Blog Archive

Tampilkan selengkapnya

Labels

Postingan Populer

[Review] Nonton Drama Cina Falling Into Your Smile, Sebuah Impian Jadi Pemain e-Sports Internasional

Film Rompis, Puisi Roman Memaku di Hati

Quote Drama Cina Falling Into Your Smile tentang Perjuangan Atlet e-Sports

Langsung ke konten utama

Apa yang Kamu Ucapkan kepada Diri Sendiri saat Pandemi Berakhir?

Kebayang nggak suatu hari, saat penyebaran Covid-19 mereda, sebagian besar orang di negara ini sudah divaksin, dan akhirnya kita tidak perlu pakai masker lagi, apa yang ingin kamu ucapkan pada diri sendiri?

Kalau aku, aku akan bilang, "Selamat, Hanum. Kamu lulus. Kamu sudah bertahan dengan sangat baik."


Apa yang Kamu Ucapkan kepada Diri Sendiri saat Pandemi Berakhir?


Saat mengetikkan ini, mataku mulai berkaca-kaca. Betapa inginnya masa itu datang dalam waktu dekat. Betapa inginnya aku bilang ke seluruh dunia, bahwa kita telah bertahan dengan sangat baik selama masa pandemi ini.

Jujur, masa awal pandemi adalah masa-masa tersulitku. Aku kehilangan pekerjaan. Dengan mudahnya semua orang mengecam kegiatanku sebagai seorang traveler. Traveler yang membawa virus ini berpindah dari satu negara ke negara lain. Padahal di balik kecaman itu, ada perut yang harus diisi, ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Traveling sudah jadi pekerjaanku. Tapi karena kecaman itu, aku harus menerima banyak sekali kata-kata nyinyir orang. Aku tidak lagi bisa leluasa berbagi tempat-tempat indah, makanan unik, pengalaman luar biasa dalam perjalanan di social media. Karena di balik tempat-tempat indah itu, ada virus yang menyusup. Begitu pikir orang-orang. Begitu juga pikirku was-was. Akhirnya aku berhenti sebentar. Ternyata pandemi ini melanda dunia dalam jangka waktu lama. Aku harus bangkit.

Kini sudah hampir 2 tahun kita hidup di tengah pandemi. Ada jutaan orang gugur karena Covid-19. Pandemi ini tak saja menuai virus, tapi juga menuai hoax. Pro-kontra terhadap eksistensi virus ini terus ada. Tapi yang lebih ganas lagi adalah penyampai berita yang menyatakan ketidakpercayaan terhadap beragam prokes dan antivirus. Padahal di luar sana korban terus berjatuhan. Grafiknya naik-turun. Kenapa ada saja orang yang mempengaruhi orang lain untuk tidak mempercayai keberadaan virus ini. Semestinya, jika kamu tidak percaya Covid-19, sebaiknya diam saja di rumah sebagai bentuk solidaritas bagi orang yang sedang berjuang sembuh dan keluarga yang sedang bangkit setelah kehilangan saudaranya.

Sekarang kita masuk ke era vaksin. Menurutku, sosialisasi vaksin ini adalah bagian dari perang melawan hoax-hoax yang tidak bertanggung jawab itu. Aku sadar, betapa sulitnya kita meng-influence orang-orang untuk ikut meramaikan vaksinasi. Apalagi akses untuk vaksin juga dibatasi pada kalangan tertentu. Untuk kategori pekerja kreatif sepertiku baru dibuka di area Jakarta.


Apa yang Kamu Ucapkan kepada Diri Sendiri saat Pandemi Berakhir?

Namun, sejak PPKM Darurat diberlakukan, peminat vaksin meningkat pesat. Alasan orang untuk vaksin berbeda-beda. Sentra vaksinasi dibuka di mana-mana. Pemerintah mewajibkan vaksin khususnya untuk para pejalan. Bagi yang ingin melakukan perjalanan, baik darat, laut, dan udara wajib menunjukkan sertifikat vaksin. Sehingga mau tidak mau, banyak orang berburu tempat vaksin.

Pemerintah DKI Jakarta juga dalam waktu dekat akan memberlakukan wajib vaksin buat pengunjung mall dan tempat tertentu. Sebenarnya penetapan aturan ini agak terdengar kontroversial. Namun, setelah aku ikut zoom meeting bersama Kementerian Perhubungan beberapa waktu lalu, pemerintah punya alasan untuk memberlakukan kewajiban itu. Vaksin Covid-19 masih belum merata di kalangan rakyat sehingga pemerintah dan lembaga terkait mencari cara agar masyarakat akhirnya memilih untuk vaksin.

Aku sebenarnya jarang membahas ini di ruang publik, entah itu di social media maupun blog. Tapi aku merasa, kini saatnya aku membagikan pemikiranku sendiri di sini.

Yang kita perangi ini berwujud virus, partikel terkecil yang menyusup ke dalam tubuh kita. Sudah banyak spekulasi tentang asal virus ini. Virus dari hewan, virus buatan, protein yang dimutasikan, dan semuanya menghadang Cina atas penyebaran virus ini. Nggak sedikit munculnya spekulasi tentang adanya konspirasi dari elite global. Aku juga sudah baca sumber artikel dan videonya beberapa kali. Kumunculan virus ini ujung-ujungnya adalah bisnis vaksin. Ya, pendapat itu memang masuk akal. Aku sendiri tidak membantah. Lantas apa kemudian?


Apa yang Kamu Ucapkan kepada Diri Sendiri saat Pandemi Berakhir?

Apa kita akan diam saja? Partikel kecil virus ini sudah menginfeksi jutaan orang tanpa pandang bulu. Apakah kita tetap menutup mata? Kalau memang ini bagian dari konspirasi, lalu kita mau mengeluh seperti apa? Ini sudah kejadian dan menyebabkan pandemi. Ada juga yang mengatakan, tinggal hentikan saja pandemi, buang masker, maka dunia aman. Tidak semudah itu kurasa. Dulu Ibu Siti Fadillah, Menteri Kesehatan RI tahun 2004 pernah menghentikan pandemi akibat SARS. Beliau sekuat tenaga melawan argumen WHO terhadap penyebaran virus flu burung di Indonesia. Tapi beliau tidak mengatakan bahwa virus flu burung itu tidak ada bukan? Semua berdasarkan fakta dan data. Mungkin saat itu kita masih punya waktu untuk menolaknya.

Namun, berbeda kasusnya dengan pandemi saat ini yang sudah keburu menyebar luas dan negara telat bertindak tahun lalu untuk menutup pintu gerbangnya. Kita saat ini nggak bisa beralasan bahwa ini konspirasi dan salah pemerintah. Lalu kita harus bagaimana, sementara melihat sahabat, kerabat, saudara kita mengerang melawan sakitnya?

Ada banyak jalan sudah ditawarkan. Protokol kesehatan, mengurangi laju mobilitas, menghindari kerumunan, dan kini vaksinasi. Itu adalah upaya agar sistem imun kita kebal dan pandemi bisa diakhiri. Bukannya membuat kita bebal dan dibutakan. Ibaratnya, nasi sudah menjadi bubur. Percuma kita berkoar-koar ini konspirasi dan ini hanya bisnis. Hey, virusnya sudah membumi. Sebegitu egoiskah kita membiarkan diri kita terjangkit dan menyebarkannya di lingkungan keluarga?

Vaksin adalah salah satu jalan keluar penting agar kita bisa mengakhiri pandemi. Mungkin banyak yang kurang setuju, tapi bayangkan kalau imun kita masih belum bisa menangkis virus baru, Covid-19 akan dengan santai berpindah-pindah dari inang satu ke inang lain lalu bermutasi. Jika kita sudah divaksin, 1 penangkal akan membuat virus mental. Bayangkan jika satu kota sudah divaksin, bagaimana virus itu akan berpindah? Itulah yang namanya herd immunity. Terlepas dari ini adalah bagian dari konspirasi, ya bisa jadi. Tapi lihat, sudah berapa korbannya. Apakah kita masih harus tetap keras kepala? Tidak perlu berkoar-koar menolak konspirasi atau ikut serta di dalamnya. Cukup pikirkan keselamatan diri dan keluarga. Andai semua orang berpikiran sama, virus nggak punya alasan lagi untuk berpindah dan konspirasi itu, jika memang ada, akan berhenti dengan sendirinya. Kalau belum sadar, ya terimalah nasib bahwa pandemi masih akan terus melanda hingga 1-2 tahun ke depan.

Komentar

  1. Terima kasih diriku sudah bertahan sampai sejauh ini. Vaksin membantu imun kita semakin kuat, beberapa orang yang pernah mengalami covid tapi sudah vaksin, efeknya gak seburuk mereka yang belum vaksin sama sekali. Stay safe ka Hanum! Semoga kondisi ini cepat pulih dan bisa melakukan perjalanan lagi dengan bebas, tanpa rasa takut dan tanpa masker :)

    BalasHapus
  2. Kalau aku bakal ngmng “yes pandemi udah kelar, ini saatnya puas2in jalan2 Sigit!!” Wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tooos. Abis ini kita puas-puasin jalan-jalan ya.

      Hapus
  3. Pertama-tama aku seneng hanum sharing soal ini. Supaya orang-orang yg belum berpartisipasi dlm prokes dan vaksinasi sadar dan ikutan demi kepentingan bersama.

    Yg kedua mau bilang makasih sama Ariefpokto sudah sabar dan selalu berusaha sehat. Mana ganteng lagi . Ya udah disyukuri saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga dengan sharing seperti ini bisa menyadarkan teman-teman yang belum mau vaksin.

      Hapus
  4. Nih kalimat-kalimat yang mungkin akan aku ucapkan:

    - Kamu hebat, Dew! Sudah bertahan sejauh dan sekuat ini.
    - Halo, paspor! Kemungkinan kamu nggak akan nganggur lagi.
    - Yuk mulai pakai lipstik lagi, biar orang-orang lihat senyum kita tanpa harus tertutup masker lagi.

    dsb dsb

    Dan kayaknya, setahun ke depan ini masih gambling untuk terjadi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oiyaa, apa kabar ya paspor aku. Udah mau expired tahun depan. Harus siap-siap ganti paspor baru.

      Hapus
  5. Mau bilang makasih yaa, udah bisa bersahabat dan menerima keadaan.
    Maka dari itu penting banget kalo pekerjaan ga hanya satu, punya back up, hihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya teh. Dari pandemi kita belajar soal pertahanan ya.

      Hapus
  6. Pastinya sih virus C ini tidak akan pernah hilang, hanya saja semoga cara pencegahannya akan jauh lebih mudah sebagaimana obat cacar atau obat malaria yang berhasil ditemukan. Insya Allah setelah pandemi selesai ya ingin beraktivitas seperti biasanya dulu

    BalasHapus
  7. puuuk puuuk punggung kita masing - masing yaa amba, alhamdulillah bisa menjalani semua kegabutan di masa pagebluk ini. Aku jugaaa rasanya ngga sabar bisa hidup lebih normal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalagi kalo sambil puk2 sesama teman saling menguatkan ya Mbaa.
      Tinggal kita hidup berdampingan dengan virus ini, udah alhamdulillah masih bisa bertahan, toh nanti akan menjadi biasa asalkan tubuh kitanya memang sudah terbentuk antibodinya.

      Hapus
    2. Puk puk semuanya. Badai ini pasti berlalu.

      Hapus
  8. Ga sabar menunggu saat itu, saya yakin orang-orang yag lain juga. Semoga kita semua sehat selalu hingga saat itu tiba ya mbak. Stay safe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar kak. Bertahan sedikit lagi ya. Kita pasti bisa.

      Hapus
  9. Sepakat dengan pendapatmu. Semua sudah terjadi fan sebagai bentuk ikhtiar kita, prokes dan vaksin mungkin salah dua jalannya. Ikhtiar sudah kita tinggal tawakal dan tetap berdoa.
    Semoga covid-19 ini bisa kita kalahkan. Aamiin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Ada banyak jalan menuju kebebasan dari pandemi kok. Yang penting ikhtiar tetap jalan. Jangan menyerah.

      Hapus
  10. Virtual HUGS!!

    Hanum sering2lah bikin artikel insightfull kayak gini yaaa
    seneng banget aku bacanya
    kamu ibarat sahabat yg lagi asyik ngobrol ama diriku dan para pembaca.

    Super syukaaakkk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Virtual Hug juga kak.
      Aku jadi tersipu. Hehehe. Next aku bakal sering sharing biar kita bisa ngobrol bareng. Hihihi

      Hapus
  11. Sungguh aku tidak sabar menantikan pandemi ini berakhir. Semua orang di seluruh dunia akan sangat bahagia jika pandemi ini segera berakhir. Kalau di daerahku Kendal Jawa Tengah ini bulan Juli dan Agustus ada vaksin massal setiap hari di beberapa lokasi tertentu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buat teman-teman di Kendal, semangat ya berburu vaksin. Stay safe.

      Hapus
  12. Miris melihat sebagian orang yang tidak percaya sama virus Covid ini, namun saat banyak korban berjatuhan baru deh percaya. Sedihnya saya sampai saat ini belum dapat vaksin karena distribusi yang gak merata di daerah, entah kapan dapatnya, harus bersabar nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah hubungi puskesmas belum kak? Siapa tau sudah ada info update. Semoga distribusi vaksin bisa merata ya. Tapi kalau di daerah sana kasusnya nggak besar, tetap jalani prokes aja. Stay safe kak.

      Hapus
  13. Terimakasih diriqu yang sudah kuat melewati ini semua, selamat sekarang segalanya sudah normal jangan ngeluh ngeluh lagi ya kecuali dalem hati boleh. ;D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha. ngeluh itu manusiawi ya kak. Tapi nggak boleh diem aja, manyun, dan akhirnya nggak berbuat apa-apa. Semangat kak.

      Hapus
  14. Akankah pandemi berakhir? Saya seperti pesimis mba melihat upaya pihak berwenang solusi yg ditawarkan solah hanya bagaimana berdamai dengan pandemi. Saya merindukan sosok seperti bu Siti Fadillah mantan MenKes yg memang niat mengakhiri pandemi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pandemi akan berakhir kok. Virusnya mungkin gak akan hilang. Nanti akan jadi endemi semacam virus flu atau malaria. Tetapi setidaknya virus nggak akan mampu menyerang banyak orang sekaligus. Aku percaya pandemi akan berakhir. Kalau nggak, seluruh dunia akan collapse.

      Hapus
  15. Baru kemarin aku ngobrol sama temenku masalah ini mbak. Kita mau pandemi berakhir tapi masih ada aja oknum yang nyebar2 hoaks :( dan banyak juga yang ga mau divaksin. =

    BalasHapus
  16. Awalnya aku bisa menerima dengan tetap menunggu tapi sepertinya menunggu aja ga ckup i should step forward and leave my comfort zone

    BalasHapus
  17. kalau kita semua bisa kompak bersatu melawan virus ini, InsyaAllah kita bisa menang.
    Bukankah Allah memberi kita cobaan sesuai dengan kemampuan kita? semoga pandemi ini bisa segera berakhir dan kita bisa hidup tenang lagi. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. It's true ka. Kita harus tetap berusaha.

      Hapus
  18. Pengen makan di luar dengan tenang kalau pandemi berakhir nggak takut lagi keluar rumah. Semoga harapan kita menjadi kenyataan ya kak. Jauh jauh coronvcenya.

    BalasHapus
  19. Definitely gue akan bilang ke diri gue sendiri, good job, girl! U did it! Finally pandemi ini berakhir dan ternyata gak sehoror yang dibayangkan, hidup tetap bisa berjalan, rejeki ada jalannya juga, semua tergantung mindset kita sendiri.

    BalasHapus
  20. Semoga degan vaksin, bukan berarti kita kebal virus yaa..
    Tapi saling menjaga dan Indonesia segera lepas dari yang namanya pandemi.
    BIsmillah~

    Saat pandemi berakhir nanti..
    In syaa Allah kita menjadi lebih produktif dan kuat.

    BalasHapus
  21. Alhamdulillah, akhirnya kita bisa mengakhiri semua ini, kita terbebas dari virus, meskipun aku sendiri menyandang gelar LC ( Lulusan Covid ) tapi aku bangga aku pernah merasakan bagaimana sakitnya covid sehingga bisa berempati kepada yang sakit covid dan memberikan saran-saran bagaimana bisa selamat dari covid. terima kasih ya Allah Engkau telah menjagaku, menjaga keluargaku dan menjaga orang-orang yang aku sayangi sampai saat ini. Meskipun aku tahu dunia setelah covid tidak akan pernah kembali seperti sediakala sebelum covid, kita akan memiliki habits yang baru dan beragam keunikan dan tantangan yang harus terus kita hadapi.

    BalasHapus

Posting Komentar