In Abroad Land Journey Land

Jalan-jalan Pakai Pakaian Adat di Bulgaria

Apa yang kamu tahu tentang Bulgaria? Bagiku, Bulgaria adalah negeri dingin yang melahirkan laki-laki dingin tapi keren seperti Viktor Krum, pasangan Hermione dalam Yule ball di film Harry Potter and The Goblet of Fire. Seringkas itu aku mendefinisikan Bulgaria, ya.

Namun, siapa sangka aku bisa beneran menginjakkan kaki di negara penghasil bunga mawar merah muda itu. Siapa sangka aku terbang ke Bulgaria dan diam-diam ingin bertemu cowok keren Bulgaria yang mirip dengan Viktor Krum. Ah, Bulgaria tidak seperti dongeng dunia sihir yang diciptakan JK Rowling. Bulgaria lebih nyata dari itu.

Jalan-jalan pakat pakaian adat di Bulgaria. Source: jurnaland.com

Jalan-jalan pakai pakaian adat di Bulgaria (2). Source: jurnaland.com

добро утро  Индонезия
Dobro utro, Indoneziya (Selamat pagi, Indonesia)
Memasuki hari kedua di Bulgaria (aku sudah cerita Bulgaria hari pertama di sini), pagi-pagi suhu drop menjadi 10 derajat Celcius. Aku membuka jendela kamar dan membiarkan angin dingin masuk sebentar. Pagi ini aku sudah ada jadwal sendiri. Tepat pukul 8, di saat seisi Kota Veliko Tarnovo mungkin baru bangun, aku sudah harus siap-siap menghadiri talkshow di Eurofolk TV yang mengudara di seantero Eropa. Mariana, gadis Bulgaria yang menjadi pendamping kami selama event di sana akan menjemputku di lobi hotel sebelum pukul 8. Rasanya malas sekali menarik badan untuk bersiap-siap. Hawa musim semi dingin sekali. Jetlag masih menghinggapi. Batuk mulai menyerangku dan sedikit pilek menggerogoti badan. Tapi, the show must go on. Ibuku sampai membuatkan minuman hangat untukku, tak peduli aku sudah niat berpuasa atau tidak. Karena menurutnya, aku harus diberi energi tambahan akibat badan yang kaget menerima perubahan iklim yang ekstrem seperti ini. Jadi, yang kulakukan hanya pasrah. Aku sudah buka puasa pukul 7 pagi. Demi nama baik Indonesia, bukan?! Kalau aku tepar bahkan sebelum acara dimulai, aku tak punya pemeran pengganti.:)

Aku bersiap mengenakan pakaian adat Tengkuluk Tanduk untuk talkshow dan serangkaian pertemuan yang kuhadiri hari itu. Urusan kostum, Bundo sudah menyiapkannya dari awal. Pokoknya beliau juara dalam memilih kostum tradisional dan aksesorinya. Pakaiannya sendiri sudah berlapis-lapis, jadi tak perlu mengenakan jaket lagi. Hari itu aku akan didampingi oleh Anzal, salah satu penari yang untungnya bisa berbahasa Inggris. Mariana memang memintaku mewakili Indonesia berpasangan. Kali itu, partner berondongku ya dia. Sementara itu, anggota tim yang lain kubiarkan beristirahat sampai pukul 10. Kasihan mereka, masih jetlag dan langsung perform malam sebelumnya. Pasti letih sekali. Jam 10 mereka bisa langsung ke restoran untuk sarapan dan setelahnya bisa berdiskusi sebentar untuk penampilan malam kedua.

Kukira saat Mariana menjemput, mobil pun sudah tersedia di lobi hotel. Ternyata orang bule di sini sungguh sehat hidupnya. Jadi kami diajak berjalan kaki sekitar 10 menit dari hotel. What? Jalan kaki pakai songket???

Lokasi studio TV memang tidak terlalu jauh. Kami pun berjalan menembus hawa dingin musim semi Bulgaria pagi hari dengan penampilanku yang sungguh mencolok. Saat menyeberangi jalan, mobil-mobil berhenti dan memperhatikan kostum kami. Di sepanjang jalan di trotoar pun kami menjadi pusat perhatian. Tak sedikit orang yang menghampiriku untuk berfoto. Oh Tuhan, rasanya aku ingin menghilang saja. Baru kali itu aku mengenakan pakaian tradisional Minangkabau di negeri orang, berjalan kaki pula. Aku hanya bisa menertawai diri sendiri. Mariana pun sempat senyum-senyum berjalan bersama kami. Katanya, "I know what you feel." Iya, tapi dia nggak pernah jalan cepat pakai songket sempit dan heels, bukan? Lalu di kepala ada beban sanggul besar serta mahkota menyerupai tanduk kerbau. Nggak, dia nggak tahu rasanya. :)

Talkshow di Eurofolk TV tidak terlalu lama. Aku bertemu dengan perwakilan dari India. Sebelum on air, kami berbincang sebentar, berkenalan dan berfoto bersama. Sama sepertiku, teman dari India ini juga baru pertama kali ke Bulgaria. Namun, mereka lebih beruntung karena keberangkatan tim kesenian dari India didukung penuh oleh pemerintahnya dengan tim berjumlah hampir 30 orang. Sungguh jumlah yang timpang sekali dengan kami yang hanya ber-8. Mereka lebih leluasa memainkan komposisi. Sementara tim Indonesia menonjolkan live traditional music dari tim musik dan penari sekaligus. Tapi begitulah cara folklore bercerita. Setiap negara punya latar belakang tradisi lisan. Jadi bentuk dan media penyampaiannya akan berbeda.

Talkshow di Eurofolk TV Bulgaria. Source: jurnaland.com

Talkshow di Eurofolk TV Bulgaria (2). Source: jurnaland.com

Jalan-jalan pakai pakaian adat di Bulgaria (3). Source: jurnaland.com

Saat on air, kami dipandu oleh seorang host serta Mariana yang bertindak sebagai penerjemah bahasa. Jadi ketika kami berbicara bahasa Inggris, Mariana akan menerjemahkan ke dalam bahasa lokalnya. Ternyata tidak semua orang bisa berbahasa Inggris, jadi memang harus dipandu dengan penerjemah.

Kami berbincang tentang budaya Indonesia dan India, serta promosi tarian yang dibawakan pada malam kedua hari itu. Aku bercerita banyak tentang Kota Padang dan Minangkabau. Aku juga menjelaskan kostum adat yang kami kenakan serta beragam jenis permainan anak nagari yang dapat dikenalkan pada pemuda Bulgaria. Senang sekali mereka antusias dengan penampilan perdana kami malam sebelumnya. Aku mengenalkan celana galembong yang dikenakan penari saat membawakan tari indang bagalabuak pada penampilan perdana kami. Celana itu memang kerap dipakai sebagai pakaian anak laki-laki saat bermain. Celana galembong punya fungsi tambahan karena memiliki selaput di bagian tengahnya yang dapat dipukul. Aku menyebutnya "the pants with duck palm" untuk menjelaskan bentuk celana galembong. Suara tabuhan pada bagian tengah celana yang direnggangkan akan terdengar kencang menyerupai suara gendang. Teman dari India kami mengapresiasi jenis kostum yang bisa jadi alat musik sendiri itu. Senang sekali mereka menyukainya.

Usai talkshow di Eurofolk TV, Mariana mengantar kami kembali ke hotel untuk sarapan. Pukul 10 aku harus berangkat lagi menuju kantor Walikota Veliko Tarnovo untuk penyambutan dan pertemuan berbagai negara. Kali ini aku tidak berdua saja dengan Anzal, bundo ikut bergabung bersama kami sebagai pimpinan grup tari. Pertemuan di balaikota nanti dalam rangka ramah tamah dari perwakilan pemerintah Veliko Tarnovo sekaligus menjalin nuansa persahabatan dengan berbagai negara. Sebuah kehormatan bagiku saat bisa mewakili Galang Dance Community dari Padang dan sekaligus mewakili Indonesia untuk berpidato singkat mengenai keragaman budaya Indonesia. Pertemuan dihadiri oleh perwakilan 12 negara yang jadi peserta The World Cup of Folklore 2018. Kami juga saling bertukar souvenir dan berfoto bersama di rooftop Kantor Walikota Veliko Tarnovo.

Konferensi di Balaikota Veliko Tarnovo Bulgaria (2). Source: jurnaland.com

Konferensi di Balaikota Veliko Tanovo Bulgaria (2). Source: jurnaland.com

Konferensi di Balaikota Veliko Tarnovo Bulgaria (3). Source: jurnaland.com

Pertemuan dengan perwakilan Walikota Veliko Tarnovo dan pimpinan Euro Folk dalam tema Friends in Diversity berlangsung selama 2 jam. Setelah itu, aku kembali ke hotel lagi. Tampaknya hotel City tempat kami dan beberapa tim menginap memang berada di pusat kota Veliko Tarnovo. Jadi mau ke mana-mana serba dekat. Aku pun mulai terbiasa berjalan kaki mengenakan pakaian adat itu, menikmati sapaan ramah dari masyarakat lokal. Berkali-kali pula aku dibilang "beautiful" oleh mereka. Enggak tahu aja mereka, kalau di negeri sendiri, aku kerap disebut "gadis desa". Hahaha.

Siang itu masih pukul 12 lebih. Bahkan di sana belum masuk tengah hari. Karena waktu kami di Bulgaria sangat sempit, aku dan tim berencana berjalan-jalan di sekitar hotel. Kami punya waktu sekitar 3 jam untuk berkeliling sebelum sorenya harus siap-siap untuk unjuk penampilan kedua. Daripada para penari stres di kamar, kan. Mereka harus diajak jalan keluar.

Aku berganti pakaian sesegera mungkin, melepas konde, dan meninggalkan segala aksesori tradisional. Tapi make up nggak kuhapus. Akan memakan waktu lama jika aku harus treatment wajah dulu, apalagi sorenya kami harus make up lagi. Meski aku nggak ikutan nari, sebagai official grup ini, aku tetap harus tampil oke pakai kebaya, baju andalan di event internasional.


Jadilah aku berjalan-jalan di sekitar Veliko Tarnovo dengan keadaan shading masih melekat kuat dan bulu mata masih cetar panjangnya. Tak apalah, yang penting aku masih terlihat seperti gadis umur 20 tahun. Mariana saja percaya, kok. Masa kamu enggak?! :)

Veliko Tarnovo old capital town Bulgaria. Source: jurnaland.com


Veliko Tarnovo old capital town Bulgaria (2). Source: jurnaland.com

Veliko Tarnovo ini termasuk jenis kota tua yang dimiliki Bulgaria. Ada banyak sekali monumen dan gedung peninggalan bersejarah. Siang itu kami menikmati sederetan bangunan Eropa zaman dulu yang kini sudah menjadi toko-toko. Kami berjalan ke arah pusat perbelanjaan. Aku tidak terlalu tertarik untuk belanja pakaian atau aksesori lain karena tak ada yang terlalu istimewa di sana. Lalu sampailah kami di toko-toko souvenir. Rupanya memang area sana adalah area turis. Instingku mengatakan, kalau di sini banyak souvenir, tentu di sekitar sini ada pusat wisatanya. Aku harus ke sana jika memungkinkan secara jarak dan waktu. Namun, untuk kali itu, kami hanya berburu souvenir untuk oleh-oleh. Masa udah jauh-jauh ke Bulgaria, kami tak membawa apa-apa. Untungnya mereka sudah menukarkan uang ke mata uang leva yang nilainya sekitar 8000 rupiah.

Setelah berburu souvenir dan berfoto-foto bagai turis, aku menggiring tim tari ini untuk kembali ke hotel. Waktu 3 jam sudah habis. Mereka harus siap-siap make up dan ganti pakaian. Mariana akan menjemput pukul 5 sore. Uh, rasanya badan ini mulai meriang lagi. Terik sekali siang itu, berbeda dengan suhu pagi yang cuma 10 derajat Celcius. Aku minta waktu kepada bundo untuk tidur sekitar 1 jam tanpa diganggu, mumpung yang lain lagi sibuk make up. Aku malah ingin menghapus make up dan nggak berminat untuk make up ulang untuk acara sore hari itu. Aku hanya mau tidur.


Aku dibangunkan oleh bundo saat semua tim sudah siap berangkat ke venue. Dan, di luar hujan. Kabar kurang baik lagi adalah venue hari kedua itu adalah outdoor. Aku makin lemas. Setelah berganti dengan kebaya, kami pun langsung berangkat menggotong semua properti tari dan musik ke Summer Theater. Penonton sudah ramai meskipun hujan. Untungnya panggung cukup teduh. Bangku tribun dibiarkan basah tetapi antusias masyarakat Bulgaria tak berkurang meski hujan. Sepertinya, mereka mencintai hujan musim semi. Karena mereka tahu, musim semi akan berganti musim panas bulan depan. Aku salut dengan ketahanan tubuh mereka, tak sepertiku, yang kini ringkih. Baru kali ini aku melakukan perjalanan dalam kondisi sakit begini. Jangan tanyakan rasanya padaku. Sungguh tak enak.

Hari itu, grup kami membawakan Tari Piring Bajamba, yang diambil dari filosofi tradisi makan orang Minangkabau dengan duduk bersama. Tari karya Bundoku, Deslenda ini diapresiasi meriah oleh penonton. Aku nyaris terharu saat grup kami mendapat piala dan medali emas usai acara selesai. Rasanya lelah dan sakit di badan berkurang. Atraksi memecahkan piring pada akhir acara menjadi pamungkas pertunjukan kami menjelang malam. Aku senang bukan kepalang dan langsung memeluk tim kesayanganku satu per satu. Reporter Eurofolk TV langsung menghampiri kami ke ruang ganti peserta dan memintaku untuk wawancara tentang karya kedua kami itu. Saking senangnya, bahasa Inggrisku tak lagi patah-patah. Aku hanya mengungkapkan apa yang kami rasakan. Ketika mereka bertanya apa yang jadi ciri khas daerah kami? Aku cuma bilang, kamu harus datang sendiri ke kota kami dan melihat banyak sekali bangunan dengan atap menyerupai tanduk kerbau, seperti mahkota yang dipakai oleh setiap penari perempuan malam itu. Karena dari sanalah masyarakat Minangkabau mengambil filosofi hidupnya. Tarian ini juga mewakili satu potret makan bersama yang menjadi bagian penting dalam hidup bermasyarakat orang Minang. Wuuu, rasanya aku sok tahu menjabarkan satu kesenian tradisi lokal kita. Tapi tak apa, mereka harus tahu kalau Indonesia sekaya itu.

Tari Piring Bajamba Galang Dance Community di Bulgaria. Source: jurnaland.com

Penghargaan dari The World Cup of Folklore Bulgaria. Source: jurnaland.com

Penghargaan The World Cup of Folklore Bulgaria (2). Source: jurnaland.com

Penghargaan The World Cup of Folklore Bulgaria (3). Source: jurnaland.com

Sungguh hujan membawa berkah untuk Indonesia. Aku menobatkan hari itu sebagai hari terbaik kami di Bulgaria, meski seharian aku berjalan-jalan dengan pakaian adat dan jadi pusat perhatian orang.


благодаря, България
Blagodarya, Bulgariya (Terima kasih, Bulgaria)

Related Articles

12 komentar:

  1. si gadis desa yang go internasional..
    Saya kalau dengar kata gadis desa itu imagenya gadis yang cantiknya natural lho.. kayak kamuu..
    *gombal mode On*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Kak, kalau kamu ada di dekatku, aku ciyuuum deh. :))

      Delete
  2. Indonesia memang keren, wisata alamnya, budayanya dan adatnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. dan alhamdulillah dapat apresiasi di negeri orang. :)) Udah saatnya kita bangga dengan budaya sendiri.

      Delete
  3. Wuih, seru ya mbak. Klo aku sih seneng jadi pusat perhatian, selama itu hal yg positif.


    Terima kasih sudah membawa nama Indonesia jauh sampai ke Bulgaria sana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin aku harus membiasakan diri jadi pusat perhatian. Hahaha

      Delete
  4. Wow, awesome experience!
    Selamat ya, bener-bener beneran jadi duta Indonesia.

    ReplyDelete
  5. Selamat ya Hanum, keren banget, terharu bacanya..Hanum memang beautiful pisan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seneng deh bikin yang baca sampai terharu. Terima kasih Mba Dew. :))

      Delete
  6. wah mba.. selamat ya, kalau ak diposisi jadi warga bulgaria atau wni yg lagi di bulgaria dan liat kalian jalan kaki dengan pakaian daerah, pasti minta ajak foto bareng :D

    ReplyDelete