In Journey Land

Makan Salmon Grilled Enak di Lvy Kitchen and Bar

Sebelum ini, aku sempat membahas satu hotel recommended di kawasan Jababeka (baca di sini). Nah, sekarang aku mau bahas tempat nongkrong yang nyaman banget persis di sebelah Hotel Horison. Namanya Lvy Kitchen and Bar. Sekalian kan tuh, staycation akhir tahun di Hotel Horison, lalu makan siang di resto ini. Angin sepoi-sepoi di restoran ini nggak nahan. Bikin betah.

Begitu sampai di bagian depan restoran ini, aku langsung terpikat. Berada di kawasan Jababeka yang panas, Lvy punya area outdoor yang cakep. Dengan pohon-pohon palm di pinggir jalan tak membuat resto ini gersang. Malah sejuk. Aku masuk ke area dalam dan melihat meja-meja kayu panjang  sejajar memenuhi ruangan. Ada pula meja bar khusus untuk yang datang sendirian biar bisa ngemil dan ngopi sambil ngobrol sama bartendernya langsung. *eh

Lvy Kitchen and Bar mengangkat menu fusion food dan international beverage. Ada menu tradisional, ada menu western-nya, ada pula campuran keduanya. Pas banget buat kumpul-kumpul cantik dengan selera berbeda-beda. Setiap menunya enak-enak. Aku udah coba beberapa.

Makan Salmom Grilled di Lvy Kitchen and Bar

Lvy Kitchen and Bar Jababeka
Outdoor area di Lvy.

Lvy Kitchen and Bar
Area indoor yang super nyaman nih.

Lvy Kitchen and Bar
Ayam bakar sambal matah bumbu bali sedap.

Menu favoritku adalah salmon grilled. Nggak tahu kenapa, begitu masuk ke Lvy dan lihat menunya, aku langsung tertarik dengan salmon karena aku pencinta ikan. Biasanya kalau makan salmon, aku harus rebutan dulu sama kucing di rumah. Mumpung ke Jababeka nggak bawa kucing, aku bisa puas makan salmon. Enak banget karena bumbunya meresap dan nggak amis. Ini makanan rekomendasiku yang pertama.

Buat yang selalu kalaparan, aku juga punya rekomendasi menu lain, nih. Ada peri-peri roasted chicken dan ayam sambal matah bumbu bali. Ayamnya lembut karena dapur Lvy hanya menyediakan tipe ayam muda yang berdaging cenderung lunak dan lembut. Kalau masih belum puas juga, untuk kumpul-kumpul dan makan tengah, pesan pizza crispy ala Lvy Kitchen dan Bar. Semua jenis pizza yang ada di sini enak. Jadi kamu juga nggak boleh ketinggalan untuk cicip-cicip pizza-nya. Untuk menu minuman juga aneka ragam, mulai dari yang jus, healthy drink, soda-sodaan, hingga teh dan kopi disediakan untuk memanjakan dahaga kita. Rekomendasi minuman versi aku adalah apple virgin mojito dan forgotten shanghai. Kamu mesti coba.

Menu minuman di Lvy Kitchen and Bar
Ada smoothies.

Lvy Kitchen and Bar
Ada forgotten shanghai.

Segarnya siang-siang minum apple virgin mojito.

Soal harga makanan memang cenderung tinggi karena menyesuaikan dengan rasa dan atmosfir restoran ini. Lvy bisa jadi alternatif tempat nongkrong dan makan siangmu saat mengitari Cikarang. Aku aja betah di sini, apalagi kamu.

Read More

Share Tweet Pin It +1

10 Comments

In Journey Land

Apa yang Sudah Kulakukan Sepanjang 2017, Sebuah Kaleidoskop

Iseng-iseng ah bikin kaleidoskop perjalanan selama tahun 2017 ini. Setelah aku hitung-hitung, ternyata aktivitas perjalanan tahun ini terbilang lumayan. Ada beberapa wishlist perjalanan yang terkabul tahun 2017.

Kaleidoskop 2017


1. Passer Baroe dan Kota Tua

Ini masuk kategori traveling nggak ya? Aku masukin aja, ya, karena datang ke Passer Baroe dan Kota Tua itu memang diatur khusus. Awal tahun 2017, aku diajak menjelajahi Passer Baroe alias Pasar Baru Jakarta oleh sebuah NGO yang bergerak di bidang transportasi umum. Aku diantar ke Passer Baroe naik Transjakarta edisi vintage, langsung berhenti di depan Gedung Kesenian Jakarta dan Kantor Berita Antara. Karena bertepatan dengan perayaan Imlek, aku mampir ke beberapa kelenteng tua di dalam Passer Baroe, melihat beberapa toko tua milik Tionghoa yang masih ada sampai sekarang atau sekadar berganti nama. Aku juga sempat makan Bakmi Kelinci di Gang Kelinci. Menelusuri jejak sejarah Tionghoa pada masa Jakarta masih bernama Batavia membuat perspektifku tentang Jakarta jadi berubah. Bahwa Batavia dibentuk oleh kaum komunal beberapa bangsa hingga bergenerasi-generasi berikutnya itu terasa nyata.






Lalu menjelang pertengahan tahun aku sempat dua kali mengunjungi Kota Tua. Sebenarnya maksud hati hendak jelajah museum yang di kawasan Kota Tua Jakarta. Tapi dalam dua kunjungan itu, aku belum berjodoh dengan museum. Pertama, datang hari Sabtu ke sana tapi malah kesorean. Aku jalan berdua saja dengan Junisatya. Pelataran Kota Tua ramai dengan orang yang hendak bermalam minggu. Ah, kami ke sini bukan untuk bermalam minggu, tapi mau hunting foto. Akhirnya tak lama, aku memilih pulang saja sebelum Kota Tua makin padat.

Datang kedua kali bersama teman-teman dari Komunitas Indonesia Corners yang tetiba ingin ngumpul aja. Namun, saat itu hari Senin yang merupakan hari libur museum se-Indonesia. Akhirnya kami menyusuri bangunan-bangunan tua hingga ke pelabuhan Sunda Kelapa. Kemudian, hujan. Dan, kami pun bubar. Tapi berkesan, kok. Namanya juga ngumpul sama teman-teman Indonesia Corners.


Kaleidoskop perjalanan 2017
Ceria di Kota Tua.


2. Ubud dan Nusa Penida

Aku akhirnya kembali ke Bali untuk ketiga kali. Tapi aku tak mau sekadar menghabiskan waktu di Denpasar. Aku liburan bersama teman-teman dari Gagas Media dan Junisatya (as always yang selalu jadi partner trip aku sepanjang masa). Kami mengunjungi seorang teman (aku pernah cerita di sini) di Ubud dan dia menyediakan pondok kos-kosannya sebagai tempat kami berteduh selama di Ubud.

Aku diajak mengunjungi Goa Gajah yang tak jauh dari kediaman Dea, teman kami itu. Lalu menyempatkan diri ke Tegalalang yang kebetulan sawahnya lagi hijau-hijaunya. Kemudian berfoto ceria di Pura Taman Saraswati.

Mata air di Goa Gajah



Setelah puas di Ubud, aku bertolak ke Nusa Penida. Ini adalah salah satu wishlist aku yang tercapai tahun ini. Rasanya tahun 2016 akhir aku sempat bertekad untuk ke Nusa Penida tahun berikutnya. Dan, ternyata terkabul. Betapa hebatnya kekuatan doa dalam hati. Tuhan memang memeluk mimpi-mimpimu dan mewujudkannya satu per satu. Aku mengeskplor pesona Pantai Atuh yang teduh, menyentuhkan jemari di Kelingking Beach yang lebih menyerupai kepala T-rex (kata orang-orang), dan menjenguk ceruk kecil Angel's Billabong serta Broken Beach. Nusa Penida menjanjikan pesona tak berbatas dengan kemegahan tebing-tebing dan debur ombaknya.


3. Purwokerto dan Baturaden

April 2017 aku bersama keluarga konvoi ke Purwokerto, kampong nenek Junisatya. Ya, namanya orang yang doyan jalan dan jajan, aku pun nggak mau berdiam diri di rumah nenek saja yang persis di kaki gunung Slamet. Aku mengunjungi pemandian air panas di Banjarnegara dan kawasan Miniatur Dunia Baturaden. Waktu itu long weekend, jadi lokasi wisata di Baturaden memang sungguh rame. Aku mengapresiasi adanya taman dengan beberapa miniatur bangunan dari berbagai negara sebagai lahan edukasi bagi anak-anak. Dan, memang benar, adik, kemenakan, dan beberapa sepupu cilik bahagia berada di sini.


4. Lampung Timur

Nah, ini pertama kalinya aku ke Waykambas yang jadi area konservasi populasi gajah sumatera. Nggak sembarang orang bisa masuk ke Taman Nasional Waykambas ini. Aku merasa beruntung bisa main-main sama gajah di sini.

Kawasan Lampung Timur itu ternyata luas. Setelah bermain dengan gajah di Taman Nasional Waykambas, aku pun mendatangi situs purbakala Pugong Rahardjo. Situsnya awet dan terawat.

Kaleidoskop perjalanan 2017
Bermain sama gajah di Waykambas.

5. Kebun Raya Bogor

Sudah bertahun-tahun rasanya aku tidak ke Kebun Raya Bogor. Kebetulan ada seorang teman yang baru pulang kuliah dari Amerika Serikat, rindu berwisata alam yang dekat-dekat saja, dia pun mengajakku ke Kebun Raya Bogor. Kami mampir di sebuah restoran di dalam Kebun Raya Bogor dengan view rumput hijau dengan pohon-pohon yang tertata rapi. Sungguh penyegaran perut, hati, dan pikiran.

Kaleidoskop 2017 Kebun Raya Bogor
View dari Green Garden Resto Kebun Raya Bogor.

6. Tbilisi, Georgia

Akhirnya aku ke Eropa lagi. Tepat pertengahan hingga akhir Ramadhan, aku traveling ke Tbilisi, Georgia. Merasakan puasa di musim panas negeri Eropa yang berdurasi 18 jam. Aku mengunjungi banyak monumen di kawasan Old Tbilisi dan Freedom Square yang bersejarah di Tbilisi (baca di sini). Sebenarnya agak sedih nggak sempat extend untuk mengarungi kota-kota lain di Georgia yang ternyata didominasi oleh perbukitan dan wisata alam eksotis. Tbilisi hanya pembuka sajian alam yang dimiliki Georgia. Masih banyak pesona alam dan desa-desa yang asri di negara itu.

Kaledidoskop 2017 Tbilisi
Freedom Square di Tbilisi, Georgia

7. Padang, Bukittinggi, Payakumbuh

Ini sih agenda tahunan untuk pulang ke Padang, bertepatan dengan lebaran dan menghadiri pernikahan sepupu. Aku pulang ke Bukittinggi, rumah nenek yang selalu kurindu. Usai sorak-sorai pesta rakyat di nikahan sepupu, aku melipir ke Lembah Harau, Payakumbuh (cerita lengkapnya baca di sini). Untungnya Payakumbuh cuma 1 jam dari rumah nenek. Jadi aku memboyong beberapa orang ponakan cilik berjalan-jalan ke sana. Sekaligus aku menyapa syahdu tebing-tebing Harau yang mempesona itu dan mengenalkannya kepada Junisatya.

Kaleidoskop 2017
Lembah Harau yang termahsyur di Payakumbuh.






Aku juga diajak oleh seorang teman untuk mengunjungi Makam Siti Nurbaya di Gunung Padang (vlognya lihat di sini). Makam Siti Nurbaya agak creepy, terjepit di antara 2 batu besar di puncak bukit Gunung Padang. Sebelum melewati makam Siti Nurbaya, tokoh fiksi yang kisah cintanya gagal itu, aku mampir ke Pilboks alias benteng peninggalan Jepang di Kota Padang. Benteng itu sayangnya tak terawat. Posisinya memang persis di lereng bukit yang menghadap ke laut. Fungsinya sebagai poligon untuk melihat arah kedatangan kapal-kapal yang akan berlabuh di Teluk Bayur dan Muara Padang. Waktu yang tersisa setelah melihat-lihat benteng, kuhabiskan di bagian puncak bukit yang menjadi taman untuk menikmati panorama Kota Padang.

8. Kepulauan Seribu (Sebira, Kelapa Dua, dan Pramuka)

Bulan Agustus aku berlayar ke pulau paling utara DKI Jakarta. Namanya Pulau Sebira atau Sabira. Pulau ini menjadi batas Kepulauan Seribu. Sebenarnya lokasinya malah lebih dekat ke Lampung dibanding ke Jakarta. Naik speedboat 4 jam, sementara naik kapal nelayan bisa sampai 9 jam. Masalahnya belum ada speedboat yang khusus penumpang untuk ke sana, karena memang bukan menjadi lokasi wisata.

Begitu aku sampai di sana di terik siang yang lumayan membakar kulit, aku merasa takjub dengan pulau itu. Ada wifi sumbangan dari Kominfo untuk seluruh warga pulau. Rupanya penghuni pulau ini didominasi oleh suku Bugis dan Makassar. Wah, pelayaran orang Sulawesi jauh juga ya. Bahkan tradisi angkat rumah yang ada di Makassar masih dipakai oleh warga Sebira. Sebenarnya Sebira punya potensi wisata karena pantai-pantainya bagus dan bersih. Ada penangkaran penyu juga di pantai mangrove. Tapi akses untuk perjalanan ke pulau ini yang belum oke, padahal sebagian anak-anak Sebira yang ingin lanjut sekolah SMA sudah berlayar ke sister island-nya, Pulau Kelapa Dua, bahkan hingga Jakarta. Mereka menumpang kapal nelayan untuk sampai ke Muara Angke, lho.



Setelah eksplor Sebira, aku lanjut perjalanan besoknya ke Pulau Kelapa Dua. Pantesan aja dibilang sister island dari Sebira karena penduduknya juga bersuku Bugis, Makassar, bahkan Bajo. Di sini ada beberapa spot kece untuk foto-foto. Setelah itu aku lanjut ke Pulau Pramuka yang salah satu warganya dapat Kalpataru tahun 2017 ini berkat daur ulang sampah plastik untuk dibikin taman organik dan beberapa kerajinan.

9. Gunung Anak Krakatau

Aku akhirnya berkesempatan mendaki gunung Anak Krakatau di perairan Lampung (cerita lengkapnya baca di sini). Meski ketinggiannya hanya beberapa ratus meter, tapi ini kesempatan emas buatku. Gunung Anak Krakatau merupakan kawasan konservasi yang kini tidak sembarang orang bisa naik ke dataran titik aman pendakian. Kebetulan aja ada Festival Krakatau yang diadakan setiap tahun di Lampung dan ada tur khusus untuk berlayar ke gunung Anak Krakatau dan melihat sisa-sisa letusan gunung maha dahsyat beberapa puluh tahun silam. Perjalanan untuk sampai ke Gunung Anak Krakatau ini nggak gampang. Dari Kalianda, aku berlayar selama 2 jam ke Pulau Sebesi, pulau yang lokasinya paling dekat dengan gunung ini. Kami harus menginap dulu semalam di sini karena waktu terbaik untuk ke area gunung adalah dini hari. Dari Pulau Sebesi, masih 4 jam berlayar lagi baru sampai di Pulau Anak Krakatau itu. Kebayang, kan, perjuangannya. Dari pelayaran 4 jam itu pukul 3 dini hari, kami harus siap langsung mendaki gunung Anak Krakatau yang isinya pasir semua. Meski pendakian hanya sekitar 500 meter, tapi lerengnya cukup curam. Kita harus serba hati-hati menginjak pasir kalau tidak ingin tanah longsor.



9. Bogor dan Panorama Pabangbon

Mendadak Bogor. Itu temaku hari itu. Sabtu pagi, aku berangkat menuju Bogor dan dikenalkan seorang anak Bogor sebuah tempat yang lagi hits. Panorama Pabangbon. Lokasinya di Leuwiliang, sekitar 2 jam dari Kota Bogor. Jadi kalau ke sini harus pagi-pagi biar nggak kejebak macet di kotanya sekaligus puas foto-fotonya. Panorama Pabangbon memang baru hits di sini. Aku suka tempat ini karena nggak ada pungli. Yang ada tiket masuk dan tiket untuk foto di setiap spot tebing Pabangbon. Jajanan warung di sini juga murah meriah. Aku makan soto mie bogor cuma lima ribu rupiah saja. Senangnya.




10. Lombok

Ini salah satu resolusi tahun 2017-ku yang tercapai: menginjakkan kaki di Lombok. Banyak yang nyindir, udah terbang sampai timur Indonesia tapi kok belum pernah ke Lombok. Iya, itu aku. Akhirnya kesampaian juga meski hanya 2 hari untuk menghadiri sebuah event internasional. Karena waktu yang sempit, aku hanya berdiam di Kota Mataram. Tapi aku nggak kehabisan ide. Jadi waktu 2 hari itu kumanfaatkan untuk wisata kuliner. Mungkin tahun depan ada kesempatan untuk eksplor Lombok dari pantai sampai gunungnya. Mari bantu aku mengamini ini.

Kaleidoskop perjalanan 2017
Makan sate rembiga khas Lombok.

11. Yogyakarta

Nah, ini juga resolusi dari tahun ke tahun yang belum tercapai. Terakhir ke Yogyakarta itu sekitar 8 tahun lalu. Udah lama banget, kan. Nah, baru ini aku sempat ke sini lagi dan mengunjungi beberapa titik wisata Jogja yang kini semakin berkembang. Wisata candi itu wajib. Sisanya wisata alam seperti Kebun Buah Mangunan, Puncak Pinus Dlingo, dan Tebing Breksi. Ohya, tidak lupa juga aku kunjungi Taman Sari Jogja di pusat kota. Mumpung bisa ke Jogja, aku memanfaatkan waktu sedemikian rupa. Padahal Jogja itu nggak jauh-jauh amat, ya. Tapi entah kenapa aku nggak pernah sempat untuk ke sana. Harus dicari satu alasan dulu untuk bisa menyempatkan diri berlibur di Jogja.

Kaleidoskop 2017 Mangunan
Kebun Buah Mangunan Yogyakarta

12. Pandeglang, Carita, dan Tanjung Lesung

Ini edisi mengunjungi mertua di rumah dinasnya di Pandeglang. Alhasil, diajaklah aku berjalan-jalan, mantai, makan seafood, dan makan durian. Menjelang akhir tahun aku main-main di Pantai Carita dan Situ Cikedal. Lalu sebulan berikutnya dalam kunjungan berikutnya, aku diajak ke Tanjung Lesung dengan keluarga besar. Tahun lalu Tanjung Lesung jadi destinasi penutup tahun. Tahun ini juga sama. Ke sini lagi dan harga tiket masuknya naik 10 ribu rupiah dari tahun lalu. Mahal, ya. Tapi setidaknya kawasannya jadi lebih terawat kali ini. Air lautnya lebih jernih ditambah langit yang sedang cerah. Penutup 2017 sungguh manis di Tanjung Lesung.


Kaleidoskop 2017 ke Tanjung Lesung
Tanjung Lesung jadi penutup trip tahun ini.

Sekian kisah perjalananku selama 2017. Aku berharap tahun depan bisa lebih banyak mengikat manfaat dari setiap kisah perjalanan. Sudah ada beberapa wishlist perjalanan, nih, untuk 2018. Semoga satu per satu dapat terwujud. 

Read More

Share Tweet Pin It +1

17 Comments

In Hospitality Land

Mendadak Staycation di Hotel Horison Jababeka

Beberapa hari lalu, keluargaku mengajak main ke salah satu kawasan permukiman baru yang lagi hits di Cikarang. Sebenarnya aku enggan, sih, buat jalan ke sana karena pasti tol Jakarta-Cikampek super padat. Lagi ada pembangunan proyek LRT dan jalan tol tambahan pula. Apalagi weekend. Bhay!

Nah, tapi karena nggak mau durhaka sama orangtua, kami pun berangkat dan harus bersabar-sabar di jalan. 2,5 jam perjalanan dari Depok cukup membuatku lelah. Harusnya dengan durasi perjalanan segitu kami sudah sampai di Bandung. Akhir-akhir ini tol Cikunir memang agak ganas macetnya.

Mendadak staycation di Hotel Horison Jababeka
Lobi hotel.
Mendadak staycation di Hotel Horison Jababeka
Penginapan tenang dan asri di Jababeka.
Setelah seharian jalan-jalan di sekitar Cikarang, lihat-lihat proyek pembangunan kawasan permukiman baru, main-main di danaunya, lalu mampir ke stadion Wibawa Mukti di Jababeka, kami memutuskan untuk menginap saja di sana. Tepatnya di Hotel Horison Jababeka. Lokasi hotel ini cukup strategis. Dekat dengan swalayan semacam Farm Market, Giant, serta beberapa restoran. Dengan rate yang cukup terjangkau untuk ukuran jalan-jalan bersama keluarga, Hotel Horison Jababeka menyediakan beberapa fasilitas untuk pengunjung.

Biasanya saat weekend, hotel ini nyaris penuh. Deluxe Queen Room dan Junior Suite Room dipastikan laris manis. Masih ada lagi Executive Suite Room dengan ruangan kamar yang lebih besar dan kamar mandi dilengkapi bath tub. Kalau mau puas staycation di sini, hotel ini punya satu-satunya kamar yang berada di lantai paling atas. Namanya Horison Suite Room yang seperti kamar apartemen mini. Ada living area, kitchen set mini, kamar yang lebih ekslusif, dan kamar mandi yang ukurannya lebih besar. Room rate dari masing-masing jenis kamar ini beda-beda. Tapi kisarannya IDR 350.000-1.300.000. Masih terjangkau dan murah meriah, kan?

Mendadak staycation di Hotel Horison Jababeka
Ini junior suite room.
Mendadak staycation di Hotel Horison Jababeka
Executive Suite Room.


Mendadak staycation di Hotel Horison Jababeka
Kamar mandi di Executive Suite Room.

Mendadak staycation di Hotel Horison Jababeka
Ada area kerja di pojokan.
Mendadak staycation di Hotel Horison Jababeka
Ini dia Horison Suite Room, satu-satunya di Horison Jababeka Hotel.
Dengan rate terjangkau, hotel ini menyediakan beberapa fasilitas. Untuk hotel di kawasan Jababeka-Cikarang, Horison begitu digemari karena lokasinya yang nyaman dan tenang. Tidak berada di pinggir jalan raya, tidak terlalu dekat dari lokasi industri yang membawa hawa panas dan gerah. Namun, lokasi hotel ini cukup strategis di kawasan ini dan dekat untuk menjangkau beberapa kantor, arena olahraga, wisata keluarga, pusat belanja, dan restoran.

Mendadak staycation di Hotel Horison Jababeka
Bisa honeymoon di sini.

Mendadak staycation di Hotel Horison Jababeka
Living area di Horison Suite Room.
Waktu aku ke sana, parkiran mobil padat dan untungnya area parkir hotel cukup luas. Begitu masuk area lobi, dekorasi simple membuat area lobi terasa lapang. Ada tangga melengkung lebar ke lantai 2, tempat meeting room dan hall untuk beberapa event. Bersisian dengan lobi terlihat Malabar resto dan kolam renang outdoor yang dibatasi dengan dinding kaca. Orang yang lagi sarapan di Malabar resto bisa melihat view aktivitas di kolam renang. Ada area bermain mini untuk anak-anak di samping kolam renang. Simple, tapi meaningful banget buat area bermain keluarga. Bagi yang gemar olahraga, kawasan hotel ini sangat ramah pejalan kaki dan sering dijadikan jogging area. Kalau ingin olahraga di dalam hotel, Horison sudah menyediakan fitness centre di sebelah kolam renang.

Selain restoran dan bar yang terdapat di dalam hotel ini, kita bisa melipir ke Lvy Kitchen & Bar yang terdapat persis di sebelah Horison. Ada beberapa menu makanan enak di sini, lho. Sepertinya aku akan bahas khusus di blogpost yang berbeda tentang Lvy ini. Yang pasti Horison menyediakan kebutuhan staycation, khususnya bersama keluarga.

Mendadak staycation di Hotel Horison Jababeka
Area kolam renang yang jadi favoritku.
Hotel Horison Jababeka
View hijau di Horison Jababeka.



Hotel Horison Jababeka
Siap-siap renang.
Spot yang paling aku suka dari Hotel Horison ini adalah kaca besar yang menampakkan city view. Setiap kamar punya view seperti ini. Emm, meski penampakannya bukan beneran city view, tapi lebih ke petak-petak hijau rumput liar dan beberapa bangunan dari lantai yang cukup tinggi ini pemandangannya jadi photogenic. Siapa bilang Jababeka itu panas. Masih banyak pohon dan penghijauan di beberapa titik, kok. Staycation di sini sungguh worth it. Tidak terlalu jauh dari Jakarta, tapi bisa menenangkan pikiran bersama keluarga. Asyik, kan. Inilah salah satu kegiatan weekend escape-ku.

Staycation di Hotel Horison Jababeka
New Year Eve Party
Oiya, sebentar lagi tahun baru. Hotel Horison ingin merayakan malam pergantian tahun denganmu. Temanya New Year's Eve 2018 Red Party. Akan ada DJ performance dan live band yang bikin acara malam tahun baru jadi meriah. Semua diadakan di Malabar Resto and poolside. Bisa dipastikan, staycation persis pada malam tahun baru di Horison bakalan semarak. Kita dapat voucher dinner di resto ini khusus tanggal 31 Desember mulai pukul 18.00.


Hotel Horison Jababeka

Read More

Share Tweet Pin It +1

12 Comments

In Journey Land

Ada Apa di Kerala?

Banyak yang bertanya padaku tentang Kerala sejak akhir-akhir ini aku menyebarkan promosi diri untuk menggalang voting demi bisa berangkat ke Kerala. Ya, aku memang sedang butuh banyak sekali vote di event Kerala Blog Express yang merupakan agenda tahunan dari Kerala Tourism. Ini sudah season 5. Dan, di season 5 ini aku pun ikutan, kecemplung, lalu eh, namaku muncul sebagai calon partisipan untuk mengunjungi Kerala. Ya, siapa tahu bisa beruntung dan bisa ke Kerala tahun 2018.

Jadi, Kerala itu merupakan salah satu negara bagian di India yang disebut juga God's Own Country dan termasuk ke dalam 50 places of a lifetime versi National Geographic Tavel Magazine. Kerala juga menjadi 1 dari 10 surga yang ada di dunia. Membaca sekilas sebutan-sebutan untuk Kerala ini sudah pasti bikin penasaran.

Kebun teh organik di Munnar. (foto diambil dari sini)

Ada beberapa "katanya" yang sudah kudengar tentang Kerala. Semakin aku kulik lebih jauh, semakin ingin ku menjambangi Kerala.

Katanya, Kerala itu negeri yang super eksotis. Kerala sangat kaya dengan nilai budaya, kearifan lokal, heritage, dan tari rakyat (yang nggak perlu diragukan lagi dari India). Masyarakatnya punya kebiasaan-kebiasaan unik dan hidup damai dalam keberagaman. Apa yang kita lihat di televisi, menonton film, tarian, dan nyanyian India, itu belum seberapa yang nyata di Kerala. Ini yang membuat God's Own Country ini mesti banget masuk bucket list para traveler.

Katanya lagi, Kerala punya keindahan alam yang memikat. Bagi orang Indonesia, pasti sudah tidak asing dengan bukit, sungai, pantai, dan hasil alamnya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote. Nah, Kerala punya keindahan yang sama, katanya, tapi dalam satu lingkup. Kerala itu tanahnya labyrinth backwater. Mengarungi labirin sungai yang berliku dengan air yang super tenang, tentu menjadi semacam petualangan tak terlupakan saat berada di Kerala. Ini kata temanku yang sudah lebih dulu ke Kerala.

Lagi-lagi katanya, belum afdhol kalo ke Kerala belum nyobain houseboat vacation di sepanjang Alleppey. Ini jadi model trip masa kini yang nyaris tidak boleh dilewatkan jika ke Kerala. Ada yang bilang, Alleppey backwater trip adalah yang terbaik di Kerala. Setelah itu, kita juga wajib ke wilayah perbukitan teh hijau organik di kawasan Munnar. Hmmm... menjanjikan banget ya wisata alam di Kerala. Itu belum termasuk keindahan eksotis di wilayah Wayanad dengan deretan sawah yang menawan, rimba Thekkady yang merupakan wildlife sanctuary-nya Kerala, Kochi yang kaya bangunan heritage, pantai Varkala, dan sederetan lokasi keren lainnya.

Kita akan naik cruise seperti ini dalam backwater trip. (foto diambil dari sini)

Katanya juga, kalau ke Kerala, banyak nilai-nilai human interest yang dapat kita sorot. Kehidupan masyarakat lokal dengan segala kekayaan alamnya sudah pasti jadi daya tarik wisata. Mereka punya pola hidup berbeda, kepercayaan yang berbeda, dan punya sudut pandang berbeda. Dan itu sudah terbentuk dari generasi ke generasi. Antara masyarakat dan alamnya sudah bernegosiasi lama sekali. Tak heran jika ada yang bilang bahwa Kerala adalah tempat paling aman dan berpendidikan di India. Karena masyarakatnya sungguh bersahaja.

Semua yang aku jabarkan di atas itu baru "katanya" lho. Aku jadi termotivasi banget buat ke Kerala tahun depan. Biar kata "katanya" itu bisa dihilangin, Kerala Tourism sudah memfasilitasi para travel-blogger dari seluruh dunia untuk datang ke Kerala. Tapi nggak semudah itu. Katanya cuma 1 orang yang terpilih dari tiap negara untuk berkesempatan mengeksplor Kerala selama 2 minggu. Itu cuma ada di event Kerala Blog Express. Biar "katanya" bisa aku ganti dengan "kataku", bantu vote aku, ya sebagai perwakilan travel-blogger Indonesia menuju Kerala.

Vote aku di sini.

Vote me, ya.

Klik langsung link-nya, registrasi with email (jangan lupa verifikasi di emailnya ya), dan langsung vote. 1 vote dari kamu membuatku selangkah lebih dekat dengan Kerala. Ayo, kirim aku ke Kerala, aku sungguh rela. Terima kasih.


Read More

Share Tweet Pin It +1

39 Comments