Mockingjay Movie : Two Thumbs Up for Jennifer Lawrence

Musik dramatik berupa siulan yang di film ditunjukkan dengan kehadiran mockingbird menjadi tuas pembuka memori saat Hunger Games beraksi pertama kali. Siulan ini menjadi semakin kuat di film Mockingjay Part 2 yang tayang serentak di bioskop tanggal 20 November 2015.

4 tahun lalu, Hunger Games sempat mencuri perhatian pencinta Hollywood (lihat review yang pernah kutulis di sini). Sebuah game dalam wujud reality show televisi dibuat apik versi Hunger Games. Yang menarik adalah reality show ini benar-benar realita bahkan adegan bunuh-bunuhan. Hanya satu pemenang yang dibutuhkan dalam Hunger Games, yaitu satu-satunya orang yang bertahan hidup. Lalu Pemenang ini tentunya akan menjadi pion penentu nasib bagi distrik asalnya. Pengecualian terjadi saat Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) dan Peeta Mellark (Josh Hutcherson) yang dinobatkan sebagai pemenang berpasangan dari Distrik 12m, sekaligus menjadi sumber semua masalah di sepanjang trilogi Hunger Games.

Mockingjay Part 2 (Poster diambil dari sini)

Trilogi Hunger Games jadi 4 seri film. (Gambar diambil dari sini)
Hunger Games terus berjalan di tahun berikutnya, diceritakan di dalam film kedua, Catching Fire. Hunger Games yang ke-75 alias Quarter Quell ke-3 ini juga memiliki rule berbeda. Perwakilan dari 12 distrik adalah para pemenang sepanjang 75 tahun Hunger Games diadakan.  Katniss dan Peeta kembali terlibat sebagai tribute perwakilan distrik 12. Hunger Games ke-75 kali ini berisi kemarahan semua pemenang karena diubahnya rule kriteria peserta Hunger Games dari tahun ke tahun. Kemarahan ini juga tertanam dalam diri Katniss dan Peeta. Siapakah yang akan bertahan hidup?

Namun, Katniss membuat ulah dengan menembakkan panah bertegangan listrik ke kubah permainan. Tindakan Katniss ini adalah sinyal perang. Seketika Hunger Games saat itu memicu pemberontakan di setiap distrik. Kubu terbagi dua, antara kubu Capitol dan kubu Katniss yang disebut sebagai the girl on fire. Seketika kita tahu, kemarahan Katniss bukan kemarahan main-main. Plutarch sebagai Gamemaker Capitol menyadari itu. Ia sangat menyadari kekuatan Katniss dan memilih berpihak pada gadis itu untuk menghancurkan Capitol.

Kemarahan itu dimanfaatkan oleh distrik 13 yang baru saja dibentuk seiring dengan kehancuran beberapa distrik yang memberontak. Presiden Coin menunjuk Katniss secara langsung sebagai bintang propaganda untuk melawan Capitol. The Mockingjay. Itulah Katniss Everdeen.

Bintang Propaganda revolusi. (Gambar diambil dari sini)
Memasuki Mockingjay part 2, pemberontakan yang telah dibangun oleh Coin mulai melebar. Tujuannya adalah menguasai semua distrik dan menggulingkan Snow sebagai Presiden Capitol. Namun, Katniss yang masih terus marah dengan peneroran dirinya lewat Peeta yang sempat disekap di Capitol, memiliki satu tujuan berikutnya, membunuh Snow. Ia akhirnya tahu, tindakan Capitol yang merusak jati diri Peeta dan memanipulasi otaknya berujung pada satu keputusan itu. Katniss tidak mau lagi menjadi bintang propaganda. Dia sadar bahwa ini harus berakhir saat ia berhadapan langsung dengan Snow.

Keputusan Katniss sempat ditentang oleh Coin. Namun, Katniss membangkang, dibantu oleh Johanna. Katniss turun ke medan perang menyusul Gale, sahabatnya. Dengan kemunculan Katniss di medan perang tentu menarik perhatian, baik Snow maupun Coin. Akhirnya arena perang pun menjadi Hunger Games berikutnya. Kali ini Capitol-lah yang menjadi arena dengan tayangan live serta tantangan hidup dan mati yang sudah disiapkan di setiap titik arena versi Capitol. Lalu pengiriman Peeta ke medan perang yang diutus langsung oleh Presiden Coin menjadi penanda bahwa Coin menjadikan mereka pion dalam permainan ini. Tentu kehadiran Peeta yang sewaktu-waktu bisa menyerang Katniss akan membahayakan tim. Katniss curiga bahwa saat itu ia dan Peeta berhadapan dalam permainan nyata para penguasa, entah Snow atau Coin.

Apa saja yang mereka hadapi di arena? (Gambar diambil dari sini)

Katniss dan Gale menyamar memasuki Capitol. (Gambar diambil dari sini)

Peeta Mellark apakah akan jadi teman atau musuh dalam karung? (Gambar diambil dari sini)

Pertanyaan kembali muncul: Siapakah yang bertahan hidup dan menjadi pemenangnya?

Tidak perlu jawaban untuk pertanyaan ini. Semua orang bisa menonton dan memang menantikan akhir dari kisah Katniss Everdeen. Namun, (ini spoiler serius buat yang belum nonton), bagiku, sebuah game hanya punya satu pemenang, yaitu Gamemaker. Kehadiran Plutarch Heavensbee sejak Catching Fire tidak dapat diabaikan. Karakternya yang mulanya tampak jahat, lalu di Mockingjay jadi berpihak menentang Capitol, tentu membuat kita waspada. Plutarch adalah wujud keabu-abuan karakter yang oportunis. Tapi, posisinya sebagai Gamemaker menjadi orang yang paling tahu bahwa Katniss adalah pion yang paling diharapkan mati sekaligus pion yang harus diselamatkan. Plutarch membawa kita pada akhir game dengan baik. Gamemaker selalu tahu kelemahan dan kelebihan benda mainannya. Dia hanya tinggal menekan tombol 'on' dan 'off' pada waktunya. Seperti saat dia memberi surat pada Katniss sebagai tombol 'off' untuk segala Hunger Games yang menghanguskan banyak massa. Ya, film ini juga penanda off kehidupan tokoh Plutarch di dunia nyata. RIP Philip Seymour Hoffman.

Plutarch Heavensbee, Head Gamemaker (gambar diambil dari sini)

Kostum Katniss Everdeen (gambar diambil dari sini)
(+)
Satu hal yang saya suka dari Hunger Games ini adalah konsistensi filmmaker dalam menonjolkan fashion item yang menjadikan Katniss sebagai The Girl on Fire. Mockingjay part 2, meski dalam suasana perang dan revolusi, Katniss masih diberi kesempatan untuk mengenakan kostum 'The girl on fire'-nya.

Siulan Mockingjay sebagai penanda pemberontakan telah menggema dari film Hunger Games, yang hanya 4 nada. 4 nada ini pun yang menjadi ikonik di tiga film berikutnya diiringi kecupan 3 jari.

Usai menonton Mockingjay Part 2, Jennifer Lawrence benar-benar menjelma menjadi Katniss Everdeen. She made this film perfect. Siapa yang tidak terkena panahan pesona Katniss Everdeen di sepanjang film ini?

(-)
Dari kesempurnaan karakter Katniss yang dimainkan Jennifer Lawrence, Katniss belum bisa menularkan sisi heroiknya pada karakter adiknya, Primrose Everdeen. Kematian Prim saat dibom di Capitol kurang terasa dramatik, kurang mengena sehingga penonton mudah melupakan karakter Prim begitu saja. Padahal mestinya kehadiran Prim sangat berbekas dalam perjalanan The Hunger Games. Ingat, kan, bagaimana Katniss menjadi sukarelawan menggantikan adiknya sebagai peserta Hunger Games di film pertama? Ini juga penyebab kurang dapatnya chemistry emosi kemarahan Katniss pada Gale di menit-menit terakhir film.

Perang berhenti begitu saja saat bom meledak di Capitol. Jadi ini akhir dari Mockingjay? Rasanya ada yang kurang.

Mockingjay final session (gambar diambil dari sini)

Terlepas plus dan minus dari The Hunger Games: Mockingjay Part 2, keempat seri film The Hunger Games menjadi film adaptasi yang menarik dan memiliki penonton setia. Setidaknya kini rasa penasaran kita terhadap visual Katniss, Peeta, dan Gale berakhir.

1 comment: