In Journey Land

Ke Jogja Lagi, Kenalkan 6 Wisata Heritage Jogja kepada Teman-Teman se-ASEAN

Aku baru saja melalui hari-hari menyenangkan di Yogyakarta. Ya, Yogyakarta lagi. Yogyakarta selalu memberikan suasana berbeda setiap aku datang ke sana. Sebuah kehormatan diundang oleh Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta untuk menghadiri perayaan HUT ke-263 di Wayang Jogja Night Carnival 2019. Itu artinya aku merayakan ulang tahunku juga di kota kenangan itu. HUT Jogja dengan ulang tahunku cuma beda sehari. Saat Wayang Night Carnival ditutup dengan kembang api dan konser DJ hingga tengah malam, saat itu pula ulang tahunku menjelang. Ah, aku senang sekali mendapat undangan untuk datang ke Yogyakarta kali ini. Aku ingin mengenal Yogyakarta lebih dekat lagi, tak cukup hanya dengan sekali atau dua kali datang.

Yang lebih istimewa dari perjalanan ini adalah aku bisa bertemu dengan media, influencer, travel blogger, dan content creator dari beberapa negara ASEAN. Karena itu aku menyebut perjalanan ke Jogja ini adalah bagian dari ASEAN media fun meeting. Aku punya teman-teman baru dari beberapa negara, ada Singapura, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Kedengarannya seru, ya.

6 Wisata Heritage Jogja

6 wisata Heritage Jogja-Kotagede

Jadi, di blogpost kali ini, aku mau cerita tentang perjalanan selama Jogja Famtrip 2019 bersama teman-teman baru yang seru ini. Satu hal yang membuat setiap perjalanan itu berkesan meskipun kita sudah berkunjung ke tempat itu berkali-kali adalah ada kejadian apa di sepanjang perjalanan dan siapa yang sedang bersama kita dalam perjalanan itu. Tentu saja di Jogja, aku punya cerita perjalanan baru yang membuat kota itu tak pernah membosankan. Aku mengukir kesan baru bersama teman-teman baru selama keliling Jogja, mengunjungi berbagai lokasi wisata otentik daerah istimewa itu.

Mulanya, saat aku melihat itinerary perjalanan Jogja Famtrip 2019, aku merasa sepertinya destinasi yang kami kunjungi terlalu biasa. Ternyata aku salah besar dan aku belajar satu hal lagi, yaitu ketika kamu ingin mengenalkan Yogyakarta yang istimewa kepada orang dari mancanegara, bawalah mereka ke tempat-tempat otentik yang benar-benar menyimpan sejarah akar pembentukan peradaban Jawa di Yogyakarta. Yogyakarta kaya dengan sejarah dan budaya. Itu yang membuat Yogyakarta berbeda dari kota-kota lain. Karen itu, kunjunganku kali ini ke Jogja adalah tentang wisata heritage. Mari kenalkan beberapa wisata heritage di Jogja untuk teman-teman baruku dari berbagai negara ini.

Jika kamu sama sepertiku, punya teman jalan dari mancanegara, kenalkanlah Jogja dari beberapa tempat bersejarah di bawah ini. Tempat-tempat ini akan membantumu mengenalkan kehidupan Jogja dengan segala keanggunan masyarakatnya.

1. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Kalau ke Jogja tapi belum pernah mampir ke Keraton, rasanya perjalananmu belum lengkap. Termasuk aku. Berkali-kali ke Jogja, tak sekali pun pernah aku mengunjungi istana kerajaan Sultan Hamengkubuwono X ini. Akhirnya dalam trip bersama teman-teman se-ASEAN ini, aku berkesempatan melihat-lihat megahnya istana yang masih berfungsi sebagai pusat kesultanan Yogyakarta.

Keraton Yogyakarta-wisata heritage Jogja

Keraton Yogyakarta merupakan istana kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Seperti yang kita sama-sama tahu, Yogyakarta menjadi salah satu provinsi dengan sebutan Daerah Istimewa di Indonesia karena daerahnya dipimpin oleh raja atau sultan. Bahkan, hingga kini, Yogyakarta menjadi satu-satunya provinsi yang masih bersifat kerajaan di tengah negara republik ini. Sultan Hamengkubuwono X telah menjadi raja yang diangkat secara turun-temurun dari keluarga sultan. Beliau pula yang secara otomatis menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Oleh karena itu, Keraton Yogyakarta menjadi destinasi wajib buat kamu yang datang ke Yogyakarta. Ada banyak kisah dari kesultanan Ngayogyakarta yang berhubungan dengan sejarah perjuangan kemrdekaan Indonesia.

Melihat Keraton, itu artinya melihat potret kehidupan Jawa. Aku memasuki area keraton yang disambut para abdi dalem kesultanan. Halaman bagian dalamnya cukup luas. Ada beberapa koridor yang tidak boleh diinjak oleh pengunjung. Kami hanya dibolehkan memotret beberapa bangunan dari jauh, khususnya gedung kediaman Sultan Hamengkubuwono X.

Wisata Heritage Jogja-Keraton Ngayogyakarta

Keraton Yogyakarta-wisata heritage Jogja (2)

Mengunjungi Keraton jadi satu destinasi wajib buat para pengunjung khususnya pengunjung asing. Aku senang bisa menemani teman-teman baru kami yang luar biasa bersemangat berkeliling kompleks keraton. Aku juga mengunjungi museum milik Sultan yang berisi koleksi pribadi Sultan dari masa kecilnya. Banyak sekali sudut-sudut menarik untuk difoto. Arsitektur bangunan Jawa tradisional memang menjadi daya tarik utama. Tidak heran kalau tiba-tiba aku dan beberapa teman menghilang dari kerumunan rombongan yang mendengarkan tour guide bercerita tentang sejarah Keraton Yogyakarta. Kami berfoto di setiap sudut, setiap pintu unik, di depan bangunan yang berbeda, di tengah ruangan yang punya ukiran dan corak warna mencolok, di setiap koridor, gapura, pilar, sampai aku tak dapat menghitungnya lagi. Sampai-sampai kami dicari oleh seorang panitia yang mengatakan bahwa waktu sudah habis.

2. Pasar Beringharjo

Kalau kamu datang ke suatu kota atau daerah dan ingin melihat bagaimana masyarakat lokalnya berinteraksi serta membentuk kebudayaan mereka, berkunjunglah ke pasar tradisional. Satu pasar tradisional yang terkenal sekali di Yogyakarta adalah Pasar Beringharjo yang masih berada dalam kawasan Malioboro. Pasar ini berlokasi di pusat Kota Jogja dan ramai sekali. Pasar ini cukup terkenal karena menjual segala jenis kain batik, pakaian, souvenir, jajanan tradisional, kerajinan tangan yang harganya amat murah. Tidak heran kalau ke Jogja, orang-orang akan selalu mampir ke pasar rakyat yang menjadi pusat ekonomi Kesultanan Yogyakarta.

Lokasi Pasar Beringharjo tidak terlalu jauh dari Keraton Yogyakarta. Jadi kami naik shuttle bus dari gerbang keraton ke arah Bank Indonesia, lalu berjalan kaki ke area pasar. Di pasar ini, rombongan media dan influencer berpisah untuk berbelanja dengan tenggat waktu lebih kurang 2 jam. Aku dan Kak Awie menemani beberapa teman kami dari Singapura dan Malaysia, sebut saja namanya Meranjovfi, Ashraf, dan Hyrul. Karena orang lokalnya cuma aku dan Kak Awie, entah kenapa aku menjadi personal guide teman-teman dari negeri jiran ini untuk berbelanja di pasar. Ada yang mencari batik, kain tenun, pakaian batik, baju kaus khas Jogja, dan lain-lain. Aku yang tidak berniat belanja, jadi ikut-ikutan mengubek-ubek kain batik yang beragam motifnya. Pasar Beringharjo memang surga belanja oleh-oleh Yogyakarta. Asal tawar-menawarnya pintar, kamu bisa dapat harga murah di pasar ini.

Wisata Heritage Jogja-Pasar Beringharjo

Wisata Heritage Jogja-Pasar Beringharjo

Seperti satu teman kami, Ashraf dari Malaysia. Dia sudah meniatkan belanja titipan keluarganya. Ini juga kali pertama iya datang ke Jogja. Dia akhirnya memborong total 9 item pakaian batik, baik celana, kemeja, maupun baju kaus. Total uang yang ia keluarkan senilai Rp350.000. Ternyata tanpa aku bantu pun, dia sudah punya bakat tawar-menawar. Aku hanya memancing sekali untuk membantunya belanja, setelahnya ia tawar-menawar sendiri. Yang penting di Beringharjo adalah trik menawar harga semurah mungkin karena mumpung di Jogja, belanja batik adalah sebuah keharusan. Apalagi bagi yang datang jauh-jauh dari luar negeri.

Tak terasa 2 jam waktu di Beringharjo untuk berbelanja sudah habis. Sepertinya waktu segitu sangat kurang. Bahkan aku dan teman-teman belum sempat menjajal lantai dua dari pasar ini. Jadi lantai dasar merupakan pusat kain-kainan batik, sementara lantai 2 lebih banyak menjual souvenir dan kerajinan tangan. Nah, aku sangat menyesal belum sempat mengajak teman-teman baru ini melihat-lihat souvenir unik buatan tangan warga Jogja. Mungkin di lain kesempatan, ya.

3. Tugu Pal Putih (Wayang Jogja Night Carnival 2019)

Kalau ingin melihat rupa pesta hari jadi Kota Yogyakarta, pastikan kamu datang pada awal Oktober, ya. Event Wayang Jogja Night Carnival jadi event tahunan kota ini setiap tanggal 7 Oktober yang berlokasi di Tugu Pal Putih. Aku merasa terhormat menjadi undangan dalam perayaan HUT Jogja yang ke-263 tahun ini. Sesemarak apa event-nya? Setelah beberapa kali wara-wiri melihat carnival, aku bisa bilang kalau Wayang Night Carnival 2019 ini adalah yang terbaik.

Dengan lighting yang sangat memadai, berlokasi tepat di persimpangan Tugu Pal Putih Jogja, setting bangku penonton VIP tertata rapi, kemeriahan Wayang Night Carnival 2019 sungguh menarik perhatian. Aku dapat bocoran bahwa ada sekitar 60.000 orang yang mengerumuni jalanan sepanjang carnival. Bersyukur sekali aku bisa duduk manis tepat di sisi panggung.

Yang menarik malam itu, setelah pagi harinya aku mengunjungi Keraton Yogyakarta, ternyata suguhan tema Wayang Night Carnival malam itu adalah Wayang Kapi Kapi. Ini adalah salah satu jenis cerita wayang yang biasanya dinikmati orang keraton Jogja. Dari sekian banyak versi cerita wayang, Ramayana dan Mahabharata, mungkin jenis Kapi-Kapi ini tidak banyak yang mengangkat. Tidak banyak juga masyarakat yang mengenal wayang ini.

Kapi-Kapi adalah cerita tentang pasukan kera dari kisah Ramayana versi Jogja. Kapi-Kapi membantu Hanoman saat melawan pasukan raksasa di Kerajaan Alengka. Pada Wayang Night Carnival ini, ada 14 karakter kera berwujud jenis binatang lain, mulai dari burung, harimau, singa, ikan, kelinci, dan sebagainya. Aku melihat kreasi hiasan wayang yang dibuat oleh perwakilan 14 kecamatan yang ada di Yogyakarta. Ada berbagai atraksi, tarian, nyanyian, hingga komposisi yang luar biasa menarik sesuai karakter wayang yang mereka bawakan. Aku sangat menikmati paradenya malam itu. Begitu juga dengan teman-teman mancanegaraku. Melihat ulah kera dalam berbagai wujud tentu mengandung unsur jenaka. Pada dasarnya cerita tentang Hanoman memang tak pernah membosankan karena tingkah jenakanya.

Wayang Night Carnival 2019

Wisata Heritage Jogja-wayang

Wisata heritage jogja-wayang

Meski teman-temanku tidak paham makna dari cerita wayang, terlihat sekali mereka menikmati suguhan parade sebagai wujud karya kebudayaan masyarakat Jogja. Mereka sangat mengapresiasi itu.  Mulanya mereka membayangkan pertunjukan wayang tradisional yang menggunakan bayangan dan layar putih. Aku mengatakan bahwa di event ini semua dikemas lebih modern dan lebih megah lagi. Orang-orang akan tampil membawakan karakter wayangnya sendiri lalu dipertunjukkan dengan kreasi masing-masing. Dan, benar saja teman-teman baruku ini terpukau. Ternyata konsep pertunjukan wayang itu bisa sangat variatif. Aku senang dapat sedikit menjelaskan kisah wayang Ramayana versi Jawa pada mereka yang pada dasarnya garis besar ceritanya pun sudah diketahui banyak orang karena berasal dari India.

4. Kotagede

Mengunjungi Kotagede adalah pengalaman baru bagiku. Mulanya aku hanya tahu bahwa Kotagede ini adalah kota kerajinan perak di Jogja (City of Silver). Ternyata Kotagede menyimpan kisah lebih dalam dari sekadar kota pengrajin perak. Jika kamu menyukai bangunan-bangunan klasik Jogja, kamu harus datang ke Kotagede. Kotagede dulu sekali adalah pusat peradaban Kerajaan Mataram Islam. Dengan kata lain, melihat sejarah kejayaan Kerajaan Mataram Kuno (Hindu) yang berpindah-pindah pusat pemerintahan, lalu beralih ke Kerajaan Mataram Islam, Kotagede menjadi saksi bisunya. Daerah ini merupakan akar dari peradaban Yogyakarta kini.

Memasuki Kotagede, nuansa klasik Jawa langsung terasa. Aku melewati beberapa rumah dengan gaya arsitektur tradisional Jawa, sebuah langgar tua, bangunan perpaduan arsitektur Eropa dan Jawa, hingga sebuah masjid tua. Kata orang, ada banyak pintu di dalam gang-gang sempit yang bisa dijadikan lokasi foto menarik. Perjalanan kami di Kotagede tertumbuk pada sebuah gapura bata yang tinggi mirip candi Hindu. Begitu masuk ke dalam, ada sebuah masjid tua dengan atap berbentuk joglo. Rupanya ini adalah Masjid Gedhe Mataram atau Masjid Agung Kotagede yang menjadi salah satu masjid yang dibangun pada masa Kerajaan Mataram Islam. Tepat di sebelah masjid, kita bisa berziarah ke makam raja-raja Mataram Islam.

Makam Raja Mataram Islam Kotagede

Jogja Famtrip 2019-wisata jogja

Makam Raja Mataram Kotagede, wisata heritage Jogja

Kawasan makam Kerajaan Mataram Islam ada di 2 tempat, di Kotagede dan Imogiri. Namun, pendahulu Kerajaan Mataram Islam justru dimakamkan di Kotagede, yaitu Ki Ageng Pemanangan, pendiri Kerajaan Mataram Islam, Panembahan Senopati, raja pertama, dan Panembahan Hanyakrawati, raja kedua Kerajaan Mataram Islam.

Bagi yang ingin berziarah, ada syarat yang harus dipenuhi pengunjung. Kita diwajibkan untuk mengenakan pakaian tradisional Jawa peranakan, seperti pakaian yang dipakai abdi dalem keraton. Aku mengenakan kemben dari kain lurik dan kain batik sebagai bawahannya. Meski sudah berpakaian ala gadis Jawa, aku yang berhijab tetap tidak boleh masuk ke kawasan makam dengan alasan pakaiannya tidak boleh tertutup. Peraturan ini cukup mengikat dan tidak dapat dinegosiasi.

Namun, aku bisa mengambil sisi positifnya. Buat teman-teman yang berhijab, kamu masih bisa menyewa pakaian tradisional Jawa seperti yang aku kenakan seharga Rp15.000. Jangan lupa bawa manset dan hijab berwarna kalem. Setelah itu kamu bisa puas berfoto di sekitar makam dan lingkungan masjid. Tembok-tembok bata merah dan gapuranya sungguh cantik jadi latar foto. Beginilah sisa kejayaan Kerajaan Mataram Islam yang menjadi cikal bakal Keraton Ngayogyakarta kini. Berfoto dengan pakaian tradisionalnya sungguh membuat nuansa fotomu syahdu.

5. Candi Borobudur

Awalnya aku bertanya-tanya, mengapa Candi Borobudur masuk ke dalam itinerary Jogja Famtrip 2019. Namun, jika kamu traveling bersama teman-teman dari negara lain, kamu harus benar-benar mengenalkan pucuk-pucuk hasil kebudayaan yang telah dikenal dunia. Salah satunya ya Candi Borobudur yang masuk dalam daftar UNESCO Heritage Site sejak tahun 1991.  Tentu, bagi yang baru pertama kali ke Jogja, teman-temanku sangat ingin melihat kemegahan candi Buddha terbesar di dunia ini. Secara lokasi, Candi Borobudur ini sudah bagian dari wisata Magelang, Jawa Tengah. Namun, secara akses, berkunjung ke Candi Borobudur selalu masuk ke dalam bagian trip Jogja karena lebih dekat jika kamu berangkat dari Kota Jogja. Karena itu pula Candi Borobudur menjadi pilihan wisata candi di Jogja Famtrip 2019 ini.

Candi Borobudur-wisata heritage Jogja

Wisata Heritage Jogja-Candi Borobudur

Kami tiba di komplek Candi Borobudur ini lewat tengah hari. Aku sudah menyiapkan topi dan kacamata hitam, serta sunscreen untuk mengeksplor sekeliling Candi Borobudur. Karena ini kali kedua aku menginjak Candi Borobudur, aku sudah memperhitungkan kondisi cuaca yang teramat terik itu. Aku sudah pernah menulis kisah Candi Borobudur di sini. Dulu, aku berangkat ke candi peninggalan Dinasti Syailendra ini pagi-pagi sekali, saat matahari baru saja terbit. Itu adalah satu waktu terbaik mengunjungi Borobudur.

Namun, jangan khawatir, panas memang menyengat, aku dihibur oleh angin sore lembut yang bertiup ke sekeliling candi. Meski sudah pernah ke candi ini sebelumnya, tetap saja saat mengunjungi situs peninggalan dunia ini, aku selalu membawa pulang pengalaman baru. Kenapa? Menjelang sore, suasana  candi yang dibangun sejak abad ke-800 Masehi ini makin asyik. Matahari perlahan turun dan berwarna oranye. Wah, tampaknya golden hour di Candi Borobudur selalu menarik, ya. Warna keemasan dari bias matahari sore menjadikan candi yang dibangun kembali pada masa Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Raffles ini semakin eksotik.

Wisata Heritage Jogja, Candi Borobudur

Karena weekdays, aku merasa punya privilege saat berkeliling candi, melihat stupa, arca, mengamati relief batu-batunya, berfoto di sela-sela bangunan dari batu vulkanik itu. Candi Borobudur sangat sepi hari itu. Rupanya semakin sepi, semakin syahdu nuansanya. Aku lega dapat menikmati Candi Borobudur tanpa harus bersilangan jalan dengan banyak orang. Berfoto pun bisa puas sekali.

6. Istana Air Taman Sari

Istana Air Taman Sari juga salah satu destinasi wajib jika ingin mengenal Jogja lebih dekat. Sebenarnya destinasi populer di Jogja ini tidak ada dalam itinerary Jogja Famtrip kami. Namun, saat kami punya extra time untuk stay di Jogja, aku lebih memilih menemani teman-teman Malaysia-ku ke Istana Air Taman Sari. Padahal sebelumnya aku ingin ke Studio Gamplong Jogja yang jadi lokasi film Bumi Manusia. Katanya studio itu jadi terlihat cantik dengan nuansa Jawa tahun 1920-an. Tapi karena lokasinya agak jauh dari pusat kota dan rasanya lebih menarik untuk mengenalkan wisata heritage lainnya di Jogja kepada teman-teman se-ASEAN ini, Istana Taman Sari adalah tempat yang tepat. Kala itu, aku benar-benar menjadi personal guide mereka karena aku sendiri sudah kali ketiga mengunjungi istana dengan tembok pastel itu.

Tips berkunjung ke Istana Taman Sari adalah datang sebelum pukul 9 pagi, antre di loket sampai loket buka. Setelah itu berhamburanlah di sekeliling istana. Saking populernya tempat ini, Istana Taman Sari sudah dikerumuni orang bahkan sebelum gerbangnya dibuka, tidak peduli weekdays atau pun weekend. Setiap hari selalu ramai wisatawan.

Wisata Heritage Taman Sari

Wisata Heritage Jogja-Taman Sari

Wisata Heritage Taman Sari (3)

Istana Taman Sari ini dulu adalah kebun istana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Jadi, meski lokasinya agak jauh dari istana Keraton, Istana Taman Sari masih termasuk kawasan istana zaman dulu. Kebayang kan betapa luasnya istana Keraton Yogyakarta. Sultan Hamengkubuwono I membangun kebun istana ini pada tahun 1758. Sudah tua sekali ya. Luasnya bahkan lebih dari 10 hektare. Dulu lokasinya membentang dari kompleks Kedhaton hingga kompleks Magangan. Namun, karena peradaban berkembang, penduduk semakin banyak, bangunan pun sudah seringkali diserang pada masa perang, bangunan Taman Sari yang dapat kita nikmati saat ini ya hanya bagian kecilnya.

Beberapa bagian dari kompleks kebun keraton ini, beberapa bangunan seperti gedung dengan tembok tinggi dan gapura yang megah difungsikan sebagai benteng pertahanan saat istana diserang. Ada beberapa bagian dari kawasan Taman Sari kini yang merupakan kolam pemandian. Ada 3 bagian kolam pemandian, Umbul Kawitan untuk putra-putri raja, Umbul Pamuncar untuk para selir, dan Umbul Panguras untuk sang raja. Setiap kolam itu dikeliling tembok-tembok tinggi dan menara. Bentuk bangunannya merupakan hasil perpaduan bangunan Jawa, Eropa, dan Cina. Ada pula nuansa-nuansa Hindu yang melekat pada bangunan-bangunan di Taman Sari. Itulah yang membuat Taman Sari begitu digemari sebagai tempat wisata heritage sekaligus wisata selfie.

Lihat, kan, bagaimana Jogja membuat semua orang jatuh cinta? Seorang temanku, Meran dari Malaysia, memberikan satu testimoninya tentang Jogja yang baru pertama kali ia kunjungi. Dia berkata, "Jogja itu berbeda dengan Jakarta dan Bandung. Jika Jakarta merupakan kota urban, Jogja lebih tradisional dan artsy. Berada di Jogja seperti berada di dimensi berbeda." Kata yang lain, setiap sudut Jogja itu photogenic karena ada perpaduan sentuhan seni, craft, dan nilai tradisionalnya yang membuat semua tampak manis. Siapa yang setuju?

Related Articles

27 komentar:

  1. kangen jogja nih, eh bsk minggu mo kesana

    ReplyDelete
  2. Yogyakarta memang selalu ngangenin. Gak cukup sepuluh kali saya ke sana. Dan itu selalu saja bikin ketagihan ingin ke sana lagi. Btw meski telat, selamat ulang tahun ya...

    ReplyDelete
  3. Aih jadi kangen ke Yogyakarta pas liat foto foto kecenya, mba. Tapi aku kayaknya belum pernah ke kota gede, mba. Penasaran buat datangin suatu saat nanti :/

    ReplyDelete
  4. Jogja memang identik dengan wisata heritage ya. Semoga semakin inovatif pengembangannya dan sll terawat

    ReplyDelete
  5. Aku dong bolak balik Yogya belum pernah ke pasar beringharjo. Lama2 penasaran juga pengen ke sana, pengen liat2 cuci mata. Siapa tahu pulang bawa bungkusan. Hehehehe..

    Btw asik banget foto di taman sari pas ada airnya! Terakhir ke sana airnya kosong dong. Hahaha

    ReplyDelete
  6. Berkali2 ke Jogja, rasanya engga pernah bosaaaaannn, selalu ada spot yg menarik untuk di-explore.
    Bener kata orang, Jogja emang kota berhati mantan #eaaaa
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  7. Makasih mbak sudah diajak jalan-jalan ke beberapa tempat kece di jogjakarta. Aku belum pernah ke semua tempat itu. Berharap bgd suatu saat bisa ke sana.

    ReplyDelete
  8. Jogja selalu nganginin untuk dikunjungi. Aku belum pernah yang nomer tiga nih, tahun depan di awal Oktober jadi pengen juga melihat Event Wayang Jogja Night Carnival, semoga diberi rezeki umur dan sehat.

    ReplyDelete
  9. Bikin kangen Jogja. Saya belum pernah ke Kotagede, penasaran jadinya. Jogja itu pesonanya aduhai. Ngangenin banget

    ReplyDelete
  10. wah alhamdulillah semua udah penah tak kunjungi mbak... emang jogja nggak ada habisnya buat di explore :D

    ReplyDelete
  11. Jogja selalu mempesona ya mbak. Tempat wisatanya yang serba indah, pasti membuat pengunjungnya betah berlama-lama disana. Belum lagi wisata kulinernya....aku jadi ingat berjalan di Malioboro malam hari sambil mendengarkan lagunya Katon Bagaskara....wow....jadi mengenang mbak....

    ReplyDelete
  12. Jujur kak di antara ke enamnya aku aja baru tau ada tempat wisata bernama Istana Air Taman Sari di Jogjya, duh mupeng banget pengen berkunjung ke sana juga

    ReplyDelete
  13. Rindu Jogya.. kota yang sangat kental dengan kekayaan adat budaya ya.. banyak tempat atau bangunan bersejarah disana.. jadi jika ke Jogya itu seperti melakukan wisata edukasi juga ya.. mau ke Jogja ajak anak anak juga.. bismillah semoga segera terwujud

    ReplyDelete
  14. Baca-baca ini dan lihat foto-fotonya bikin kangen kepengen ke Jogja lagi. Duh, kapan ya bisa ke sana bareng keluarga. Ihiks... :)))

    ReplyDelete
  15. Ke Jogja, jalanan aja kerasa beda banget dengan Jabodetabek. Padahal jalan biasa. Pengen coba ke Beringhajo, tapi entah seberapa banyak godaannya.

    ReplyDelete
  16. Num fotomu kok keren-keren siiyy... Wuiih puas banget ya keliling Yogya. Aku kalau udah di sekitaran Beringharjo ga mau pindah. Kelilingan di seputaran situuu aja :))

    ReplyDelete
  17. Banyak tempat menarik ya di yogya huhu jadi kangen pengen kesana terakhir tahun 2016 dan itu tokkk kerja ga liburan,, sedihnya. Semoga dalam waktu dekat bisa ke Yogya lagi.

    ReplyDelete
  18. Waktu ke Jogja saya juga mengunjungi tempat-tempat wisata tersebut, hanya belum berkesempatan lihat Event Wayang Jogja Night Carnival. Moga-moga next time ke Jogja bisa lihat pagelaran budayanya

    ReplyDelete
  19. mupeng banget mbak, aku belum sempat eksplore semua spot di jogjakarta mbak, aku cuma sempat ke beringharjo doang dan tugu jogja itu, kayaknya perlu balik algi nih ke jogja abis baca asrtikel mbak.

    ReplyDelete
  20. Jogja Katsia is always a great idea. I can never get bored with that beautiful cultural city. And you are lucky to go around and visit that beautiful place again

    ReplyDelete
  21. Aaah... Seru abis ya. Banyak banget ternyata destinasi menarik yang bisa dieksplor di Yogyakarta. Aku baru sebatas Malioboro sama Prambanan doang.

    ReplyDelete
  22. Salam kenal, Mbak. Kayak model profesional saja gayanya, luwes bergaya sampai saya gagal fokus antara latar dan modelnya mana yang lebih menarik, hi hi.
    Blog yang bagus memang harus diisi dengan foto yang khas dan menggoda, itu bikin saya jadi pengen ikut berfoto sambil bergaya ala model di sana. Spot fotonya cakep dan tajam.
    Saya penasaran dengan Taman Sari, pengen lihat secara langsung bagaimana atmosfernya. Ya, kesan etnik itu selalu menggelitik.

    ReplyDelete
  23. Jogja ini masih true Jawa.
    Kalo ke Jogja itu yaa...kangen kalemnya dan segala tradisinya begini.
    Indahnya budaya Indonesia.

    Btw,
    Hasil jepretannya oke banget, kak..
    Aku suka ambience nya yang selalu menunjukkan suasana beserta pemandangan alamnya.

    ReplyDelete
  24. Aku kangen ke pasar Beringharjo, buat belanja batik, beli buah sukun, atau naik becak ke tempat parkirnya. Jogja itu ngangeni banget, aku udah nggak bisa menghitung berapa kali kesana

    ReplyDelete
  25. Kereeenn 😍😍

    Aku kalo ke bringharjo abis hunting batik pasti beli pecel di depan pasar 🤗

    ReplyDelete
  26. Baru september kemarin ke Jogja, baca tulisan ini jadi pengen ke Jogja lagi. Masih banyak tempat wisata yang kaya akan sejarah di sana, yang belum sempat kukunjungi

    ReplyDelete
  27. Penasaran lihat testimoni mentemen ASEAN nya secara langsung, Jogja memang istimewa yaaa

    ReplyDelete