In Journey Land

Cerita Ulang Tahun di Kebun Buah Mangunan Yogyakarta

Yogyakarta selalu memberikan warna cerita pada siapa saja yang datang mengunjunginya. Mulai dari alam, budaya, kuliner, dan kehidupan lokalnya yang menjadi oleh-oleh memori kolektif yang bisa dibawa pulang. Kalau bahas wisata Indonesia, setiap daerah memang tidak ada yang sama. Jadi pasti seru, setiap jalan selalu bawa pulang rona yang berbeda.

Aku pernah berjanji bakalan menulis tuntas tentang trip-ku ke Yogyakarta beberapa waktu lalu. Baru kesampaian sekarang. Maaf, ya. Kalau dimaafkan, aku mulai ya. Kalau nggak dimaafkan, silakan pindah ke cerita perjalanan aku yang lain aja. :)

Aku mau cerita tentang pagi di Kebun Buah Mangunan, pagi cerah tepat pada hari ulang tahunku. Lebih tepatnya tentang mengejar fajar di Mangunan. Cerita hari itu dimulai dengan aku yang bangun malas-malasan di sebuah hostel di pusat Kota Yogyakarta. Masih pukul 4 pagi. Aku lantas tidur lagi. Rasanya berat buat mengejar fajar di kawasan Imogiri. Lalu, Avi, roomate setiaku kalau jalan bareng menarikku dari tempat tidur malas itu. Dengan beberapa pertimbangan, seperti cowok-cowok di kamar berbeda sudah siap menerjang subuh dan hari itu kami akan fullday di lingkungan yang segar, aku pun melek. Tanpa mandi (informasi penting untuk dibagi bahwa mandi itu nggak wajib kok), hanya gosok gigi dan ganti pakaian, aku dan Avi turun ke lobi. Di sana sudah menunggu Junisatya (seperti biasa jadi partnerku ke mana-mana) dan Eko yang waktu itu cuma sebatas pacarnya Avi, belum jadi suami. Kami siap dengan 2 motor yang akan melaju ke kawasan Imogiri, sekitar 1 jam dari pusat Kota Yogyakarta.

Kebun Buah Mangunan Yogyakarta. Source: jurnaland.com




Kebun Buah Mangunan Yogyakarta (2). Source: jurnaland.com


Sudah pukul 5 pagi. Sayup-sayup, langit sudah mulai terang. Dengan berbekal Google Map, kami meninggalkan pusat kota dan masuk ke kawasan yang jalannya sedikit berliku dan menanjak. Jalanan masih sangat sepi. Dingin memelukku erat, seerat peganganku pada pinggang Junisatya yang mengendarai motor dengan kecepatan 60 km/jam. Diam-diam dia juga gemetaran melaju dengan motor sepagi ini, ke dataran tinggi pula. Tak sulit menemukan jalur yang benar menuju Kebun Buah Mangunan. Jaraknya memang lumayan jauh tapi begitu memasuki kawasan hutan Imogiri, hati ini menjadi senang. Senang ketemu hutan dan pohon-pohon besar. Senang berada di kawasan yang terlindungi dari polusi.

Kami memasuki jalanan sempit yang mengarah pada gerbang objek wisata Kebun Buah Mangunan. Kebun buah ini berada di kawasan Kabupaten Bantul, tepatnya di Jalan Imogiri-Dlingo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Meski namanya kebun buah, bukan berarti kami bebas memetik buahnya. Malah tidak dianjurkan. Lagipula, saat aku ke sana, belum ada tanaman yang berbuah. Kami parkir di area parkir yang tidak jauh dari puncak Kebun Buah Mangunan dengan biaya retribusi Rp5.000,00 saja. Dengan jalan menanjak sedikit, kami sudah berada di pinggir panorama yang cantik. Matahari sudah terlanjur tinggi. Namun, karena kami berada di ketinggian 150-200 mdpl, panorama yang terlihat sungguh menyegarkan mata. Masih ada sayup-sayup lembah yang tertutupi awan. Tidak terlalu tebal karena angin menggiringnya ke tempat lain.

Sembari menunggu langit semakin cerah, aku memilih duduk di saung-saung yang tersedia persis di pinggir panorama. Ada beberapa saung dan warung tersedia di sana dan kebetulan sekali 1 saung kosong. Jadilah aku langsung ambil posisi selonjoran sembari menikmati angin pagi yang membelai-belai pipi malu-malu. Aku jadi terkantuk-kantuk lagi. Masih pukul 6.30. Junisatya lantas memesan minuman hangat untuk kami berempat dan pecel untuk sarapan. Makan pecel di Jogja tentu menu sehari-hari. Tapi makan pecel dengan view panorama hamparan bukit dan sungai Oyo yang berliku dengan bias-bias sinar matahari dari balik awan tentu termasuk sarapan mewah. Apalagi hari itu aku berulang tahun. Pecel ini jadi pengganti kue tart penuh hiasan. Avi, yang sudah menjadi sahabat jalanku bertahun-tahun, tiba-tiba menyanyikan lagu ulang tahun dengan lirih untukku, di pinggir tebing, dengan angin sesekali bertiup agak kencang untuk merayakan hari lahirku. Menikmati panorama Kebun Buah Mangunan ini adalah kado indah dari alam Jogja untuk hari ulang tahunku. Berada di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk hari yang istimewa, nuansanya jadi sempurna, kan?!

Makan pecel di Kebun Buah Mangunan. Source: jurnaland.com

Menikmati pagi di Kebun Buah Mangunan. Source: jurnaland.com

Aku memandangi orang-orang datang dan pergi di pelataran panorama. Suasana di Kebun Buah Mangunan sepagi itu sudah cukup ramai. Ada yang memang warga sini, anak-anak muda Jogja, ada pula yang rombongan dari Jakarta, Bandung, Surabaya yang sedang gathering. Kebun Buah Mangunan memang jadi salah satu destinasi favorit di Yogyakarta sejak tahun 2016, jadi nggak heran kalau pagi-pagi tempat ini sudah seramai itu. Kami menikmati pagi dengan sangat santai di sana. Membiarkan orang-orang berfoto ceria dulu menangkap pesona alam panorama Mangunan itu. Kami pun bisa puas melihat panorama dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.

Sebegitu mudahnya akses yang diberikan Yogyakarta untuk orang-orang yang datang mengunjunginya. Kata orang, kalau sudah menginjak atau berada di Pulau Jawa, Jogja itu sungguh dekat. Cukup naik kereta api bagi yang ingin perjalanan murah-meriah. Kereta api sungguh membuat yang jauh menjadi terasa dekat. Sama seperti Jogja, meski lokasinya beratus-ratus kilometer dari rumah, daerah itu selalu melekat. Waktu itu, aku, Junisatya, Avi, dan Eko memang merencanakan perjalanan ke Yogyakarta dengan naik kereta eksekutif. Ya, hitung-hitung bisa menikmati perjalanan dengan nyaman sampai Yogyakarta. Karena tujuan kami ke Jogja bukan sekadar jalan-jalan, melainkan menghadiri pesta pernikahan sahabat di sana. Jadi harus benar-benar fresh, bukan?! Beruntung, kami memanfaatkan beberapa penawaran promo menarik dari pegipegi.com. Cukup dengan pilih menu Kereta Api di aplikasi atau website-nya, beberapa pilihan kereta dengan jadwal keberangkatan beragam dari Jakarta juga tersedia, kok, di Pegipegi.

Pesan tiket kereta api di pegipegi. Source: jurnaland.com


Pesan tiket kereta api di pegipegi (2). Source: jurnaland.com

Pesan tiket kereta api di pegipegi (3). Source: jurnaland.com

Aku sempat girang bisa ke Jogja naik kereta api Argo Lawu. Setelah sekian tahun, aku bisa naik kereta api lagi. Agak norak memang, apalagi naik kelas eksekutif adalah kali pertama bagiku. Kereta api Indonesia sekarang sudah jauh lebih bersih, lebih nyaman, dan tepat waktu. Untuk kelas eksekutifnya sendiri disediakan bantal dan selimut serta tempat kaki biar bisa tidur selonjoran. Disediakan pula meja yang dapat dilipat ke bawah, jadi bisa dipakai seperlunya. Toiletnya juga seperti toilet di pesawat. Bersih dan wangi. Jadi nggak mikir dua kali buat buang air atau bebersih di toilet. Kalau bukan karena sahabat yang mengirim undangan pernikahan adat Jawa di Jogja, mungkin momen naik kereta api eksekutif ini nggak akan terwujud. Maklum, selain disubsidi promo dari Pegipegi, biayanya juga disubsidi sahabatku itu. Beruntung sekali, ya. Datang ke pesta pernikahan sahabat sembari bisa liburan sejenak. Pegipegi sangat mempermudah langkahku. Apalagi bagi yang pakai aplikasinya, setiap pemesanan lewat Pegipegi, kita akan dapat tambahan poin yang nantinya bisa ditukarkan. Kalau terkumpul banyak, kan bisa dapat beli 1 tiket kereta api lagi gratis.

Jadilah aku berada di Jogja, tepat pula di momen ulang tahun. Serasa Yogyakarta memberikan ruang berbahagia untukku, Junisatya, dan teman-temanku. Mungkin juga berlaku bagi banyak orang yang telah mengunjungi Jogja, entah untuk liburan, pulang kampung, atau perjalanan bisnis semata. Jogja selalu menyajikan oleh-oleh cerita. Tak terkecuali bagiku. Kebun Buah Mangunan yang jadi satu spot keeksotisan salah satu alam Jogja menjadi spot favorit pagiku. Anginnya, nuansa alamnya, dan keramahan orang-orang yang berada di sekitar sana. Seakan memang telah disiapkan Tuhan untuk dikunjungi sejuta manusia.

Kebun Buah Mangunan Yogyakarta (5). Source: jurnaland.com

Read More

Share Tweet Pin It +1

34 Comments

In Journey Land

Jelajah Sumbawa (II): Salam dari Bukit Mantar Sumbawa

Satu spot panorama terbaik di Sumbawa Barat adalah Bukit Mantar. Awalnya kusangka panorama bukitnya biasa aja. Tapi saat sampai di sana dan bermalam langsung di bawah langitnya, Bukit Mantar begitu menakjubkan. Dia menawarkan ketenangan, harmonisasi dengan alam, kesyahduan melewati menit demi menit waktu, dan kesegaran pikiran. Kalau kamu punya keresahan hidup di ibukota yang ramai, Bukit Mantar bisa jadi jawaban untuk bersembunyi sesaat. Tak salah aku memilih Bukit Mantar sebagai destinasi pertama kami saat menginjak Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Baca: Jelajah Sumbawa (I): Sambutan Hangat dari Poto Tano

Sebelum tengah malam, langit bertabur bintang. Sementara dari arah panorama, kami melihat lampu-lampu dari kapal yang sedang berlayar dan perumahan di bawah sana. Ketika malam mulai benar-benar gelap, aku, Junisatya, Ry, dan Rara mencari posisi paling baik untuk memotret milky way. Yah, selama hunting milky way, Ry sampai mengunduh aplikasi milky way hunter. Bukannya mendapat arah milky way yang tepat untuk memotret, kami malah belajar beberapa rasi bintang yang kami temui dari balik kamera aplikasi milky hunter. Ada Aquarius, Libra, Scorpius, Aries, Scutum, Auriga, Orion, Cancer, Gemini, Pegasus, Pisces, Taurus, Capricornus, Leo, dan Sagittarius. Semua tampak nyata di langit malam itu. Meski bukan fotografer profesional, memotret milky way cukup bikin kami puas malam itu. Walaupun hasilnya nggak bagus-bagus amat. Langit benar-benar bersih tanpa awan. Begitu terus, bertahan hingga pagi.


Sepanjang malam, aku mengecharge power bank dan lampu emergency kecil di pondok tak jauh dari tenda. Semua gadget kami harus dipenuhi daya listrik selagi bisa dan tersedia karena ada banyak petualangan yang kami alami setelahnya. Jadi, mumpung sang bapak penjaga camping ground menawarkan kebutuhan listrik meski cuma 2 colokan, lumayan untuk kami pakai bergantian. Hal ini layak untuk disyukuri, bukan?!

Kami makan malam dengan cahaya sangat minim tapi terasa nikmat walaupun cuma makan nasi pakai teri dan telur bulat. Bahkan nasi bungkus yang sudah kami bawa sebagai bekal malam ini benar-benar licin tandas. "Biasanya kalau nyokap gue masak beginian di rumah, gue nggak bakal makan. Paling makan seadanya. Kalau di sini, ini makanan mewah kita," kelakar Rara yang kekenyangan cuma dengan dengan teri dan telur bulat tanpa sayur. Kami bernyanyi-nyanyi lirih untuk mengusir sepi. Malam itu cuma ada kami berempat. Bukit Mantar ramai pada akhir pekan saja dengan berbagai aktivitas. Kami bersyukur dapat merasakan ketenangan puncak bukit Mantar. Untungnya suhu tidak terlalu dingin. Kami bertahan duduk di luar tenda sampai pukul 11 malam. Setelah itu, masuk ke tenda masing-masing karena nggak ingin telat dapat momen fajar.
Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (2) - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa salam dari bukit Mantar (3) - jurnaland.com
 

Aku terbangun pukul 5 subuh. Sungguh tidur yang nyenyak. Embun menyapa tenda kami. Terasa lembab kuraba dari dalam. Begitu keluar tenda, ada bulan sabit masih bertengger. Suara ayam terdengar akrab sekali, rupanya mereka sudah berkumpul di sekitar tenda. Ada beberapa anjing juga. Bahkan aku kaget saat mendengar ringkik kuda di balik pondokan tempat kami mengecharge power bank dan lampu emergency semalaman. Ada lapangan kecil di sana rupanya tempat kuda-kuda ditambatkan. Ada beberapa ekor kuda berwarna terang. Kok, semalam aku tak melihat mereka ya.

Dengan bersih-bersih seadanya dan sholat subuh, aku langsung mencari ufuk timur. Aku melihat anjing sedang duduk menatap sunrise. Bahkan anjing saja sadar ada momen emas setiap pagi di bukit ini. Berada di dataran tertinggi di Sumbawa Barat ini bikin aku bisa melihat Selat Alas yang memisahkan Pulau Lombok dengan Pulau Sumbawa. Ada Gunung Rinjani menjulang di seberangnya. Terlihat petak-petak sawah di bawah sana. Harmoni alam yang menyegarkan mata terhampar di depan mata. Momen matahari terbit jadi indah sekali. Apalagi didukung dengan langit yang super cerah. Sunrise kami sempurna. Kalau kamu ingin menikmati pagi cerah seperti yang kami lihat dan rasakan ini, kamu harus datang pada saat musim kemarau. Banyak rumput menguning tapi terlihat cantik di mata, apalagi di lensa.

Ada beberapa spot yang diimbuhi tulisan semacam meme yang dapat dijadikan foto lucu-lucuan. Tepat ke arah ufuk timur, ada tulisan dari kayu yang menggelitik kami: "Mantan Tak Secantik Mantar". Kalau ada yang sedang patah hati atau jomlo terlalu lama, Bukit Mantar mungkin obat dari kegalauan hati. Temanku Ry mengakuinya, mantan(nya) memang tak secantik Mantar. *eh gimana*

Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (4) - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (5) - jurnaland.com


Ada pula tulisan: "Salam dari Bukit Mantar" yang mengirimkan selamat pagi kepada dunia. Andai potretku dijadikan kartu pos dengan view Mantar pagi hari, salam dari Bukit Mantar ini akan tersampaikan kepada orang banyak. Ah, tak perlu dijadikan kartu pos. Cukup disebarkan di social media, orang-orang mengakui bahwa Bukit Mantar memang spot yang luar biasa indah.

Tak lama berpose dan tertawa-tawa, kami sarapan bersama sembari beres-beres. Tepat pukul 9, pick up yang kemarin telah kami sewa datang menjemput. Waktu yang cukup untuk mengabadikan momen di panorama Bukit Mantar yang cantik itu. Kalau kata Junisatya, memotret paling bagus itu memang saat pagi, sebelum matahari terlalu tinggi. Objeknya jadi makin keren karena dapat pencahayaan yang pas. Dan, aku setuju.


Jelajah Sumbawa salam dari bukit Mantar (6) - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (7) - jurnaland.com


Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (8) - jurnaland.com

Kami sempat mengobrol dengan bapak penjaga camping ground, kalau mau mandi, kami bisa turun ke kampung. Hanya beberapa meter dari puncak, tinggal ikuti jalan menuju perkampungan Desa Mantar. Di sana memang ada toilet umum di sebelah sebuah empang. Namun, kami urung mandi. Pertimbangannya ya biar menghemat waktu juga. Hari itu kami akan menyeberang ke Pulau Kenawa dan mencelupkan diri ke lautan. Jadi, tak usah mandi tak apa. Aku sudah bawa stok tisu basah yang cukup banyak untuk bebersih badan. Kami sempat melihat-lihat perkampungan Desa Mantar. Suasana desa sangat meriah dengan umbul-umbul di depan rumah. Sepertinya mereka senang menyambut HUT RI sekaligus Idul Adha saat itu. Atau, malah senang kedatangan kami?

Menyenangkan dapat melihat kegiatan pagi orang-orang Mantar. Hidup mereka sesantai mentari yang perlahan naik. Sangat tenang. Ada anak-anak kecil yang bermain di teras rumah panggung mereka. Rata-rata rumah penduduk di sana dibuat dengan bentuk rumah panggung. Pembagian petak-petak tanahnya pun cukup rapi. Setiap rumah tak punya banyak lahan untuk halaman, tetapi yang enak dipandang adalah rumah-rumah yang masih belum dipisahkan pagar. Setiap blok rumah tampak menyatu. Masyarakatnya pun menyatu. Apalagi saat melihat kampung ini cukup bersih, bebas sampah.

Di puncak Bukit Mantar sendiri, di area kemah kami, sudah disiapkan tong sampah yang cukup besar. Rupanya penduduk lokal sini punya kesadaran yang tinggi terhadap kebersihan lingkungan. Kalau bukan dari diri sendiri, siapa lagi, kan?! Setiap pekemah seharusnya sudah punya kesadaran diri juga untuk tidak meninggalkan sampah sembarangan di sekitar kemah. Itu yang kami lakukan saat akan meninggalkan Mantar. Kami mengumpulkan sampah ke dalam satu kantong plastik besar dan membuangnya di tong sampah yang tersedia.

Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (9) - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (10) - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa salam dari bukit Mantar (11) - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa salam dari bukit Mantar (12) - jurnaland.com

Setelah puas bermain-main di sekitar kemah, kami memutuskan untuk packing, melipat kembali tenda untuk disusun rapi di dalam ransel. Biasanya packing adalah hal paling tidak ingin kulakukan. Namun, entah kenapa, pagi itu aku semangat sekali. Selain karena tujuan kami ke Bukit Mantar terlaksana dengan segala cerita di balik perjalanannya, aku bongkar muat tas ransel dengan view Panorama Mantar.  Biasanya kan packing di dalam ruangan dengan view kamar yang berantakan. Tapi kali ini, alam terbuka memang obat segala penyakit, termasuk penyakit malas.

Begitu semua beres packing, kami menaikkan barang-barang ke atas pick up. Kami pun pamit kepada bapak penjaga camping ground ini, yang mengurusi peternakan ayam dan kuda di puncak Bukit Mantar. Setelah memastikan tidak ada barang yang ketinggalan, kami pun melaju turun, kembali ke Pelabuhan Poto Tano. Malam itu kami akan kemah di Pulau Kenawa. Another place, another adventure.

Terima kasih, Mantar yang manis. Sampai ketemu lagi.

Things to do in Bukit Mantar

1. Kemping (kalau tidak bawa tenda, dapat menyewa tenda ke bapak penjaga camping ground yang aku ceritakan. Rumahnya tidak jauh dari area kemah)
2. Sunset Hunting
3. Milky Way Photograph Hunting
4. Sunrise Hunting
5. Berkuda (Ada hamparan padang tempat kuda ditambatkan)
6. Paralayang (Saat kami ke sana, tidak ada paket paralayang dibuka karena bukan akhir pekan)
7. Berjalan-jalan, jajan, dan sarapan pagi di Desa Mantar


Read More

Share Tweet Pin It +1

16 Comments

In Journey Land

Memori tentang Palu dan Donggala

Kejadian gempa dan tsunami tak akan pernah membuat kita terbiasa. Begitu juga bagi masyarakat Palu dan Donggala. Sungguh menyayat sekali melihat berita-berita di media tentang kondisi Palu saat ini. Mendengar kata Palu dan Donggala, aku kembali memutar memori lama beberapa tahun lalu saat aku menjambangi 2 daerah itu. Daripada bersedih-sedih terus, sembari terus mengirimkan doa untuk warga Sulawesi Tengah itu, mari kita bercerita tentang kisah manis di Palu dan Donggala.

Aku ke Palu pada awal tahun 2014. Sudah lama sekali ya. Saat itu aku baru saja kembali dari eksplor Taman Nasional Bawah Laut Kepulauan Togean di Sulawesi Tengah. Aku berlayar dari Togean ke pelabuhan Ampana selama 6 jam dan melalui jalur darat 10 jam dari Ampana ke Kota Palu. Sungguh perjalanan yang panjang kalau diingat. Palu memang menjadi tempat transitku sebelum pulang ke Jakarta. Namun, bukan berarti aku tak ke mana-mana selama di Palu itu. Oke, aku bercerita tentang Palu dan Donggala ini sembari melihat-lihat foto selama di sana dengan beberapa orang teman. Kami punya sebuah grup chat di whatsapp dan bersahut-sahutan mengenang segala yang indah dalam perjalanan kami 4 tahun lalu itu. Sungguh menyenangkan. Dan, ini layak sekali kuceritakan agar kita semua selalu berpikir positif bahwa Palu, Donggala, dan seisinya bisa bangkit lagi.

Memori tentang Palu dan Donggala

Belum banyak yang tahu mungkin, apalagi buat orang-orang yang belum pernah ke Sulawesi, bahwa Palu itu punya kuliner yang enak dan Donggala punya pantai yang eksotis. Sebenarnya jenis makanannya tak jauh berbeda dengan makanan-makanan yang kita kenal kebanyakan. Tapi, kalau nanti Palu sudah kembali bangkit dan jadi kota yang cantik lagi, kamu harus ke sana dan mencicipi cita rasa kuliner dari Sulawesi Tengah itu. Ini yang kulakukan saat berada di Palu dan Donggala.

1. Sarapan nasi kuning Palu

Pagi-pagi sekali, di Palu tentu saja, aku dan teman-teman trip-ku memilih sarapan di sebuah warung makan Idaman di Jl. Pattimura No. 4, Palu. Aku nggak tau sekarang warung makan itu masih ada atau tidak karena lokasinya memang di kawasan pesisir. Kami sarapan nasi kuning dengan kuah santan atau kari. Aku menyebutnya nasi kuning palu, lengkap dengan lauk ayam goreng, potongan daging/ikan (aku lupa persisnya) dan taburan bawang goreng khas Palu. Iya, Palu memang penghasil bawang merah terbesar dan jenisnya satu-satunya di dunia. Jadi setiap makanan di sana pasti ditaburi bawang goreng biar lebih sedap. Rasanya gurih apalagi ada kuah santan yang disediakan terpisah. Bisa diseruput atau dicocol kerupuk. Sarapan yang cukup berat, ya. Tapi tak apa, hari itu kami berangkat ke Donggala dan butuh energi lebih untuk menikmati keindahan pantai di Donggala.

Kuliner Palu nasi kuning
Nasi kuning Palu.

2. Eksplor Pantai Tanjung Karang dan bawah lautnya, Donggala

Perjalanan dari Palu ke Donggala menghabiskan waktu sekitar 1 jam. Tahukah kamu kalau pantai-pantai di Donggala itu sangat cantik dan eksotis? Pantainya berpasir putih dan bersih. Salah satu yang kukunjungi adalah Pantai Tanjung Karang di Kabupaten Donggala. Mungkin ini salah satu pantai yang habis diterjang tsunami ya. Padahal kampung di kawasan pantai ini termasuk ke dalam desa budaya Tanjung Karang.

Entah kenapa, aku punya keterikatan dengan Pantai Tanjung Karang ini. Jadi begitu mendengar berita tsunami di Palu dan Donggala pertama kali, yang kuingat adalah pantai ini. Mungkin karena tempatnya bagus, aku datang pada saat langit sedang cerah-cerahnya dan ombak sedang tenang. Kami semua benar-benar bersenang-senang di sana, melepas penat setelah kembali dari Togean.

Dari pantai saja dapat dilihat gradasi air laut yang ternyata menyimpan karang-karang yang terawat. Niatnya cuma duduk-duduk santai di pantai. Tapi aku dan teman-teman segera tergoda untuk menjelajah bawah lautnya. Jadilah kami menyewa kapal untuk melihat karang-karang cantik di perairan. Aku bersiap snorkeling lagi padahal kami baru pulang dari eksplor laut di Kepulauan Togean. Belum bosan. Karena aku tahu, begitu aku kembali ke Jakarta, aku akan merindukannya.

Memori tentang Palu dan Donggala (2)
Pantai Tanjung Karang Donggala.

Memori tentang Palu dan Donggala (3)
Siap eksplor karang di Tanjung Karang.

Memori tentang Palu dan Donggala (4)
We are the explorer.
Memori tentang Palu dan Donggala (5)
 Bersantai di kapal.
Kami berenang-renang sampai tengah hari di sana. Betah, sih. Tanjung Karang sedang tidak ramai. Karena kata teman kami yang asli Palu, pantai Tanjung Karang itu memang lokasi wisata sejuta umat warga Palu. Kalau weekend pasti ramai sekali. Untungnya saat itu bukan akhir pekan. Ah, semoga setelah tsunami kemarin, karang-karang laut di perairan dangkal cepat pulih, ya. Semoga Tanjung Karang bisa segera berbenah.

3. Landmark Donggala Kota Niaga

Waktu aku datang ke sana, landmark Donggala masih tertulis "Donggala Kota Niaga". Terakhir kupantau, tulisannya berubah menjadi "Donggala Kota Wisata". Kami mampir ke patung keong raksasa di Pantai Donggala. Tempat ini cocok sekali untuk menikmati sunset, tapi sayangnya kami berkunjung ke sana tepat tengah hari.

Memori tentang Palu dan Donggala (6)
Ada keong raksasa.

4. Makan siang seafood di dekat Pantai Talise

Setelah bermain-main dan menggosongkan kulit di pantai, kami mampir ke Rumah Makan Talise yang punya menu andalan kakap pedas asam gurih.  Rumah makan ini terletak di kawasan Pantai Talise yang tak jauh dari Palu.

Ada beberapa menu yang kami pesan. Yang paling khas di sini adalah sate ikan, nasi jagung, dan burasa (bubur beras ada rasa). Enak.

- Burasa

Kuliner Palu Burasa
Burasa.
Burasa sebenarnya berbentuk lontong yang dibungkus daun pisang. Orang Palu menyebut lontong sebagai bubur beras. Burasa ini dibuat dari beras yang ditanak dengan santan dan diberi bumbu. Katanya dulu burasa hanya disajikan saat hajatan adat Palu. Tapi sekarang jadi jajanan masyarakat di pasar tradisional.

- Nasi jagung

Kuliner Palu nasi jagung
Nasi jagung Palu atau disebut juga tinutuan.
Sementara nasi jagung ini kita sering bilang bubur manado. Kalau di Palu namanya tinutuan.  Ini adalah satu jenis kuliner Palu yang berbahan dasar jagung yang sudah dikeringkan lalu ditumbuk hingga sebesar biji beras. Biji jagung ini dimasak bersamaan dengan beras dengan beberapa tambahan bumbu dan sayur-sayuran. Rasanya ada manis-manisnya gitu dari jagung. Cocoknya makanan ini disantap untuk sarapan.

- Sate ikan

Kuliner palu sate ikan
Sate ikan.
Sama seperti sate ayam, sate ikan ini dihidang dengan tusuk sate yang sudah dibakar dan dibumbui. Aku lupa yang aku makan sate ikan jenis apa waktu itu. Tapi bumbunya meresap dengan baik.

- Palubutung

Oiya, belum afdhol ke Sulawesi Tengah kalau belum mencoba es palubutung. Jadilah aku memesan es palubutung sebagai menu penutup.  Sebenarnya aku sudah pernah coba es palubutung ini di Makassar. Makan es siang-siang dengan campuran tapai, pisang, dan taburan kacang tanah bikin badan kembali segar.

Kuliner Palu es palubutung
Es palubutung.
Soal rumah makan ini masih ada atau enggak, aku nggak yakin. Karena pesisir Kabupaten Donggala dan Kota Palu sudah berantakan disapu tsunami. Sedih juga, ya. Mudah-mudahan segera ada gantinya rumah makan yang baru.

5. Jembatan Ponulele Palu

Saat mendengar jembatan ini hancur diterjang tsunami, aku reflek membuka folder foto-foto di Palu dan mengingat kemegahan Jembatan Ponulele kebanggaan orang Palu. Warnanya kuning dan membentang panjang di atas Teluk Talise, menghubungkan kawasan Palu Barat dan Palu Timur. Katanya jembatan ini merupakan jembatan lengkung pertama di Indonesia dan ketiga di dunia setelah Jepang dan Prancis. Makanya warga Palu bangga banget dengan kemegahan jembatan ini dan jadi landmark Kota Palu. Nama lainnya Jembatan Palu IV yang baru diresmikan tahun 2006 (dan 2018 sudah hancur tak berbentuk).

Jembatan Ponulele Palu
Jembatan Ponulele Palu yang megah dulu.

Jembatan Ponulele Palu (2)
Si Manis Jembatan Ponulele.

6. Makan malam dengan kaledo

Ini nih makanan yang jadi favorit aku selama di Palu. Namanya kaledo, alias sup sumsum sapi. Makan kaledo asli di kota asalnya jauh lebih nikmat karena tidak amis dan gurih. Makin gurih lagi saat ditaburi bawang goreng Palu. Saat dihidang, ada 3 alat yang harus digunakan: sendok, pisau, dan sedotan. Iya, sedotannya untuk menghisap sumsum yang ada di dalam tulang sapi itu.


Kuliner Palu kaledo
Kaledo, kuliner terlezat di Palu.

7. Berburu oleh-oleh bawang goreng

Seperti yang kubilang di atas, Palu ini penghasil bawang merah yang beda dari bawang merah pada umumnya. Mereka mengklaim jenis bawang ini sebagai satu-satunya di dunia. Karena itu, oleh-oleh khas Palu pun bentuknya bawang goreng. Aku beli 2 bungkus. Lumayan untuk stok bumbu makanan di rumah biar makin gurih.

8. Menyeruput saraba dan barongko sambil menikmati penorama Teluk Palu malam hari

Di Palu juga ada saraba, minuman wedang dicampur susu kental manis. Memang paling cocok diseduh malam hari untuk menghangatkan diri. Apalagi kami saat itu sedang menikmati malam yang panjang di panorama Kota Palu. Tempatnya berada di dataran tinggi dan udaranya lebih dingin. Karena aku kurang suka minuman wedang, jadi menyeruput saraba kurang kunikmati. Minuman ini menghangatkan rongga dada dan perut, pas untuk orang masuk angin. Aku sempat mencamil barongko juga. Makanan ini termasuk jenis kue yang terbuat dari adonan telur, santan, gula, dan garam, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus. Jajanan Palu yang lumayan bikin perut kenyang.

Kuliner Palu barongko
Barongko.

wedang ala Palu saraba
Saraba.

9. Tugu Gong Perdamaian Nosarara Nosabatutu

Dulu Sulawesi Tengah memang pusat konflik khususnya Poso dan Sigi. Untuk menghindari konflik-konflik itu, akhirnya dibangunlah Taman Nosarara Nosabatutu (diambil dari semboyan suku Kaili, suku asli Palu) yang artinya bersaudara dan bersatu. Taman Nosarara Nosabatutu ini dijadikan taman edukasi bagi masyarakat Palu dan sekitarnya. Lokasinya ada di atas bukit dengan panorama kota dan Teluk Palu di bawah sana.

Ada satu bangunan tempat gong perdamaian diletakkan. Waktu kami ke sana, gong ini belum dipasang. Taman Perdamaian Nosarara Nosabatutu ini masih dalam tahap pembangunan. Beberapa bulan setelah kami ke Palu, gong yang diberi nama Gong Perdamaian Nusantara akhirnya dipasang. Gong ini adalah simbol semangat perdamaian NKRI dan ini adalah gong yang ke-sekian diresmikan di Indonesia, setelah Jepara, Ambon, Ciamis, Yogyakarta, Blitar, Kupang dan Singkawang.

Gong perdamaian Nosarara Nosabatutu
Panorama di Taman Perdamaian Nosarara Nosabatutu.

Gong perdamaian Nosarara Nosabatutu (2)
Ini sewaktu monumen menara obor perdamaian masih pembangunan.

Gong perdamaian Nosarara Nosabatutu (3)
Gong perdamaian di pasang di atas itu, lantai 2. Waktu itu belum diresmikan.
Selain itu, di kawasan taman perdamaian ini juga dibangun tugu perdamaian Palu yang berbentuk bangunan dengan menara obor di atasnya. Bangunan ini dibuat 3 tingkat yang melambangkan 3 hubungan manusia yang harus dijaga: hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan lingkungan. Lalu, di atap bangunan terbuat lambang semua tempat ibadah umat beragama yang ada di Indonesia. Setiap tingkatan di monumen ini dijadikan museum. Lantai 1 adalah museum perdamaian yang berisi ajaran kitab suci berbagai agama di Indonesia dan beberapa pesan moral yang membangkitkan persatuan. Lantai 2 adalah museum seni budaya Nusantara yang berisi barang kerajinan dari berbagai daerah. Lantai 3 adalah museum bahaya penyalahgunaan narkoba untuk meningkatkan responsibility masyarakat terhadap isu narkotika. Namun, dulu semua itu belum ada saat aku ke Palu tahun 2014. Tak lama setelah itu baru taman perdamaian, gong, dan tugunya diresmikan. Seketika tempat itu menjadi lokasi wisata warga Palu yang menarik.

Komplit, ya, isi Taman Perdamaian Nosarara Nosabatutu ini. Karena berlokasi di puncak bukit, taman ini jadi pusat evakuasi gempa dan tsunami. Jadi maknanya tidak hanya untuk perdamaian, tapi juga untuk keselamatan.

10. Bukit Cinta Palu

Sebelum pulang ke Jakarta, ada satu lagi destinasi yang wajib dimampiri: Bukit Cinta (muda-mudi) Palu. Kalau kami menyebutnya bukit teletubbies karena hijau sekali dan terdiri dari gugusan bukit. Pemandangannya aduhai sekali. Kenapa dinamakan Bukit Cinta? Tempat ini jadi tempat kumpul anak muda untuk menikmati panorama Teluk Palu. Jadi ada banyak tempat untuk menikmati panorama kota Palu dari ketinggian. Salah satunya, ya, Bukit Cinta ini. Mungkin ini jadi bukit evakuasi juga bagi korban gempa dan tsunami September lalu.

Bukit Cinta Palu
Bukit Cinta Palu.

Bukit cinta palu (2)
Bahagia berlarian di bukit teletubbies ini.

Bandara Mutiara Palu
Kami berfoto dengan Bang Yudi sebelum berpisah. Semoga Bang Yudi selamat dari bencana Palu kemarin. Aamiin.

11. Bandara Mutiara Palu

Bandaranya kecil waktu aku ke sana. Bangunan yang baru belum selesai dibangun. Bandara Mutiara Palu mengantar keberangkatan kami kembali ke Jakarta. Di bandara ini kami berpisah dengan satu teman kami yang merupakan orang Palu. Namanya Bang Yudi. Waktu itu dia semangat sekali memandu kami berjalan-jalan di kotanya. Entah apa kabar beliau sekarang pasca gempa dan tsunami. Mudah-mudahan baik-baik saja, sebaik kota Palu ini menyambut kami. Banyak sekali cerita tentang kota itu.

Itulah memoriku tentang Sulawesi Tengah, khususnya Palu dan Donggala. Mari kita kirimkan doa untuk teman-teman, sahabat, dan kerabat kita yang jadi korban gempa dan tsunami di sana. Semoga pembangunan kembali Kota Palu dan Kabupaten Donggala serta kawasan di sekitarnya dapat berjalan lancar. Masyarakat yang trauma kembali pulih dan semangat.



*Foto-foto perjalanan selama di Palu dan Donggala dijepret oleh teman-teman fotograferku: Mas Masrur, Koh Rendy, Mas Sandi, Kak Upin Arifin.

Read More

Share Tweet Pin It +1

4 Comments

In Movie Land

Sajian Film Aruna dan Lidahnya Selezat Lorjok dan Bakmi Kepiting

Bulan September memang banyak film Indonesia bagus yang tayang di bioskop. Aku jadi keseringan piknik di bioskop, nih, menambah inspirasi dan membahagiakan diri. Sudah lama aku menunggu Aruna dan Lidahnya ini tayang. Satu film yang mengangkat kuliner Nusantara yang otentik menurutku. Aruna dan Lidahnya menjadi drama komedi yang sukses bikin lapar dengan berbagai gambar makanan yang tersaji. Makanan ini tak hanya jadi penghidang properti, tetapi menjadi topik utama di sepanjang film.

Kalau kamu tak percaya, silakan tonton filmnya sendiri. Buat yang sudah pernah baca novel Aruna dan Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak, lupakan segala hal berat menyangkut konflik konspirasi di dalam novel itu. Karena film ini diadaptasi secara bebas dengan mengambil satu bagian yang menjadi penguat cerita. Jadi, lupakan yang berat-berat dari novelnya, ya, karena Dian Sastro dan Nicholas Saputra akan mengajak kita kulineran ke beberapa tempat: Surabaya, Madura, Pontianak, dan Singkawang. Ada Hannah Al Rashid dan Oka Antara yang memperkuat chemistry kita dengan makanan Nusantara. Ah, aku suka sekali film ini, dikemas dengan komedi santai dan tergelitik dengan beberapa ekspresi Dian Sastro alias Aruna yang praktis viral menjadi meme lucu di social media. Tak sedikit yang berkomentar kalau Dian Sastro ini jadi ratu meme Indonesia karena ekspresi dan dialognya di beberapa film box office-nya bisa dikatakan 'petjah'.

"Ada apa, ya, sebenarnya?"

Kalau kamu sudah nonton, pasti tidak asing dengan dialog yang diucapkan Aruna di pinggir jalan di kawasan Singkawang. Iya, ada apa, ya, sebenarnya dengan film ini? -dengan menirukan ekspresi Aruna.

Review Film Aruna dan Lidahnya (5): Source: news.bbmessaging.com

Aruna dan Lidahnya Film (4). Source: http://hiburan.metrotvnews.com/
Mereka sedang mencicipi lorjok, makanan khas Pamekasan, Madura. (Source: ini)

Review Film Aruna dan Lidahnya. Source: https://id.bookmyshow.com/
Aruna dan teman-temannya lagi makan malam di Surabaya. (Source: ini)
Review Aruna dan Lidahnya (8). Source: https://www.idntimes.com
Aruna, Bono, dan Nad makan soto lamongan di Surabaya. (Source: ini)

Aruna merupakan wanita karier yang masih jomlo. Ia adalah seorang konsultan ahli wabah yang sedang jenuh dengan pekerjaannya. Apalagi dia ditolak berangkat ke Jaipur lantaran sudah ada konsultan yang menggantikannya. Bono (Nicholas Saputra) yang merupakan seorang chef mencoba menghibur Aruna dengan membuatkan masakan beraroma India. Tapi entah kenapa, selera lidah Aruna kala itu tak seperti biasanya. Lebih hambar dan selalu kurang pas dengan rasa. Ia tampak lebih sering gelisah, entah karena apa. Di rumahnya, Aruna memasak nasi goreng sesuai resep dari mboknya, tapi rasanya tetap tak sama. Hmm, akhirnya  Bono ambil tindakan. Hidup Aruna terlihat hambar seperti makanan yang ia makan. Sebagai sahabat yang baik, Bono mengajak Aruna cuti biar mereka bisa kuliner di luar kota, mencoba banyak rasa, dan mendefinisikan rasa itu pada perjalanan hidup mereka.

Seperti gayung bersambut, ternyata Aruna dikirim ke beberapa daerah untuk investigasi virus flu burung yang mewabah di Surabaya, Pamekasan, Pontianak, dan Singkawang. Serta merta, Bono ikut dalam perjalanan dinas Aruna itu dengan tujuan berbeda: makan-makan. Ternyata di Surabaya mereka tak sendiri. Aruna disupervisi oleh Farish (Oka Antara) selama investigasi. Sementara Bono juga mengajak Nadezhta (Hannah Al Rashid) yang ikut menyusul kuliner trip mereka. Kebetulan, Nad juga seorang penulis tentang masakan dan merupakan teman lama Bono dan Aruna. Siapa sangka, perjalanan dinas + makan-makan itu pakai bumbu baper di antara mereka. Faris adalah cinta lama Aruna yang sudah ia kubur dalam-dalam, sementara Nad juga jadi cintanya Bono yang selama ini tak pernah ia ungkapkan. Ya, apakah sejuta rasa makanan yang dicecap oleh lidah mereka mampu mengantarkan 4 tokoh ini jujur pada rasa di hati? Biar nggak naksir-naksir sebel ala Aruna ke Faris, gitu.

Aku menyukai setiap filosofi yang diantar film ini lewat makanan. Seperti film Filosofi Kopi, Aruna dan Lidahnya menjadi trade mark baru dalam film Indonesia yang mengangkat sajian kuliner berbagai bentuk. Makanan seketika menjadi satu karakter sendiri yang seakan punya cerita di setiap suapnya. Sup buntut buatan Aruna di awal film menjadi menu pembuka. Belum apa-apa, perut ini terasa menggelepar. Coba saja saat nonton, makanan itu benar-benar disajikan secara nyata, ya. Dari belasan makanan, yang paling juara dan sangat ingin kucoba adalah lorjok dari Madura, bakmi kepiting Pontianak, pengkang di Singkawang, dan choipan. *lap iler.

Review Film Aruna dan Lidahnya (2). Source: https://id.bookmyshow.com/
Aruna dan Farish makan choipan di Singkawang. (source: ini)

Review Film Aruna dan Lidahnya (3). Source: https://jakartaglobe.id
Aruna dan sahabatnya makan bakmi kepiting Pontianak. (Source: ini)
Review Aruna dan Lidahnya (7).
Aruna, Bono, dan Nad sedang mencoba pengkang di Singkawang. (Source: ini)

Review Aruna dan Lidahnya (6)
Adegan gosip di kamar hotel sambil ngemil. (Source: ini)

Secara keselurahan, kemasan film ini menarik. Memang tak melulu tentang makanan, tetapi makanan selalu ada di setiap langkah, obrolan, bahkan konflik, khususnya yang menyangkut Aruna. Dan, semua yang terhidang di dalam layar sangat relate dengan kehidupan banyak orang. Bagaimana Aruna dan teman-temannya menggosipkan orang lain di kamar hotel sambil ngemil. Ini part juara sih. Bono, Aruna, dan Nad sebegitu naturalnya menggosipkan Farish yang ada di kamar sebelah. Siapa yang tidak pernah bergosip seperti ini? Apalagi saat traveling. Pasti banyak, kan yang relate sama adegan ini. Lalu, saat mereka berbicara tentang pekerjaan dan pacar, bahkan tentang hidup. Duh, itu sudah makanan sehari-hari orang kantoran, bukan, sih? Nah, sajian-sajian seperti ini yang ada di film Aruna dan Lidahnya. Nggak terlalu serius, tetapi bukan komedi yang sengaja dibuat-buat. Jadi, kita bisa bertahan menonton sampai film habis.

Meskipun permasalahan konspirasi kantor dan pekerjaan Aruna yang mengarah pada korupsi tidak diasah lebih jauh, Aruna dan Lidahnya tetap menarik. Ekspresi-ekspresi Aruna banyak macamnya. Belum lagi Nad yang entah kenapa kadang bikin kesal, tapi juga bikin sayang. Film ini lebih kurang tentang persahabatan orang 30-an yang kadarnya manis-asin-asam yang sama-sama akhirnya menemukan pencarian hidup mereka dalam perjalanan. Atau bisa juga menjadi sebuah perjalanan yang membuat hidup mereka berubah. Lidah Aruna yang tadinya hambar kini telah diisi dengan banyak rasa. Bono, Nad, dan Farish yang membawanya merasakan banyak pelajaran hidup itu. Untuk pertanyaan apakah mereka akhirnya hidup bahagia dengan pasangan masing-masing atau malah bertukar pasangan? Silakan tonton sendiri, ya. Asyik, kok.

Read More

Share Tweet Pin It +1

2 Comments