In Journey Land

Takabonerate Trip : Another Beautiful Twilight in Tinabo Kecil

Ada Tinanja Besar, ada Tinanja Kecil. Ada Tinabo Besar, ada juga Tinabo Kecil. Begitu simple-nya orang-orang pulau di Taka Bonerate memberi nama pulau. Pemberian nama Besar atau Kecil didasarkan pada dua pulau yang berdampingan atau berhadapan. Tinabo Kecil ini juga dikategorikan Bungin karena pulau ini muncul akibat air laut surut. Pasir-pasir yang mewujud menjadi pulau ini pun direspons dengan tumbuhan liar yang akhirnya menumbuhi lahan Tinabo Kecil. Seperti pulau semak, mirip dengan Tinanja.

Konon Tinabo Kecil ini menjadi pelindung Pulau Tinabo besar dari ombak. Itulah sebabnya pantai di Tinabo besar sangat tenang.

Pulau Tinabo Kecil ini jadi lokasi terakhir yang aku kunjungi selama di Kepulauan Taka Bonerate. Setelah menjenguk terumbu karang yang beragam dan masih sangat terjaga, lalu mengunjungi kampung Bajo dan Bugis, serta pulau-pulau kecil, persinggahanku di Tinabo Kecil menjadi penutup indah perjalanan ini.

Pulau Tinabo Kecil bukan pulau yang terawat. Semak belukar tumbuh di mana-mana. Tapi itu tidak membuat kami jengah dengan pulau ini. Kami tetap saja mampir. Setelah menjenguk para kima (kerang raksasa yang langka) yang berada di perairan Tinabo, akhirnya kami mampir juga di Tinabo Kecil ini untuk menikmati sunset.


Kami tiba di Tinabo Kecil sekitar pukul 5 waktu setempat. Karena dari siang aku belum sholat, kami pun mengondisikan diri untuk sholat jama' Zuhur dan Ashar. Sumber mata air satu-satunya ya air laut. Tapi aku lebih memilih tayamum, karena takut air laut tidak mensucikan. Kami sholat bergantian di atas pasir putih dan menghadap ke arah kiblat. Kami tinggal lihat matahari saja untuk menentukan kiblat saat itu. Begitu mudah. Dan, kamu tahu apa yang aku rasa? Baru ini aku merasakan sholat di alam terbuka dengan kondisi ala kadarnya. Sensasinya sungguh syahdu. Sholat saat matahari sudah condong ke barat, disinari matahari sore, diterpa angin laut sore hari, dan bersujud di hamparan pasir lembut yang hanya beralaskan kain sarung, sungguh terasa sekali nikmat alam. Lantunan bacaan sholat yang mengalir lewat bisikan direspons oleh desir ombak beradu semilir angin. Seakan alam ikut mengamini doa-doa kita. Aku merasa sangat kecil di tengah alam terbuka seperti itu.


Usai sholat, kami memanjakan diri dengan menikmati sunset di pulau ini. Sisi pantai yang mengarah ke barat tampak ombak mulai ribut menanti malam. Saat itu adalah sunset terakhir yang dapat kami nikmati selama di kepulauan ini. Lelah seharian mengeksplor pulau demi pulau dan laut demi laut, tak banyak aktivitas yang kami lakukan di sini. Kami hanya duduk sambil membiarkan angan kami tersapu ombak. Yang kurasakan saat itu adalah rasa betah diiringi lambaian perpisahan dari air laut yang sudah membias jingga ini.

Jika ada kayu bakar, mungkin kami sudah membuat api unggun. Tinabo Kecil ini begitu ramah pada kami. Meski sisi pantai yang bisa dijajaki hanya sisi ujung sebelah kanan pulau yang menghadap ke barat, kami tetap merasahkan betah. Gundukan pasir yang kering masih terasa hangat meski matahari telah terbenam. Cocok sekali untuk barbeque di daerah sini, karena lokasinya juga tidak jauh dari pulau penginapan kami. Ah sayang sekali kami tak membawa perlengkapan. Kalau ada yang berkesempatan ke sana, bisa banget niat berapi unggun dan bakar-bakar santai malam hari diadakan di sini. Serasa terdampar di pulau kecil tapi masih bisa bersuka ria.





Related Articles

0 komentar:

Post a Comment