Road to Penunggu Puncak Ancala Launching Book

Ini dia 5 Penulis #Ancala

Bisik-bisik kiri-kanan baik positif maupun negatif sudah kami dengar. Tepat sudah 2 bulan Penunggu Puncak Ancala terbitan Bukune berada di toko buku. Mulanya tidak ada yang berbeda dari kami. Kami tetaplah 5 anak tengil yang hobi traveling a.k.a. menjelajah a.k.a. mendaki gunung, yang lalu dipertemukan dan diajak menulis oleh seorang editor Bukune.

2 bulan Penunggu Puncak Ancala terbit, kami mulai belajar self branding di beberapa sosial media, termasuk blog ini. (Gue akan garap blog ini lebih serius tentunya). Yah, namanya juga masih tengil, kami tetap saja masih malas-malasan menulis via blog. Harusnya per hari, 1 postingan blog tayang. Namun, (lagi-lagi) sejak Penunggu Puncak Ancala terbit, kami sudah mulai berpikir bahwa apa yang kami tulis bukan sekadar sharing curhat horror berlimaan, melainkan membagi cerita pada masyarakat luas. Ketengilan kami memang harus dikurangi.

#Ancala di tengah jajaran buku-buku horror

Grab it fast!!!

Berkat Editor Ry Azzura, kami jadi sering bertemu, berkumpul, dan bercengkerama. Kami menyebutnya fun meeting. Intensitas pertemuan mulai memasuki tahap sangat sering saat memasuki bulan November 2013. Yup, kami punya banyak rencana. Salah satunya launching secara resmi dari kami dan Bukune untuk buku Penunggu Puncak Ancala. Sebenarnya perencanaannya sudah sangat lama. Tapi baru benar-benar diseriusi bulan November ini. Maklum, kami masih tengil dan punya kesibukan masing-masing. Ini yang membuat Ry Azzura kadang-kadang murka. Menghadapi kami yang hobi traveling masing-masing ini membuat jadwal kami bentrok dan tumpang tindih. Sebut saja Dea Sihotang, dalam kurun 3 bulan terakhir sejak Penunggu Puncak Ancala naik cetak, doi sudah melalangbuana ke 3 negara plus 3 kota di Indonesia (kalau gue nggak salah ingat, ya). Nah, belum lagi Acen yang juga mulai disibukkan dengan kegiatannya ke Yogyakarta dan Malaysia berkali-kali dalam 2 bulan terakhir. Ageng Wuri masih sangat disibukkan dengan latihan Aikido-nya plus ngetrip ke Pulau Pari dan Yogyakarta juga. Indra Maulana malah sedang girang melancong ke mana-mana menjelajah alam, hingga ujung timur pulau Jawa (baca: Bromo). Sementara gue sendiri juga sempat bertolak ke Pari dan Bali bulan lalu.


Hangout #Ancala Team di CoffeeLife

Hah, kalau dipikir-pikir, pantas saya Ry Azzura bawel mengumpulkan kami di tengah kesibukan yang padat. Bukan sibuk kerja atau kuliah, lho, ya, tapi sibuk jalan-jalan. Setelah ngobrol-ngobrol melindur, akhirnya bertemu 1 titik yang jadwal kami benar-benar kosong (atau dipaksa dikosongkan). Tanggal 1 Desember 2013, pukul 2 sore Penunggu Puncak Ancala akan launching di TM BookStore Depok Town Square, Depok. Sepanjang hayat Penunggu Puncak Ancala lahir, ini adalah kali pertama kami mengadakan talkshow. Ini pertama kalinya kami akan menampakkan wujud pada para pembaca. Ya, Penunggu Puncak Ancala resmi kami berikan kepada seluruh khalayak dengan quote-quote menarik di beberapa lembar halamannya.

Dan tadi malam (malam Jumat Kliwon kata Ageng), kami kembali berkumpul untuk fun meeting menjelang talkshow launching. CoffeeLife Cafe resmi menjadi markas kami karena tempatnya yang cozy, murmer, dan wifi antilelet. Pertemuan ini didalangi oleh Ry Azzura dengan agenda teknis talkshow, perencanaan talkshow selanjutnya, plus live tweet bersama dan bagi-bagi hadiah. Yak, ini juga kali pertama kami nongol di sosial media serempak menyapa pembaca. Mulanya sepi, tapi begitu tau kami bagi-bagi beberapa pernak-pernik, sapaan pembaca pun mangalir. Pertanyaan demi pertanyaan kudu dijawab yang dimoderatori oleh admin @Bukune. Bagi yang online malam itu, linimasa @sansadhia, @AgengWuri, @akumelancong, @acentris, @deasihotang, @Bukune, @RyAzzura jebol pol. Live Tweet selama 3 jam dengan ditemani kentang goreng lumayan bikin lelah. Padahal kami cuma duduk dengan gadget di depan mata.

Siap-siap Live Tweet, menunggu para jejaka datang.

Tampang bingung memilih pemenang Tweet Quiz #Ancala

Nah, setelah bertemu di sosial media, kita akan lanjut bertatap muka. Ayo, datang beramai-ramai, ya, tanggal 1 Desember 2013. Kita akan ngobrol asyik dan seru-seruan.

Kisah Ancala dari kami untuk kalian.

Antusias, tak sabar, deg-degan. Kami siap bertemu para pembaca. Kami menunggu komen dari semua. Semoga setelah ini, talkshow berlanjut di tempat-tempat lain.

Tertanda,

5 penulis Penunggu Puncak Ancala
Salam Ancala!

2 komentar:

Film Sokola Rimba: Ketemu Suku Pedalaman dari Jambi

Sokola Rimba (sumber poster dari sini)
Sokola Rimba diangkat menjadi film oleh Miles Production. Dengan setting di hutan Rimba, Jambi, film ini memaparkan sebuah suku primitif, Rimba. Mira Lesmana selaku produser dan Riri Riza sebagai penulis skenario merangkap sutradara langsung mengikutsertakan anak-anak Rimba untuk membintangi film ini bersama Prisia Nasution.

Film ini membawa kita masuk ke pedalaman Rimba, Jambi, Sumatera bagian selatan. Butet Manurung (Prisia Nasution) dengan sabar mengajarkan anak-anak Rimba untuk membaca dan menulis. Untuk menuju ke pedalaman saja, perjuangan luar biasa. Apalagi untuk berinteraksi dan bernegosiasi dengan suku pedalaman itu.

Melalui film ini, kita berkenalan dengan anak-anak Rimba yang memiliki muka tanpa ekspresi dan tak berbaju. Begitulah orang suku itu hidup. Mereka masih sangat memuja alam sebagai tempat tinggal mereka.

Film Sokola Rimba sekilas mengingatkan kita pada film Miles Production yang mengangkat tata kehidupan daerah, seperti Laskar Pelangi dan film pendek Atambua 39 Derajat Celcius


Kearifan lokal menjadi suatu hal yang ditonjolkan di dalam film. Lengkap sudah, jika Belitung dan Atambua dieksplorasi sebelumnya, kini beralih ke Rimba. Miles Production tampaknya mau menjelajah Indonesia untuk mengangkat berbagai kearifan di dalamnya. Dan.... mereka berhasil.


Film ini sangat menarik. Sebenarnya dari awal saya mencari-cari, apa yang bisa diambil untuk kesan baik menonton film ini. Akhirnya saya temukan di paruh terakhir film, yaitu pohon madu. Sepanjang film yang didominasi musik alam alias suara berbagai binatang dan gesekan tumbuhan ini, Sokola Rimba bernada serius. Lihat saja pemain anak Rimba yang mukanya begitu polos. Mereka sukses memerankan diri sendiri. Memang itulah yang ingin diperlihatkan kepada penonton, kepolosan dan keprimitifan. Lalu, saat tengah asyik mengikuti alur perjalanan Rimba, kita dibawa tinggi melihat sebuah pohon tua dan raksasa. Saya terkagum dengan penataan kamera menyorot jauh hutan Rimba. Akhinya terlihat satu-satunya pohon pencakar langit, yang dengan angkuh berdiri di tengah hutan. Pohon tanpa dahan itu konon jadi pohon yang sudah sangat tua. Orang-orang Rimba percaya ada sebuah harapan dari pohon itu.


Bungo, salah satu anak Rimba menceritakan kisah mengenai mitos pohon yang tinggi itu. Layar bioskop berubah menjadi animasi perjalanan orang Rimba menantang maut mengambil madu di pohon madu. Mulanya saya agak terganggu dengan perubahan gambar menjadi animasi. Tapi, mitos yang diceritakan dengan polos itu memang mestinya digambarkan polos juga. Saya pun menjadi terhibur dan tertawa.


Orang-orang Rimba sangat percaya dengan hadiah dan kutukan. Pohon Madu ini menjadi simbolnya. Pohon tertinggi dan di Taman Nasional ini dianggap pohon pengharapan. Untuk mencapai puncaknya dan mengambil madu di atasnya dibutuhkan orang yang benar-benar siap dari fisik dan mentalnya. Saat memanjat pohon hampir disamakan dengan sebuah perjalanan panjang, penuh godaan, tekanan, dan tantangan. Dan saat ada pemanjat yang terjatuh dan pastinya langsung meninggal, mayatnya sudah tak perlu dikuburkan lagi karena jasad sudah menancap dan menyatu di tanah yang dalam.

Kalau menurut teman saya dari sebuah media online menulis pohon itu erat kaitannya dengan memohon. Lalu saya ingin menambahkan, madu yang tersimpan di sarang lebah di atas erat kaitannya dengan harta dan surga. Madu adalah sumber energi dan rasanya manis, surga bagi orang-orang Rimba. Tapi sayang, dirusak orang-orang yang mengaku hidup modern.


Dari pohon, pindah ke misi Butet Manurung. Butet ingin memasukkan ilmu pengetahuan untuk senjata si anak-anak Rimba. Yap, tagline "Pengetahuan adalah senjata" menjadi kata-kata yang selalu didengungkan oleh Butet.


Tapi saat bergesekan langsung ke pola pemikiran orang Rimba yang sulit diubah, tagline itu pada akhirnya berubah menjadi "Pengetahuan pada akhirnya menjadi sebuah kutukan" karena orang Rimba sangat mempercayai segala bentuk kutukan. Begitulah cara berpikir. Bagi orang modern, kita mengenal reward dan punishment. Orang Rimba sudah lebih dulu menerapkan itu berabad-abad dalam bentuk jamuan dan kutukan. Hanya bahasa dan makna yang berubah. Tapi pertanyaannya, mengapa kita tidak bisa tinggal berdampingan?!


Film Sokola Rimba berkata lewat gambar. Kesan dramatis tertutupi dengan kepolosan anak-anak Rimba. Film ini sangat baik buat ditonton. Film ini memang film cerita, ada tegangan tapi jangan harap ada penyelesaian, karena sampai kini memang belum ada yang bisa memecahkan apa yang di dalamnya.

0 komentar:

The Internship: Visualisasi Kantor Google yang Inspiratif

Film tentang Google (sumber poster dari sini)
The Internship, sudah kutonton beberapa bulan yang lalu, tapi masih teringat jelas di otak ini tentang gambar yang dihidupkan film tersebut. Apa pasalnya? Visualisasi dekorasi kantor Google yang keren, ciamik, super inspiratif. Semua orang tahu Google, browser yang sungguh dipercaya.

Nah, The Internship mengangkat film tentang Google. 2 salesmen yang mengalami putus harapan tentang karier mereka, mencoba mengajukan magang di Google. Google yang mencari pemuda kreatif, jenius, inovatif, dan kompeten akhirnya menerima 2 orang ini yang notabene sudah tua. Tantangannya adalah mereka harus bersaing dengan para remaja dari kampus-kampus terpilih untuk mendapatkan bangku tetap sebagai karyawan Google. Dan itu tidak mudah.

Billy Mcmahon dan Nick Campbell harus menghadapi kebaruan-kebaruan ala anak muda selama magang itu. Maklum, beda generasi. Salah satunya saat tantangan pertandingan Quidditch. Pertandingan sepak bola ala dunia sihir Harry Potter ini tentu saja dinikmati oleh para pemuda. Billy dan Nick tidak akan mengerti kalau mereka bukan penikmat serial Harry Potter. Ada pertikaian antargenerasi dan ada pula kekonyolan di sana.

Akhirnya kebaruan-kebaruan itu dapat dipadu dengan pengetahuan dan ke-bijak-an dari generasi tua. Itulah yang menjadikan Billy dan Nick mampu bertahan di Google dan melewati berbagai tantangan selama magang. Pertukaran kebiasaan dan pengetahuan di film menjadi negosiasi yang ditawarkan. Itulah yang menjadikan konflik terus mengalir.

Satu poin menarik adalah saat Quidditch dimainkan tanpa adegan terbang-terbangan seperti di film seri Harry Potter. Sapu sihir tetap digunakan, penghitungan permainannya juga sama, tetapi visualnya menjadi berbeda. Penampakan dan penangkapan Snicth pun dibuat menarik (yang penasaran, silakan langsung tonton saja filmnya).

Film The Internship tidak akan menarik kalau tidak menjual Google. Yang paling menarik adalah visualnya. Sepanjang film, penonton akan dimanja dengan ruang spasial Google. Kantor Google, baik outdoor maupun indoor terlihat nyaman sekali. Dekorasinya yang unik memperlihatkan suasana fun dan inspiratif. The Internship memang secara sengaja menonjolkan sisi gambar karena yang mereka jual adalah Google. Tak peduli kisahnya bagaimana, Google berhasil ditampilkan secara visual di film ini. Mulai dari filosofisnya, quote-nya, nuansa kerjanya, hingga dekorasi kantornya.

Cerianya suasana kantor Google pusat (gambar diambil dari sini).

1 quote yang mendasari dibuat dan dirilisnya film ini :
50 billion pages, 1 billion daily searches, 620 million dailyl viewers, 74 million cat videos per day, 1000 bicycles, 23 free cafes. ... Now in the hands of these 2.

0 komentar:

Catatan Tercecer dari Pulau Pari: Keheningan Pantai Pasir Perawan

Pertama kali ke Pulau Pari, kesan pertama adalah panas. Ya, iyalah, ini kan pantai dan masih kawasan utara Jakarta pula. Hawanya sungguh menyengat. Krim sunblock aja bisa luntur karena keringat luar biasa deras.

Tapi, Pulau Pari memang pas dijadikan tempat pembuangan stres, lelah, jenuh. Liburan weekend cukup kok, nggak jauh, nggak mahal, nggak menghabiskan waktu banyak.

Ada apa di Pulau Pari? Saat turun kapal, nuansanya tenang. Dermaganya termasuk dermaga yang adem. Lalu, berjalan lebih jauh, ada kampung buatan yang tertata rapi di sana. Homestay berjajar dan tinggal pilih. Sebenarnya di pulau lain di Kepulauan Seribu juga nggak jauh berbeda suasananya. Tapi menurutku, pulau ini lumayan bersih dan nggak crowded. Di antara pulau-pulau yang ramai, mungkin pulau ini masih terbilang bersih. Maklum, orang lebih banyak mengunjungi Pulau Tidung atau Pulau Pramuka.

Pesona Pulau Pari adalah Pantai Pasir Perawan. Seperti namanya, pantai ini tampak masih perawan, seperti tak banyak terjamah. Pasirnya putih bersih, sejauh mata memandanng, pantai ini terlihat fresh dan mem-fresh-kan otak. Ada payung-payung untuk berteduh dan bersantai. Pantai Pasir Perawan menjadi keren karena (lagi-lagi) tenang. Buatku, Pantai Pasir Perawan itu ajaib. Ada angin tapi nggak berisik. Ada banyak orang tapi nggak hiruk. Ramai tapi nggak desak-desakkan juga. Sampah juga begitu minim ditemukan. Andaikan ada bola voli pantai, mungkin aku akan bermain voli di sana. Pasirnya tebal empuk, enak buat lari-larian dan guling-gulingan.



Tempat itu tidak benar-benar pantai yang ada ombaknya, tapi lebih mirip danau berwarna hijau kebiruan. Pantai itu dkelilingi mangrove yang menahan ombak. Bedanya dengan danau, airnya sangat jernih. Ada perahu juga yang bisa ditumpangi untuk berdayung dan berfoto di pohon-pohon bakau di tengahnya. 

Malam-malam di sana juga suasananya sama. Pantai itu dijadikan tempat pesta barbeque. Saking tenangnya air laut, kita sampai lupa, lho, kalau itu adalah pantai. Yang terlihat hanya pasir, pemandangan ke arah lautnya gelap. Cuma ada angin yang berbisik. Makanya, enak kali, ya, kalau malam-malam sambil barbeque-an ada kembang api di langit. Pasti suasananya lebih hidup.

Pagi hari di Pantai Pasir Perawan berubah menjadi tempat yang romantis. Sejuk, hening, membuat pikiran jernih, pas untuk mengambil posisi bengong. Jangan salah, bengong itu nikmat, lho. Banyak yang berenang di sana. Airnya nggak terlalu dingin. Sejuknya embun juga terasa sekali, terutama saat kita memperhatikan tetesannya pada dedaunan mangrove. Harmonis. Pemandangan sunrise jadi sempurna pagi itu di Pantai Pasir Perawan. 

Itulah yang ditawarkan Pulau Pari. Selebihnya, trip yang mencakup snorkeling dan boat adventure tampak sama dengan trip ke pulau lain. Dengan adanya Pantai Pasir Perawan, Pulau Pari terlihat menarik. Meski langit nggak terlalu membiru (maklum, masih kawasan Jakarta dan sekitarnya), tempat ini cocok banget buat orang yang mencari ketenangan, mencari inspirasi untuk menulis. Pantai Pasir Perawan yang hening menyimpan banyak cerita untuk pengunjungnya lewat bisikan angin dan pasirnya yang begitu halus.




0 komentar:

(Latepost) Seperempat Baya di Persinggahan Ancol

Oktober baru saja berlalu. Tapi ada banyak hal membahagiakan yang hadir di Oktober tahun ini. Senang, berkesan, dan tak terlupakan.

Sebagai seorang Libra yang sangat sociable, memperluas ruang pertemanan adalah anugerah paling indah. Dan makin ke sini, lingkaran pertemananku semakin meluas. Di Oktober ini aku punya banyak teman baru. Mereka ini memang 'teman kemaren sore', tapi rasanya berasa sudah kenal lama. Mereka adalah teman ngetrip ke Pulau Pari September lalu. Keseruan bersama mereka tidak hanya berakhir saat trip Pari berakhir. Kami masih lanjut nongkrong beberapa kali.

Apalagi.... ada yang mengejutkan.

Saat malam seperempat bayaku.

Suatu malam tanggal 7 Oktober 2013, kami mau wisata malam di Ancol dengan Avanzano milik Junisatya. Memang tidak semua hadir, tapi tidak mengurangi kehebohan sekumpulan bocah ini. Mobil meluncur ke Ancol sekitar pukul 23.00. Sudah malam sekali, ya. Dan jujur, baru kali itu aku ke Ancol larut malam. Suasananya enak, sepi, dan tenang. Kami mendarat di Pantai Karnaval. Kami heboh-hebohan di pantai berpasir putih sebelah Backstage Cafe. Lampu-lampunya terlihat cantik. Ancol jadi damai banget kalau dinikmati malam hari. Absurd sungguh.





Lalu, sebelum 00.00 kami nongkrong di Backstage Cafe yang kebetulan sedang ada live music. Aku seperti diarahkan untuk duduk di sana, padahal kan tidak berniat makan sama sekali.

Eh...

Aku curiga sama Junisatya yang mulai main kode-kodean sama Teteh. Pasti sedang merencanakan sesuatu. Jangan-jangan mau melempar aku ke laut tengah malam buta. (angan-angan lebay mulai merasuk).
Tepat 00.00, pergantian hari, live music berganti jadi lagu Jamrud, Selamat Ulang Tahun. Kupikir tuh lagu buat siapa. Eh, malah penyanyinya mendekat. Waitress datang bawa cake cokelat dengan lilin menyala berangka 2 dan 5, dan di atasnya bertuliskan "Happy Birthday Hanum". Eaaa...












Ini sukses bikin aku terharu, lho. Baru kali ini dapat surprise seniat ini, di Ancol tengah malam buta lagi. Niat semula kan cuma nongkrong biasa dengan mengambil suasana berbeda. Dan kemudian, aku menyadari: Ya ampuuuunn,,, umurku sudah seperempat abad?


Seperempat baya di Backstage Ancol? Baru pertama bersama orang-orang baru. Siapa yang menyangka, sih, ada cake cokelat disiapkan Junisatya, lalu kado manis dari yang lainnya (Teteh, Ipin, Vina, Dewi, dan Kiki). Aku sampai tidak bisa berucap terima kasih lagi. Malam itu unforgotable moment.





Tidak berakhir di situ saja, usai mencicip-cicip kue, kami jalan-jalan dulu di jembatan Ancol. Ada tiang-tiang lampu yang remang-remang, tapi bagus juga untuk dijadikan objek foto. But, there, I got any surprise from Junisatya. Aku dapat jam tangan retro dengan gambar Menara Eiffel di dalamnya. Asyik. Wah malam itu aku kebanjiran hiburan.. Alhamdulillah. Senangnya menghabiskan waktu bersama mereka ini.



Terima kasih semuanya. Terima kasih untuk kado, segala doa, dan ucapannya.

1 komentar:

Ancala Lahir di Oktober


Dari dulu aku yakin, bulan Oktober itu selalu istimewa (buatku). Dan aku pun terbiasa setiap tahun menantikan setiap kejutan yang ada di bulan itu. Selain karena memang aku dilahirkan bulan Oktober, entah memang takdirku atau memang pikiran positif benar-benar menyusup di benak ini kala bulan itu tiba, selalu ada saja keceriaan yang tersisip.

Bulan Oktober adalah bulan bahasa. Begitu yang diyakini bangsa ini. Pas banget dengan hobi menulisku, peka dengan kata dan senang berbahasa. Tuhan sudah menyuratkan itu sepertinya. (Hehehe...) Tak sia-sia aku dilahirkan di bulan bahasa. Karena.... selalu ada kabar gembira tentang nuansa buku dalam hidupku.

Yawn, Oktober selalu mengiringi kegembiraan-kegembiraan yang kuraih.
Kisah Oktober istimewa itu bermula kala cerpenku “Jemari Laurin” masuk ke dalam antologi cerpen dan dipilih sebagai judul cover Jemari Laurin pada Oktober 2007. Lalu pada Oktober yang lain, tahun 2011 bahkan bertepatan pada tanggal kelahiranku, novel kolaborasi Sarekat Penulis Kuping Hitam, Lenka, pun launching. Siapa yang bisa mengingkari kenikmatan bulan Oktober? Hampir menyamai kenikmatan bulan Ramadhan. Subhanallah.

Lalu....

Tahun ini... 2013. Oktober membawa kabar baik lagi. Kumcer Penunggu Puncak Ancala terbitan Bukune dengan tagline "Kisah Horror Pada Pendaki" beredar di semua toko buku. Ini proyek berlima sesama pencinta traveling dan hiking. Kami dapat kesempatan bertemu dan menuliskan masing-masing 2 kisah pengalaman mistis atau horror yang dialami dalam perjalanan masing-masing. Ibarat ketemu jodoh, kami berlima (yang baru kenal) tetiba disuruh langsung nulis. Hasil obrolan, candaan, sharing, serta mimpi menulis buku, chemistry kami pun tidak kalah keren dibanding chemistry bintang sinetron. Dari cuap-cuap kami berlima pun, lahirlah Penunggu Puncak Ancala tepat awal Oktober ini.






Ini buku ketigaku, tapi rasanya kegembiraan yang hadir di dalamnya meluap-luap. Kenapa? Karena aku terlibat langsung,  tidak hanya proses kreatif, tapi juga interaksi dengan editor, ilustrator, desainer grafis. Kami juga diberi kesempatan untuk menentukan cover dan pemantapan judul. Prosesnya pun tidak sebentar. Kami harus mempertimbangkan keadaan pasar juga (baca: pembaca).

Sekarang lagi tren bacaan horror. Dan buku-buku horror pun mendapat 1 tempat khusus di beberapa toko buku. Kami pun disiapkan menjadi bagian dari itu, tetapi diharapkan mampu mencuat di tengah tren horror yang sedang melanda. Mulanya kupikir, karya ini terlalu mainstream. Tapi, setelah buku ini terbit, kenapa harus risau dengan kata "mainstream"? Kalau mainstream tapi mampu menonjol dibanding yang lain, ini baru keren. Dan kami berlima yakin, karya kami tidak akan begitu saja ditinggalkan. Sejauh ini, hasilnya tidak mengecewakan. Kami masih menunggu komen dari para pembaca. Kapan lagi, kan, pendaki menulis kisah yang tak biasa?! Inilah kami, penulis Ancala.

Aku pun berpikir, ini benar-benar seperti melahirkan bayi. Writing and releasing your own book is like bearing a baby who renews your generation, your life, your mind.

Rasanya kelahiran buku ini membuatku ingin terus eksis. Eksistensi itu penting karena itu yang membuat kita hadir.

Semoga setelah ini proyek berikutnya mengalir deras. Dan bagiku semua berawal dari Oktober. Semoga ada gembira, cerita, dan cinta lagi di Oktober berikutnya.

5 komentar:

Trip to Pari Island (IV): Sunrise yang Indah Menutup Hari yang Cerah


Jadwal pagi hari adalah menunggu sunrise. Pantai Pasir Perawan kebetulan menghadap ke timur, jadi kami bisa menikmati matahari terbit di sana. Pagi di Pari terasa adem, tidak terlalu dingin dan tidak terlalu gerah.

Mulanya hopeless karena langit sedikit mendung. Melihat pantai sudah tampak terang, kami mengira matahari pasti sudah tinggi, cuma tertutup di balik awan. Kami akhinya duduk bengong di pasir melihat orang yang mandi-mandi di pantai itu. Tapi tak lama, ada secercah cahaya oranye muncul. Yap, itu dia matahari terbitnya. Fenomena sunrise itu memang indah, ya. Sebuah permulaan hari yang harusnya bisa kita nikmati setiap hari. Tapi karena kebanyakan kita memilih tidur setelah subuh atau terlalu sibuk menyiapkan diri untuk beraktivitas, fenomena sunrise yang indah itu jadi terlewatkan.

Puas bermain sepagian di pantai, aku kembali ke homestay untuk bebersih dan sarapan. Sebagian masih ingin naik perahu di Pasir Perawan. Tapi aku memilih pulang biar tidak mengantre lama untuk mandi. Lagipula perut sudah krucuk-krucuk lapar. Sarapan nasi goreng sudah tersedia di homestay. Langsung santap saja tanpa menunggu yang lain.

Ada sedikit settingan kericuhan ketika kami sedang berbenah (biar suasana liburan tidak datar-datar aja). Laptop Ipin tidak berada di tempatnya. Kiki si polos bin ajaib yang bertanggung jawab mengunci pintu homestay. Saat semua menyidangnya, aku dan Junisatya menyelinap keluar, bersepeda keliling kampung. Seru juga bersepeda pagi-pagi begitu, badan bugar, hati senang, otak pun segar.





Persidangan Kiki (yang cuma settingan) masih berlangsung alot di homestay. Akhirnya sebagai jalan keluar, Kiki berniat mentraktir kami untuk trip berikutnya ke Karimun Jawa bulan November. Itu dia tujuannya. Kiki dapat belajar berteman, tidak ceroboh, dan mau berbagi dengan orang lain.

Kapal berangkat pukul 12.00. Kami masih sempat berfoto siang hari di dermaga. Saat di kapal, kami salah memilih posisi. Kami buka lapak di dek atas agar bisa menikmati pemandangan laut. Tapi sesiang itu? Kami harus pasrah sauna berjamaah. Dibawa tidur pun tetap saja gerahnya tidak hilang sampai akhirnya kapal merapat di Muara Angke. Yap, badan lelah, lepek, dan lapar. Kami berpisah dan berharap bisa ikut
trip bersama lagi (semoga Karimun Jawa jadi *hope).

0 komentar:

Trip to Pari Island (III) : Barbeque di Kala Ngantuk Melanda

Kami melewatkan pemandangan sunset pada Sabtu senja di Pulau Pari. Keenakan menikmati sore di dermaga membuat kami tidak punya daya untuk berpindah tempat ke arah barat. Alhasil kami kembali ke homestay dan mengantre untuk mandi.

Karena kamar mandi cuma 2, kami harus mampu bersabar. Apalagi melihat ulah Kiki, teman ajaib Ipin yang selalu menjadi bulan-bulanan rombongan kecil ini. Perkara jemuran saja bisa berseteru, khususnya jemuran pakaian dalam yang terpampang jelas dan nyata di halaman.

Kami punya banyak waktu untuk duduk bersama, bercanda bersama, sembari menunggu hidangan makan malam. katanya setelah hidangan ini, masih ada acara barbeque alias bakar ikan di pantai Pasir Perawan. Kami semua sudah kelelahan. Suhu AC ruangan membuat kami tidak mau beranjak dari kasur. Setelah makan, satu per satu kami pun pulas. Keinginan untuk barbeque sudah hilang.

Akan tetapi, Ipin dengan semangatnya membangunkan kami. Ikannya sudah disiapkan oleh orang pulaunya untuk kami. Rasanya tidak sopan kalau dilewatkan. Dengan mata masih agak mengantuk, kami pun berjalan kaki ke Pantai Pasir Perawan. Suasanannya ramai, ada yang dangdutan, games, joget-joget, heboh-hebohan bersama. Asap bakaran ikan tercium. Setiap warung di pantai itu dipenuhi orang-orang yang nangkring sambil menyantap ikan bakar.



Seandainya tenagaku masih full, mungkin aku akan melewatkan malam itu dengan penuh kegembiraan. Santapan kami sudah siap. Ada ikan bakar dan sate cumi. Soal rasa, tidak perlu dipertanyakan. Bumbu kecap sambalnya membuat hidangan terasa mantap dan nikmat. Ikannya juga empuk dan segar. Ada yang kurang, yaitu kembang api. Musik sudah, hidangan sudah, angin sepoi-sepoi sudah. Seandainya ada kembang api, pasti suasana jadi lebih semarak di pantai yang super tenang itu.

Malam itu kami sudah seperti robot yang gampang dikendalikan. Setelah makan (masih sisa 2 ikan lagi), kami berfoto sejenak, lalu langsung pulang ke homestay. Mata sudah tak dapat ditolerir. Perut juga sudah super duper kenyang. Jadinya kami pun pulang dan langsung tidur tanpa banyak basa-basi.

0 komentar:

Trip to Pari Island (II): Biking dan Snorkeling sampai Puas



Welcome! Kini kami berada di Pulau Pari. Masih sedikit teler setelah bergoyang-goyang di dalam kapal selama 2,5 jam, kami bersama seluruh penumpang turun. Kesan pertamaku: panas. Lautnya tenang di sana. Di jalan setapak yang kami lewati, banyak kerikil putih bekas karang. Yap, journey dimulai, aku sudah tidak sabar.

Masih pukul 10 pagi saat kami menginjakkan kaki di Pulau Pari. "Jadi juga liburan," celotehku pada yang lain. Kami disuruh memilih satu sepeda berwarna kuning untuk mempermudah perjalanan menuju homestay. Sebenarnya jaraknya tidak begitu jauh dari dermaga, tapi serunya naik sepeda menjadi bagian dari liburan kami. Eh, tapi, jangan bayangkan sepeda mulus yang enak dikayuh, ya. Namanya juga sepeda umum, sudah beratus-ratus orang yang menggunakannya. Jadi, pasti ada kecacatan pada si sepeda. Ada yang remnya blong, joknya goyang-goyang, pedalnya keras, rantainya kaku, bannya kempes. But, it's not a big problem. Bisa main sepeda saja, aku sudah senang, kok.


Kami pun bersepeda menuju homestay, memasuki kawasan rumah penduduk. Ini seperti kampung buatan. Rumah-rumah kosong disediakan memang untuk para wisatawan. Kami menempati sebuah rumah lengkap dengan ruang tamu, 3 kamar, tivi, dan 2 kamar mandi. Kasur yang empuk juga sudah menunggu. Ada pohon jambu di halaman depan. Suasananya homey banget. Kami memarkir sepeda di halaman depan berjajar dan langsung mengademkan diri di dalam rumah.

Ipin, si tour guide kami sudah menyiapkan welcome drink berupa es buah yang segar. Ini cocok sekali diteguk di tengah hawa panas pulau Pari. Istirahat sejenak, kami berjalan ke Pantai Pasir Perawan menjelang tengah hari. Jangan ditanya panasnya seperti apa. Pokoknya mata menjadi sipit dan jangkauan pandangan jadi menyempit. Kulit seketika gosong.




Pantai Pasir Perawan merupakan pantai yang dipenuhi tanaman bakau. Airnya jernih dan bening. Ombaknya jauh di lepas pantai, sementara di sini sejauh memandang, pantai ini seperti danau, airnya tidak beriak. Pasirnya putih nyaris seputih kapur. Panasnya sungguh menyengat. Kami berteduh di pondok-pondok kecil. Selintas, pemandangannya mirip dengan pemandangan di Ciwidey, karena pantai ini tenangnya luar biasa, seperti berada di kawah gunung. Ya, pesonanya tentu saja berbeda.

Setelah kulit tak sanggup lagi menahan teriknya matahari, kami kembali ke homestay. Makan siang telah menunggu. Tepat pukul 1 siang, kami akan berlayar ke pulau Burung untuk snorkeling. Segala persiapan sudah dilakukan di homestay. Sunblock pastinya, baju renang, serta roti tawar untuk mamikat ikan mendekat. Sepatu katak, pelampung, kacamata snorkeling, serta kamera underwater sudah siap. Kami pun berjalan ke dermaga.

Perahu nelayan siap membawa kami ke tengah lautan, ke perairan bening tempat bersarangnya karang serta ikan cantik.


Perairan di sekitar Kepulauan Seribu masih terbilang dangkal. Selama 1 jam lebih kami berada di perairan, menikmati karang yang berwarna-warni, sambil jepret jepret di bawah air. Matahari tetap ganas dan panas, tapi itu tak melunturkan semangat kami bermain air. Karang-karang yang cantik itu juga membawa cedera lho. Sebagian besar di antara kami mengalami lecet di kaki dan tangan. Di dalam air memang tidak terasa perih karena pengaruh air laut yang asin, tetapi begitu sudah berada di perahu lagi, perihnya lumayan menyengat.



Puas snorkeling, kami mampir ke sebuah pulau kecil untuk beristirahat. Tadinya Ipin masih menawarkan snorkeling di tempat lain, tapi kami rasa cukup untuk siang itu, lebih tepatnya sudah kehabisan tenaga untuk berenang. Pulau kecil itu memang dijadikan tempat mampir setelah snorkeling. Tidak ada rumah penduduk di sana, hanya ada pantai yang tenang dengan ombak-ombak kecil. Lumayan untuk tempat berfoto.

Menjelang sore hari, kami kembali ke dermaga pulau Pari. Meski sudah lelah, kami melirik wahana bermain lain, sofa boat. Sepertinya seru. Selagi masih ada waktu, kenapa tak dicoba. Kapan lagi kan bisa seru-seruan seperti itu! Jadilah kami cewek-cewek berenam melaju di sofa boat. Mirip Banana Boat, bedanya kami tidak dicemplungkan ke laut. Kami ditarik oleh boat dengan kecepatan tinggi, bagaikan naik roller coaster. Kalau tidak pegangan, mungkin aku sudah melambung terbang dan nyemplung ke laut lepas. Kekurangannya, durasi permainan cuma sebentar. So far, semuanya menyenangkan.


Kami menghabiskan sore di dermaga sambil makan mie instan dan es kelapa muda. Segar dan pas untuk melepas lelah.



Catatan yang tercecer

Bicara soal cidera, setelah snorkeling korban berjatuhan. Tak cuma lecet-lecet karena benturan dengan karang, Ageng sempat jackpot. Setalah malam kurang tidur, perjalanan Muara Angke-Pari berjam-jam hingga naik perahu sebelum snorkeling cukup membuat perutnya terkocok-kocok. Saat kapal melaju, Ageng memuntahkan isi perutnya. Setelah itu lega.

Lalu, ada yang collapse. Junisatya. Karena terlalu bersemangat nyemplung untuk snorkeling, Junisatya tersedak. Dadanya kaget karena belum bisa mengatur pernapasan saat berada di dalam air. Dia terbatuk dan batuknya mengeluarkan darah. Ini membuatnya lemas sehingga harus ditarik kembali ke atas perahu. Junisatya menghabiskan bergelas-gelas air putih untuk menetralisir tenggorokannya. Akibat collapse itu, Junisatya tidak bisa menikmati suasana sesorean hingga malam di pulau Pari.


Nunu mabok setelah kembali ke perahu sehabis snorkeling. Seketika dia 'tewas' di perjalanan pulang ke dermaga. Tenaganya habis dan mukanya memucat. Badan besar bukan jaminan menyimpan tenaga cukup besar. Nunu cukup kewalahan dan teler setelah snorkeling.
 

2 komentar: