In Movie Land

Film Rompis, Puisi Roman Memaku di Hati


Menyenangkan dapat menghabiskan waktu sehari dengan seorang adik yang hanya sesekali datang ke Jakarta. Kami berdua sama-sama ingin menonton film, mungkin bukan film yang berat. Libur akhir pekan 17-an memang harus dihabiskan dengan santai. Akhirnya kami pun memilih film Rompis (Roman Picisan) yang memberikan warna lain dalam kisah cinta remaja masa kini. Apalagi bioskop bulan Agustus digempur dengan film-film horor Indonesia.
Film Rompis 2018. Source: kincir.com

Aku dan adikku yang kini sudah beranjak remaja itu duduk di row E sebuah studio bioskop. Tanpa berekspektasi apa-apa terhadap film ini--hanya berbekal tahu tentang film jadulnya, sedikit nonton series-nya, suka dengan puisinya--kami dengan serius menonton tanpa berkutik. Akan jadi apa film Rompis ini? Apakah mampu mencerahkan generasi milenial dengan puisi-puisi picisan?! Yang memotivasiku nonton ini karena ada puisi di film Rompis. Sedikit mengingatkan kebangkitan film Indonesia lewat puisi yang diangkat Rangga dalam Ada Apa dengan Cinta? dulu sekali. Tapi mungkin ini berbeda, ya.

Rompis bercerita tentang cinta Roman (Arbani Yasiz) dan Wulandari (Adinda Azani) yang terbentang jarak Indonesia-Belanda. LDR dong? Wait! Sebelum kita memutuskan itu LDR apa bukan, mari runut tentang hubungan keduanya. Di awal plot, saat kelulusan SMA, Roman dan Wulandari tampak serasi dengan senyum malu-malu mereka, bersinggungan tangan saat upacara lalu mencuri kesempatan untuk saling menggenggam. Hubungan itu dibumbui dialog yang memperlihatkan adanya janji keduanya untuk melanjutkan kuliah di kampus yang sama (sebelum Wulan tahu kalau Roman diterima di universitas luar negeri). Rasanya adegan-adegan awal itu cukup memperlihatkan kepada penonton bahwa dua karakter ini adalah pasangan sejak SMA. Apalagi ada dukungan penuh dari Wulan meski hatinya teriris akan ditinggal Roman ke Belanda.

Cerita pun beralih ke masa mereka kuliah. Roman menjalani hari-hari kuliah di Amsterdam, sementara Wulan sepertinya kuliah di Jakarta (untuk bagian ini plot seakan lupa memberikan informasi di mana Wulan kuliah). Kita lalu terpukau dengan pemandangan Belanda (aku sih lebih tepatnya karena ingin sekali ke sana), tempat Roman kuliah bersama Sam, sahabatnya. Rupanya, setelah 9 bulan berkuliah, Roman dan Wulan masih tetap kontak, bahkan sesekali video call. Ada kerinduan yang membuncah di antara keduanya, terlihat dari puisi yang Roman kirim lewat chat pada Wulan dan dari lontaran percakapan Roman dan Sam, "Rindu itu sunyi, tak perlu ada bunyi." Kita semakin yakin bahwa Roman dan Wulan ini memang pacaran, seperti lanjutan kisahnya di series Roman Picisan. Ajib, aku mulai berbunga-bunga. Tapi bunga-bunga yang hadir di perut langsung dikocok oleh Sam yang menjawab nyeleneh, "Berak!"

Ya, begitulah persahabatan mereka. Saling meledek, tapi juga saling dukung.

Film Rompis 2018-source: kapanlagi.com
Foto diambil dari sini.

Namun, ketika ada orang ketiga masuk di antara mereka, Meira (Beby Tsabina), Wulan mengejar Roman ke Belanda. Ada ketakutan di matanya, tidak ingin kehilangan Roman. Dalam kisah romansa LDR, memang wajar terjadi hal seperti itu. Kecemburuan seringkali menyulut emosi dibanding mengutamakan pertemuan. Aku merasa bahwa adegan Wulan datang lalu ngomel-ngomel sepanjang jalan menjadikan alur lebih hidup, antiserius, dan mulai memasuki area senyum-senyum-sendiri-club. Seperti kobaran api yang menghangatkan sekitar tungku, mengisi relung yang merindu (eaaa, aku mulai ketularan Roman berpuisi). Di sinilah penonton digiring pada kenyataan bahwa ternyata Roman dan Wulan itu tidak pacaran, setidaknya belum. Nah, gimana itu nasibnya? Mereka hanya berkomitmen bersama tanpa status khusus. Wulan dibiarkan menunggu, sementara Roman menggantung harapan-harapannya di langit Amsterdam, berharap bisa segera kembali pulang pada Wulan. Kalau kata Sam, "Ckck. Berat. Terharu lho gue ini."

Pada titik ini, judgement serta merta dilontarkan pada Meira yang merusak pertemuan Roman dan Wulan dalam ruang rindu. Waktu menjadi penyatu sekaligus pengetuk palu, apakah komitmen mereka itu dapat dilanjutkan.  Satu-satunya kalimat Sam yang serius pada Roman "Yang katanya masa depan lo lagi ada di sini. Kalau nggak lo jaga, mungkin dia nggak akan jadi masa depan lo," bikin dada engap berjamaah di dalam bioskop.

Yes, Wulan hanya ingin memastikan apakah Roman pantas untuk ditunggu. Cuma Roman, kan, yang bisa jawab kepastian itu? Apakah Roman masih picisan seperti masa SMA-nya, hanya jago berkata-kata, tetapi tidak bisa bertindak?

Kisah romansa remaja seperti ini memang sudah banyak diangkat, apalagi tentang LDR. Jauh pula, lintas negara. Yang membuat film ini istimewa adalah chemistry keempat tokoh yang jadi sorotan utama (by the way, sepanjang film, memang plot berfokus pada pergerakan 4 tokoh ini saja). Keempat tokoh ini berdiri sendiri. Kita diberi basic informasi tentang Roman, Wulan, dan Sam sudah kenal sejak SMA dan bersahabat, terlihat dari adegan pembuka film ini. Selebihnya pergerakan karakter dibangun dengan lontaran dialog yang sedikit demi sedikit membuka ruang informasi kepada penonton. Khususnya Meira, yang dimainkan dengan sangat baik oleh Beby Tsabina sebagai karakter baru dalam kehidupan Roman Picisan. Cara Meira menjaga emosinya itu menjadi caranya menyampaikan pesan tentang siapa sosok Meira kepada penonton. Kesan dewasa, serius, sedikit sombong, tetapi menyimpan hati yang rapuh terlihat dari sosok Meira. Meira juga sempat membiarkan Roman tampak seperti cowok polos, lemah, lugu, khas mahasiswa Indonesia yang kuliah serius di luar negeri. Itu artinya, Roman memang manusia biasa, guys.

Meira tidak tahu bahkan tidak mau tahu tentang kisah SMA Roman yang menyenangkan, semenyenangkan kisah cinta gemas Roman dan Wulan yang seakan menjadi magnet pengait film ini agar tetap menarik. Cerita mengalir dengan Meira tetap menjadi sangat serius, tidak suka bertele-tele, bertemu dengan Wulan yang bertolak belakang karakter dengannya. Cantik-cantik-kaku, ya. Kalau kata Roman, "Cantik itu takdir, bukan prestasi."

Yang paling kusuka dari kisah dalam Film Rompis adalah cara Roman meyakinkan Wulan tentang mereka. Tampaknya sutradara Monty Tiwa membiarkan penontonnya dibuai dengan beberapa adegan Roman dan Wulan berdua yang saling melontarkan canda mesra, kesedihan, keharuan, hingga berantam-berantam lucu. Tak ada kesan drama berlebihan, apalagi kisah romansa yang cengeng. Malah dibumbui dengan komedi dan dialog ringan. Mungkin film Rompis bisa jadi drama komedi romantik terbaik tahun ini, ya. Semuanya mengalir natural sebagaimana pemain menikmati peran mereka. Itu yang bikin film ini punya kekuatan. Chemistry Roman dan Wulan oleh Arbani dan Adinda Azani seakan tak terbantahkan.

Yang jadi favorit dan mungkin jadi adegan emas di film ini adalah (sedikit spoiler nggak apa-apa ya), saat Roman dan Wulan sedang berjalan-jalan berdua, sempat diganggu oleh Meira, lalu Wulan bersiul-siul menyapa burung yang ia sebut 'burung modus'. Kemudian, di lompatan adegan setelahnya kita digiring kepada cara Roman meyakinkan Wulan dengan puisi. Ini satu-satunya puisi bahagia favoritku yang memaku di hati, saat gambar menyorot Roman dan Wulan begitu dekat. Roman mengucapkan kata-kata puitis dan membiarkan biasnya menyebar dengan pengambilan gambar extreme close up bibir Roman di hadapan wajah Wulan. Seperti aliran listrik yang melesat di perut, memanah tepat sasaran, menyalakan kobaran rindu yang nyaris mengubur harapan cinta mereka. Wulan serta merta tersipu malu sementara Roman memberikan senyumnya yang memikat. Mereka berdua berhasil memberikan performa romansa dengan semangat anak muda. Rasanya, Roman yang baca puisi buat Wulan, tetapi aku yang tersipu-sipu. Astaga, senatural itu mereka menikmati perannya. Mereka punya cara mengirim pesan cinta itu kepada penonton filmnya. Salah satunya dengan ekspresi dan kerlingan mata, diimbuhi dengan pengambilan gambar yang pas.

Film Rompis 2018. SOurce: 21cineplex.com
Poster Film Rompis 2018. (foto diambil dari sini)

Di sisi lain, Sam (Umay Shahab), sahabat Roman punya porsi paling penting di antara Roman, Wulan, dan Meira. Berhadapan dengan Roman, Sam adalah karakter yang bertolak belakang pula dengannya. Ia menjadi interpretasi wujud anak muda dengan segala budaya populer yang melingkupinya, lebih milenial, dan santai. Berbeda banget dengan Roman yang bahkan nggak punya social media sama sekali. Hari gini masih ada orang yang nggak main socmed? Wah, mesti diawetkan dia. Pantas saja Wulan tergila-gila ke Roman. Namun, justru di situ kunci persahabatan mereka. Sam kerap mengundang tawa di setiap kemunculannya. Santai, tapi ngena komedinya. Sam menjadi jawaban atas semua kekacauan yang dibuat cerita. Dia dapat menjadi penengah dengan dialog-dialog renyahnya yang jarang sekali meleset, memperkuat kegemasan hubungan Roman dan Wulan dan menakar keseriusan Meira pada level yang pas sehingga tidak membuat cerita cinta nyaris rumit ini jadi tak serius-serius amat. Selain menjadi karakter baik yang menyelamatkan hubungan dua sahabat SMA-nya, Sam juga menyelamatkan film ini dari kelemahan plot dan unsur sebab-akibat kejadian yang tak dijelaskan dengan gamblang. Dia menjadi benang merah yang menautkan cerita romansa Roman dengan kepicisannya, dengan realita hidup mereka di Belanda yang penuh perjuangan karena jauh dari orangtua. Sam juga yang memberi ruang kosong agar Meira dapat mengisi persahabatan mereka yang tampak receh dan picisan padahal Meira sendiri selalu teguh pendirian dengan keseriusannya yang apik.

Omong-omong soal plot, mungkin ini satu-satunya kelemahan film Rompis. Aku masih agak janggal dengan satu hal, kenapa Roman dan Wulan dibiarkan tak berstatus? (netijen mulai galau). Menurutku, plot tentang kenyataan Roman dan Wulan hanya berhubungan tanpa status tidak cukup kuat untuk membuat Wulan rela jauh-jauh datang ke Belanda. Sepertinya, pengorbanan Wulan beli tiket dan urus visa schengen ke Belanda tak sebanding dengan status mereka yang tidak pacaran meski sudah ada komitmen bersama. Bagiku, ini terlalu picisan tapi harus diseriusi. Dari sekian banyak pilihan cerita, kenapa Roman dan Wulan harus dibuat belum ada kejelasan padahal konfliknya lebih kepada cara mereka mempertahankan cinta itu sendiri. Well, kalau memang harus seperti itu, apakah itu cukup menjadikan alasan kuat bagi Wulan untuk menyusul Roman? Ketika dia tak menuntut banyak, kenapa akhir dari Film Rompis dijawab dengan kepastian hubungan itu sendiri? Kecemasan atas hubungannya yang terancam karena kehadiran Meira mungkin dapat dibenarkan, tetapi jarak Indonesia-Belanda yang super jauh tidak boleh dilupakan. Daku mulai geregetan di sini. Padahal bisa saja plot memberikan keleluasaan kepada Wulan untuk mengaktualisasi dirinya sebagai sosok inspiratif yang pantas menjadi wujud inspirasi puisi Roman, seperti karakternya yang sudah dibangun dengan baik sebagai siswa terbaik di sekolahnya. Bisa saja cerita membuat ia dikirim ke Amsterdam dari kampusnya untuk sebuah proyek penelitian karena latar prestasi yang disematkan padanya. Ide aja, sih. Peluang itu terbuka lebar sekali tetapi tidak dimanfaatkan dengan baik. Ya, walaupun Roman sempat bilang, "Belanda belum cukup jauh untuk bikin lo hilang dari ingatan gue," sayangnya plot menyisakan ruang kosong saat menampung kerinduan itu jadi sendu. Rindunya tak cukup padat karena cerita tak memperkuatnya. Semakin rindu, semakin menggebu-gebu gemasnya karena rindu itu tak lagi mementingkan status. Untung saja siul Wulan mampu menghadapi kelemahan plot itu dengan tegar. Roman, Wulan, Meira dan Sam tetap berdiri pada posisinya masing-masing, menjalani peran mereka hingga akhir cerita, tanpa harus tahu kecacatan itu ada dan menjadi bayang-bayangnya.

Plot tentang solusi terhadap Meira pun dibiarkan menguap begitu saja padahal sosok Meira yang disebut Wulan sebagai 'Jailangkung' itu bisa menjadi pondasi, lho. Ada masa lalu Meira yang terkuak sejak ia kenal Roman dan puisi-puisinya. Ini seharusnya menjadi penarik cerita Rompis yang memang mengangkat literasi sebagai jalan pengantar karakter Roman. Ancaman yang dirasakan Wulan jadi semakin beralasan, bukan, yang membuat sosok Meira tak sekadar cantik. Apalagi ada dialog Roman ke Meira, "Setiap penulis puisi punya sosok yang menginspirasinya." Ini bukan pernyataan main-main ketika diucapkan sebagai solusi di hubungan mereka yang tak sekadar picisan lagi. Jika dialog itu dimanfaatkan dengan baik, tentu dapat menjadi kontribusi besar dalam pondasi cerita. Film melupakan peluang itu dan lebih seru memberikan porsi Roman dan Wulan untuk memanja penontonnya. Ya, mungkin lebih baik begitu. Kupu-kupu yang muncul di perut ini juga harus diberi serbuk bunga biar makin bahagia. Roman dan Wulan tak tergantikan. Meira tetap dibiarkan misterius, datang tak dijemput, pulang tak diantar. Hanya kelapangan hati Meira yang membuat cerita selesai.

Terlepas dari itu semua, aku berdecak kagum dengan segala yang manis yang tersaji di Film Rompis. Belanda jadi tampak indah berkat tim Monty Tiwa, Roman jadi tampak bersahaja bersanding dengan Wulan yang manja. Scoring sudah tak perlu diragukan, menghangatkan nuansa cinta yang muncul saat film bercerita pada kita.

Anyway, kamu harus tonton langsung filmnya jika ingin terkena panah puisi picisan si Roman. Kujamin, adegan favorit yang kuceritakan tadi benar-benar memaku di hati kita semua, apalagi penggemar garis keras film ini. Aku berani bilang bahwa chemistry Roman dan Wulan adalah chemistry pasangan terbaik melebihi Dilan dan Milea tahun ini. Duh, cara Roman melihat Wulan dan berpuisi untuknya, bikin hati ini meleleh. Adinda Azani berperan sebagai Wulan dengan sangat baik, begitu juga dengan Arbani Yasiz sebagai Roman. Semua itu nggak akan jadi klop tanpa kehadiran Sam dan Meira sepertinya. Mereka berempat saling mengikat, sepertiku yang terikat pada romansa lucu dan gemas mereka.



Petikan puisi Rompis yang memaku di hati:

Aku hanyalah pendatang, mendatangi kota ini
yang riuh, yang berisik.
Aku hanyalah pendatang, seperti angin di lembah
yang mencari dedaunan,
agar mereka dapat terbang.
Seperti hatiku setiap kali kau datang. -Rompis, 2018. 

Aku lebih memilih malam, meski kelam.
Aku lebih memilih luka, meski sakit.
Dan aku telah memilih kamu, meski rindu. -Rompis, 2018.
Jangan menangis bidadari, langitku runtuh nanti.
Gelap ini menyeramkan, gelap ini pekat.
Dan kau pegang senja erat, agar cahayanya tak lenyap.
Tapi ketahuilah Wulandari, aku menjaga hingga kau lelap. -Rompis, 2018.
Cantik itu takdir, bukan prestasi. -Rompis, 2018.
Kehilangan bukanlah akhir ternyata.
Kepergian bukanlah pemisah rupanya.
Dan kutantang sang waktu.
Datanglah, datang dengan bala tentara pedihmu.
Aku tidak takut, karena kepada cinta aku bersujud. -Rompis, 2018.
Rindu itu sunyi, tak perlu ada bunyi. -Rompis, 2018.
Duhai merona, jangan tertawa.
Wahai nona, aku berduka.
Ratap tangis, mati kekal, hilang akal.
Sembunyi paras, engkau menunduk.

Angkat wajah, tatap rembulan
tatap sombong.
Pekik lantang, "Rembulan tak seindah Wulan."

Sembunyi paras, jangan menunduk
Engkau menang, aku takluk. -Rompis, 2018.

Inikah bahasa cinta, bahasa jiwa, bahasa bahagia yang tak berkata. Sungguh, cinta tanpa tindakan, seperti matahari tanpa rembulan, seperti roman tanpa wulan, perjalanan tanpa tujuan. -Rompis, 2018.
Skor film 7,5/10 

Related Articles

12 komentar:

  1. Perjuangan dari Jakarta ke Belanda, buat sebuah hubungan yang belum jelas "Hubungan tanpa status". Anyway mungkin karna rasa sayang kali ya ceu.
    Padahal tiket ke Belanda dan visa nya lumayan banget harganya wkwkw. *ini dari pandangan anak kosan yah. Bolehlah film ini raisa tonton buat ngisi waktu luang. Senin ah nonton.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia, urus visa kan perjuangan, kalau ditolak, patah hatinya dua kali lipat. Belum lagi harus beli tiket, ya ampun..Sungguh perjuangan untuk mengejar cinta yang belum berstatus itu. :D

      Delete
  2. Kalau tak disingkat, judulnya mengingatkan pada karya pujangga lama Indonesia, Roman Picisan. Sekalipun disebut rompis, namun ceritanya, setting, dan lokasi jauh dari picisan ya Num..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini memang diambil dari adaptasi novel Roman Picisan dan jadi reborn filmnya zaman dulu Un. Yang dimainkan Rano Karno sama Lidya Kandao. :))

      Delete
  3. dududu, jalan cerita yg menarik ya kak :)
    gak sabar mau nonton film-nya dan aku gemash sekali sama Arbani Yasiz hihi
    ganteng bangets >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, ya. Aura Arbani berasa sampai ke ubun-ubun. Nambah deh list berondong cakepku. :))

      Delete
    2. whahah, brondong gemash ya mbak >.<

      Delete
  4. Baru nonton trailernya saja sudah menarik. Soal roman-romanan memang selalu menarik, apalagi yang suka bawa baper hahaha. Kok terharu gitu liat Umay udah gede yah ? perasaan kemarin masih SD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahah. Iya ya. Dulu Umay masih kinyis-kinyis lucu. sekarang sudah dewasa.

      Delete
  5. Setauku film ini tuh ada series-nya Kak sewaktu Roman sama Wulan masih SMA, kalau nggak salah diputar di RCTI dan sekarang ini lagi diputar ulang (bersamaan sama rilisnya film ini) yang judulnya Roman Picisan. Mungkin plothole tentang ceritanya Roman sama Wulan bisa dilengkapi kalau sudah nonton series-nya.

    ReplyDelete
  6. Series sama movie-nya mengangkat plot yang beda, meski masih bersumber pada cerita yang sama. Ya soal cerita yang kian lemah ketika mendekati klimaks saat Roman seakan terpaksa menyatakan cinta ke Wulan, padahal seharusnya kalau memang gak ada status dan sama-sama komitmen, ROman nggak perlu nyatain apa-apa karena sudah sama-sama tau dan nyaman. Terlalu lemah menurutku untuk menopang segala konflik di film.

    ReplyDelete