Walking Tour Yogyakarta: Kampung Wisata Kauman dan Purbayan

Kampung Wisata Kauman di Yogyakarta, Cikal Bakal Organisasi Muhammadiyah di Indonesia


Kali ini aku explore Jogja dari sisi berbeda. Mari jalan-jalan menyusuri satu kampung di sisi barat Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta. Sesekali kita ikut walking tour buat jelajah perkampungan Jawa tradisional di Kampung Wisata Kauman.


Kampung Wisata Kauman Jogja


Kamu pasti udah familiar dengan Masjid Gedhe Kauman, yang juga dibilang orang Masjid Raya Kesultanan Yogyakarta. Nah, ternyata Masjid Gedhe Kauman ini erat kaitannya dengan sejarah religi di Kampung Wisata Kauman. 


Kampung Kauman sering disebut Kampung Muhammadiyah. Karena memang di sinilah Kiyai Haji Ahmad Dahlan dilahirkan. Beliau membangun organisasi Islam besar di Indonesia bersama para pemuda desa lainnya. Kampung Kauman Jogja ini jadi satu-satunya kampung wisata yang berbasis religi. 


Di sini aku diajak memasuki gang-gang sempit dan melihat deretan rumah yang kini jadi cagar budaya. Serasa masuk ke dunia Jawa klasik. Bentuk rumah-rumahnya rendah, dengan pintu yang kecil khas rumah tradisional Jawa. 


Kampung Wisata Kauman Jogja (2)

Kampung Wisata Kauman Jogja (3)


Dulu banget, kampung ini juga dikenal sebagai kampung pengrajin batik untuk keraton. Jadi ada alasannya kenapa rumah-rumah di sini terdiri dari 3 pintu di bagian depan. Satu untuk customer, satu pintu untuk pekerja, dan satu pintu lagi untuk keluarga. Unik, kan?


Pada era Muhammadiyah berjalan, semua warga di kampung Kauman berfokus pada penyebaran agama Islam, sehingga pengrajin batik pun mulai berkurang dan mengalami krisis. Desa pengrajin batik yang tersohor berada di Desa Kauman di Surakarta yang lebih terkenal dengan nama Kampung Batik Kauman Solo.


Kampung Wisata Kauman Jogja (5)

Kampung Wisata Kauman Jogja (4)

Kampung Wisata Kauman Jogja (6)


Aku melewati monumen syuhada fiisabilillah dengan 24 nama terukir di sana. Itu adalah nama pemuda kampung Kauman yang meninggal saat perang melawan Belanda. Nggak jauh dari sana, aku mampir ke Mushola Aisyiyah, musala yang dipakai kaum perempuan untuk berkumpul dan mengaji.


Istri Ahmad Dahlan, yang kita kenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan membangun organisasi Islam buat perempuan, organisasi Aisyiyah di kampung ini juga. Yayasan Aisyiyah bikin froebel kindergarten alias kelompok bermain anak. Konon sekolah jadi TK pertama di Indonesia.


Nah terakhir, baru deh aku masuk ke Masjid Gedhe Kauman. Masjid ini bergaya Jawa klasik  yang dibangun  tahun 1773 oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I. Masjid ini masih kokoh, terdapat singgasana atau Masyura buat Sutan beribadah. Pernah terjadi perubahan arah kiblat ketika Kiyai Haji Ahmad Dahlan kembali dari Mekah setelah belajar ilmu astronomi.


Kampung Wisata Kauman Jogja (7)



Gimana walking tour ke Kauman ini? Menarik kan mengulik sejarah suatu negeri yang besar bisa berawal dari desa kecil seperti Kauman?!





Kampung Wisata Purbayan, Cikal Bakal Kerajaan Mataram Islam dan Nenek Moyangnya Kerato Ngayogyakarta dan Surakarta


Satu lagi tempat yang bisa dikunjungi dengan walking tour di Yogyakarta. Jangan lupa napak tilas di Kotagede, ya.


Kampung Purbayan Kotagede Jogja


Kali ini aku jalan-jalan ke Kampung Wisata Purbayan yang katanya kampung pusaka dan penjaga tradisi. Kampung ini adalah negeri asal Kerajaan Mataram yang jadi cikal bakal Keraton Yogyakarta dan Surakarta.


Di sini aku masuk ke gang kecil yang disebut "Between Two Gates", kawasan perumahan di antara jejak Alun-Alun Mataram. Rumah-rumahnya masih otentik, khas rumah tradisional Jawa.


Kampung Purbayan Kotagede Jogja (2)

Kampung Purbayan Kotagede Jogja (3)

Kampung Purbayan Kotagede Jogja (4)


Aku masuk ke komplek makam raja-raja Mataram. Bagi yang mau ziarah, wajib ganti pakaian dengan pakaian peranakan tradisional Jawa. Untuk wanita, kita diwajibkan pakai kain jarik dan kemben, tanpa hijab. Karena aku menggunakan hijab, aku nggak boleh masuk ke dalam area makam. Jadi cuma bisa berfoto di sekitar area pemandian yang punya arsitektur Jawa zaman dulu.


Kampung Purbayan Kotagede Jogja (5)


Setelah itu aku mendatangi lokasi pelatihan jemparingan, olahraga panahan tradisional sejak zaman Mataram yang dilakukan sambil duduk. Tekniknya lebih kurang sama dengan olahraga panahan pada umumnya. Yang membedakan adalah pakaian yang digunakan dan memanah sambil duduk. Ada metode dan filosofinya sendiri untuk memanah. Jadi aku belajar sedikit-sedikit tentang teknik dasar jemparingan.


Kampung Purbayan Kotagede Jogja (6)

Kampung Purbayan Kotagede Jogja (7)

Kampung Purbayan Kotagede Jogja (8)


Terakhir, aku mampir ke rumah keris. Di sini diproduksi keris-keris berbagai tipe dan kebutuhan. Ada keris yang harganya mencapai 2 milyar rupiah lho, terbuat dari batu meteor. Katanya ini bagian dari benda sejarah, jadi tidak untuk dijual atau buat mainan ya.


Kampung Purbayan Kotagede Jogja (9)


Sekian keseruan aku walking tour di Kampung Purbayan. Banyak banget dapat pengalaman baru dan berbeda dari Jogja.

Komentar

Popular Posts