In Gallery Land Journey Land

Jalan-Jalan ke Museum Angkut di Batu, Angkut Aku Jelajah Dunia

Sudah lama sekali aku ingin berkunjung ke Museum Angkut di Batu. Berbagai cerita menarik tentang museum ini sudah tersebar di mana-mana. Apa istimewanya? Museum Angkut merupakan museum transportasi terlengkap dan terbesar di Indonesia. Lahannya saja sudah menghabiskan 3,8 hektare. Di dalamnya dipajang sekitar 500-an alat transportasi dari berbagai belahan dunia. Kita dapat melihat bentuk kendaraan dari masa ke masa di dalam sana, mulai dari yang sangat tradisional, hingga kendaraan bermesin canggih. Dulu orang masih memikirkan bagaimana caranya pergi dari satu tempat ke tempat lain. Sekarang kita malah berpikir bagaimana caranya cari tiket pesawat murah agar bisa pergi ke berbagai tempat. Sungguh teknologi memang motor penggerak peradaban dan pemikiran, ya.

Museum Angkut Batu

Koleksi mobil antik museum angkut Batu

Kalau aku menunggu tiket murah terus, kapan aku traveling-nya, kan. Akhirnya pada satu kesempatan, aku bisa datang ke Batu. Rasanya jauh sekali ya Batu itu dari Jakarta. Andai tiket pesawat murah ada setiap saat, ya. Kebetulan sekali, saat itu aku ada acara keluarga di Surabaya. Begitu acara keluarga selesai, aku dan Junisatya berkendara ke Batu untuk mengekplor beberapa tempat di sana. Senang bisa liburan sebentar di tengah kesibukan kami.

Tentu saja, tujuan utamaku jalan-jalan ke Batu adalah mengunjungi Museum Angkut. Namun, satu kesalahanku adalah tidak datang ke Museum Angkut pagi-pagi. Museum yang masih jadi bagian dari Jatim Park Group ini ternyata sudah antre sejak loket tiket belum buka. Padahal tiketnya terbilang nggak murah. Saat itu aku beli tiket on the spot Rp100.000 per orang karena tanggal merah. Lumayan juga antrenya. Nah, bagaimana bagian dalam Museum Angkut? Aku jabarkan satu per satu, ya.

1. Hall Utama

Begitu masuk, aku disambut sebuah hall luas yang diisi dengan mobil dan motor antik. Ada koleksi kendaraan pertama yang dipakai oleh Presiden Soekarno. Ada mobil Chrysler Windsor Deluxe legendaris dan helikopter yang pernah dipakai oleh Bung Karno saat menjabat sebagai presiden. Ada pesawat terbang khusus presiden RI juga yang dipajang di sini. Katanya sih, ini koleksi asli, bukan replikanya. Kebayang ya nilai sejarahnya pasti tinggi sekali mengingat pesawat ini yang membawa Bung Karno untuk terbang ke pelosok-pelosok tanah air.

Hall Utama koleksi mobil antik Museum Angkut

Mobil dan Helikopter Soekarno-Museum Angkut Batu

Seketika aku takjub dengan berbagai koleksi kendaraan pejabat dari berbagai negara ini. Setiap kendaraan antik yang dipajang itu punya kisah sejarahnya. Koleksi-koleksi kendaraan yang ada di Hall Utama merupakan perwakilan perkembangan transportasi masa dulu. Karena aku suka sekali dengan serba-serbi Kerajaan Inggris, aku senang sekali dapat melihat replika kereta kuda milik Ratu Elizabeth.

2. Zona Edukasi

Zona Edukasi Museum Angkut

Museum Angkut Batu, Angkut Aku Jelajah Dunia

Memasuki lantai dua, aku melihat rangkaian proses perkembangan teknologi dari masa ke masa. Berbagai alat transportasi diletakkan di sini yang mewakili masanya. Mulai dari kendaraan yang ditarik oleh sapi, kuda, dan kerbau, sepeda, becak, hingga kapal layar serta kereta api. Semua itu potret kehidupan masa lampau kita saat membangun peradaban. Aku senang melihat display kendaraan masa lalu ini. Namanya pun macam-macam sesuai negeri asalnya. Ada yang dari Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Maluku. Semua punya perwakilan kendaraan masing-masing sebelum teknologi motor masuk ke Nusantara.

3. Zona Bandara Runaway 27

Ini zona yang berada di lantai 3 dan outdoor. Begitu aku naik ke lantai 3, nuansanya sangat berbeda. Ini adalah area pesawat terbang. Di sini, kita dapat melihat replika pesawat Boeing 737-200 masih milik kepresidenan. Selain itu, kita bisa melihat serba-serbi dunia pesawat terbang, mengenal cockpit, mencoba inflight safety simulator, dan emergency exit slide. Semua edukasi tentang penerbangan ada di zona ini.

Runaway 27 Airport Museum Angkut Batu

Museum Angkut Batu, Angkut Aku Jelajah Dunia

Sebagai orang yang menyukai perjalanan, bandara, terminal, stasiun tentu sudah sangat dekat denganku. 3 lantai di gedung ini mewakili hasratku mengenal banyak sekali transportasi dari masa ke masa, bagaimana teknologi itu berkembang, dan bagaimana kendaraan bisa menghubungkan satu tempat ke tempat lain. Menjelajah Museum Angkut sendiri adalah sebuah perjalanan pengetahuan bagiku dan Junisatya.

Setelah puas melihat-lihat zona-zona awal yang menarik ini, ternyata masih ada zona lain yang merupakan perwakilan dari  berbagai kendaraan di seluruh dunia. Dari lantai 3 Zona Bandara, carilah pintu keluar yang akan menghubungkanmu ke zona berikutnya.

4. Zona Batavia

Zona Batavia alias Sunda Kelapa ini membuka runaway zona-zona transportasi perwakilan dari berbagai belahan dunia. Aku memasuki suasana tempo dulu di Jakarta. Karena dulu sekali, Jakarta besar karena pelabuhan Sunda Kelapa dan perdagangannya di sana, aku dapat melihat ruko-ruko, lampion, seperti di kawasan pecinan. Ada kendaraan delman, motor, dan bajaj yang mewakili kehidupan masyarakat tempo dulu. Aku suka sekali area ini. Rasanya sangat Indonesia.

Zona Batavia Pecinan Museum Angkut

Museum Angkut Batu, Angkut Aku Jelajah Dunia

Koleksi mobil antik Gudang Batavia Museum Angkut

Setelah melewati runaway, perjalanan kami tertumbuk pada satu gudang besar yang berisi mobil-mobil antik. Ini adalah gudang mobil Batavia. Wah, rasanya aku ingin menaiki salah satu mobil tua tapi mulus dan mengkilat itu, lalu dipakai untuk keliling Batu dan Malang.

5. Zona Broadway Street dan Gangster Town

Welcome to Broadway. Mungkin ini tempat yang paling semarak dari serangkaian dekorasi dari pintu masuk. Kebetulan juga, saat aku berada di sana, hari sudah gelap. Yes, sejak dari area Batavia, runaway yang kami lalui memang outdoor. Pas banget, begitu masuk kawasan Broadway, lampu-lampu gemerlapnya sudah menyala. Terasa sekali nuansa semarak, ramai, dan bising, serasa mau nonton konser.

Gangster Town Museum Angkut

Broadway Street Museum Angkut

Kalau bisa menakar waktu, kalau bisa kamu datang ke Museum Angkut menjelang sore. Puas-puasin dulu di zona indoor, sehingga begitu sampai Broadway ini, kamu dapat melihat warna-warni lampu. Lebih bagus lagi kalau langit sedang cerah. Suasana malam di Batu tentu terkesan hidup.

Bagi yang belum pernah ke Amerika Serikat dan melihat kehidupan dunia hiburannya, sepotong California dan New York dapat kamu nikmati di sini. Ada gangster town dan broadway street. Ada banyak sudut-sudut dan pinggiran toko yang jadi spot menarik untuk foto-foto cantik. Bangunan-bangunannya mewakili gedung Amerika Serikat tempo dulu, mencakup police station, snack bar, fire station, barber shop, dan lain-lain. Kalau dilihat-lihat, suasananya mirip di film-film bertema gangster masa Al Capone yang merupakan gangster asal Brooklyn yang merajai penyelundupan minuman keras dan pelacuran di Amerika Serikat pada tahun 1920-an. Di ujungnya ditempatkan panggung Broadway lengkap dengan lampu-lampu sorotnya. Tampaknya semakin malam, semakin aku lupa kalau aku sedang berada di Museum Angkut Batu. Rasanya sudah terbang jauh ke Manhattan sana, melihat broadway membentang panjang.

6. Zona Eropa

Zona Eropa Museum Angkut

Meninggalkan Amerika Serikat dengan kehidupan malamnya yang gemerlap, aku masuk ke dunia Eropa yang lebih ceria, colorful, dan playful. Zona Eropa ini diwakili dengan miniatur Menara Eiffel yang mewakili Paris sebagai kota yang romantis dan dicinta hampir semua orang. Ada lukisan Colloseum dan Menara Pisa, serta displat vespa yang mewakili Italia.

Oh iya, kita bisa mencicipi makanan ala Eropa juga kok di sini. Ssst, pastikan kamu membawa uang jajan lebih ya, kan kamu sedang di Eropa ini. Jangan lewatkan makan pizza, brasserie, dan makanan lainnya.

7. Zona United Kingdom

Alohomora! Itu adalah kata kunciku saat memasuki zona Inggris karena diwakili oleh peron 9 3/4 Stasiun King Cross di film Harry Potter. Selamat datang di Inggris!

Zona United Kingdom Museum Angkut

Mobil Inggris Museum Angkut

Aku langsung masuk kawasan taman Buckingham Palace, istana Ratu Elizabeth. Miniatur istana Kerajaan Inggris ini dibuat semirip mungkin. Hanya bedanya gedungnya tampak lebih kecil. aku melihat banyak orang berfoto di taman yang penuh tumbuhan dan lampu taman itu. Aku tak banyak berfoto di sini karena terlalu ramai. Jadi, kami memilih untuk memasuki Buckingham Palace.

Aku langsung disambut mobil-mobil buatan Inggris yang terkenal di seluruh dunia, seperti Mini Cooper kesukaanku, Rolls Royce, Austin, Francis Barnet. Lalu ada bus sekolah berwarna merah dan bertingkat. Aku juga bisa masuk ke singgasana Ratu Elizabeth dan duduk di samping beliau. Wah, suatu kehormatan. Replikanya dulu, aslinya kemudian.

8. Zona Las Vegas dan Hollywood

Dari Inggris, aku kembali lagi ke Amerika Serikat. Kali ini masuk ke kawasan judi internasional, Las Vegas dan kawasan dunia hiburan yang merajai industri perfilman dunia, Hollywood. Tak jauh beda dengan dekorasi Broadway Street yang gemerlap dengan lampu-lampunya dan gedung-gedung ala Amerika. Yang membedakan adalah kita bisa melihat simbol ikonik Las Vegas dan industri film Hollywood, dunia penuh mimpi dan pusat kesenangan dunia, serta menandai bahwa perjalanan runaway Museum Angkut kita berakhir. Saatnya kembali ke dunia nyata.

Keluar dari sana, rasanya puas sekali bisa keliling dunia, masuk mesin waktu, dan dalam sekejap melihat banyak mimpi yang dapat diantarkan teknologi pada kita. Sebelumnya, malah aku tidak punya ekspektasi dengan bagian dalamnya yang luas dan punya jalur berliku-liku untuk melihat setiap zona. Berada di Museum Angkut, waktu serasa terenggut begitu saja, memukau kita pada sisi keajaiban dunia yang kita sebut kendaraan itu. Tiba-tiba ketika keluar dari sana, tanpa sadar kita telah menghabiskan hampir seharian di dalam. Sekali datang tentu saja nggak akan puas. Aku ingin balik lagi ke sana.

Pulang dari Museum Angkut, aku kembali berkendara ke Surabaya. Saatnya pulang kembali ke Jakarta. Saat itu, aku sudah memesan tiket pesawat Surabaya-Jakarta di Pegipegi.

Tiket pesawat Surabaya-Jakarta PegipegiPromo tiket pesawat


Menurutku, kini cara gampang memesan tiket pesawat murah ke mana saja tinggal klik aplikasi Pegipegi. Seperti biasa, di aplikasi ini kita disuguhi banyak promo menarik dibanding kita buka di website.

Flash sale Pegipegi Promo tiket pesawattiket pesawat murah


Kebetulan, baru saja aku mengintip aplikasi Pegipegi di ponselku, lagi ada flash sale tiket pesawat sampai dengan 50% tanpa minimum transaksi. Promonya berlaku mulai tanggal 25 Oktober 2019. Ada macam-macam destinasi sesuai tanggal pemesanan. Ada waktu-waktu khusus juga setiap harinya biar kamu dapat tiket pesawat murah. Coba cek aplikasi Pegipegi deh. Setiap hari flash sale hanya berlaku selama 30 menit saja. Jadi, biar nggak ketinggalan, jangan lupa aktifkan notifikasinya, ya. Lumayan banget ini bisa terbang pakai tiket pesawat murah.





Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In Journey Land

Ke Jogja Lagi, Kenalkan 6 Wisata Heritage Jogja kepada Teman-Teman se-ASEAN

Aku baru saja melalui hari-hari menyenangkan di Yogyakarta. Ya, Yogyakarta lagi. Yogyakarta selalu memberikan suasana berbeda setiap aku datang ke sana. Sebuah kehormatan diundang oleh Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta untuk menghadiri perayaan HUT ke-263 di Wayang Jogja Night Carnival 2019. Itu artinya aku merayakan ulang tahunku juga di kota kenangan itu. HUT Jogja dengan ulang tahunku cuma beda sehari. Saat Wayang Night Carnival ditutup dengan kembang api dan konser DJ hingga tengah malam, saat itu pula ulang tahunku menjelang. Ah, aku senang sekali mendapat undangan untuk datang ke Yogyakarta kali ini. Aku ingin mengenal Yogyakarta lebih dekat lagi, tak cukup hanya dengan sekali atau dua kali datang.

Yang lebih istimewa dari perjalanan ini adalah aku bisa bertemu dengan media, influencer, travel blogger, dan content creator dari beberapa negara ASEAN. Karena itu aku menyebut perjalanan ke Jogja ini adalah bagian dari ASEAN media fun meeting. Aku punya teman-teman baru dari beberapa negara, ada Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Kedengarannya seru, ya.

6 Wisata Heritage Jogja

6 wisata Heritage Jogja-Kotagede

Jadi, di blogpost kali ini, aku mau cerita tentang perjalanan selama Jogja Famtrip 2019 bersama teman-teman baru yang seru ini. Satu hal yang membuat setiap perjalanan itu berkesan meskipun kita sudah berkunjung ke tempat itu berkali-kali adalah ada kejadian apa di sepanjang perjalanan dan siapa yang sedang bersama kita dalam perjalanan itu. Tentu saja di Jogja, aku punya cerita perjalanan baru yang membuat kota itu tak pernah membosankan. Aku mengukir kesan baru bersama teman-teman baru selama keliling Jogja, mengunjungi berbagai lokasi wisata otentik daerah istimewa itu.

Mulanya, saat aku melihat itinerary perjalanan Jogja Famtrip 2019, aku merasa sepertinya destinasi yang kami kunjungi terlalu biasa. Ternyata aku salah besar dan aku belajar satu hal lagi, yaitu ketika kamu ingin mengenalkan Yogyakarta yang istimewa kepada orang dari mancanegara, bawalah mereka ke tempat-tempat otentik yang benar-benar menyimpan sejarah akar pembentukan peradaban Jawa di Yogyakarta. Yogyakarta kaya dengan sejarah dan budaya. Itu yang membuat Yogyakarta berbeda dari kota-kota lain. Karen itu, kunjunganku kali ini ke Jogja adalah tentang wisata heritage. Mari kenalkan beberapa wisata heritage di Jogja untuk teman-teman baruku dari berbagai negara ini.

Jika kamu sama sepertiku, punya teman jalan dari mancanegara, kenalkanlah Jogja dari beberapa tempat bersejarah di bawah ini. Tempat-tempat ini akan membantumu mengenalkan kehidupan Jogja dengan segala keanggunan masyarakatnya.

1. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Kalau ke Jogja tapi belum pernah mampir ke Keraton, rasanya perjalananmu belum lengkap. Termasuk aku. Berkali-kali ke Jogja, tak sekali pun pernah aku mengunjungi istana kerajaan Sultan Hamengkubuwono X ini. Akhirnya dalam trip bersama teman-teman se-ASEAN ini, aku berkesempatan melihat-lihat megahnya istana yang masih berfungsi sebagai pusat kesultanan Yogyakarta.

Keraton Yogyakarta-wisata heritage Jogja

Keraton Yogyakarta merupakan istana kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Seperti yang kita sama-sama tahu, Yogyakarta menjadi salah satu provinsi dengan sebutan Daerah Istimewa di Indonesia karena daerahnya dipimpin oleh raja atau sultan. Bahkan, hingga kini, Yogyakarta menjadi satu-satunya provinsi yang masih bersifat kerajaan di tengah negara republik ini. Sultan Hamengkubuwono X telah menjadi raja yang diangkat secara turun-temurun dari keluarga sultan. Beliau pula yang secara otomatis menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Oleh karena itu, Keraton Yogyakarta menjadi destinasi wajib buat kamu yang datang ke Yogyakarta. Ada banyak kisah dari kesultanan Ngayogyakarta yang berhubungan dengan sejarah perjuangan kemrdekaan Indonesia.

Melihat Keraton, itu artinya melihat potret kehidupan Jawa. Aku memasuki area keraton yang disambut para abdi dalem kesultanan. Halaman bagian dalamnya cukup luas. Ada beberapa koridor yang tidak boleh diinjak oleh pengunjung. Kami hanya dibolehkan memotret beberapa bangunan dari jauh, khususnya gedung kediaman Sultan Hamengkubuwono X.

Wisata Heritage Jogja-Keraton Ngayogyakarta

Keraton Yogyakarta-wisata heritage Jogja (2)

Mengunjungi Keraton jadi satu destinasi wajib buat para pengunjung khususnya pengunjung asing. Aku senang bisa menemani teman-teman baru kami yang luar biasa bersemangat berkeliling kompleks keraton. Aku juga mengunjungi museum milik Sultan yang berisi koleksi pribadi Sultan dari masa kecilnya. Banyak sekali sudut-sudut menarik untuk difoto. Arsitektur bangunan Jawa tradisional memang menjadi daya tarik utama. Tidak heran kalau tiba-tiba aku dan beberapa teman menghilang dari kerumunan rombongan yang mendengarkan tour guide bercerita tentang sejarah Keraton Yogyakarta. Kami berfoto di setiap sudut, setiap pintu unik, di depan bangunan yang berbeda, di tengah ruangan yang punya ukiran dan corak warna mencolok, di setiap koridor, gapura, pilar, sampai aku tak dapat menghitungnya lagi. Sampai-sampai kami dicari oleh seorang panitia yang mengatakan bahwa waktu sudah habis.

2. Pasar Beringharjo

Kalau kamu datang ke suatu kota atau daerah dan ingin melihat bagaimana masyarakat lokalnya berinteraksi serta membentuk kebudayaan mereka, berkunjunglah ke pasar tradisional. Satu pasar tradisional yang terkenal sekali di Yogyakarta adalah Pasar Beringharjo yang masih berada dalam kawasan Malioboro. Pasar ini berlokasi di pusat Kota Jogja dan ramai sekali. Pasar ini cukup terkenal karena menjual segala jenis kain batik, pakaian, souvenir, jajanan tradisional, kerajinan tangan yang harganya amat murah. Tidak heran kalau ke Jogja, orang-orang akan selalu mampir ke pasar rakyat yang menjadi pusat ekonomi Kesultanan Yogyakarta.

Lokasi Pasar Beringharjo tidak terlalu jauh dari Keraton Yogyakarta. Jadi kami naik shuttle bus dari gerbang keraton ke arah Bank Indonesia, lalu berjalan kaki ke area pasar. Di pasar ini, rombongan media dan influencer berpisah untuk berbelanja dengan tenggat waktu lebih kurang 2 jam. Aku dan Kak Awie menemani beberapa teman kami dari Singapura dan Malaysia, sebut saja namanya Meranjovfi, Ashraf, dan Hyrul. Karena orang lokalnya cuma aku dan Kak Awie, entah kenapa aku menjadi personal guide teman-teman dari negeri jiran ini untuk berbelanja di pasar. Ada yang mencari batik, kain tenun, pakaian batik, baju kaus khas Jogja, dan lain-lain. Aku yang tidak berniat belanja, jadi ikut-ikutan mengubek-ubek kain batik yang beragam motifnya. Pasar Beringharjo memang surga belanja oleh-oleh Yogyakarta. Asal tawar-menawarnya pintar, kamu bisa dapat harga murah di pasar ini.

Wisata Heritage Jogja-Pasar Beringharjo

Wisata Heritage Jogja-Pasar Beringharjo

Seperti satu teman kami, Ashraf dari Malaysia. Dia sudah meniatkan belanja titipan keluarganya. Ini juga kali pertama iya datang ke Jogja. Dia akhirnya memborong total 9 item pakaian batik, baik celana, kemeja, maupun baju kaus. Total uang yang ia keluarkan senilai Rp350.000. Ternyata tanpa aku bantu pun, dia sudah punya bakat tawar-menawar. Aku hanya memancing sekali untuk membantunya belanja, setelahnya ia tawar-menawar sendiri. Yang penting di Beringharjo adalah trik menawar harga semurah mungkin karena mumpung di Jogja, belanja batik adalah sebuah keharusan. Apalagi bagi yang datang jauh-jauh dari luar negeri.

Tak terasa 2 jam waktu di Beringharjo untuk berbelanja sudah habis. Sepertinya waktu segitu sangat kurang. Bahkan aku dan teman-teman belum sempat menjajal lantai dua dari pasar ini. Jadi lantai dasar merupakan pusat kain-kainan batik, sementara lantai 2 lebih banyak menjual souvenir dan kerajinan tangan. Nah, aku sangat menyesal belum sempat mengajak teman-teman baru ini melihat-lihat souvenir unik buatan tangan warga Jogja. Mungkin di lain kesempatan, ya.

3. Tugu Pal Putih (Wayang Jogja Night Carnival 2019)

Kalau ingin melihat rupa pesta hari jadi Kota Yogyakarta, pastikan kamu datang pada awal Oktober, ya. Event Wayang Jogja Night Carnival jadi event tahunan kota ini setiap tanggal 7 Oktober yang berlokasi di Tugu Pal Putih. Aku merasa terhormat menjadi undangan dalam perayaan HUT Jogja yang ke-263 tahun ini. Sesemarak apa event-nya? Setelah beberapa kali wara-wiri melihat carnival, aku bisa bilang kalau Wayang Night Carnival 2019 ini adalah yang terbaik.

Dengan lighting yang sangat memadai, berlokasi tepat di persimpangan Tugu Pal Putih Jogja, setting bangku penonton VIP tertata rapi, kemeriahan Wayang Night Carnival 2019 sungguh menarik perhatian. Aku dapat bocoran bahwa ada sekitar 60.000 orang yang mengerumuni jalanan sepanjang carnival. Bersyukur sekali aku bisa duduk manis tepat di sisi panggung.

Yang menarik malam itu, setelah pagi harinya aku mengunjungi Keraton Yogyakarta, ternyata suguhan tema Wayang Night Carnival malam itu adalah Wayang Kapi Kapi. Ini adalah salah satu jenis cerita wayang yang biasanya dinikmati orang keraton Jogja. Dari sekian banyak versi cerita wayang, Ramayana dan Mahabharata, mungkin jenis Kapi-Kapi ini tidak banyak yang mengangkat. Tidak banyak juga masyarakat yang mengenal wayang ini.

Kapi-Kapi adalah cerita tentang pasukan kera dari kisah Ramayana versi Jogja. Kapi-Kapi membantu Hanoman saat melawan pasukan raksasa di Kerajaan Alengka. Pada Wayang Night Carnival ini, ada 14 karakter kera berwujud jenis binatang lain, mulai dari burung, harimau, singa, ikan, kelinci, dan sebagainya. Aku melihat kreasi hiasan wayang yang dibuat oleh perwakilan 14 kecamatan yang ada di Yogyakarta. Ada berbagai atraksi, tarian, nyanyian, hingga komposisi yang luar biasa menarik sesuai karakter wayang yang mereka bawakan. Aku sangat menikmati paradenya malam itu. Begitu juga dengan teman-teman mancanegaraku. Melihat ulah kera dalam berbagai wujud tentu mengandung unsur jenaka. Pada dasarnya cerita tentang Hanoman memang tak pernah membosankan karena tingkah jenakanya.

Wayang Night Carnival 2019

Wisata Heritage Jogja-wayang

Wisata heritage jogja-wayang

Meski teman-temanku tidak paham makna dari cerita wayang, terlihat sekali mereka menikmati suguhan parade sebagai wujud karya kebudayaan masyarakat Jogja. Mereka sangat mengapresiasi itu.  Mulanya mereka membayangkan pertunjukan wayang tradisional yang menggunakan bayangan dan layar putih. Aku mengatakan bahwa di event ini semua dikemas lebih modern dan lebih megah lagi. Orang-orang akan tampil membawakan karakter wayangnya sendiri lalu dipertunjukkan dengan kreasi masing-masing. Dan, benar saja teman-teman baruku ini terpukau. Ternyata konsep pertunjukan wayang itu bisa sangat variatif. Aku senang dapat sedikit menjelaskan kisah wayang Ramayana versi Jawa pada mereka yang pada dasarnya garis besar ceritanya pun sudah diketahui banyak orang karena berasal dari India.

4. Kotagede

Mengunjungi Kotagede adalah pengalaman baru bagiku. Mulanya aku hanya tahu bahwa Kotagede ini adalah kota kerajinan perak di Jogja (City of Silver). Ternyata Kotagede menyimpan kisah lebih dalam dari sekadar kota pengrajin perak. Jika kamu menyukai bangunan-bangunan klasik Jogja, kamu harus datang ke Kotagede. Kotagede dulu sekali adalah pusat peradaban Kerajaan Mataram Islam. Dengan kata lain, melihat sejarah kejayaan Kerajaan Mataram Kuno (Hindu) yang berpindah-pindah pusat pemerintahan, lalu beralih ke Kerajaan Mataram Islam, Kotagede menjadi saksi bisunya. Daerah ini merupakan akar dari peradaban Yogyakarta kini.

Memasuki Kotagede, nuansa klasik Jawa langsung terasa. Aku melewati beberapa rumah dengan gaya arsitektur tradisional Jawa, sebuah langgar tua, bangunan perpaduan arsitektur Eropa dan Jawa, hingga sebuah masjid tua. Kata orang, ada banyak pintu di dalam gang-gang sempit yang bisa dijadikan lokasi foto menarik. Perjalanan kami di Kotagede tertumbuk pada sebuah gapura bata yang tinggi mirip candi Hindu. Begitu masuk ke dalam, ada sebuah masjid tua dengan atap berbentuk joglo. Rupanya ini adalah Masjid Gedhe Mataram atau Masjid Agung Kotagede yang menjadi salah satu masjid yang dibangun pada masa Kerajaan Mataram Islam. Tepat di sebelah masjid, kita bisa berziarah ke makam raja-raja Mataram Islam.

Makam Raja Mataram Islam Kotagede

Jogja Famtrip 2019-wisata jogja

Makam Raja Mataram Kotagede, wisata heritage Jogja

Kawasan makam Kerajaan Mataram Islam ada di 2 tempat, di Kotagede dan Imogiri. Namun, pendahulu Kerajaan Mataram Islam justru dimakamkan di Kotagede, yaitu Ki Ageng Pemanangan, pendiri Kerajaan Mataram Islam, Panembahan Senopati, raja pertama, dan Panembahan Hanyakrawati, raja kedua Kerajaan Mataram Islam.

Bagi yang ingin berziarah, ada syarat yang harus dipenuhi pengunjung. Kita diwajibkan untuk mengenakan pakaian tradisional Jawa peranakan, seperti pakaian yang dipakai abdi dalem keraton. Aku mengenakan kemben dari kain lurik dan kain batik sebagai bawahannya. Meski sudah berpakaian ala gadis Jawa, aku yang berhijab tetap tidak boleh masuk ke kawasan makam dengan alasan pakaiannya tidak boleh tertutup. Peraturan ini cukup mengikat dan tidak dapat dinegosiasi.

Namun, aku bisa mengambil sisi positifnya. Buat teman-teman yang berhijab, kamu masih bisa menyewa pakaian tradisional Jawa seperti yang aku kenakan seharga Rp15.000. Jangan lupa bawa manset dan hijab berwarna kalem. Setelah itu kamu bisa puas berfoto di sekitar makam dan lingkungan masjid. Tembok-tembok bata merah dan gapuranya sungguh cantik jadi latar foto. Beginilah sisa kejayaan Kerajaan Mataram Islam yang menjadi cikal bakal Keraton Ngayogyakarta kini. Berfoto dengan pakaian tradisionalnya sungguh membuat nuansa fotomu syahdu.

5. Candi Borobudur

Awalnya aku bertanya-tanya, mengapa Candi Borobudur masuk ke dalam itinerary Jogja Famtrip 2019. Namun, jika kamu traveling bersama teman-teman dari negara lain, kamu harus benar-benar mengenalkan pucuk-pucuk hasil kebudayaan yang telah dikenal dunia. Salah satunya ya Candi Borobudur yang masuk dalam daftar UNESCO Heritage Site sejak tahun 1991.  Tentu, bagi yang baru pertama kali ke Jogja, teman-temanku sangat ingin melihat kemegahan candi Buddha terbesar di dunia ini. Secara lokasi, Candi Borobudur ini sudah bagian dari wisata Magelang, Jawa Tengah. Namun, secara akses, berkunjung ke Candi Borobudur selalu masuk ke dalam bagian trip Jogja karena lebih dekat jika kamu berangkat dari Kota Jogja. Karena itu pula Candi Borobudur menjadi pilihan wisata candi di Jogja Famtrip 2019 ini.

Candi Borobudur-wisata heritage Jogja

Wisata Heritage Jogja-Candi Borobudur

Kami tiba di komplek Candi Borobudur ini lewat tengah hari. Aku sudah menyiapkan topi dan kacamata hitam, serta sunscreen untuk mengeksplor sekeliling Candi Borobudur. Karena ini kali kedua aku menginjak Candi Borobudur, aku sudah memperhitungkan kondisi cuaca yang teramat terik itu. Aku sudah pernah menulis kisah Candi Borobudur di sini. Dulu, aku berangkat ke candi peninggalan Dinasti Syailendra ini pagi-pagi sekali, saat matahari baru saja terbit. Itu adalah satu waktu terbaik mengunjungi Borobudur.

Namun, jangan khawatir, panas memang menyengat, aku dihibur oleh angin sore lembut yang bertiup ke sekeliling candi. Meski sudah pernah ke candi ini sebelumnya, tetap saja saat mengunjungi situs peninggalan dunia ini, aku selalu membawa pulang pengalaman baru. Kenapa? Menjelang sore, suasana  candi yang dibangun sejak abad ke-800 Masehi ini makin asyik. Matahari perlahan turun dan berwarna oranye. Wah, tampaknya golden hour di Candi Borobudur selalu menarik, ya. Warna keemasan dari bias matahari sore menjadikan candi yang dibangun kembali pada masa Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Raffles ini semakin eksotik.

Wisata Heritage Jogja, Candi Borobudur

Karena weekdays, aku merasa punya privilege saat berkeliling candi, melihat stupa, arca, mengamati relief batu-batunya, berfoto di sela-sela bangunan dari batu vulkanik itu. Candi Borobudur sangat sepi hari itu. Rupanya semakin sepi, semakin syahdu nuansanya. Aku lega dapat menikmati Candi Borobudur tanpa harus bersilangan jalan dengan banyak orang. Berfoto pun bisa puas sekali.

6. Istana Air Taman Sari

Istana Air Taman Sari juga salah satu destinasi wajib jika ingin mengenal Jogja lebih dekat. Sebenarnya destinasi populer di Jogja ini tidak ada dalam itinerary Jogja Famtrip kami. Namun, saat kami punya extra time untuk stay di Jogja, aku lebih memilih menemani teman-teman Malaysia-ku ke Istana Air Taman Sari. Padahal sebelumnya aku ingin ke Studio Gamplong Jogja yang jadi lokasi film Bumi Manusia. Katanya studio itu jadi terlihat cantik dengan nuansa Jawa tahun 1920-an. Tapi karena lokasinya agak jauh dari pusat kota dan rasanya lebih menarik untuk mengenalkan wisata heritage lainnya di Jogja kepada teman-teman se-ASEAN ini, Istana Taman Sari adalah tempat yang tepat. Kala itu, aku benar-benar menjadi personal guide mereka karena aku sendiri sudah kali ketiga mengunjungi istana dengan tembok pastel itu.

Tips berkunjung ke Istana Taman Sari adalah datang sebelum pukul 9 pagi, antre di loket sampai loket buka. Setelah itu berhamburanlah di sekeliling istana. Saking populernya tempat ini, Istana Taman Sari sudah dikerumuni orang bahkan sebelum gerbangnya dibuka, tidak peduli weekdays atau pun weekend. Setiap hari selalu ramai wisatawan.

Wisata Heritage Taman Sari

Wisata Heritage Jogja-Taman Sari

Wisata Heritage Taman Sari (3)

Istana Taman Sari ini dulu adalah kebun istana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Jadi, meski lokasinya agak jauh dari istana Keraton, Istana Taman Sari masih termasuk kawasan istana zaman dulu. Kebayang kan betapa luasnya istana Keraton Yogyakarta. Sultan Hamengkubuwono I membangun kebun istana ini pada tahun 1758. Sudah tua sekali ya. Luasnya bahkan lebih dari 10 hektare. Dulu lokasinya membentang dari kompleks Kedhaton hingga kompleks Magangan. Namun, karena peradaban berkembang, penduduk semakin banyak, bangunan pun sudah seringkali diserang pada masa perang, bangunan Taman Sari yang dapat kita nikmati saat ini ya hanya bagian kecilnya.

Beberapa bagian dari kompleks kebun keraton ini, beberapa bangunan seperti gedung dengan tembok tinggi dan gapura yang megah difungsikan sebagai benteng pertahanan saat istana diserang. Ada beberapa bagian dari kawasan Taman Sari kini yang merupakan kolam pemandian. Ada 3 bagian kolam pemandian, Umbul Kawitan untuk putra-putri raja, Umbul Pamuncar untuk para selir, dan Umbul Panguras untuk sang raja. Setiap kolam itu dikeliling tembok-tembok tinggi dan menara. Bentuk bangunannya merupakan hasil perpaduan bangunan Jawa, Eropa, dan Cina. Ada pula nuansa-nuansa Hindu yang melekat pada bangunan-bangunan di Taman Sari. Itulah yang membuat Taman Sari begitu digemari sebagai tempat wisata heritage sekaligus wisata selfie.

Lihat, kan, bagaimana Jogja membuat semua orang jatuh cinta? Seorang temanku, Meran dari Malaysia, memberikan satu testimoninya tentang Jogja yang baru pertama kali ia kunjungi. Dia berkata, "Jogja itu berbeda dengan Jakarta dan Bandung. Jika Jakarta merupakan kota urban, Jogja lebih tradisional dan artsy. Berada di Jogja seperti berada di dimensi berbeda." Kata yang lain, setiap sudut Jogja itu photogenic karena ada perpaduan sentuhan seni, craft, dan nilai tradisionalnya yang membuat semua tampak manis. Siapa yang setuju?

Read More

Share Tweet Pin It +1

27 Comments

In Journey Land

Terkesima dengan Museum De Tjolomadoe, Solo

Aku terkesima saat memasuki area sebuah bangunan bekas pabrik gula di Karanganyar, Jawa Tengah. Ada halaman parkir yang luas dan satu gedung lebar berdiri mencolok di tengah-tengahnya. Ada satu menara tinggi yang mencuat di salah satu sisi gedung berwarna putih itu. Menara itu sekilas mirip mercusuar. Lantas aku bertanya di dalam hati, "Buat apa kami ke pabrik gula ini? Ada apa di dalam gedung itu?" Maklum, aku belum baca sama sekali tentang De Tjolomadoe waktu itu.

Museum De Tjolomadoe yang instagramble

Museum De Tjolomadoe yang instagramble

Museum De Tjolomadoe yang instagramble

Begitu bus kami diparkir--ya, aku datang bersama teman-teman media dan influencer--aku langsung turun dan langsung mencium bau-bau lokasi instagramable di sana. Gedung ini dulunya adalah pabrik gula Colomadu yang dibangun pada tahun 1861 oleh Mangkunegara IV. Tahun 1860-an, industri perkebunan tebu menjadi salah satu usaha yang berpotensi besar pada masa itu. Siapa sih yang nggak butuh gula?

Melihat potensi itu, dari hasil perkebunan Mangkunegaran, akhirnya dibangunlah pabrik gula ini secara bertahap. Gedung yang besar yang dapat kita lihat saat ini butuh waktu puluhan tahun untuk membangunnya. baru pada tahun 1928, pabrik gula Colomadu direnovasi, diperluas, dan akhirnya berganti arsitektur.

Setelah berhenti berproduksi pada tahun 1997 karena krisis moneter, gedung ini vakum bertahun-tahun. Sekitar tahun 2016-2017, gedung Colomadu ini direvitalisasi dan akhirnya dijadikan museum De Tjolomadoe untuk mengenang kejayaan pabrik gula di Indonesia dan perkebunan tebu di Surakarta pada masa lalu.

Nah, semenarik apa De Tjolomadoe itu kini? Mari kutunjukkan, ya.

Sebelum masuk gedung, kita harus membayar tiket terlebih dahulu. Harga tiket masuk De Tjolomadoe itu Rp25.000. Kemudian, tangan akan dicap sebagai pengunjung dan diperbolehkan mengeksplor seisi gedung yang ternyata memang lebar sekali itu. Dari pintu masuk, aku dihadapkan pada mesin-mesin penggilingan raksasa yang pernah digunakan untuk memproduksi gula. Pantas saja gedungnya besar, mesin-mesinnya seraksasa ini. Bayangkan mesin pengolahan air tebu gerobakan, tapi ini versi besarnya.

Museum De Tjolomadoe yang instagramble

Museum De Tjolomadoe yang instagramble

Museum De Tjolomadoe yang instagramble

Museum De Tjolomadoe yang instagramble

Museum De Tjolomadoe yang instagramble

Dari ruangan besar di depan, aku masuk ke ruang edukasi sejarah pabrik gula. Dari sanalah aku tahu sejarah pabrik gula Colomadu. Ada miniatur pabrik zaman dulu sebelum ada mesin-mesin canggih. Ternyata mesin-mesin ini didatangkan dari Jerman. Kebayang, kan, kekayaan Mangkunegara IV pada masa itu. Ada penayangan video perkembangan bangunan pabrik gula dari masa ke masa.

Penampakan museum De Tjolomadoe ini menarik. Ada sumber-sumber sejarahnya, ada ruang-ruang edukatif yang bisa dijadikan area berfoto.

Dari ruang museum, kita akan diarahkan ke Stasiun Penguapan yang panjangnya seperti stasiun kereta. Tempatnya menarik untuk berfoto dengan adanya ornamen lampu-lampu seolah lampu jalan. Mirip sekali dengan stasiun kan. Lalu ada ruang ketel tekanan rendah. Ini adalah area penjualan souvenir dan kafe. Kamu juga wajib berfoto di area ini.

Museum De Tjolomadoe yang instagramble

Museum De Tjolomadoe yang instagramble

Yang lebih menarik lagi, De Tjolomadoe punya ruangan convention center yang bisa digunakan untuk segala event besar serta pesta pernikahan. Siapa tahu ada yang mau menyewa untuk acara pernikahan, boleh banget. Antre lho.

Sisa-sisa desain bangunan Eropa masih terlihat di area teras tengah dengan pintu yang tinggi besar, pilar-pilar dan dindingnya yang tebal. Menara  yang menjulang ke atas memperkuat aksen bangunan bekas pabrik gula ini kokoh.

Kalau kamu datang ke Solo, sempatkanlah untuk berkunjung ke De Tjolomadoe, museum gula yang sangat instagramable. Apalagi kalau datangnya berombongan. Mengeksplor De Tjolomadoe akan lebih menyenangkan. Kamu tidak perlu repot memikirkan transportasi ke museum yang berlokasi di Karanganyar ini. Kamu tinggal menyewa bus yang bisa dipakai untuk keliling Solo.

Museum De Tjolomadoe yang instagramble

Museum De Tjolomadoe yang instagramble

Museum De Tjolomadoe yang instagramble

Agar lebih aman, ada kok aplikasi sewa bus pariwisata yang berguna sekali buat orang-orang yang senang jalan sepertiku. Kalau kamu memang ramai dan ingin mencari penyewaan bus yang gampang, cepat, dan terjamin, di Trac-To-Go jawabannya. Aku sangat terbantu sekali dengan adanya TRAC yang masih bagian dari Astra ini. Kamu tinggal pilih bus pariwisata yang mana yang akan disewa, ukurannya, berapa lama penyewaannya lalu harganya. Sudah ada detail kapasitasnya dan kondisi kendaraan juga. Setelah itu kamu tinggal klik dan selesaikan pembayaran. Mudah sekali, kan?

FYI, sepanjang berkeliling Solo, De Tjolomadoe ini adalah tempat favoritku meski agak jauh dari pusat Kota Surakarta. Mungkin juga akan jadi satu tempat favoritmu. Percayalah, De Tjolomadoe memang semenarik apa yang kuceritakan. Pastikan tempat ini masuk ke dalam list itinerary trip Solo-mu, ya. Urusan sewa bus pariwisata untuk berkeliling bersama teman-teman atau keluarga, biar TRAC yang urus.

Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments