Pagi Emas di Pantai Ohoidertawun, Kei

Selama di Pulau Kei Kecil, kami menginap di homestay pesisir Ohoidertawun. Kebanyakan wisatawan akan memilih menginap di desa Ngilngof, pantai Ngurbloat. Tapi pantai Ohoidertawun lebih menggoda karena sepi, bukan wilayah umum wisatawan, dan menghadap ke timur. Artinya? Pagi di sini sungguh pagi yang emas.

Pantai Ohoidertawun terkenal dengan pantai yang tenang dan air yang bisa surut hingga bermil-mil jauhnya ke lepas pantai. Menariknya, pasir pantai ini lembab, mengkilat, dan datar. Ombak terdengar jauh di laut sana. Yang kencang terdengar adalah gemerisik dedaunan dari pohon kelapa. Dengan rimbunan nyiur itu, Ohoidertawun ini sangat teduh. Ini yang membuat aku betah berada di sini, menikmati hari-hari santai di Kei.

Pagi yang lebih dulu 2 jam dibanding Jakarta, membuatku terbangun. Aku langsung membuka pintu kamar dan terkejut. Hari belum benar-benar terang, tapi tak gelap juga. Warna langit jingga, sangat jingga. Matahari terbit tak tampak sempurna karena tertutup awan. Namun, biasnya memberi efek menakjubkan, untukku pagi itu. Aku menyeret tubuh keluar dari kamar, melintas di pasir lembut, dan menatap keindahan pagi lebih puas. Rupanya teman-temanku belum bangun karena kelelahan, begadang bermain api unggun hingga lewat tengah malam.

A photo posted by Sulung Siti Hanum (@sansadhia) on


Penginapan kami di Ohoidertawun dikelilingi pohon kelapa.

Pagi-pagi buka pintu kamar, langsung lihat ini.
Aku sendirian, ditemani bayangan yang mulai memanjang. Bias oranye memenuhi langit. Pantulannya pun berkilat di permukaan pasir basah. Aku menunggu senyum matahari.

Matahari naik hingga bias bias jingga pun sirna. Aku berjalan di tepian menikmati pagi yang lengang, tanpa angin, tanpa ombak. Air laut surut sangat jauh, memungkinkanku berjalan ke arah lepas pantai. Beberapa perahu tampak terparkir. Beberapa anak kecil mulai tampak berlarian. Saat yang tepat untuk jogging di tepian.

Pagi cepat menghangat. Badan mulai berkeringat. Aku berteduh dan berayun di atas hammock, sembari menanti sarapan sebentar lagi. Senandung nyiur membangkitkan kantuk. Aku pun tertidur kembali dalam pelukan pantai pagi.





Pagi santai ala Junisatya.
Jika kamu punya waktu lebih di Ohoidertawun, jangan sampai disia-siakan. Jika pagi adalah emas, siangnya sebening kristal. Hari yang cerah membuat semua menjadi indah. Pantai Ohoidertawun memang menawan. Di pantai ini pula kami melihat kehidupan yang damai warga Tual. Desa di sini dibagi-bagi berdasarkan agama. Kebetulan kami tinggal di wilayah kampung Islam. Namun, justru di sana indahnya. Anak-anak pulau Kei bermain tak mempedulikan agama. Mereka berkegiatan semau mereka. Anak-anak Kei adalah anak yang ramah. Mereka juga senang bermain. Alam adalah arena mereka. Jika pantai surut, mereka biasanya bermain bola di pasir atau berlarian. Mereka juga senang dengan api unggun dan sangat lihai menyalakan api. Senang sekali bisa berkenalan dengan anak-anak ini.

Beruntung sekali aku bisa menikmati pantai di Ohoidertawun dari pagi hingga malam. Menginap di sini adalah kesempatan berharga. Aku memang tidak berjalan terlalu jauh menyisiri sisi pantai, tetapi Ohoidertawun dari segala sisi tampak menawan. Rasanya aku tertawan di sini.


Siap berjemur.

Makin siang makin bening.

Saat malam datang, kami membakar api unggun. Udara tidak terlalu dingin, tapi gelapnya sungguh pekat. Api unggun dapat memecah kegelapan itu. Kami duduk bersandar di batang pohon kelapa yang telah dihampar di pasir yang padat. Sambil meneguk minuman hangat, kami menikmati malam sambil bermain kartu, bercerita kebodohan siang hari, dan sesekali menatap bintang yang bertaburan di langit. Kami pun bergantian mengaktifkan ponsel karena sinyal hanya datang untuk 1 provider dan 1 device. Jadi, jika ada yang aktif nongkrong di bawah pohon, lebih baik yang lain mundur. Untuk dapat sinyal harus antre. Namun, tak ada malam sebaik ini di Pulau Kei. Suara ombak masih terdengar halus di lepas pantai.

Api unggun dan sinyal.

6 comments: