Trip to Pari Island (II): Biking dan Snorkeling sampai Puas



Welcome! Kini kami berada di Pulau Pari. Masih sedikit teler setelah bergoyang-goyang di dalam kapal selama 2,5 jam, kami bersama seluruh penumpang turun. Kesan pertamaku: panas. Lautnya tenang di sana. Di jalan setapak yang kami lewati, banyak kerikil putih bekas karang. Yap, journey dimulai, aku sudah tidak sabar.

Masih pukul 10 pagi saat kami menginjakkan kaki di Pulau Pari. "Jadi juga liburan," celotehku pada yang lain. Kami disuruh memilih satu sepeda berwarna kuning untuk mempermudah perjalanan menuju homestay. Sebenarnya jaraknya tidak begitu jauh dari dermaga, tapi serunya naik sepeda menjadi bagian dari liburan kami. Eh, tapi, jangan bayangkan sepeda mulus yang enak dikayuh, ya. Namanya juga sepeda umum, sudah beratus-ratus orang yang menggunakannya. Jadi, pasti ada kecacatan pada si sepeda. Ada yang remnya blong, joknya goyang-goyang, pedalnya keras, rantainya kaku, bannya kempes. But, it's not a big problem. Bisa main sepeda saja, aku sudah senang, kok.


Kami pun bersepeda menuju homestay, memasuki kawasan rumah penduduk. Ini seperti kampung buatan. Rumah-rumah kosong disediakan memang untuk para wisatawan. Kami menempati sebuah rumah lengkap dengan ruang tamu, 3 kamar, tivi, dan 2 kamar mandi. Kasur yang empuk juga sudah menunggu. Ada pohon jambu di halaman depan. Suasananya homey banget. Kami memarkir sepeda di halaman depan berjajar dan langsung mengademkan diri di dalam rumah.

Ipin, si tour guide kami sudah menyiapkan welcome drink berupa es buah yang segar. Ini cocok sekali diteguk di tengah hawa panas pulau Pari. Istirahat sejenak, kami berjalan ke Pantai Pasir Perawan menjelang tengah hari. Jangan ditanya panasnya seperti apa. Pokoknya mata menjadi sipit dan jangkauan pandangan jadi menyempit. Kulit seketika gosong.




Pantai Pasir Perawan merupakan pantai yang dipenuhi tanaman bakau. Airnya jernih dan bening. Ombaknya jauh di lepas pantai, sementara di sini sejauh memandang, pantai ini seperti danau, airnya tidak beriak. Pasirnya putih nyaris seputih kapur. Panasnya sungguh menyengat. Kami berteduh di pondok-pondok kecil. Selintas, pemandangannya mirip dengan pemandangan di Ciwidey, karena pantai ini tenangnya luar biasa, seperti berada di kawah gunung. Ya, pesonanya tentu saja berbeda.

Setelah kulit tak sanggup lagi menahan teriknya matahari, kami kembali ke homestay. Makan siang telah menunggu. Tepat pukul 1 siang, kami akan berlayar ke pulau Burung untuk snorkeling. Segala persiapan sudah dilakukan di homestay. Sunblock pastinya, baju renang, serta roti tawar untuk mamikat ikan mendekat. Sepatu katak, pelampung, kacamata snorkeling, serta kamera underwater sudah siap. Kami pun berjalan ke dermaga.

Perahu nelayan siap membawa kami ke tengah lautan, ke perairan bening tempat bersarangnya karang serta ikan cantik.


Perairan di sekitar Kepulauan Seribu masih terbilang dangkal. Selama 1 jam lebih kami berada di perairan, menikmati karang yang berwarna-warni, sambil jepret jepret di bawah air. Matahari tetap ganas dan panas, tapi itu tak melunturkan semangat kami bermain air. Karang-karang yang cantik itu juga membawa cedera lho. Sebagian besar di antara kami mengalami lecet di kaki dan tangan. Di dalam air memang tidak terasa perih karena pengaruh air laut yang asin, tetapi begitu sudah berada di perahu lagi, perihnya lumayan menyengat.



Puas snorkeling, kami mampir ke sebuah pulau kecil untuk beristirahat. Tadinya Ipin masih menawarkan snorkeling di tempat lain, tapi kami rasa cukup untuk siang itu, lebih tepatnya sudah kehabisan tenaga untuk berenang. Pulau kecil itu memang dijadikan tempat mampir setelah snorkeling. Tidak ada rumah penduduk di sana, hanya ada pantai yang tenang dengan ombak-ombak kecil. Lumayan untuk tempat berfoto.

Menjelang sore hari, kami kembali ke dermaga pulau Pari. Meski sudah lelah, kami melirik wahana bermain lain, sofa boat. Sepertinya seru. Selagi masih ada waktu, kenapa tak dicoba. Kapan lagi kan bisa seru-seruan seperti itu! Jadilah kami cewek-cewek berenam melaju di sofa boat. Mirip Banana Boat, bedanya kami tidak dicemplungkan ke laut. Kami ditarik oleh boat dengan kecepatan tinggi, bagaikan naik roller coaster. Kalau tidak pegangan, mungkin aku sudah melambung terbang dan nyemplung ke laut lepas. Kekurangannya, durasi permainan cuma sebentar. So far, semuanya menyenangkan.


Kami menghabiskan sore di dermaga sambil makan mie instan dan es kelapa muda. Segar dan pas untuk melepas lelah.



Catatan yang tercecer

Bicara soal cidera, setelah snorkeling korban berjatuhan. Tak cuma lecet-lecet karena benturan dengan karang, Ageng sempat jackpot. Setalah malam kurang tidur, perjalanan Muara Angke-Pari berjam-jam hingga naik perahu sebelum snorkeling cukup membuat perutnya terkocok-kocok. Saat kapal melaju, Ageng memuntahkan isi perutnya. Setelah itu lega.

Lalu, ada yang collapse. Junisatya. Karena terlalu bersemangat nyemplung untuk snorkeling, Junisatya tersedak. Dadanya kaget karena belum bisa mengatur pernapasan saat berada di dalam air. Dia terbatuk dan batuknya mengeluarkan darah. Ini membuatnya lemas sehingga harus ditarik kembali ke atas perahu. Junisatya menghabiskan bergelas-gelas air putih untuk menetralisir tenggorokannya. Akibat collapse itu, Junisatya tidak bisa menikmati suasana sesorean hingga malam di pulau Pari.


Nunu mabok setelah kembali ke perahu sehabis snorkeling. Seketika dia 'tewas' di perjalanan pulang ke dermaga. Tenaganya habis dan mukanya memucat. Badan besar bukan jaminan menyimpan tenaga cukup besar. Nunu cukup kewalahan dan teler setelah snorkeling.
 

2 comments:

  1. Catatan tercecernya kreatif, penting tp tdk mengganggu alur cerita! sungguh luar biasa :D -@junisatya/wartawan harian mingguan bulanan tahunan wkwk

    ReplyDelete
  2. Makasi komennya Junisatya. hihihi. ayo ngetrip lagi :D

    ReplyDelete