In Movie Land

Sajian Film Aruna dan Lidahnya Selezat Lorjok dan Bakmi Kepiting

Bulan September memang banyak film Indonesia bagus yang tayang di bioskop. Aku jadi keseringan piknik di bioskop, nih, menambah inspirasi dan membahagiakan diri. Sudah lama aku menunggu Aruna dan Lidahnya ini tayang. Satu film yang mengangkat kuliner Nusantara yang otentik menurutku. Aruna dan Lidahnya menjadi drama komedi yang sukses bikin lapar dengan berbagai gambar makanan yang tersaji. Makanan ini tak hanya jadi penghidang properti, tetapi menjadi topik utama di sepanjang film.

Kalau kamu tak percaya, silakan tonton filmnya sendiri. Buat yang sudah pernah baca novel Aruna dan Lidahnya karya Laksmi Pamuntjak, lupakan segala hal berat menyangkut konflik konspirasi di dalam novel itu. Karena film ini diadaptasi secara bebas dengan mengambil satu bagian yang menjadi penguat cerita. Jadi, lupakan yang berat-berat dari novelnya, ya, karena Dian Sastro dan Nicholas Saputra akan mengajak kita kulineran ke beberapa tempat: Surabaya, Madura, Pontianak, dan Singkawang. Ada Hannah Al Rashid dan Oka Antara yang memperkuat chemistry kita dengan makanan Nusantara. Ah, aku suka sekali film ini, dikemas dengan komedi santai dan tergelitik dengan beberapa ekspresi Dian Sastro alias Aruna yang praktis viral menjadi meme lucu di social media. Tak sedikit yang berkomentar kalau Dian Sastro ini jadi ratu meme Indonesia karena ekspresi dan dialognya di beberapa film box office-nya bisa dikatakan 'petjah'.

"Ada apa, ya, sebenarnya?"

Kalau kamu sudah nonton, pasti tidak asing dengan dialog yang diucapkan Aruna di pinggir jalan di kawasan Singkawang. Iya, ada apa, ya, sebenarnya dengan film ini? -dengan menirukan ekspresi Aruna.

Review Film Aruna dan Lidahnya (5): Source: news.bbmessaging.com

Aruna dan Lidahnya Film (4). Source: http://hiburan.metrotvnews.com/
Mereka sedang mencicipi lorjok, makanan khas Pamekasan, Madura. (Source: ini)

Review Film Aruna dan Lidahnya. Source: https://id.bookmyshow.com/
Aruna dan teman-temannya lagi makan malam di Surabaya. (Source: ini)
Review Aruna dan Lidahnya (8). Source: https://www.idntimes.com
Aruna, Bono, dan Nad makan soto lamongan di Surabaya. (Source: ini)

Aruna merupakan wanita karier yang masih jomlo. Ia adalah seorang konsultan ahli wabah yang sedang jenuh dengan pekerjaannya. Apalagi dia ditolak berangkat ke Jaipur lantaran sudah ada konsultan yang menggantikannya. Bono (Nicholas Saputra) yang merupakan seorang chef mencoba menghibur Aruna dengan membuatkan masakan beraroma India. Tapi entah kenapa, selera lidah Aruna kala itu tak seperti biasanya. Lebih hambar dan selalu kurang pas dengan rasa. Ia tampak lebih sering gelisah, entah karena apa. Di rumahnya, Aruna memasak nasi goreng sesuai resep dari mboknya, tapi rasanya tetap tak sama. Hmm, akhirnya  Bono ambil tindakan. Hidup Aruna terlihat hambar seperti makanan yang ia makan. Sebagai sahabat yang baik, Bono mengajak Aruna cuti biar mereka bisa kuliner di luar kota, mencoba banyak rasa, dan mendefinisikan rasa itu pada perjalanan hidup mereka.

Seperti gayung bersambut, ternyata Aruna dikirim ke beberapa daerah untuk investigasi virus flu burung yang mewabah di Surabaya, Pamekasan, Pontianak, dan Singkawang. Serta merta, Bono ikut dalam perjalanan dinas Aruna itu dengan tujuan berbeda: makan-makan. Ternyata di Surabaya mereka tak sendiri. Aruna disupervisi oleh Farish (Oka Antara) selama investigasi. Sementara Bono juga mengajak Nadezhta (Hannah Al Rashid) yang ikut menyusul kuliner trip mereka. Kebetulan, Nad juga seorang penulis tentang masakan dan merupakan teman lama Bono dan Aruna. Siapa sangka, perjalanan dinas + makan-makan itu pakai bumbu baper di antara mereka. Faris adalah cinta lama Aruna yang sudah ia kubur dalam-dalam, sementara Nad juga jadi cintanya Bono yang selama ini tak pernah ia ungkapkan. Ya, apakah sejuta rasa makanan yang dicecap oleh lidah mereka mampu mengantarkan 4 tokoh ini jujur pada rasa di hati? Biar nggak naksir-naksir sebel ala Aruna ke Faris, gitu.

Aku menyukai setiap filosofi yang diantar film ini lewat makanan. Seperti film Filosofi Kopi, Aruna dan Lidahnya menjadi trade mark baru dalam film Indonesia yang mengangkat sajian kuliner berbagai bentuk. Makanan seketika menjadi satu karakter sendiri yang seakan punya cerita di setiap suapnya. Sup buntut buatan Aruna di awal film menjadi menu pembuka. Belum apa-apa, perut ini terasa menggelepar. Coba saja saat nonton, makanan itu benar-benar disajikan secara nyata, ya. Dari belasan makanan, yang paling juara dan sangat ingin kucoba adalah lorjok dari Madura, bakmi kepiting Pontianak, pengkang di Singkawang, dan choipan. *lap iler.

Review Film Aruna dan Lidahnya (2). Source: https://id.bookmyshow.com/
Aruna dan Farish makan choipan di Singkawang. (source: ini)

Review Film Aruna dan Lidahnya (3). Source: https://jakartaglobe.id
Aruna dan sahabatnya makan bakmi kepiting Pontianak. (Source: ini)
Review Aruna dan Lidahnya (7).
Aruna, Bono, dan Nad sedang mencoba pengkang di Singkawang. (Source: ini)

Review Aruna dan Lidahnya (6)
Adegan gosip di kamar hotel sambil ngemil. (Source: ini)

Secara keselurahan, kemasan film ini menarik. Memang tak melulu tentang makanan, tetapi makanan selalu ada di setiap langkah, obrolan, bahkan konflik, khususnya yang menyangkut Aruna. Dan, semua yang terhidang di dalam layar sangat relate dengan kehidupan banyak orang. Bagaimana Aruna dan teman-temannya menggosipkan orang lain di kamar hotel sambil ngemil. Ini part juara sih. Bono, Aruna, dan Nad sebegitu naturalnya menggosipkan Farish yang ada di kamar sebelah. Siapa yang tidak pernah bergosip seperti ini? Apalagi saat traveling. Pasti banyak, kan yang relate sama adegan ini. Lalu, saat mereka berbicara tentang pekerjaan dan pacar, bahkan tentang hidup. Duh, itu sudah makanan sehari-hari orang kantoran, bukan, sih? Nah, sajian-sajian seperti ini yang ada di film Aruna dan Lidahnya. Nggak terlalu serius, tetapi bukan komedi yang sengaja dibuat-buat. Jadi, kita bisa bertahan menonton sampai film habis.

Meskipun permasalahan konspirasi kantor dan pekerjaan Aruna yang mengarah pada korupsi tidak diasah lebih jauh, Aruna dan Lidahnya tetap menarik. Ekspresi-ekspresi Aruna banyak macamnya. Belum lagi Nad yang entah kenapa kadang bikin kesal, tapi juga bikin sayang. Film ini lebih kurang tentang persahabatan orang 30-an yang kadarnya manis-asin-asam yang sama-sama akhirnya menemukan pencarian hidup mereka dalam perjalanan. Atau bisa juga menjadi sebuah perjalanan yang membuat hidup mereka berubah. Lidah Aruna yang tadinya hambar kini telah diisi dengan banyak rasa. Bono, Nad, dan Farish yang membawanya merasakan banyak pelajaran hidup itu. Untuk pertanyaan apakah mereka akhirnya hidup bahagia dengan pasangan masing-masing atau malah bertukar pasangan? Silakan tonton sendiri, ya. Asyik, kok.

Related Articles

2 komentar:

  1. Aku kelar nonton Aruna laper lagi, padahal sebelumnya udah makan, dan berhari-hari kemudian pengennya makan nasi goreng aja. Hahaha.

    Aku juga sempat baca bukunya jauh sebelumn film-nya rilis. Nggak habis. Ya mungkin ada beberapa hal berat yang dibahas di dalam buku. Tapi nonton film-nya rasanya lebih ringan. Aku paling suka tiap bagian makan. Presentasi makanannya biasa aja, nggak bagus banget, tapi justru inilah makanan kita sehari-hari. Jadi berasa film Aruna ini gue banget. Suka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kaan. Kelar nonton langsung laper. Aku juga. Penasaran sama resep nasi goreng yang dicari-cari Aruna bahkan sampai Pontianak itu. :))

      Delete