In Journey Land

Lost in Belitong


Mungkin banyak yang sudah mengenal Belitung (baca: Belitong) lebih dulu dariku. Mungkin juga ini blogpost kesekian yang kamu baca tentang Belitong. Tapi, setiap perjalanan punya ceritanya sendiri-sendiri. Dan, setiap orang punya rasa sentuh yang berbeda terhadap lokasi yang ia tuju. Inilah aku dalam pelukan Belitong beberapa hari.

Hari itu mendung. Ini adalah perjalananku berdua saja dengan Junisatya. Kami tiba di Bandara H.A.S. Hanandjoeddin Airport dan langsung melaju melewati jalanan yang kosong menuju penginapan. Segudang rencana sudah tersusun rapi. Kami siap mengarungi negeri Laskar Pelangi itu. Ada mobil sewaan yang menjemput kami di bandara. Sang sopir sempat bercerita bahwa jalan raya di Belitung dari bandara ke kota hanya punya 1 lampu merah. Ditotal, di kota hanya ada 5 lampu merah. Wah-wah, kota ini tidak takut keramaian apalagi kemacetan.

Belitung sudah terbiasa menerima tamu seperti kami. Jalan beraspal licin menjadi semacam red carpet penyambutan. Perjalanan kami mulus hingga penginapan, tanpa ada lubang atau kerikil. Memang seperti inilah jalanan di pulau Belitung. Semua sudah direnovasi sehingga mau memutar pulau ini berapa kali pun, kita tidak perlu takut dengan jalanan rusak.

Saat kami tiba, sedang ada acara Selamat Laot di pantai-pantai Pulau Belitong. Kapal nelayan dilarang berlayar. Liburan kami yang cuma akhir pekan harus disesuaikan dengan adat dan kebiasaan orang setempat.

Selamat Laot adalah salah satu perhelatan adat di Belitong. Tujuannya tentu untuk membersihkan laut dari pencemaran. Semacam doa dan sesajian dihaturkan untuk laut kita. Jadi, selama 1 hari itu, warga puasa ke laut. Begitu juga dengan wisatawan. Eksplor laut Belitong dapat digeser ke hari berikutnya. Tak masalah. Selama itu untuk kesehatan laut kita, aku mendukung acara adat Selamat Laot  ini. Apalagi acara ini cuma diadakan dua kali setahun.

Landmark Belitong : Monumen Batu Satam

Oke, yang harus dilakukan selanjutnya adalah bagaimana wara-wiri di sekitaran Belitung? Kami sudah mempersiapkan segalanya, by ourselves. Kami tidak menggunakan jasa tour travel mana pun untuk mengatur perjalanan kami. Tema trip saat itu adalah Lost in Belitung.

Jadi, setelah naik taksi bandara yang merupakan mobil avanza cateran, bukan taksi beneran, kami menyewa sebuah motor. Kendaraan ini sangat efektif untuk perjalanan dua orang yang memang ingin mengeksplor setiap sudut Belitung. Mobil mungkin lebih nyaman, tapi motor mampu mempersingkat segalanya dan memperketat tema Lost in Belitung.

Agen penyewaan motor yang baik hati mengantarkan motornya langsung ke hotel. Tanpa ba-bi-bu, berbekal peta digital, aku dan Junisatya memulai perjalanan, menghabiskan sisa sore di hari pertama kami di Belitung.

Pantai Tanjung Pendam adalah tempat yang paling relevan ditempuh sore itu. Jaraknya tidak begitu jauh dari pusat kota Belitong. Hitung-hitung test drive mengendarai motor sewaan dan menjajaki suasana jalanan di sana. Jalan yang cenderung tidak lebar, tidak ramai, mengantarkan kami ke gerbang Pantai Tanjung Pendam.

Pantai ini adalah pantai kota alias tempat rekreasi hampir semua orang Belitong. Bagiku, pantai ini biasa saja. Dengan running track serta pondok-pondok istirahat di sepanjang jalur pantai, Tanjung Pendam masih terlalu biasa. Namun, sunset view terlihat kece. Nggak sia-sia aku dan Junisatya menghabiskan sore kami di sini.





Lalu listrik di sekitar pantai mendadak padam. Bensin motor pun habis. Tanpa harus panik, kami melanjutkan perjalanan tanpa tujuan mencari pom bensin. Aku sadar seketika, pom bensin di sini sungguh langka, hanya ada di pusat kota. Mau tidak mau kami mencari warung penjual bensin eceran di saat langit mulai sangat gelap. Jalanan sepi sekali. Tidak ada yang keluar saat petang seperti itu. Mungkin begitulah adatnya. Beberapa warung sudah tutup. Setelah berputar-putar di beberapa tempat, akhirnya kami menemukan warung kecil yang masih buka. Setidaknya masih ada yang berjaga di luar dengan lampu minyak di atas meja warung yang kosong. Setelah membeli bensin, kami langsung kembali ke pusat kota yang mestinya tidak terlalu jauh. Aku agak kesulitan menemukan jalan kembali ke hotel karena ketiadaan lampu jalan di sekitar pantai Tanjung Pendam.

Setelah nyasar beberapa kali, akhirnya kami bisa juga sampai di pusat kota yang ditandai oleh tugu batu satam. Setidaknya kami lega karena kota sudah terang-benderang. Mungkin sebaiknya kami mencari makan malam saja di sekitar pusat kota. Jangan sekali-kali minggir dari pusat kota saat larut karena lampu jalan tidak ada dan jalanan relatif sangat sepi.

Sepeda onthel dipajang di dinding. Wow.
Kami mampir di salah satu restoran yang jadi andalan masyarakat Belitung, Ruma Makan Timpo Duluk. Tempat makan ini jadi jawara kuliner di Belitung karena direkomendasi langsung oleh Ahok. Rumah makan ini didekorasi unik dengan pernak-pernik zaman dulu. Rumah makan ini lebih menyerupai museum kampung tempo dulu dibanding tempat makan. Bentuknya memang dibangun seperti rumah-rumah di Belitung, dengan dinding kayu dan bilik-bilik kecil yang telah disulap menjadi ruang makan. Rumah makan ini tidak begitu besar, hanya berupa ruang depan, ruang kmar, dan ruang belakang. Ornamen-ornamen petani dipajang di dinding untuk mempercantik dekorasi. Konon, rumah makan ini sudah berdiri tahun 1945-1950. Jadi ornamen-ornamen klasik seperti sepeda onthel dan alat musik tradisional ini pernah berfungsi dulu sekali.

Rupanya kami harus bersabar menunggu karena Ruma Makan Timpo Duluk sedang penuh. Kesalahan kami adalah kami tidak reservasi jauh sebelum sampai di Belitung ini, karena itu yang dilakukan rata-rata pendatang agar bisa dapat tempat di rumah makan ini.


Ornamen-ornamen klasik khas Indonesia yang dapat ditandatangani oleh pengunjung orang penting atau public figure. Kami tidak dapat space lagi.

Ini dia pesanan kami.
Ada beberapa menu juara di Ruma Makan Timpo Duluk, yaitu gangan ikan. Namun, kami memutuskan untuk memesan yang lain karena ada resto lain yang menyediakan gangan sebagai sajian andalan. Kami memilih pindang ikan khas Belitong dan beberapa lauk-lauk kering sebagai tambahan lauk. Nasi disajikan dalam bungkusan daun simpor sehingga aromanya lebih wangi dan rasanya lebih sedap. Piring, mangkuk, dan gelas terbuat dari besi seperti makan di rumah nenek. Oiya, kami berdua makan di sini tidak lebih dari Rp50.000 lho. Murah, kan?! Siapa bilang ngetrip itu harus mahal?

Related Articles

2 komentar:

  1. ihhh ngga mau baca tulisan ini.. ngga ngajak ngajak :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. harusnya sih gue ngajak elo ya, buat jadi tukang foto gue dan juned, pascawedding :D

      Delete