In Story Land

Support Pelaku UKM dengan Dana Awal Rp100.000

Tahu nggak, hal positif apa yang terjadi selama pandemi Covid-19 dan kita semua membatasi diri untuk beraktivitas di luar? Aku lebih banyak belajar hal baru. Salah satunya belajar tentang keuangan, bisnis, dan modal usaha. Mau nggak mau, di tengah pandemi yang belum juga berakhir ini, banyak usaha kecil yang akhirnya gulung tikar. Namun, hebatnya, banyak juga usaha baru yang bermunculan. Beberapa teman yang tadinya nggak mengerti tentang bisnis, jadi mulai membuka usaha kecil-kecilan, entah itu di bilang kuliner, fashion, pernak-pernik, stationary, bahkan jasa. Aku sendiri pernah memulai usaha di bidang travel agent tapi harus berhenti sementara karena sektor wisata benar-benar genting sejak pandemi Covid-19.

Ketika aku banyak browsing tentang modal usaha, aku mendarat di website akseleran yang merupakan start up bidang fintech yang menerapkan Peer to Peer (P2P) Lending. Awalnya aku belum paham tentang konsep P2P Lending ini. Setelah membaca banyak tentang bisnis, oh, jadi P2P Lending mempertemukan pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dengan pemilik modal yang ingin meminjamkan dananya dalam satu aplikasi yang bisa dimonitor. Sistemnya lebih seperti patungan pinjam-meminjam sehingga siapa pun bisa memberikan pinjaman modal.

Support Pelaku UKM dengan Akseleran
Support Pelaku UKM dengan Akseleran (3)


Akseleran sendiri khusus memberikan pinjaman untuk para pelaku UKM. Jadi cocok buat orang-orang yang ingin membuka usaha kecil-kecilan, tentu dengan beberapa syarat khusus. Contohnya, sudah memiliki badan usaha, sudah berjalan dan punya laba bersih selama 1 tahun. Akseleran sangat mempermudah urusan untuk pinjam-meminjam modal usaha. Bisa lewat website, bisa pula lewat aplikasinya. Alurnya terbagi dua, pengguna sebagai peminjam atau pelaku usaha UKM (Borrower) dan pengguna sebagai pemberi pinjaman atau pemodal (Lender).

Akseleran menangkap fenomena tentang banyak UKM yang kesulitan mendapatkan modal usaha, sementara ada banyak pula pemilik dana yang ingin join tapi tidak tahu menyalurkannya ke mana. Dengan menggabungkannya dalam satu aplikasi, tentu ini akan mempermudah kedua pihak itu bertemu. Ada sistem imbal hasil bagi pemberi pinjaman.

Dengan membaca banyak tentang P2P Lending dan Akseleran, aku mulai tertarik untuk ikut serta sebagai pemberi pinjaman. Menggunakan Akseleran untuk memonitor dan menyaring jenis usaha yang mau kita support juga sangat mudah. Dan, yang paling menyenangkan lagi adalah kita bisa memulai dengan dana Rp100.000. Tentu nggak berat, kan.

Ini beberapa kelebihan menggunakan Akseleran sebagai pemberi pinjaman.

Support Pelaku UKM dengan Akseleran

Support Pelaku UKM dengan Akseleran (2)


  1. Imbal Hasil hingga 21% per tahun
  2. Prosedurnya mudah, yang penting saat registrasi kita memasukkan data dengan benar dan membaca kontrak yang sudah diberikan pihak Akseleran. Setelah itu, kita bisa melihat-lihat campaign pinjaman yang sedang berlangsung. Kita bisa ikut serta di satu campaign sesuai bidang industri yang dipilih.
  3. Transaksi aman dan terpercaya
  4. Pengajuan pinjaman di Akseleran sudah melalui tahap seleksi.
  5. Nominal pemberian pinjaman mulai dari Rp100.000 (tidak berlaku kelipatan)

Ada program kode referal yang dapat disebar untuk membantu menyebarkan kelebihan Akseleran kepada yang lain. Dengan kode referal ini, pengguna baru akan dapat saldo Rp100.000, sehingga pengguna lain bisa memulai transaksi dan belajar tentang dunia bisnis dan modal dari aplikasi ini. Untuk kamu yang ingin mendapatkan free saldo senilai Rp100.000, kamu bisa masukkan kode referal AKSLSULUNG367818, dana tersebut bisa langsung kamu berikan pinjaman ke UKM yang sedang menggalang dana di Akseleran. Mudah, kan?

Oiya, untuk free saldo ini hanya berlaku selama 7 (tujuh) hari sejak kamu melakukan registrasi. Well, yuk mulai dari sekarang kembangkan dana selain mendapatkan bunga hingga mencapai 21% per tahun tapi dengan dana kecil kita sudah membantu roda perekonomian bangsa.

Selain kita bisa men-support para pelaku usaha dan memajukan ekonomi, apalagi di tengah pandemi ini, kita juga bisa belajar berinvestasi dan jeli terhadap banyak peluang. Transparansi yang dilakukan Akseleran, tentu tidak membuat penggunanya waswas. Saat kita mulai memberikan dana kepada salah satu badan usaha atau ikut salah satu campaign pinjaman di dalam aplikasi, dana kita akan dikumpulkan bersama pemberi dana yang lain sesuai permohonan pinjaman. Jika tidak mencukup nominal target 80%, dana akan kembali ke saldo si pemberi pinjaman. Jadi uang kita nggak serta merta hilang. Kita bisa menyaring dan mengeceknya di dalam aplikasi Akseleran.

Semua orang dituntut untuk produktif saat ini, putar otak jungkir balik untuk mempertahankan cash flow keluarga. Apalagi bagi UMKM dan pedagang kecil. Meski selama PSBB kemarin, restoran dan pelaku usaha di bidang kuliner menjadi salah satu bidang yang diizinkan tetap buka, tapi tentu kondisinya tak senormal biasanya. Kecemasan masyarakatlah yang mengubahnya. Aku rasa belajar bisnis dari rumah dan menggunakan Akseleran sebagai wadah berinvestasi jenis P2P Lending tentu akan menambah wawasan dan support laju perekonomian kita. Jangan sampai pandemi justru membuat kita ragu untuk memulai.


Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Movie Land

Time-Travel-Date ala K-Drama The King: Eternal Monarch

Drama Korea membuatku waras selama pandemi Covid-19 dan PSBB Jabodetabek. Setelah nggak bisa ke mana-mana, drama pulang terpaksa dari perjalanan Singapura-Langkawi, batal stay di Kuala Lumpur untuk satu pekerjaan, dan alhasil, sampai tulisan ini diterbitkan, aku belum ada rencana traveling ke mana pun. Sejumlah rencana harus diurungkan karena Covid-19 masih merajalela.

Untung kewarasanku masih terjaga berkat tontonan bioskop kecil di rumah ini. Setelah dipikir-pikir, sudah 4 bulan aku nggak nonton di bioskop. Sekarang semua berpindah ke aplikasi streaming. Drama Korea untungnya tetap seperti biasa, menayangkan tontonan seru. Anyway, aku bukan anak baru di drama Korea ya. Aku udah nonton sejumlah judul drakor yang bagus-bagus itu selama 2 tahun terakhir. Jadi udah nggak asinglah dengan alur cerita drama korea yang ajaib-ajaib, percaya reinkarnasi, budaya minum soju dengan ayam goreng, sampai kode-kode cinta yang tersimpan dari semangkuk ramyeon.

Sayang juga ya kalau aku cuma duduk lalu nonton tanpa cuap-cuap di sini. Mumpung lagi puasa traveling, aku mau bahas drama Korea yang baru aja tamat, The King: Eternal Monarch. Biasanya aku review film sih di blog ini, tapi mau coba bahasa drakor juga sekalian ah. Soalnya begitu nonton The King: Eternal Monarch di episode pertama, aku langsung terpikat dengan plot dunia paralel yang imajinatif banget.

The King: Eternal Monarch


Cerita yang Imajinatif dengan Manpasikjeok (Seruling Pusaka Ajaib)

Plot dasar The King: Eternal Monarch adalah adanya dua dunia paralel dan bagaimana beberapa orang yang berwajah mirip dari dua dunia itu mulai bertemu dan bahkan bertukar tempat. Cerita berawal dari Lee Rim (diperankan dengan sangat apik oleh Lee Jung Jin), salah satu keluarga Kerajaan Corea yang telah membunuh rajanya sendiri demi mengambil seruling ajaib (Manpasikjeok) yang menjadi benda pusaka kerajaan turun-temurun. Namun, pemberontakan itu digagalkan oleh Lee Gon yang merupakan anak raja dengan mematahkan seruling menjadi 2. Lee Rim berhasil membawa belahan seruling itu dan kabur dari istana.

Manpasikjeok dipercaya sebagai benda yang jika ditiup akan membuat dunia sejahtera dan penuh keseimbangan. Lee Rim sudah lama mengincar seruling pusaka ini karena ia bukannya mengincar tahta kerajaan yang akhirnya jatuh ke tangan Lee Gon kecil. Ia mengincar keabadian dan dapat menguasai dunia. Sesuatu yang lebih besar dari sekadar menguasai Kerajaan Corea.

Drama Korea The King: Eternal Monarch

Sementara itu, Lee Gon yang masih berusia 8 tahun langsung diangkat menjadi raja setelah upacara pemakaman ayahnya. Pada saat bersamaan, Lee Rim sudah menemukan keajaiban belahan serulingnya, ia menyeberang ke dunia lain, Republik Korea. Lee Rim pun menyadari bahwa di dunia lain itu ia mengenali wajah-wajah yang sama dengan peran dan nasib berbeda. Ia mulai bermain di sana, menukar-nukar beberapa wajah untuk dibawa ke Kerajaan Corea layaknya pion-pion catur dan membunuh salah satunya. Itu terjadi selama 25 tahun. Selama itu pula ia telah membunuh kembarannya di Republik Korea dan mengirim mayatnya ke Kerajaan Corea, sehingga ia dapat dinyatakan meninggal biar tidak terus-terusan jadi buron kerajaan. Namun, tidak bagi Lee Gon (diperankan oleh Lee Min Ho).

Plot drama ini mengambil dunia paralel sebagai pusat sumbunya. Sejauh ini belum ada K-drama yang pernah kutonton mengambil jalan cerita seperti ini. Biasanya plot drama Korea yang paling sering diangkat berkisar tentang kehidupan masa lalu dan reinkarnasi masa kini. Lalu tokoh yang hidup sekian ratus tahun untuk menebus dosanya atau menemukan jodohnya. Ada juga plot drama tentang dunia nyata dengan dunia komik. Serupa tapi tak sama, The King: Eternal Monarch justru menyuguhkan perbedaan dunia Republik Korea dengan Kerajaan Corea pada garis waktu yang sama. Ini juga sekaligus membayangkan apa jadinya ya Korea kalau berjalan dengan sistem kerajaan? Apa jadinya juga ya Korea jika tidak terpecah antara Korea Utara dan Korea Selatan. Soalnya di dunia Kerajaan Corea, negeri Korea menyatu. Berbeda dengan Republik Korea yang cuma punya wilayah Korea Selatan. 

Dengan garis cerita dunia paralel, bumbunya pun seperti biasa, ada kisah cinta yang dalam antara dua orang beda dunia itu. Lee Gon bertemu dengan Jung Tae Eul (diperankan oleh Kim Go Eun) ketika nggak sengaja menemukan gerbang dunia paralel berkat bilah Manpasikjeok. Lee Gon yang merupakan raja di Kerajaan Corea dan punya misi memburu Lee Rim di kedua dunia itu harus mengahapi kisah romansa yang rumit dengan Jung Tae Eul yang merupakan Letnan di kantor polisi Seoul, Republik Korea. Masalahnya, Jung Tae Eul juga memburu kasus pembunuhan dan orang hilang yang jika dirunut, ternyata disebabkan oleh Lee Rim.

Menarik, kan, plotnya. Bikin greget. Misteri dan kisah detektif menjadikan The King: Eternal Monarch melekat dan ditunggu-tunggu.

Jo Eun Sup Menjadi Scene Stealer

Keberadaan Jo Eun Sup (dimainkan oleh Woo Do Hwan) yang mirip dengan pedang abadi sang raja di Kerajaan Corea menjadi bumbu komedi di The King. Tanpa Jo Eun Sup, mungkin The King akan jadi drama serius antara Lee Gon, Lee Rim, dan Jung Tae Eul.

Review Drama Korean The King: Eternal Monarch 2

Review Drama Korean The King: Eternal Monarch 3

Adegan paling kusuka adalah saat Jo Eun Sup bertemu pertama kali dengan Jo Yeong yang diajak Lee Gon melintasi gerbang dunia paralel. Mereka bertemu di rumah Jung Tae Eul. Lalu, Jo Yeong ditugaskan untuk tinggal beberapa waktu di Republik Korea untuk mengintai Lee Rim dan antek-anteknya. Sementara Jo Eun Sup menggantikan perannya jadi pengawal di Kerajaan Corea. Sungguh pertukaran yang tidak menguntungkan untuk image Jo Yeong yang teramat serius dan tangguh dalam beladiri di istana. Belum apa-apa, Jo Eun Sup sudah kena tembak saat menyelamatkan sang raja dari anak buah Lee Rim.

Jo Eun Sup yang terluka masih bisa membuat alur cerita menjadi sedikit ringan dengan tingkahnya di rumah sakit. Lucu sekali. Jo Eun Sup memang tak bisa beladiri, tapi dia sangat pintar dalam strategi dan menyintas program. Ia bisa membuka password laptop Jo Yeong yang merupakan bagian dari keamanan data istana. Ia juga berhasil menjebak anak buah Lee Rim saat akan menikamnya di rumah sakit berkat ia menemukan alat penyadap di ruang rawatnya. Hebat, ya. Ia dihadiahi masker topeng raja dan dibelikan mobil mewah setelah 'perjalanan dinasnya' ke Kerajaan Corea selesai.

Lucunya, Eun Sup sendiri tidak pernah berhasil lulus tes driving untuk mendapatkan SIM. Katanya, ia sulit menentukan arah belok karena jadi laki-laki itu berjalan lurus. Well, kebayang kan Jo Yeong emosi menghadapi kembaran dua dunia ini. SIM-nya justru didapatkan oleh Jo Yeong yang mengikuti serangkaian tes saat ia berada di Republik Korea dengan menggunakan identitas Eun Sup. Btw, nggak cuma wajah yang mirip, sidik jari dan DNA mereka juga sama. Jadi, gampang bagi mereka bertukar peran beda dunia. 

Adanya Teori Lintas Waktu

Di 3 episode terakhir, kita nggak cuma akan melihat alur orang yang melintasi gerbang berkat seruling ajaib yang dipegang Lee Gon dan Lee Rim. Kita disuguhi kejutan baru tentang seruling ini. Jika utuh, seruling pusaka ini bisa membuka gerbang lintas ruang dan waktu sekaligus.

Kebayang kan mengapa Lee Rim tega berkhianat pada keluarganya sendiri demi bisa mendapatkan Manpasikjeok. Rasanya nyawa orang lain tidak ada harganya lagi. Lee Rim membutuhkan keabadian. Terlihat dari dia yang awet muda selama 25 tahun. Selama seruling ajaib itu terbelah, ruang di antara 2 gerbang yang terbuka menjadi ruang yang disebut Lee Gon 'ruang dimensi 0'. Di sana waktu berjalan sangat lambat, tanaman tidak tumbuh, dan udara tidak bergerak. 

Review The King: Eternal Monarch

Lee Gon pernah harus terjebak di dalam ruang dimensi 0 saat ia terjebak di masa lalu. Ia harus menunggu selama 25 tahun waktu dunia normal. Itu artinya, menurut hitungannya, ia akan berada di ruang dimensi 0 selama 4 bulan lebih. Selama berada di sana, Lee Gon harus menghitung lompatan waktu dengan cermat jika ingin kembali ke masa kini.

Masalah lain yang ditimbulkan oleh Manpasikjeok yang terbelah ini adalah adanya sumbu ruang dimensi 0 yang membuat setiap orang yang melewati gerbang, waktu akan berhenti. Awalnya cuma beberapa detik, tetapi semakin banyak orang yang lalu lalang di gerbang dan ruang dimensi 0, waktu pun berhenti lebih lama.

Lee Gon menghitung dengan cermat perhentian waktu itu. Uniknya hanya dia dan Lee Rim yang dapat bergerak selama waktu berhenti, sebagai orang yang memegang bilah Manpasikjeok. Lee Gon akhirnya memprediksi, jika ini terus berlanjut, waktu akan berhenti selamanya. Ruang waktu akhirnya akan berlaku hanya untuk mereka berdua. Teori ini tentu menjadi isu kuat yang menggiring cerita dari episode ke episode.

Apalagi ada bumbu cinta yang menjadikan alasannya untuk merebut kembali Manpasikjeok itu. Ia tidak mau waktu yang dijalani Jung Tae Eul berhenti, khususnya saat mereka sedang bersama.

Puncak dari segala konflik, Lee Gon hanya punya satu cara untuk keluar dari masalah ini. Membunuh Lee Rim tidak akan bisa karena pengikutnya sudah banyak. Orang-orang kepercayaannya tentu akan jadi taruhannya. Lee Gon memutuskan untuk membuka gerbang ke masa lalu. Sesuatu yang belum pernah dia lakukan.

Ngapain Lee Gon ke masa lalu? Apakah dia mengubah masa depan? Ini pertanyaan sungguh mengandung spoiler. Bagi yang belum nonton, bisa berhenti baca sampai di sini. Kalau udah, yuk kita bahas bagaimana akhirnya.

Lee Gon Mengubah Masa Depan

Sepertinya hampir semua K-drama sangat memanjakan penonton. Episode paling mendebarkan adalah 3 episode terakhir.

Namun, menurutku, cerita sebenarnya berakhir di episode 15 saat semua konflik memuncak meski, Lee Rim memberi skakmat untuk Perdana Menteri Koo yang oportunis dan ingin menjadi ratu Kerajaan Corea. Sepanjang episode, kehadirannya hanya mengganggu hidup Lee Gon saja. Culasnya sama, tapi PM Koo masih punya kelemahan yang dapat ditumbangkan oleh Lee Rim, yaitu menukar ibunya. Itu artinya ibu kandungnya sudah dibunuh. Ibunya tak lagi ibunya. Mirip judul FTV ya. Well, adegan PM Koo berteriak keras saat menyadari ibunya bukan ibu kandungnya lagi menjadi adegan pamungkas di episode 15.

Setengah hati aku berharap, ada celah untuk menyelesaikan masalah pertukaran dua dunia ini yang konfliknya nggak antiklimaks. Tapi apa yang dilakukan Lee Gon menjadi sebuah twist sendiri. Lee Gon kembali ke masa lalu sebanyak 2x. Yang pertama, untuk melihat dirinya menyelamatkan Lee Gon kecil sambil membawa-bawa ID Card Jung Tae Eul. Terjawab sudah misteri ID Card Jung Tae Eul yang selama ini disimpan dari kecil oleh Lee Gon. Lee Gon sudah mengetahui bahwa ID Card itu adalah pesan dari masa depan karena ada angka tahun kartu itu dibuat, 2019.

Review The King: Eternal Monarch

Lalu, misi perjalanan ke masa lalu keduanya benar-benar akan menjadikan sejarah berubah. Lee Gon harus mendapatkan Manpasikjeok utuh sebelum Lee Rim mengambilnya. Dia harus mencabut akar yang mengganggu sebelum akar itu tumbuh menjadi benalu. Itu artinya dia bisa saja mengorbankan dirinya sendiri di masa kecil saat Lee Rim berusaha mencekik lehernya. Jika itu terjadi, Lee Gon dewasa tak pernah eksis.

Soal masa lalu berubah dan eksistensi para karakternya menjadi isu menegangkan menjelang akhir episode. Kalau nggak konsentrasi, kita nggak akan ngerti alur ceritanya. Teori tentang lintas waktu memang memusingkan, ya. Satu kejadian kecil diubah, masa depan berubah. Seperti saat perjalanan pertama Lee Gon dan terjebak di masa lalu, Lee Gon bertemu Jung Tae Eul muda beberapa kali. Tentu ini akan menjadi ingatan baru bagi Jung Tae Eul dewasa. Ini juga menjadikan pertemuan pertama  yang ditampilkan di episode 1 berulang dan memberi kesan berbeda.

Namun, perkara ingatan tambahan dan masa depan berubah, ada yang namanya garis takdir yang tidak berubah. Meski pertemuan Jung Tae Eul dan Lee Gon menjadi lebih hangat (tidak sedingin pertemuan pertama mereka di awal episode), takdir mereka untuk menghadapi beberapa tantangan cinta dan hidup masih sama. Dengan kata lain, ada sistem qada dan qadar (dalam ajaran agama) yang memang sudah kita yakini, bukan? Pokoknya, persoalan lintas waktu ini akan jadi rumit, tapi menjadi sedikit sederhana di K-drama ini. Satu yang aku pahami sejak dulu, ada berbagai kemungkinan hidup terbuka jika kita berandai-andai dapat mengubah masa lalu, tetapi tidak dengan takdir yang sudah ditetapkan.

Itu serupa dengan ungkapan orang, "Kalau jodoh, nggak akan lari ke mana." Eaaa... Ya, mau mengambil pilihan hidup macam apa pun, mau berbelok ke kiri atau ke kanan, hal yang sudah ditetapkan untuk kita akan menjadi milik kita juga.

Review The King: Eternal Monarch

Balik lagi ke kisah Lee Gon mengubah masa lalunya sendiri. Sebenarnya aku kurang puas dengan eksekusi kisah menjelang akhir ini. Ini sama saja Lee Gon mengakhiri perang sebelum perang itu dimulai. Kejahatan Lee Rim dicegah dari awal bahkan sebelum kejahatan itu terjadi. Jadi, rasanya sia-sia menonton kisah yang panjang dan penuh misteri dari awal, jika semua kisah rumit tentang dunia paralel ini di-reset. Semua orang yang dibunuh Lee Rim, tetap hidup di dunianya masing-masing, orang yang bertukar peran juga tak mengenal satu sama lain. Bahkan kembaran Lee Gon di Republik Korea yang dulu dibunuh Lee Rim pun masih hidup dan punya nasib hidup yang baik. Agak kurang puas ya.

Bagaimana nasib Lee Gon dan Jung Tae Eul yang beda dunia? Apa yang terjadi jika pintu gerbang dunia paralel ditutup? Well, di episode 15, sebelum berpisah, Lee Gon berjanji untuk membuka semua gerbang semesta demi bertemu Jung Tae Eul. Dan, mungkin ini yang menghibur di episode 16.

Time-travel-date

Karena mengikuti drama ini on-going, jadi nungguin banget episode 16 dan akhir ceritanya. Karena sudah pasti Lee Gon dan Jung Tae Eul tidak dapat bersama begitu ia mengubah masa lalu dan mendapatkan Manpasikjeok dengan utuh sebelum dicuri Lee Rim. Jika gagal, Lee Gon dewasa tidak pernah eksis dan ingatan Jung Tae Eul tentang Lee Gon akan hilang.

Sebenarnya episode 16 ini adalah episode hiburan. Semua misteri sudah dipecahkan dan Lee Gon sudah me-reset dunia. Seharusnya semua kembali normal. Tetapi Lee Gon mencoba menggunakan Manpasikjeok utuh untuk kembali ke tahun 2020. Ternyata ada yang mengejutkan. Jika sebelumnya kita mengenal ada 2 dunia, ternyata ketika seruling ajaib itu utuh, benda itu dapat membuka gerbang ke banyak dunia. Nggak cuma 2. Jadi Lee Gon membuka gerbang dunia satu per satu hingga menemukan Jung Tae Eul yang benar. Dia memasuki gerbang secara random dan bertemu dengan kembaran Tae Eul dengan berbagai sifat dari berbagai dunia. Sepertinya janjinya untuk membuka semua gerbang semesta benar-benar ditepati. Kalau kamu nonton langsung, pasti geli sendiri, deh. Butuh 1 tahun baginya untuk menemukan gerbang ke Republik Korea. 

Review Drama Korean The King: Eternal Monarch 5

Dengan menjalin hubungan LDR beda dunia ini, Lee Gon dan Jung Tae Eul sepakat untuk menyembunyikan hubungan mereka dari semua orang. Toh, orang yang mereka kenal juga sudah saling melupakan eksistensi dunia paralel. Kecuali Jo Yeong yang ikut dalam perang ke masa lalu bersama Lee Gon. Dia masih mempunyai ingatan tentang dunia paralel dan kembarannya Jo Eun Sup di dunia Republik Korea. Namun, mereka sepakat tidak akan saling menyeberang gerbang dunia lagi demi rahasia dan keamanan dunia masing-masing.

Nah, masalah lain yang menjadi penutup kisah The King: Eternal Monarch adalah dapatkah Jung Tae Eul menjadi ratunya Lee Gon? Jawabannya sudah pasti tidak karena Jung Tae Eul sendiri punya kembaran di dunia Kerajaan Corea. Itu tentu akan membuyarkan identitas Luna, kembaran Jung Tae Eul di dunia itu.

Jadi kisah ditutup dengan cerita kencan mereka yang menarik pada akhir minggu. Mereka mendatangi berbagai ruang dunia dan memastikan waktunya tidak sama dengan waktu dunia mereka, memastikan mereka tidak punya kembaran di dunia yang dituju. Cuma K-drama ini yang punya ide cerita kencan traveling lintas waktu, ya dan mereka sudah menyiapkan satu koper perlengkapan pakaian dan aksesoris sesuai tren waktu dan dunia yang mereka tuju. Mereka selalu janjian di depan gerbang dimensi 0. Manis-menarik-menegangkan, bukan?

Kisah romansa yang dibuat dengan level berbeda dari kisah kebanyakan.



Read More

Share Tweet Pin It +1

17 Comments

In Journey Land Story Land

Jelajah Sumbawa, Perjalanan Penuh Drama, Nyasar, dan Ditinggal Kapal

Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In Journey Land Story Land

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown, Tiket Pulang Batal

Setelah 4 hari di Singapura, aku bertolak ke Langkawi, Malaysia. Dan kamu tahu, hari saat aku berangkat dari Changi Airport ke Langkawi adalah hari saat Singapura memperketat border imigrasinya. Negara yang di-lockdown untuk masuk ke Singapura bertambah. Untuk kita yang berasal dari negara ASEAN wajib memperlihatkan surat keterangan kesehatan di imigrasi. Kalau tidak, ya nggak boleh masuk Singapura. Intinya, kita tidak bisa traveling with no purpose. Yes, Singapura lockdown hari itu. Saat aku keluar border, maka aku tidak bisa masuk Singapura lagi untuk sementara waktu.

Aku naik Air Asia dari Singapura ke Langkawi yang membutuhkan waktu 1 jam. FYI, Langkawi ini adalah salah satu pulau di sisi utara Malaysia, berbatasan dengan perairan Thailand. Begitu sampai di sana, aku melepas masker karena udaranya panas sekali. Seperti kata seorang temanku yang tinggal di Singapura, udara panas bagus buatmu to kill the virus. Oke, aku harus berpikiran positif, semoga tidak membawa virus dari Singapura masuk ke pulau kecil ini. Belum ada kasus pasien positif di Pulau Langkawi saat aku di sana.

Bagi foreigners, kami wajib mengisi formulir pernyataan tidak baru saja traveling dari negara Cina, Korea Selatan, Iran, Italia, dan Jepang. Setelah itu formulir ditandatangani dengan meninggalkan sejumlah kontak termasuk alamat hotel tempatku menginap. Selebihnya Langkawi aman pada saat itu, tanggal 16 Maret 2020.

Baru saja menikmati suasana pantai sore hari di Langkawi dan menikmati bersihnya udara di sini yang jauh dari perkotaan, aku mendengar kabar gempar malam harinya dari pemerintah pusat Malaysia. Malaysia akan melakukan lockdown dan melarang semua aktivitas di luar sampai akhir Maret 2020. Pemberlakuan itu dimulai dari 18 Maret 2020.

Aku cuma bisa berjalan-jalan di tempat-tempat wisata Geopark di Langkawi pada tanggal 17 Maret, ke Telaga Tujuh dan Dataran Lang. Suasana lokasi wisata relatif sepi karena hari kerja. Beberapa pengunjung ada yang berendam di Telaga Tujuh. Aku harus trekking sekitar 200 meter sebelum melihat telaga dengan view lembah air terjun. Ah indahnya. Ini menjadi tempatku merilis stres setelah dapat beberapa pertanyaan dan hujatan di DM terkait perjalananku di tengah wabah virus corona.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (2)

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (3)

Aku berpikir untuk mematikan sinyal sejenak biar bisa menikmati keindahan Langkawi ini, yang tentu saja berbeda dengan suasan kota besar di Singapura. Dataran Lang menjadi tujuan berikutnya. Lagi-lagi lokasinya sepi. Tapi Langkawi sangat panas. Suhu mencapai 35-36 derajat Celcius. Panas banget sampai mungkin virus corona tak ingin mampir ke sana (bercanda :)). Lebih panas dari Jakarta bahkan. Anw, di Dataran Lang ini ada monumen burung elang raksasa. Jadi, Langkawi itu diambil dari kata 'lang' yang berarti 'elang'. Langkawi memang dikenal sebagai daratan elang. Aku beberapa kali melihat elang terbang bebas di udara. Lega sekali melihat habitat elang di sini masih aman.

Malam sebelum lockdown, bukannya bisa beristirahat, sebelum makan malam, aku melihat kepanikan kental sekali terasa di pusat perbelanjaan di Langkawi. Beberapa orang mulai belanja stok makanan dan obat-obatan. Untung orang-orang di sini nggak panic buying karena esok harinya semua pertokoan dan mall tutup kecuali beberapa restoran. Restoran dan swalayan tetap buka dengan syarat social distancing dan hanya boleh take away makanan.

Lalu bagaimana nasibku dengan status foreigner? Banyak sekali berita simpang-siur. Lockdown berlaku untuk warga negara Malaysia. Tapi ada berita bahwa Malaysia juga menutup penerbangan keluar dan masuk. Jadi, kami putuskan malam itu pukul 12 malam, kami melaju ke kantor polisi terdekat, katanya ada ketentuan wajib lapor. Ah, berita beneran simpang siur. Ketika 1 kantor polisi tutup, kami mencari kantor polisi yang lain di Langkawi. Aku sudah mengantongi paspor dan pulpen. Namun, lucunya, begitu sampai kantor polisi, suasana sangat sepi. Kata pak polisi, kami bisa pergi ke mana pun dan tak perlu lapor. Wah, ternyata Langkawi santai sekali ya. Ada beberapa video beredar dari Kuala Lumpur bahwa kantor polisinya dipenuhi antrean. Well, kita nggak tau mana yang benar kan.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (4)

Ya, hari ketiga aku di Langkawi, aku hanya berdiam diri di hotel bersama beberapa teman Malaysia yang tim kerjaku. Di Indonesia, kabarnya saat itu penuh desakan lockdown juga. Aku tak mau ambil pusing berita itu daripada stres sendiri. Kami hanya berjalan keluar hotel untuk membeli makanan dan kembali pulang, mengisolasi diri. Langkawi yang sepi seketika menjadi sangat sepi dan seperti kota mati. Aku hanya membeli roti Subway untuk bekal makan siang dan memasak Indomie di hotel. Setelah itu, biar nggak bosan, nilai plusnya lockdown hari ini, kami masih bisa berjalan-jalan ke pantai di seberang jalan dan menunggu sunset di sana. Pantai cukup sepi, lho.

Setelah menjalani seharian isolasi di hotel, setidaknya aku masih bisa menikmati sunset terbaik di Langkawi. Hari itu, aku dan teman-teman melakukan meeting. Jadwal kepulanganku ke Indonesia dimajukan. Seharusnya, setelah selesai eksplor Langkawi, aku akan berada di Kuala Lumpur hingga tanggal 26 Maret 2020. Namun, situasi benar-benar tidak memungkinkan lagi. Meski Indonesia tidak memberlakukan lockdown, ada himbauan resmi dari Menteri Luar Negeri RI kepada semua traveler WNI untuk segera pulang sebelum kondisi semakin sulit. Apalagi kudengar Bali saat itu sudah tertutup bagi wisatawan asing. Jalur internasional menuju Bali pun memang agak sulit. Seorang temanku ada yang pulang ke Denpasar, tetapi karena info itu, dia berniat untuk pulang ke Jakarta.

Jadilah tiket pulang sudah dipesankan untukku tanggal 19 Maret 2020. Dari Langkawi, aku akan transit di Kuala Lumpur dan langsung terbang ke Jakarta. Aku packing malam itu juga.

Namun, semua tidak berjalan lancar. Pagi-pagi sekali, teman sekamarku sudah dihebohkan dengan tiket pesawatnya di-cancel. Kami terpecah dalam 2 penerbangan. Beberapa teman naik Air Asia (yang di-cancel itu) sementara aku dan sisanya naik maskapai Malindo Airlines. Bagi temanku yang warga negara Malaysia, mereka memang kesulitan untuk traveling dalam negeri karena setiap warga negara harus tetap di rumah. Tapi mumpung aturannya belum ketat-ketat amat pada saat itu, mereka masih bisa pulang ke kota asal.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (5)

Nah, yang bikin geger tanggal 19 Maret itu adalah semua penerbangan Air Asia dibatalkan baik dalam, maupun luar negeri. Jadi sebagian temanku akan tetap stay di Langkawi sampai hari berikutnya, beli tiket baru. Kami antisipasi untuk tidak membeli tiket Air Asia lagi. Sementara aku masih bisa terbang dengan Malaysia Airlines. Namun, risikonya aku harus menginap satu malam di Kuala Lumpur International Airport menunggu penerbangan tanggal 20 Maret dengan Malaysia Airlines juga. Sempat konfirmasi ke Air Asia untuk penerbangan berikutnya ke Jakarta dan mereka hanya menjawab tidak janji akan terbang. :(

Semua keluarga dan teman dekat sudah khawatir dengan isu lockdown Malaysia yang diperketat. Sebagian mereka menyangka aku sama sekali tidak bisa pulang ke Indonesia. Aku juga sempat berpikir seperti itu saat melihat jadwal keberangkatan di bandara dipenuhi dengan status cancel untuk penerbangan ke luar negeri. Beruntungnya aku, satu-satunya maskapai yang terbang ke Jakarta tanggal 20 Maret adalah Malaysia Airlines. Aku bernapa lega. Aku tidak bisa tidur semalaman meski sudah menyewa kamar di capsule hotel KLIA. Setelah sejauh ini perjalanan dan beberapa kali ganti tiket, tentu aku tidak mau tiket pulangku di-cancel lagi. Kalau sempat cancel, mungkin aku akan menghubungi KBRI di Kuala Lumpur hari itu.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (6)

Dan, ya, kabar gembiranya aku bisa pulang dengan sehat ke Jakarta. Meski sempat alot di counter check in karena pembelian bagasi-ku tidak confirmed. Jadinya aku harus bayar bagasi per kilo. 1 kg dikenakan 62 RM. Total bagasiku saat itu adalah 18 kg. Hitung sendiri berapa biaya yang harus aku bayar. Aku sudah berusaha mengurangi bagasi di tempat dan cuma berkurang sebanyak 5 kg. Jadi ya daripada ketinggalan pesawat, aku terpaksa membayar sejumlah uang yang mereka minta. Sampai saat ini, temanku sedang berusaha komplain ke pihak maskapai dan travel agent untuk refund dan sebagainya. Aku sendiri sudah terlalu lelah untuk memikirkannya. Sampai hari ini saja, tiket Air Asia yang cancel belum sempat di-refund. Yang penting bisa sampai di rumah dulu deh.

Di bandara Soekarno-Hatta sendiri, penjagaan border imigrasi diperketat juga. Katanya koper-koper di bagasi disemprot disinfektan, tapi aku tidak melihatnya. Entah benar atau tidak. Di samping itu, kami dibagikan formulir kewaspadaan kesehatan untuk 2 minggu ke depan. Jadi diharapkan untuk setiap traveler yang pulang dari negara terjangkit pandemi memang harus diisolasi selama 14 hari. Kalau terjadi sesuatu, aku bisa membawa formulir itu ke RS rujukan untuk diperiksa.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (7)

Saat artikel blog ini terbit, aku masih menjalani hari-hari karantina di rumah sebagai antisipasi. Semoga aku baik-baik saja dalam 2 minggu ke depan dan semua yang baca artikel ini juga baik-baik saja. Mari berdoa untuk kesembuhan banyak orang dan berharap wabah ini cepat berhenti.

Jangan lupa, cuci tangan pakai sabun sesering mungkin dan berlakukan social distancing, ya teman-teman. Penyebaran virus corona itu melalui droplet (percikan dari penderita yang menempel di permukaan benda). Jadi kunci pencegahannya adalah di tangan kita yang kadang-kadang suka rese pegang ini-pegang itu lalu lanjut usap-usap muka. Yang penting rajin cuci tangan pakai sabun.


Read More

Share Tweet Pin It +1

27 Comments

In Journey Land Story Land

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 1), Apakah Singapura Lockdown?

Hai, rasanya lama tidak menulis di sini. Kali ini aku mau share tentang pengalaman perjalanan di tengah merebaknya wabah Covid-19 alias virus corona dan berdampak pada beberapa negara lockdown. Jadi ceritanya dimulai dari sini.

Aku dapat jadwal untuk perjalanan Singapura dan Malaysia dalam waktu yang lumayan panjang, 2 minggu. Ada beberapa pekerjaan yang dilakukan di sana terkait konten video dan shoot untuk Facebook Live. Pada saat aku akan berangkat, Indonesia digemparkan dengan masuknya kasus positif Covid-19 sebanyak 2 orang dan bertambah banyak dalam waktu 1 minggu. Banyak info beredar apalagi aku berangkat ke Singapura, negara yang terdampak Virus Corona pertama di Asia Tenggara.
Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (3)

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (2)
Jewel Changi Airport Mall.

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah
Changi Airport yang super sepi.
Jangan tanya apakah keluarga dan teman dekat tidak melarangku berangkat? Tentu saja aku dibanjiri chat penuh kekhawatiran. Sempat terpikir juga untuk membatalkan keberangkatan. Namun, kalau batal, aku akan merugikan beberapa pihak tentu saja. Karena agendaku ke Singapura untuk melakukan beberapa project. Untungnya Junisatya memberi semangat, "Jangan khawatir. Santai aja. Kan berangkatnya karena pekerjaan. Lakukanlah pekerjaan itu." Tak ada kalimat yang paling menenangkan dibanding ucapan suami sendiri.

Aku berangkat juga ke Singapura tanggal 13 Maret. Saat itu, Singapura hanya memberi peringatan untuk pendatang yang berasal dari 4 negara--Korea Selatan, China, Iran, dan Italia--tidak dapat memasuki Singapura.  Ini berlaku juga buat travelers yang dalam 14 hari ke belakang baru aja balik dari 4 negara itu. Pasporku diperiksa per halaman apakah punya riwayat traveling di ke-4 negara yang di-lock itu. Bagi warga negara Singapura yang baru saja traveling dari 4 negara yang disebutkan wajib mengisolasi diri selama 14 hari di rumah masing-masing. Aku melewati kamera screening suhu tubuh sampai 2x. Pengecekan termometer tembak diberlakukan untuk anak-anak.

Aku sudah siap dengan beberapa lembar masker, tisu basah, botol minum yang siap refill di mana saja, toilet seat sanitizer. Sementara itu, aku beli hand sanitizer di Guardian stasiun MRT Bedok di sana.

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (4)
Hand Sanitizer di Singapura masih tersedia banyak sekali, nggak selangka di Indonesia

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (5)
Situasi di dalam MRT Singapura sore hari.
Selebihnya, masuk Singapura sangat aman dan sangat terkontrol. Negara itu tampak lebih siap dalam penanganan virus. Aku melihat hand sanitizer disediakan di beberapa spot keramaian, termasuk stasiun MRT. Banyak orang mengenakan masker. Suasana di Singapura lebih terkontrol, tidak ada kepanikan dan berita hoax yang beredar. 

Sebaliknya, respons lain kudapatkan dari teman-teman di Indonesia. Ada banyak yang khawatir dan share info penyebaran virus Corona yang menyebar sangat cepat di Indonesia. Aku sangat sedih dan prihatin. Tapi harus tetap semangat menuntaskan pekerjaan di Singapura. Bekerja dengan kepanikan dan kehebohan negatif di sana-sini sungguh bikin tidak nyaman. The show must go on. Yang pasti aku baik-baik saja di Singapura. Pihak hotel tempatku menginap pun menyediakan termometer tembak untuk mengukur suhu tubuh kami saat check in. Sepertinya itu sudah prosedur wajib mereka.

Beberapa hari di Singapura, ternyata isu Corona di Indonesia meningkat pesat. Ada ratusan orang terinfeksi. Aku menjadi takut baca-baca berita online apalagi saat masih harus menuntaskan pekerjaan di negeri orang. Bahkan ada beberapa akun social media yang mengecam para traveler sebagai pembawa virus ke mana-mana. Ada semacam stigma negatif terbentuk saat itu terhadap para traveler. Ada yang bilang traveler itu egois, pamer foto traveling saat saudaranya sakit dan dilanda kecemasan terhadap wabah penyakit ini. Ada pula yang dengan langsung menyuruhku untuk jangan pulang karena siapa tau aku menjadi carrier virus dan bisa menyebarkan kepada yang lain saat aku pulang. Hei, c'mon, kita boleh khawatir, tapi jangan saling menyalahkan orang lain. Aku sedih mendengar komentar dan stigma seperti itu.

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (6)
Jalanan yang lengang.
Akhirnya ada 1 hari di Singapura, aku hanya berjalan sebentar untuk shoot di salah satu dessert cafe, kemudian aku balik ke hotel dan berdiam diri di kamar sampai malam. Kalian tahu, betapa lelahnya aku, sedikit stres, agak sedih mengingat aku masih harus lanjut perjalanan esok harinya ke Malaysia, dan mungkin sedikit tertekan dengan beberapa komentar negatif yang kuterima di social media. Seketika social mediaku yang tak seberapa followers-nya itu menjadi ramai DM karena aku share beberapa info tentang Singapura, khususnya info positif tentang penanganan Virus Corona di sana. Aku sangat berterima kasih buat teman-teman yang mendukung perjalananku saat itu. Dukungan kalian sangat berharga sekali lho. :)

Percayalah, teman-teman, setiap orang punya alasan berbeda kenapa mereka traveling (sementara yang lain bisa memilih untuk stay at home). Hey, itu privilege lho bisa memilih di rumah aja. Bukan berarti nggak waspada atau gegabah. Aku percaya, semua teman-teman  yang sedang berada di luar negeri saat ini saling connect dan berbagi info terkini tentang isu yang mereka hadapi di wilayah masing-masing. Dan, aku yakin, setiap traveler itu juga menghadapi kesulitan di negara yang mereka datangi serta kekhawatiran apakah masih bisa pulang atau tidak. Jadi, stop bully traveler, ya. Kita semua seharusnya saling bantu dan memberi semangat.

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (7)
Suasana malam minggu di depan hotel Butternut Tree.


Read More

Share Tweet Pin It +1

25 Comments

In Hospitality Land

The Village Resort, Menginap di Bogor Rasa Bali

Liburan yang nggak jauh-jauh dari Jakarta, enaknya ke mana, ya? Pasti hampir semuanya sepakat menyebut kata 'Bogor'. Tapi rasanya, kalau akhir minggu dihabiskan di Bogor lagi, bosen nggak ya? Belum lagi macet sekali kan Kota Bogor, apalagi jalan menuju kawasan Puncak.

Nah, biar nggak bosan, Bogor ternyata masih punya spot untuk liburan keluarga atau bersama teman-teman kok. Aku staycation di The Village Resort beberapa waktu lalu. Begitu melihat lokasi resort ini di Google Maps, wah ternyata nggak jauh dari pintu tol Ciawi, tepatnya di kawasan Pancawati. Kebetulan banget, kalau berangkat lebih pagi, tentu tol belum semacet siang. Arus ke Bogor akhir pekan memang susah ditebak, tapi setidaknya aku dan Junisatya sudah meminimalisir jenuh di jalan sejak pagi.

Kali ini, aku staycation nggak cuma berdua sama Junisatya. Ada 3 orang lagi yang gabung bersamaku, teman-teman si pejuang konten Jalan Jajan Seru. Ada Mia (jejakjelata), Ogie, dan istrinya Ribka. Udah nonton video Youtube kami belum? Niatnya waktu itu, kami mau liburan bersama biar lebih akrab sekaligus membayar kesibukan satu tahun terakhir bikin konten bersama. Sekali-kali liburan tanpa beban-lah, ya.



Oke, aku mau cerita tentang The Village Resort. Aku sengaja meminta check in lebih awal sehingga bisa menikmati area resort ini lebih lama. Ternyata kami nggak sendiri, ada rombongan kantor datang yang membuat suasana resort kian ramai. Waduh, jumlah kami yang cuma berlima ini, akan ketiban banget dong sama hebohnya rombongan yang datang sampai 2 bus itu.

Namun, ternyata enggak. The Village Resort cukup luas menampung puluhan bahkan ratusan orang. Tipe kamarnya pun beda-beda. Karena konsepnya resort dan ala-ala di kampung Sunda gitu, kita bisa memilih kamar yang bisa diisi 2 orang, 4 orang, 8 orang, bahkan sampai 30 orang. Wew, barak.



Suasana outdoor The Village Resort sungguh tenang dan nyaman. Areanya cukup luas. Ada gazebo, area bermain, area taman, dan outbond. Kolam renangnya juga ada 2 buah. Jadi nggak perlu rebutan. Setelah makan siang, aku dan teman-teman menghabiskan sore dengan main tenis meja dan bilyar. Sungguh receh ya kebahagiaan kami saat itu. Sore yang mendung, pesan makanan delivery, dan berjam-jam battle tenis meja dan bilyar sudah membuat kami senang dan banyak tertawa.

Oiya, selama di The Village Resort kami dapat jatah makan siang, makan malam, dan sarapan. Seru banget deh. Karena kami cuma grup kecil (dibanding rombongan yang datangnya pakai bus), jadi makanan kami sudah disediakan ekslusif di area gazebo. Menunya sederhana, menu rumahan Sunda. Sambelnya enak banget dan lalapannya segar. Hasil metik langsung di kebun kali, ya.




Area gazebo The Village Resort jadi area favorit kami. Ada kasur double bed untuk bersantai ala di Bali, saung dengan meja dan bangku kayu, posisinya persis di atas kolam ikan, ada sofa untuk duduk bermalas-malasan. Areanya berupa teras terbuka yang view-nya taman dan kolam renang. Suasananya menyenangkan.

Seakan nggak kehabisan ide, kami masih bisa seru-seruan di malam Bogor yang dingin. Ada area untuk api unggun, areanya mirip amphiteater mini. Kayunya udah disediakan pihak resort. Bahkan kita bisa minta tolong petugas untuk menyalakan api unggun. Dan, voila... ini dia api unggunnya.


Cihuy, malam kami jadi hangat. Apalagi ada dendangan lagu dari arah restoran. Rupanya rombongan besar yang datang bersamaan dengan kami sedang berpesta dan berjoget bersama. Ada yang menembakkan kembang api. Lumayan kan, kami bisa ikutan bisa berjoget mengelilingi api unggun dan melihat langit malam hingar bingar. Kurang jagung bakar, marshmallow, dan ubi bakar, nih. Pasti makin lengkap dan kenyang.

The Village Resort super menyenangkan buat yang butuh suasana hijau, tenang, udara segar, dan nggak jauh dari Jakarta. Rate kamarnya mulai dari Rp400.000. Disesuaikan dengan tipe yang ingin dipilih. Dengan rate mulai harga segitu, menurutku worth it banget karena kita bisa dapat mengitari area resort sepuasnya. Cocok sekali untuk weekend escape, bukan?!

Read More

Share Tweet Pin It +1

12 Comments

In Story Land

8 Tips Outwear Nyaman untuk Hijab Traveler

Sebenarnya sudah lama aku ingin menulis tips ini. Ya, meskipun aku nggak terlalu concern dengan fashion, tapi ternyata fashion hijab untuk traveling cukup jadi perhatian. Ya, selain karena banyak yang mengira, hijab traveler itu tentu ribet bawaannya. Padahal nggak juga lho, asal disiasati dengan trik mix and match outwear.

Style outwear memang favoritku. Aku cukup menyiapkan beberapa inner yang tipis dan bawahan polos, tinggal divariasikan dengan outwear-nya. Ini tujuannya untuk meminimalisir bawaan, apalagi kalau traveling lebih dari seminggu. Kita harus cermat memilih pakaian terbaik dan nggak berlebihan.
8 Tips Outwear Nyaman untuk Hijab Traveler



Di luar dugaan, outwear untuk para hijaber sekarang variatif banget. Model dan bentuk layernya juga beragam. Kamu bisa menyesuaikan dengan destinasi tujuan traveling-mu. Misalnya, pakai outwear yang tipis, bahan transparan, dan warna cerah untuk liburan di pantai. Kita bisa juga pakai outwear bermotif untuk piknik di taman atau kemping di hutan. Kalau mengunjungi negeri 4 musim, coat berbahan rajut atau suede jadi andalan, terutama saat penerbangan panjang.

Mau tahu lebih lengkap?

Aku share 8 tips outwear nyaman untuk hijab traveler yang jadi andalanku. Tips ini nggak sekadar tips, tapi kamu bisa cek juga online store-nya. Siapa tahu bisa menginspirasi teman-teman sesama hijab traveler sepertiku.

Kamu bisa cek artikel lengkapnya di sini ya.

https://my-best.id/lists/131956

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Movie Land

Nonton Film Temen Kondangan Biar Move On di Kondangan [Review Film]

Apa jadinya saat mantanmu mengundang ke resepsi pernikahannya? Galaunya  dua kali. Kalau nggak datang, dikira belum move on. Kalau datang dan sendirian, harga diri tercabik-cabik. Itulah yang dirasakan Putri yang diperankan oleh Prisia Nasution di film drama komedi Temen Kondangan.

Sungguh premis film ini sangat sederhana, bukan? Cuma tentang kegalauan datang ke kondangan mantan. Kalau aku jadi Putri, nggak kebayang sih mesti mikirin gandengan buat datang kondangan Deny, mantannya yang diperankan oleh Samuel Rizal. Apalagi Putri ini diceritakan sebagai selebgram yang paling gampang diserbu dengan komen negatif netizen.

Putri yang sudah memutuskan untuk tidak datang ke resepsi mantannya, mendadak diserbu oleh teman-teman se-geng. Teman-temannya menantang Putri, "Kalau emang udah move on, seharusnya datang, dong." Lalu, ada yang nyeletuk, "Mau datang sama siapa?"
Nonton Film Temen Kondangan - image: MNC Pictures documents

Nonton Film Temen Kondangan - Image: MNC Pictures Documents

Nah, dalam 1 hari, Putri harus menemukan gandengan terbaik untuk dipamerkan di kondangan mantan esok harinya. Masalahnya, Putri belum punya pacar lagi sejak putus dengan Deny. Dari sinilah kekonyolan-kekonyolan di film ini dimulai. Putri dikenalkan oleh teman kantornya sekaligus asistennya pada Juna (Kevin Julio) yang sudah biasa membuka jasa temen kondangan. Ya, dengan nekat, Putri langsung mengirimkan chat kepada Juna yang merupakan sepupu dari asistennya itu (Chika Waode).

Karena pesannya belum dibalas Juna, seharian Putri hanya duduk berdiam diri di kantornya. Lantas, saat atasannya, Galih (Gading Marten) mencoba menghiburnya, Putri pun sempat menawarkan Galih untuk jadi gandengannya, tetapi Galih tidak mengiyakan.

Duh, cari temen kondangan ternyata lebih susah daripada cari pacar beneran, ya.
Padahal seharusnya gampang banget, kan. Tinggal ajak temen aja buat kondangan demi nggak disangka belum move on. Tapi urusannya jadi panjang. Belum lagi kejadian di kondangan Deny dan Fitri yang seketika rusuh karena urusan permantanan ini. 

Siapakah yang akan jadi temen kondangan Putri?

Drama komedi produksi MNP Pictures ini mengangkat kegelisahan yang related dengan kehidupan milenial. Menariknya, film ini punya alur yang cukup cepat, diambil dari sudut pandang Putri. Film Temen Kondangan hanya mengambil set waktu dalam 3 hari. Hari pertama saat Putri menerima undangan. Hari ke-2, Putri mencari temen kondangan. Hari ke-3, hari H kondangan mantan. 80% peristiwa di film ini justru berfokus pada sesi resepsi itu.

Unsur komedi di film ini juga terasa natural dan sangat ringan. Berkat Gading Marten dan Reza Nangin, komedi di film ini terasa hidup. Karakter Putri yang serius bisa menjadi sangat renyah berkeliaran di hall resepsi mantannya sendiri.

Nonton Film Temen Kondangan - Image: MNC Pictures Doc

Sebenarnya apa yang diangkat di film ini adalah sebuah tragedi kekinian ulah cuitan social media. Dulu mungkin datang kondangan mantan nggak akan sepanjang dan seribet ini urusannya. Namun, semua berubah dengan adanya social media dan apalagi ada banyak sekali tipe orang yang lebih mementingkan cuitan netizen ketimbang suara hati.

By the way, ini juga pertama kalinya Prisia Nasution berakting dengan Gading Marten. Sama-sama aktor peraih Piala Citra pula. Karakter mereka sangat kuat dan saling mengimbangi karakter yang lainnya. Duet Prisia dan Gading malah nggak failed sama sekali, apalagi Prisia juga baru pertama kali main drama komedi. Tentu kita semua penasaran dengan film Temen Kondangan, bukan. Jajaran cast-nya nggak main-main, lho. Ada Olivia Jensen, Diah Permatasari, Febi Febiola, dan sebagainya.

Kamu lebih baik siap-siap rusuh di bioskop mulai tanggal 30 Januari untuk nonton Temen Kondangan. Mendingan rusuh di bioskop daripada rusuhin kondangan mantan, kan?! Coba latihan bawa gandengan ke bioskop dulu, biar nggak kaku saat datang kondangan mantan.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Journey Land Story Land

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya

Kunjunganku ke Kota Surabaya kali ini punya banyak sekali pesan moral. Aku tak sekadar berkunjung, tapi bertemu dengan para guru hebat dari berbagai daerah di Indonesia. Iya, kali ini aku ke Surabaya dalam rangka Persamuhan Nasional Pendidik Pancasila yang diadakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Ini semacam reuni dengan teman-teman Blogger yang hadir di Persamuhan Nasional para penggiat kampung di Anyer lalu (ceritanya ada di sini) Eits, lalu ini perkumpulan guru se-nasional, ya. Aku diminta datang lagi. Rupanya Blogger itu multiprofesi. Kami bisa menyublim ke profesi apa saja. Hehehe

Aku belum beralih profesi jadi guru kok. Aku hanya terinspirasi dengan para guru yang pasti punya segudang cerita tentang lika-likunya menjadi pendidik dan beragamnya tingkah polah para siswa. Wah, aku merasa berada di 2 persimpangan, apakah harus menempatkan diri sebagai siswa atau sebagai guru? Karena rupanya banyak sekali yang belum aku tahu tentang makna Pancasila seperti yang dipertanyakan banyak siswa. Tetapi apakah sebagai pendidik kita bisa memberikan penanaman nilai-nilai itu kalau fenomena Pancasila saja seakan tak digubris. Mari, aku tidak sabar ingin cerita tentang pendidik Pancasila ini.

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 2

Kamu masih ingat tentang pelajaran PPKn atau Kewarganegaraan zaman sekolah? Ada macam-macam namanya ya. Pada masa ku sekolah, ya aku sempat punya mata pelajaran untuk pembinaan budi pekerti Pancasila. Kalau diingat, dulu aku belajar PPKn ini setengah hati tapi tetap dapat nilai tinggi. Iyalah, pelajarannya terasa ringan, tentang kehidupan sehari-hari, tentang adab apa yang mesti dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Dan, tadaaaa... Nilai A atau nilai 9 sudah di tangan selama nggak ada catatan hitam perilaku buruk di sekolah.

Nah, ternyata aku baru menyadari 1 hal tentang pelajaran budi pekerti ini, yaitu pelajaran tentang nilai-nilai Pancasila juga harus diselaraskan dengan pelajaran Sejarah dan Agama. Okelah untuk pelajaran Agama masih nyambung. Lalu bagaimana dengan Sejarah? Iya, saat di Surabaya, acara Persamuhan Pendidik Pancasila ini didominasi oleh para guru Sejarah perwakilan 34 provinsi. Kebetulan juga, aku sekamar dengan salah satu guru Sejarah dari Kalimantan Timur. Jadi beliau bercerita bahwa penting sekali pemahaman sejarah bagi anak-anak muda karena dari sanalah moral Pancasila terbentuk. Kalau nggak tahu sejarah, tahu apa kita soal Pancasila? Ada spirit yang terkandung dari cerita sejarah yang selaras dengan pembentukan Pancasila. Begitu inti pembicaraanku dengan guru sejarah di kamarku selama beberapa malam kami bersama. Well, obrolan malamku dengan beliau sangat berisi ya.

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 3

Aku jadi ingat kata JJ Rizal, seorang sejarawan yang jadi pemateri di event ini. "Pancasila itu multitafsir. Bung Karno yang merangkumnya jadi satu," tegasnya saat obrolan makan siang di mejaku. Itu artinya bahwa Pancasila itu sudah ada jauh sebelum dirangkum tahun 1945. Itu artinya pula, kita perlu belajar sejarah agar tahu bahwa cerita kepahlawanan, perang, kerajaan itu adalah bagian dari perjalanan Nusantara membangun karakternya. Makin menarik ya topik Pancasila ini.

Amalan Pancasila sebenarnya sudah ada di nadi bangsa, tetapi sulit sekali untuk benar-benar meyakini dan melakukan. Ya, seperti nilai PPKn-ku yang cukup tinggi di sekolah, tidak berbanding lurus dengan nilai mata pelajaran Sejarah. Kenapa? Karena amalan itu ada di PPKn tetapi pemahaman terhadap nilai-nilainya ada di Sejarah. Benar juga ya kata orang, bahwa sejarah itu berguna untuk membangun bangsa. Mau jadi apa kita hari ini dan besok kalau tidak bisa belajar dari masa lalu.

Keragaman Budaya dalam Satu Persamuhan Pancasila

Serupa dengan keragaman yang dihadirkan oleh Anyer saat persamuhan nasional lalu, di Surabaya juga menghadirkan keragaman yang serupa. Sebagai wujud Pancasila, keragaman ini menjadi harmoni 5 dasar Pancasila. Pada hari pertama, semua peserta diminta untuk memakai pakaian adat masing-masing. Kali ini, aku siap dengan atasan kebaya modern dan bawahan kain batik. Bukan ciri khas Minang memang yang sarat dengan songketnya. Tapi, yang penting ciri ini adalah Indonesia.

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 4

Dan, uniknya, sekumpulan blogger se-nasional yang hadir mewakili kotanya masing-masing juga mengenakan pakaian tradisional yang beragam. Ini tentu saja di luar komunitas guru yang juga memiliki semangat yang sama mengenakan pakaian adat masing-masing. Aku bahagia melihat hampir semua peserta sadar dengan kekayaan identitas bangsa. Aku melihat berbagai wastra Nusantara dikenakan. Ini sih parade kain tradisional ya. Senang sekali.

Semua peserta yang mengenakan pakaian tradisional ini dimobilisasi ke Pandaan, Pasuruan. Rupanya di sini aku bisa menikmati ragam kesenian daerah yang menggetarkan jiwa. Ada penampilan duo pemusik yang mahir memainkan sasando dan sape. Iya, dua alat musik berbeda negeri. Yang satu dari Nusa Tenggara Timur, yang satu dari Kalimantan Timur. Apa jadinya saat kedua alat musik itu dimainkan bersama? Aku sudah pernah bilang belum, ya, bahwa aku jatuh cinta dengan negeri timur Indonesia. Nah, itu dia. Sasando dan sape ini mengingatkanku pada rasa cinta itu.
Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 5

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 6

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 7

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 8

Selanjutnya ada penampilan Tari Remo dari Surabaya, Tari Saman dari Aceh, dan Tari Anire dari Papua. Semua penampilan itu meriah. Wah, mulai terasa Nusantaranya. Mulai terasa pula nilai Pancasila-nya, bukan?

Renungan Nilai Pancasila dari Jawa Timur

Di sela-sela acara, aku menyempatkan diri mengunjungi beberapa tempat di Pandaan dan Surabaya. Tidak jauh dari lokasi suka ria ragam budaya yang ditampilkan dari berbagai daerah yang dibawa oleh guru kesenian, aku mengunjungi Masjid Cheng Ho. Aku melihat implementasi nilai-nilai Pancasila yang berwujud. Salah satunya ya Masjid Cheng Ho ini. Arsitektur yang mengambil unsur arsitektur Jawa dan Cina terlihat jelas di bangunan masjid ini. Unsur warna merah yang dominan terlihat mencolok. Di luar kabar tentang Laksamana Cheng Ho yang menjadi mualaf masih desas-desus, namanya diabadikan menjadi nama masjid ini sungguh berarti. Bagaimana pun juga Laksamana Cheng Ho adalah traveler asal Tiongkok yang mengarungi belahan dunia dengan kapalnya dan mampir ke Pulau Jawa. Namanya juga disebut-sebut sebagai tokoh yang berjasa dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa dan membentuk komunitas besar di luar Jawa. Karena itulah, namanya diabadikan sebagai nama masjid yang punya bentuk atap bertingkat mirip pagoda.

Aku suka dengan tatanan masjid yang punya pelataran luas di depannya. Berdirinya Masjid Cheng Ho di Pandaan ini membuktikan bahwa adanya akulturasi 2 kebudayaan. Tentu saja akulturasi itu menyeimbangkan tatanan hidup masyarakat di sekitarnya pula. Kalau bicara Pancasila, tatanan hidup yang harmonis seperti inilah yang dimaksud Pancasila. Tidak mengganggu, tidak menuding, tidak pula saling bertolak belakang.

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 9

Pada lain hari, aku berjalan kaki di kawasan Putat Jaya, Surabaya. Aku diajak melihat-lihat produk-produk ekonomi kreatif yang tumbuh di sana setelah lokalisasi besar-besaran kawasan prostitusi Gang Dolly beberapa tahun lalu. Banyak sekali masyarakat yang terdampak dari lokalisasi itu. Karena itu, para penggiat kampung mulai bangkit membantu para warga sekitar untuk mengembangkan diri. Ada yang membuka garmen, pangkas rambut, toko kecil-kecilan, setra batik, membangun KUKM bersama. Salah satunya Dolly Saiki Point.

Aku juga berkunjung ke pesantren yang berada di jalur merah Gang Dolly. Rupanya pesantren ini berdiri di sebelah wisma-wisma pusat prostitusi pada masanya. Ya, namanya juga kehidupan. Yang positif dan negatif selalu tumbuh berdampingan. Masih ada wisma yang aktif rupanya meski tidak terbuka seperti dulu.

Yang bikin aku takjub adalah Gang Dolly dan kawasan Putat Jaya berproses menjadi sentra batik. Melihat bagaimana masa lalu di Gang Dolly, tentu tidak membuat kawasan ini serta merta redup. Kreativitas menjadi sumber kehidupannya. Butuh para penggiat yang bisa fokus membangun ekonomi kampung itu tumbuh kembali. Kepedulian ini yang menjadi nilai tambahnya. Kali ini tentu sumbernya bukan lagi dari prostitusi.

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 10

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 11

Aku jadi ingat Pak Sudjiwo Tedjo menjelaskan dengan sederhana makna Pancasila lebih lanjut. Di forum persamuhan, ia pernah bilang, "Puncak tertinggi Pancasila adalah tidak mengganggu orang lain." Nah, ini barangkali yang dimaksud dengan akulturasi dan hidup dengan ragam budaya. Mengunjungi Masjid Cheng Ho membuatku merenung bahwa arti Pancasila itu sangat luas. Untuk itu, nggak perlu muluk-muluk, cukup dengan prilaku tidak saling ganggu.

Begitu pula saat aku mengunjungi KUKM di Putat Jaya, aku menyadari bahwa masyarakat di sana sedang bangkit kembali, berkreasi, membangun kepercayaan diri dan image kampung itu dengan wajah baru. Belajar dari sejarah, bukan? Aku rasa nilai-nilai Pancasila itu sedang membumi.

Bu Risma sebagai Walikota Surabaya yang sempat hadir di persamuhan mengatakan bahwa menumbuhkan Pancasila itu sama dengan menumbuhkan rasa cinta kepada sesama. Beliau membuat area publik untuk dinikmati warga Surabaya karena ia mencintai warganya. Beliau memberikan apa yang warganya butuhkan. Taman bukan sekadar taman, tapi tempat rekreasi.

Ada Cerita tentang Pancasila dan Keragaman di Surabaya 12

Bahkan Bu Risma berpesan untuk mengajarkan generasi muda untuk mencintai tanah air. Jika anak mencinta negara, dia tidak akan menyakiti negaranya. Itulah prinsip Bu Risma, Pancasila itu tumbuh karena cinta.

Aku terbuai dengan lirik yang ditulis oleh Raden Kartono (Kakak RA Kartini) yang dinyanyikan oleh Sujiwo Tejo.

Sudih tanpo bondo
Digdoyo tanpo aji
Trimah mawi pasrah
Sepi pamrih tebih ajrih
Langgeng tanpo susah, tanpo seneng
Antheng mantheng
Sugeng jeneng

Ah, meski aku nggak pandai bahasa Jawa, tapi makna lirik ini dalam sekali. Ada nilai tentang keihklasan dari lirik itu. Itu juga pucuk Pancasila, bukan? Sederhana sekali tapi sulit untuk diamalkan. Karena itulah acara Persamuhan Pendidik Pancasila yang dihadiri ratusan guru menjadi sangat bermakna. Karena itu pula, aku banyak merenung tentang arti Pancasila yang multitafsir itu ketika pulang dari Surabaya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments