Papandayan, Beradu Cerita yang Tak Pernah Habis

Menghabiskan weekend di gunung bisa menjadi cerita menarik. Kenapa? Karena kelelahan, kelaparan, kedinginan bisa jadi topik tak pernah habis bersama rekan seperjuangan pendakian. Kekonyolan berpayung di dalam tenda karena bocor, kebodohan menyembunyikan stok snack, dan tidur sempit-sempitan di tenda akan berakhir pada kisah yang selalu dibahas saat kita sampai di peradaban kota kembali. Itulah yang terjadi pada kami, segenap Klub Horor Bukune yang mengadu nasib selama 2 hari di Gunung Papandayan (20-22 Maret 2015).

Menatap lembah di Papandayan
Kami bukan pendaki handal. Kami hanya sekumpulan anak-anak iseng yang hobi jalan lalu membersitkan ide untuk naik gunung. Ini pertama kalinya aku ke Papandayan setelah vakum naik gunung beberapa tahun terakhir. Perjalanan ini tak berarti apa-apa jika editor kami, Ry Azzura tidak mencetuskan rangkaian program Klub Horor Bukune "Takut Itu Nyata" yang mulai dikampanyekan awal tahun 2015. Ya, naik gunung adalah salah satu acaranya. Ini adalah uji nyali. Ets, tapi bukan uji nyali ketakutan, melainkan uji nyali fisik selama pendakian. Apalagi salah satu buku horor yang kami tulis adalah tentang horor pendakian (Penunggu Puncak Ancala), belum afdhol rasanya jika pendakian ini tidak masuk list Klub Horor Bukune.

Setelah woro-woro di social media dan beberapa kali rapat dinas para penulis yang sengaja dikumpulkan editor Bukune, terangkumlah 10 orang yang berangkat naik gunung. Empat penulis, dua editor, dan empat pembaca terpilih. Fix, weekend lalu aku habiskan di gunung bersama mereka. Tos ransel! Rasanya menemukan dunia baru saat berjalan bersama mereka. Kamu tahu, berjalan bersama kaum peminat horor, tema obrolan memang sedikit agak creepy.


Trek kasar penuh batu di Papandayan


Kami berangkat!

Walaupun tagline kami adalah "Takut Itu Nyata", bukan berarti pendakian Papandayan ini adalah perjalanan tur horor. Tidak. Tidak sama sekali. Dalam kegiatan ini, yang jadi hal paling mutlak adalah bagaimana rasa takut itu mengikat kebersamaan kami, apalagi dalam pendakian yang jauh dari kota, toilet, kasur yang serba nyaman.


Perjalanan dimulai dari Terminal Kampung Rambutan pada malam Sabtu (hampir tengah malam). Dan, kala itu, hujan mengguyur Jakarta. Tapi tak sedikit pun kami mengurungkan niat untuk berangkat. Sempat panik dan khawatir, tapi saat kamu berjalan bersama peminat horor, hujan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Percayalah, banyak hal yang lebih horor dari sekadar air yang jatuh dari langit.

Tepat saat subuh, bus yang kami tumpangi merapat di Terminal Guntur Garut. Ngantuk dan pengin mandi rasanya. Tapi apa daya, udara Garut sungguh dingin. Kami lantas hanya bebersih sekadarnya, touch up, semprot wewangian, isi perut, lalu mulai tancap gas naik pick up ke kaki gunung Papandayan. Tanpa jargon khusus, kami siap melakukan pendakian pagi itu.

Berkumpul bersama di Camp David sebelum nanjak

Trek yang terjal dan penuh batu


Kami berjalan beriringan dan mengobrol tentang apa saja yang bisa mengalihkan perhatian dari rasa lelah. Syukurlah cuaca cerah, jadi napas pun tak menyerah menatap ketinggian di hadapan kami.

Kami berjalan tanpa harus diburu-buru, berhenti saat capai, mencamil stok snack saat lapar, serta foto-foto di setiap titik indah yang kami lihat. Semuanya indah dan semua pula ingin mengabadikan. Ternyata Klub Horor Bukune ini sungguh pencinta selfie dan groufie. Jepret sana, jepret sini. Dan, lihatlah tampang kami, ceria-ceria, bukan? Jarang ada yang meringis padahal kaki mulai rontok.

Klub Horor Bukune di Papandayan

Tujuan pertama kami adalah kawah baru Papandayan, sebuah kawah kecil yang muncul akibat letusan pada tahun 2004. Tak banyak pendaki yang mengetahui lokasi kawah ini. Trek kami memang sedikit berbelok ke kiri saat pendaki lain berjalan lurus ke atas. Meski lokasinya terbilang sulit ditempuh--harus menyeberangi sungai, melewati lembah, dan  mendaki bukit penuh batu--kami sampai di danau kawah baru sebelum tengah hari. Itu baru setengah jalan, lho, tapi kok rasanya sudah ngos-ngosan? Untung saja, pemandangan kawah baru itu sungguh menenangkan. Meski terik, angin menyamarkan keringat kami. Beberapa bungkus mi instan habis dilahap bersama sambil menikmati danau belerang di hadapan kami. Suasananya pas untuk melepas lelah sejenak.


Danau kawah baru Papandayan

Ada yang lagi yoga di pinggir danau kawah :D

Menatap kesunyian


Trek mulai berat menjelang Pondok Salada di dua jam berikutnya. Lebih terjal, bersemak, dan licin. Tanjakan tak ada habisnya. Kami melewati area penuh asap dengan bau belerang yang tajam. Kami juga menyeberangi sungai air panas. Lalu, kapan sampainya? Balada kelaparan juga kembali melanda. Camilan kue kering tak mempan. Kami butuh nasi. Dasar orang Indonesia, belum kenyang kalau belum makan nasi. Tapi yang menggembirakan adalah sebentar lagi kami akan berjumpa lokasi camp dan bisa beristirahat. Itu satu-satunya pemicu kami untuk tidak berhenti.

Tanjakan bekas longsor

Tanjakan yang rasanya tak habis-habis


Sebenarnya agenda setelah makan siang yang terlambat di tenda adalah hiking santai ke Tegal Alun--teras gunung dengan padang rumput penuh edelweis. Tapi hujan mengguyur Pondok Salada hingga malam. Rencana hiking gagal total. Kami hanya bisa mendekam di tenda tanpa bisa membuat api unggun. Yang bisa dilakukan hanya saling melempar lelucon, sharing cerita, menertawai kebodohan sambil menyeduh kopi hangat. Karena tak ada tanda-tanda hujan berhenti, begitu gelap datang, kami memutuskan tidur lebih cepat.

Alhasil pagi pun terasa lama menjemput. Setiap tiga jam sekali, editor kami meng-absen. "Sudah pukul berapa?" Dan, memang, waktu berjalan teramat sangat lambat. Aku sempat mengintip bintang yang bertaburan. Tapi kuurungkan niat untuk keluar tenda. Suhu udara yang rendah membuatku memilih lebih baik meringkuk di dalam sleeping bag saja. Tak ada hal lain yang bisa dilakukan selain tidur.

Ritual minggu pagi adalah bermalas-malasan. Eh, tapi, ini kan di gunung. Tentu saja kami harus menyempatkan diri melihat indahnya matahari terbit. Kubuang rasa malas itu. Dengan jari-jari beku, sebagian dari kami berjalan ke titik sunrise di Guberhood. Sisanya, sih, memilih bergelung di dalam tenda. Meski masih tertutup awan mendung, cahaya matahari sayup-sayup muncul. Panorama lembah di bawah kami jadi pemandangan yang cantik. Embun membasahi setiap daun di sela-sela kaki kami berdiri. Setelah hujan semalam, baru ini kehangatan yang kami peroleh. Tenang, tentram, dan syahdu pagi itu. Inilah yang membuatku rindu pada Papandayan. Dan, ini pula keramahan yang ditawarkan pegunungan pada kita.

Kalau kata Ry Azzura, "Pemandangan dari atas adalah obat lelah paling ampuh."
Dan, here we are. Kami benar-benar berada di atas. Rasanya, lelah pendakian belum ada apa-apanya dibanding suguhan pemandangan tanpa cela ini. Sinar mataharinya, segar udaranya, tetesan embun di dedaunan, mengendap dan akhirnya tercerita di sini.


Matahari muncul dibalik dedaunan

Langit biru berpadu ungu

Berjemur


Panorama pagi



Belum lagi taman edelweis yang kami lewati saat perjalanan turun. Tanaman ini tumbuh berkelompok-kelompok. Ini adalah satu-satunya pemandangan yang tak akan pernah kita lihat di dataran rendah. Katanya bunga ini adalah lambang keabadian, tapi buatku bunga ini lambang perjuangan. Untuk melihat keindahannya butuh keringat dan perjuangan.

Sayang, kini taman itu sudah tidak lagi rimbun. Bunga abadi di Papandayan kini mulai terkikis. Seharusnya kita sadar, bunga ini cukup dinikmati keindahannya. Dia hanya akan indah di atas gunung. Tidak untuk dibawa turun lalu ditaruh dalam pot di depan rumah. Tidak. Itu bukan tempatnya. Be smart, hiker.

Taman Edelweis

Edelweis yang mulai terkikis
Selanjutnya kita juga akan menemui hutan mati alias deadforest atau aku menyebutnya darkforest karena penuh kabut. Hutan ini telah menjadi landmark Papandayan. Belum afdhol kalau belum melewati Hutan Mati itu. Berada di hutan mati serasa berada di film-film epik peraih Oscar. Kabut diselingi pohon-pohon tak berdaun dan retakan-retakan tanah yang berwarna kuning. Ada danau lumpur belerang di tengah-tengahnya. Andai tidak hujan, mungkin kami akan mengeksplor hutan mati itu lebih lama. Berkabut dan suram. Cocok sekali sebagai lokasi pembuatan video horor. Ups. Suasananya creepy, senyapnya beda, apalagi ditambah selingan serigala mengaum dari kejauhan. *Hanya saran*

Hutan mati adalah spot terakhir kami dalam agenda susur Gunung Papandayan. PR berikutnya adalah turun gunung bersama hujan. Jangan dikira turun gunung itu gampang. Treknya lebih curam dengan lembah kawah yang siap menampung kita kalau sedikit saja tergelincir. Uji nyali juga, nih. Pelan tapi pasti, kami melangkah beriringan. Kelenturan dengkul dan kekuatan pergelangan kaki menanggung bebas tubuh dan carrier akan lebih teruji saat kita turun, bukan saat naik. Tak ada kata istirahat karena hujan lumayan deras. Kalau berhenti, aku khawatir tubuh ini beku karena kedingingan kena angin gunung.

Hutan Mati Papandayan
Danau lumpur hutan mati

Menembus kabut
Lereng Papadayan

***
 
Pendakian Klub Horor Bukune sukses mendulang perhatian para pendaki lain. Spanduk kami yang suram dengan sayup-sayup bayangan hitam membuat orang-orang penasaran. Ini klub macam apa? Ini perkumpulan apa? Padahal kami cuma sekumpulan penulis dan pembaca terpilih yang didampingi oleh sang editor Bukune. Untuk apa kami melakukan perjalanan sejauh ini? Ya, untuk berkumpul seru. Jarang sekali, kan, ada ajang temu penulis dan pembaca dalam satu minat?!

Sebuah perjalanan akan menambah kedekatan emosi si pejalan. Sebuah pendakian akan menambah kedekatan kita pada emosi yang menstimulus hadirnya cerita. Tanpa cerita, kami tak berarti apa-apa. Tanpa cerita, orang tak akan tahu keseruan mengikuti outdoor activity Klub Horor Bukune. Siapa yang menyangka ini semua jadi nyata? Semacam Takut Itu Nyata. Ya, nyata. Lalu kebersamaan adalah obatnya. Ini baru satu bagian dari cerita kami, Klub Horor Bukune.

Salam,
Takut Itu Nyata.

Salam dari Papandayan
Bersama kami dalam pendakian >> Indra Maulana, Ry Azzura, Dea Sihotang, Retty Tania, Irsyad Zulfahmi, Arie Je, Badru Alwahdi, Junisatya, Novia

7 comments:

  1. muka ngantuk gue, keren yah.. bhahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dari kita berangkat sampai pulang, muka ngantuk lo gak berubah du :D hahahaha

      Delete
    2. Muka ngantuk dan muka giting memang beda tipis, sih, du.

      Delete
  2. Foto menatap sunset itu keren. Tapi mengapa oh mengapaaa gue lagi pegang idung!! =))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin lo mencium bau tidak enak efek anak-anak cowok itu belum mandi. hahahah :D

      Delete
  3. Suka foto panorama pagi :)
    Salam kenal ya kak hanum

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Dini Mukti. salam kenal juga. Terima kasih sudah mampir :)

      Delete