Movie, Story, Reality

Aku menyukai film. Aku suka nonton film. Film itu membuat nyaman. Film itu bikin aku mengenal karya yang lebih luas dan megah. Film adalah paket komplit sebuah produk kreativitas.

Dari dulu aku suka nonton tv. Lalu aku suka ke bioskop. Film Petualangan Sherina mengenalkanku pada bioskop. Lalu, Harry Potter mengantarkanku untuk rajin ke bioskop. Sampai pada akhirnya aku tau karakteristik film yang kusuka (sesuai mood sebenernya). Film itu beragam, you know.

Film tentang dunia anak dan sekolah tak pernah bosan kutonton. Soalnya ada hal-hal yang cerdas dari sebuah film anak yang luput dari pemikiran orang dewasa. Aku suka cara berpikir anak-anak. Orang dewasa gak akan pernah tau bagaimana cara anak muda berpikir.
Apalagi kalo film itu dilingkupi musikal, membuat kita bisa menikmati nada lewat cerita. Film musikal (tentunya yang gak norak) asyik buat dinikmati bersama. Karena di sana ada kisah, musik dan koreografi.

Film tentang hewan juga menarik. Rasanya bahagia gitu melihat binatang dengan polahnya yang unyu menjadi pahlawan di sebuah film. Melihat hewan-hewan yang nongol di layar itu, aku langsung berpikir, pasti sulit menggarap film ini. Sebab, gak ada yang bisa menebak gelagat seekor binatang. Mereka bertindak semaunya. Tergantung bagaimana kita menyesuaikan diri.

Lalu, film-film sci-fic, I love it. Bikin mikir. Tapi penuh tantangan dan teka-teki. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil di film-film seperti ini.

Film petualangan juga pasti akan aku tonton. Seru. Selalu ada hal yang menegangkan saat menonton.

Itu adalah genre film yang benar-benar seru untuk ditonton. Ada semangat, motivasi, pelajaran hidup dan gambaran kehidupan yang bisa didapat dari sebuah film. Mungkin ada beberapa film yang gak begitu aku suka seperti film horor dan film yang lebih mengeksplor adegan kekerasan hingga berdarah-darah. Aku punya alasan kok kenapa gak begitu suka dengan film-film seperti itu. Ngaruh ke mental dan psikologis. Aku menonton film untuk hiburan dan pelajaran. Gak butuh kekerasan dan emosi api untuk mengambil pelajaran dari sebuah film. Tapi bukan berarti aku gak menghargai film berjenis itu lho. So far, film adalah karya. Dan tentunya film membuat kita berkaca terhadap fenomena nyata.

No comments:

Post a Comment

Instagram @sansadhia