In Journey Land

Perjalanan Panjang ke Padang Lawas, Sumatera Utara

Bulan Maret lalu, aku bertualang ke Padang Lawas, Sumatera Utara. Jarang-jarang aku pakai kata bertualang di blog ini. Tapi memang kali ini, perjalanan ke Padang Lawas punya cerita sendiri.

Suatu ketika, aku dihubungi oleh dosen saat kuliah dulu di UI. Beliau menawarkanku untuk terlibat dalam proyek pendidikan tingkat nasional yang sedang dilaksanakan oleh Pusat Penilaian Pendidikan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Berasa keren, ya, proyeknya. Aku diminta mendampingi dan memberikan materi motivasi terkait penggunaan sebuah aplikasi uji kompetensi siswa dalam skala internasional. Dosenku itu bilang, nanti akan ada pelatihan sebelum berangkat. Karena memang kupikir ini akan jadi pengalaman menarik, aku langsung 'ayo-ayo' saja tanpa bertanya detailnya. Maklum, aku anaknya 'ayokable' banget.
Pasar di Padang Lawas, Tapanuli Selatan
Usai meeting dengan pihak Puspendik Kemdikbud di kawasan Senen, aku dibekali beberapa materi motivasi terkait pemahaman anak-anak usia SMP dalam menggunakan Programme for International Student Assesment (PISA). Yang harus di-highlight dalam tulisanku ini, aku dikirim ke Padang Lawas, sebuah daerah di Sumatera Utara yang jaraknya ratusan kilometer alias 10 jam perjalanan dari Kota Medan. Aku tidak menyangka Sumatera Utara seluas itu. Kalau di Pulau Jawa, mungkin 10 jam itu setara dengan jarak Jakarta-Semarang dan itu sudah melewati 2 propinsi. Wow. Ternyata masih banyak sudut di negeri ini yang belum kujelajahi. 

Perjalanan panjang menuju Padang Lawas, Sumatera Utara

Yang membuatku sedikit tertantang adalah aku dibekali sejumlah uang saku oleh Puspendik yang harus cukup untuk biaya hidup di Padang Lawas 2 hari. Ya, 2 hari mulanya. Aku mendapat jatah mengisi materi di 2 sekolah. Puspendik tidak memberikan instruksi apa-apa mengenai transportasi, akomodasi, dan orang yang harus kutemui. Bekal uang saku dan daftar sekolah jadi satu-satunya pegangan pada saat surat tugas resmi diturunkan. Oke, aku harus mencari sendiri bagaimana cara sampai ke Padang Lawas. Aku diberi waktu seminggu untuk menyusun materi dan mempersiapkan keberangkatan.

Nah, kupikir awalnya, ketika Puspendik menitahkanku untuk mengunjungi Padang Lawas tanpa informasi detail, aksesnya ke lokasi gampang. Rupanya aku salah total. Mulanya aku ditugaskan sendirian, jadi otomatis aku harus mencari jalur teraman dan ternyaman menuju lokasi. Akses termudah yang kutahu, ya, penerbangan ke Bandara Internasional Kuala Namu, Medan. Aku sampai bertanya kepada beberapa teman yang berada di Medan dan saudara yang juga tinggal di Medan. Sepupuku bilang, Padang Lawas itu jauh sekali dan masuk kawasan Tapanuli Selatan. Bahkan sepupu dan temanku di sana belum pernah ke daerah itu. Tapi temanku menyarankan untuk naik Executive Bus dari Medan ke Padang Sidempuan, akses terdekat ke Padang Lawas. Begitu aku melihat jalur dan aksesnya, aku langsung mengajukan tambahan hari dan uang saku perjalanan menjadi 4 hari. Iya, dong, karena naik bus executive aja bolak-balik udah menghabiskan 2 malam sendiri.

Seorang teman dari Kemdikbud sudah mencari info mengenai lokasi yang akan kukunjungi. Katanya, Padang Lawas itu memang jauh. Kalau ke sana harus menggunakan pesawat ATR dari Kuala Namu-Medan ke bandara perintis Aek Godang. Temannya temanku adalah seorang auditor. Dia pernah ke Dinas Pendidikan Kabupaten Padang Lawas untuk mengaudit. Jadi sangat tahu rute dan akses ke sana. Dia bilang, dari Bandara Aek Godang ke Padang Lawas bisa ditempuh 4 jam lagi jalur darat. Sebelum aku senyum sumringah, masih ada kata 'tapi' untuk kesekian kalinya. Katanya, di sana tidak ada angkutan umum bahkan becak motor yang banyak terdapat di Sumatera Utara. Yang ada hanya mobil pick up untuk mengangkut sawit karena Sumatera Utara bagian selatan memang terkenal dengan kebun sawitnya yang luas. Aku sempat membayangkan berangkat demi tugas negara naik pick up yang isinya tumpukan sawit. Kalau kodisinya untuk traveling backpacking, nggak masalah. Kalau tidak ada yang jemput, sungguh riskan terbang ke sana, sendirian, cewek pula. Fix, ini bukan alternatif yang baik. Begitu aku konfirmasi ke Puspendik, biaya naik pesawat jenis ATR di luar anggaran mereka, apalagi mengingat aku harus menyewa mobil beberapa hari yang tentunya biayanya tidak sedikit. Duh, repot, ya tugas dari kementerian ini. Seharusnya mereka evaluasi anggaran lagi untuk akses perjalanan dinas para pejabat negara. Jangan cuma dilihat takaran akses untuk kota-kota besar saja, karena banyak sudut di negeri ini yang sulit ditempuh dan butuh biaya cukup besar untuk sampai di sana. Ini baru rimba Sumatera Utara, belum pulau-pulau di sekitarnya. Oke, alternatif lewat bandara Aek Godang resmi kucoret dari daftar.

Kebun sawit di Padang Lawas, Sumatera Utara

Setelah semedi satu hari mencari info, ada seorang sahabat yang baru saja balik dari Tapanuli. Wah, aku bahagia. Eh, ternyata dia ke kawasan Tapanuli Utara. Tak apalah, ya, yang penting sama-sama Tapanuli. Sahabatku itu menyarankanku berangkat ke Bandara Internasional Silangit, yang dekat ke Danau Toba. FYI, Sumatera Utara punya 7 bandara yang beberapa di antaranya masih jadi bandara perintis. Seluas itu, ya, Sumatera Utara karena akses dari daerah satu ke daerah lain sungguh sulit. Dari Silangit ke Padang Lawas cuma 6 jam. Untungnya pula, kini sudah ada pesawat langsung dari Soekarno-Hatta ke Silangit dengan maskapai Garuda Indonesia. Wui, tahu nggak apa yang kupikirkan saat itu? Aku berniat extend di Silangit dan menghabiskan hari di Pulau Samosir. Pasti menyenangkan bisa explore Toba. Mumpung berjarak cuma 1 jam, kan, dan termasuk kawasan wisata. Tapi, jangan senang dulu. Kegembiraanku serta merta dipatahkan oleh Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Barumun yang akan kukunjungi. Beliau menyarankan untuk lewat dari Pekanbaru saja karena lebih gampang aksesnya. Katanya perjalanan dari Pekanbaru 7 jam naik travel dan langsung sampai ke Barumun, kecamatan tujuan pertamaku di Padang Lawas.

Awalnya aku ragu. Dari Silangit saja bisa 6 jam, mendingan lewat Silangit, kan? Kenapa si kepala sekolah menyarankan harus lewat Pekanbaru? Namun, karena tawaran si bapak kepala sekolah itu lebih meyakinkan, aku mengalah. Beliau menjanjikan untuk memesankan travel dan penginapan di dekat sekolah yang ia pimpin. Kalau dari Silangit, beliau tidak begitu tahu akses travelnya. Biasanya travel dari Silangit hanya sampai Padang Sidempuan dan masih 2 jam lagi sampai di Padang Lawas. dengan menyambung bis. Malah, salah satu guru dari SMP Negeri 1 Aek Nabara Barumun yang juga kuhubungi untuk konfirmasi kedatangan menyarankanku terbang ke bandara Dr. Ferdinand Lumban Tobing di Sibolga. Katanya dari Sibolga ke daerah Barumun juga lebih cepat. Ah, tapi masih harus menyambung pesawat ATR dari Kuala Namu sementara biayanya di luar anggaran. Aku memutuskan mengikuti saran Bapak Kepsek SMPN 1 Barumun dan melupakan niat extend di Toba beberapa hari.  Kupikir, cukup untuk drama mencari akses ke Padang Lawas yang tak ada habisnya itu.

Sampailah pada hari keberangkatan, tiket Jakarta-Pekanbaru sudah kukantungi. Aku terbang ke bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Dari sana, aku lanjut naik mobil travel yang mengangkut kami ke Barumun. Perjalanan 7 jam kulewati dengan tingkat kebosanan tinggi. Kami melintasi jalur Lintas Sumatera Timur menuju ke Sumatera Utara. Untungnya aku dihibur oleh berhektar-hektar kebun sawit yang cantik dan sesekali mengobrol dengan sesama penumpang travel. Kami hanya berhenti sekali untuk makan siang di sebuah rumah makan padang. Setelah itu lanjut lagi langsung menuju daerah Barumun, kawasan Padang Lawas.

Kuliner di Padang Lawas, Sumatera Utara
Kuliner di Padang Lawas.
Kedatanganku disambut oleh Kepala Sekolah SMPN 1 Barumun dan Komite Sekolah. Kami berbincang-bincang sebentar. Perjalanan yang sungguh panjang ditutup dengan makan malam di sebuah rumah makan khusus ikan bakar fresh di Barumun. Tadinya aku ingin coba arsik, makanan khas Padang Lawas yang semua tulang ikannya sudah diangkat. Tapi, kata bapak Kepsek yang menemaniku makan malam, arsik sudah mulai jarang yang buat di Padang Lawas. Kalau mau coba arsik, harus pesan dulu. Akhirnya aku cuma makan dengan ikan mujair yang ukurannya jumbo dan diselingi dengan gulai telur ikan. Ah, lezat sekali.

Kami berbincang santai malam itu tentang mata pencaharian penduduk Barumun yang berasal dari perkebunan sawit. Dari sana juga aku tahu bahwa Padang Lawas ini punya adat yang berbeda dari Batak meskipun sama-sama di Sumatera Utara. Oleh karena itu, ada pembedaan kawasan Tapanuli Utara dan Selatan karena tradisi mereka berbeda. Mereka lebih dekat dengan tradisi Mandailing yang mayoritas penduduknya muslim. Bahasa mereka pun berbeda. Pak Kepsek sempat berkelakar, aku tidak perlu ragu dengan tingkat kehalalan makanan-makanan di sini.

Dalam hati ku hanya berdecak, "Bisa sampai di sini tanpa harus hilang di belantara kebun sawit saja, aku sudah bersyukur, Pak."

Related Articles

4 komentar:

  1. Menarik cerita perjalanannya, Num. Masih di Sumatera Utara tapi aksesnya masih sulit. Duh semoga Indonesia semakin terbuka ya, biar gampang di datangi kapan dan dimana saja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Uni. Padahal kita mikirnya Sumatera Utara gitu ya, masih terjangkaulah. ALternatifnya sih banyak, ada 7 bandara di sana, tapi biayanya lumayan ya.

      Delete
  2. Aku belum pernah kalau ke padang lawas hanya ke bukit tinggi, sumatera barat memang cakep banget deh alamnya dan makanannya bikin berat badan mendadak naik deh hahahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukittinggi sama Padang Lawas beda propinsi Kak. Padang Lawas di Sumatera Utara, Bukittinggi di Sumatera Barat. Hahaha. Pasti orang nyangkanya Padang ya. :))

      Delete