In Journey Land Story Land

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown, Tiket Pulang Batal

Setelah 4 hari di Singapura, aku bertolak ke Langkawi, Malaysia. Dan kamu tahu, hari saat aku berangkat dari Changi Airport ke Langkawi adalah hari saat Singapura memperketat border imigrasinya. Negara yang di-lockdown untuk masuk ke Singapura bertambah. Untuk kita yang berasal dari negara ASEAN wajib memperlihatkan surat keterangan kesehatan di imigrasi. Kalau tidak, ya nggak boleh masuk Singapura. Intinya, kita tidak bisa traveling with no purpose. Yes, Singapura lockdown hari itu. Saat aku keluar border, maka aku tidak bisa masuk Singapura lagi untuk sementara waktu.

Aku naik Air Asia dari Singapura ke Langkawi yang membutuhkan waktu 1 jam. FYI, Langkawi ini adalah salah satu pulau di sisi utara Malaysia, berbatasan dengan perairan Thailand. Begitu sampai di sana, aku melepas masker karena udaranya panas sekali. Seperti kata seorang temanku yang tinggal di Singapura, udara panas bagus buatmu to kill the virus. Oke, aku harus berpikiran positif, semoga tidak membawa virus dari Singapura masuk ke pulau kecil ini. Belum ada kasus pasien positif di Pulau Langkawi saat aku di sana.

Bagi foreigners, kami wajib mengisi formulir pernyataan tidak baru saja traveling dari negara Cina, Korea Selatan, Iran, Italia, dan Jepang. Setelah itu formulir ditandatangani dengan meninggalkan sejumlah kontak termasuk alamat hotel tempatku menginap. Selebihnya Langkawi aman pada saat itu, tanggal 16 Maret 2020.

Baru saja menikmati suasana pantai sore hari di Langkawi dan menikmati bersihnya udara di sini yang jauh dari perkotaan, aku mendengar kabar gempar malam harinya dari pemerintah pusat Malaysia. Malaysia akan melakukan lockdown dan melarang semua aktivitas di luar sampai akhir Maret 2020. Pemberlakuan itu dimulai dari 18 Maret 2020.

Aku cuma bisa berjalan-jalan di tempat-tempat wisata Geopark di Langkawi pada tanggal 17 Maret, ke Telaga Tujuh dan Dataran Lang. Suasana lokasi wisata relatif sepi karena hari kerja. Beberapa pengunjung ada yang berendam di Telaga Tujuh. Aku harus trekking sekitar 200 meter sebelum melihat telaga dengan view lembah air terjun. Ah indahnya. Ini menjadi tempatku merilis stres setelah dapat beberapa pertanyaan dan hujatan di DM terkait perjalananku di tengah wabah virus corona.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (2)

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (3)

Aku berpikir untuk mematikan sinyal sejenak biar bisa menikmati keindahan Langkawi ini, yang tentu saja berbeda dengan suasan kota besar di Singapura. Dataran Lang menjadi tujuan berikutnya. Lagi-lagi lokasinya sepi. Tapi Langkawi sangat panas. Suhu mencapai 35-36 derajat Celcius. Panas banget sampai mungkin virus corona tak ingin mampir ke sana (bercanda :)). Lebih panas dari Jakarta bahkan. Anw, di Dataran Lang ini ada monumen burung elang raksasa. Jadi, Langkawi itu diambil dari kata 'lang' yang berarti 'elang'. Langkawi memang dikenal sebagai daratan elang. Aku beberapa kali melihat elang terbang bebas di udara. Lega sekali melihat habitat elang di sini masih aman.

Malam sebelum lockdown, bukannya bisa beristirahat, sebelum makan malam, aku melihat kepanikan kental sekali terasa di pusat perbelanjaan di Langkawi. Beberapa orang mulai belanja stok makanan dan obat-obatan. Untung orang-orang di sini nggak panic buying karena esok harinya semua pertokoan dan mall tutup kecuali beberapa restoran. Restoran dan swalayan tetap buka dengan syarat social distancing dan hanya boleh take away makanan.

Lalu bagaimana nasibku dengan status foreigner? Banyak sekali berita simpang-siur. Lockdown berlaku untuk warga negara Malaysia. Tapi ada berita bahwa Malaysia juga menutup penerbangan keluar dan masuk. Jadi, kami putuskan malam itu pukul 12 malam, kami melaju ke kantor polisi terdekat, katanya ada ketentuan wajib lapor. Ah, berita beneran simpang siur. Ketika 1 kantor polisi tutup, kami mencari kantor polisi yang lain di Langkawi. Aku sudah mengantongi paspor dan pulpen. Namun, lucunya, begitu sampai kantor polisi, suasana sangat sepi. Kata pak polisi, kami bisa pergi ke mana pun dan tak perlu lapor. Wah, ternyata Langkawi santai sekali ya. Ada beberapa video beredar dari Kuala Lumpur bahwa kantor polisinya dipenuhi antrean. Well, kita nggak tau mana yang benar kan.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (4)

Ya, hari ketiga aku di Langkawi, aku hanya berdiam diri di hotel bersama beberapa teman Malaysia yang tim kerjaku. Di Indonesia, kabarnya saat itu penuh desakan lockdown juga. Aku tak mau ambil pusing berita itu daripada stres sendiri. Kami hanya berjalan keluar hotel untuk membeli makanan dan kembali pulang, mengisolasi diri. Langkawi yang sepi seketika menjadi sangat sepi dan seperti kota mati. Aku hanya membeli roti Subway untuk bekal makan siang dan memasak Indomie di hotel. Setelah itu, biar nggak bosan, nilai plusnya lockdown hari ini, kami masih bisa berjalan-jalan ke pantai di seberang jalan dan menunggu sunset di sana. Pantai cukup sepi, lho.

Setelah menjalani seharian isolasi di hotel, setidaknya aku masih bisa menikmati sunset terbaik di Langkawi. Hari itu, aku dan teman-teman melakukan meeting. Jadwal kepulanganku ke Indonesia dimajukan. Seharusnya, setelah selesai eksplor Langkawi, aku akan berada di Kuala Lumpur hingga tanggal 26 Maret 2020. Namun, situasi benar-benar tidak memungkinkan lagi. Meski Indonesia tidak memberlakukan lockdown, ada himbauan resmi dari Menteri Luar Negeri RI kepada semua traveler WNI untuk segera pulang sebelum kondisi semakin sulit. Apalagi kudengar Bali saat itu sudah tertutup bagi wisatawan asing. Jalur internasional menuju Bali pun memang agak sulit. Seorang temanku ada yang pulang ke Denpasar, tetapi karena info itu, dia berniat untuk pulang ke Jakarta.

Jadilah tiket pulang sudah dipesankan untukku tanggal 19 Maret 2020. Dari Langkawi, aku akan transit di Kuala Lumpur dan langsung terbang ke Jakarta. Aku packing malam itu juga.

Namun, semua tidak berjalan lancar. Pagi-pagi sekali, teman sekamarku sudah dihebohkan dengan tiket pesawatnya di-cancel. Kami terpecah dalam 2 penerbangan. Beberapa teman naik Air Asia (yang di-cancel itu) sementara aku dan sisanya naik maskapai Malindo Airlines. Bagi temanku yang warga negara Malaysia, mereka memang kesulitan untuk traveling dalam negeri karena setiap warga negara harus tetap di rumah. Tapi mumpung aturannya belum ketat-ketat amat pada saat itu, mereka masih bisa pulang ke kota asal.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (5)

Nah, yang bikin geger tanggal 19 Maret itu adalah semua penerbangan Air Asia dibatalkan baik dalam, maupun luar negeri. Jadi sebagian temanku akan tetap stay di Langkawi sampai hari berikutnya, beli tiket baru. Kami antisipasi untuk tidak membeli tiket Air Asia lagi. Sementara aku masih bisa terbang dengan Malaysia Airlines. Namun, risikonya aku harus menginap satu malam di Kuala Lumpur International Airport menunggu penerbangan tanggal 20 Maret dengan Malaysia Airlines juga. Sempat konfirmasi ke Air Asia untuk penerbangan berikutnya ke Jakarta dan mereka hanya menjawab tidak janji akan terbang. :(

Semua keluarga dan teman dekat sudah khawatir dengan isu lockdown Malaysia yang diperketat. Sebagian mereka menyangka aku sama sekali tidak bisa pulang ke Indonesia. Aku juga sempat berpikir seperti itu saat melihat jadwal keberangkatan di bandara dipenuhi dengan status cancel untuk penerbangan ke luar negeri. Beruntungnya aku, satu-satunya maskapai yang terbang ke Jakarta tanggal 20 Maret adalah Malaysia Airlines. Aku bernapa lega. Aku tidak bisa tidur semalaman meski sudah menyewa kamar di capsule hotel KLIA. Setelah sejauh ini perjalanan dan beberapa kali ganti tiket, tentu aku tidak mau tiket pulangku di-cancel lagi. Kalau sempat cancel, mungkin aku akan menghubungi KBRI di Kuala Lumpur hari itu.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (6)

Dan, ya, kabar gembiranya aku bisa pulang dengan sehat ke Jakarta. Meski sempat alot di counter check in karena pembelian bagasi-ku tidak confirmed. Jadinya aku harus bayar bagasi per kilo. 1 kg dikenakan 62 RM. Total bagasiku saat itu adalah 18 kg. Hitung sendiri berapa biaya yang harus aku bayar. Aku sudah berusaha mengurangi bagasi di tempat dan cuma berkurang sebanyak 5 kg. Jadi ya daripada ketinggalan pesawat, aku terpaksa membayar sejumlah uang yang mereka minta. Sampai saat ini, temanku sedang berusaha komplain ke pihak maskapai dan travel agent untuk refund dan sebagainya. Aku sendiri sudah terlalu lelah untuk memikirkannya. Sampai hari ini saja, tiket Air Asia yang cancel belum sempat di-refund. Yang penting bisa sampai di rumah dulu deh.

Di bandara Soekarno-Hatta sendiri, penjagaan border imigrasi diperketat juga. Katanya koper-koper di bagasi disemprot disinfektan, tapi aku tidak melihatnya. Entah benar atau tidak. Di samping itu, kami dibagikan formulir kewaspadaan kesehatan untuk 2 minggu ke depan. Jadi diharapkan untuk setiap traveler yang pulang dari negara terjangkit pandemi memang harus diisolasi selama 14 hari. Kalau terjadi sesuatu, aku bisa membawa formulir itu ke RS rujukan untuk diperiksa.

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 2), Malaysia Lockdown (7)

Saat artikel blog ini terbit, aku masih menjalani hari-hari karantina di rumah sebagai antisipasi. Semoga aku baik-baik saja dalam 2 minggu ke depan dan semua yang baca artikel ini juga baik-baik saja. Mari berdoa untuk kesembuhan banyak orang dan berharap wabah ini cepat berhenti.

Jangan lupa, cuci tangan pakai sabun sesering mungkin dan berlakukan social distancing, ya teman-teman. Penyebaran virus corona itu melalui droplet (percikan dari penderita yang menempel di permukaan benda). Jadi kunci pencegahannya adalah di tangan kita yang kadang-kadang suka rese pegang ini-pegang itu lalu lanjut usap-usap muka. Yang penting rajin cuci tangan pakai sabun.

Read More

Share Tweet Pin It +1

28 Comments

In Journey Land Story Land

Traveling Saat Virus Corona Mewabah (Part 1), Apakah Singapura Lockdown?

Hai, rasanya lama tidak menulis di sini. Kali ini aku mau share tentang pengalaman perjalanan di tengah merebaknya wabah Covid-19 alias virus corona dan berdampak pada beberapa negara lockdown. Jadi ceritanya dimulai dari sini.

Aku dapat jadwal untuk perjalanan Singapura dan Malaysia dalam waktu yang lumayan panjang, 2 minggu. Ada beberapa pekerjaan yang dilakukan di sana terkait konten video dan shoot untuk Facebook Live. Pada saat aku akan berangkat, Indonesia digemparkan dengan masuknya kasus positif Covid-19 sebanyak 2 orang dan bertambah banyak dalam waktu 1 minggu. Banyak info beredar apalagi aku berangkat ke Singapura, negara yang terdampak Virus Corona pertama di Asia Tenggara.
Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (3)

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (2)
Jewel Changi Airport Mall.

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah
Changi Airport yang super sepi.
Jangan tanya apakah keluarga dan teman dekat tidak melarangku berangkat? Tentu saja aku dibanjiri chat penuh kekhawatiran. Sempat terpikir juga untuk membatalkan keberangkatan. Namun, kalau batal, aku akan merugikan beberapa pihak tentu saja. Karena agendaku ke Singapura untuk melakukan beberapa project. Untungnya Junisatya memberi semangat, "Jangan khawatir. Santai aja. Kan berangkatnya karena pekerjaan. Lakukanlah pekerjaan itu." Tak ada kalimat yang paling menenangkan dibanding ucapan suami sendiri.

Aku berangkat juga ke Singapura tanggal 13 Maret. Saat itu, Singapura hanya memberi peringatan untuk pendatang yang berasal dari 4 negara--Korea Selatan, China, Iran, dan Italia--tidak dapat memasuki Singapura.  Ini berlaku juga buat travelers yang dalam 14 hari ke belakang baru aja balik dari 4 negara itu. Pasporku diperiksa per halaman apakah punya riwayat traveling di ke-4 negara yang di-lock itu. Bagi warga negara Singapura yang baru saja traveling dari 4 negara yang disebutkan wajib mengisolasi diri selama 14 hari di rumah masing-masing. Aku melewati kamera screening suhu tubuh sampai 2x. Pengecekan termometer tembak diberlakukan untuk anak-anak.

Aku sudah siap dengan beberapa lembar masker, tisu basah, botol minum yang siap refill di mana saja, toilet seat sanitizer. Sementara itu, aku beli hand sanitizer di Guardian stasiun MRT Bedok di sana.

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (4)
Hand Sanitizer di Singapura masih tersedia banyak sekali, nggak selangka di Indonesia

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (5)
Situasi di dalam MRT Singapura sore hari.
Selebihnya, masuk Singapura sangat aman dan sangat terkontrol. Negara itu tampak lebih siap dalam penanganan virus. Aku melihat hand sanitizer disediakan di beberapa spot keramaian, termasuk stasiun MRT. Banyak orang mengenakan masker. Suasana di Singapura lebih terkontrol, tidak ada kepanikan dan berita hoax yang beredar. 

Sebaliknya, respons lain kudapatkan dari teman-teman di Indonesia. Ada banyak yang khawatir dan share info penyebaran virus Corona yang menyebar sangat cepat di Indonesia. Aku sangat sedih dan prihatin. Tapi harus tetap semangat menuntaskan pekerjaan di Singapura. Bekerja dengan kepanikan dan kehebohan negatif di sana-sini sungguh bikin tidak nyaman. The show must go on. Yang pasti aku baik-baik saja di Singapura. Pihak hotel tempatku menginap pun menyediakan termometer tembak untuk mengukur suhu tubuh kami saat check in. Sepertinya itu sudah prosedur wajib mereka.

Beberapa hari di Singapura, ternyata isu Corona di Indonesia meningkat pesat. Ada ratusan orang terinfeksi. Aku menjadi takut baca-baca berita online apalagi saat masih harus menuntaskan pekerjaan di negeri orang. Bahkan ada beberapa akun social media yang mengecam para traveler sebagai pembawa virus ke mana-mana. Ada semacam stigma negatif terbentuk saat itu terhadap para traveler. Ada yang bilang traveler itu egois, pamer foto traveling saat saudaranya sakit dan dilanda kecemasan terhadap wabah penyakit ini. Ada pula yang dengan langsung menyuruhku untuk jangan pulang karena siapa tau aku menjadi carrier virus dan bisa menyebarkan kepada yang lain saat aku pulang. Hei, c'mon, kita boleh khawatir, tapi jangan saling menyalahkan orang lain. Aku sedih mendengar komentar dan stigma seperti itu.

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (6)
Jalanan yang lengang.
Akhirnya ada 1 hari di Singapura, aku hanya berjalan sebentar untuk shoot di salah satu dessert cafe, kemudian aku balik ke hotel dan berdiam diri di kamar sampai malam. Kalian tahu, betapa lelahnya aku, sedikit stres, agak sedih mengingat aku masih harus lanjut perjalanan esok harinya ke Malaysia, dan mungkin sedikit tertekan dengan beberapa komentar negatif yang kuterima di social media. Seketika social mediaku yang tak seberapa followers-nya itu menjadi ramai DM karena aku share beberapa info tentang Singapura, khususnya info positif tentang penanganan Virus Corona di sana. Aku sangat berterima kasih buat teman-teman yang mendukung perjalananku saat itu. Dukungan kalian sangat berharga sekali lho. :)

Percayalah, teman-teman, setiap orang punya alasan berbeda kenapa mereka traveling (sementara yang lain bisa memilih untuk stay at home). Hey, itu privilege lho bisa memilih di rumah aja. Bukan berarti nggak waspada atau gegabah. Aku percaya, semua teman-teman  yang sedang berada di luar negeri saat ini saling connect dan berbagi info terkini tentang isu yang mereka hadapi di wilayah masing-masing. Dan, aku yakin, setiap traveler itu juga menghadapi kesulitan di negara yang mereka datangi serta kekhawatiran apakah masih bisa pulang atau tidak. Jadi, stop bully traveler, ya. Kita semua seharusnya saling bantu dan memberi semangat.

Traveling ke Singapura saat Virus Corona mewabah (7)
Suasana malam minggu di depan hotel Butternut Tree.


Read More

Share Tweet Pin It +1

25 Comments