In Movie Land

Doctor Strange, Permainan Sihir dalam Dunia Superhero

Saat promo Doctor Strange mulai merebak, aku bertanya pada Junisatya.
Aku : Juni, Doctor Strange itu superhero ya?
Juni : Keluaran Marvel, bukan?
Aku : (mengangguk)
Juni : Iya.
Aku : Emang semua film Marvel tentang superhero?
Ini pertanyaan konyol, sih, karena semua pencinta film juga tau kiprah Marvel di Hollywood .
Juni : Iyalah.
Aku : Ooh.

Kenapa aku bertanya seperti ini? Karena memang dari teaser film ini beberapa bulan lalu, Dr. Strange cukup menarik perhatian. Biasanya aku tak terlalu tertarik dengan superhero, ya sekadar nonton saja tampa ketertarikan khusus. Namun, sepertinya ada yang beda dari Doctor Strange. Rasanya ini di luar kisah-kisah Superhero lain yang mengandalkan kekuatan fisik, teknologi, dan sedikit mitos barat. Ya, mungkin aku tak terlalu tau banyak tentang karakter superhero, tapi ayolah, polanya tidak sama dengan Captain America, Deadpool, Ironman, Ant-man, Thor. Doctor Strange mengedepankan pikiran, energi, intuisi, sihir, roh dan dunia multidimensi.

Doctor Strange belajar ilmu sihir. (Gambar diambil dari sini)



Wajar rasanya jika Doctor Strange menjadi begitu ditunggu-tunggu. Tidak seperti Avengers yang selalu menemani kita hampir setiap tahun. Tidak seperti Captain America yang menjadi sorotan. Tidak pula seperti Ironman, si ahli mesin.

And, movie time.

Doctor Strange (Benedict Cumberbatch) hanya seorang dokter ahli bedah otak. Lalu ia mengalami kecelakaan tragis yang membuat saraf motorik tangannya tidak bekerja efektif. Kekuatan superhero tak serta merta didapat akibat kecelakaan itu. Justru, kelumpuhan tangannya yang mendorongnya mencari dan terus mencari kesembuhan. Kelumpuhan jemarinya membuatnya tak bisa jadi dokter bedah lagi. Ketika semua ahli medis terkemuka tak dapat membantunya, Doctor Strange mulai mencari semacam pengobatan alternatif. Ya, sepertinya kita dapat langsung menebak ke mana arah ceritanya. Rupanya sudah menjadi stereotip bahwa urusan pengobatan alternatif tentu berkiblat pada Asia. Ke sanalah Doctor Strange berangkat, Kamar-Taj di Nepal.

Doctor Strange yang arogan tapi cerdas, selalu mengandalkan logika dan ilmu pengetahuan alam di atas segala-galanya. Setelah perjalanan panjang yang membuatnya bangkrut, ia harus berhadapan pada sebuah cara pengobatan dengan keyakinan jiwa bahwa dalam setiap tubuh terdapat roh, yang bisa menyembuhkan sekaligus melukai. Tentu saja itu sangat bertolak belakang dengan ilmu medis yang ia dalami selama bertahun-tahun. Ia direkrut menjadi murid dalam perguruan The Ancient One, di luar leih terlihat klinik pencerahan jiwa bagi yang membutuhkan sehat jasmani dan rohani. Namun, Strange menemukan hal-hal yang lebih dari sekadar klinik penyembuhan alternatif. Ia menemukan dimensi lain yang merangkum kehidupan dan apa saja yang sedang terjadi di dunia berbagai dimensi itu.

Kita berbicara dimensi, energi, dan lintas waktu tentu saja. Rasanya tak bisa dipercaya, ya, bahwa tema superhero ini lekat dengan dunia sihir dan mistis. Dalam Doctor Strange, kita akan bertemu dengan dunia cermin, dimensi tanpa waktu, pintu-ke-mana-saja dengan kekuatan pikiran, dan pemutarbalik ruang tanpa batas grativasi. Ada pula istilah ragawi dan wujud astral. Istilah-istilah ajaib ini rasanya tidak asing jika kita berbicara tentang Lord of The Ring, Hobbit, Harry Potter, The Chronicle of Narnia, The Golden Compass, dan kisah-kisah sejenis lainnya. Akan berbeda jadinya dengan Doctor Strange.

Poster film Doctor Strange. (Gambar diambil dari sini)

Dimensi cermin tanpa medan-gaya. (Gambar diambil dari sini)
Doctor Strange menjadi suatu perebutan satu halaman dari kitab yang berbahaya yang dicuri Kaecillus (Mads Mikkelsen). Dia juga murid di Kamar-Taj tadinya. Rupanya kekuatan sihir telalu memabukkan baginya dan membuatnya kalap. Keinginnannya untuk hidup abadi bersentuhan dengan Dimensi Gelap. Mulanya ini adalah permusuhan antara The Ancient One (Tilda Swinton) dengan murid. Namun, semua berkembang dan Doctor Stange terlalu pintar untuk tidak mengacuhkan perang yang akan datang. Kepintaran dan usaha keras Strange di perguruan menjadikannya semakin kuat. Kelumpuhan tangan seakan hanya perkara sepele. Strange belajar banyak dan seperti Kaecillus, punya keinginan untuk mengetahui tentang dimensi waktu. Tapi kepentingannya tentu berbeda.

Formula cerita masih mudah ditebak, tetapi visual memberikan banyak hal baru. Kita akan dibawa masuk ke dalam aksi-aksi Doctor Strange dengan efek-efek yang menakjubkan. Dunia multidimensi, serta kerlip warna-warni dalam dunia tanpa waktu menjadi visual yang sungguh menarik. Tentu ini berbeda dengan semesta superhero yang selama ini dipertontonkan oleh Marvel. Lupakan tentang logika dan lupakan tentang dimensi dunia yang penuh medan-gaya. Doctor Strange lebih dari itu. Percampuran sihir dan kekuatan superhero menjadi suatu yang klop di sini. Beyond limit.
Hal yang menarik di film ini adalah bagian Doctor Strange yang sudah sepenuhnya kuat dan jadi penyihir masih harus membawa guru perguruannya yang jatuh dari puncak gedung ke rumah sakit. Lalu saat Strange sekarat setelah pertempuran di Kuil New York membuka pintu dimensi tanpa batas ruang dan menujukannya ke rumah sakit untuk selanjutnya diambil tindakan pembedahan. Rupanya mistis masih harus bersentuhan dengan medis.

Sepertinya, jika Doctor Strange bertemu Iron Man, situasinya akan lebih dari sekadar Civil War. Alih-alih harus menyandingkannya dengan Iron Man, Marvel lebih dulu mempertemukannya dengan Thor (terdapat pada post credit scene) yang dasar-dasarnya adalah mitologi.

Lalu apa yang tersisa setelah menonton Superhero baru ini? Imajinasi yang melayang-layang meski kita tidak banyak disuguhi perubahan dan perkembangan karakter di dalam film. Benedict Cumberbatch sudah menawan kita dalam pesonanya. Yeah, namanya superhero, lupakan tentang diri sendiri. Seperti kata The Ancient One, "Terkadang kita harus memikirkan The Greater Good." Seperti ucapan Dumbledore dalam serial Harry Potter. Mungkin ini yang disebut semesta kisah sihir.

Kalau kata Mordo, tangan kanan The Ancient One dan jadi partner Strange, "Forget Everything you think you know."
Artinya, tonton saja filmnya tanpa harus berkomentar macam-macam.


Related Articles

0 komentar:

Post a Comment