In Movie Land

Film Belok Kanan Barcelona, Serasa Traveling Lintas 4 Benua


Akhirnya Belok Kanan Barcelona sampai juga di bioskop. Aku beruntung dapat menontonnya pada hari premier bersama teman-teman penerbit Gagas Media, bertemu dengan penulis novelnya dan bertemu dengan seluruh cast di film ini. Dari judulnya saja, kita sudah tahu kalau film ini bercerita tentang perjalanan. Namun, perjalanan yang seperti apa? Aku berani jamin bahwa sepanjang film, Belok Kanan Barcelona akan mendongengkan kita tentang ajaibnya pesan cinta yang bisa membawa orang menemukan jati dirinya lewat perjalanan. Perjalanannya bukan perjalanan biasa. Dari film ini, kita akan jauh lebih akrab dengan bandara, stasiun kereta, hingga terminal bus. Kita juga akan akrab dengan peta dunia karena siap-siap, Belok Kanan Barcelona akan membawa kita terbang lintas benua.
Film Belok Kanan Barcelona. Source: instagram.com/belokkananbarcelona


Apa jadinya saat 4 sahabat SMA terlibat cinta segi empat? Kalau kisah drama cinta remaja sudah biasa menghiasi layar lebar kita, mari berbelok sejenak ke Barcelona. Film yang disutradarai Guntur Soeharjanto ini dikemas dalam kisah percintaan 4 orang yang terpaut jauh antarbenua. Namun, jangan membayangkan kisahnya akan rumit sekali, ya. Belok Kanan Barcelona berkisah tentang sahabat SMA yang juga tetanggan, yaitu Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Farah (Anggika Bolsterli), dan Yusuf alias Ucup (Deva Mahendra). Karena sering bersama, mereka pun saling jatuh cinta tetapi dipendam satu sama lain.

Francis sempat mengungkapkan perasaannya kepada Retno dan langsung ditolak karena alasan perbedaan keyakinan. Ya, akhirnya mereka menjalani kisah SMA mereka hanya cukup dengan status sahabat. Merasa tak cukup dengan perbedaan keyakinan, takdir pun memisahkan mereka dengan tinggal berbeda negara setelahnya. Diferensiasi yang diambil dalam film ini begitu kental tetapi terasa lebih ringan dengan dibalut banyak komedi. Alur cerita pun dibuat berbeda dengan adanya tarik ulur maju-mundur. Meskipun banyak sekali flashback, kamu tidak akan kebingungan mana yang masa kini, mana yang masa lalu karena garisnya sangat jelas, malah sangat kunikmati.

Plot berpindah saat mereka lulus SMA. Keempat sahabat ini dipisahkan oleh benua. Francis yang merupakan seorang pianis yang sudah sering tur berbagai negara saat itu menetap di Los Angeles, Amerika Serikat. Retno dengan kemampuan seorang baker dan koki, bekerja di sebuah kafe di Copenhagen, Denmark. Farah memilih mengejar mimpinya jadi arsitek sampai ke Hoi An, Vietnam, sementara Yusuf bekerja di Cape Town, Afrika Selatan. Rentang jarak tak membuat persahabatan mereka pudar, malah menjadi suatu kekuatan yang dapat ditonjolkan dari film Belok Kanan Barcelona dan sekaligus biang konflik yang bikin cerita cinta yang terpendam bertahun-tahun jadi kian rumit. Apa jadinya jika Francis, 'a man who are loved by everygirls' bilang bahwa ia akan menikah di Barcelona? Sebenarnya biasa aja sih, toh Francis memang sudah punya karier dan hidup sendiri di Los Angeles. Tetapi ini mengundang reaksi yang berbeda bagi sahabat-sahabatnya. Secara kebetulan pula, ketiga sahabat SMA Francis tidak bisa datang karena memang jauh. Lalu, entah bagaimana, takdir malah menuntun mereka untuk sama-sama bergerak dari titik masing-masing menuju Barcelona.
Film Belok Kanan Barcelona (3). Source: kincir.com

Jadi alurnya begini: Francis bilang mau nikah; lalu Retno curhat ke Farah kalau ia akan datang ke Barcelona; Farah yang sedikit patah hati curhat ke Yusuf karena juga ingin menyusul ke Barcelona; Yusuf yang awalnya damai-damai saja di Afrika mendadak panik dan ingin mengejar Farah ke Barcelona untuk menyatakan cintanya sebelum terlambat. Sementara Francis, mulai diteror oleh calon istrinya sendiri yang tidak ingin Retno hadir di pernikahan mereka nanti.

Film Belok Kanan Barcelona merupakan adaptasi dari novel Traveler’sTale terbitan Gagas Media karya Adhitya Mulya, Alaya, Setya, Iman Hidajat, dan Ninit Yunita. Suatu hal yang berani ketika filmmaker memproduksi film ini dengan lokasi luar negeri yang berpindah-pindah. Adhitya Mulya yang mendapat kehormatan langsung  untuk menulis skenarionya memberikan nyawa traveling yang ada di Traveler’s Tale terasa lebih nyata di dalam film. Ya, Belok Kanan Barcelona menjadi film mahal Starvision yang mengangkat kota-kota dari 4 benua sekaligus dalam 1 film. Ada sederetan kota-kota cantik yang diharapkan mengundang daya tarik, seperti Abidjan, Morocco, Gurun Sahara, dan Cape Town di Afrika. Empat lokasi itu paling mencuri perhatian di tengah kemegahan Praha, Budapest, Vienna, Copenhagen, dan Barcelona sendiri yang juga menjadi cerita perjalanan dalam film ini. Perjalanan Yusuf mengejar cintanya yang lintas benua sungguh menjadi sebuah tragedi perjalanan bagi dirinya. Perjuangan cintanya dibuktikan dengan kisah perjalanannya yang tidak mudah. Urusan bisnisnya di Abidjan berantakan karena perang, sempat dievakuasi setelah mengalami kecelakaan pesawat, ia pun lantas tersesat sampai Ghana dan Maroko, serta mesti terkena badai pasir di Gurun Sahara. Begitu sampai di Spanyol, ia ditangkap di imigrasi karena disangka teroris lantaran namanya Yusuf. Yusuf yang diperankan oleh Deva Mahendra menjadi scene stealer dalam film ini karena seringkali mengundang tawa. Jika tidak ada karakter Yusuf, mungkin film ini akan menjadi cerita cinta biasa.

Karakternya juga berimbang dengan Farah yang dikirim dari kantornya di Hoi An ke Budapest dan Praha untuk riset arsitektur Eropa bersama rekan kantornya. Perjalanannya awalnya mulus saja, diimbuhi sedikit dengan kejahilan rekan kantor yang dengan terang-terangan mengejar cinta Farah, meski ditolak berkali-kali. Saat kepatahhatian Farah tak dapat dibendung lagi, ia selalu curhat dan kontak-kontakan dengan Yusuf hanya biar hatinya lega, padahal setiap kali teleponan, ujung-ujungnya Farah sewot dan Yusuf malah yang patah hati. Hubungan mereka berdua lucu tetapi manis. Apalagi ada lantunan lagu "Bicara" dan "Time Will Tell" yang jadi OST Belok Kanan Barcelona dari The Overtune. Nggak kalah manis. Anggika Borsterli memberikan chemistry terbaiknya dengan karakter Yusuf ini.
Film Belok Kanan Barcelona. Source: beritagar.id

Cerita di film ini dibangun dengan sistem flashback yang dapat dinikmati dengan utuh, bukan potongan-potongan kecil, tetapi bisa jadi satu kesatuan. Delivery karakternya juga dapat dengan segala emosinya. Perkenalan dan persahabatan antara Francis, Retno, Farah, dan Yusuf dibangun dengan sangat baik. Drama cinta mereka juga begitu, berkonflik tapi dikemas jenaka dengan hadirnya beberapa segmen para komika. Sebenarnya Farah dan Yusuf sendiri sudah mengisi kejenakaan itu dengan aksi konyol mereka yang nggak hilang-hilang dari SMA hingga dewasa. Sementara itu, Francis dan Retno mengambil bagian sisi romantis-melankolis tanpa harus berdrama panjang. Karena itulah film ini akan jadi sangat manis bagi penonton remaja. Jika Maroko itu eksotik, Barcelona memberikan visual kotanya yang penuh dengan cerita romantika.

Belok Kanan Barcelona menjadi film yang sangat ringan dengan plot sederhana, tapi punya keseruan saat setiap karakter berjuang mencapai impiannya. Nuansa perjalanannya dalam film ini sungguh kuat. Bukan eksotika suatu negara yang diincar, tetapi bagaimana karakter berpindah-pindah dan menjadikan perjalanan mereka punya tujuan, entah itu cinta, persahabatan, atau malah sekadar pelarian. OST film ini sepertinya sengaja mengambil lagu-lagu hits pada masanya untuk memperkuat suasana cinta dalam perjalanan yang dibangun cerita. Ada lagu "Untuk Dikenang" versi Endah N Rhesa serta "Sahabat Sejati" dari Sheila on 7 yang bikin kita nostalgia, persis saat cerita flashback ke masa-masa SMA keempat sahabat ini. Next, lagu-lagu OST Belok Kanan Barcelona akan jadi tambahan playlist-ku di Spotify. Lumayan, buat lagu pengantar saat traveling.

Sebuah film yang mengangkat lebih dari 3 negara dengan bersih, apalagi ini lintas 4 benua, memang patut diapresiasi. Jika ada yang berkomentar tentang jalan ceritanya yang terlalu sederhana, tujuan Belok Kanan Barcelona sendiri memang untuk kisah cinta antarbenua yang tidak rumit karena perjalanan sudah membuatnya rumit. Seperti cerita-cerita traveling pada umumnya, karakter harusnya mengalami perubahan diri, ujian dalam perjalanan, hingga membuat diri masing-masing tau apa yang sebenarnya mereka cari. Dan, sudah dibuktikan dengan sangat baik oleh setiap karakternya, bahwa perjalanan akan jadi biasa jika tidak melalui hal-hal luar biasa. Tidak perlu ekspektasi lebih karena ekspektasi itu pupus dengan gambar indah tiap negara yang disinggahi tiap karakter berbeda dengan cara mereka sendiri. Setelah belok kanan ke Barcelona, mungkin aku akan balik kanan ke Gurun Sahara. Serasa traveling lintas benua sekaligus, ya.


Quote terfavorit:
Farah: Gue kayaknya naksir sama Francis.
Yusuf: Masih kayaknya, kan? Masih yang tipe-tipe yang 'pengen martabak, nih, tapi nggak jadi ah'. Gitu, kan?

Read More

Share Tweet Pin It +1

3 Comments

In Advertorial Land Story Land

Akhir Pekan Berfaedah dengan Donor Darah


Suatu sore, aku dapat pesan chat yang isinya begini, “Hanum, kamu mau ikut donor darah nggak?”

Beberapa detik aku mikir lalu kujawab, “Boleh. Tapi tergantung dokternya, ya, ngizinin aku buat donor darah apa enggak. Soalnya selama ini aku kekurusan buat donor darah. :D”

Sudah beberapa kali aku ikut donor darah dan selalu gagal karena beberapa alasan. Kadang-kadang HB yang rendah, tensi yang rendah juga, atau berat badan kurang. Problem hidupku pada masa pertumbuhan itu bukan menurunkan berat badan, melainkan menaikkan berat badan. Jadi, ya pasrah, aku belum pernah donor darah sama sekali.

Saat temanku itu mengajakku ke event donor darah yang diadakan oleh Dokter Sehat, bekerja sama dengan Blood4Life Indonesia, Ciputra Medical Center, dan Indodax, aku semangat sekali untuk ikut. Lumayan juga saat aku nggak punya jadwal traveling, aku masih bisa mengisi akhir pekan dengan aksi berfaedah. Apakah akan diizinkan jadi pendonor kali ini? Yang penting aku daftar aja dulu. Jarang-jarang, nih, aku datang ke event kesehatan seperti ini.
Kalau dipikir-pikir, acara donor darah seperti ini memang harus didukung penuh mengingat kesadaran masyarakat kita masih kurang tentang kesehatan. Apalagi di daerah-daerah. Ada beberapa fakta yang mencengangkan soal stok kantung darah kita di Palang Merah Indonesia (PMI). Indonesia itu masih kekurangan sekitar 500.000 kantung darah setahun. Agak sedih pas tau data ini. Konsekuensinya besar sekali. Pasien yang membutuhkan akan kesulitan mendapatkan kantung darah.
Akhir Pekan Berfaedah dengan Donor Darah. Source: doktersehat.com

Akhir Pekan Berfaedah dengan Donor Darah. jurnaland.com

Begitu sampai di Ciputra Medical Center di Lotte Shopping Avenue Lantai 5, aku ikut dalam diskusi Health Talk bertema Healthy Life Style in General Life dengan dr. Christopher Andrian, M. Gizi, Sp. GK. Beberapa hal yang kucatat saat diskusi gaya hidup sehat ini salah satunya adalah potensi obesitas pada perempuan. Obesitas menjadi tak terkontrol saat kita nggak mengontrol pola makan. Dokter menyarankan untuk menghindari karbohidrat dari tepung karena kadar kalorinya cukup tinggi. Duh, aku jadi malu. Aku pencinta mi yang tentu saja berbahan dasar tepung. Sementara dokter menjabarkan tentang angka kecukupan gizi setiap orang berbeda-beda, dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia, dan tinggi badan. AKG laki-laki dewasa rata-rata 2500 kkal dan AKG perempuan dewasa 2100 kkal. Jadi kamu bisa hitung sendiri kan asupan kalori setiap hari untuk menghindari obesitas.

Salah satu cara untuk mengurangi penyakit dalam tubuh, ya, pastinya donor darah. Blood4Life Indonesia sudah siap membuka posko di sana. Ketika aku mendaftarkan diri sebagai pendonor, ada formulir yang harus kuisi dan sedikit survei. Syarat donor darah itu yang pasti adalah kita nggak boleh mengonsumsi obat-obatan dalam 48 jam terakhir, tidak dibolehkan untuk perempuan yang sedang menstruasi, ibu hamil atau menyusui. Aku juga sempat ditanya pernah ke luar negeri dalam 6 bulan terakhir? Nah, aku checklist di kolom “Ya” karena terakhir aku ke Bulgaria dan Malaysia pada bulan Mei lalu, baru berlalu 4 bulan. Aku baru tau kalau traveling berpengaruh pada kondisi darah kita. Ternyata orang yang tinggal di luar negeri atau pernah ke negara yang punya wabah penyakit tertentu, belum bisa mendonorkan darahnya dalam jangka waktu tertentu. Jadi, harus didata dulu kamu baru aja kembali dari negara mana. Saat aku mengisi formulir, untungnya negara yang kukunjungi beberapa bulan lalu termasuk wilayah yang aman. Aku bisa lanjut ke tahap berikutnya.

Akhir Pekan Berfaedah dengan Donor Darah. Source: doktersehat.com


Akhir pekan berfaedah dengan donor darah. jurnaland.com

Ketika cek tensi darah, aku senang tensiku normal. Namun, ketika cek darah, sayang sekali hemoglobinku (HB) 11 gram, sedangkan pendonor minimal punya HB 12,5 gram. Baiklah, jelas sudah, untuk kesekian kalinya aku ditolak donor darah. Akhirnya aku hanya bisa menunggu teman-temanku yang sedang donor darah di ruang tunggu Ciputra Medical Center yang nyaman sambil mengunduh aplikasi Indodax. Soalnya saat Health Talk, Indodax ini juga aktif mengajak pendengarnya untuk sadar dengan perdagangan dan digital asset. Selain diskusi kesehatan yang kuperoleh hari itu, aku juga dapat tambahan pengetahuan tentang digital asset, nih. Jadi penasaran juga sama bentuk aplikasinya.

FYI, Indodax merupakan platform jual-beli digital asset seperti Etherum, Ripple, dan Bitcoin. Digital Asset ini khususnya dapat dibeli dengan rupiah atau bitcoin itu sendiri. Buat yang kuliah bisnis, pasti mengerti masalah trading di pasar saham. Nah, acara #AksiSehatCeria ini jadi salah satu bentuk kontribusi bagian Corporate Social Responsibilty (CSR) Indodax untuk memperingati hari PMI bersama Dokter Sehat. Meski arah bisnisnya tak sejalan, tapi edukasi tentang kesehatan masyarakat harus dibangun oleh berbagai instansi. Ketika melihat pendonor darah di ruang donor, aku jadi sadar kalau sehat itu mahal dan berharga, apapun background kita.

Biar banyak yang tergerak untuk donor darah (walaupun aku masih gagal), aku mengajak teman-teman semua untuk sama-sama mengedukasi lebih banyak orang lagi tentang pentingnya aksi sosial semacam ini. Karena itu, Dokter Sehat mengadakan blog competition bertema Aksi Sehat Ceria yang berhadiah uang tunai dengan total senilai jutaan rupiah. 

Kamu bisa baca syarat penulisan di www.doktersehat.com/blogsehatceria. Gampang kok, cukup tulis pengalaman hidup sehatmu dalam 500 kata dan publish di blog pribadi. Jangan lupa submit link artikelmu ke www.bit.ly/BlogSehatCeria, ya.

Makin banyak yang ikut nulis tentang #AksiSehatCeria ini di berbagai laman blog, makin banyak pula yang baca dan akhirnya punya kesadaran untuk donor darah. Biar hidup juga lebih sehat. Biar sel darah merah kita beregenerasi dengan teratur dan kadar zat besi kita juga bisa diatur ulang.

Akhir Pekan Berfaedah dengan Donor Darah.

Sekian cerita akhir pekan berfaedahku bersama #AksiSehatCeria dari tim Dokter Sehat, Blood4Life Indonesia, dan Indodax, dan Ciputra Medical Center.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Story Land

Potret Anak Urban Milenial

Hari ini aku ingin cerita tentang Jakarta dan pertumbuhan kota di sekitarnya. Setelah pindah belasan tahun lalu dari sebuah kota kecil di Sumatera ke kota besar ini, aku mengalami pergeseran budaya. Jakarta itu hidup dengan segala budaya populer kaum urbannya. Begitu juga aku, tumbuh di kota besar ini dengan berbagai penyesuaian diri selama bertahun-tahun. Kota ini sangat cepat berkembang dan bertumbuh, menerima segala hal, memprosesnya, lalu mendefinisikan dalam satu kata: urban. Lalu, ada pula generasi baby boomers yang kini sedang menginjak Jakarta dengan segala keingintahuannya yang besar. Ya, generasi itu sering disebut milenial. Generasiku, kaumku, yang lahir pada rentang akhir 1980 dan awal 2000.

Banyak orang yang membicarakan tentang generasi milenial ini. Malah lebih banyak yang negatif dibanding yang positif. Padahal dibalik semua itu, generasi milenial Jakarta punya karakteristik yang memberi banyak sekali kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi kota ini. Pergerakan budayanya memang besar-besaran, tapi anak urban milenial membutuhkan effort yang juga sama besarnya untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan. Atau bahkan mungkin anak urban milenial ini yang menciptakan perubahan itu. Aku merangkumnya dalam 5 potret anak urban milenial di bawah ini setelah kuamati dan juga kulalui, jadi nggak menggurui kan.

Potret Anak Urban Milenial. jurnaland.com

1. Senang berkumpul

Anak milenial paling senang berkumpul. Kalau dulu banyak yang bilang bahwa SMA itu masa-masanya kita nge-geng, sekarang masih terlihat buktinya nggak cuma di SMA. Ternyata geng itu tumbuh terus dan membentuk geng-geng baru dengan manfaat pertemanan yang berbeda-beda. Friends with benefit. Apalagi anak urban milenial. Nongkrong di coffee shop sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Menyesap kafein sembari mengobrol dengan teman-teman dan siapa tahu dari sana akan muncul ide-ide baru.

Potret Anak Urban Milenial (2). jurnaland.com
Aku dan beberapa teman usai meeting di sebuah kafe di Jakarta.

2. Bekerja freelance dan membutuhkan Co-working space

Sudah tak ada yang heran, kalau sekarang anak urban milenial dicap sebagai kaum yang pembosan dan sering berpindah-pindah kerja. Begitu tidak cocok bekerja di satu tempat atau merasa dirinya tidak berkembang di tempat itu, mereka akan memilih resign dan memulai pekerjaan baru di tempat baru. Setelah perpindahan sering terjadi, kejenuhan pun muncul. Ini kualami dengan sangat sadar. Memutuskan bekerja secara freelance adalah suatu keputusan dengan risiko besar yang mengacu pada finansial. Ketahanan diri dan emosi lebih diuji saat kita memilih keluar dari zona nyaman sebagai karyawan yang dibayar bulanan. Namun, itu tidak terjadi pada diriku saja. Jadi bisa kubilang sebagian besar anak urban milenial memang memilih untuk resign dari kantor dan memulai hidup dengan membuka kreativitas sendiri. Tidak semua orang berani, tapi di antara yang belum bisa keluar dari zona nyaman itu juga memimpikan hal yang sama: kebebasan berkarya. Ambisi sebagian besar anak urban milenial harus diapresiasi. Karena sejak itu pula, lokasi-lokasi strategis yang nyaman untuk bekerja dan punya wifi kencang begitu diincar. Dari sanalah muncul ide membuat co-working space yang mewadahi kreativitas para enterpreneur muda. Apalagi soal jarak dan waktu tempuh di Jakarta berbanding terbalik akibat macet di mana-mana. Ini menjadi alasan utama para pekerja memutuskan resign lantaran lokasi tempat tinggal dan kantornya begitu jauh.

Mobilitas menjadi target pasar yang menarik sebenarnya. Kalau bicara tentang anak urban milenial, tentu tak perlu dipertanyakan soal mobilitas. Mereka cuma kaum yang malas dengan rutinitas, tapi menyukai perpindahan. Kerja freelance adalah pilihan karena kebebasan berkarya membuka peluang untuk bertemu lebih banyak orang dan menggarap proyek dengan berbagai klien. Tentu dibutuhkan effort mobilitas tinggi. Bukan berarti targetnya adalah memiliki mobil yang dapat mendukung mobilitas itu. Justru sebaliknya. Pergerakan manusia sedang digiring untuk menggunakan kendaraan umum. Kini Jakarta lebih efektif menggunakan transportasi transjakarta, commuter line, bahkan LRT yang baru saja diuji coba. Tentu anak urban milenial ke depan akan makin ambisius memilih ruang kerjanya sendiri, bergerak di dalam kota dengan caranya sendiri pula. Yang penting tak kenal batas dalam berkarya. Ketika anak urban milenial mulai bergerak, Jakarta pun memberi akses dan fasilitasnya. Atau sebaliknya. Semua saling terkait.

3. Punya geng traveling bareng

Selain kebebasan berkarya, anak urban milenial paling suka dengan jalan-jalan dan liburan bareng. Kalau dulu solo traveling terlihat begitu hebat, sekarang traveling bersama kawan atau pasangan adalah suatu hal yang lebih menarik. Sepertiku yang juga punya beberapa geng traveling bareng. Nggak direncanakan khusus atau berniat untuk milih-milih teman. Enggak sama sekali. Biasanya geng ini muncul ketika aku ingin ke suatu tempat, lalu seorang teman ingin ikut dan mengajak teman lainnya. Jadilah kami dalam perjalanan menjadi akrab satu sama lain. Aku percaya, traveling itu nggak cuma memperluas wawasan, tapi juga memperluas jaringan. Kita jadi banyak teman. Bahkan ketika pulang, selalu ada rencana jalan bareng berikutnya entah ke mana. Selalu begitu. Setidaknya aku yang begitu. Bandara dan stasiun kereta sudah menjadi teman baikku tentunya. Tak terhitung jumlah betapa loyal dan royalnya aku terhadap 2 terminal itu. Traveling selalu mengasyikkan sekaligus melenakan. Namun, sebagai orang yang hidup di kota besar yang padat dengan tingkat stres berkompetisi yang tinggi, aku selalu butuh rehat dan berlibur sejenak.

Potret anak urban milenial (3). jurnaland.com
Ini geng traveling-ku saat ke Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Potret anak urban milenial (4). jurnaland.com
Geng traveling-ku saat ke Pulau Kei, Sulawesi Tenggara.

4. Sering datang ke pusat keramaian dan music festival

Sudah lumrah kalau anak-anak urban menyukai keramaian, khususnya music festival. Tak terhitung juga panggung-panggung musik yang diramaikan oleh artis lokal dan internasional diadakan di Jakarta. Kalau nggak ada festival, rasanya kota ini nggak bernadi. Seperti terakhir aku mendatangi Asian Fest dalam semarak Asian Games 2018, lalu seminggu kemudian aku ke Jak-Japan Matsuri di tempat yang sama. Sepertinya Gelora Bung Karno jadi nggak mau sepi usai Asian Games 2018 resmi ditutup. Selalu ada keramaian yang mengundang khalayak. Di mana ada panggung musik, di situ ada segerombolan anak urban milenial yang meramaikannya. Entah karena suka dengan musiknya, suka dengan artisnya, atau sekadar suka kumpul-kumpulnya dan merasakan euforianya. Nggak salah, kan kalau kubilang anak urban milenial itu senang berkumpul.
 
potret anak urban milenial (5). jurnaland.com
Monas jadi pusat perhatian saat Asian Games 2018

Potret anak urban milenial (6). jurnaland.com
None Jakarta.

5. Memilih tinggal di apartemen di lokasi strategis

Nah, ini poin terakhir dan paling penting. Punya tempat tinggal menjadi sebuah pencapaian. Mungkin dulu, para orangtua kita berpikiran punya tanah dan rumah adalah target hidup mahapenting. Aku nggak mengingkarinya, bahkan sampai hari ini. Untuk properti satu ini memang harus dipikirkan karena menyangkut investasi jangka panjang. Tapi, pergerakan dan pertumbuhan ekonomi mengarahkan ke suatu sistem yang berbeda. Hidup di Jakarta mengajarkanku untuk hidup lebih efisien dan efektif, menghargai waktu dan mengedepankan pencapaian. Punya hunian yang nyaman dan menunjang pergerakan itu sepertinya jodoh-jodohan. Mobilitas yang tinggi yang kujelaskan di atas saling terkait dengan tempat tinggal. Bagaimana kita bisa berkarya dan punya jaringan lebih luas jika tidak dimulai dari lingkungan tempat tinggal yang nyaman? Ya, semua berawal dari rumah. Bahkan, seorang traveler yang sudah keliling dunia pun tentu akan kembali ke rumah, entah untuk tinggal, entah untuk transit sebentar.

Namun, kini orang banyak berpikir lebih simple, punya hunian di lokasi strategis dengan harga yang tidak terlalu tinggi. Pembangunan tower apartemen seperti jamur di Jakarta dan kota sekitarnya. Rasanya berinvestasi di properti ini tidak ada salahnya. Ada satu apartemen yang menarik perhatianku, Urban Sky yang berlokasi di Bekasi. Konsepnya TOD alias Transit Oriented Development. Apartemen yang baru launching 1700 unit pada tanggal 9 September lalu ini bakal didirikan dalam 2 tower dan terdapat stasiun LRT berada di kawasannya. Sejak soft launching, sudah ada 500 nama calon penghuni yang sudah mendaftar. Wow, angka yang cukup besar mengingat perencanaan pembangunan tower Urban Sky baru dilakukan tahun ini.

Potret anak urban milenial (6). jurnaland.com
Launching Urban Sky Apartment dan bincang dengan blogger.

Potret Anak Urban Milenial (7). jurnaland.com
Contoh unit studio di Urban Sky Apartment.

Potret Anak urban milenial (8). jurnaland.com
Maket 2 tower Urban Sky Apartment di Bekasi.

PT Urban Jakarta Propertindo sudah menggarap fasilitas di apartemen yang total terdiri dari 3300 unit ini. Tentu itu disesuaikan dengan kebutuhan penghuninya nanti, seperti fasilitas olahraga, co-working space, workshop space, edutainment, dan lain-lain. Siapa lagi penggunanya kalau bukan dituju untuk kalangan urban milenial. Cocok dengan potret anak urban milenial yang aku ungkap di atas, kan. Urban Sky mengutamakan konsep work-life balance. Jadi antara hidup dan pekerjaan itu harus seimbang.

Lokasi Urban Sky ini berada di lingkungan gedung baru kampus Gunadarma di Bekasi. Setidaknya kalau di lingkungan kampus, biaya hidup lebih terjangkau. Bahkan, untuk yang sekadar ingin berinvestasi, kesempatan itu juga sangat terbuka. Banyak sekali mahasiswa dan para pekerja yang kini tertarik tinggal di apartemen dengan fasilitas lengkap dan akses yang gampang. Jadi, peluang investasi di Urban Sky Apartment memang sangat menjanjikan.

Untuk harga per unit juga relatif terjangkau untuk sekelas unit apartemen. Harga per meter persegi sekitar 13 juta. Dilihat dari segi fasilitas dan akses, tentu harganya sebanding. Dengan keadaan jalanan Jakarta yang hampir nggak bisa ditolerir, adanya LRT membuat hidup kita jauh lebih mudah. Jadi, kenapa engga, tinggal di kawasan modern dengan stasiun LRT ada di dalamnya. Jadi ingat dulu semasa aku kuliah di UI, langsung ada akses stasiun kereta di lingkungan kampus. Itu sangat mempermudah mobilitas kehidupan kampus. Apalagi tempat tinggal. Bagi yang ingin berkendara keluar kota, Urban Sky juga punya akses pintu tol nggak jauh dari lokasi. Jadi, sejauh ini Urban Sky sangat ramah bagi calon penghuni yang punya mobilitas tinggi.

Kalau kamu tertarik dengan Urban Sky sama sepertiku, kamu bisa langsung datang ke Marketing Office-nya di Grand Kota Bintang Blok A, Jln. Noer Ali, Jakasampurna, Bekasi atau bisa cek website-nya di www.urbansky.co.id.

Sekilas potret hidup anak urban milenial tampak konsumtif dan bergaya hidup hura-hura, ya. Eits, tunggu dulu. Tinggal di apartemen dengan segala fasilitas yang disediakan seperti di Urban Sky itu hanya wadah. Setelahnya kita dapat memilih arah langkah kita. Kalau punya hunian nyaman dan strategis, urusan kita akan 100 kali lebih mudah. Pertumbuhan ekonomi kreatif membutuhkan ide-ide baru dan segar dari anak urban milenial. Jadi, kalau kita memotret kehidupan para generasi muda milenial, kita harus serba terbuka dan menilai positif. Perkembangan kota besar takkan lepas dari kreasi anak urban milenial ini. Kenapa tidak difasilitasi? Ya, kan?!

Read More

Share Tweet Pin It +1

11 Comments

In Movie Land

Wiro Sableng Dulu dan Kini

Melewati masa kecil dengan tontonan serial Wiro Sableng, tentu aku tak mau melewatkan nonton filmnya kali ini yang khusus didedikasikan kepada sang penulis komik Wiro Sableng yang legendaris, Bastian Tito. Sebenarnya dulu aku nggak ngerti-ngerti amat tentang jalan cerita Wiro Sableng. Yang aku tahu, Wiro Sableng itu ya pendekar gila yang sering ketawa dan terbang-terbangan di hutan. Ia punya kapak maut naga geni 212 yang jadi andalannya. Sampai-sampai dulu banyak bertebaran merchandise kapak 212 yang jadi mainan anak-anak. Bahkan banyak bocah yang ingin digambar angka 212 di dadanya persis seperti pemeran Wiro Sableng pada saat itu. Untungnya aku cuma sebatas punya mainan kapak 212, nggak sampai buat tato di dada segala. Padahal ya, makna angka 212 aja nggak ada yang peduli waktu itu. Ah, begitulah aku mengenal Wiro Sableng waktu kecil.

Kini filmnya tayang dengan pemain baru dan harusnya lebih segar. Apalagi saat ini sedang musim film reboot, remake, dan reborn. Rasanya masa dulu itu indah ya. Dan banyak cerita lama yang dapat dikembangkan saat ini. Seperti film Wiro Sableng ini. Di sela-sela kita menunggu film gabungan superhero Marvel yang baru aja kalah perang dari Thanos, ada film superhero Indonesia yang nggak kalah menghibur dan kualitasnya pantas diapresiasi.

Wiro Sableng dibuka dengan sejarah hidup Wira Saksana dari Jatiwalu. Ayah-ibunya dibunuh dan Wira diselamatkan oleh seorang nenek sakti yang kerap dipanggil Sinto Gendeng. Sinto mengajarkannya ilmu silat dan kebatinan lalu memanggilnya Wiro Sableng, si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Wiro diutus untuk meringkus kejahatan Mahesa Birawa yang merupakan bekas murid dari Sinto Gendeng sendiri. Sinto ingin Wiro membawa Mahesa Birawa ke hadapannya. Tapi di tengah jalan, Wiro pun tahu bahwa Mahesa Birawa ini adalah pembunuh ayah dan ibu kandungnya.

Wiro Sableng vs Mahesa Birawa. Source: id.bookmyshow.com

Para Pendekar di Wiro Sableng. Source: sabigaju.com
Geng Wiro Sableng. (foto diambil dari sini)

Aku nggak mau cerita banyak tentang plot Wiro Sableng di sini. Aku cuma mau cerita yang seru saat nonton film ini. Ada beberapa part yang sangat kunikmati.

1. Pertemuan Wiro Sableng 'Vino' dengan Wiro Sableng 'Kenken'

Anak generasi 90-an pasti familiar dengan sosok Wiro Sableng berambut panjang yang dulu bikin serialnya jadi populer. Di film Wiro Sableng, ada satu part yang memberi semacam nostalgia, penghargaan, dan regenerasi pada karakter Wiro Sableng sendiri. Di sebuah warung, Wiro bertarung dengan sejumlah kaum pemberontak. Seketika warung porak poranda. Di sana aksi Wiro Sableng yang diperankan oleh Vino G. Bastian beradu punggung dengan penjaga warung yang tak lain dan tak bukan diperankan oleh Kenken, si pemeran Wiro Sableng di serialnya. Kebetulan pula mereka berdua sedang mengeluarkan jurus khas Wiro Sableng yang sama. Adegan ini membuatku tertawa. Tidak ada dialog, hanya ekspresi jenaka.

Pada part berikutnya, setelah pertarungan usai, Wiro pamit pada penjaga warung. Penjaga warung yang dimainkan oleh Kenken hanya tersenyum dan mengangguk, lalu dengan sekilas tatapan, Wiro pun berlari meninggalkan warung itu. Ada semacam haru yang mungkin hanya dipahami oleh penonton serialnya. Semacam pemeran Wiro Sableng dulu memberikan mahkota kesablengannya kepada sosok Wiro Sableng yang baru yang diemban oleh Vino. Ada musik khas serialnya digemakan sedikit di dalam film ini yang membuat pencinta superhero ini bisa sedikit bernostalgia.

2. Sherina come back dengan sosok Anggini

Anggini di Wiro Sableng. Source: id.bookmyshow.com
Anggini, sahabat Wiro  yang setia kawan. (foto diambil dari sini)

Sekian tahun Sherina tidak mengeluarkan karya, kini ia masuk dunia akting lagi. Film Wiro Sableng adalah film keduanya setelah Petualangan Sherina. Kalau diingat, dulu Sherina sering berantem dengan Sadam dan menyanyikan lagu "Jagoan", kini setelah dewasa, ia benar-benar jadi jagoan. Anggini yang diperankan Sherina adalah sahabat Wiro Sableng yang membantunya menghentikan pemberontakan yang dilakukan oleh Mahesa Birawa. Dengan lafal dialog yang jernih dan gerak silat yang juga bersih, Sherina sukses memerankan Anggini yang serius, galak, tapi setia kawan. Anggini mampu menjadi petarung yang anggun menemani perjalanan Wiro Sableng. Meskipun kemunculan awalnya kurang greget bersama Dewa Tuak, Anggini tetap pada porsinya sebagai time keeper bagi Wiro Sableng agar Wiro tak selalu sableng, sekaligus menjadi penyelamatnya.

3. Efek CGI yang pantas diapresiasi

Untuk ukuran film Indonesia, Wiro Sableng adalah film superhero fantasi bagus yang seharusnya kita apresiasi tinggi. Dengan dimotori oleh FOX Movies dan katanya ada 99 visual efect artists lokal yang bermain di belakang layar, visualisasi Wiro Sableng tidak main-main. Seluruh kreativitas pemuda kita dikeluarkan di sini. Filmmaker membuktikan bahwa negara kita bisa memproduksi film bagus, kok. Visual Wiro Sableng menjadi daya tarik luar biasa. Bahkan Junisatya yang ikut menemaniku nonton bilang, "Wah, Marvel-nya Indonesia, nih." Iya banget. Setiap karakter ditonjolkan dan setiap karakter juga mendapat porsi visual yang menarik. Adegan terbang-terbangan dituai dengan mulus. Sudut pencahayaan dan pengambilan adegan yang sifatnya kolosal juga tajam. Sedikit mengingatkanku dengan film Pendekar Tongkat Emas. Namun, efek CGI Wiro Sableng lebih bening.

Bidadari Angin Timur di Film Wiro Sableng. Source: id.bookmyshow.com
Bidadari Angin Timur yang super anggun. (foto diambil dari sini)

Adegan Wiro Sableng, Anggini, Rara Murni, dan Bujang Gila Tapak Sakti terdampar di sungai dengan bebatuan tinggi menjadi favoritku. Efek suara menggema dan pencahayaannya bagus. Lalu di sana juga pertama kali Wiro Sableng bertemu dengan Bidadari Angin Timur (Marsha Timothy) yang terbang turun dari khayangan. Kemunculan Bidadari Angin Timur memberi angin segar bahwa ada juga yang indah di film ini. Setelah pertarungan kelam dan hutan legam, Bidadari Angin timur membangun nuansa tambahan di Wiro Sableng, keanggunan yang berbeda, kostum yang cerah, dan adegan terbang yang mulus. Pemain di belakang layar pasti bekerja keras untuk adegan ini. Apalagi saat film memberikan porsi pertarungan untuk Bidadari Angin Timur di markas Mahesa Birawa dan istana, Bidadari Angin Timur bergerak khidmat tak tersentuh. Bahkan kain selendangnya pun tak terkoyak sedikit pun.

4. Adegan receh mengundang tawa

Makin banyak nonton film Indonesia, aku makin tahu bahwa dialog receh saja sudah mengundang tawa. Menonton film Wiro Sableng di studio bioskop bersama para bapak-ibu yang ingin bernostalgia, kupikir bakalan adem ayem. Namun ternyata, sepanjang film yang kudengar adalah gelak tawa dari seisi bioskop. Fenomena ini sempat kualami saat menonton Warkop DKI: Jangkrik Boss yang pertama. Dialog yang menurutku receh bisa bikin orang ketawa terpingkal-pingkal. Aku jadi insecure, ini aku yang selera humornya kurang atau memang para bapak-ibu ini butuh hiburan yang lebih banyak?

Tak kupungkiri, ada beberapa adegan di Wiro Sableng yang membuatku tertawa. Ketika Wiro Sableng muda ketemu dengan 'seniornya' di Wiro Sableng serial, cukup membuatku terkejut dan tertawa kontekstual. Iya, kontektual, hanya orang yang tahu dengan sosok Kenken sebagai Wiro Sableng di serialnya yang mengerti. Lalu, saat Wiro Sableng memainkan seruling dari gagang kapak maut naga geninya dan mendayulah musik dangdut di tengah adegan serius dan mencekam. Siapa yang tidak akan tertawa melihat joget nanggung Wiro Sableng dengan Bujang Gila Tapak Sakti yang kemudian dilerai oleh Anggini. Lalu, di bagian akhir saat Wiro dan Bujang Gila menyamar jadi penari istana. Lenggak-lenggoknya cukup mengocok perut. Aku sangat terhibur dengan sisipan komedi di film ini.

Sahabat Wiro Sableng. Source: idntimes.com
Tiga Pendekar Sakti. (Foto diambil dari sini)

5. After credit scene yang ditunggu-tunggu

Setelah film berakhir, layaknya film superhero Hollywood, film Wiro Sableng juga mengusung after credit scene yang akan menjadi bocoran untuk film berikutnya. Ada Abimana Aryasatya yang akan diturunkan untuk sekuel Wiro Sableng. Mari kita nantikan.

Untuk sementara, kita nikmati saja pertarungan kolosal, kostum yang menawan, adegan terbang-terbangan yang mulus dan nggak terkesan norak, serta keanggunan silat yang diusung di keseluruhan film ini. Vino G. Bastian merebut perhatianku. Ekspresinya jadi harga mati sebagai kelahiran karakter Wiro Sableng yang baru. FYI, penulis komik Wiro Sableng adalah ayah dari Vino. Jadi, mungkin ada keterikatan batin di antara mereka dan Vino sukses mendalami karakter khayalan yang diciptakan ayahnya.

Banyak yang berkomentar, begitu film berakhir, "Gitu doang?" Termasuk aku. Rasanya ada yang nanggung. Namun, balik lagi ke maksud cerita Wiro Sableng pada mulanya. Film ini memang hanya mengungkap asal-usul sang pendekar kapak maut naga geni 212. Tidak lebih. Dia menandai Mahesa Birawa sebagai lawannya ketika ia sadar bahwa Mahesa-lah yang membuatnya yatim piatu. Di sini ada pertarungan batin Wiro Sableng. Apakah ia akan memburu Mahesa Birawa untuk nafsu balas dendam atau demi menumpas sesuatu yang lebih besar? Ada ajaran dharma yang kuat diajarkan oleh sang eyang guru. Tentu saja tujuan akhir film ini, ya, pasti bertarung hidup dan mati dengan Mahesa Birawa. Kisah perebutan kekuasaan dalam nadi kerajaan menjadi bumbunya. Mungkin tidak kompleks, tapi tujuannya memang memanjakan yang ingin bernostalgia dan memberikan informasi lengkap kepada kaum muda. Sederetan karakter berada dalam peran masing-masing. Wiro sendiri sempat jatuh cinta pada pandangan pertama dengan putri kerajaan sebelum sang putri, Rara Murni mati terbunuh dalam perang saat ingin menyelamatkan Wiro Sableng. Gambar sangat bercerita banyak ketimbang dialog. Itulah Wiro Sableng.

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments