Catatan Tercecer dari Swiss (Part 3)

Sungai Rhine... membawa anganku hingga Paris dan Berlin.



Ada satu sungai besar dan panjang yang membelah kota Basel, Swiss. Sungai ini membentang memisahkan Basel Besar dan Basel Kecil (itu sebutan orang Basel untuk memisahkan wilayah pemukiman berdasarkan tingkatan ekonomi). Setiap kali tram yang kunaiki melewati jembatan yang lebar ini, aku terkagum dengan aliran air yang tenang tapi tampak mengalir pasti. Sungai Rhine, memabukkan anganku saat menatapnya hingga kesekian kali.

Aku tak begitu tau berapa lebar sungai itu, tapi kapal pesiar lalu lalang melaju di bawah kami. Ada taman yang disediakan di pinggir sungai, pas sekali untuk melihat pemandangan sungai itu. Saat matahari tampak menyeruak setelah berhari-hari bersembunyi di balik kabut winter, orang-orang Basel kelihatan menikmati waktu berjemur di pinggiran sungai sana. Meskipun cuaca masih terasa dingin menusuk, mereka seperti tak segan duduk berlama-lama sembari membawa anjing-anjing mereka berjalan-jalan.

Aku terpukau dengan sungai ini. Usut diusut, sungai Rhine termasuk sungai terpanjang yang ada di Eropa. Sungai ini membelah Swiss, melewati Jerman hingga Prancis. Ini menjadi salah satu jalur transportasi orang yang ingin bertamasya sepanjang sungai.

Airnya biru. Aku tak melihat setitik pun sampah atau limbah mengotorinya. Kulihat burung-burung dara terbang sambil menyentuhkan kaki mereka di permukaan air, lalu terbang lagi yang tinggi. Aku tidak begitu tau kedalamannya. Tapi mungkin ada beberapa orang yang melakukan percobaan bunuh diri mengingat tingginya jarak jembatan dengan permukaan air. Siapa yang tidak gamang?

Sungai Rhine ini sangat meneduhkan. Di tengah negara Swiss yang tidak punya laut, sungai ini menggantikannya. Anginnya yang meniup pelan hingga kencang, airnya yang sesekali bergelombang kecil, serta kapal yang melintasinya pada waktu-waktu tertentu, cukup membuat pelancong di Basel itu puas. Aku pun juga puas dengan kebersihan yang sangat dijunjung tinggi negeri Swiss itu.


2 comments: