In Journey Land

Jelajah Sumbawa (II): Salam dari Bukit Mantar Sumbawa

Satu spot panorama terbaik di Sumbawa Barat adalah Bukit Mantar. Awalnya kusangka panorama bukitnya biasa aja. Tapi saat sampai di sana dan bermalam langsung di bawah langitnya, Bukit Mantar begitu menakjubkan. Dia menawarkan ketenangan, harmonisasi dengan alam, kesyahduan melewati menit demi menit waktu, dan kesegaran pikiran. Kalau kamu punya keresahan hidup di ibukota yang ramai, Bukit Mantar bisa jadi jawaban untuk bersembunyi sesaat. Tak salah aku memilih Bukit Mantar sebagai destinasi pertama kami saat menginjak Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Baca: Jelajah Sumbawa (I): Sambutan Hangat dari Poto Tano

Sebelum tengah malam, langit bertabur bintang. Sementara dari arah panorama, kami melihat lampu-lampu dari kapal yang sedang berlayar dan perumahan di bawah sana. Ketika malam mulai benar-benar gelap, aku, Junisatya, Ry, dan Rara mencari posisi paling baik untuk memotret milky way. Yah, selama hunting milky way, Ry sampai mengunduh aplikasi milky way hunter. Bukannya mendapat arah milky way yang tepat untuk memotret, kami malah belajar beberapa rasi bintang yang kami temui dari balik kamera aplikasi milky hunter. Ada Aquarius, Libra, Scorpius, Aries, Scutum, Auriga, Orion, Cancer, Gemini, Pegasus, Pisces, Taurus, Capricornus, Leo, dan Sagittarius. Semua tampak nyata di langit malam itu. Meski bukan fotografer profesional, memotret milky way cukup bikin kami puas malam itu. Walaupun hasilnya nggak bagus-bagus amat. Langit benar-benar bersih tanpa awan. Begitu terus, bertahan hingga pagi.


Sepanjang malam, aku mengecharge power bank dan lampu emergency kecil di pondok tak jauh dari tenda. Semua gadget kami harus dipenuhi daya listrik selagi bisa dan tersedia karena ada banyak petualangan yang kami alami setelahnya. Jadi, mumpung sang bapak penjaga camping ground menawarkan kebutuhan listrik meski cuma 2 colokan, lumayan untuk kami pakai bergantian. Hal ini layak untuk disyukuri, bukan?!

Kami makan malam dengan cahaya sangat minim tapi terasa nikmat walaupun cuma makan nasi pakai teri dan telur bulat. Bahkan nasi bungkus yang sudah kami bawa sebagai bekal malam ini benar-benar licin tandas. "Biasanya kalau nyokap gue masak beginian di rumah, gue nggak bakal makan. Paling makan seadanya. Kalau di sini, ini makanan mewah kita," kelakar Rara yang kekenyangan cuma dengan dengan teri dan telur bulat tanpa sayur. Kami bernyanyi-nyanyi lirih untuk mengusir sepi. Malam itu cuma ada kami berempat. Bukit Mantar ramai pada akhir pekan saja dengan berbagai aktivitas. Kami bersyukur dapat merasakan ketenangan puncak bukit Mantar. Untungnya suhu tidak terlalu dingin. Kami bertahan duduk di luar tenda sampai pukul 11 malam. Setelah itu, masuk ke tenda masing-masing karena nggak ingin telat dapat momen fajar.
Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (2) - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa salam dari bukit Mantar (3) - jurnaland.com
 

Aku terbangun pukul 5 subuh. Sungguh tidur yang nyenyak. Embun menyapa tenda kami. Terasa lembab kuraba dari dalam. Begitu keluar tenda, ada bulan sabit masih bertengger. Suara ayam terdengar akrab sekali, rupanya mereka sudah berkumpul di sekitar tenda. Ada beberapa anjing juga. Bahkan aku kaget saat mendengar ringkik kuda di balik pondokan tempat kami mengecharge power bank dan lampu emergency semalaman. Ada lapangan kecil di sana rupanya tempat kuda-kuda ditambatkan. Ada beberapa ekor kuda berwarna terang. Kok, semalam aku tak melihat mereka ya.

Dengan bersih-bersih seadanya dan sholat subuh, aku langsung mencari ufuk timur. Aku melihat anjing sedang duduk menatap sunrise. Bahkan anjing saja sadar ada momen emas setiap pagi di bukit ini. Berada di dataran tertinggi di Sumbawa Barat ini bikin aku bisa melihat Selat Alas yang memisahkan Pulau Lombok dengan Pulau Sumbawa. Ada Gunung Rinjani menjulang di seberangnya. Terlihat petak-petak sawah di bawah sana. Harmoni alam yang menyegarkan mata terhampar di depan mata. Momen matahari terbit jadi indah sekali. Apalagi didukung dengan langit yang super cerah. Sunrise kami sempurna. Kalau kamu ingin menikmati pagi cerah seperti yang kami lihat dan rasakan ini, kamu harus datang pada saat musim kemarau. Banyak rumput menguning tapi terlihat cantik di mata, apalagi di lensa.

Ada beberapa spot yang diimbuhi tulisan semacam meme yang dapat dijadikan foto lucu-lucuan. Tepat ke arah ufuk timur, ada tulisan dari kayu yang menggelitik kami: "Mantan Tak Secantik Mantar". Kalau ada yang sedang patah hati atau jomlo terlalu lama, Bukit Mantar mungkin obat dari kegalauan hati. Temanku Ry mengakuinya, mantan(nya) memang tak secantik Mantar. *eh gimana*

Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (4) - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (5) - jurnaland.com


Ada pula tulisan: "Salam dari Bukit Mantar" yang mengirimkan selamat pagi kepada dunia. Andai potretku dijadikan kartu pos dengan view Mantar pagi hari, salam dari Bukit Mantar ini akan tersampaikan kepada orang banyak. Ah, tak perlu dijadikan kartu pos. Cukup disebarkan di social media, orang-orang mengakui bahwa Bukit Mantar memang spot yang luar biasa indah.

Tak lama berpose dan tertawa-tawa, kami sarapan bersama sembari beres-beres. Tepat pukul 9, pick up yang kemarin telah kami sewa datang menjemput. Waktu yang cukup untuk mengabadikan momen di panorama Bukit Mantar yang cantik itu. Kalau kata Junisatya, memotret paling bagus itu memang saat pagi, sebelum matahari terlalu tinggi. Objeknya jadi makin keren karena dapat pencahayaan yang pas. Dan, aku setuju.


Jelajah Sumbawa salam dari bukit Mantar (6) - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (7) - jurnaland.com


Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (8) - jurnaland.com

Kami sempat mengobrol dengan bapak penjaga camping ground, kalau mau mandi, kami bisa turun ke kampung. Hanya beberapa meter dari puncak, tinggal ikuti jalan menuju perkampungan Desa Mantar. Di sana memang ada toilet umum di sebelah sebuah empang. Namun, kami urung mandi. Pertimbangannya ya biar menghemat waktu juga. Hari itu kami akan menyeberang ke Pulau Kenawa dan mencelupkan diri ke lautan. Jadi, tak usah mandi tak apa. Aku sudah bawa stok tisu basah yang cukup banyak untuk bebersih badan. Kami sempat melihat-lihat perkampungan Desa Mantar. Suasana desa sangat meriah dengan umbul-umbul di depan rumah. Sepertinya mereka senang menyambut HUT RI sekaligus Idul Adha saat itu. Atau, malah senang kedatangan kami?

Menyenangkan dapat melihat kegiatan pagi orang-orang Mantar. Hidup mereka sesantai mentari yang perlahan naik. Sangat tenang. Ada anak-anak kecil yang bermain di teras rumah panggung mereka. Rata-rata rumah penduduk di sana dibuat dengan bentuk rumah panggung. Pembagian petak-petak tanahnya pun cukup rapi. Setiap rumah tak punya banyak lahan untuk halaman, tetapi yang enak dipandang adalah rumah-rumah yang masih belum dipisahkan pagar. Setiap blok rumah tampak menyatu. Masyarakatnya pun menyatu. Apalagi saat melihat kampung ini cukup bersih, bebas sampah.

Di puncak Bukit Mantar sendiri, di area kemah kami, sudah disiapkan tong sampah yang cukup besar. Rupanya penduduk lokal sini punya kesadaran yang tinggi terhadap kebersihan lingkungan. Kalau bukan dari diri sendiri, siapa lagi, kan?! Setiap pekemah seharusnya sudah punya kesadaran diri juga untuk tidak meninggalkan sampah sembarangan di sekitar kemah. Itu yang kami lakukan saat akan meninggalkan Mantar. Kami mengumpulkan sampah ke dalam satu kantong plastik besar dan membuangnya di tong sampah yang tersedia.

Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (9) - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa Salam dari Bukit Mantar (10) - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa salam dari bukit Mantar (11) - jurnaland.com

Jelajah Sumbawa salam dari bukit Mantar (12) - jurnaland.com

Setelah puas bermain-main di sekitar kemah, kami memutuskan untuk packing, melipat kembali tenda untuk disusun rapi di dalam ransel. Biasanya packing adalah hal paling tidak ingin kulakukan. Namun, entah kenapa, pagi itu aku semangat sekali. Selain karena tujuan kami ke Bukit Mantar terlaksana dengan segala cerita di balik perjalanannya, aku bongkar muat tas ransel dengan view Panorama Mantar.  Biasanya kan packing di dalam ruangan dengan view kamar yang berantakan. Tapi kali ini, alam terbuka memang obat segala penyakit, termasuk penyakit malas.

Begitu semua beres packing, kami menaikkan barang-barang ke atas pick up. Kami pun pamit kepada bapak penjaga camping ground ini, yang mengurusi peternakan ayam dan kuda di puncak Bukit Mantar. Setelah memastikan tidak ada barang yang ketinggalan, kami pun melaju turun, kembali ke Pelabuhan Poto Tano. Malam itu kami akan kemah di Pulau Kenawa. Another place, another adventure.

Terima kasih, Mantar yang manis. Sampai ketemu lagi.

Things to do in Bukit Mantar

1. Kemping (kalau tidak bawa tenda, dapat menyewa tenda ke bapak penjaga camping ground yang aku ceritakan. Rumahnya tidak jauh dari area kemah)
2. Sunset Hunting
3. Milky Way Photograph Hunting
4. Sunrise Hunting
5. Berkuda (Ada hamparan padang tempat kuda ditambatkan)
6. Paralayang (Saat kami ke sana, tidak ada paket paralayang dibuka karena bukan akhir pekan)
7. Berjalan-jalan, jajan, dan sarapan pagi di Desa Mantar


Related Articles

16 komentar:

  1. PEMANDANGANNYA JUARA BANGET, KAAAKKK! Laut, sawah, dan perbukitan dalam satu bingkai.

    Jadi Bukit Mantar ini butuh waktu berapa lama untuk didaki?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku sih naik pick up sewaan kak yang emang khusus mengantar pengunjung dari Poto Tano ke puncak Bukit Mantar yang cuma 1 jam. Kalau trekking aku kurang tahu berapa lama. Bisa 6-8 jam mungkin. :)

      Delete
  2. cantik bgt pemandangannya.. dapat hamparan bintang, rumput savana, pemandangan laut dan sunrise.
    kukira bukit ini untuk menikmati senja saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa tapi aku belum bisa motret bintang dengan baik nih Kak. Ajarin dong. *eh

      Delete
  3. Duuuh membaca deskripsi Hanum di Bukit Mantar saat fajar ini bikin aku ingin lari saja ke sana. Indah banget.Bahkan anjing ikut terpesona

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, indah banget kalau lagi cerah begini. Kalau ke sana memang pas musim kemarau waktu terbaiknya biar dapat sunrise kece Uni. :))

      Delete
  4. (((anjing saja tahu ada cahaya keemasan)))

    Kutil kamu hanum. Hft!!!
    Aku catat beberapa poin penting utk berkunjung ke mantar. Terima kasih hanum!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lho, aku salah ya Ben. hahahaha. Kalau kamu ke Mantar, ajak aku yaah. :D

      Delete
  5. Enak ya mbak, karena berqda di ouncak, jadinya dapat sunrise dan juga sunset :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, berada di Bukit Mantar bisa liat 2x golden moment kak

      Delete
  6. been there, dan jatuh cinta dengan tempat ini, dengan anginnya, dengan sejuknya, dengan viewnya, dengan suasananya, diajak lagi juga keknya aku gak keberatan hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Mba. Aku pun juga begitu. Kalau ada yang ngajak ke sana, aku ngacung nomor 1 kayanya. :))

      Delete
  7. foto-fotonya apik kali sih, emang bener kudu kejar sunset dan sunrise pas di puncak gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus Koh. Ngecamp di sana semalam, bagus buat ketenangan batin. :))

      Delete