In Movie Land

Dari Rote, Road Trip Pulau Jawa, Lalu Kulari ke Pantai

Kulari ke Pantai: frasa yang sangat dekat dengan kita, mudah dilafalkan, dan memang dipahami semua orang. Kulari ke Pantai menjadi satu judul film anak yang digarap oleh tim Mira Lesmana dan Riri Riza di bawah payung Miles Film. Rasanya mendengar atau membaca frasa 'Kulari ke Pantai' membuat kita termotivasi untuk piknik, tersirat keceriaan, dan sarat dengan perjalanan. Karena itu, aku memutuskan nonton film ini pada hari pertama penayangannya di bioskop.

Kulari ke Pantai bercerita tentang Samudera Biru alias Sam (Maisha Kanna), anak dari Ibu Uci yang tinggal di Rote. Saat liburan sekolah tiba, Sam sudah merencanakan perjalanan jalur darat dari Jakarta menuju Banyuwangi hanya bersama ibunya. Ayahnya saja tidak diajak. Rupanya di balik keceriaannya di Rote, Sam berasal dari Jakarta. Pekerjaan ayahnya lah yang membawanya pindah dan menyatu dengan Rote, laut, dan olahraga surfing. Inilah tujuan perjalanan Sam, bertemu dengan tokoh surfing idolanya, Kailani Johnson.

Namun, rencana baik biasanya selalu ada rintangan. Pengacaunya adalah sepupu Sam sendiri, Happy (Lil'li Latisha), yang hidup bertolak belakang dengan Sam. Happy tumbuh di kota besar Jakarta dengan segala gemerlapnya, membuatnya manja dan selalu ingin jadi pusat perhatian. Happy terpaksa ikut road trip Sam dengan ibunya lantaran dihukum karena mengatai Sam 'anak kampung'. Dari sanalah perjalanan punya cerita.

Review film Kulari ke Pantai (1) - source: www.instagram.com/milesfilms

Tingkah Sam dan Happy yang bermusuhan, saling mengisengi, dan saling gengsi bergulir dari daerah ke daerah. Ada beberapa daerah yang mereka singgahi dan di setiap daerah itu, ada saja yang membuat kita tertawa, terenyuh, bahkan geli sendiri. Sam tanpa Happy mungkin akan hambar. Begitu juga sebaliknya. Lalu, ibu Sam (Marsha Timothy) menjadi penengah di antara mereka. Ada juga Kaka Dani (Suku_Dani), teman seperjalanan mereka yang tiba-tiba muncul ketika Sam atau Happy butuh.

Memang benar ya, yang paling penting dalam setiap perjalanan bukanlah destinasinya tapi perjalanan itu sendiri. Tujuan Sam untuk bertemu idola surfernya di pantai G-Land Banyuwangi harus menghadapi banyak rintangan. Padahal dari awal ia sudah menegaskan pada ibunya bahwa Happy tidak boleh mengacaukan rencananya bertemu Kailani. Lalu, apa yang terjadi?

Tonton ajalah sendiri. Aku nggak mau spoiler.

Plot perjalanan Kulari ke Pantai paling banyak memang diambil di mobil yang sedang berjalan dengan view sawah, perbukitan, jalur panjang, dan alun-alun setiap daerah yang disinggahi. Natural view ini menjadi hal yang sangat memanjakan mata. Apalagi temanya perjalanan keluarga. Secara keseluruhan, plot sangat mengikat penonton anak-anak dan menawan mereka di sepanjang cerita. Isu-isu tentang Sam yang punya sindrom sugar rush dan tingkah kelebihan energinya mengundang gelak tawa. Belum lagi kekocakan Mukhidi, sang pemilik penginapan di daerah Temanggung yang selalu teriak-teriak di lingkungan penginapannya yang asri dan tenang untuk kontemplasi. Adegan juara menurutku adalah saat Ibu Uci yang marah sepanjang jalan layaknya ibu yang kelelahan menghadapi 2 anak gadisnya, ditambah rasa lelah menyetir sebagai single fighter, dan mungkin pula sedang PMS. Acting Marsha Timothy memang tidak sia-sia menjadi ibu Sam yang asyik tetapi juga tegas. Lalu, ada isu tegas lain, seperti sentilan penggunaan bahasa Inggris yang dilekatkan pada karakter Happy dan dibuat kontradiktif dengan tokoh Kakak Dani, bule kelahiran Papua yang fasih berbahasa Indonesia dialek Papua. Sentilan juga datang saat Sam, ibunya, dan Happy bertemu geng Ordinary di Bromo, yang lebih mementingkan foto wajah daripada pemandangan alam yang indah. Kebayang serunya perjalanan ketika bertemu tingkah orang yang berbeda-beda, bukan?

Review film Kulari ke Pantai (2) - source: www.instagram.com/milesfilms


Kehadiran Happy sangat menyorot perhatian. Perjalanan selalu mengubah seseorang. Karakter Happy mengalami proses itu. Matanya lebih banyak memandang dari biasanya dan kakinya lebih banyak melangkah dari biasanya. Happy pun banyak sekali belajar dari pengalaman road trip itu yang belum pernah keluarganya lakukan. Berbeda dengan Sam yang memang hidup sangat dekat dengan alam menawan kita dengan sosoknya yang benar-benar menyatu dalam perjalanan.

Cerita demi cerita bergulir, menyatukan kita dengan keindahan Pulau Jawa, dari suasana pedesaan, gunung, sungai hingga pantai berombak besar. Namun, ada beberapa hal yang mengganjal. Nilai kelokalan kurang terekspose lantaran filmmaker asyik dengan gambar dan warna, padahal setiap singgah di satu daerah, seharusnya kita diberi corak dialek dan nilai budaya yang dapat dieksplor di tempat itu. Lalu, ketika karakter Happy berjalan dalam cerita dan mengalami gejolak dan perubahan, karakter Sam kadang jadi bayang-bayangnya. Namun, beberapa kali juga menguat ketika Sam memainkan peran sebagai surfer, bocah pulau polos, dan semangatnya ketika bertemu orang baru. Tujuan destinasi Sam, Happy, dan ibunya adalah bertemu Kailani. Bertemu atau tidak di bagian akhir (aku nggak mau spoiler di sini), seharusnya cerita mengantarkan kita untuk mengenal Kailani terlebih dahulu. Siapa dia? Surfer dari manakah dia? Dan sehebat apa dia hingga diidolakan oleh anak pulau seperti Sam? Karena aku bukan surfer, jadi aku tidak mengenal nama Kailani Johnson. Dan, nama Kailani kerap disebut hampir di setiap langkah Sam. Seharusnya ini jadi sebuah pengetahun baru buat orang awam sepertiku dan cerita di film ini tentu akan lebih bermakna lagi. Dengan demikian, Kulari ke Pantai memang mengisi kisah perjalanan, mendekatkan kita dengan keluarga, memberi nilai positif tentang kehidupan alam laut, dan ditambah dengan satu pengetahuan kecil tentang dunia surfing.

Review Film Kulari ke Pantai (3) - source: www.instagram.com/milesfilms


Kalau untuk anak-anak, film ini akan sangat membuai. Aku sudah menanyakan ke beberapa adik yang kubawa menonton bersama film ini. Kalau untukku sendiri, Kulari ke Pantai berlari-lari dari jalan ke jalan, bertemu kenalan, sahabat, saudara, dan mendekatkan semuanya dalam keakraban, tapi sedikit lupa dengan detail serta tujuan destinasinya. Ada bagian antiklimaks di dalam alur yang menurutku dapat dipoles lagi sehingga Marsha Timothy setidaknya dapat mengambil peran bagus di situ. Ada jeda alur yang begitu lambat sehingga membuat jenuh penonton (aku). Akhirnya, alam memanjakan pemainnya saja, ada bagian yang kurang menyentuh penontonnya, seolah ada satu paket yang tak sampai ke alamat.

Ohya, mengenai Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur, aku suka dengan penggambaran kehidupan keluarga Sam di Rote. Begitu sederhana, menyatu dengan alamnya, kaya dengan keindahan lautnya. Rote menjadi pembuka dan penutup yang manis dalam film Kulari ke Pantai. Rote bisa jadi ramai ketika film ini sukses di box office ya, seperti lokasi-lokasi film Mira Lesmana dan Riri Riza sebelum ini. Selain itu, barangkali road trip Cirebon, Temanggung, Pacitan, Blitar, Bromo, dan Banyuwangi juga bakal jadi ide baru untuk liburan keluarga di luar mudik lebaran sambil memutar lagu "Selamat Pagi" dari RAN yang menjadi OST film ini. Lantunan lagu "Selamat Pagi" yang dinyanyikan ulang oleh Maisha Kanna dan Lil'li Latisha bersama RAN terasa lebih ceria, segar, dan cocok untuk anak. Mungkin lagu ini juga yang membuatku semangat ke bioskop untuk nonton Kulari ke Pantai.


Review Film Kulari ke Pantai (4) - source: www.instagram.com/milesfilms


Related Articles

0 komentar:

Post a Comment