blog ini. Tapi memang kali ini, perjalanan ke Padang Lawas punya cerita sendiri.

Suatu ketika, aku dihubungi oleh dosen saat kuliah dulu di UI. Beliau menawarkanku untuk terlibat dalam proyek pendidikan tingkat nasional yang sedang dilaksanakan oleh Pusat Penilaian Pendidikan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Berasa keren, ya, proyeknya. Aku diminta mendampingi dan memberikan materi motivasi terkait penggunaan sebuah aplikasi uji kompetensi siswa dalam skala internasional. Dosenku itu bilang, nanti akan ada pelatihan sebelum berangkat. Karena memang kupikir ini akan jadi pengalaman menarik, aku langsung 'ayo-ayo' saja tanpa bertanya detailnya. Maklum, aku anaknya 'ayokable' banget.
Pasar di Padang Lawas, Tapanuli Selatan
Usai meeting dengan pihak Puspendik Kemdikbud di kawasan Senen, aku dibekali beberapa materi motivasi terkait pemahaman anak-anak usia SMP dalam menggunakan Programme for International Student Assesment (PISA). Yang harus di-highlight dalam tulisanku ini, aku dikirim ke Padang Lawas, sebuah daerah di Sumatera Utara yang jaraknya ratusan kilometer alias 10 jam perjalanan dari Kota Medan. Aku tidak menyangka Sumatera Utara seluas itu. Kalau di Pulau Jawa, mungkin 10 jam itu setara dengan jarak Jakarta-Semarang dan itu sudah melewati 2 propinsi. Wow. Ternyata masih banyak sudut di negeri ini yang belum kujelajahi. 

Perjalanan panjang menuju Padang Lawas, Sumatera Utara

Yang membuatku sedikit tertantang adalah aku dibekali sejumlah uang saku oleh Puspendik yang harus cukup untuk biaya hidup di Padang Lawas 2 hari. Ya, 2 hari mulanya. Aku mendapat jatah mengisi materi di 2 sekolah. Puspendik tidak memberikan instruksi apa-apa mengenai transportasi, akomodasi, dan orang yang harus kutemui. Bekal uang saku dan daftar sekolah jadi satu-satunya pegangan pada saat surat tugas resmi diturunkan. Oke, aku harus mencari sendiri bagaimana cara sampai ke Padang Lawas. Aku diberi waktu seminggu untuk menyusun materi dan mempersiapkan keberangkatan.

Nah, kupikir awalnya, ketika Puspendik menitahkanku untuk mengunjungi Padang Lawas tanpa informasi detail, aksesnya ke lokasi gampang. Rupanya aku salah total. Mulanya aku ditugaskan sendirian, jadi otomatis aku harus mencari jalur teraman dan ternyaman menuju lokasi. Akses termudah yang kutahu, ya, penerbangan ke Bandara Internasional Kuala Namu, Medan. Aku sampai bertanya kepada beberapa teman yang berada di Medan dan saudara yang juga tinggal di Medan. Sepupuku bilang, Padang Lawas itu jauh sekali dan masuk kawasan Tapanuli Selatan. Bahkan sepupu dan temanku di sana belum pernah ke daerah itu. Tapi temanku menyarankan untuk naik Executive Bus dari Medan ke Padang Sidempuan, akses terdekat ke Padang Lawas. Begitu aku melihat jalur dan aksesnya, aku langsung mengajukan tambahan hari dan uang saku perjalanan menjadi 4 hari. Iya, dong, karena naik bus executive aja bolak-balik udah menghabiskan 2 malam sendiri.

Seorang teman dari Kemdikbud sudah mencari info mengenai lokasi yang akan kukunjungi. Katanya, Padang Lawas itu memang jauh. Kalau ke sana harus menggunakan pesawat ATR dari Kuala Namu-Medan ke bandara perintis Aek Godang. Temannya temanku adalah seorang auditor. Dia pernah ke Dinas Pendidikan Kabupaten Padang Lawas untuk mengaudit. Jadi sangat tahu rute dan akses ke sana. Dia bilang, dari Bandara Aek Godang ke Padang Lawas bisa ditempuh 4 jam lagi jalur darat. Sebelum aku senyum sumringah, masih ada kata 'tapi' untuk kesekian kalinya. Katanya, di sana tidak ada angkutan umum bahkan becak motor yang banyak terdapat di Sumatera Utara. Yang ada hanya mobil pick up untuk mengangkut sawit karena Sumatera Utara bagian selatan memang terkenal dengan kebun sawitnya yang luas. Aku sempat membayangkan berangkat demi tugas negara naik pick up yang isinya tumpukan sawit. Kalau kodisinya untuk traveling backpacking, nggak masalah. Kalau tidak ada yang jemput, sungguh riskan terbang ke sana, sendirian, cewek pula. Fix, ini bukan alternatif yang baik. Begitu aku konfirmasi ke Puspendik, biaya naik pesawat jenis ATR di luar anggaran mereka, apalagi mengingat aku harus menyewa mobil beberapa hari yang tentunya biayanya tidak sedikit. Duh, repot, ya tugas dari kementerian ini. Seharusnya mereka evaluasi anggaran lagi untuk akses perjalanan dinas para pejabat negara. Jangan cuma dilihat takaran akses untuk kota-kota besar saja, karena banyak sudut di negeri ini yang sulit ditempuh dan butuh biaya cukup besar untuk sampai di sana. Ini baru rimba Sumatera Utara, belum pulau-pulau di sekitarnya. Oke, alternatif lewat bandara Aek Godang resmi kucoret dari daftar.

Kebun sawit di Padang Lawas, Sumatera Utara

Setelah semedi satu hari mencari info, ada seorang sahabat yang baru saja balik dari Tapanuli. Wah, aku bahagia. Eh, ternyata dia ke kawasan Tapanuli Utara. Tak apalah, ya, yang penting sama-sama Tapanuli. Sahabatku itu menyarankanku berangkat ke Bandara Internasional Silangit, yang dekat ke Danau Toba. FYI, Sumatera Utara punya 7 bandara yang beberapa di antaranya masih jadi bandara perintis. Seluas itu, ya, Sumatera Utara karena akses dari daerah satu ke daerah lain sungguh sulit. Dari Silangit ke Padang Lawas cuma 6 jam. Untungnya pula, kini sudah ada pesawat langsung dari Soekarno-Hatta ke Silangit dengan maskapai Garuda Indonesia. Wui, tahu nggak apa yang kupikirkan saat itu? Aku berniat extend di Silangit dan menghabiskan hari di Pulau Samosir. Pasti menyenangkan bisa explore Toba. Mumpung berjarak cuma 1 jam, kan, dan termasuk kawasan wisata. Tapi, jangan senang dulu. Kegembiraanku serta merta dipatahkan oleh Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Barumun yang akan kukunjungi. Beliau menyarankan untuk lewat dari Pekanbaru saja karena lebih gampang aksesnya. Katanya perjalanan dari Pekanbaru 7 jam naik travel dan langsung sampai ke Barumun, kecamatan tujuan pertamaku di Padang Lawas.

Awalnya aku ragu. Dari Silangit saja bisa 6 jam, mendingan lewat Silangit, kan? Kenapa si kepala sekolah menyarankan harus lewat Pekanbaru? Namun, karena tawaran si bapak kepala sekolah itu lebih meyakinkan, aku mengalah. Beliau menjanjikan untuk memesankan travel dan penginapan di dekat sekolah yang ia pimpin. Kalau dari Silangit, beliau tidak begitu tahu akses travelnya. Biasanya travel dari Silangit hanya sampai Padang Sidempuan dan masih 2 jam lagi sampai di Padang Lawas. dengan menyambung bis. Malah, salah satu guru dari SMP Negeri 1 Aek Nabara Barumun yang juga kuhubungi untuk konfirmasi kedatangan menyarankanku terbang ke bandara Dr. Ferdinand Lumban Tobing di Sibolga. Katanya dari Sibolga ke daerah Barumun juga lebih cepat. Ah, tapi masih harus menyambung pesawat ATR dari Kuala Namu sementara biayanya di luar anggaran. Aku memutuskan mengikuti saran Bapak Kepsek SMPN 1 Barumun dan melupakan niat extend di Toba beberapa hari.  Kupikir, cukup untuk drama mencari akses ke Padang Lawas yang tak ada habisnya itu.

Sampailah pada hari keberangkatan, tiket Jakarta-Pekanbaru sudah kukantungi. Aku terbang ke bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Dari sana, aku lanjut naik mobil travel yang mengangkut kami ke Barumun. Perjalanan 7 jam kulewati dengan tingkat kebosanan tinggi. Kami melintasi jalur Lintas Sumatera Timur menuju ke Sumatera Utara. Untungnya aku dihibur oleh berhektar-hektar kebun sawit yang cantik dan sesekali mengobrol dengan sesama penumpang travel. Kami hanya berhenti sekali untuk makan siang di sebuah rumah makan padang. Setelah itu lanjut lagi langsung menuju daerah Barumun, kawasan Padang Lawas.

Kuliner di Padang Lawas, Sumatera Utara
Kuliner di Padang Lawas.
Kedatanganku disambut oleh Kepala Sekolah SMPN 1 Barumun dan Komite Sekolah. Kami berbincang-bincang sebentar. Perjalanan yang sungguh panjang ditutup dengan makan malam di sebuah rumah makan khusus ikan bakar fresh di Barumun. Tadinya aku ingin coba arsik, makanan khas Padang Lawas yang semua tulang ikannya sudah diangkat. Tapi, kata bapak Kepsek yang menemaniku makan malam, arsik sudah mulai jarang yang buat di Padang Lawas. Kalau mau coba arsik, harus pesan dulu. Akhirnya aku cuma makan dengan ikan mujair yang ukurannya jumbo dan diselingi dengan gulai telur ikan. Ah, lezat sekali.

Kami berbincang santai malam itu tentang mata pencaharian penduduk Barumun yang berasal dari perkebunan sawit. Dari sana juga aku tahu bahwa Padang Lawas ini punya adat yang berbeda dari Batak meskipun sama-sama di Sumatera Utara. Oleh karena itu, ada pembedaan kawasan Tapanuli Utara dan Selatan karena tradisi mereka berbeda. Mereka lebih dekat dengan tradisi Mandailing yang mayoritas penduduknya muslim. Bahasa mereka pun berbeda. Pak Kepsek sempat berkelakar, aku tidak perlu ragu dengan tingkat kehalalan makanan-makanan di sini.

Dalam hati ku hanya berdecak, "Bisa sampai di sini tanpa harus hilang di belantara kebun sawit saja, aku sudah bersyukur, Pak."

Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In Advertorial Land Story Land

To-Do-List sebelum Traveling Tengah Tahun Ini


Tahun ini aktivitas traveling-ku memang tidak sebanyak tahun lalu. Jadi jeda antara perjalanan satu dengan perjalanan berikutnya memberikan cukup waktu bagiku untuk menjaga kesehatan. Aku sudah punya beberapa agenda perjalanan tengah tahun ini. Persiapan khusus nggak ada. Namun, ada beberapa hal penting yang harus aku siapkan sebelum berangkat. Kenapa? Karena aku akan melakukan dua perjalanan dalam kondisi cuaca yang berbeda.
to-do-list travelingku tengah tahun ini

Ketika tulisan ini tayang, aku sedang mengajukan visa ke salah satu negara di Eropa (agak deg-degan). Perjalanannya direncanakan bulan depan, tepat pada hari pertama Ramadhan. Itu artinya aku akan menghabiskan beberapa hari pada akhir musim semi di sana dalam keadaan berpuasa. Seperti tahun lalu, aku sempat merasakan puasa 18 jam di Georgia dan pengalamannya luar biasa berkesan. Kali ini, doakan visaku diterima, ya, biar aku bisa sharing lebih banyak lagi tentang perjalananku di negara yang berbeda nanti.

Jarang sekali aku menulis tentang trip spoiler seperti ini karena bisa saja batal seketika. Tapi aku sekadar mau cerita mengenai trip plan-ku tengah tahun ini dan persiapan apa saja yang sedang kulakukan. Bulan lalu, aku baru kembali dari Padang Lawas, kawasan Tapanuli Selatan, Sumatera Utara yang kutempuh dengan jalur darat 7 jam dari Pekanbaru, Riau. Ada satu misi khusus terkait pendidikan yang kulakukan di sana. Ketika itu, Padang Lawas sedang musim hujan. Lalu bulan depan, jika visa diterima, aku akan berangkat ke Bulgaria untuk misi pertukaran kebudayaan. Bulan Mei di Bulgaria adalah bulan penutup musim semi. Siang bisa sangat panas, malam bisa begitu dingin. Itu akan jadi tantanganku dalam berpuasa, di samping harus aktif membawa nama baik Indonesia di festival internasional. Kemudian, setelah lebaran, aku sudah merencanakan liburan ke Sumbawa bersama teman-teman jalan terbaikku, yang kamu tentu tahu, Sumbawa akan sangat terik pada bulan Agustus. Ya, kita harus siap dalam berbagai kondisi cuaca ke mana kita berjalan. Jeda dua bulan untuk setiap perjalanan itu harus kuisi dengan recovery, khususnya kesehatan badan dan kulit.

Traveling ke berbagai daerah kuterima sebagai sebuah tantangan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, tapi kita bisa mempersiapkan diri lebih baik untuk menghindari hal-hal yang tidak mengenakkan, khususnya kesehatan. Ya, let me talk about health. Aku udah buat to-do-list sebelum traveling tengah tahun ini. To-do-list ini bukan dalam bentuk benda seperti pakaian dan printilan, tetapi to-do-list investasi kesehatan.

1. Memperbaiki Pola Makan

Traveling memang seru. Tapi banyak di antara kita yang lupa makan dan minum yang cukup. Banyak juga yang nggak sadar bahwa perut yang kenyang adalah sumber kebahagiaan dan sumber energi untuk bisa terus berjalan. Penyakit saat traveling itu apalagi buatku yang sering backpacker, tentu nggak jauh-jauh dari masuk angin, asam lambung naik, meriang, bahkan demam. Semacam penyakit receh, ya. Paling parah tifus dan malaria. Namun, sumbernya cuma satu, yaitu pencernaan. Aku selalu terngiang ucapan ibuku, "Pencernaan itu sumber segala-galanya. Makan itu wajib. Kalau nggak makan, gimana kita bisa mikir, bisa gerak, bisa sehat." Karena itu juga, sih, aku jadi doyan makan. *alasan

Makin ke sini, aku semakin sadar, tubuh butuh suplemen. Sebelum ini aku langganan habbatussauda dan virgin coconut oil. Nah, sekarang aku lagi nyoba suplemen makanan yang berbeda. Namanya FIB (bukan Fakultas Ilmu Pengetahun Budaya, ya. Sama sekali bukan). Aku dikasih pencerahan saat datang ke sebuah talkshow kesehatan bahwa pencernaan kita itu membutuhkan prebiotik dan probiotik yang seimbang. Aku nggak begitu paham dengan istilah-istilah kedokteran tingkat tinggi semacam ini. Yang jelas, tubuh itu butuh nutrisi sayur dan buah untuk menjaga kesehatan lambung dan usus. Makanan kita setiap hari tidak selalu cukup memenuhi nutrisi itu, karena itu tubuh butuh suplemen. Produk minuman serbuk FIB memberikan pilihan yang tepat untuk menjaga lambung dan usus kita dari peradangan dan penyumbatan. Aku udah coba minum FIB seminggu terakhir. Dalam satu kemasan FIB, terkandung 19 jenis sayuran dan buah-buahan yang kaya probiotik, inulin, dan psyllium husk. Minuman ini nantinya akan mengontrol nafsu makan kita dan menghindari obesitas, serta melancarkan pencernaan dan mencegah kanker usus.

to-do-list travelingku dari FIB

Aku mulai rutin minum FIB setiap pagi. Cukup diseduh dengan air dingin dan diaduk agak lama sampai mengental. Kalau belum mengental, berarti harus diaduk lagi. Aromanya memang mangga-lemon banget. Begitu diminum, rasanya manis seperti jus mangga dicampur lemon. Enak, kok. Bagiku yang pemakan segala dan punya selera Minang garis keras dengan makanan berminyak dan bersantan, tentu minuman ini sangat membantu nutrisi tubuh. Aktivitas traveling yang padat juga sedikit bikin pola hidup berubah. FIB (bisa cek Instagram-nya di sini) jadi pilihan tepat untuk saat ini. Apalagi nanti mau puasa di negeri orang pula. FIB kali ini masuk to-do-list minuman kaya serat dan manfaat biar tubuh segar menjelang puasa di Bulgaria. Pasti pencernaan bakal kaget dengan perubahan cuaca dan jenis makanan. Semoga aku tetap sehat.

2. Renang 2x seminggu

Aku punya agenda khusus untuk mengikuti kelas renang, olahraga yang sudah 1,5 tahun ini rutin kulakukan di sela waktu kosong. Nggak heran kalau ada agenda staycation di salah satu hotel yang punya kolam renang, aku pasti menyempatkan diri untuk berenang meski cuma 30 menit. Sisanya, renang jadi agenda rutinku di sport centre Hotel Bumi Wiyata, yang memang dekat dari rumah dan harganya murah. Setidaknya selama renang, aku dapat menggerakkan seluruh badan hingga 500 meter dalam 1x latihan. Lumayanlah, ya.

Berenang jadi to-do-list traveling tengah tahun
Berenang ketika sempat.

Aku mulai rutin renang sejak seorang teman bilang kalau renang itu punya teknik khusus. Meski banyak orang yang bisa berenang, belum tentu tekniknya benar. Nah, aku pun berguru padanya untuk belajar teknik renang yang benar. Progress-nya menyenangkan. Aku jadi bisa mengatur napas, menggerakkan tubuh, dan meditasi di dalam air. Setidaknya, dengan melakukan teknik renang yang benar, kita jadi tidak sembarang bergerak di air, tetapi membantu melancarkan sirkulasi darah. Setiap orang punya olahraga favoritnya masing-masing. Aku memilih renang sebagai bagian dari rutinitas olahragaku karena aku suka bermain di air, apalagi di laut. Lumayan juga untuk persiapan main air lagi di Sumbawa. Oh, laut bersih di arah timur Indonesia, aku merindukannya.

3. Perawatan kulit

Sebagai manusia berkulit super kering, wajahku memang rentan terbakar. Kulit wajahku pernah mengelupas saat aku pulang dari Taka Bonerate, Sulawesi Selatan, 2015 lalu. Sejak itu pula aku mulai concern sama kesehatan kulit wajah, mulai perawatan dan rajin menggunakan sunscreen. Ternyata punya kulit kering itu lebih berbahaya dibanding orang yang kulitnya berminyak. Rangkaian perawatannya berbeda karena lebih rentan terkena radiasi dan pengeriputan.

Mengingat hasrat traveling-ku semakin besar dan beberapa agenda traveling ada di depan mata, aku harus makin selektif dalam memilih produk perawatan kulit. Kapok bawa pulang kulit terbakar lagi. Waktu ke Padang Lawas bulan lalu, karena sibuk dengan aktivitas di sana, aku lupa menggunakan sunscreen. Kulitku jadi super kusam. Butuh waktu seminggu untuk mengembalikan kelembaban kulit. Pada saat itu pula, aku mengenal produk skincare dr. CARE (bisa cek Instagram-nya di sini) untuk kulit kering dan sensitif. Aku mau saja mencoba produk ini karena dapat rekomendasi langsung dari dokter yang tergabung di dr. Care Indonesia. Sebenarnya produk-produk di pasaran Indonesia itu lebih pro terhadap kulit berminyak dan berjerawat. Rata-rata kondisi kulit orang Indonesia memang berminyak. Jadi, bagi yang berkulit kering agak didiskriminasi, ya.

to-do-list travelingku dari dr. Care

Produk dr. CARE menawarkan rangkaian produk basic dalam perawatan kulit, khususnya wajah: facial cleanser, facial toner, peeling gel, dan sun protector SPF 30. Kandungan utamanya adalah witch hazel untuk antioksidan, vitamin E, dan D-panthenol untuk nutrisi kulit. Cara kerja dr. CARE itu berfokus pada pengelupasan sel kulit mati biar kulit lebih segar dan cerah. Di antara rangkaian itu, yang jadi favoritku adalah peeling gel yang punya zat aktif melembabkan kulit. Peeling ini efektif mengangkat sel kulit mati yang tidak terangkat oleh facial cleanser. Wanginya enak dan bulir-bulir gel-nya berwarna merah muda. Aku menggunakan peeling ini dua hari sekali dan sejauh ini memberi efek dingin di wajah. Ada kandungan madu dan aloe vera juga ternyata. Karena aku langganan soothing gel aloe vera, jadi pas pakai peeling gel ini sesekali, rasanya perawatannya jadi lengkap.

Aku mau rajin menggunakan dr. CARE ini untuk nutrisi kulit mumpung sempat. Musim semi di Eropa sudah pasti akan mengikis kelembaban kulitku dan musim kemarau di Sumbawa makin melengkapi kesengsaraan kulit ini. Jadi aku harus investasi dari sekarang, nih.

perawatan dengan dr. Care masuk ke dalam to-do-list travelingku
Sun protector wajib banget dipakai setiap hari untuk menangkal sinar UV matahari.

Sekian to-do-list sebelum traveling-ku pada tengah tahun ini. Bentuknya memang tidak terlihat sekarang. Tapi investasi itu penting. Perawatan diri luar dan dalam itu juga dibutuhkan. Makanan nggak sehat, agenda yang bikin jadwal tidur berantakan, kelelahan dalam perjalanan menjadi tantanganku. Makin ke sini, aku makin sadar, hidup itu butuh keseimbangan. Seperti tanaman, sehat itu perlu dipupuk. Biar traveling nggak terhambat karena sakit, kita perlu menyambut hari-hari penuh investasi kesehatan.

Read More

Share Tweet Pin It +1

6 Comments