In Journey Land

Jelajah Sumbawa (II): Salam dari Bukit Mantar Sumbawa

Satu spot panorama terbaik di Sumbawa Barat adalah Bukit Mantar. Awalnya kusangka panorama bukitnya biasa aja. Tapi saat sampai di sana dan bermalam langsung di bawah langitnya, Bukit Mantar begitu menakjubkan. Dia menawarkan ketenangan, harmonisasi dengan alam, kesyahduan melewati menit demi menit waktu, dan kesegaran pikiran. Kalau kamu punya keresahan hidup di ibukota yang ramai, Bukit Mantar bisa jadi jawaban untuk bersembunyi sesaat. Tak salah aku memilih Bukit Mantar sebagai destinasi pertama kami saat menginjak Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Baca: Jelajah Sumbawa (I): Sambutan Hangat dari Poto Tano

Sebelum tengah malam, langit bertabur bintang. Sementara dari arah panorama, kami melihat lampu-lampu dari kapal yang sedang berlayar dan perumahan di bawah sana. Ketika malam mulai benar-benar gelap, aku, Junisatya, Ry, dan Rara mencari posisi paling baik untuk memotret milky way. Yah, selama hunting milky way, Ry sampai mengunduh aplikasi milky way hunter. Bukannya mendapat arah milky way yang tepat untuk memotret, kami malah belajar beberapa rasi bintang yang kami temui dari balik kamera aplikasi milky hunter. Ada Aquarius, Libra, Scorpius, Aries, Scutum, Auriga, Orion, Cancer, Gemini, Pegasus, Pisces, Taurus, Capricornus, Leo, dan Sagittarius. Semua tampak nyata di langit malam itu. Meski bukan fotografer profesional, memotret milky way cukup bikin kami puas malam itu. Walaupun hasilnya nggak bagus-bagus amat. Langit benar-benar bersih tanpa awan. Begitu terus, bertahan hingga pagi.


Sepanjang malam, aku mengecharge power bank dan lampu emergency kecil di pondok tak jauh dari tenda. Semua gadget kami harus dipenuhi daya listrik selagi bisa dan tersedia karena ada banyak petualangan yang kami alami setelahnya. Jadi, mumpung sang bapak penjaga camping ground menawarkan kebutuhan listrik meski cuma 2 colokan, lumayan untuk kami pakai bergantian. Hal ini layak untuk disyukuri, bukan?!

Kami makan malam dengan cahaya sangat minim tapi terasa nikmat walaupun cuma makan nasi pakai teri dan telur bulat. Bahkan nasi bungkus yang sudah kami bawa sebagai bekal malam ini benar-benar licin tandas. "Biasanya kalau nyokap gue masak beginian di rumah, gue nggak bakal makan. Paling makan seadanya. Kalau di sini, ini makanan mewah kita," kelakar Rara yang kekenyangan cuma dengan dengan teri dan telur bulat tanpa sayur. Kami bernyanyi-nyanyi lirih untuk mengusir sepi. Malam itu cuma ada kami berempat. Bukit Mantar ramai pada akhir pekan saja dengan berbagai aktivitas. Kami bersyukur dapat merasakan ketenangan puncak bukit Mantar. Untungnya suhu tidak terlalu dingin. Kami bertahan duduk di luar tenda sampai pukul 11 malam. Setelah itu, masuk ke tenda masing-masing karena nggak ingin telat dapat momen fajar.
Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (2) - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa salam dari bukit Mantar (3) - jurnaland.com
 

Aku terbangun pukul 5 subuh. Sungguh tidur yang nyenyak. Embun menyapa tenda kami. Terasa lembab kuraba dari dalam. Begitu keluar tenda, ada bulan sabit masih bertengger. Suara ayam terdengar akrab sekali, rupanya mereka sudah berkumpul di sekitar tenda. Ada beberapa anjing juga. Bahkan aku kaget saat mendengar ringkik kuda di balik pondokan tempat kami mengecharge power bank dan lampu emergency semalaman. Ada lapangan kecil di sana rupanya tempat kuda-kuda ditambatkan. Ada beberapa ekor kuda berwarna terang. Kok, semalam aku tak melihat mereka ya.

Dengan bersih-bersih seadanya dan sholat subuh, aku langsung mencari ufuk timur. Aku melihat anjing sedang duduk menatap sunrise. Bahkan anjing saja sadar ada momen emas setiap pagi di bukit ini. Berada di dataran tertinggi di Sumbawa Barat ini bikin aku bisa melihat Selat Alas yang memisahkan Pulau Lombok dengan Pulau Sumbawa. Ada Gunung Rinjani menjulang di seberangnya. Terlihat petak-petak sawah di bawah sana. Harmoni alam yang menyegarkan mata terhampar di depan mata. Momen matahari terbit jadi indah sekali. Apalagi didukung dengan langit yang super cerah. Sunrise kami sempurna. Kalau kamu ingin menikmati pagi cerah seperti yang kami lihat dan rasakan ini, kamu harus datang pada saat musim kemarau. Banyak rumput menguning tapi terlihat cantik di mata, apalagi di lensa.

Ada beberapa spot yang diimbuhi tulisan semacam meme yang dapat dijadikan foto lucu-lucuan. Tepat ke arah ufuk timur, ada tulisan dari kayu yang menggelitik kami: "Mantan Tak Secantik Mantar". Kalau ada yang sedang patah hati atau jomlo terlalu lama, Bukit Mantar mungkin obat dari kegalauan hati. Temanku Ry mengakuinya, mantan(nya) memang tak secantik Mantar. *eh gimana*

Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (4) - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (5) - jurnaland.com


Ada pula tulisan: "Salam dari Bukit Mantar" yang mengirimkan selamat pagi kepada dunia. Andai potretku dijadikan kartu pos dengan view Mantar pagi hari, salam dari Bukit Mantar ini akan tersampaikan kepada orang banyak. Ah, tak perlu dijadikan kartu pos. Cukup disebarkan di social media, orang-orang mengakui bahwa Bukit Mantar memang spot yang luar biasa indah.

Tak lama berpose dan tertawa-tawa, kami sarapan bersama sembari beres-beres. Tepat pukul 9, pick up yang kemarin telah kami sewa datang menjemput. Waktu yang cukup untuk mengabadikan momen di panorama Bukit Mantar yang cantik itu. Kalau kata Junisatya, memotret paling bagus itu memang saat pagi, sebelum matahari terlalu tinggi. Objeknya jadi makin keren karena dapat pencahayaan yang pas. Dan, aku setuju.


Jelajah Sumbawa salam dari bukit Mantar (6) - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (7) - jurnaland.com


Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (8) - jurnaland.com

Kami sempat mengobrol dengan bapak penjaga camping ground, kalau mau mandi, kami bisa turun ke kampung. Hanya beberapa meter dari puncak, tinggal ikuti jalan menuju perkampungan Desa Mantar. Di sana memang ada toilet umum di sebelah sebuah empang. Namun, kami urung mandi. Pertimbangannya ya biar menghemat waktu juga. Hari itu kami akan menyeberang ke Pulau Kenawa dan mencelupkan diri ke lautan. Jadi, tak usah mandi tak apa. Aku sudah bawa stok tisu basah yang cukup banyak untuk bebersih badan. Kami sempat melihat-lihat perkampungan Desa Mantar. Suasana desa sangat meriah dengan umbul-umbul di depan rumah. Sepertinya mereka senang menyambut HUT RI sekaligus Idul Adha saat itu. Atau, malah senang kedatangan kami?

Menyenangkan dapat melihat kegiatan pagi orang-orang Mantar. Hidup mereka sesantai mentari yang perlahan naik. Sangat tenang. Ada anak-anak kecil yang bermain di teras rumah panggung mereka. Rata-rata rumah penduduk di sana dibuat dengan bentuk rumah panggung. Pembagian petak-petak tanahnya pun cukup rapi. Setiap rumah tak punya banyak lahan untuk halaman, tetapi yang enak dipandang adalah rumah-rumah yang masih belum dipisahkan pagar. Setiap blok rumah tampak menyatu. Masyarakatnya pun menyatu. Apalagi saat melihat kampung ini cukup bersih, bebas sampah.

Di puncak Bukit Mantar sendiri, di area kemah kami, sudah disiapkan tong sampah yang cukup besar. Rupanya penduduk lokal sini punya kesadaran yang tinggi terhadap kebersihan lingkungan. Kalau bukan dari diri sendiri, siapa lagi, kan?! Setiap pekemah seharusnya sudah punya kesadaran diri juga untuk tidak meninggalkan sampah sembarangan di sekitar kemah. Itu yang kami lakukan saat akan meninggalkan Mantar. Kami mengumpulkan sampah ke dalam satu kantong plastik besar dan membuangnya di tong sampah yang tersedia.

Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (9) - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (10) - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa salam dari bukit Mantar (11) - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa salam dari bukit Mantar (12) - jurnaland.com

Setelah puas bermain-main di sekitar kemah, kami memutuskan untuk packing, melipat kembali tenda untuk disusun rapi di dalam ransel. Biasanya packing adalah hal paling tidak ingin kulakukan. Namun, entah kenapa, pagi itu aku semangat sekali. Selain karena tujuan kami ke Bukit Mantar terlaksana dengan segala cerita di balik perjalanannya, aku bongkar muat tas ransel dengan view Panorama Mantar.  Biasanya kan packing di dalam ruangan dengan view kamar yang berantakan. Tapi kali ini, alam terbuka memang obat segala penyakit, termasuk penyakit malas.

Begitu semua beres packing, kami menaikkan barang-barang ke atas pick up. Kami pun pamit kepada bapak penjaga camping ground ini, yang mengurusi peternakan ayam dan kuda di puncak Bukit Mantar. Setelah memastikan tidak ada barang yang ketinggalan, kami pun melaju turun, kembali ke Pelabuhan Poto Tano. Malam itu kami akan kemah di Pulau Kenawa. Another place, another adventure.

Terima kasih, Mantar yang manis. Sampai ketemu lagi.

Things to do in Bukit Mantar

1. Kemping (kalau tidak bawa tenda, dapat menyewa tenda ke bapak penjaga camping ground yang aku ceritakan. Rumahnya tidak jauh dari area kemah)
2. Sunset Hunting
3. Milky Way Photograph Hunting
4. Sunrise Hunting
5. Berkuda (Ada hamparan padang tempat kuda ditambatkan)
6. Paralayang (Saat kami ke sana, tidak ada paket paralayang dibuka karena bukan akhir pekan)
7. Berjalan-jalan, jajan, dan sarapan pagi di Desa Mantar


Read More

Share Tweet Pin It +1

10 Comments

In Journey Land

Memori tentang Palu dan Donggala

Kejadian gempa dan tsunami tak akan pernah membuat kita terbiasa. Begitu juga bagi masyarakat Palu dan Donggala. Sungguh menyayat sekali melihat berita-berita di media tentang kondisi Palu saat ini. Mendengar kata Palu dan Donggala, aku kembali memutar memori lama beberapa tahun lalu saat aku menjambangi 2 daerah itu. Daripada bersedih-sedih terus, sembari terus mengirimkan doa untuk warga Sulawesi Tengah itu, mari kita bercerita tentang kisah manis di Palu dan Donggala.

Aku ke Palu pada awal tahun 2014. Sudah lama sekali ya. Saat itu aku baru saja kembali dari eksplor Taman Nasional Bawah Laut Kepulauan Togean di Sulawesi Tengah. Aku berlayar dari Togean ke pelabuhan Ampana selama 6 jam dan melalui jalur darat 10 jam dari Ampana ke Kota Palu. Sungguh perjalanan yang panjang kalau diingat. Palu memang menjadi tempat transitku sebelum pulang ke Jakarta. Namun, bukan berarti aku tak ke mana-mana selama di Palu itu. Oke, aku bercerita tentang Palu dan Donggala ini sembari melihat-lihat foto selama di sana dengan beberapa orang teman. Kami punya sebuah grup chat di whatsapp dan bersahut-sahutan mengenang segala yang indah dalam perjalanan kami 4 tahun lalu itu. Sungguh menyenangkan. Dan, ini layak sekali kuceritakan agar kita semua selalu berpikir positif bahwa Palu, Donggala, dan seisinya bisa bangkit lagi.

Memori tentang Palu dan Donggala

Belum banyak yang tahu mungkin, apalagi buat orang-orang yang belum pernah ke Sulawesi, bahwa Palu itu punya kuliner yang enak dan Donggala punya pantai yang eksotis. Sebenarnya jenis makanannya tak jauh berbeda dengan makanan-makanan yang kita kenal kebanyakan. Tapi, kalau nanti Palu sudah kembali bangkit dan jadi kota yang cantik lagi, kamu harus ke sana dan mencicipi cita rasa kuliner dari Sulawesi Tengah itu. Ini yang kulakukan saat berada di Palu dan Donggala.

1. Sarapan nasi kuning Palu

Pagi-pagi sekali, di Palu tentu saja, aku dan teman-teman trip-ku memilih sarapan di sebuah warung makan Idaman di Jl. Pattimura No. 4, Palu. Aku nggak tau sekarang warung makan itu masih ada atau tidak karena lokasinya memang di kawasan pesisir. Kami sarapan nasi kuning dengan kuah santan atau kari. Aku menyebutnya nasi kuning palu, lengkap dengan lauk ayam goreng, potongan daging/ikan (aku lupa persisnya) dan taburan bawang goreng khas Palu. Iya, Palu memang penghasil bawang merah terbesar dan jenisnya satu-satunya di dunia. Jadi setiap makanan di sana pasti ditaburi bawang goreng biar lebih sedap. Rasanya gurih apalagi ada kuah santan yang disediakan terpisah. Bisa diseruput atau dicocol kerupuk. Sarapan yang cukup berat, ya. Tapi tak apa, hari itu kami berangkat ke Donggala dan butuh energi lebih untuk menikmati keindahan pantai di Donggala.

Kuliner Palu nasi kuning
Nasi kuning Palu.

2. Eksplor Pantai Tanjung Karang dan bawah lautnya, Donggala

Perjalanan dari Palu ke Donggala menghabiskan waktu sekitar 1 jam. Tahukah kamu kalau pantai-pantai di Donggala itu sangat cantik dan eksotis? Pantainya berpasir putih dan bersih. Salah satu yang kukunjungi adalah Pantai Tanjung Karang di Kabupaten Donggala. Mungkin ini salah satu pantai yang habis diterjang tsunami ya. Padahal kampung di kawasan pantai ini termasuk ke dalam desa budaya Tanjung Karang.

Entah kenapa, aku punya keterikatan dengan Pantai Tanjung Karang ini. Jadi begitu mendengar berita tsunami di Palu dan Donggala pertama kali, yang kuingat adalah pantai ini. Mungkin karena tempatnya bagus, aku datang pada saat langit sedang cerah-cerahnya dan ombak sedang tenang. Kami semua benar-benar bersenang-senang di sana, melepas penat setelah kembali dari Togean.

Dari pantai saja dapat dilihat gradasi air laut yang ternyata menyimpan karang-karang yang terawat. Niatnya cuma duduk-duduk santai di pantai. Tapi aku dan teman-teman segera tergoda untuk menjelajah bawah lautnya. Jadilah kami menyewa kapal untuk melihat karang-karang cantik di perairan. Aku bersiap snorkeling lagi padahal kami baru pulang dari eksplor laut di Kepulauan Togean. Belum bosan. Karena aku tahu, begitu aku kembali ke Jakarta, aku akan merindukannya.

Memori tentang Palu dan Donggala (2)
Pantai Tanjung Karang Donggala.

Memori tentang Palu dan Donggala (3)
Siap eksplor karang di Tanjung Karang.

Memori tentang Palu dan Donggala (4)
We are the explorer.
Memori tentang Palu dan Donggala (5)
 Bersantai di kapal.
Kami berenang-renang sampai tengah hari di sana. Betah, sih. Tanjung Karang sedang tidak ramai. Karena kata teman kami yang asli Palu, pantai Tanjung Karang itu memang lokasi wisata sejuta umat warga Palu. Kalau weekend pasti ramai sekali. Untungnya saat itu bukan akhir pekan. Ah, semoga setelah tsunami kemarin, karang-karang laut di perairan dangkal cepat pulih, ya. Semoga Tanjung Karang bisa segera berbenah.

3. Landmark Donggala Kota Niaga

Waktu aku datang ke sana, landmark Donggala masih tertulis "Donggala Kota Niaga". Terakhir kupantau, tulisannya berubah menjadi "Donggala Kota Wisata". Kami mampir ke patung keong raksasa di Pantai Donggala. Tempat ini cocok sekali untuk menikmati sunset, tapi sayangnya kami berkunjung ke sana tepat tengah hari.

Memori tentang Palu dan Donggala (6)
Ada keong raksasa.

4. Makan siang seafood di dekat Pantai Talise

Setelah bermain-main dan menggosongkan kulit di pantai, kami mampir ke Rumah Makan Talise yang punya menu andalan kakap pedas asam gurih.  Rumah makan ini terletak di kawasan Pantai Talise yang tak jauh dari Palu.

Ada beberapa menu yang kami pesan. Yang paling khas di sini adalah sate ikan, nasi jagung, dan burasa (bubur beras ada rasa). Enak.

- Burasa

Kuliner Palu Burasa
Burasa.
Burasa sebenarnya berbentuk lontong yang dibungkus daun pisang. Orang Palu menyebut lontong sebagai bubur beras. Burasa ini dibuat dari beras yang ditanak dengan santan dan diberi bumbu. Katanya dulu burasa hanya disajikan saat hajatan adat Palu. Tapi sekarang jadi jajanan masyarakat di pasar tradisional.

- Nasi jagung

Kuliner Palu nasi jagung
Nasi jagung Palu atau disebut juga tinutuan.
Sementara nasi jagung ini kita sering bilang bubur manado. Kalau di Palu namanya tinutuan.  Ini adalah satu jenis kuliner Palu yang berbahan dasar jagung yang sudah dikeringkan lalu ditumbuk hingga sebesar biji beras. Biji jagung ini dimasak bersamaan dengan beras dengan beberapa tambahan bumbu dan sayur-sayuran. Rasanya ada manis-manisnya gitu dari jagung. Cocoknya makanan ini disantap untuk sarapan.

- Sate ikan

Kuliner palu sate ikan
Sate ikan.
Sama seperti sate ayam, sate ikan ini dihidang dengan tusuk sate yang sudah dibakar dan dibumbui. Aku lupa yang aku makan sate ikan jenis apa waktu itu. Tapi bumbunya meresap dengan baik.

- Palubutung

Oiya, belum afdhol ke Sulawesi Tengah kalau belum mencoba es palubutung. Jadilah aku memesan es palubutung sebagai menu penutup.  Sebenarnya aku sudah pernah coba es palubutung ini di Makassar. Makan es siang-siang dengan campuran tapai, pisang, dan taburan kacang tanah bikin badan kembali segar.

Kuliner Palu es palubutung
Es palubutung.
Soal rumah makan ini masih ada atau enggak, aku nggak yakin. Karena pesisir Kabupaten Donggala dan Kota Palu sudah berantakan disapu tsunami. Sedih juga, ya. Mudah-mudahan segera ada gantinya rumah makan yang baru.

5. Jembatan Ponulele Palu

Saat mendengar jembatan ini hancur diterjang tsunami, aku reflek membuka folder foto-foto di Palu dan mengingat kemegahan Jembatan Ponulele kebanggaan orang Palu. Warnanya kuning dan membentang panjang di atas Teluk Talise, menghubungkan kawasan Palu Barat dan Palu Timur. Katanya jembatan ini merupakan jembatan lengkung pertama di Indonesia dan ketiga di dunia setelah Jepang dan Prancis. Makanya warga Palu bangga banget dengan kemegahan jembatan ini dan jadi landmark Kota Palu. Nama lainnya Jembatan Palu IV yang baru diresmikan tahun 2006 (dan 2018 sudah hancur tak berbentuk).

Jembatan Ponulele Palu
Jembatan Ponulele Palu yang megah dulu.

Jembatan Ponulele Palu (2)
Si Manis Jembatan Ponulele.

6. Makan malam dengan kaledo

Ini nih makanan yang jadi favorit aku selama di Palu. Namanya kaledo, alias sup sumsum sapi. Makan kaledo asli di kota asalnya jauh lebih nikmat karena tidak amis dan gurih. Makin gurih lagi saat ditaburi bawang goreng Palu. Saat dihidang, ada 3 alat yang harus digunakan: sendok, pisau, dan sedotan. Iya, sedotannya untuk menghisap sumsum yang ada di dalam tulang sapi itu.


Kuliner Palu kaledo
Kaledo, kuliner terlezat di Palu.

7. Berburu oleh-oleh bawang goreng

Seperti yang kubilang di atas, Palu ini penghasil bawang merah yang beda dari bawang merah pada umumnya. Mereka mengklaim jenis bawang ini sebagai satu-satunya di dunia. Karena itu, oleh-oleh khas Palu pun bentuknya bawang goreng. Aku beli 2 bungkus. Lumayan untuk stok bumbu makanan di rumah biar makin gurih.

8. Menyeruput saraba dan barongko sambil menikmati penorama Teluk Palu malam hari

Di Palu juga ada saraba, minuman wedang dicampur susu kental manis. Memang paling cocok diseduh malam hari untuk menghangatkan diri. Apalagi kami saat itu sedang menikmati malam yang panjang di panorama Kota Palu. Tempatnya berada di dataran tinggi dan udaranya lebih dingin. Karena aku kurang suka minuman wedang, jadi menyeruput saraba kurang kunikmati. Minuman ini menghangatkan rongga dada dan perut, pas untuk orang masuk angin. Aku sempat mencamil barongko juga. Makanan ini termasuk jenis kue yang terbuat dari adonan telur, santan, gula, dan garam, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus. Jajanan Palu yang lumayan bikin perut kenyang.

Kuliner Palu barongko
Barongko.

wedang ala Palu saraba
Saraba.

9. Tugu Gong Perdamaian Nosarara Nosabatutu

Dulu Sulawesi Tengah memang pusat konflik khususnya Poso dan Sigi. Untuk menghindari konflik-konflik itu, akhirnya dibangunlah Taman Nosarara Nosabatutu (diambil dari semboyan suku Kaili, suku asli Palu) yang artinya bersaudara dan bersatu. Taman Nosarara Nosabatutu ini dijadikan taman edukasi bagi masyarakat Palu dan sekitarnya. Lokasinya ada di atas bukit dengan panorama kota dan Teluk Palu di bawah sana.

Ada satu bangunan tempat gong perdamaian diletakkan. Waktu kami ke sana, gong ini belum dipasang. Taman Perdamaian Nosarara Nosabatutu ini masih dalam tahap pembangunan. Beberapa bulan setelah kami ke Palu, gong yang diberi nama Gong Perdamaian Nusantara akhirnya dipasang. Gong ini adalah simbol semangat perdamaian NKRI dan ini adalah gong yang ke-sekian diresmikan di Indonesia, setelah Jepara, Ambon, Ciamis, Yogyakarta, Blitar, Kupang dan Singkawang.

Gong perdamaian Nosarara Nosabatutu
Panorama di Taman Perdamaian Nosarara Nosabatutu.

Gong perdamaian Nosarara Nosabatutu (2)
Ini sewaktu monumen menara obor perdamaian masih pembangunan.

Gong perdamaian Nosarara Nosabatutu (3)
Gong perdamaian di pasang di atas itu, lantai 2. Waktu itu belum diresmikan.
Selain itu, di kawasan taman perdamaian ini juga dibangun tugu perdamaian Palu yang berbentuk bangunan dengan menara obor di atasnya. Bangunan ini dibuat 3 tingkat yang melambangkan 3 hubungan manusia yang harus dijaga: hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan lingkungan. Lalu, di atap bangunan terbuat lambang semua tempat ibadah umat beragama yang ada di Indonesia. Setiap tingkatan di monumen ini dijadikan museum. Lantai 1 adalah museum perdamaian yang berisi ajaran kitab suci berbagai agama di Indonesia dan beberapa pesan moral yang membangkitkan persatuan. Lantai 2 adalah museum seni budaya Nusantara yang berisi barang kerajinan dari berbagai daerah. Lantai 3 adalah museum bahaya penyalahgunaan narkoba untuk meningkatkan responsibility masyarakat terhadap isu narkotika. Namun, dulu semua itu belum ada saat aku ke Palu tahun 2014. Tak lama setelah itu baru taman perdamaian, gong, dan tugunya diresmikan. Seketika tempat itu menjadi lokasi wisata warga Palu yang menarik.

Komplit, ya, isi Taman Perdamaian Nosarara Nosabatutu ini. Karena berlokasi di puncak bukit, taman ini jadi pusat evakuasi gempa dan tsunami. Jadi maknanya tidak hanya untuk perdamaian, tapi juga untuk keselamatan.

10. Bukit Cinta Palu

Sebelum pulang ke Jakarta, ada satu lagi destinasi yang wajib dimampiri: Bukit Cinta (muda-mudi) Palu. Kalau kami menyebutnya bukit teletubbies karena hijau sekali dan terdiri dari gugusan bukit. Pemandangannya aduhai sekali. Kenapa dinamakan Bukit Cinta? Tempat ini jadi tempat kumpul anak muda untuk menikmati panorama Teluk Palu. Jadi ada banyak tempat untuk menikmati panorama kota Palu dari ketinggian. Salah satunya, ya, Bukit Cinta ini. Mungkin ini jadi bukit evakuasi juga bagi korban gempa dan tsunami September lalu.

Bukit Cinta Palu
Bukit Cinta Palu.

Bukit cinta palu (2)
Bahagia berlarian di bukit teletubbies ini.

Bandara Mutiara Palu
Kami berfoto dengan Bang Yudi sebelum berpisah. Semoga Bang Yudi selamat dari bencana Palu kemarin. Aamiin.

11. Bandara Mutiara Palu

Bandaranya kecil waktu aku ke sana. Bangunan yang baru belum selesai dibangun. Bandara Mutiara Palu mengantar keberangkatan kami kembali ke Jakarta. Di bandara ini kami berpisah dengan satu teman kami yang merupakan orang Palu. Namanya Bang Yudi. Waktu itu dia semangat sekali memandu kami berjalan-jalan di kotanya. Entah apa kabar beliau sekarang pasca gempa dan tsunami. Mudah-mudahan baik-baik saja, sebaik kota Palu ini menyambut kami. Banyak sekali cerita tentang kota itu.

Itulah memoriku tentang Sulawesi Tengah, khususnya Palu dan Donggala. Mari kita kirimkan doa untuk teman-teman, sahabat, dan kerabat kita yang jadi korban gempa dan tsunami di sana. Semoga pembangunan kembali Kota Palu dan Kabupaten Donggala serta kawasan di sekitarnya dapat berjalan lancar. Masyarakat yang trauma kembali pulih dan semangat.



*Foto-foto perjalanan selama di Palu dan Donggala dijepret oleh teman-teman fotograferku: Mas Masrur, Koh Rendy, Mas Sandi, Kak Upin Arifin.

Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In Movie Land

Sajian Film Aruna dan Lidahnya Selezat Lorjok dan Bakmi Kepiting

Bulan September memang banyak film Indonesia bagus yang tayang di bioskop. Aku jadi keseringan piknik di bioskop, nih, menambah inspirasi dan membahagiakan diri. Sudah lama aku menunggu Aruna dan Lidahnya ini tayang. Satu film yang mengangkat kuliner Nusantara yang otentik menurutku. Aruna dan Lidahnya menjadi drama komedi yang sukses bikin lapar dengan berbagai gambar makanan yang tersaji. Makanan ini tak hanya jadi penghidang properti, tetapi menjadi topik utama di sepanjang film.

Kalau kamu tak percaya, silakan tonton filmnya sendiri. Buat yang sudah pernah baca novel Aruna dan Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak, lupakan segala hal berat menyangkut konflik konspirasi di dalam novel itu. Karena film ini diadaptasi secara bebas dengan mengambil satu bagian yang menjadi penguat cerita. Jadi, lupakan yang berat-berat dari novelnya, ya, karena Dian Sastro dan Nicholas Saputra akan mengajak kita kulineran ke beberapa tempat: Surabaya, Madura, Pontianak, dan Singkawang. Ada Hannah Al Rashid dan Oka Antara yang memperkuat chemistry kita dengan makanan Nusantara. Ah, aku suka sekali film ini, dikemas dengan komedi santai dan tergelitik dengan beberapa ekspresi Dian Sastro alias Aruna yang praktis viral menjadi meme lucu di social media. Tak sedikit yang berkomentar kalau Dian Sastro ini jadi ratu meme Indonesia karena ekspresi dan dialognya di beberapa film box office-nya bisa dikatakan 'petjah'.

"Ada apa, ya, sebenarnya?"

Kalau kamu sudah nonton, pasti tidak asing dengan dialog yang diucapkan Aruna di pinggir jalan di kawasan Singkawang. Iya, ada apa, ya, sebenarnya dengan film ini? -dengan menirukan ekspresi Aruna.

Review Film Aruna dan Lidahnya (5): Source: news.bbmessaging.com

Aruna dan Lidahnya Film (4). Source: http://hiburan.metrotvnews.com/
Mereka sedang mencicipi lorjok, makanan khas Pamekasan, Madura. (Source: ini)

Review Film Aruna dan Lidahnya. Source: https://id.bookmyshow.com/
Aruna dan teman-temannya lagi makan malam di Surabaya. (Source: ini)
Review Aruna dan Lidahnya (8). Source: https://www.idntimes.com
Aruna, Bono, dan Nad makan soto lamongan di Surabaya. (Source: ini)

Aruna merupakan wanita karier yang masih jomlo. Ia adalah seorang konsultan ahli wabah yang sedang jenuh dengan pekerjaannya. Apalagi dia ditolak berangkat ke Jaipur lantaran sudah ada konsultan yang menggantikannya. Bono (Nicholas Saputra) yang merupakan seorang chef mencoba menghibur Aruna dengan membuatkan masakan beraroma India. Tapi entah kenapa, selera lidah Aruna kala itu tak seperti biasanya. Lebih hambar dan selalu kurang pas dengan rasa. Ia tampak lebih sering gelisah, entah karena apa. Di rumahnya, Aruna memasak nasi goreng sesuai resep dari mboknya, tapi rasanya tetap tak sama. Hmm, akhirnya  Bono ambil tindakan. Hidup Aruna terlihat hambar seperti makanan yang ia makan. Sebagai sahabat yang baik, Bono mengajak Aruna cuti biar mereka bisa kuliner di luar kota, mencoba banyak rasa, dan mendefinisikan rasa itu pada perjalanan hidup mereka.

Seperti gayung bersambut, ternyata Aruna dikirim ke beberapa daerah untuk investigasi virus flu burung yang mewabah di Surabaya, Pamekasan, Pontianak, dan Singkawang. Serta merta, Bono ikut dalam perjalanan dinas Aruna itu dengan tujuan berbeda: makan-makan. Ternyata di Surabaya mereka tak sendiri. Aruna disupervisi oleh Farish (Oka Antara) selama investigasi. Sementara Bono juga mengajak Nadezhta (Hannah Al Rashid) yang ikut menyusul kuliner trip mereka. Kebetulan, Nad juga seorang penulis tentang masakan dan merupakan teman lama Bono dan Aruna. Siapa sangka, perjalanan dinas + makan-makan itu pakai bumbu baper di antara mereka. Faris adalah cinta lama Aruna yang sudah ia kubur dalam-dalam, sementara Nad juga jadi cintanya Bono yang selama ini tak pernah ia ungkapkan. Ya, apakah sejuta rasa makanan yang dicecap oleh lidah mereka mampu mengantarkan 4 tokoh ini jujur pada rasa di hati? Biar nggak naksir-naksir sebel ala Aruna ke Faris, gitu.

Aku menyukai setiap filosofi yang diantar film ini lewat makanan. Seperti film Filosofi Kopi, Aruna dan Lidahnya menjadi trade mark baru dalam film Indonesia yang mengangkat sajian kuliner berbagai bentuk. Makanan seketika menjadi satu karakter sendiri yang seakan punya cerita di setiap suapnya. Sup buntut buatan Aruna di awal film menjadi menu pembuka. Belum apa-apa, perut ini terasa menggelepar. Coba saja saat nonton, makanan itu benar-benar disajikan secara nyata, ya. Dari belasan makanan, yang paling juara dan sangat ingin kucoba adalah lorjok dari Madura, bakmi kepiting Pontianak, pengkang di Singkawang, dan choipan. *lap iler.

Review Film Aruna dan Lidahnya (2). Source: https://id.bookmyshow.com/
Aruna dan Farish makan choipan di Singkawang. (source: ini)

Review Film Aruna dan Lidahnya (3). Source: https://jakartaglobe.id
Aruna dan sahabatnya makan bakmi kepiting Pontianak. (Source: ini)
Review Aruna dan Lidahnya (7).
Aruna, Bono, dan Nad sedang mencoba pengkang di Singkawang. (Source: ini)

Review Aruna dan Lidahnya (6)
Adegan gosip di kamar hotel sambil ngemil. (Source: ini)

Secara keselurahan, kemasan film ini menarik. Memang tak melulu tentang makanan, tetapi makanan selalu ada di setiap langkah, obrolan, bahkan konflik, khususnya yang menyangkut Aruna. Dan, semua yang terhidang di dalam layar sangat relate dengan kehidupan banyak orang. Bagaimana Aruna dan teman-temannya menggosipkan orang lain di kamar hotel sambil ngemil. Ini part juara sih. Bono, Aruna, dan Nad sebegitu naturalnya menggosipkan Farish yang ada di kamar sebelah. Siapa yang tidak pernah bergosip seperti ini? Apalagi saat traveling. Pasti banyak, kan yang relate sama adegan ini. Lalu, saat mereka berbicara tentang pekerjaan dan pacar, bahkan tentang hidup. Duh, itu sudah makanan sehari-hari orang kantoran, bukan, sih? Nah, sajian-sajian seperti ini yang ada di film Aruna dan Lidahnya. Nggak terlalu serius, tetapi bukan komedi yang sengaja dibuat-buat. Jadi, kita bisa bertahan menonton sampai film habis.

Meskipun permasalahan konspirasi kantor dan pekerjaan Aruna yang mengarah pada korupsi tidak diasah lebih jauh, Aruna dan Lidahnya tetap menarik. Ekspresi-ekspresi Aruna banyak macamnya. Belum lagi Nad yang entah kenapa kadang bikin kesal, tapi juga bikin sayang. Film ini lebih kurang tentang persahabatan orang 30-an yang kadarnya manis-asin-asam yang sama-sama akhirnya menemukan pencarian hidup mereka dalam perjalanan. Atau bisa juga menjadi sebuah perjalanan yang membuat hidup mereka berubah. Lidah Aruna yang tadinya hambar kini telah diisi dengan banyak rasa. Bono, Nad, dan Farish yang membawanya merasakan banyak pelajaran hidup itu. Untuk pertanyaan apakah mereka akhirnya hidup bahagia dengan pasangan masing-masing atau malah bertukar pasangan? Silakan tonton sendiri, ya. Asyik, kok.

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Journey Land

Jelajah Sumbawa (I), Sambutan Hangat dari Poto Tano

"Aku ingin ke Sumbawa," ucapku sekenanya saat berbincang dengan Junisatya tentang rencana traveling berikutnya.

Lalu, di lain kesempatan, teman seperjalananku sekaligus partner kerja terbaik yang sering mentraktirku makan juga sempat mengirim pesan lewat Whatsapp suatu hari, "Kita jalan ke mana gitu, yuk. Masa tahun ini nggak ada rencana jalan bareng."

Perbincangan singkat bersama Junisatya dan Ry Azzura itu berakhir di sebuah warung kopi awal tahun 2018. Tahun lalu kami berangkat ke Ubud dan Nusa Penida bareng, tahun ini pun kami merencanakan destinasi yang berbeda. Awalnya Ry bilang ingin ke Yogyakarta atau Malang. Lalu kupikir-pikir, kenapa tidak merealisasikan keinginanku untuk menginjak tanah Sumbawa. Bukan Sumba, ya. Sumbawa itu di Nusa Tenggata Barat, sementara Sumba itu di Nusa Tenggara Timur. Bukannya aku nggak pengin ke Sumba, tapi Sumbawa juga tak kalah menarik kok. Siapa tahu, setelah ini aku beneran bisa ke Sumba. Aku ingin menjelajahi Pulau Kenawa dan ingin berenang-renang di kolam legendaris Mata Jitu di Pulau Moyo.

Akhirnya semua setuju dengan usulku untuk menjelajah Sumbawa. Rara, teman kantor Ry sekaligus geng renangku di Bumi Wiyata Depok ikut bergabung bersama kami kali ini. Dan, lagi-lagi perjalanan kami ini tidak menggunakan tour agent mana pun. Modal nekat aja dengan persiapan yang kurang lebih hampir 6 bulan. Kami merancang itinerary, bikin tabungan trip bersama, hingga berharap dapat tiket promo ke Lombok. Anyway, sangat sedikit info tentang detail perjalanan ke Sumbawa. Kalau pun ada, informasinya masih kurang jelas. Karena itulah, aku berbagi di sini, berbagi tentang indahnya Sumbawa dan bagaimana bisa menjelajahi tanah itu.

Sampailah kami pada Agustus 2018, sesuai dengan yang kami rencanakan. Pesawatku mendarat di Lombok International Airport yang kini berganti nama jadi Zainuddin Abdul Madjid International Airport. Duh, kenapa nama bandaranya jadi panjang, ya? Susah untuk menghafal nama bandara pakai nama pahlawan lokal ini. Tapi, tak apa, hitung-hitung bisa mengenal nama tokoh yang mendirikan organisasi Islam terbesar di Lombok zaman dulu kala.

Saat aku turun pesawat, di sekitarku banyak sekali orang mengenakan rompi, kayak wartawan. Siapa ya mereka? Kami sama-sama menunggu barang dikeluarkan dari bagasi. Agak lama dari biasanya. Oh, aku baru mengerti, tentu saja, saat itu Lombok sedang berduka. Beberapa hari sebelum aku sampai di sana, Sembalun dan sekitar Lombok Utara dirundung gempa bumi hingga 6,4 SR. Gempa yang cukup besar hingga beberapa bangunan rusak kulihat dari berita di TV dan media sosial. Orang-orang berompi ini adalah para relawan dari berbagai instansi yang membawa barang-barang sumbangan yang akan didistribusikan ke camp-camp pengungsian. Jadi bukan wartawan, melainkan relawan.

Gunung Rinjani dari Pelabuhan Kayangan Lombok. Source: jurnaland.com

Gunung Rinjani dari kapal ferry. Source: jurnaland.com

Saat aku keluar di pintu kedatangan, banyak turis mancanegara yang duduk santai bahkan tiduran di pelataran bandara. Ramai sekali. Tidak biasanya bandara Lombok jadi penuh. Rupanya sebagian besar para turis asing ini sedang menunggu jadwal penerbangan masing-masing untuk evakuasi keluar dari Lombok. Ketika orang-orang ingin terbang meninggalkan pulau ini, aku bersama teman-teman traveling-ku baru saja sampai di sini. Memang awalnya kami sempat ragu untuk berangkat, terutama seorang temanku yang bernama Ry Azzura. Dia khawatir perjalanan ke Sumbawa yang sudah kami rancang berbulan-bulan itu tidaj kondusif. Tapi  entah karena tekad atau nekat, kami tetap berangkat dengan segala pikiran positif di dalam kepala, bahwa semua akan baik-baik saja.

Kami langsung memesan taksi online yang bisa mengantar kami langsung ke Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur. Lumayan jauh perjalanannya sekitar 2 jam. Selama 2 jam itu pula kami memanfaatkan waktu untuk tidur atau sekadar melihat-lihat sepanjang jalan.

Sepanjang jalan itu pula sopir kami bercerita bahwa sebagian bangunan di Lombok Utara rubuh dan rusak parah. Sudah 3 hari berlalu tapi banyak juga korban yang belum mau pulang ke rumahnya (bagi yang rumahnya masih utuh). Sebagian masih trauma, takut ada gempa besar lagi karena dalam 2 hari itu sudah ada ratusan gempa susulan. Sedih mendengarnya. Apalagi saat memasuki kawasan Lombok Timur, aku dapat melihat langsung tenda-tenda pengungsian yang didirikan seadanya di halaman sekolah, masjid, bahkan di depan kantor dinas pemerintah. Semoga mereka baik-baik saja, ya. Melihat banyaknya relawan yang satu pesawat denganku dari Jakarta, hatiku lega. Bantuan tiba tepat pada waktunya. Dan banyak yang mengapresiasi kesigapan relawan lokal yang mengevakuasi masyarakat. Alhamdulillah.

Aku sempat khawatir dengan jadwal kapal ferry untuk menyeberang ke Sumbawa. Untungnya sopir taksi online itu menenangkan. Semua transportasi sudah beroperasi normal. Jadi jadwal kapal pun aman. Begitu sampai di pelabuhan Kayangan, aku langsung membeli tiket kapal untuk kami berempat. Satu tiketnya seharga Rp17.000,00. Kapal berangkat setiap setengah jam sekali. Sebelum naik kapal, kami menyempatkan diri makan siang di sebuah warung makan yang menjajakan banyak makanan laut. Enak dan murah. Kalau kata Ry, beli apa saja di warung itu harganya tetap Rp20.000,00.

Suasana Pelabuhan Kayangan begitu tenang. Kata ibu warung, sebagian masih trauma sama gempa. Pelabuhan Kayangan ini berseberangan langsung dengan Gunung Rinjani. Jadi guncangan gempa sangat terasa. Saat aku menaiki kapal, aku melihat kemegahan Rinjani. Tak menyangka, para pendaki di sana ikut dievakuasi turun beberapa hari sebelum ini. Rinjani melepas kapal kami yang perlahan pergi meninggalkan Lombok. Semoga tetap aman, ya Rinjani, semoga tetap tentram, ya Lombok. Begitu iringan doaku kala berlayar siang itu.


Jelajah Sumbawa, Sambutan Hangat dari Poto Tano. Source: jurnaland.com

Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat. Source: jurnaland.com

Pelabuhan Poto Tano Sumbawa Barat (2). Source: jurnaland.com

Geng traveling ke Sumbawa. Source: jurnaland.com

Kami meninggalkan Pulau Lombok dengan syahdu. Setelah 2,5 jam naik ferry, kami merapat di Pelabuhan Poto Tano. Dan, begitu turun kapal, panorama bukit-bukit gersang tapi cantik terhampar di depan mata. Ya ampun, aku tak menyangka Poto Tano secantik ini. Jika sebelumnya pelabuhan Kayangan menawarkan kemegahan Rinjani yang kaki gunungnya menyentuh laut, Poto Tano malah menyambut kami dengan segala eksotika tak terkira. Ya, ya, mungkin aku berlebihan. Tapi kalau kamu ada di sana dan melihat langsung bukit gersang menguning serta perairan jernih di bawahnya, kamu akan paham bahwa inilah yang kamu butuhkan. Heaven on earth.

Dengan menyandang ransel di punggung dan menenteng stok makanan, kami berjalan ke arah pintu keluar pelabuhan hendak menyewa pick up yang mau mengantar ke Bukit Mantar. Ke sanalah tujuan kami sesungguhnya. Satu bukit dengan panorama yang indah ke arah barat. Agak susah mencari tumpangan di pelabuhan karena banyak calo berkeliaran menawarkan kami mobil sewaan dengan harga tidak rasional. Kami sempat kebingungan dan akhirnya mampir di sebuah warung untuk istirahat. Kami sekalian numpang bebersih badan yang sudah lepek, numpang men-charging hape karena sebentar lagi kami akan berada di kawasan yang tidak ada listrik dan air bersih.

Untungnya kami bertemu dengan seorang teman yang merupakan orang Bima tapi pernah tinggal di Jakarta. Ia memberikan kontak penyewaan ranger yang bisa antar-jemput ke Bukit Mantar. Sekarang transportasi ke sana cuma bisa pakai pick up. Dulu masih ada ojek, tetapi sudah dilarang karena ada kejadian motor jatuh ke jurang saat melewati tanjakan berliku di lereng bukit. Dengan menyew Rp400.000 untuk antar-jemput, kami menaikkan semua perlengkapan ke atas pick up. Percayalah, jalanan ke Bukit Mantar tidaklah ramah. Kami terguncang-guncang hebat di atas pick up, terguncang sambil melihat penorama cantik.

Saat menaiki pick up itu, kami masih bebas berdiri dan heboh sendiri melihat gugusan bukit gersang di pinggir laut. Inilah yang kucari, pemandangan yang membebaskan beban pikiran, bahkan beban ransel pun teringankan. Angin senja menyapa. Sesekali aku berteriak saat melewati jalanan berkelok dan disambut dengan bukit-bukit lainnya. Namun, kesenangan itu hanya sementara. Begitu tanjakan mulai terasa berat dan jalanan mulai tak karuan rusaknya, kami mulai tertawa-tawa karena tak bisa memotret dengan baik dalam keadaan kendaraan yang bergerak terus. Setiap ada jalan berlubang, di sana pulalah kami bersorak. Seseru itu. Baru hari pertama di sana, Sumbawa sudah memberikan suguhan cerita perjalanan yang sungguh menarik untuk kubagi di blog ini.







Kami melewati desa budaya Mantar sebelum sampai ke puncak. Desa Mantar sungguh kecil dan kebanyakan terdiri dari rumah panggung. Kami melintasi jalanan kampung itu sambil dilihat oleh beberapa warga yang senyum-senyum melihat kami. Tak jauh dari sana, ada tanjakan lebih terjal dan berkelok hingga sampai ke sebuah dataran. Inilah yang dinamakan panorama Bukit Mantar. Hari sudah sangat senja. Pemandangan di bawah kami tampak keemasan dijilat matahari.

Tak mau berlama-lama karena sama sekali tidak ada penerangan di atas sana, kami langsung mendirikan tenda. Iya, tenda di pinggiran panorama Bukit Mantar. Hanya kami saja, bersama bapak penjaga camping ground yang tinggal tak jauh dari sana. Rupanya saat kami menghubungi ranger untuk menyewa pick up-nya, sang ranger sudah memberi tahu soal kedatangan kami kepada bapak penjaga camping ground, sekaligus menitipkan kami yang cuma berempat ini. Katanya, ranger akan menjemput kami untuk turun besok pagi. Oke, dengan senang hati, Pak.



Kami membawa 2 tenda dan didirikan berdampingan menghadap panorama. Ketika gelap merayap, aku mengeluarkan lampu emergency mini sebagai penerangan kami. Lalu kami menggelar tikar kecil yang dipinjamkan oleh ranger yang mengantar kami. Katanya untuk duduk-duduk di luar tenda menikmati bintang. Ah, ya, milky way, itu yang kami tunggu. Semoga cahaya-cahaya kecil dari permukiman di bawah sana tak mengganggu saat kami mengabadikan milky way dalam lensa.

Lanjut baca : Jelajah Sumbawa (II): Salam dari Bukit Mantar
 

Hal yang harus kamu tahu sebelum kemping di Bukit Mantar

1. Sewa pick up Rp400.000/pp.
2. Beli bekal makanan dan minuman di pelabuhan Poto Tano.
3. Jika ingin bebersih, ada kamar mandi di camping ground yang bisa digunakan bergantian. Tidak bisa buat mandi karena stok air bersih terbatas. Bayar Rp5.000 per orang untuk penggunaan air bersih.
4. Ada colokan di pondokan. Disarankan bawa colokan T atau kabel rol kecil untuk menge-charge gadget. Bayar Rp5.000 per item untuk penggunakan listrik.
5. Bayar jasa Pak penjaga camping ground seikhlasnya. Bapaknya baik, mau bantu kami mendirikan tenda gelap-gelapan.

Read More

Share Tweet Pin It +1

20 Comments