In Journey Land

Kepulauan Togean: Jelajahi Pantai ke Pantai Kadidiri Paradise

Taman Nasional Bawah Laut yang jauh banget dari daratan, ya Kepulauan Togean ini. Di saat orang-orang berlomba ke Kepulauan Raja Ampat, aku malah ikut trip ke Kepulauan Togean di perairan Teluk Tomini, Sulawesi Tengah.

Mendengar kata Togean mulanya tak sefamiliar Belitong, Lombok, Flores, Weh, dan Raja Ampat. Tapi bagi anak-anak penjelajah pulau, Togean tetiba jadi happening saat masuk ke daftar spot keren di dunia versi Majalah Tempo (lupa edisi berapa, pokoknya majalah tahun 2013).

Ke sanalah kami berlabuh. Untuk mencapai kepulauan itu, ada dua jalan. Pertama, nyeberang dari pelabuhan Gorontalo ke Pulau Wakai 12 jam perjalanan. Kedua, nyeberang dari Pelabuhan Ampana, Sulawesi Tengah ke Pulau Wakai yang menghabiskan waktu 4 jam di kapal. Tapi, tentunya kita harus melalui jalur darat dari kota Palu ke Ampana sekitar 10 jam. Pilih mana? Tentukan sendiri! Lihat juga jadwal kapalnya (yang waktu aku ke sana, kapal hanya berlayar ke Wakai 2x seminggu). Dari Wakai pun kita harus menyeberang lagi dengan perahu kecil (speedboat) ke Kepulauan Togean selama 1 jam.

Kami memilih berangkat dari Gorontalo dan pulang ke Ampana menuju Palu. Seperti sunnah Rasul saja, pergi dan pulang melewati jalan yang berbeda biar berasa berkahnya. :D

Yap, setelah menginap di kapal selama 12 jam (tergantung cuaca dan ombak) kami berlabuh juga di Wakai. Kami menyewa speedboat ke Pulau Kadidiri yang menjadi bagian dari Kepulauan Togean yang bisa dihuni. Jangan harap menemukan kehidupan kampung di sana. Di Pulau Kadidiri sudah ada cottage Kadidiri Paradise dan Black Merlin yang menyambut wisatawan. Cuma itu. No cafe, no minimarket, no TV, and no signal. Kita hanya akan jadi bagian dari pohon-pohon yang melambai diterpa angin laut atau jadi bagian dari miliaran biota laut di sana. See, still virgin, right?

Pantai Kadidiri


Kamar yang langsung menghadap ke laut di Pulau Kadidiri
Persediaan air tawar sangat terbatas. Listrik pun hanya mengandalkan genset dan hanya menyala pada malam hingga pagi hari. Berada di pulau ini mengembalikan kita pada kemurnian kehidupan di alam, di pulau, di tengah laut. Tapi dalam perjalanan, bukan kemewahan yang dicari, tapi pengalaman dan ketenangan. Dan inilah Kadidiri. Rupa Togean dari salah satu sudut Teluk Tomini.

Karena kehidupan hanya berasal dari pengunjung dan penghuni cottage, Kadidiri nyaris tak tersentuh. Penghuni cottage pun berasal dari orang Wakai atau orang Suku Bajo yang memang menunggui laut Sulawesi. Bayangkan sejernih apa air yang terlihat di pulau ini. Bahkan dari dermaga saja, kita dapat melihat karang-karang di dasar laut yang dangkal.

Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Kadidiri. Snorkeling oke, diving apalagi, eh bisa trekking pula.

Tengah hari bolong, aku dan teman-teman trip-ku berangkat dengan speedboat untuk snorkeling di perairan Pulau Taipi. Karang-karangnya masih sangat terjaga di pulau ini. Waktu ideal snorkeling itu pagi hati sebenarnya. Tapi karena telat, akhirnya saat panas menghadang, kami pun menceburkan diri ke lautan, sebelum ombak mulai liar pada sore hari. Aku ke sana saat Januari. Ombak masih tergolong tak terkendali. Saat snorkeling siang-siang pun, kami merasakan beratnya mengayuh tubuh agar tak terseret ombak menjauh dari kapal. Aneka karang di sini tak bisa dihitung dan sangat jauh berbeda dari karang yang berada di Laut Jawa. Yakali...

Saat itu aku tidak melihat ada banyak ikan. Mungkin karena efek cuaca dan sudah mulai sore. Ikan-ikan kecil lebih banyak bersembunyi di balik karang. Langit cerah tak menjamin laut pun cerah. Mungkin suatu hari nanti, ada kesempatan bagiku menikmati pesona bawah laut di Togean pada musim yang tepat.



Usai snorkeling, kami istirahat sebentar. Sebenarnya ada banyak spot untuk nyemplung. Tapi waktu tidak memungkinkan. Nah, sebagai pengobat hati, kami bermain-main di pantai Kadidiri sampai bosan. Setelah itu, kami beranjak ke pantai yang treknya lumayan jauh. Di balik bukit di Pulau Kadidiri ada teluk kecil yang bisa dijadikan area menatap senja. Pantai Barakuda. Ini adalah private beach. Untuk sampai di pantai ini, kita harus trekking dulu melintasi hutan yang berjenis hutan tropis. Treknya tidak terlalu berat. Sedikit pendakian dan sedikit bonus jalan datar, lalu disambung penurunan.Uniknya, kami hanya bermodal sandal jepit menembus hutan ini. Outfit kami bisa dibilang gagal total. Aku hanya berbalut kostum renang seadanya. Begitu juga yang lain, celana pendek dan baju kaus tipis yang basah setelah snorkeling. Ditambah pula kami tak membawa bekal.  Lain kali, kalau ada yang mau menempuh perjalanan panjang ke Kepulauan Togean, jangan lupa sedia perlengkapan trekking dan camping sekalian, ya.

Saat tiba di pantai ini, yang pertama kutemui adalah buah kelapa yang berlimpah. Kami langsung menyerbu kelapa-kelapa muda ini untuk dibuka dan disantap. Kapan lagi, kan, bisa menikmati air kelapa tanpa batas di sebuah pantai sunyi, jauh dari kehidupan kota?! Cuma di Pantai Barakuda.


Kalau untuk pantai, terlihat biasa saja memang. Tapi kami menikmati kesunyian Pantai Barakuda. Menikmati bau alam yang natural. Perawan. Pasirnya sungguh lembut. Nilai plus yang tak bisa dilupakan dari pantai kecil ini.







Di sini kiri dan kanan pantai ini adalah bukit karang kecil. Tak tersentuh. Tak ada perahu yang bisa merapat di pantai ini. Jadi, nikmat dunia mana yang bisa kamu ingkari setelah bisa memandang pantai suci tak terjamah seperti ini? Kita bisa melakukan apa pun di sini. Bersenang-senang sepuasnya hingga sore tiba.

Nge-camp di sini pun tak dilarang. Asal ada persiapan. Pastinya seru. Tapi karena kami tak membawa perlengkapan apa-apa, bahkan senter sekali pun, kami harus kembali ke Kadidiri Paradise sebelum matahari benar-benar tenggelam, karena kata orang setempat, saat malam datang, binatang yang tak terduga bisa saja berkeliaran di hutan. Maklum, sebagian besar daratan Pulau Kadidiri, kan, hutan.

Jika kamu sanggup hidup di Kadidiri berhari-hari, kamu seribu persen lulus menjadi anak 1000 pulau.







Photos were taken by Masmasrur, Mas Sandi, Koko Rendy, Kaka Ipin, and Me.

Related Articles

1 komentar: