Cinderella Movie: The Real Fairy Tale is Coming

Ketika sebuah film yang diangkat dari fairy tale lebih menonjolkan kesedihan yang terlalu sedih, kekerasan yang menuntut kita melakukan pembelaan, serta kemewahan dan kecantikan menjadi seorang putri kerajaan, yang membuat iri segenap perempuan di muka bumi, tidak lantas diadaptasi mentah oleh pembuat film Cinderella (2015).

Epic Fairy Tale (sumber)

Film yang disutradarai oleh Kenneth Branagh ini bukan kisah adaptasi yang keluar dari pakem cerita sebuah dongeng Cinderella. Alurnya sama, seorang gadis yang sudah menjadi piatu sejak kecil, lalu ayahnya menikah lagi dengan janda beranak 2. Ayahnya pun meninggal dalam perjalanan dinas. Dan selanjutnya kamu pasti tahu kelanjutan nasib Ella. Lantas apa yang berbeda?

Cinderella di film ini bernama Ella. Di film ini pula akhirnya terjelaskan asal nama Cinderella yang selama ini di Indonesia kerap kita sebut Upik Abu. Yeah, sejak kematian ayahnya, Cinderella tidak mendapat perlakuan yang layak dari ibu dan saudara tirinya. Ella disuruh tidur di loteng yang dingin. Saat musim dingin datang, Ella memilih tidur di depan perapian, sehingga pada pagi hari, wajah Ella kotor penuh debu. Sejak itu ia dipanggil Cinderella oleh saudara tirinya. Mau tidak mau, Ella hanya pasrah dipanggil dengan nama itu. Dan bahkan ia bangga memperkenalkan dirinya kepada pangeran hatinya.

Dari awal kita sudah disuguhi sebuah kalimat yang terus berulang dan menjadi penggerak filosofis kisah Cinderella. Semacam kalimat sihir yang bernada tegas tapi dipegang teguh oleh tokoh Ella.

"Have courage and be kind."

Kita tidak akan disuguhi Ella yang lemah, tetapi kita akan melihat Ella yang punya ketetapan hati. Diam bukan berarti lemah. Berani bukan berarti membangkang. Baik hati dan berani! Dan keajaiban akan muncul dari sihir yang bernama keyakinan.

Love at the first sight
Kalimat "Have courage and be kind" Itu pula yang menjalin chemistry kuat pertemuan Ella (Lily James) dan Kit (Richard Madden). Ya, pangeran charming itu kini bernama. Nama kecil yang diberikan ayahnya jika sedang tidak kesal padanya. Unyu, ya.

Chemistry keduanya tidak terjalin dari pesta di istana. Kit bertemu Ella pertama kali di hutan saat sedang berburu rusa. Lalu Ella dengan berani membela hak hidup si rusa hutan di depan pangeran. Mulanya Kit memang menyembunyikan identitasnya di depan Ella. Just call him Kit. Okay.

Sejak pertemuan di hutan, sang pangeran mengadakan pesta, sebuah Yule Ball yang dihadiri oleh seluruh rakyat. Tak ketinggalan, Ella pun ingin datang karena ingin bertemu dengan Mr. Kit.

Sumber
The Yule Ball. Yeah, sekilas aku teringat Film Harry Potter and the Goblet of Fire yang juga mengistimewakan adegan The Yule Ball. Hermione tampil dress up yang seketika menjadi pusat perhatian. Lalu adegan dansa yang diawali dengan tarian perkenalan, permainan kaki, sentuhan tangan, hingga gerakan berputar dan melambung yang menjadikan pasangan dansa itu dekat secara fisik. Namun, sayang, Yule Ball jadi tidak full karena harus berhadapan dengan durasi.

Nah, lantas tidak begitu dengan film Cinderella. The Yule Ball alias pesta dansa di ruang bundar istana mendapat porsi besar. Lebih kurang 5 menitan, keindahan gaun Ella akan dieksplorasi, keteduhan mata si Pangeran Charming juga akan membuat para gadis di pesta itu ketar-ketir. Dimulai dari Ella menuruni tangga istana dan menjadi pusat perhatian, lalu bergerak ke titik tengah ballroom bertemu Pangeran Kit. Setelah itu, musik dimulai. Dan kita akan disuguhi gerak dansa yang tak biasa. Mulanya Kit hanya menyentuh dengan satu tangan lalu mengayun Cinderella melangkah dan berputar. Lingkaran kerumunan yang tadinya sempit pun akhirnya melebar seiring blocking dansa yang dilakukan mereka berdua. Bahkan kita sempat lupa dengan sepatu kaca saat melihat adegan dansa berdurasi lama dalam sebuah film. Kalau tidak diingatkan kembali makna sepatu kaca dalam pencarian cinta si pangeran, kita hanya akan terpaku dengan kisah dansa keren dari Cinderella dan Pangeran Kit.

The Yule Ball (sumber)

Cinderella Glass Slipper comes life (sumber)

Omong-omong soal sepatu kaca, akan ada kejutan dramatis dari nasib sepatu kaca ini. Ini berbeda dari kisah-kisah di dongengnya. Yang pasti, beberapa kali penampakan sepatu kaca ini akan membuat kita kagum dengan desainnya dan bentuknya yang memang the real Cinderella glass slipper. Menakjubkan. Sayang itu kaca, tidak lentur dan tidak bisa benar-benar ada dalam kehidupan nyata. 

Lebih kurang sudah dapat gambaran lah ya 
tentang film ini. Selanjutnya, silakan dilihat sendiri, visual yang akan tampak berbeda dari film animasinya. 

Menonton Cinderella, kita tidak akan dijauhkan dari nada mendongeng yang dimulai dengan "once upon a time..."

Tapi baru kali ini aku menonton dongeng yang seutuhnya dapat dinikmati anak-anak. Jauh dari cinta yang berlebihan. Jauh dari kesan 'ngarep' yang terlalu muluk. Jauh juga dari kekerasan, jauh dari teriakan, meski kisah ibu tiri kejam dan saudara tiri yang menyebalkan tentu tidak dapat ditinggalkan. Film ini memainkan nada "have courage and be kind" yang menjadi energi bagi anak dan penonton pada umumnya, seperti energi yang ditularkan Ella pada Kit yang membuatnya jatuh cinta.

Ya, Cinderella sendiri didongengkan oleh Fairy Godmather yang mengawasi perjalanan hidup Ella. Layaknya dongeng, kisah ini memang dongeng untuk para penonton, pengantar kepuasan batin bagi penikmat film Disney tentang kisah peri dan putri.

2 comments: