Pendekar Tongkat Emas, Pulihkan Cerita Silat dari Kekunoan

Pendekar Tongkat Emas seperti film pendekar-pendekar yang dulu ramai menghiasi televisi lokal kita. Macam Wiro Sableng, Lutung Kasarung, bahkan Pendekar Harum.
Pendekar Tongkat Emas atau The Golden Warrior.
(Gambar diambil dari sini)
Tapi yang ini tentu berbeda. Filmnya didesain untuk layar lebar dan persiapannya pun butuh waktu khusus. Aku adalah pengikut Instagram @mirles selama 3 tahun terakhir. Nah, jadi aku sudah liat spoiler lokasi film ini selama 2 tahun. Dan aku jadi tau banget kalau Mira Lesmana sering memposting tempat-tempat menarik itu bukan sekadar jalan-jalan biasa. Tentunya dia punya proyek khusus. Seperti waktu dia post tempat di Atambua, ternyata memang mereka menggarap film Atambua 39 Derajat Celcius. Lalu seperti daratan Jambi, ternyata untuk film Sokola Rimba tahun lalu.


Foto Sumba, Nusa Tenggara Timur
(credit: instagram.com/mirles)

Foto Eva Celia yang diunggah Mirles di akun Instagramnya.
(credit: instagram.com/mirles)
Nah, foto-foto bumi Sumbawa, Nusa Tenggara Timur sungguh membuatku ingin ke sana. Jepretannya keren-keren. Lalu setahun terakhir, Mira Lesmana mulai memotret Eva Celia dan Nicholas Saputra. Aku pun men-stalk akun mereka. Dan memang, Mira Lesmana sedang menggarap sebuah proyek film di sana. 

Aku baru tahu judulnya Pendekar Tongkat Emas baru-baru ini. Anggap saja potret Sumba itu sebagai teaser filmnya. Dan memang berhasil membuat kita semua penasaran. 

Saat tahu judulnya Pendekar Tongkat Emas, aku menyangsikan film ini. Mindset kita terhadap film silat pasti tidak jauh-jauh dari kekunoan dan efek-efek terbang-terbangan yang shootingnya pakai sling. Nggak akan sekeren film laga macam The Raid atau film laga Hongkong. Aku kurang tertarik dengan film berantem silat seperti itu. Tapi karena aku percaya dengan film MilesProduction, mau tak mau, aku menonton film ini.

Pendekar Tongkat Emas diangkat dari sebuah komik dengan latar tempat antah berantah dan waktu entah tahun kapan. Mungkin bisa diprediksi sekitar tahun 1930-an melihat setting film ini yang masih berlatar gubuk. 

Apa yang membuat film ini menarik?
Pertama, kehadiran pemain-pemain kelas "bukan sekadar aktor". Sebut saja Christine Hakim, Slamet Rahardjo, Reza Rahadian, Prisia Nasution, Nicholas Saputra, Tara Basro. Daftar aktor senior dan aktor pemenang award. Mereka akan mendampingi Eva Celia yang masih terbilang baru dalam industri film. Mestinya dengan jajaran aktor ternama itu, film ini tidak akan jadi film asal jadi. 

Kedua, latarnya tidak bisa disangkal, sungguh elok. Mulai dari padang rumput, bukit batu, goa, pantai, hingga twilight view. Pengambilan gambarnya pun bervariasi, sungguh tidak akan membuat bosan. Teaser yahud dari para pemain di akun media sosial para pemain sudah cukup membuat kita bertekad, "Saya akan menonton film ini!" Sumba itu keren. Tinggal tunggu waktu kok, Sumba akan jadi seperti Belitung yang merupakan objek wisata mahal berikutnya berkat film Mirles.

Ketiga, aku suka chemistry antara tokoh Dara (Eva Celia) dan Elang (Nicholas Saputra). Berkat shooting selama beberapa bulan di lokasi jauh seperti itu, pemahaman karakter antar pemain memang cukup memuaskan. Aku suka. Sungguh aku suka. Semua pemain tidak ada yang mengecewakan. Cara mereka memegang tongkat mungkin masih belum luwes, tapi usaha keras mereka belajar silat dan mendalami tekniknya patut diacungi jempol. Apalagi tidak ada yang punya keahlian beladiri semacam silat tradisional itu.

Keempat, dialognya yang 'gemuk' membuat kita bisa mengutip banyak quotes dari film ini. Tentunya setelah nonton film ini berulang kali, aku baru bisa mengutip kata-kata keren di film ini. Filosofis cerita silat memang sengaja ditonjolkan di sini. Di belakang layarnya ada Jujur Prananto dan Seno Gumira Ajidarma yang mendukung penulisan skenario film ini.

Kelima, energi dari film ini mampu menghidupkan kembali kata-kata "Dunia persilatan", "Kau menggunakan jurus tongkat emas, siapa kau sebenarnya?" "Terimalah aku sebagai muridmu, Guru." Rasanya bahasa-bahasa itu sudah nyaris lenyap di kuping. Film ini yang memberi semacam kerinduan tentang nilai filosofi dalam silat, bukan sekadar berkelahi tanpa juntrungan demi menyelamatkan seorang perempuan. 

Namun, ada yang kurang. Plot kisahnya terlalu sederhana untuk dijadikan suatu kompleksitas. Keluar bioskop masih terasa ada yang kurang. Rupanya cita rasa silat yang dari awal digembar-gemborkan film ini baru sampai terkecap di lidah. Pertarungan yang memadukan gerak silat, karate, wushu, dan kungfu mestinya bisa lebih dalam. Andai kompleksitas memenuhi alurnya dan tontonan jurus silat tak hanya dari gerak kepala ke pinggang atau gerak pinggang ke kaki, film ini hampir sempurna dengan sederet nama keren di belakangnya. Namun, aku mengerti kesulitan pengambil gambar itu. Ini saja sudah baik. Yang penting emosi filmnya dapat.

Apalagi sekarang yang kita ingkari dari film Pendekar Tongkat Emas yang disutradarai Ifa Isfansyah ini? Cacatnya sudah tertutupi. Dan memang, film ini berhasil memulihkan cerita silat itu bukan sekadar film penuh efek tipuan kamera. Image film silat jadi lebih 'kekinian' dan tak kalah keren dari film laga modern lain.

No comments:

Post a Comment

Instagram @sansadhia