Togean Trip : Yang Tak Sempat Mampir ke Kampung Bajo

Saat traveling ke kepulauan, kita akan menjelma jadi anak pulau. Nggak cuma gaya hidup, tapi juga harus bisa bersahabat dengan waktu dan cuaca.



Pertawa, soal waktu.
Saat kita ke pulau terpencil, kita nggak bisa seenaknya mengatur kapan harus berangkat. Kita harus konfirmasi sana-sini. Salah satunya soal rute dan jadwal kapal. Setelah memperhitungkan lama perjalanan dan jadwal kapal, baru kita bisa memutuskan kapan harus mengambil tiket pesawat ke tempat terdekat dari pelabuhan yang dituju.

Seperti saat di Kepulauan Togean, kapal yang berangkat dari Gorontalo ke Pelabuhan Wakai cuma ada 2 kali seminggu. Begitu juga kapal balik dari Wakai ke Ampana. Jadi, setelah memperhitungkan waktu, kami akhirnya tak dapat menikmati waktu sebebas biasanya. Aku cuma menghabiskan waktu di pulau itu 2 hari karena harus memutuskan balik sebelum ketinggalan kapal.

Belum puas rasanya berada di Togean. Kami belum menjelajahi beberapa tempat.

Kedua, soal cuaca.
Untuk orang pulau, cuaca sangat penting. Dan, mereka hebat dalam memprediksi keadaan langit, angin, dan riak ombak. Adalah waktu yang salah jika kamu ke perairan Sulawesi pada bulan Januari. Dan, itulah yang kami lakukan. Cuaca, sih, cerah-cerah saja. Tapi angin dan ombak tidak begitu baik. Seperti yang sudah kuceritakan di tulisan Trip Togean sebelumnya, ombak yang besar membuat kamu tak bisa berlama-lama snorkeling. Cuaca harus benar-benar diperhatikan.

List tempat-tempat yang tertinggal, tak sempat disentuh. Hanya bisa dilihat dari kejauhan.
- Kampung Bajo



FYI, orang suku Bajo telah hidup di perairan Melayu berpuluh bahkan beratus tahun. Mereka dikenal sebagai penghuni laut dan mengawasi laut kita. Pasti kamu tidak menyangka melihat orang-orang suku Bajo ini masih tinggal di perahu. Ya, perahu. Usaha pemerintah untuk memindahkan mereka di darat, tak mempan meski sudah didirikan bedeng-bedeng dan rumah tinggal untuk mereka. Tetap saja mereka lebih nyaman tinggal di perahu kayu dan mengambang di permukaan laut. Konon, mereka tak akan mau pindah tinggal di darat sebelum menemukan Sang Putri yang hilang. Entah, itu hanya mitos, tapi mereka percaya itu.

Kami sempat melihat pulau yang dikeliling orang-orang suku Bajo. Mestinya kami mampir, tapi saat itu kami harus mengejar waktu kembali ke Pelabuhan Wakai sebelum ombak terlalu tinggi.

- Pulau Una-una
Di pulau ini ada gunung yang masih aktif. Gunung Colo. Berkat letusan gunung ini beberapa puluh tahun silam menjadikan pulau ini subur. Meski sampai sekarang masih aktif, gunung di tengah laut ini tidak begitu saja ditinggali. Suku Bugis dan Gorontalo masih setia menghidupi pulau ini dan bahkan kini jadi objek pertanian. Sekaligus objek wisata juga. Spesies hewan laut di perairan sekitar Pulau Una Una bahkan lebih beranekan ragam, katanya.

Kami hanya sempat melihatnya dari kejauhan. Jauh sekali. Tak akan sempat rasanya ke sana, mengingat cuaca di laut sedang tidak bersahabat. Angin begitu kencang sehingga nelayan bahkan dilarang berlayar.

Nah, kami? Ya, kami nekat. Tapi bukan ke Pulau Una-una, melainkan nekat berlayar ke Wakai untuk balik. Kalau tidak dipaksakan, mungkin kami akan terjebak di Pulau Kadidiri atau bahkan Pantai Marina dengan para ubur-ubur. Nggak bisa pulang karena cuaca semakin cepat memburuk.



- Pulau Pangempa dan Pulau Malenge
Di daftar destinasi kami, Pulau Pangempa dan Malenge menjadi pulau tujuan kami selama di Togean. Pulau Pangempa jadi pulau terbesar di Togean. Jika Kadidiri kondisinya lebih privat, di Pulau Pangempa sudah ada kampung.
Sementara di Pulau Malenge, karena pantainya lebih banyak karang, dibangunlah jembatan dari papan sepanjang 1 km agar lalu lintas nelayan tak terhalang karang. Jembatan ini menajdi penghubung orang pulau dengan lautan. Kebayang, kan, bagaimana keseruan hidup mereka di pulau yang jauh dari jangkauan teritori rezim pemerintahan.

Tapi apa daya. Orang kapal sudah memerintahkan kami pulang jika tak mau terkurung badai laut. Oke-oke, kami memang cuma sampai Danau Ubur-ubur. 2 pulau ini mungkin lain waktu.

- Pulau Batudaka, Talatakoh, Waleakodi, dan Pulau Waleabahi
Itu adalah sederetan pulau yang sama sekali tidak sempat kami lihat bahkan. Ternyata Kepulauan Togean itu sangat besar. Butuh seminggu untuk mengeksplor semua pulau-pulau keren dan titik-titik snorkeling untuk melihat keindahan alam bawah laut Sulawesi.



Lihat, kan, nggak semua bisa kita jangkau dengan mudah. Kita harus patuh pada orang kapal karena mereka yang lebih tahu laut dibanding kita. Saat itu kami benar-benar diburu waktu sebelum angin semakin kencang. Pada hari kedua di sana, setelah mengunjungi ubur-ubur, si orang kapal cerita bahwa seharusnya hari itu tidak boleh ada yang berlayar. Semua sudah membaca cuaca. Hanya kami yang tidak bisa. Sementara, untuk mencapai Pelabuhan Wakai, kami harus berlayar sekitar 1 jam. Mau nggak mau terobos karena kapal cuma ada hari itu, hari Minggu pukul 4 sore. Kalau tidak, berarti kami baru bisa balik hari Jumat sesuai jadwal kapal berikutnya.

Pengalaman ini baru bagiku. Ketar-ketir pasti. Ingin lebih lama tinggal? Tentu saja. Namun, kita harus sesuaikan dengan lokasi. Dan, benar saja. Saat berlayar selama 1 jam, speedboat kami sama sekali tak stabil. Ombak beberapa kali menyiram kami hingga perahu banjir. Angin makin tak karuan. Semua awak basah kuyup. Perahu sempat terjungkal beberapa kali bahkan hingga mencapai 90 derajat. Untung tak terbalik. Entah beberapa kali aku menelan asinnya air laut. Berada di perahu kecil yang berlayar sangat cepat, aku serasa berada di film Life of Pi. Terombang-ambing tak menentu di tengah lautan. Hanya kami sendiri, tak ada perahu lain yang terlihat di sekitar. Ya iyalah, sudah dilarang, tapi tetap maksa. Kami tak bermaksud menantang alam, kami hanya harus mencapai daratan Sulawesi saat malam menjelang. Itu saja.

Traveling itu bebas, tapi bukan berarti kita bisa seenaknya menginjak tanah orang tanpa melihat kondisi waktu dan cuaca.

1 comment: