Bertemu Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting

Wishlist unlocked!

Ingat sekali tahun 2018 baca artikel tentang Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Lalu ada teman yang ngajak backpacker ke sana mumpung ada promo tiket pesawat. Tapi, aku masih ragu saat itu. Dan kayaknya biayanya akan mahal.

Lalu, beberapa teman pun sudah pernah ke sana. Mencoba petualangan seru di atas kapal klotok menyusuri sungai menuju pedalaman rimba Taman Nasional Tanjung Puting. Ada yang bercerita tentang konservasi orangutan di sana dan bagaimana emosionalnya saat bisa bertemu orangutan di habitat aslinya, bukan di kebun binatang. Sejak itu aku ingin sekali bisa live on board di Tanjung Puting.

Nah, tahun 2024, akhirnya kesampaian juga bisa ke Tanjung Puting tanpa diduga. Memanglah ya, apa yang sudah kita rencanakan, masuk ke daftar harapan, bisa terwujud entah kapan. Dan, lihat, aku sampai di rimba Kalimantan.

Explore Tanjung Puting Kalimantan

Berawal dari undangan inaugural flight Batik Air dari Surabaya ke Pangkalan Bun, aku bisa sampai di Kalimantan Tengah ini. Pangkalan Bun adalah salah satu gerbang menuju Taman Nasional Tanjung Puting.


Baca: Terbang ke Pangkalan Bun-Kalimantan Tengah


Buat explore Tanjung Puting tentu kita nggak bisa sendiri. Karena harus naik kapal atau speedboat. Jadi aku mencari-cari info open trip 1 hari. Idealnya sih explore Tanjung Puting itu 3 hari 2 malam. Tapi aku hanya punya waktu 1 hari. Biaya open trip relatif murah dan ada beberapa tour agent yang kuhubungi. Namun, ternyata jadwalnya nggak cocok. Hari itu sedang tidak ada open trip. Mereka baru jalan kalau sudah terkumpul 20 orang. Sulit mengumpulkan orang sebanyak itu kalau lagi nggak musim liburan.

Harga open trip itu cuma Rp350.000 per orang untuk 1 hari, sudah termasuk makan siang dan biaya masuk camp orangutan. Karena nggak ada open trip, aku pun nanya-nanya biaya private trip. Kebetulan aku bersama beberapa teman totalnya 7 orang. Masih kurang orang, setidaknya harus 10 orang buat bisa ikut private trip lebih murah. Setelah lobi-lobi dan dibantu oleh seorang temanku yang pernah ke Tanjung Puting juga sebelum ini, harganya bisa ditawar. Jadilah aku bisa ikut private trip dengan kapal klotok. Harganya Rp700.000/orang sudah termasuk makan siang, tour guide, biaya masuk camp orangutan.

Explore Tanjung Puting Kalimantan (2)

Explore Tanjung Puting Kalimantan (3)


H-1 aku segera menyiapkan beberapa kebutuhan buat sailing di kapal klotok seharian. Kira-kira ini yang dibutuhkan.

- Makanan ringan (makanan berat sudah disiapkan di kapal)

- Jas hujan

- Obat-obatan pribadi

- Sepatu trekking

- Pakaian ganti

- Lotion anti nyamuk


Explore Tanjung Puting

Yeay, jadi juga aku explore Tanjung Puting.

Aku menginap di pusat kota Pangkalan Bun. Sesuai kesepakatan, kami sudah harus sampai di Dermaga Kumai pukul 6 pagi. Jadi aku dan teman-teman berangkat dari hotel ke dermaga pukul 5 pagi. Kami sampai minta sarapan di-take away dari hotel. Jarak dari kota ke dermaga sekitar 40 menit. 

Begitu sampai di Dermaga Kumai, aku bertemu tour guide kami. Namanya Bang Hery. Bang Hery ini asli Kalimantan dan sudah berpengalaman bawa tamu masuk ke Taman Nasional Tanjung Puting.

Tanpa basa-basi, kami langsung naik ke kapal. Kapalnya terdiri dari 2 dek. Dek atas buat tamu. Ada kasur, bangku, meja makan. Dek bawah buat kru kapal. Di sini juga ada toilet dan dapur. Nyaman banget sih buat live on board selama explore Tanjung Puting.

Petualangan pun dimulai.

Explore Tanjung Puting Kalimantan (4)

Kapal klotok ini menyusuri Sungai Sekonyer, sungai yang panjangnya 45 km, membelah Taman Nasional Tanjung Puting. Kita dilarang berenang karena sungai ini habitatnya buaya. Berbahaya.

Bang Hery banyak mengenalkan berbagai satwa yang terlihat sepanjang susur sungai. Aku melihat sekawanan bekantan yang bergelayutan di pohon. Ada monyet ekor panjang juga. Katanya kalau lagi rame, monyet-monyet itu bisa naik ke kapal dan menjarah persediaan makanan kita. Tapi nggak seekstrem monyet di Uluwatu Bali kok. Lucu juga ya. Berbeda dengan Bekantan, lebih kalem. Mereka bisa berenang juga lho.


Camp Pondok Tanggui

Destinasi pertama, kapal berhenti di gerbang camp Pondok Tanggui. Ini salah satu camp rehabilitasi orangutan yang bisa dikunjungi. Di Tanjung Puting ada beberapa camp konservasi. Ada yang bisa dikunjungi, ada yang tidak. Camp Pondok Tanggui jadi salah satu camp yang bisa dikunjungi.

Kami diajak jalan kaki masuk hutan. Saat itu hujan mulai turun. Jadi kami semua pakai jas hujan. Sepanjang jalan, Bang Hery membuat payung dari daun pakis. Katanya ini efektif dipakai petani di hutan jika kehujanan. Cukup menahan air hujan nggak langsung kena kepala.

Explore Tanjung Puting Kalimantan (5)

Explore Tanjung Puting Kalimantan (6)


Bang Hery juga beberapa kali mengenalkan buah-buahan yang ada di sana. Ada kemunting, asam kumanjing, dan asam kalimantan yang mirip buah mangga. Aku merasa masuk ke hutan ini banyak dapat ilmu.

Setelah berjalan sekitar 15 menit, kami sampai di lokasi feeding orangutan. Sesuai jadwal, feeding time di sini jam 9-11 pagi. Tapi karena hujan kali ya, dan lagi musim buah, orangutan nggak ada yang nongol.

Jangan salah persepsi dulu ya. Kenapa selalu ada jadwal feeding di setiap camp buat orangutan yang sudah dilepasliarkan.

Explore Tanjung Puting Kalimantan (7)

Explore Tanjung Puting Kalimantan (8)

Kalau kata guide kami, orangutan yang sudah dilepasliarkan masih suka datang ke camp. Biasanya buat ambil makanan. Karena ini pusat konservasi, jadi tanggung jawab ranger buat memperhatikan bagaimana kondisi orangutan setelah dilepasliarkan. Disediakan panggung di tengah hutan dan akan selalu diletakkan makanan di sana. Ranger akan memanggil dengan suara keras. Biasanya orangutan akan datang satu per satu. Dari sanalah, ranger akan melihat siapa saja yang datang, ada luka tertentu atau sakitkah si orangutan. Kalau ada luka besar dan cukup parah, orangutan akan diobati kembali. Ini buat menjaga populasi orangutan di tengah hutan, menjaga agar tidak virus dan bakteri yang menyebar dari sesama mereka.

Orangutan ini tetap tidak ada kontak dengan manusia secara langsung. Karena itu pengunjung diminta diam dan berjarak.

Setelah sekitar 1 jam menunggu hujan-hujanan, kami kembali ke kapal. Masih ada satu camp lagi yang dikunjungi. Berharap di camp itu aku bisa melihat orangutan.

Explore Tanjung Puting Kalimantan (9)


Camp Tanjung Harapan

Ini camp paling dekat yang bisa dijangkau di Tanjung Puting. Kami makan siang di kapar sebelum turun ke dermaga. Seperti camp sebelumnya, kami jalan kaki lagi masuk ke tengah hutan. Aku melewati hutan yang penuh tanaman anggrek. Cantik deh.

Saat memasuki pepohonan yang agak rapat, barulah kami diminta untuk tenang. Karena ada orangutan yang datang. Benar saja, orangutan itu sedang memanggil-manggil rangernya. Mungkin dia tau, udah saatnya makan siang. Feeding time di Tanjung Harapan jam 1-3 siang.

Explore Tanjung Puting Kalimantan (10)

Aku terharu sekali saat rangernya datang bawa sekeranjang makanan, si orangutan jantan dan berbadan besar ini mengikuti langkah ranger dari atas. Terlihat senang karena rangernya datang.

Ranger langsung menyerakkan makanan di atas panggung kayu yang sudah disediakan. Kami yang pengunjung ini harus duduk tenang berjarak dengan lokasi itu. Nggak heran banyak bule fotografer pakai lensa tele panjang-panjang buat mengabadikan momen ini.

Waah, ini momen paling mengharukan sepanjang hidupku. Aku hanya tahu orangutan lihat di kebun binatang. Terlihat lemas, kurang bahagia, hanya bisa meminta makanan ke pengunjung. Tapi di sini, ini rumah mereka. Orangutan hidup di habitatnya di hutan Kalimantan. Populasinya banyak tapi terhitung langka karena reproduksi mereka panjang.

Explore Tanjung Puting Kalimantan (11)

FYI, orangutan memiliki kecerdasan menyerupai manusia. Mereka hidup di dahan-dahan pohon, membantu menyeimbangkan alam. Panjang hidupnya bagi yang liar kira-kira 35 tahun, sementara yang berasal dari rehabilitasi, bisa mencapai 50 tahun.

Aku melihat satu per satu orangutan datang mengambil makanan yang disediakan ranger. Ada jagung dan singkong. Ada sebagian orangutan memperhatikan dari dahan pohon, menunggu momen mereka bisa turun ikut makan juga. Lucu sekali kehidupannya. Sungguh lepas, sangat liar, penuh persaingan, sangat natural. Begitulah alam membentuk mereka hidup di hutan ini.

Explore Tanjung Puting Kalimantan (12)

Setelah puas melihat orangutan makan siang, kami kembali ke kapal. Hati ini rasanya hangat. Kami berlayar kembali ke arah Dermaga Kumai. Sore yang indah dan tenang. Di area hutan nipah, menjelang malam, aku melihat banyak sekali kunang-kunang. Aku belum pernah melihat kunang-kunang sebanyak ini. Bentuknya kecil sekecil lalat tapi menyala. Sayangnya aku kurang bisa mengabadikannya karena tanpa cahaya. Hanya bisa dinikmati dengan mata telanjang, menikmati kehidupan hutan yang sunyi ini malam hari.

Explore Tanjung Puting Kalimantan (13)

Begitulah petualangan memasuki hutan hujan tropis Kalimantan. Pingin balik lagi? Tentu dong. Aku ingin sekali mencoba menyusuri Tanjung Puting 3 hari 2 malam. Bisa menginap di kapal, menikmati kabut pagi di tengah hutan, merasakan tidur di atas kapal dengan dek terbuka, menatap bintang sepuasnya, dan menyaksikan kehidupan orangutan di camp-camp yang lain. Ah, rasanya ingin sekali kembali.

Bagiku, petualangan di Tanjung Puting harus dicoba minimal sekali seumur hidup karena sensasinya begitu luar biasa.

Komentar

Popular Posts