In Movie Land

Magnet Apa yang Dimiliki Film Dilan 1990 hingga Bisa Merajai Box Office Indonesia Awal Tahun?

Virus 'rindu itu berat' ala Dilan mau nggak mau melanda kita semua. Banyak meme yang muncul di social media perkara rindu ini. Nonton film Dilan 1990 atau tidak, meme ini tetap saja dipakai dan menggaung 2 minggu terakhir. Menurutku, ketika kalimat di dalam film jadi omongan di mana-mana, artinya filmnya sukses di box office. Benar saja, dalam 10 hari penayangan, film Dilan 1990 tembus 3 juta penonton. Karena ramai dibicarakan, aku pun akhirnya memutuskan untuk menonton film ini. Demi Pidi Baiq yang sukses dengan kata-kata gombalnya dan demi Iqbal yang sukses bikin baper semua umat.

Film Dilan 1990, FYI merupakan film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Pidi Baiq. Sebenarnya premisnya sederhana sekali. Seorang cowok yang jatuh cinta pada anak baru di sekolahnya tapi cowok ini dicap sebagai biang masalah di sekolah dan si cewek sudah punya pacar. Lalu magnetnya di mana? Berikut aku rangkum beberapa magnet yang membuat film Dilan 1990 produksi Falcon Pictures dan Max Pictures ini merajai box office.

1. Karena pemainnya adalah Iqbal ex-CJR

Ini harus digarisbawahi banget, lho. Karena sedari awal Iqbal bergabung di project film ini, dia sudah mengundang pro kontra, fans dan haters. Seru, ya. Seru lah. Sosok Dilan yang dicap badboy sudah terpatri di benak pembaca novelnya. Sementara itu orang-orang sudah tahu dengan image Iqbal yang memiliki tampang 'baik-baik' dan masih 'boyband cilik'. Makanya banyak yang meragukan apakah Iqbal bisa memainkan Dilan dengan baik. Namun, kharisma Iqbal memang tak bisa dikesampingkan. Dia adalah ex-personel CJR yang mendulang banyak fans militan. Bahkan ketika dia berpamitan untuk sekolah di US, fans masih setia mengelu-elukannya, apalagi film yang pernah dimainkan oleh CJR juga selalu bikin bioskop rame.

Lalu ketika trailer Dilan 1990 tayang akhir tahun lalu, semua yang menonton langsung terpanah kharisma Iqbal, terlepas dari sosok Milea yang diperankan Vanesha Prescilla yang juga tampil memesona. Mau tidak mau, sosok Iqbal ini dibicarakan. Sebagian besar tak sabar menanti filmnya, sebagian lagi bilang dia terlalu kaku untuk jadi Dilan. Otomatis semakin dibicarakan, semakin orang aware dengan keberadaan project film Dilan. Dan, ketika aku bertandang ke bioskop akhir pekan lalu, Iqbal sukses menebar pesona Dilan kepada seisi bioskop. Mungkin sejak film Dilan 1990 pertama kali ditayangkan, orang selalu membicarakan Dilan, Dilan, Dilan, lalu Milea. Iqbal mampu menepis keraguan orang terhadap kemampuan actingnya sebagai cowok urakan dan pujangga sekaligus. Karakter Dilan sungguh jahil, tak gentar mengejar cinta Milea, kreatif, antimainstream. Milea mana yang tak bisa luluh padanya. Karakter Dilan bergerak di dalam cerita dengan porsi emosi yang pas. Iqbal mampu memainkannya tanpa harus bersikap berlebihan. Karakter Dilan yang kuat, yang memiliki emosi berlapis dalam alur cerita dapat dilewati Iqbal bebas hambatan. Kisah cinta sederhana dengan pemain yang super manis tanpa ternoda oleh gadget itu berhasil dimainkan oleh Iqbal dengan mulus. Tengilnya ada, urakannya ada, romantisnya juga ada. Ia mampu menjaga emosinya ketika menghadapi Milea dengan berbagai tingkat rasa, menghadapi teman dan guru di sekolah, menghadapi bundanya sendiri, hingga menghadapi teror geng motor. Beruntung, segala kekurangan setting film dan kelemahan karakter lain mampu ditutupi oleh karakter Dilan ini. Jadi, benar kan, magnet paling berpengaruh dalam film ini adalah Iqbal? Jika kamu tidak setuju, aku tidak peduli. #terDilan

Dilan 1990 sukses di box office Indonesia
Poster Dilan 1990. (Foto diambil dari sini)


2. Berisi kata-kata Magis

Dilan : "Sekarang kamu tidur. Jangan begadang. Dan, jangan rindu."
Milea : "Kenapa?"
Dilan : "Berat. Kamu gak akan kuat. Biar aku saja."
(Dilan 1990, 2018)

Dilan : "Jangan bilang ke aku ada yang menyakitimu. Nanti orang itu akan hilang."
(Dilan 1990, 2018)

Dilan : "Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore, tunggu aja." (Dilan 1990, 2018)

Dilan : "Nanti kalau kamu mau tidur, percayalah, aku sedang mengucapkan selamat tidur kepadamu dari jauh. Kamu nggak akan dengar." (Dilan 1990, 2018)

Surat Dilan, "Pemberitahuan: Sejak kemarin sore, aku sudah mencintaimu."
(Dilan 1990, 2018)

Ucapan ulang tahun dari Dilan : "Selamat ulang tahun, Milea. Ini hadiah untukmu. Cuma TTS, tapi sudah kuisi semua. Aku sayang kamu. Aku tidak mau kamu pusing karena harus mengisinya." (Dilan 1990, 2018)


Siapa yang masih menyangkal bahwa novel dan film Dilan 1990 memiliki kata-kata magis seperti yang aku kutip di atas? Ketika kata-kata itu terucap dari mulut Dilan di film, magnet film ini menguat, menjerat hati para penonton yang tentu saja mengundang reaksi. Bagi kaum milenial yang tak pernah merasakan kekosongan diri dari gadget, tentu akan baper. Pacaran lewat telepon umum, saling berkirim surat cinta, dan berbalas kata-kata gombal adalah hal baru bagi kaum muda millennial. Berbeda reaksinya dengan anak yang tumbuh ABG tahun 90-an. Kebanyakan akan tertawa geli, receh tapi kok benar, dan jadi nostalgia masa SMA. Wajar jika kata-kata magis ini jadi viral di social media, kan? Apalagi sekarang pemainnya sendiri, Iqbal, sudah kembali ke US saat film ini ditayangkan perdana 25 Januari lalu, semua fans menjadi semakin rindu.

3. Set telepon umum dan boncengan motor

Visualisasi film sangat mempengaruhi suasana. Dalam trailer, kita sudah melihat adegan Dilan menelepon Milea lewat telepon umum, gombal pula. Nah, dalam film, ada beberapa kali adegan Dilan menelepon di telepon umum buat pedekate dengan Milea. Tahun 1990 belum ada ponsel macam-macam merk dan fitur canggih seperti sekarang. Tentu ketika banyak foto Dilan beredar di media sosial sedang menelepon di telepon umum, kita jadi kilas balik lagi. Meski set 90-an masih banyak minusnya di film ini, set telepon umum sungguh menarik. Ini jadi lelucon segala usia. Bagi generasi 90-an, telepon umum sudah menjadi memori kolektif betapa pentingnya peran benda itu dulu. Bahkan jutaan telepon umum jadi saksi kisah cinta banyak orang pada masa itu (bukan aku, sih, aku pacarannya udah pake hape. hehe). Kini sudah tergantikan dengan ponsel pintar. Nah, bagi ABG zaman now, telepon umum jadi benda vintage yang harus dilestarikan tanpa tahu fungsi besarnya untuk membangun umat manusia dulu kala. Tanpa telepon umum, kan, ABG sekarang tentu tidak ada. Karena ibu-bapak mereka nggak telepon-teleponan. Menurutku, gombalan Dilan lewat telepon jadi magnet penarik penonton untuk bernostalgia di bioskop.

Lalu magnet image Dilan dengan motor klasik CB 100-nya yang membonceng Milea memunculkan reaksi beda-beda. Pacaran naik motor sudah lumrah. Tapi melihat roman Dilan mengendarai motor dengan jaket jeans gombrongnya, ia berkata ke Milea.
"Jangan dipeluk!"
"Kenapa?"
"Kecuali jika kamu mau." (Dilan 1990, 2018) 

Lalu didekaplah Dilan dari belakang oleh Milea. Kupu-kupu di perut jadi bangun seketika. Macam film Catatan Si Boy zaman dulu, macam poster film Rano Karno dengan motor gede juga zaman dulu di film Roman Picisan, tapi rasa Dilan kekinian karena pemainnya segar. Semua kejadulan itu terasa lebih fresh. Euforia semacam ini yang jadi bagian penting dalam promosi film. Dan, aku bilang, Dilan 1990 sukses dalam metode promosinya.

4. Adegan ramal-meramal Dilan ke Milea

Dilan : Kamu Milea, ya?
Milea : Iya.
Dilan : Aku ramal, nanti kita akan ketemu di kantin.
(Dilan 1990, 2018)

Ini juga jadi viral. Saking viralnya, banyak content creator yang bikin parodinya di youtube. Gimana nggak viral, ada cowok kepedean pake motor nyamperin cewek lagi jalan, bukannya diajak boncengan, tapi malah diramal ketemu di kantin. Satu adegan yang menawan hati banyak orang dan sebanding dengan kata-kata magis "rindu itu berat", bukan? Lalu pertanyaannya, apakah mereka ketemu di kantin hari itu?

Yang nonton, pasti tahu jawabannya. FYI, ini juga jadi adegan pembuka filmnya. Dari mulai film, kita sudah digombalin, nggak tahu deh sehabis film. Nonton aja.

Adegan idaman ABG nih. (foto diambil dari sini)
Dari magnet yang kutulis di atas, bukan berarti film Dilan 1990 ini sempurna. Tentu ada cacat di beberapa sisi. Salah satunya yang mengganggu adalah nuansa 90's memang terasa masih kurang. Seperti kamar Milea yang didekorasi dengan warna-warna pastel. Elemennya memang vintage, tapi vintage bukan berarti 90's. Dekorasi kamar Milea malah terasa kekinian dengan gabungan elemen vintage yang di-set malah terlihat jadi kekinian. Apakah memang begitu bentuk kamar anak gadis zaman dulu yang serba penuh warna-warna lembut? Kurasa tidak. Lalu aku juga terganggu dengan alur yang terlalu fokus pada kisah cinta Dilan dan Milea sehingga karakter lain tidak tereksplor dengan kuat. Jika karakter lain diperkuat, seperti teman-teman Milea dan Dilan, serta keluarga masing-masing, tentu gombalan Dilan yang tengil dan urakan jadi semakin tajam. Dilan 1990 tentu akan makin melekat di hati.

Terlepas dari aspek kekurangan film, Dilan 1990 memang film remaja yang memiliki nilai-nilai positif. Ini semacam kampanye gombal berfaedah ala Dilan yang baku tapi lucu. Ketika formula ini pernah dipakai dalam film Ada Apa dengan Cinta? yang pertama, kebangkitan sastra Indonesia begitu berterima. Lalu di film Dilan 1990 kini, kalimat-kalimat puitis kembali membahana. Ada beberapa adegan baper saat Dilan dan Milea pedekate selain gombal-gombalan di telepon umum. Salah satunya, saat Milea sedang jalan dengan Dilan di pasar. Milea memegang pinggiran jaket Dilan dari belakang. Rupanya film ini tidak butuh adegan pegangan tangan romantis untuk membuat penontonnya baper. Lalu ada pula adegan Milea reflek mencium tangan Dilan lantaran Dilan membawakan tukang pijit untuknya yang sedang sakit. Rasanya 'tua' banget, tapi bikin jantung menderu. Sorak-sorai membahana di studio karena mengusung gaya pacaran yang tak biasa. Ada pula satu adegan saat Dilan ke rumah Milea mengantar surat dan berpamitan, "Assalamualaikum, jangan?" Aku khawatir layar studio dikerumuni semut. Bukan suratnya aja yang nyampe ke Milea, tapi gaya bahasanya juga mengena. Gemas.

Lagu lembut dari The Panasdalam yang berjudul "Dulu Kita Masih Remaja" dengan lirik-lirik berima terasa sangat cocok dengan suasana hati Milea yang berbunga-bunga karena tertawan gombalan Dilan. Awalnya aku ragu dengan soundtrack-nya karena terlalu slow dan melow, tapi setelah nonton filmnya yang diambil dari sudut pandang Milea yang juga lembut, sepertinya OST ini menyesuaikan nuansa filmnya.

Banyak ekspektasi terhadap film ini. Namun, ekspektasi itu menguap. Karena Dilan 1990 punya kelebihannya sendiri, terlepas dari pro-kontra penayangan film ini dan kritik dari berbagai sisi. Dilan 1990 memang ejawantah romansa SMA tahun 90-an tapi ditulis dan digarap pada tahun 2000-an. Santai, renyah, lucu, sederhana tapi percayalah semua gombalan Dilan itu nyata. Aku jadi merindu sekuelnya.

Selamat untuk kesuksesan Dilan 1990. Pada saat tulisan ini tayang, katanya Dilan 1990 menuju 5 juta penonton, ya. Kita tunggu aja. Yang pasti,
Dilan, sejak kemarin sore di studio, aku sudah mencintaimu. 

Related Articles

6 komentar:

  1. film favorit ku awal tahun 2018 ini

    ReplyDelete
  2. Aaah senang kamu nuliskan artikel reviewnya!

    Susah move on dari Dilan sehabis nonton film ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Aku juga Kak Dee. The next Rangga dan Cinta nih.

      Delete
  3. dan aku kenapa gak tertarik sama film ini :D

    ReplyDelete