In Journey Land

Road Trip Jakarta-Madura: Mengantar Emak Mudik ke Sumenep

Perjalanan ini terjadi saat mamaku berniat mengantar asisten rumah dinasnya mudik ke Madura. Aku memanggilnya si Emak. Tadinya mama hendak memesankan tiket pesawat saja untuk si emak berangkat, tapi karena asisten rumah dinas itu sudah tua, khawatir malah beliau lupa arah dan bingung sama rumah. Maklum, sudah 6 tahun si emak nggak pulang. Lalu entah idenya siapa, beberapa hari menjelang lebaran, diambillah keputusan bahwa kami mengantar emak mudik ke Madura lewat jalur darat.

Sehari setelah Idul Fitri, kami pun berangkat menggunakan mobil. Perjalanan tersendat selama 5 jam di jalanan tol Jakarta hingga Cikampek. Aku jadi harus hemat energi untuk bergantian menyetir dengan Junisatya dan uwaknya karena perjalanan masih sangat panjang. Jalanan luar biasa macet padahal arus mudik sudah lewat. Mobil baru bisa lancar melaju saat memasuki Cipali dan matahari pun sudah merangkak turun.

Beruntung sekali tol Pemalang-Pejagan sudah dibuka meski belum layak pakai. Jalanannya masih bergelombang dan jalur berlawanan masih belum selesai. Namun, tol baru ini menghemat waktu kami sangat banyak. Nggak kebayang jika kami harus melewati jalur Pantura yang penuh dengan truk dan bis. Meski jalanan tol sempat dialihkan masuk Kota Semarang, setidaknya kami tidak tersendat di Pantura. Semua memang serba harus disyukuri, ya. Saat memasuki Semarang, saat itu pula aku ambil alih setir mencari pintu tol Salatiga-Kertosono yang menjadi penghubung kami menuju Surabaya.

Pagi di Tol Solo-Kertosono.
Semarang malam hari begitu sepi. Jalanan tolnya jauh lebih mulus meski harus naik-turun bukit beberapa kali. Ini pengalaman pertamaku menyetir mobil di luar Jakarta. Untung saja, jalanannya rapi. Ketika masuk tol Solo-Salatiga-Kertosono, masalah lain datang. Mobil mulai kehabisan bensin dan sepanjang rest area tol belum tersedia pom bensin. Tol ini masih tergolong baru. Masuk tolnya saja gratis karena masih bestatus fungsional. Rest area pun masih dalam pembangunan. Sebelum sempat berniat keluar saja di pintu exit Madiun, kami mendapat angin segar. Rupanya di tiap rest area tersedia beberapa tong bensin yang dapat dibeli terbatas. Aku mengucap syukur lagi. Lumayanlah, kami dapat mengisi bensin setidaknya 30 liter. Katanya, sampai di Surabaya, ada pom bensin dan kami dapat mengisi full tank. Oke, baik.

Kami memasuki perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur saat subuh menjelang. Aku harus sabar dengan kondisi jalanan tol yang beberapa kali dialihkan keluar sehingga kami harus repot mencari jalur masuk tol fungsional lagi agar bisa menghemat waktu menuju Surabaya. Kalau semua bagian di Pulau Jawa sudah dihubungkan tol, tentu perjalanan jalur darat saat mudik begini jadi lebih cepat, ya. Semoga tahun depan sudah rapi semua.


Jembatan Suramadu.

Kota Surabaya masih sangat sepi pagi itu. Tanpa mampir-mampir lagi, kami langsung melaju ke Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura. Perjalanan kami masih jauh rupanya karena kampung si Emak itu di daerah Sumenep, 3-4 jam dari Jembatan Suramadu. Kami pun mampir dulu membeli tahu petis dan sarapan di Bebek Sinjay. Kuliner Jawa Timur pun dimulai dari sini. Pagi-pagi dibuka dengan makan bebek khas Madura. Pembuka yang yahud sekali saat memasuki pulau ini.

Kami menyusuri wilayah pantai utara Pulau Madura. Setelah menempuh jalanan sempit berkelok, sedikit bergelombang, menembus kebun-kebun jagung dan persawahan, akhirnya sampai jugalah kami di kampung si Emak, Pasongsongan, Sumenep. Hal yang lebih lucu lagi, kami tidak dapat langsung menemukan rumah keluarga Emak lantaran si Emak jackpot berkali-kali karena mabuk darat. Dalam kondisi lemas, beliau cuma memberi instruktsi, "Cari Junaedi, tukang ojek di pasar Pao!"

Bersama keluarga si Emak di Sumenep.
Ternyata si Emak punya kapal lho di Sumenep.

Ke mana pula kami bisa menemukan orang bernama Junaedi di tengah sejuta orang yang juga menyandang nama yang sama. Setelah tanya sana-sini, menyodorkan wajah si Emak yang lemas--barangkali ada yang mengenali--kami pun bertemu orang yang tepat. Beliau memang tidak kenal Emak, tapi tahu keluarga Junaedi yang dimaksud yang tinggal dekat pondok pesantren. Alhamdulillah, kami diantar sampai tujuan. Orang Madura baik-baik ya dan memang saling mengenal satu sama lain. Tinggal kita yang pendatang ini harus menjunjung sopan santun saat bertanya di perjalanan. Emak sudah bertemu dengan keluarganya yang sudah 6 tahun ditinggal merantau. Lalu kami? Masih harus balik lagi ke Surabaya. Misi mengantar emak mudik sudah selesai.

Meski bukan kampung halaman sendiri, aku senang bisa berada di tengah-tengah keramaian orang mudik ke Jawa. Apalagi dapat menghabiskan waktu penuh bersama keluarga di sepanjang jalan. Arus mudik lebaran kali ini menurutku lebih tertata dengan baik. Aparat polisi lalu lintas jauh lebih siap dari tahun sebelumnya. Apalagi infrastruktur juga sedang dibenahi dan banyak tol baru yang masih berstatus fungsional dibuka untuk perjalanan mudik. Seharusnya tahun depan tidak ada kendala mudik jalur darat lagi, ya. Jalur transportasi Pulau Jawa bisa jadi role model untuk pulau-pulau lainnya, khusus Sumatera. Infrastruktur yang oke juga harus diiringi dengan keamanan, kenyamanan, dan jaminan diri dalam perjalanan. Perjalanan yang serba terburu-buru tidak akan membawa penumpangnya ke jalan yang mulus. Jaminan jadi suatu kebutuhan jika mengingat mudik lebaran menjadi perjalanan wajib kita setiap tahun.

Jasa Raharja memberikan pelayanan asuransi jiwa bagi para pemudik karena tidak ada yang menjamin kondisi kita dalam perjalanan, bukan? Si Emak yang tidak bisa naik mobil ber-AC berkali-kali muntah di jalan. Makan susah, tidur pun salah. Kasihan badannya yang melemas saja di bangku belakang karena mabuk perjalanan darat. Kurasa jaminan kesehatan dan jiwa memang sangat diperlukan. Alhamdulillah perjalanan kami lancar jaya. Jasa Raharja sudah memberi fasilitas terbaiknya untuk ikut serta meramaikan kegiatan mudik lebaran 2018. Tinggal kita yang sadar untuk peduli keselamatan dalam berkendara.


Read More

Share Tweet Pin It +1

21 Comments