In Journey Land

Pertama Kali Mengisi Workshop Folklore di Bulgaria

Perjalanan ke Bulgaria tahun lalu memang perjalanan yang singkat tapi sangat berkesan. Ya iyalah, orang mana yang rela jalan-jalan kaki keliling kota kecil Veliko Tarnovo pakai songket ketat dan mahkota bundo kanduang terpasang di kepala. Tampil mencolok di tengah masyarakat Bulgaria yang berpakaian biasa-biasa saja saat musim semi waktu itu membuatku nggak akan pernah lupa pengalaman itu.

Bulgaria saat musim semi adalah negeri kembang. Satu kembangnya yang terkenal adalah pink rose. Tidak heran jika orang-orang Bulgaria menyukai bunga-bungaan. Aku bertemu dengan beberapa teman baru dari Bulgaria yang sedang mengenakan pakaian tradisional mereka. Sederhana saja, pakaian dengan celemek terpasang di pinggang dan properti spatula tersampir di saku celemek. Mereka tak hanya menganggap bunga sebagai wangi-wangian, tetapi juga jadi bahan makanan dan minuman. Itu sudah jadi tradisi. Kebayang nggak kamu minum wine air mawar? Aku dikasih satu botol wine berbahan dasar rose pink, katanya buat oleh-oleh dari Bulgaria. Orang-orang Bulgaria, khususnya Veliko Tarnovo memang manis sekali. Super sweet seperti suasana musim seminya. Dingin tapi senyum mereka menghangatkan.

Workshop Folklore Bulgaria- jurnaland.com
Workshop Folklore di Bulgaria (2)

Pagi itu aku harus bangun lebih awal. Suhu udara di luar ruangan di bawah 10 derajat Celcius. Suara serak dan badan meriang. Mariana, gadis Bulgaria baik hati sudah menungguku di lobi. Mariana sudah memastikan saat makan malam sebelumnya bahwa aku dan tim Galang Dance dari Indonesia harus standby esok hari pukul 9 pagi di lobi untuk briefing. Usai briefing, aku pun berjalan ke restoran untuk sarapan sekitar 10 menit. Setelah itu aku, Mariana, dan tim penari Galang Dance berjalan kaki ke taman kota Veliko Tarnovo, Summer Theatre, bersama dengan tim tari dari India. Begitu tahu lokasi workshop itu di outdoor, aku meminta izin kembali ke hotel untuk mengambil jaket. Suhu udara menggigit, apalagi dengan kondisi fisik yang kurang fit.

Ada apa hari ini? Ada 3 rangkaian kegiatan yang harus kuikuti hari itu. Pukul 10 pagi aku dan tim Galang Dance Community harus hadir di acara Friends in Diversity dan pertukaran budaya. Aku mewakili Indonesia untuk mengisi workshop tradisi Minangkabau di hadapan teman-teman peserta The World Cup of Folklore yang berasal dari berbagai negara. Aku udah wanti-wanti ke tim penari Galang, termasuk pimpinannya (baca: bundo sendiri), "Jangan malu-maluin, ya." Begitu aku ngomong, kepalaku langsung dikeplak oleh bundo. Padahal yang lebih memalukan itu ya aku sendiri. *Anak durhaka memang.

Seharusnya yang mengisi workshop folklore dan tari tradisional itu ya pimpinan grup. Tapi karena masalah bahasa, aku seperti biasa harus berani maju ke panggung. Jadi materinya ya suka-suka aku ya. Bundo paling cuma angguk-angguk kepala aja, padahal beliau nggak tahu anaknya ngomong apa.
Workshop Folklore di Bulgaria (3)



 Wokrshop Folklore di Bulgaria (4)- jurnaland.com

Workshop folklore di Bulgaria (5)


Materi workshop sudah kusiapkan 50% sejak keberangkatan kami ke Bulgaria. 50% lagi on the spot. Ini pertama kalinya aku mengisi workshop kesenian tradisi di hadapan orang-orang asing di negeri orang pula. Aku memberikan materi tentang tari-tarian dari Indonesia dan khususnya Minangkabau, satu tempat di sudut Indonesia yang punya beragam budaya. Aku menjabarkan beberapa alat musik tradisional yang kami bawa semacam talempong, seruling, gendang, indang, dan bansi. Semua peserta mendengarkan dengan baik (nggak tau apakah mereka mengerti atau tidak). Namun, karena Indonesia sudah meraih medali emas malam sebelumnya untuk pertunjukan tari piring (baca kisahnya di sini ya), mereka sangat tertarik dengan detail-detail properti dan energi yang kami bawakan. FYI, satu hal yang membuat orang luar salut dengan kesenian kita adalah energi besar yang harus kita keluarkan dalam menampilkan sebuah karya tari. Dulu, aku juga pernah dijelaskan oleh orang Georgia, bahwa tari-tarian tradisional Georgia mengusung gerak tangan saja atau kaki saja. Khusus untuk perempuan, geraknya sangat gemulai dan berporos pada tangan. Tidak jauh berbeda dengan tari-tarian dari Bulgaria dan negara sekitarnya di Eropa Timur.

Sementara itu, bagi orang Indonesia, tari-tarian kita melibatkan semua anggota tubuh. Mulai dari mata, mulut, mimik, tangan, badan, dan kaki. Begitu juga dengan tarian Minangkabau. Inilah yang jadi nilai plus kesenian Indonesia saat itu di rangkaian event The World Cup of Folklore. Belum lagi pakaian kita yang gonjreng dan penuh aksesoris. Sangat menarik buat mereka.

Begitu aku menjabarkan dengan santai mengenai tari-tarian dan alat musik Minang, banyak peserta yang mengajukan diri untuk mencoba salah satu celana andalan yang bisa mengeluarkan bunyi seperti gendang, celana galembong. Aku sudah meminta tim penari untuk memeragakan cara mengenakan celana itu dan cara menggunakannya dalam gerak tari dan silat. Seketika suasana panggung jadi heboh. Kami mengajarkan beberapa gerak dasar dalam ilmu silat dan tari Minangkabau. Ada yang antusias mengikuti sampai beberapa kali terjengkang. Mereka mengakui, susah sekali jadi orang Indonesia. Geraknya rumit karena budaya dan kehidupan masyarakat lokal kita juga kompleks. Kesenian dan tradisi lisan kita tentu merekam berbagai memori kolektif yang dikolaborasi menjadi bentuk kesenian kita. Latar belakang sejarah juga sangat berpengaruh. Itu yang membuat kesenian tradisi kita dengan kesenian tradisi Timur Tengah dan Eropa Timur jauh sekali berbeda. Diskusi dan workshop kami tentang kesenian tradisi cukup menarik siang itu.

Workshop Folklore di Bulgaria (6) - jurnaland.com

Usai workshop hingga jam makan siang, aku langsung mengikuti briefing untuk persiapan parade budaya sore hari di pusat Kota Veliko Tarnovo. Ada sesi interview dengan Euro Folk TV sekitar 15 menit. Dan, kondisiku saat itu dalam keadaan mulai teler. Bahkan aku sendiri lupa aku menjelaskan apa saja tentang Indonesia.

Sesiangan itu acara bebas kok. Jadi aku bisa bersantai sejenak dengan berjalan-jalan ke pusat souvenir di Veliko Tarnovo. Sayang juga kalau waktu cuma kuhabiskan di kamar hotel. Lokasinya tidak terlalu jauh dari hotel, dapat ditempuh dengan jalan kaki biar sehat. Seharusnya sih aku sehat ya, tapi sebenarnya kepala mulai pening akibat jadwal festival yang padat itu.

Setelah sempat berjalan-jalan sebentar, aku kembali ke hotel. Karena, sebelum pukul 5 sore aku sudah harus siap dengan dandanan pakaian adat Koto Gadang, salah satu pakaian tradisional dari Bukittinggi. Yang lain juga harus siap dengan pakaian tari sesuai formasi masing-masing. Sore itu adalah waktunya parade budaya. Seluruh peserta The World Cup of Folklore diarak sepanjang jalan raya lengkap dengan pakaian tradisional dan bendera negara masing-masing. Nggak tau lagi bagaimana bangganya aku dan tim membawa bendera merah putih di antara negara-negara yang berjajar di kiri-kanan-depan-belakangku. Setiap negara diberi kesempatan display kesenian selama 15 menit di halaman gedung Konstantin Kisimov Music and Drama Theatre yang berada persis di pusat kota Veliko Tarnovo.

Parade Budaya The World Cup of Folklore


Tema besar yang diusung oleh tim Galang Dance saat parade adalah "Maanta Jamba", sebuah tradisi mengantar berbagai makanan dalam piring besar yang ditaruh di atas kepala. Biasanya tradisi ini dilakukan oleh sekelompok orang Minang dalam acara pernikahan dan hajatan besar lainnya. Aku sendiri berdiri paling depan dengan melambai-lambaikan bendera merah putih sepanjang jalan. Berada di tengah-tengah banyak orang yang juga mengenakan pakaian tradisional masing-masing membuatku terharu. Betapa banyak budaya dunia yang tidak kita tahu. Jangankan dunia, di dalam negeri saja, budaya kita sudah berbagai rupa. Aku hanya membawakan satu tradisi kecil dari masyarakat Minang. Namun, rasanya senang mewakili negara ini untuk event kelas dunia itu.

Parade budaya berlangsung selama 2 jam. Setelah itu, semua peserta digiring masuk ke gedung pertunjukan Konstantin Kisimov. Tim tari Galang langsung berganti pakaian untuk pementasan terakhir berjudul "Rantak Bagalabuak", sekaligus puncak paket kesenian Tradisi Bajamba yang diusung oleh Galang Dance sejak hari pertama festival. Sambutan meriah kami terima dari segenap penonton yang hadir di gedung pertunjukan. Aku yang sedari awal berpindah-pindah dari backstage ke ruang ganti memeluk satu per satu tim penari yang energinya luar biasa didedikasikan untuk festival ini.

Pada malam penutupan itu pula aku harus berpisah dengan Mariana yang sejak awal menemaniku dan dengan sabar menghadapi kami yang seringkali telat jadwal. Sering mengomel, tetapi pada detik berikutnya dia tertawa lagi. Dia juga sesekali menunjukkan wajah kagetnya melihat tingkah kami yang pernah berdandan sambil jalan karena takut ditinggal rombongan. Meski masih 18 tahun, dia gadis yang cerdas dan banyak sekali mengajarkanku bahasa sapaan di Bulgaria. Dia sempat bertanya umurku berapa, kujawab, "Kita sebaya." Dan, dia percaya. Hebat! Pengalaman dan kesan menarik tentang orang-orang Bulgaria kudapat dari Mariana. Blagodarya, Mariana.

The World Cup of FOlklore Bulgaria - jurnaland.com

The WOrld Cup of FOlklore 2018 - jurnaland.com

Begitulah pengalaman pertama kali mengisi workshop folklore di Bulgaria, pertama kali parade di tengah jalan dengan pakaian adat bersama negara lain, dan pertama kali pula tampil di TV Eropa. Percayalah, bahasa Inggrisku berantakan. Tetapi berada di tengah-tengah orang yang sama-sama bukan penutur asli bahasa Inggris, membuatku banyak belajar bahwa ada lebih dari sekadar bahasa lisan yang mempersatukan orang.

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments

In Journey Land

Berlayar ke Kampung Bugis Pulau Sebira Kepulauan Seribu

Kamu tau Pulau Sabira atau Sebira nggak? Tenang, kalau ada yang belum familiar dengan nama Sebira, sebelum menginjakkan kaki di pulau ini, aku juga nggak punya gambaran sama sekali tentang pulau ini, kok. Pulau Sebira itu adalah salah satu bagian pulau dari Kepulauan Seribu. Lokasinya paling utara dan merupakan pulau penjaga utara Jakarta. Dari sekian banyak pulau di Kepulauan Seribu yang familiar didatangi pengunjung itu masih berjarak dekat. Nah, Pulau Sebira ini jadi pulau yang paling jauh, ditempuh dengan naik perahu nelayan selama lebih kurang 9 jam dari Muara Angke atau Tanjung Priuk. Jauh, ya. Aku senang sekali suatu ketika berkesempatan main ke Pulau Sebira ini dan Pulau Kelapa Dua, yang merupakan sister island dari Pulau Sebira. Naik kapal 9 jam dong?

Tentu saja tidak. Aku berangkat dari Dermaga Marina, Ancol dan menaiki kapal cepat yang memang akan berangkat ke pulau terdepan Kepulauan Seribu itu. Perjalanannya lumayan bisa didiskon jadi 4 jam saja. Ternyata yang bikin perjalanan lama itu kondisi angin dan lautnya. Ada satu momen saat kapal kami terombang-ambing menerjang ombak yang besar-besar. Aku bersama Astari, partner travelingku ke Pulau Sebira waktu itu memilih tidur selama perjalanan, daripada harus mencemaskan kondisi lautan yang tidak menentu.

Berlayar ke Kampung Bugis Pulau Sebira
Berlayar ke Kampung Bugis Pulau Sebira (1)
Pantai cantik di Pulau Sebira.

Begitu memasuki perairan Pulau Sebira, aku terbangun. Kulihat air laut begitu jernih. Aku tak percaya ini masih perairan Provinsi DKI Jakarta. Takjub. Sungguh takjub. Langitnya cantik, air lautnya juga nggak kalah cantik.

Sebagian besar penduduk yang menempati Pulau Sebira adalah orang Bugis. Entah gimana caranya orang Bugis bisa sampai ke pulau ini. Tapi kalau mengingat nenek moyang kita yang pelaut, ya mungkin-mungkin saja zaman dulu kala orang Makassar dan Bugis berlayar ke sini dan menetap di Pulau Sebira. Aku berjalan-jalan keliling desa dan melihat rumah-rumah panggung orang Bugis. Mereka sudah turun-temurun menetap di pulau ini dan dialeknya pun masih sama. Mereka juga masih menggunakan tradisi pindah rumah dengan mengangkat rumahnya. Pernah pula ada acara pindah rumah antar pulau, dari Pulau Sebira ke Pulau Kelapa Dua. Jangan dibayangkan bagaimana cara menggotong rumahnya, aku pun nggak kebayang.

Berlayar ke Kampung Bugis Pulau Sebira (2)
Pesona Pulau Sebira Kep. Seribu.

Berlayar ke Kampung Bugis Pulau Sebira (3)
Mercusuar di Pulau Sebira.
Di pesisir utara Pulau Sebira, ada sebuah mercusuar peninggalan Belanda yang tinggi sekali. Mercusuar ini dibangun pada masa Z. M. Willem III tahun 1869. Sekilas mengingatkanku dengan mercusuar di Pulau Belitung. Mercusuar di Sebira adalah satu-satunya mercusuar di Kepulauan Seribu. Fungsinya sebagai penanda adanya daratan ke arah perairan Jakarta dan menjadi petunjuk pelayaran pada masa pemerintahan Belanda. Terasa sekali jejak-jejak Belanda di pulau ini. Satu hal yang membuatku makin takjub dengan Pulau Sebira adalah ada wifi di sekeliling pulau yang bisa diakses bebas, tanpa password. Waktu aku ke sana, aku kehilangan sinyal. Ternyata wifi di daratan Sebira cukup kuat untuk tetap aktif internetan. Wifi ini difasilitasi oleh Kominfo biar orang-orang Sebira tidak ketinggalan informasi. Keren, ya. 

Aku berkenalan dengan seorang gadis dari Pulau Sebira dan ternyata dia adalah anak dari Ibu RW di kampung itu. Namanya Fitri. Fitri mengajakku dan Tari berisitirahat di rumahnya yang memang sering jadi tempat persinggahan. Bu RW sangat ramah meski waktu itu sedang sakit. Tapi, entah kenapa terlihat sekali beliau orang yang cerdas dan disegani oleh orang-orang kampung. Ada beberapa ibu yang datang ke rumah untuk mengobrol dengan Bu RW. Rupanya mereka sedang berdiskusi tentang sebuah proyek KUKM yang dibangun oleh ibu-ibu di kampung itu.

Jelas saja aku penasaran. Fitri mengajakku mengunjungi sekelompok ibu yang memproduksi abon dari ikan selar di salah satu rumah dekat pantai. Abon ini berencana diproduksi dan dijual lebih luas. Fitri yang membantu pemasarannya dengan membuat packaging yang manis. Produknya dinamai Boni, Abon dari Kepulauan Seribu. Kebetulan saat itu dia baru lulus kuliah dan diminta ibunya untuk membantu memberdayakan perempuan di kampung Sebira. Dia juga jadi kepala koperasi yang sengaja dibuka untuk ibu-ibu di Pulau Sebira sekaligus Pulau Kelapa Dua. Ah, aku terharu melihat aktivitas ibu-ibu ini.

Berlayar ke Kampung Bugis Pulau Sebira (9)
Rumah-rumah panggung di Pulau Sebira.

Berlayar ke Kampung Bugis Pulau Sebira (4)
Menjemur ikan selar.

Berlayar ke Kampung Bugis Pulau Sebira (5)
Ibu-ibu mengolah ikan selar jadi abon ikan.

Berlayar ke Kampung Bugis Pulau Sebira (6)
Ibu-ibu Pulau Pramuka yang sedang mengolah bagan teri.
Dari produksi abon ikan, nggak jauh dari sana aku melihat ikan-ikan asin dijemur di tepi pantai. Katanya, ikan asin ini dijemur selama 2 hari di bawah terik matahari. Rupanya mereka memproduksi ikan selar asin, ikan khas dari perairan Pulau Sebira. Nama kemasannya Serumba, alias Ikan Selar Sebira. Di sisi lain kampung, aku melihat aktivitas ibu-ibu yang sedang membuat kerupuk ikan khas Sebira. Gemas mendengar nama merek kerupuk ini, Gimaku alias Gigit Makan Aku. Ya ampun, kreatif sekali.

Di Pulau Kelapa Dua, aku juga menemukan kelompok ibu-ibu bermarga Bugis dan Makassar senang berkumpul untuk memproduksi stik cumi dalam jumlah besar. Kebetulan Pulau Kelapa Dua jadi salah satu posko Taman Nasional Kepulauan Seribu.  Jadi memang penduduknya sudah sedikit melek dengan pengelolaan alam dan sumber daya manusianya. Untuk membangun kelompok usaha bersama di kalangan ibu-ibu juga nggak sulit. Persis seperti di Pulau Pramuka yang kondisinya lebih ramai. Ada sekelompok ibu-ibu yang mau meluangkan waktunya untuk mengolah bagan teri yang sedap. Jenis sambal produksi bersama ini bakal dipasarkan secara luas juga, lho.

Laut di perairan Pulau Kelapa Dua sama cantiknya dengan Pulau Sebira. Ada hutan bakau di sekeliling pulau yang menjaga pulau dari ombak besar. Aku mampir ke posko Taman Nasional Kepulauan Seribu yang menyediakan ruang dan penginapan untuk orang-orang yang ingin konservasi atau penelitian tentang Kep. Seribu di sana. Orang-orang kampungnya juga ramah. Aku disuguhi makanan dan camilan stik cumi buatan mereka. Budaya Bugis dan Makassar sangat kental terasa di sini. Meski orang-orang kampung di sana belum pernah ke Makassar, mereka masih menjunjung budayanya. Jadi, kalau kamu ingin melihat kehidupan orang Makassar dan Bugis, tinggal datang ke Pulau Kelapa Dua atau pun Sebira.

Melihat kegiatan aktif dari para ibu di Pulau Sebira dan Pulau Kelapa Dua, cukup membuatku sadar bahwa di titik terjauh dari Kepulauan Seribu, bukan termasuk pulau wisata, dan bukan pula kampung yang peduduknya banyak, tapi mereka mau belajar untuk membangun sistem perekonomian lewat usaha sendiri. Sekolah yang ada di kampung ini cuma 2 tingkat, SD dan SMP. Untuk lanjut SMA, anak-anak di kampung Sebira harus menyeberang ke Pulau Kelapa Dua, bahkan ada yang memilih sekolah di Kota Jakarta. Akses pendidikan di Pulau Sebira memang sangat terbatas, tetapi itu tidak mengurangi daya kreativitas dan produktivitas dari orang-orang kampung. Aktivitas yang dilakukan ibu-ibu di Pulau Sebira dan Pulau Kelapa Dua mengingatkanku pada program Pelatihan Literasi Keuangan untuk Perempuan dari Prudential Indonesia. Prudential menjangkau perempuan-perempuan di seluruh Indonesia untuk membantu mereka melek dengan pengaturan keuangan.

Berlayar ke Kampung Bugis Pulau Sebira (7)
Astari bersama ibu-ibu keturunan Bugis dan Makassar di Pulau Kelapa Dua.
Pelatihan Literasi Keuangan untuk Perempuan ini merupakan sebuah inisiatif untuk memberdayakan perempuan Indonesia agar mampu mengelola keuangan keluarga dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Pelatihan literasi keuangan ini menjadi bagian dari program unggulan Community Investment Prudential Indonesia di bidang edukasi. Aku menyukai program ini karena memang perlu dan butuh, apalagi Prudential mulai menjangkau para perempuan di bagian timur Indonesia. Program pelatihan literasi keuangan akan sangat membantu menumbuhkan kepercayaan diri dan kemandirian perempuan dari sisi ekonomi. Seperti yang kulihat di Pulau Sebira, ibu-ibunya tampak senang berkumpul dan mampu menghasilkan sesuatu dari hasil alam mereka. Ketika suaminya menangkap ikan di laut, para ibu mengolah ikan itu hingga menjadi kemasan yang dapat dijual. Dari sana, tentu tindak lanjutnya adalah bagaimana mengelola keuangan itu agar tidak bercampur dengan keuangan keluarga.

Rangkaian program pelatihan literasi keuangan dari Prudential tahun 2018 ini sudah dilakukan di Manado, Ambon, Sorong, Malang, dan Jakarta. Dari lima kota itu, lebih dari 2.500 perempuan dari berbagai kalangan dan latar belakang, berpartisipasi dalam rangkaian acara ini. Menurut Nini Sumohandoyo, Corporate Communications & Sharia Director Pudential Indonesia, komitmen Prudential Indonesia dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat ini memang menjadikan perempuan sebagai fokus utama. Perempuan memegang peranan penting dalam berbagai keputusan keuangan, baik dalam rumah tangga maupun dalam bisnis.

Pelatihan Literasi Keuangan Prudential
Acara Pelatihan Literasi Keuangan Prudential di Jakarta.

Pelatihan Literasi Keuangan Prudential (2)
Press Conference Program Literasi Keuangan Prudential.
Totalnya jangkauan program literasi keuangan yang dijalankan oleh Prudential sudah menjangkau lebih dari 27.000 perempuan di 24 kota di Indonesia. Pencapaian ini nggak lepas dari sinergi berbagai kemeterian yang saling mendukung: Kementerian Perdagangan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Para ibu yang terlibat dalam pelatihan ini tentu diajarkan oleh tim PRUvolunteers yang merupakan karyawan Prudential sendiri. PRUvolunteers inilah yang memberikan edukasi kepada peserta mengenai jenis lembaga keuangan--baik konvensional maupun syariah--dan berbagai instrumen keuangan sebagai solusi proaktif dalam merancang masa depan keuangan yang terencana dan minim risiko.

Kalau melihat target Prudential, mereka ingin melebarkan sayap untuk menjangkau 50.000 perempuan Indonesia hingga tahun 2022. Program yang positif ini bisa membantu mengurangi tingkat kriminalitas, kesenjangan sosial dan gender, dan mengecilkan angka perdagangan orang. Tentu nggak mudah menjangkau pelosok-pelosok semacam itu. Tapi aku optimis, kalau dibangun dengan aura positif, pasti kita bisa, kok. Melihat kegiatan ibu-ibu di Kampung Sebira dan Kelapa Dua yang masih di perairan Jakarta saja, aku bisa merasakan keoptimisan itu ada. Para perempuan butuh edukasi dan pembangkit semangat diri untuk aktif dan produktif. Mari kita dukung, yuk.

Berlayar ke Kampung Bugis Pulau Sebira (8)
Aku dan Astari lagi di Pulau Kelapa Dua.

Read More

Share Tweet Pin It +1

10 Comments

In Story Land

Barang Trendy Anak Urban Milenial


Kalau ngomongin passion, jangan tanya anak urban milenial! Jawabannya banyak, mimpinya jauh. Makanya anak milenial terkenal dengan "banyak mau". Eh, tapi, kalau lihat kemampuannya, tentu bisa-bisa aja mewujudkannya selagi itu positif. Karena anak milenial ini selalu ingin hidup berdasarkan passion-nya. Termasuk aku. Kita punya segudang #PassionToWin yang pantas untuk diperjuangkan.

Aku sudah pernah share tentang potret anak urban milenial kan di artikel sebelum-sebelumnya (Baca lagi di sini ya). Nah, kali ini aku mau nambahin bumbu pelengkap yang anak urban milenial mesti punya. Dengan segudang kegiatan, networking yang terus-menerus meluas lewat social media, kebutuhan untuk hiburan yang sangat tinggi, ruang nyaman untuk bekerja, ternyata anak urban milenial butuh sekali sama benda wajib di bawah ini.

Barang Trendy Anak Urban Milenial

1. Jalan-jalan Naik Mobil MINI yang Trendy



Jalan-jalan naik MINI yang trendy

Aku pernah duduk lama sekali di parkiran sebuah mall karena tepat di depanku ada mobil MINI Cooper berwarna merah terparkir dengan rapi. Aku juga beberapa kali cerita ke Junisatya, aku ingin punya MINI suatu hari nanti, yang warna tosca atau kuning. Junisatya cuma berkomentar, "Kamu emang suka banget sama yang berbau Inggris, ya?" Aku mengangguk. Entah kenapa, sejak nonton serial Mr. Bean pada zaman sekolah, aku jatuh cinta sama mobil MINI milik Mr. Bean. Mini sih memang, tapi tampak manis. Oldschool tapi tetap stylish.

Lalu, sekarang aktivitas sebagai digital nomad yang baru-baru ini menyibukkanku, aku ingin bikin resolusi, nih. Jadikan MINI Cooper makin dekat ke dompet, ya Allah. Rasanya cocok aja dengan aktivitas anak urban di Jakarta yang butuh mobil kecil dan tetap modis, bisa nyempil-nyempil di jalanan macet. Bisa diajak jalan keluar kota juga.

Beberapa hari lalu, aku iseng melihat-lihat MINI di showroom Mini Maxindo Pondok Indah Jakarta. FYI, ini satu-satunya dealer resmi mobil MINI di Indonesia. Aku seketika jatuh cinta dengan MINI Cabrio yang kesannya trendy dan atraktif. Ya iyalah, MINI Cabrio ini bentuknya fleksibel dengan fitur open-roof. Cocok kan dengan aku yang pencinta alam, penyuka kebebasan. Jadi tinggal disesuaikan dengan mood sehari-hari dan cuaca, atap si MINI Cabrio ini mau dibiarkan terbuka atau tertutup.

MINI Clubman dan Acen Switch

Selain MINI Cabrio, ada MINI Coutryman dan MINI Clubman yang nggak kalah menggoda. Warna-warnanya itu, lho. Aku suka. Modelnya juga disesuaikan dengan kebutuhan si pemakainya. Buat pencinta MINI, bisa banget nih lihat-lihat langsung ke showroom-nya di Mini Maxindo. Sekalian bantuin aku pilih mobil yang mana. Siapa tau mobilnya bisa mejeng di carport rumah dalam waktu dekat.

2. Punya Laptop yang Detachable

 Laptop Premium Acer Switch yang Deatchable

Aku juga sudah pernah ulas tentang laptop premium dari Acer, bukan? Itu lho, laptop yang enteng banget dibawa traveling. Aku mulanya jatuh cinta banget sama edisi Swift 5 dari Acer yang beratnya nggak sampai 1 kg. Lalu, entah kenapa, aku juga suka dengan desain Acer Switch series. Kenapa? Acer Switch series ini jadi laptop premium yang bisa dilepas alias detachable antara screen dan keyboard-nya. Dulu banget, aku punya tablet yang emang gampang dibawa-bawa. Tapi fiturnya masih kurang mumpuni mengingat teknologi pada saat itu belum secanggih laptop masa kini. Karena itu, aku senang sekali dengan tampilan Switch series dari Acer yang bisa dipakai sebagai laptop dan tablet sekaligus. Bentuknya slim dan elegan. Cocok nih buat kamu yang meeting sana-sini terus. Tinggal cabut keyboard-nya, switch, seketika laptop berubah jadi tablet.

Acer Switch series memang cocok untuk orang-orang yang berjiwa trendy, atraktif, dan dinamis. Ada beberapa pilihan laptop premium dari Acer Thin and Light. Acer mengikuti gaya hidup banget, khususnya anak urban milenial. Acer memang paling tahu kebutuhan pasarnya. Laptop ringan, canggih, dan elegan memang menarik perhatian. Karena itu, nggak salah kan aku kali ini memilih Switch. Masih ada Acer Swift series dan Spin series yang bisa kamu pilih. Semuanya disesuaikan dengan gaya, selera, dan kebutuhan masing-masing.

Barang trendy anak urban milenial

Kalau dilihat-lihat, jalan-jalan naik MINI Cabrio dan bawa laptop Acer Switch, kolaborasi yang cocok, ya. Aku udah membayangkan tempat-tempat unik mana saja yang bisa dikunjungi pakai MINI Cabrio, dalam kota maupun luar kota. Kerjaan tetap bisa jalan terus, kok.  Laptop Acer Switch sudah tersimpan aman di dasbor MINI. Ah, lengkapnya hidup ini. #AcerxMiniMaxindo

Jadi, kalau ngomong soal #PassionToWin, bukan soal materi aja. Tapi bagaimana materi itu dapat dimanfaatkan seluas-luasnya. Dengan gabungan laptop Acer dan mobil MINI, rasanya dunia sudah dapat direngkuh. Tinggal kita sebagai anak milenial memfokuskan passion pada bidang apa. Mimpi dapat dikejar, gaya hidup juga akan menyesuaikan. Aku percaya bahwa anak urban milenial adalah generasi yang aktif dan reaktif. Setiap ada kesempatan, kenapa nggak diambil. Laptop dan mobil itu sarana pelengkap. Pilihannya pun banyak. Selera kita juga makin besar. Tinggal kita yang menyesuaikan diri bagaimana memanfaatkan pelengkap yang ada untuk menggapai passion. Apalagi 2019 sudah di depan mata, Gengs. Resolusi apa aja yang udah kamu susun untuk tahun depan?

Punya mobil Mini sekaligus laptop premium Acer Switch series bisa dimasukin resolusi 2019 nggak ya? Kamu tim yang mana? Aku tim Acer X Mini Maxindo, nih. Mari aminkan bersama, ya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

10 Comments

In Journey Land

Baralek Gadang, Tradisi Pernikahan Adat Minang

Udah punya rencana apa buat mudik Idulfitri tahun depan? Aku udah hampir 2 tahun nggak mudik nih ke Padang. Bukannya durhaka, ya, tapi kebetulan banget pas 2 kali musim puasa Ramadhan, aku sedang berada di Georgia dan Bulgaria untuk misi kebudayaan. Jadinya, begitu pulang ke Indonesia menjelang lebaran, aku dan Junisatya memutuskan untuk nggak mudik dulu. Biayanya abis buat jajan takjil di Eropa Timur. :))

Masih Desember, kok udah ngomongin mudik? Ya iya, ini karena orang asyik ngomongin liburan Natal dan Tahun Baru, aku jadi ingat belum ngecek tiket mudik buat tahun depan. Coba aku cek dulu deh.

Ngomongin mudik ke Padang, aku mau cerita sedikit tentang budaya Minang. Masih fresh nih cerita tentang misi budayaku di Bulgaria musim semi kemarin. Aku di sana mengenakan pakaian adat Koto Gadang, salah satu daerah di kawasan Bukittinggi. Katanya suntiang Koto Gadang yang cuma berbentuk selendang tebal itu hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang sudah menikah (khusus berwarna merah). Tapi memang warna aslinya merah. Jika ada warna lain, berarti sudah bagian dari modifikasi tradisi. Nah, karena aku sudah menikah, aku diminta mengenakan pakaian adat itu untuk parade budaya di Kota Veliko Tarnovo, Bulgaria. Banyak orang bertanya tentang pakaianku yang tampak meriah, mencolok, dan bling-bling sendiri (eh barengan bling bling sama peserta dari India). Maklum, pakaian adat dari negara-negara Eropa aksesorisnya tidak semeriah ini. Aku lumayan jadi pusat perhatian.


Omong-omong soal budaya, aku mau cerita tentang tradisi menikah di Minangkabau. Biasanya aku cerita tentang wisata alam dan kulinernya kan setiap pulang kampung. Nah, kali ini mau ngulik budaya pernikahan. Mungkin sebagian kamu udah familiar dengan dekorasi dan aksesoris yang dipakai oleh pengantin orang Minang. Tapi tradisi yang sebenarnya dalam pernikahan Minang punya alurnya sendiri dan cerita di baliknya.

Sebagai gadis Minang, hal yang paling dinanti adalah momen pemakaian sunting beneran saat ia menikah. Entah kenapa, rasanya itu jadi pencapaian bermakna dalam hidup. Ya, fairy tale syndrom itu memang nyata terjadinya. Tidak terkecuali pada tradisi adat sendiri. Termasuk aku. Waktu TK, kalau ada Hari Kartini, pasti langsung fitting baju adat untuk pamer dress dan make up. Namanya juga anak TK centil, ya. Tapi entah kenapa, memakai sunting itu paling dinanti, tetapi juga paling ditakuti karena berat. Yah, sunting ukuran anak TK seberapa besar, sih ya. Itu juga nggak terbuat dari kuningan asli yang beratnya seberat beban hidup. Karena rasa penasaran mengenakan sunting beneran yang cuma boleh pada saatnya nanti, momen itu jadi prestise banget. "Saatnya nanti" itu kapan? Ya, saat si gadih Minang itu menikah. Dan, tentu saja meriah.

Kalau kamu jalan-jalan ke tanah Minang, akan lebih lengkap kalau beneran bisa melihat tradisi pernikahan adat Minang yang sering disebut Baralek Gadang. Aura tradisinya jauh lebih dalam, nuansanya lebih merakyat, dan meriahnya pun beda. Ada ritual-ritual pernikahan adat Minang yang banyak di-skip jika pernikahan itu diadakan di luar tanah Minang. Ya, seperti saat aku menghadiri nikahan teman orang Padang di Jakarta, ya. Hal yang terlihat "Minang banget" cuma dekorasi, sunting, dan rendang. Padahal makna pernikahan bukan saja kemeriahan resepsi, tetapi juga jadi sebuah sebuah upacara adat.
Tradisi pernikahan adat minang
Baralek gadang Minang

Nah, bagaimana upacara adat pernikahan di Minang? Sebenarnya setiap daerah di Sumatera Barat punya puluhan jenis ritual upacara pernikahan tergantung adat yang dianut masyarakat setempat. Tapi tujuannya sama, berpesta merayakan anak gadisnya dipersunting orang. Pesta itu bukan hanya tradisi keluarga, tapi jadi tradisi kampung. Yaa, karena itu juga sih nikah itu mahal.

Karena aku orang Agam, aku cerita soal baralek gadang versi kampungku aja, ya. Karena ada banyak versi upacara adat pernikahan, tergantung suku dan tergantung daerahnya.

1. Malam Bainai

Baralek gadang

Malam bainai ini sering dikenal dengan malam memakai pacar/hena, sehari sebelum menikah. Tapi maknanya jauh lebih dari itu. Semacam bachelorette party, malam bainai itu jadi malam ramah tamah si gadih minang sebelum resmi dipersunting orang. Dalam tradisi Minang, anak perempuan akan dikunjungi oleh keluarga bako (keluarga dari pihak ayah). Ini semacam simbol bahwa si anak yang merupakan 'anak pisang' (kemenakan dari saudara ayah) sudah dewasa dan mengantar secara simbolis si anak ke keluarga ibunya. Kenapa harus ada acara seperti itu? Karena acara nikahan kan memang diadakan di rumah keluarga ibu. Nanti bako akan memberikan hadiah berupa perhiasan untuk si gadis Minang yang akan menikah ini. Setelah itu, tangan dan kaki si gadis Minang ini dihias dengan pacar atau hena. Biar makin meriah, malam bainai versiku diselingi dengan tradisi dendang (nyanyian) dan barabab (main musik rebab) yang menceritakan nyanyiannya tentang kegelisahan, asal usul keluarga dan suku orang yang punya acara, kerinduan, doa, dan cita. Nggak heran nuansanya jadi penuh haru. Acaranya beneran semalaman. Makanya yang banyak nongkrong di halaman rumah cuma para bapak-bapak seisi kampung. Kaum ibu dan anak-anak sudah tidur duluan.

baralek gadang (3)

2. Manjapuik marapulai

Kalau biasanya cowok yang jemput cewek, khusus di Baralek Gadang nikahan anak Minang, ceweklah yang menjemput si cowok. Marapulai adalah sebutan untuk pengantin laki-laki. Anak daro untuk sebutan pengantin perempuannya. Nah, ini hari yang paling ditunggu karena hari itulah si gadis Minang tadi bisa mengenakan sunting. Karena aku orang Agam, aku memakai pakaian serba merah hati dengan mahkota berupa sunting besar. FYI, tiap daerah di Sumatera Barat punya pakaian adatnya sendiri, jadi nggak semua pakai sunting kok. Yang orang kenal tentang pakaian adat Minang apalagi untuk menikah ya sunting seperti yang kugunakan itu. Sunting besar dengan berat mencapai 5 kg. Kebayang kan beratnya memanggul beban di kepala berjam-jam?

baralek gadang (4)

Dengan berat sunting di kepala, baju kurung yang penuh aksesoris juga bikin beban hidup bertambah. Makanya nikah itu kalau udah siap aja, ya. Jangan ikut-ikutan. Fix, waktu aku menikah, berat baju dan berat sunting kayaknya melebihi berat badanku (derita anak kurus). Belum cukup dengan itu saja, si anak daro harus menjemput marapulai ke rumahnya. Ya, untungnya karena Junisatya bukan asli Minang, dia nggak harus aku jemput ke rumah. Jauh banget jemputnya ke Jakarta. Cukup jemputnya di ujung kampung aja, lalu kami diarak keliling kampung dengan bunyi-bunyian.

3. Berbalas Pantun

baralek gadang (5)

Saat menjemput marapulai, anak daro didampingi oleh saudara perempuan ibu. Bukan orang tua langsung. Orang tua justru menyambut marapulai dan keluarganya di rumah. Nah, saat di lokasi penjemputan, marapulai disambut dengan pantun, silat, dan tari pasambahan (tari pembuka upacara adat dan acara-acara resmi di Minangkabau). Idealnya sih pakai berbalas pantun, tetapi karena keluarga Junisatya bukan orang Minang, jadi pantun bahasa Minang hanya disampaikan satu arah. Terakhir, marapulai dan keluarganya akan diminta mencicip daun sirih sebagai simbol ramah tamah. Rombongan keluarga besar itu pun diarak keliling kampung dengan bunyi-bunyian alat musik tradisional seperti gendang dan talempong. Keluarga ibu melempar beras ke arah pengantin sebagai simbol doa dan harapan.

4. Makan bajamba

baralek gadang (6)

Begitu anak daro dan marapulai digiring sampai masuk rumah yang sudah gemerlap dengan dekorasi serba merah dan emas, saatnya makan bajamba (makan bersama). Yang wajib ada di rumah ya bundo kanduang, mamak (paman), mak tuo (bibi), sumando (ayah dan keluarga ayah/besan). Makan bajamba ini dilakukan lesehan dengan menghidangkan semua menu masakan sampai camilan di tengah rumah. Kalau nggak salah ada belasan menu makanan yang wajib ada untuk acara nikahan. Ada rendang, ayam, dendeng, sambalado, ikan, gulai, menu sayuran pical, anyang, dan lain-lain. Buah-buahan yang lazim ada itu pisang dan semangka. Aku nggak bisa mendefinisikan semua jenis makanan satu per satu. Keburu habis duluan.

5. Batagak gala

baralek gadang (7)

Sebenarnya saat aku menikah dengan Junisatya, aku men-skip yang satu ini, batagak gala, upacara pemberian gelar untuk pengantin laki-laki. Upacara ini harus dihadiri lengkap oleh datuk dan petinggi kampung. Seperti pepatah Minang, ketek banamo, gadang bagala (kecil bernama, besar bergelar), setiap laki-laki yang menikah akan diberikan gelar adat untuknya. Jadi begitu gelar itu resmi, kita harus memanggil laki-laki itu dengan gelarnya, tidak boleh dengan namanya. Ada sanksi adat buat orang yang melanggar, bahkan bagi keluarga sendiri. Hmm. Meski upacara batagak gala untuk Junisatya di-skip, bukan berarti ia tidak diberi gelar. Pada hari itu juga, saat ia menginjakkan kaki pertama kali di rumahku, namanya berubah jadi Malin Bandaro, pemberian dari pamanku yang menjabat sebagai datuk (pemimpin adat) di suku kami. Seharusnya aku memanggilnya Uda Malin Bandaro kalau pulang kampung. Ya, kalau di Jakarta sih, aku nggak terlalu terikat dengan panggilan itu. Kan, ceritanya aku punya panggilan sayang sendiri, Junisatya, Hehe. Sst, jangan bilang ke datukku di kampung ya, bisa-bisa aku kena sanksi adat.

6. Tari-tarian meriah pesta rakyat

Setelah semua upacara pernikahan selesai, saatnya rakyat berpesta. Iya, kemeriahan itu bukan milik pengantin atau pun keluarga besar, tetapi juga milik seisi kampung. Ada tabuhan gendang, talempong, dan alat musik lain, lalu ada tarian tradisional Minang. Ya, karena ibuku punya grup tari tradisi yang udah melalang buana di pentas internasional, masa iya nggak digelar di pentas rumah sendiri. Jadi semua pertunjukan di depan rumah itu adalah ide dari bundo kanduangku. Mantap ya.

baralek gadang (8)

baralek gadang (9)

Rangkaian tradisi pernikahan adat Minang sebenarnya nggak sampai di situ saja. Biasanya di kampung-kampung, baralek gadang itu dilakukan 3 hari 3 malam, seminggu, bahkan sampai 40 hari. Nggak kebayang berapa ratus juta biaya yang mesti dikeluarkan. Nggak kebayang juga betapa murkanya bos di kantor yang ditinggal 40 hari demi rangkaian acara pernikahan. Tapi itulah tradisi, kalau nggak dilakukan, tradisi dan nilai-nilainya bakalan hilang. *tulisan ini aku tulis efek dari sebuah diskusi tentang diskursus masyarakat adat yang sejarahnya makin terkikis.

Duh, aku jadi rindu pulang kampung jadinya. Ingin merasakan kembali tradisi hangat di tengah keluarga. Karena kesibukan di negeri rantau a.k.a Jakarta dan tinggal di Depok, aku baru bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga saat Hari Raya Idul Fitri. Cuma itu waktu yang pas untuk cuti panjang dan sekalian kumpul keluarga besar. Karena itu, setiap Idulfitri, aku selalu memesan tiket pesawat mudik berbulan-bulan sebelumnya, apalagi sekarang urusan mudik udah nggak sendiri, tapi berdua. Otomatis biayanya bakalan dua kali lipat dan mudik ke Padang itu adalah mudik termahal di Indonesia sepertinya. Tuslahnya bisa mencapai 3 kali lipat dari harga normal tiket. Aku harus benar-benar mengatur keuangan khusus buat mudik ini. Apalagi 2x lebaran aku nggak pulang. Yang ketiga, mungkin akan dikira titisan bang toyib kali ya.

Jadi, untuk tahun depan, aku mau lebaran di Padang lagi. Aku udah menandakan kalender lebaran untuk tahun 2019 sembari memantau harga tiket pesawat dari sekarang. Semoga ada rezekinya, ya.

Read More

Share Tweet Pin It +1

17 Comments

In Journey Land

Jelajah Sumbawa, Bertahan Hidup di Pulau Kenawa

Sumbawa memang tak pernah mengecewakan, apalagi pada saat musim kemarau. Pagi itu aku dan geng travelingku sudah berada lagi di dermaga kecil pelabuhan Poto Tano. Kami baru saja turun gunung dari Bukit Mantar, diantar mobil pick up sampai ke dermaga ini. Bukit dan jalan yang kering kerontang menjadi daya tarik tersendiri. Pelabuhan Poto Tano jadi spot instagramable banget hari itu.

Hari itu giliran kemping di Pulau Kenawa, satu pulau di seberang Poto Tano yang tak berpenghuni. Pulau Kenawa ini masih bagian dari Desa Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Hanya ada savana, bukit tunggal yang tidak terlalu tinggi, laut, dan kami. Aku dan teman-teman menunggu perahu yang sudah kami sewa lebih dulu. Aku mencari info penyewaan perahu yang bisa mengantar-jemput kami di Pulau Kenawa. Jadi, berangkatnya diantar, lalu bapak pemilik perahu akan menjemput kembali esok paginya. Persis seperti saat kami berkemah di Bukit Mantar. (baca tulisannya di sini)
Jelajah Sumbawa-Kenawa

Jelajah Sumbawa-Kenawa (2)

Ohya, sebelum berlayar ke Pulau Kenawa, kami membeli perbekalan untuk makan siang dan makan malam sekaligus. Kata si bapak pemilik perahu, lebih baik sedia bekal dari pelabuhan karena Pulau Kenawa sedang sepi. Sedang sepi ini maksudnya gimana? Kami sendiri tahu sekali kalau di Pulau Kenawa tidak ada rumah penduduk. Aku sudah membaca banyak sekali info tentang pulau ini dari blog dan website pariwisata. Tapi, bukankah banyak warung yang dibuka di sana karena mengingat Pulau Kenawa adalah destinasi wajib saat kita berkunjung ke Sumbawa?

Faktanya, begitu kami berlayar sekitar 15 menit dari pelabuhan Poto Tano, perahu kami merapat di satu sisi pantai Pulau Kenawa. Kosong, sepi, semua warung tutup. Pulau Kenawa benar-benar tidak berpenghuni. Kata Pak pemilik perahu, orang yang jaga warung pulang semua ke Sumbawa, masih trauma dengan gempa Lombok. Mereka mengamankan diri untuk sementara, sampai Lombok dan Sumbawa benar-benar aman. Kami seketika merinding. Jadi hari itu memang tidak ada orang satu pun di Pulau Kenawa. Tapi si bapak pemilik perahu menghibur. Katanya itu ketakutan orang-orang saja. Weekend minggu depannya juga pasti Kenawa sudah ramai lagi. Oke, Pak. Kami pun berpisah dengan si bapak pemilik perahu.

Angin semilir menggoyang-goyang savana yang berwarna kekuningan. Rasanya ingin langsung guling-guling di padang savana itu. Yang pertama harus dicari itu adalah tempat terbaik untuk basecamp seharian itu sampai malam nanti. Kami menyisiri pantai yang putih dengan karang-karang kecil tersapu ombak di pesisir. Angin bertiup lumayan kencang. Karena angin mulai nggak santai padahal masih pukul 11, kami berteduh saja di sebuah pondok kosong di pinggir dermaga, sembari membuka bekal makan siang. Hanya ada nasi dengan lauk teri dan telur mata sapi. Tapi kok nikmat sekali, ya. Bahkan kami berempat rebutan menghabiskan jatah satu sama lain. Ingin sekali aku mengulang momen makan di pondokan Pulau Kenawa itu.

Jelajah Sumbawa-Kenawa (3)


Usai makan, air laut seakan melambai-lambai memanggil kami untuk terjun siang itu. Aku mulanya berniat snorkeling di sekitaran pantai. Ada ikan-ikan kecil di sela-sela pasir berkerikil. Namun, begitu menyelam beberapa meter, Junisatya menarikku ke permukaan.

"Ada yang lewat di bawah. Hitam gede."
"Di mana?" tanyaku. Dia menunjuk ke arah kanan.
Aku masuk lagi ke air dan nggak melihat apa-apa. Begitu berenang lebih maju lagi, aku juga melihat ada yang lewat dari sudut mata.
"Hiu," jawabku asal.

Saat itu juga aku melipir ke bibir pantai lagi, berlomba dengan Junisatya. Ry dan Rara, dua teman kami yang dengan semena-mena nggak mau main air hanya menatap keheranan. Awalnya panik, tapi langsung tertawa-tawa. Siapa yang nggak ketawa, belum tentu juga itu beneran hiu. Belum tentu juga itu ikan. Baru juga nyemplung beberapa meter, tapi aku sudah menyerah. Yah, entah ikan apa yang lewat dan agak besar itu, aku nggak mau masuk ke laut lagi. Ada rasa tidak aman saat kami bermain-main di laut siang itu. Nggak ada perahu nelayan yang bertengger di dermaga. Nggak ada orang yang jaga warung. Kalau aku mendadak nggak kuat berenang ke tepi, siapa yang bakal nolongin? Nggak ada tim Baywatch yang siap sedia di sana. Pulau Kenawa terlalu sepi, saking sepinya, kita memang harus bisa bertahan sendiri.

Jelajah SUmbawa-Kenawa (4)
Membicarakan Kenawa kini dan cara bertahan hidup di sana.

Angin di Pulau Kenawa mengundang ombak ribut. Jadi memang lebih aman kami eksplor daratan di pulau yang luasnya hanya sekitar 15 hektar itu. Aku bebersih badan (nggak pakai air bersih), cuma lap-lap dan ganti pakaian. Ada kamar mandi darurat yang didirikan orang-orang warung untuk buang hajat dan bilas. Tapi, tentu saja tidak ada air bersih, kan, karena sudah semingguan itu Pulau Kenawa kosong. Nggak ada nelayan/warga yang memasok drum berisi air bersih dari Poto Tano. Nah, ini jadi masalah baru lagi buat kami. Aku belum mandi dari hari sebelumnya, sejak kami kemping di Bukit Mantar. Rara mengeluhkan rambutnya yang sudah sangat lepek, nggak mampu ditolong oleh bedak tabur saja. Ry dan Junisatya mulai diam-diam nahan pup. Kami nggak boleh sembarangan bersih-bersih pakai air mineral yang sudah dibawa. Takut kehabisan. Jadi harus hemat.

Akhirnya aku dan Rara memberi kuliah singkat tentang jurus-jurus mengorek pasir ala kucing dan cara menimbunnya kembali kalau memang nggak mau mencemari laut. Meski enggan, Ry dan Junisatya akhirnya mencari lokasi ternyaman untuk buang hajat. Masih di sekitaran pantai, kok. Dengan hanya ditutup dengan matras yang diberdirikan melingkar, pas dijadikan jamban darurat. Mereka mengisi botol bekas kosong dengan air laut. Aku dengan sangat keras melarang mereka menggunakan bekal air minum kami yang hanya sisa 3 botol besar. Maaf ya, teman-teman. Maaf juga ya, suami. *nyengir.

Siang itu angin melenakanku. Masih terlalu panas untuk berjalan-jalan di padang savana. Selesai berenang, kenyang, lalu tidur siang. Eh, bukan aku, ya. Tapi Ry, sambil mendengarkan musik lewat speaker portable yang kami bawa. Lalu...

Gempa.

Sekali.

Dua kali.

Pondokan kami bergetar. Aku menjerit. Ry reflek melompat bersama dengan Rara. Lalu di mana Junisatya? Dia masih serius buang hajat rupanya. Aku memanggil-manggilnya. Aku yakin dia nggak merasakan gempa yang lumayan kuat barusan. Kami menunggu beberapa menit di pantai, lalu menyadari bahwa air laut sempat surut. Jantungku mencelos. Kami harus evakuasi secepatnya. Untungnya Junisatya sudah selesai dan kami langsung berjalan cepat ke arah bukit di tengah Pulau Kenawa. Aku cuma sempat menenteng tas kecil berisi dompet dan kamera. Rara dan Junisatya hanya membawa hape. Sementara Ry menggendong ranselnya yang tampak berantakan karena belum dikancing. Dia yang paling panik di antara kami berempat.

Jelajah SUmbawa0Kenawa (5)

Jelajah Sumbawa-Kenawa (6)

Kami berjalan membelah savana yang kering karena kemarau. Lalu kami berhenti kelelahan di dataran yang agak tinggi, tapi masih jauh dari bukit Kenawa yang lebih tinggi lagi. Baru juga setengah jalan menuju bukit, kami sudah menyerah. Jiwa siap siaga dan penyelamatan diri kami lemah, nih. Dari tempat kami berdiri, aku lumayan bisa melihat hampir keseluruhan Pulau Kenawa dan kondisi lautnya. Angin masih tanpa lelah bertiup. Air laut juga masih tampak surut. Ah, indah sekali. Langit pun biru. Pulau-pulau tetangga tampak eksotis. Kami berdoa bersama semoga tidak terjadi hal yang nggak diinginkan semacam gempa susulan dan tsunami. Tidak ada siapa-siapa di pulau itu tempat kami bisa minta tolong. Hanya saling percaya di antara kami berempat.

Setidaknya kami harus menunggu di gundukan dataran yang agak tinggi itu selama satu jam. Seharusnya ya. Tapi faktanya, kami kepanasan. Ya iyalah, matahari menyengat sekali di musim kemarau. Tidak ada pohon untuk berteduh. Akhirnya dengan menyerahkan diri kepada alam dan Tuhan, kami kembali lagi ke pondokan. Kecemasan mulai luntur, kami hanya bisa menertawai diri sendiri karena bisa-bisanya kami melanggar ketentuan evakuasi dini menghindari bencana, belum sampai 30 menit, kami sudah turun bukit. Ry mengecek informasi BMKG di aplikasi. Dia sudah mengunduh aplikasi itu sejak kami berangkat ke Sumbawa karena berita gempa susulan di Lombok masih menghantui waktu itu. Memang kami aja yang nekat nggak mau membatalkan tiket pesawat saat tau Lombok kena bencana gempa dan masih berduka. Tapi nggak apa-apa, kondisi Sumbawa sebenarnya jauh lebih aman. Gempa yang kami rasakan di pulau saat itu juga berpusat di Lombok Timur, sebesar 6,2 SR. Cukup besar tapi tidak berpotensi tsunami. Kami lega sekali. Banyak teman dan kerabat yang menghubungiku saat itu karena tau aku sedang berada di Sumbawa. Aku hanya memberi info singkat bahwa kami baik-baik saja.

Setelah melewati masa tegang lantaran melihat air laut surut pasca gempa dan segala kepanikan evakuasi, aku pun memutuskan untuk mendirikan tenda. Kemudian berjalan-jalan sore di tengah savana, menikmati angin dan lambaian rumput berwarna kekuningan itu. Aku juga mampir ke rumah botol, satu-satunya bangunan permanen yang terlihat di tengah Pulau Kenawa. Bangunan rumah botol ini memang sebuah upaya dari komunitas pencinta laut untuk mendaur ulang botol-botol kaca bekas. Siapa sangka bisa mewujud menjadi 2 bangunan unik di tengah pulau seperti itu, persis menghadap ke timur. Namun, aku sampai saat ini belum paham betul maksud bangunan itu didirikan tapi dibiarkan kosong dan pintunya dikunci seperti itu. Ada loker-loker di bagian depannya. Kupikir ini semacam galeri.

Pembangunan rumah botol ini dirancang oleh arsitek dari Amerika, Michael Reynolds, yang memelopori Gerakan Rumah Ramah Lingkungan. Nah, rumah botol di Kenawa ini adalah pilot project-nya bersama beberapa relawan. Mereka mengumpulkan segala limbah di sekitar dan membangun rumah berkonsep earthships pertama di Indonesia. Bentuk bangunannya unik. Dan, katanya bakal bisa menjadi rumah bertenaga surya pasif dari barang daur ulang dan material alami. Keren banget ya. Tapi saat kami ke sana, rumahnya kosong begitu aja. Ditinggal terbengkalai, padahal dekorasi tamannya bagus. Hanya beberapa meter jalan kaki menuju pantai, mengarah ke matahari terbit.

Jelajah SUmbawa-Kenawa (7)


Karena nggak bisa masuk ke rumah botol, aku hanya bermain-main di tengah savana. Pulau Kenawa sungguh sangat kering. Begitu juga dengan pulau-pulau yang tampak di sekitarnya. Aku belum cerita kondisi bukit Kenawa yang tampak eksotik dari kejauhan ya? Karena kemarau panjang, bukit Kenawa menghitam. Beberapa bulan sebelum kami menginjakkan kaki di Kenawa, bukit itu sempat terbakar akibat percikan kembang api seorang pengunjung. Agak sedih melihat bukit itu berwarna hitam, kurang senada dengan savana kuning kecokelatan yang membelai-belai kaki sekeliling kaki bukitnya.

Malam di Pulau Kenawa penuh bintang. Lagi-lagi aku puas memandang bintang tanpa hambatan seperti malam itu. Tetapi nggak bisa lama. Rupanya angin lumayan memporak-porandakan tenda kami. Aku sampai menambatkan ikatan tenda ke tiang pondokan, tempat sesiangan kami beristirahat. Malam membuatku lumayan sibuk, memberi pemberat di setiap sudut tenda karena pasak saja nggak mempan dan menabur garam di sekeliling tenda untuk menghindari ular. Konon, katanya di sana banyak ular yang muncul dari laut. Ada yang bilang itu jenis ular mematikan nomor dua di dunia. What? Oke, lebih baik aku menutup malam dengan cepat.

Mengunjungi Pulau Kenawa sepertinya harus 2 kali. Pertama, saat musim kemarau seperti ini. Melihat savana kuning kecokelatan dan pulau-pulau yang terlihat gersang sekali sungguh menjerat hati. Pesonanya tiada dua. Kedua, saat baru melewati musim hujan karena savana dan bukit di Pulau Kenawa akan menghijau, ranum, dan rimbun. Rasanya sejuk di mata. Kali lain semoga aku berkesempatan mengunjungi Kenawa saat rumputnya menghijau ya. Dalam kondisi alam Sumbawa dan orang-orang tidak sedang berduka dan trauma karena bencana.

Rencanakan Perjalanan ke Sumbawa
Kalau kamu ingin sampai ke Sumbawa juga dan mampir ke Pulau Kenawa, lebih baik rencanakan dari sekarang, mumpung Pegipegi sedang ada diskon besar-besaran akhir tahun ini.

Rencanaku untuk trip ke Sumbawa ini nggak dalam sekali kedipan mata. Aku sudah merencanakannya 6 bulan sebelumnya. Kenapa sampai selama itu? Selain karena kebetulan dapat tiket pesawat promo Jakarta-Lombok dan Sumbawa-Jakarta, aku juga butuh riset ekstra tentang destinasi di Sumbawa. Akses dan informasi tentang wisata Sumbawa ini ternyata masih sangat terbatas, apalagi aku banyak maunya. Ingin ke Bukit Mantar, Pulau Kenawa, dan Pulau Moyo yang lokasinya agak lebih jauh. Sebenarnya banyak sekali destinasi keren di Sumbawa yang ingin kujelajahi. Sumbawa bagian timur belum. Pantai-pantai di Bima juga belum terjamah oleh kami. Ya, mungkin memang harus ada kali kedua ya seperti lagunya Raisa.

Pegipegi rencanakan perjalanan ke Sumbawa

Untuk menjangkau Sumbawa, aku berangkat dari Jakarta ke Lombok dan lanjut naik kapal selama 3 jam menuju Sumbawa Barat. Pulangnya, aku memesan penerbangan Sumbawa-Jakarta dengan transit di Lombok selama 1 jam. Kamu coba cek tiket pesawatnya di Pegipegi dan nggak perlu khawatir juga soal penginapannya. Asalkan tujuanmu jelas selama di Sumbawa dan berapa hari, penginapannya juga bisa langsung dipesan sekaligus. Lebih untung lagi dengan program GEMPITA (Gemerlap Promo Akhir Tahun) dari Pegipegi ini, kita bisa pesan tiket pesawat dan hotel jauh lebih murah di aplikasi. Ada promo khusus member karena dapat pepepoin. Semua jadi praktis, kan.

Pegipegi kini lebih firendly use buat traveler. Transportasi dan akomodasi sudah dirangkum dalam satu aplikasinya. Menjelang akhir tahun ini, diskon tiket pesawatnya bisa mencapai 212.000 dan booking hotel dapat diskon 30%. Lumayan banget. Ayo, ke Sumbawa.


Read More

Share Tweet Pin It +1

21 Comments

In Story Land

Kuliner Bebek Bentu di BSD

Kalau ada yang nanya, siapa pencinta bebek di sini? Aku akan langsung tunjuk tangan. Saat ada agenda ke Surabaya setelah lebaran lalu, aku sengaja banget menyeberang jembatan Suramadu demi bisa makan bebek Madura yang rasanya khas. Aku juga punya langganan warung bebek madura di dekat rumah, dagingnya empuk, tidak amis, dan bumbunya enak. Segila itu aku menyukai masakan bebek.

Kebetulan sekali, beberapa waktu lalu aku diajak teman untuk ketemuan di sebuah restoran Bebek Bentu yang baru buka di kawasan Serpong Jaya. Begitu mendengar itu restoran bebek, aku langsung mengiyakan. Lumayan, kan, akhir minggu bisa jalan-jalan ke kawasan BSD untuk kuliner bebek. Seperti apa menu bebek di Bebek Bentu Serpong Jaya, ya?

Kuliner Bebek Bentu Serpong Jaya

Menu bebek goreng ataupun bakar bisa dikatakan enak jika dagingnya empuk, tidak alot, tidak amis, dan bumbu bebek meresap hingga daging bagian dalam. Untuk sambal dan bumbu tambahan adalah bonusnya. Yang penting rasa bebeknya 'berasa'. Berangkat dari filosofi itu, Bebek Bentu meracik menu bebek dengan bumbu rempah yang kuat. Pemilik Bebek Bentu, Pak Bangkit Kuncoro menjamin bahwa bebek yang mereka sediakan selalu segar. Hal ini bisa jadi kelebihan dari restoran Bebek Bentu yang kini sudah memilik 5 cabang se-Jabodetabek.

Kuliner bebek bentu Serpong Jaya (2)
Bebek Kecombrang.

Kuliner Bebek Bentu Serpong Jaya (3)
Bebek Goreng dan minuman segar.

Bebek Bentu mengolah menu bebek dan menyajikannya dengan berbagai varian menu. Ada bebek goreng, bebek cabe ijo, bebek bakar, bebek bakar saos padang, bebek cemeng, bebek lada hitam, bebek rica-rica, dan bebek kecombrang. Yang mana favoritku? Hampir semua sebenarnya. Tapi yang paling mantap dan beda dari yang lain itu adalah bebek kecombrang dan bebek cemeng. Sekilas, bebek cemeng terlihat mirip dengan bebek madura, ya. Tapi bumbu rempah yang dijadikan toping bebek lebih kuat terasa dan pedas. Bebek kecombrang juga nggak kalah enak. Taburan sambal kecombrangnya gurih nikmat gimana, gitu. Teman-temanku bilang bebek kecombrang ini pedas banget. Tapi menurutku pedasnya masih standar, kok. Rata-rata menu Bebek Bentu memang pedas. Jadi, pencinta pedas pasti suka.

Eh, bagi yang bukan penyuka bebek, jangan sedih. Kamu tetap bisa nongkrong asyik di restoran Bebek Bentu Serpong Jaya ini. Ada variasi menu lain yang memungkinkan warung bebek satu ini tetap laris manis dan tidak monoton pada menu bebek. Ada menu seafood, ayam, chinese food, dan western food. Dan....semua menunya nggak ada yang failed. Aku sudah coba 21 menu makanan di resto ini dan enak semua. Selain bebek, ikan gurame sambal petirnya juga menarik.

Kuliner Bebek Bentu Serpong Jaya (4)
Salah satu menu seafood di Bebek Bentu.

Kuliner Bebek Bentu Serpong Jaya (5)
Gurame sambal petir.
Kuliner Bebek Bentu Serpong Jaya (7)
Salah satu menu western yang kusuka.

Untuk menu minuman, Bebek Bentu memiliki minuman beragam. Mulai dari es teh manis hingga jus beberapa jenis buah. Aku rekomendasikan jus mangga, jus stroberi, dan jus kedondong. Jusnya kental da fresh. Kamu harus coba. Jangan khawatir soal harga, karena setiap menunya hanya kisaran harga 10-50 ribu rupiah.

Saat mencoba menu-menu di Bebek Bentu, terasa sekali pemilik dan pengelola restoran ini sungguh matang dalam menggarap resepnya. Pak Bangkit dan sang istri memang pencinta kuliner. Jadi mereka sudah riset banyak tempat dan banyak makanan yang dijadikan referensi dan inspirasi dalam mengelola Bebek Bentu.


Bagi anak BSD dan sekitarnya, Bebek Bentu bisa jadi pilihan tempat makan sekaligus tempat nongkrong. Ssst, ada wifi kok. Restoran Bebek Bentu ini memang didesain sebagai restoran keluarga. Restonya terdiri dari 2 lantai dan terdapat toilet dan musala di lantai 2. Ada kawasan indoor dan semi outdoor. Restorannya sendiri bisa menampung sekitar 70 orang. Bisa dijadikan tempat buka puasa bareng nih next Ramadhan.

Kuliner Bebek Bentu Serpong Jaya (6)
Bebek kecombrang favoritku.

Kebetulan sekali lokasinya dekat sekali dengan rumah saudaraku yang tinggal di Pamulang 2. Lumayan bisa dijadikan alternatif makan siang, nih. Bisa pesan delivery juga melalui Go Food. Semua jadi serba lebih mudah.


Bebek Bentu Serpong Jaya
Alamat: Ruko Orlin Arcade No. 8 Perum Serpong Jaya
Jalan Purpiptek Raya Serpong, Tangerang Selatan
Instagram : @bebekbentu14
Twitter : @bebekbentu14


Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments