In Movie Land

Wiro Sableng Dulu dan Kini

Melewati masa kecil dengan tontonan serial Wiro Sableng, tentu aku tak mau melewatkan nonton filmnya kali ini yang khusus didedikasikan kepada sang penulis komik Wiro Sableng yang legendaris, Bastian Tito. Sebenarnya dulu aku nggak ngerti-ngerti amat tentang jalan cerita Wiro Sableng. Yang aku tahu, Wiro Sableng itu ya pendekar gila yang sering ketawa dan terbang-terbangan di hutan. Ia punya kapak maut naga geni 212 yang jadi andalannya. Sampai-sampai dulu banyak bertebaran merchandise kapak 212 yang jadi mainan anak-anak. Bahkan banyak bocah yang ingin digambar angka 212 di dadanya persis seperti pemeran Wiro Sableng pada saat itu. Untungnya aku cuma sebatas punya mainan kapak 212, nggak sampai buat tato di dada segala. Padahal ya, makna angka 212 aja nggak ada yang peduli waktu itu. Ah, begitulah aku mengenal Wiro Sableng waktu kecil.

Kini filmnya tayang dengan pemain baru dan harusnya lebih segar. Apalagi saat ini sedang musim film reboot, remake, dan reborn. Rasanya masa dulu itu indah ya. Dan banyak cerita lama yang dapat dikembangkan saat ini. Seperti film Wiro Sableng ini. Di sela-sela kita menunggu film gabungan superhero Marvel yang baru aja kalah perang dari Thanos, ada film superhero Indonesia yang nggak kalah menghibur dan kualitasnya pantas diapresiasi.

Wiro Sableng dibuka dengan sejarah hidup Wira Saksana dari Jatiwalu. Ayah-ibunya dibunuh dan Wira diselamatkan oleh seorang nenek sakti yang kerap dipanggil Sinto Gendeng. Sinto mengajarkannya ilmu silat dan kebatinan lalu memanggilnya Wiro Sableng, si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Wiro diutus untuk meringkus kejahatan Mahesa Birawa yang merupakan bekas murid dari Sinto Gendeng sendiri. Sinto ingin Wiro membawa Mahesa Birawa ke hadapannya. Tapi di tengah jalan, Wiro pun tahu bahwa Mahesa Birawa ini adalah pembunuh ayah dan ibu kandungnya.

Wiro Sableng vs Mahesa Birawa. Source: id.bookmyshow.com

Para Pendekar di Wiro Sableng. Source: sabigaju.com
Geng Wiro Sableng. (foto diambil dari sini)

Aku nggak mau cerita banyak tentang plot Wiro Sableng di sini. Aku cuma mau cerita yang seru saat nonton film ini. Ada beberapa part yang sangat kunikmati.

1. Pertemuan Wiro Sableng 'Vino' dengan Wiro Sableng 'Kenken'

Anak generasi 90-an pasti familiar dengan sosok Wiro Sableng berambut panjang yang dulu bikin serialnya jadi populer. Di film Wiro Sableng, ada satu part yang memberi semacam nostalgia, penghargaan, dan regenerasi pada karakter Wiro Sableng sendiri. Di sebuah warung, Wiro bertarung dengan sejumlah kaum pemberontak. Seketika warung porak poranda. Di sana aksi Wiro Sableng yang diperankan oleh Vino G. Bastian beradu punggung dengan penjaga warung yang tak lain dan tak bukan diperankan oleh Kenken, si pemeran Wiro Sableng di serialnya. Kebetulan pula mereka berdua sedang mengeluarkan jurus khas Wiro Sableng yang sama. Adegan ini membuatku tertawa. Tidak ada dialog, hanya ekspresi jenaka.

Pada part berikutnya, setelah pertarungan usai, Wiro pamit pada penjaga warung. Penjaga warung yang dimainkan oleh Kenken hanya tersenyum dan mengangguk, lalu dengan sekilas tatapan, Wiro pun berlari meninggalkan warung itu. Ada semacam haru yang mungkin hanya dipahami oleh penonton serialnya. Semacam pemeran Wiro Sableng dulu memberikan mahkota kesablengannya kepada sosok Wiro Sableng yang baru yang diemban oleh Vino. Ada musik khas serialnya digemakan sedikit di dalam film ini yang membuat pencinta superhero ini bisa sedikit bernostalgia.

2. Sherina come back dengan sosok Anggini

Anggini di Wiro Sableng. Source: id.bookmyshow.com
Anggini, sahabat Wiro  yang setia kawan. (foto diambil dari sini)

Sekian tahun Sherina tidak mengeluarkan karya, kini ia masuk dunia akting lagi. Film Wiro Sableng adalah film keduanya setelah Petualangan Sherina. Kalau diingat, dulu Sherina sering berantem dengan Sadam dan menyanyikan lagu "Jagoan", kini setelah dewasa, ia benar-benar jadi jagoan. Anggini yang diperankan Sherina adalah sahabat Wiro Sableng yang membantunya menghentikan pemberontakan yang dilakukan oleh Mahesa Birawa. Dengan lafal dialog yang jernih dan gerak silat yang juga bersih, Sherina sukses memerankan Anggini yang serius, galak, tapi setia kawan. Anggini mampu menjadi petarung yang anggun menemani perjalanan Wiro Sableng. Meskipun kemunculan awalnya kurang greget bersama Dewa Tuak, Anggini tetap pada porsinya sebagai time keeper bagi Wiro Sableng agar Wiro tak selalu sableng, sekaligus menjadi penyelamatnya.

3. Efek CGI yang pantas diapresiasi

Untuk ukuran film Indonesia, Wiro Sableng adalah film superhero fantasi bagus yang seharusnya kita apresiasi tinggi. Dengan dimotori oleh FOX Movies dan katanya ada 99 visual efect artists lokal yang bermain di belakang layar, visualisasi Wiro Sableng tidak main-main. Seluruh kreativitas pemuda kita dikeluarkan di sini. Filmmaker membuktikan bahwa negara kita bisa memproduksi film bagus, kok. Visual Wiro Sableng menjadi daya tarik luar biasa. Bahkan Junisatya yang ikut menemaniku nonton bilang, "Wah, Marvel-nya Indonesia, nih." Iya banget. Setiap karakter ditonjolkan dan setiap karakter juga mendapat porsi visual yang menarik. Adegan terbang-terbangan dituai dengan mulus. Sudut pencahayaan dan pengambilan adegan yang sifatnya kolosal juga tajam. Sedikit mengingatkanku dengan film Pendekar Tongkat Emas. Namun, efek CGI Wiro Sableng lebih bening.

Bidadari Angin Timur di Film Wiro Sableng. Source: id.bookmyshow.com
Bidadari Angin Timur yang super anggun. (foto diambil dari sini)

Adegan Wiro Sableng, Anggini, Rara Murni, dan Bujang Gila Tapak Sakti terdampar di sungai dengan bebatuan tinggi menjadi favoritku. Efek suara menggema dan pencahayaannya bagus. Lalu di sana juga pertama kali Wiro Sableng bertemu dengan Bidadari Angin Timur (Marsha Timothy) yang terbang turun dari khayangan. Kemunculan Bidadari Angin Timur memberi angin segar bahwa ada juga yang indah di film ini. Setelah pertarungan kelam dan hutan legam, Bidadari Angin timur membangun nuansa tambahan di Wiro Sableng, keanggunan yang berbeda, kostum yang cerah, dan adegan terbang yang mulus. Pemain di belakang layar pasti bekerja keras untuk adegan ini. Apalagi saat film memberikan porsi pertarungan untuk Bidadari Angin Timur di markas Mahesa Birawa dan istana, Bidadari Angin Timur bergerak khidmat tak tersentuh. Bahkan kain selendangnya pun tak terkoyak sedikit pun.

4. Adegan receh mengundang tawa

Makin banyak nonton film Indonesia, aku makin tahu bahwa dialog receh saja sudah mengundang tawa. Menonton film Wiro Sableng di studio bioskop bersama para bapak-ibu yang ingin bernostalgia, kupikir bakalan adem ayem. Namun ternyata, sepanjang film yang kudengar adalah gelak tawa dari seisi bioskop. Fenomena ini sempat kualami saat menonton Warkop DKI: Jangkrik Boss yang pertama. Dialog yang menurutku receh bisa bikin orang ketawa terpingkal-pingkal. Aku jadi insecure, ini aku yang selera humornya kurang atau memang para bapak-ibu ini butuh hiburan yang lebih banyak?

Tak kupungkiri, ada beberapa adegan di Wiro Sableng yang membuatku tertawa. Ketika Wiro Sableng muda ketemu dengan 'seniornya' di Wiro Sableng serial, cukup membuatku terkejut dan tertawa kontekstual. Iya, kontektual, hanya orang yang tahu dengan sosok Kenken sebagai Wiro Sableng di serialnya yang mengerti. Lalu, saat Wiro Sableng memainkan seruling dari gagang kapak maut naga geninya dan mendayulah musik dangdut di tengah adegan serius dan mencekam. Siapa yang tidak akan tertawa melihat joget nanggung Wiro Sableng dengan Bujang Gila Tapak Sakti yang kemudian dilerai oleh Anggini. Lalu, di bagian akhir saat Wiro dan Bujang Gila menyamar jadi penari istana. Lenggak-lenggoknya cukup mengocok perut. Aku sangat terhibur dengan sisipan komedi di film ini.

Sahabat Wiro Sableng. Source: idntimes.com
Tiga Pendekar Sakti. (Foto diambil dari sini)

5. After credit scene yang ditunggu-tunggu

Setelah film berakhir, layaknya film superhero Hollywood, film Wiro Sableng juga mengusung after credit scene yang akan menjadi bocoran untuk film berikutnya. Ada Abimana Aryasatya yang akan diturunkan untuk sekuel Wiro Sableng. Mari kita nantikan.

Untuk sementara, kita nikmati saja pertarungan kolosal, kostum yang menawan, adegan terbang-terbangan yang mulus dan nggak terkesan norak, serta keanggunan silat yang diusung di keseluruhan film ini. Vino G. Bastian merebut perhatianku. Ekspresinya jadi harga mati sebagai kelahiran karakter Wiro Sableng yang baru. FYI, penulis komik Wiro Sableng adalah ayah dari Vino. Jadi, mungkin ada keterikatan batin di antara mereka dan Vino sukses mendalami karakter khayalan yang diciptakan ayahnya.

Banyak yang berkomentar, begitu film berakhir, "Gitu doang?" Termasuk aku. Rasanya ada yang nanggung. Namun, balik lagi ke maksud cerita Wiro Sableng pada mulanya. Film ini memang hanya mengungkap asal-usul sang pendekar kapak maut naga geni 212. Tidak lebih. Dia menandai Mahesa Birawa sebagai lawannya ketika ia sadar bahwa Mahesa-lah yang membuatnya yatim piatu. Di sini ada pertarungan batin Wiro Sableng. Apakah ia akan memburu Mahesa Birawa untuk nafsu balas dendam atau demi menumpas sesuatu yang lebih besar? Ada ajaran dharma yang kuat diajarkan oleh sang eyang guru. Tentu saja tujuan akhir film ini, ya, pasti bertarung hidup dan mati dengan Mahesa Birawa. Kisah perebutan kekuasaan dalam nadi kerajaan menjadi bumbunya. Mungkin tidak kompleks, tapi tujuannya memang memanjakan yang ingin bernostalgia dan memberikan informasi lengkap kepada kaum muda. Sederetan karakter berada dalam peran masing-masing. Wiro sendiri sempat jatuh cinta pada pandangan pertama dengan putri kerajaan sebelum sang putri, Rara Murni mati terbunuh dalam perang saat ingin menyelamatkan Wiro Sableng. Gambar sangat bercerita banyak ketimbang dialog. Itulah Wiro Sableng.

Related Articles

2 komentar:

  1. Joss.. Catatan Anda sukses membuat saia akhirnya tertarik menonton film Wiro Sableng..
    Sama-sama punya masa kecil yang tak lepas dari Wiro Sableng "Ken Ken" haha

    ReplyDelete