In Journey Land

Baralek Gadang, Tradisi Pernikahan Adat Minang

Udah punya rencana apa buat mudik Idulfitri tahun depan? Aku udah hampir 2 tahun nggak mudik nih ke Padang. Bukannya durhaka, ya, tapi kebetulan banget pas 2 kali musim puasa Ramadhan, aku sedang berada di Georgia dan Bulgaria untuk misi kebudayaan. Jadinya, begitu pulang ke Indonesia menjelang lebaran, aku dan Junisatya memutuskan untuk nggak mudik dulu. Biayanya abis buat jajan takjil di Eropa Timur. :))

Masih Desember, kok udah ngomongin mudik? Ya iya, ini karena orang asyik ngomongin liburan Natal dan Tahun Baru, aku jadi ingat belum ngecek tiket mudik buat tahun depan. Coba aku cek dulu deh.

Ngomongin mudik ke Padang, aku mau cerita sedikit tentang budaya Minang. Masih fresh nih cerita tentang misi budayaku di Bulgaria musim semi kemarin. Aku di sana mengenakan pakaian adat Koto Gadang, salah satu daerah di kawasan Bukittinggi. Katanya suntiang Koto Gadang yang cuma berbentuk selendang tebal itu hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang sudah menikah (khusus berwarna merah). Tapi memang warna aslinya merah. Jika ada warna lain, berarti sudah bagian dari modifikasi tradisi. Nah, karena aku sudah menikah, aku diminta mengenakan pakaian adat itu untuk parade budaya di Kota Veliko Tarnovo, Bulgaria. Banyak orang bertanya tentang pakaianku yang tampak meriah, mencolok, dan bling-bling sendiri (eh barengan bling bling sama peserta dari India). Maklum, pakaian adat dari negara-negara Eropa aksesorisnya tidak semeriah ini. Aku lumayan jadi pusat perhatian.


Omong-omong soal budaya, aku mau cerita tentang tradisi menikah di Minangkabau. Biasanya aku cerita tentang wisata alam dan kulinernya kan setiap pulang kampung. Nah, kali ini mau ngulik budaya pernikahan. Mungkin sebagian kamu udah familiar dengan dekorasi dan aksesoris yang dipakai oleh pengantin orang Minang. Tapi tradisi yang sebenarnya dalam pernikahan Minang punya alurnya sendiri dan cerita di baliknya.

Sebagai gadis Minang, hal yang paling dinanti adalah momen pemakaian sunting beneran saat ia menikah. Entah kenapa, rasanya itu jadi pencapaian bermakna dalam hidup. Ya, fairy tale syndrom itu memang nyata terjadinya. Tidak terkecuali pada tradisi adat sendiri. Termasuk aku. Waktu TK, kalau ada Hari Kartini, pasti langsung fitting baju adat untuk pamer dress dan make up. Namanya juga anak TK centil, ya. Tapi entah kenapa, memakai sunting itu paling dinanti, tetapi juga paling ditakuti karena berat. Yah, sunting ukuran anak TK seberapa besar, sih ya. Itu juga nggak terbuat dari kuningan asli yang beratnya seberat beban hidup. Karena rasa penasaran mengenakan sunting beneran yang cuma boleh pada saatnya nanti, momen itu jadi prestise banget. "Saatnya nanti" itu kapan? Ya, saat si gadih Minang itu menikah. Dan, tentu saja meriah.

Kalau kamu jalan-jalan ke tanah Minang, akan lebih lengkap kalau beneran bisa melihat tradisi pernikahan adat Minang yang sering disebut Baralek Gadang. Aura tradisinya jauh lebih dalam, nuansanya lebih merakyat, dan meriahnya pun beda. Ada ritual-ritual pernikahan adat Minang yang banyak di-skip jika pernikahan itu diadakan di luar tanah Minang. Ya, seperti saat aku menghadiri nikahan teman orang Padang di Jakarta, ya. Hal yang terlihat "Minang banget" cuma dekorasi, sunting, dan rendang. Padahal makna pernikahan bukan saja kemeriahan resepsi, tetapi juga jadi sebuah sebuah upacara adat.
Tradisi pernikahan adat minang
Baralek gadang Minang

Nah, bagaimana upacara adat pernikahan di Minang? Sebenarnya setiap daerah di Sumatera Barat punya puluhan jenis ritual upacara pernikahan tergantung adat yang dianut masyarakat setempat. Tapi tujuannya sama, berpesta merayakan anak gadisnya dipersunting orang. Pesta itu bukan hanya tradisi keluarga, tapi jadi tradisi kampung. Yaa, karena itu juga sih nikah itu mahal.

Karena aku orang Agam, aku cerita soal baralek gadang versi kampungku aja, ya. Karena ada banyak versi upacara adat pernikahan, tergantung suku dan tergantung daerahnya.

1. Malam Bainai

Baralek gadang

Malam bainai ini sering dikenal dengan malam memakai pacar/hena, sehari sebelum menikah. Tapi maknanya jauh lebih dari itu. Semacam bachelorette party, malam bainai itu jadi malam ramah tamah si gadih minang sebelum resmi dipersunting orang. Dalam tradisi Minang, anak perempuan akan dikunjungi oleh keluarga bako (keluarga dari pihak ayah). Ini semacam simbol bahwa si anak yang merupakan 'anak pisang' (kemenakan dari saudara ayah) sudah dewasa dan mengantar secara simbolis si anak ke keluarga ibunya. Kenapa harus ada acara seperti itu? Karena acara nikahan kan memang diadakan di rumah keluarga ibu. Nanti bako akan memberikan hadiah berupa perhiasan untuk si gadis Minang yang akan menikah ini. Setelah itu, tangan dan kaki si gadis Minang ini dihias dengan pacar atau hena. Biar makin meriah, malam bainai versiku diselingi dengan tradisi dendang (nyanyian) dan barabab (main musik rebab) yang menceritakan nyanyiannya tentang kegelisahan, asal usul keluarga dan suku orang yang punya acara, kerinduan, doa, dan cita. Nggak heran nuansanya jadi penuh haru. Acaranya beneran semalaman. Makanya yang banyak nongkrong di halaman rumah cuma para bapak-bapak seisi kampung. Kaum ibu dan anak-anak sudah tidur duluan.

baralek gadang (3)

2. Manjapuik marapulai

Kalau biasanya cowok yang jemput cewek, khusus di Baralek Gadang nikahan anak Minang, ceweklah yang menjemput si cowok. Marapulai adalah sebutan untuk pengantin laki-laki. Anak daro untuk sebutan pengantin perempuannya. Nah, ini hari yang paling ditunggu karena hari itulah si gadis Minang tadi bisa mengenakan sunting. Karena aku orang Agam, aku memakai pakaian serba merah hati dengan mahkota berupa sunting besar. FYI, tiap daerah di Sumatera Barat punya pakaian adatnya sendiri, jadi nggak semua pakai sunting kok. Yang orang kenal tentang pakaian adat Minang apalagi untuk menikah ya sunting seperti yang kugunakan itu. Sunting besar dengan berat mencapai 5 kg. Kebayang kan beratnya memanggul beban di kepala berjam-jam?

baralek gadang (4)

Dengan berat sunting di kepala, baju kurung yang penuh aksesoris juga bikin beban hidup bertambah. Makanya nikah itu kalau udah siap aja, ya. Jangan ikut-ikutan. Fix, waktu aku menikah, berat baju dan berat sunting kayaknya melebihi berat badanku (derita anak kurus). Belum cukup dengan itu saja, si anak daro harus menjemput marapulai ke rumahnya. Ya, untungnya karena Junisatya bukan asli Minang, dia nggak harus aku jemput ke rumah. Jauh banget jemputnya ke Jakarta. Cukup jemputnya di ujung kampung aja, lalu kami diarak keliling kampung dengan bunyi-bunyian.

3. Berbalas Pantun

baralek gadang (5)

Saat menjemput marapulai, anak daro didampingi oleh saudara perempuan ibu. Bukan orang tua langsung. Orang tua justru menyambut marapulai dan keluarganya di rumah. Nah, saat di lokasi penjemputan, marapulai disambut dengan pantun, silat, dan tari pasambahan (tari pembuka upacara adat dan acara-acara resmi di Minangkabau). Idealnya sih pakai berbalas pantun, tetapi karena keluarga Junisatya bukan orang Minang, jadi pantun bahasa Minang hanya disampaikan satu arah. Terakhir, marapulai dan keluarganya akan diminta mencicip daun sirih sebagai simbol ramah tamah. Rombongan keluarga besar itu pun diarak keliling kampung dengan bunyi-bunyian alat musik tradisional seperti gendang dan talempong. Keluarga ibu melempar beras ke arah pengantin sebagai simbol doa dan harapan.

4. Makan bajamba

baralek gadang (6)

Begitu anak daro dan marapulai digiring sampai masuk rumah yang sudah gemerlap dengan dekorasi serba merah dan emas, saatnya makan bajamba (makan bersama). Yang wajib ada di rumah ya bundo kanduang, mamak (paman), mak tuo (bibi), sumando (ayah dan keluarga ayah/besan). Makan bajamba ini dilakukan lesehan dengan menghidangkan semua menu masakan sampai camilan di tengah rumah. Kalau nggak salah ada belasan menu makanan yang wajib ada untuk acara nikahan. Ada rendang, ayam, dendeng, sambalado, ikan, gulai, menu sayuran pical, anyang, dan lain-lain. Buah-buahan yang lazim ada itu pisang dan semangka. Aku nggak bisa mendefinisikan semua jenis makanan satu per satu. Keburu habis duluan.

5. Batagak gala

baralek gadang (7)

Sebenarnya saat aku menikah dengan Junisatya, aku men-skip yang satu ini, batagak gala, upacara pemberian gelar untuk pengantin laki-laki. Upacara ini harus dihadiri lengkap oleh datuk dan petinggi kampung. Seperti pepatah Minang, ketek banamo, gadang bagala (kecil bernama, besar bergelar), setiap laki-laki yang menikah akan diberikan gelar adat untuknya. Jadi begitu gelar itu resmi, kita harus memanggil laki-laki itu dengan gelarnya, tidak boleh dengan namanya. Ada sanksi adat buat orang yang melanggar, bahkan bagi keluarga sendiri. Hmm. Meski upacara batagak gala untuk Junisatya di-skip, bukan berarti ia tidak diberi gelar. Pada hari itu juga, saat ia menginjakkan kaki pertama kali di rumahku, namanya berubah jadi Malin Bandaro, pemberian dari pamanku yang menjabat sebagai datuk (pemimpin adat) di suku kami. Seharusnya aku memanggilnya Uda Malin Bandaro kalau pulang kampung. Ya, kalau di Jakarta sih, aku nggak terlalu terikat dengan panggilan itu. Kan, ceritanya aku punya panggilan sayang sendiri, Junisatya, Hehe. Sst, jangan bilang ke datukku di kampung ya, bisa-bisa aku kena sanksi adat.

6. Tari-tarian meriah pesta rakyat

Setelah semua upacara pernikahan selesai, saatnya rakyat berpesta. Iya, kemeriahan itu bukan milik pengantin atau pun keluarga besar, tetapi juga milik seisi kampung. Ada tabuhan gendang, talempong, dan alat musik lain, lalu ada tarian tradisional Minang. Ya, karena ibuku punya grup tari tradisi yang udah melalang buana di pentas internasional, masa iya nggak digelar di pentas rumah sendiri. Jadi semua pertunjukan di depan rumah itu adalah ide dari bundo kanduangku. Mantap ya.

baralek gadang (8)

baralek gadang (9)

Rangkaian tradisi pernikahan adat Minang sebenarnya nggak sampai di situ saja. Biasanya di kampung-kampung, baralek gadang itu dilakukan 3 hari 3 malam, seminggu, bahkan sampai 40 hari. Nggak kebayang berapa ratus juta biaya yang mesti dikeluarkan. Nggak kebayang juga betapa murkanya bos di kantor yang ditinggal 40 hari demi rangkaian acara pernikahan. Tapi itulah tradisi, kalau nggak dilakukan, tradisi dan nilai-nilainya bakalan hilang. *tulisan ini aku tulis efek dari sebuah diskusi tentang diskursus masyarakat adat yang sejarahnya makin terkikis.

Duh, aku jadi rindu pulang kampung jadinya. Ingin merasakan kembali tradisi hangat di tengah keluarga. Karena kesibukan di negeri rantau a.k.a Jakarta dan tinggal di Depok, aku baru bisa pulang dan berkumpul dengan keluarga saat Hari Raya Idul Fitri. Cuma itu waktu yang pas untuk cuti panjang dan sekalian kumpul keluarga besar. Karena itu, setiap Idulfitri, aku selalu memesan tiket pesawat mudik berbulan-bulan sebelumnya, apalagi sekarang urusan mudik udah nggak sendiri, tapi berdua. Otomatis biayanya bakalan dua kali lipat dan mudik ke Padang itu adalah mudik termahal di Indonesia sepertinya. Tuslahnya bisa mencapai 3 kali lipat dari harga normal tiket. Aku harus benar-benar mengatur keuangan khusus buat mudik ini. Apalagi 2x lebaran aku nggak pulang. Yang ketiga, mungkin akan dikira titisan bang toyib kali ya.

Jadi, untuk tahun depan, aku mau lebaran di Padang lagi. Aku udah menandakan kalender lebaran untuk tahun 2019 sembari memantau harga tiket pesawat dari sekarang. Semoga ada rezekinya, ya.

Related Articles

17 komentar:

  1. Indah banget rangkaian prosesi adat dan semua pernak-pernik mulai dari baju pengantin, asesosis, Suntiang yg berat itu. Ah kapan ya Makan Bajambaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga kangen makan bajambaa...bikin yuk kang, saingan sama ngeliwet pakai daun pisang :))

      Delete
  2. Ada alurnya gitu ya? Kalau makan bajamba, enak. Banyak lauk yak? Tapi gabisa makan nasi, kumaha atuuuhh...

    ReplyDelete
  3. Tradisinya puanjang ya. Buat yang jalanin berat, buat yang motret sih ini surga. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang motret harus ada shiftnya gitu deh. karena buanyak banget printilan prosesinya. hahahaha

      Delete
  4. Aku tidak baralek gadang tapi menghadiri banyak event baralek Gadang. Jadi kangen pada teman-teman di kampung halaman saat berkumpul di malam bainai. Kangen juga pada keriuhan di dapur saat ibu-ibu dan bapak-bapak menunaikan tugas untuk memasak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener. Trus aku baru tau, yang ngaduk rendang itu ternyata harusnya laki-laki, bukan perempuan. nanti aku tambahin ah di artikelnya. :)

      Delete
  5. Jadi tahu adat padang jadinya mbak, Indonesia itu memang kaya akan adat tradisinya ya :)

    ReplyDelete
  6. Hi Kak Hanum,

    Bagus banget tulisannya! Jadi lebih paham nih pernikahan adat minang ^_^

    Cheers,
    Dee Rahma

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasiii Kak Dee. Ayolah kapan-kapan kita main ke Padang. :)

      Delete
  7. Yup, nikah dengan upacara adat memang mahal. Di NTT dan Sumatera Utara pun begitu.

    Senang banget bisa baca cerita tentang prosesi pernikahan secara adat begini. Jadi makin tau twntang tradisi dari daerah lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nikah secara adat mahal banget emang. Tapi di situ ya warna Indonesia kelihatan...

      Delete
  8. Warnanya merah emas semakin meriah yaa, tradisi Bugis juga banyak upacaranya termasuk kayak malam baniai kalau di aku namanya Mapacci, pengantin perempuan memang kudu setrong yaa hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nusantara memang membentuk perempuannya setrong mba. :))

      Delete
  9. Meriah banget mbak pernikahannya. Step by step-nya juga banyak banget ya.
    Pernikahan adat Jawa kalo ngikutin adat banget juga panjang banget upacaranya. Makin cinta sama adat Indonesia yang banyak banget dan kaya. Keren.

    ReplyDelete