In Gallery Land

Ketemu Totoro di The World of Ghibli Exhibition

Dari dulu, aku suka datang ke pameran unik, eksibisi kece, atau sekadar menikmati instalasi mencolok di sebuah mall. Menurutku, eksibisi yang cuma musiman atau diadakan hanya untuk periode tertentu--entah untuk merayakan sebuah euforia--menjadi hiburan singkat dari kepenatan sesaat kaum urban. Makanya kalau ada eksibisi tertentu yang lokasinya masih bisa dijangkau, aku akan berburu mencari tahu. Apalagi eksibisi anime Jepang. Saat masih berstatus sebagai warga kampus, aku sering datang ke Gelar Jepang UI. Kalau ditarik lebih jauh lagi ke memori lama (jangan kejauhan juga sampai ke masa penjajahan Jepang, ya), rasanya memang anime Jepang terasa lebih dekat dengan pertumbuhan anak-anak Indonesia generasi 90-an. Bayangkan saja, setiap hari Minggu, serentetan judul kartun Jepang diputar dari pagi hingga tengah hari. Itu baru hari Minggu, belum hari-hari lainnya yang juga memutar film superhero Jepang di sore hari. Pokoknya, aku punya agenda khusus nonton film anak produksi Jepang yang nggak boleh diganggu gugat.

Beberapa tahun lalu sempat diadakan Doraemon 100 Gadget Expo di Ancol, Jakarta untuk bernostalgia dengan boneka robot kucing pintar yang menemani hari Minggu pagi kita bahkan sampai saat ini. Lalu, kini ada sebuah studio produksi film anime besar dari Jepang yang mengadakan festival film mereka di Indonesia. Namanya Ghibli. Tapi bukan sekadar festival film. Ghibli tak cuma ingin pamer film-film produksi mereka sejak tahun 1980-an. Kamu tahu boneka atau ikon Totoro? Mungkin merchandise Totoro sudah banyak berseliweran, tapi kita sendiri nggak banyak yang tahu bahwa Totoro adalah salah satu karakter film animasi produksi Ghibli, My Neighbor Totoro. Nggak tahu, kan? Totoro hits di tahun 1988 dan merchandise-nya mulai populer di awal tahun 90-an sampai sekarang. Nah, biar orang-orang kita nggak kudet tentang dunia Ghibli yang hits di Jepang dan sebagian Eropa serta para pencinta anime di seluruh dunia, Ghibli punya inovasi membuat The World of Ghibli Exhibition yang berisi tentang perjalanan Ghibli, proses pembuatan film mereka dari masa ke masa, sampai pameran instalasi dunia film-film Ghibli yang ikonik. Exhibition ini dapat dinikmati selama sebulan lebih sedikit dari 10 Agustus-17 September 2017. Siapa yang menolak kalau diajak ketemu Totoro di Ghibli World Jakarta.

Ketemu Totoro di The World of Ghibli Exhibition
Menunggu Nekobasu bersama Totoro.
Aku tahu tentang exhibition ini juga telat, kok. Aku dan Junisatya baru menyempatkan diri buat ke exhibition yang diadakan di Ballroom Ritz Carlton, Pasific Place Jakarta menjelang penutupan. Tapi ada untungnya juga tahu telat. Karena kata beberapa teman, pada hari-hari awal exhibition dibuka, semua instalasi belum terpasang dengan sempurna. Setelah cari-cari info tiket yang harganya lumayan, ya, aku dan Junisatya dapat harga khusus mahasiswa (anggap saja kami memang masih mahasiswa).

Exhibition dibagi dua area, ruangan yang dilarang memotret dan ruangan yang diizinkan memotret. Untuk urusan ini, Studio Ghibli di Jepang memang mulanya tidak memperbolehkan pengunjung memotret. Tapi, karena ini jadi eksibisi Ghibli terbesar di Asia, kita bisa datang membawa kamera.

Begitu masuk, setelah melewati bagian pemeriksaan tiket, aku disambut dengan sejarah Studio Ghibli yang berawal dari penerbitan komik. Lalu, poster-poster film animasi produksi Ghibli dipajang di hampir seluruh dinding. Ghibli rupanya sedang bercerita kepada pengunjung tentang proses kreatif tim pembuat film animasi dari tahun ke tahun. Di ruangan berbeda, aku melihat satu per satu detail penggambaran karakter dan bagaimana setiap scene bergerak yang hanya bermula dari sebuah ilustrasi komik. Bagian ini keren sih menurutku. Di zaman sekarang, teknologi audio-visual sudah mempermudah segala hal dalam pembuatan karakter animasi. Jika melihat ke belakang, 20 tahun yang lalu, teknologi masih terbatas tetapi tidak membatasi ruang gerak anime-creator untuk menciptakan sebuah film yang kompleks dengan detail karakter dan detail lokasi yang apik. Kita bisa melihat proses kreatif itu di Ghibli Exhibition.

Aku membaca beberapa sinopsis film animasi yang sempat box office pada masanya. Cerita perang, cerita tentang harta karun, cerita tentang cita-cita dan mimpi, serta cerita tentang keluarga ternyata pernah menghiasi bioskop di Jepang sejak tahun 1980-an. Sayangnya, aku tidak bisa mengabadikan satu pun gambar pajangan yang ada di area ini. Dari area sinopsis film, aku beralih ke ruangan gelap yang merupakan movie theater untuk pemutaran trailer film-film Ghibli. Bukan filmnya ya. Filmnya sendiri tayang secara marathon di CGV kota-kota besar Indonesia hingga Maret 2018.


The World of Ghibli Exhibition Jakarta
The Secret World of Arrietty.
Ghibli World Jakarta
When Marnie was There.
Setelah puas melihat sejarah, proses kreatif, sampai trailer film, akhirnya aku sampai di area bebas memotret. Ada beberapa instalasi yang dicomot dari ikon-ikon menarik di film sukses produksi Ghibli. Laputa Castle mengawali petualangan seru kami di area bebas berfoto. Castle yang melayang-layang ini berasal dari film Castle in The Sky. Lalu ada replika Golden Ship yang tampak megah sekali. Aku suka, sih, desain replikanya dengan ukuran sangat besar. Kemudian nanti diikuti dengan Flappter Flying Machine dan Laputa Robot yang berdiri di depan goa. Yubaba's Bathouse dari film Spirited Away juga mendominasi di bagian depan dengan miniatur kuil Jepang. Karena kami datang saat weekdays, jadi exhibition ini terbilang sepi. Aku mengambil kesempatan untuk berfoto di setiap instalasi.

Ghibli World Jakarta
Toko roti Kiki.

Kiki's Delivery Service.
Ghibli World Jakarta
Bantuin Kiki jaga toko bakery.

Spot-spot foto yang agak ramai itu ada di bagian tengah, yaitu Kiki's Delivery Service Bakery, Totoro, dan Neko Basu (Cat Bus). Mungkin karena kita lebih familiar dengan ikon dua film ini, My Neighbor's Totoro dan Kiki's Delivery Service. Mungkin juga karena dekorasinya lebih lucu dan menarik. Dua instalasi ini juga favoritku. Miniatur rumah keluarga Kusakabe di film Totoro juga menarik karena dibuat seidentik mungkin dengan model rumah di film animasinya. Dekorasi interior dari ruang depan, ruang keluarga, kamar, dan ruang kerja ayah Mei dan Satsuki yang penuh buku dibuat begitu detail. Katanya yang menggarap bangunannya Usher dari Indonesia, tapi untuk dekorasi dan printilannya didatangkan langsung dari Jepang. Mereka punya semacam quality control untuk setiap instalasi yang dipajang di exhibition.

Kediaman rumah keluarga Kusakabe.

Ruang kerja Ayah Mei dan Satsuki yang berantakan.

Lagi mau bikin PR.

Berfoto di dalam rumah bergaya rumah tradisional Jepang ini jadi daya tarik sendiri. Ukurannya jadi real-size dan bangunannya cukup kokoh untuk berfoto di bagian dalam. Sayangnya kami hanya diberi waktu 3 menit untuk berfoto di masing-masing instalasi agar semua yang antre kebagian. Serasa ngantre masuk wahana Dufan. Minusnya, ya, aku nggak bisa eksplore berbagai ekspresi foto jadinya. Nggak kebayang kalau datangnya pas weekend.

Di sayap kanan ballroom, instalasi dari film-film Ghibli yang lain juga nggak kalah menarik. Seperti miniatur hutan Princess Mononoke yang dibuat seperti rimba dan gelap. Lalu ada Hawl's The Castle yang bikin gemes, miniatur pesawat Porco Rosso di pinggir pantai. Aku menikmati setiap detail instalasi yang dipajang. Berkeliling di sini serasa berkeliling di komplek imajinasi yang pernah disajikan studio Ghibli. Aku tidak mengenal semua film animasinya, tetapi cukup familiar dengan ikon-ikon yang populer dari beberapa film.

The World of Ghibli Exhibition Jakarta
Nekobasu dalam My Neighbor Totoro.


Ghibli Jakarta
Replika Bathouse dari film Spirited Away.
Ghibli World Jakarta
Hutan Princess Mononoke.
Sebenarnya ada satu hal yang disayangkan saat berada di sini. Ketiadaan informasi di setiap instalasi. Bagi pengunjung awam (sepertiku) hanya bisa sebatas menikmati nilai seni dari instalasi-instalasi ini. Seandainya ada informasi detail di setiap spot kece ini, tentu akan membantu pengunjung mencerna kisah-kisah yang ingin disampaikan Ghibli dalam exhibition-nya di Indonesia. Anyway, sayang juga ya exhibition-nya sudah berakhir. Kudengar, banyak pengunjung dari kalangan penggemar anime ingin exhibition ini diperpanjang. Namun, permintaan itu tidak dikabulkan oleh pihak Ghibli Jepang. Dan, katanya juga, usai exhibition, instalasi-instalasi ini dihancurkan. Hanya disisakan miniatur Totoro dan Neko Bus yang akan dipajang di pelataran CGV Pasific Place selama film-film Ghibli diputar sampai tahun depan. Jadi, buat kamu yang ketinggalan event ini, masih bisa ketemu Totoro kok di bioskopnya. Totoro masih akan menemani kita sampai Maret 2018.

Related Articles

16 komentar:

  1. Wah wajjb kesini nih bawa anak, ketjeh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah selesai exhibition-nya Mba. Kalau mau ke CGV terdekat aja, film-film animasi Ghibli masih ada. Ada Totoro juga buat foto-foto kece.

      Delete
  2. Mbaknya masih mahasiswa yah ?
    mmmm mmmm mmmm.

    Betewe, ini yang motretin siapa ceu? kamu nodong orang kah disana buat jadi potografer *eeeh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dong. Masih tampang mahasiswa, kan. Orang juga percaya kalau aku ngaku umur 20 tahun. hahahaha.
      Itu yang motretin para kru exhibition yang jagain instalasi. Untungnya pada baek-baek ya. :D

      Delete
  3. Saya malah baru sekarang tau ada pameran seperti ini ��
    Telat banget dapet infonya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, saying sekali. Semoga ada event kece kayak gini lagi di Indonesia. Nanti aku info-info deh. :)

      Delete
  4. Waaah keren ya pamerannya. Propertinya banyak banget dan lucu-lucu. kaya aku #plak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmm.. Iya deh, iyaaa. Kamu lucu kayak Totoro, kak. :D

      Delete
  5. Aku juga suka film-film Gihbli. Beberapa ada yang belum aku tonton seperti Porco Rosso & Kiki's Delivery. Sayang nya exhibition nya cuma ada di Jakarta :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku belum nonton film-film animasinya. Pengen nih meluangkan waktu nontonin satu per satu. :)

      Delete
  6. Pengen cari filmnya ahh, cuma tahu Totoro, hiks..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaa. Ayo Mba, kita movie marathon bareng. :)

      Delete
  7. I LOVE TOTORO! Sayang aku ga ke sana :( uwuwuwuw mauuuu

    ReplyDelete
  8. wah, keren bgt emang Jepang ya urusan beginian.Mupeng replika rumah2nya

    ReplyDelete