In Journey Land

Wisata Hemat Panorama Pabangbon Bogor

Aku paling nggak bisa menghabiskan akhir pekan di rumah saja. Rasanya berdiam di rumah tanpa alasan membuat badan ini pegal-pegal. Karena aku tidak punya rencana apa-apa selain harus belanja bulanan, aku entah kenapa mengirim pesan pada seorang teman. Aku cuma bertanya, "Kalau akhir pekan Bogor sepadat apa? Ajak aku main ke Bogor dong."

Temanku langsung membalas sapaku. Karena orang Bogor, kalau ditanya tentang tempat wisata Bogor pasti dia kebingungan. Kebun Raya Bogor dan Puncak adalah jawaban jitu. Lalu kuliner juga jadi alternatif karena jika ingin makan murah dan kenyang, main-mainlah ke Bogor. Yang pasti aku nggak mau ke Bogor kota atau pun Puncak karena arus padat merayap. Udah 2 tahun aku nggak ke Puncak. Nggak mau lagi ke sana kalau akhir pekan. Parah macetnya. Aku teringat temanku ini pernah ke salah satu spot cantik yang katanya masih di sekitaran Bogor. Dia bilang lokasinya di Desa Pabangbon, Leuwiliang, masih kawasan Kabupaten Bogor. Cuma 2 jam dari Kota Bogor.

Serta merta aku semangat lagi. Hari Sabtu yang lesu tak jadi kuhabiskan dalam sendu. Tanpa berpikir panjang, aku menarik Junisatya dari kemulan selimutnya pagi-pagi sekali, lalu berkendara menuju Leuwiliang. Aku harus menjemput Ry di Depok dan Vi di Bogor, dekat rumahnya. Sarapan pagi di McD membuka pagi itu. Begitu kami berempat siap, mobil pun melaju ke kawasan Leuwiliang. Beruntungnya, hari itu Bogor tidak terlalu ramai. Kalau kata Vi, "Bogor rame kalau akhir bulan dan libur panjang. Kalau weekend tengah bulan, cenderung sepi." Syukurlah.

Perjalanan tak ada kendala berarti. Jalanan menuju kawasan Pabangbon cukup mulus dan yang paling penting tidak ada pungli. Aku paling risih jika di setiap belokan ada preman yang meminta uang masuk, uang kebersihan, uang parkir, atau semacamlah. Beberapa tempat wisata di kawasan Jawa Barat banyak dan aku sudah merasakannya sendiri. Untungnya Pabangbon tidak seperti itu. Jalanan mulus meski agak sempit dan beberapa kali tersendat karena lewat pasar. Sekitar 2 jam sampailah kami di kawasan hutan pinus dengan jalan yang agak sedikit menanjak. Kami sempat ditawari parkir di sebuah warung karena katanya mobil nggak akan sanggup naik. Jadi bisa naik ojek saja dan bayar 10.000 rupiah. Tapi aku tidak mempan dengan trik ini. Selagi jalanannya bagus, kenapa enggak dicoba. Kulihat memang banyak mobil yang parkir di bawah. Ini bisa jadi alternatif juga buat kamu yang datang. Tapi kalau pakai kendaraan pribadi, tidak ada salahnya mencoba jalan terus di depan.

Aku dan 2 temanku turun, membiarkan Junisatya melajukan mobil melewati tanjakan. Kami menyusulnya dengan jalan kaki. Begitu jalan mulai datar lagi, kami kembali masuk ke mobil. Gerbang Panorama Pabangbon tidak jauh kok dari sana dan halaman parkir juga terbentang luas.

Panorama Pabangbon Leuwiliang


Panorama Pabangbon Leuwiliang

Panorama Pabangbon Leuwiliang

Kawasan wisata Pabangbon terbagi 2 area, camping area dan panorama. Kalau kamu ke sana, kamu tentu akan memilih langsung ke Panoramanya karena memang cenderung lebih ramai. Tapi kata temanku, di camping area juga ada spot melihat panorama yang bagus. Kawasan wisata Pabangbon ini sebenarnya kawasan hutan pinus di Leuwiliang. Jadi lokasinya berada di bukit dan adem. Aku berjalan ke camping area dan membayar tiket masuk Rp10.000 saja. Niat kami memang bukan untuk kemping, tapi untuk melihat panorama lembah yang dapat terlihat dari puncak hutan pinus itu. Camping area cenderung lebih sepi jadi aku lebih leluasa mengeksplor lokasi. Di sana ada titik-titik foto yang instagramable. Ada jembatan kayu yang dibuat sedemikian rupa. Kalau nggak salah di bagian camping ground ini ada sekitar 5 spot foto panorama. Setiap spot ada penjaganya dan dikenai biaya Rp5.000. Aku setuju dengan tarif biaya foto 5.000 per spot karena jembatan kayu yang dibangun di sana murni swadaya sehingga mereka butuh biaya perawatan. Oiya,Kalau sedang sepi, kita bisa foto sepuasnya. Kalau sedang ramai, ya sadar diri aja ya foto-fotonya.

Panorama lembah yang terlihat memang bagus. Ada bukit yang bersusun manis di kejauhan. Waktu terbaik untuk menikmati panorama ini adalah pagi hari karena langit sedang cerah dan panas belum terlalu menyengat. Bonusnya, angin sepoi-sepoi menyapa. Camping area ini dipercantik dengan beberapa bangku dan saung untuk istirahat pengunjung. Untuk kawasan kempingnya sendiri, kita bisa menyewa tenda dan hammock di loket. Untuk yang ingin outbond, bisa coba flying fox yang tarifnya Rp35.000 per orang. Flying fox-nya tidak terlalu ekstrem hingga membelah panorama, jadi aman buat anak-anak.

Omong-omong soal hammock, usai puas menikmati panorama, aku menemukan hammock yang disusun ke atas. Ini hammock umum, kok buat pengunjung yang sekadar ingin foto atau beneran hammock-an. Ya, bentuknya memang kekinian. Jadi aku nggak ketinggalan untuk memanjat hammock itu bersama yang lain. Hammock yang dipasang bertingkat ini memang tampak photogenic. Tapi tahukah kamu bahwa untuk sampai ke tingkat paling atas itu butuh perjuangan. Junisatya yang hanya mampu naik sampai ke tingkat ketiga sudah gemetaran karena gamang. Dia freeze di atas sana. Wah, orang yang bisa sampai di tingkat atas tentu hebat, ya.




Panorama Pabangbon Leuwiliang

Panorama Pabangbon Leuwiliang

Penorama Pabangbon Leuwiliang Bogor

Lepas tengah hari, kami turun dari camping ground Pabangbon karena kelaparan. Satu lagi yang aku suka dari spot ini, tidak ada orang berjualan di dalam sehingga lingkungannya lebih tertib dan tetap terjaga. Oleh karena itu, memang sangat disarankan ke sini bawa makanan dan bisa piknik bersama keluarga atau teman jalan di tengah hutan pinus Pabangbon di pinggir lembah. Karena kami tidak membawa bekal makanan, jadilah kami keluar dari kawasan itu dan turun ke arah parkiran. Di sana banyak warung kecil yang siap menyemangati perut kita. Kata temanku harga makanan di sini relatif murah. Aku memesan soto bogor dan kamu tahu harganya berapa? Cuma Rp5.000. Ini murah banget dan enak. Nggak ada nih soto bogor harga segini di Jakarta. Jadi kunikmati saja hal-hal yang membahagiakan mata, perut, dan pikiran di kawasan Pabangbon ini.

Usai makan siang, niat hati ingin masuk ke kawasan Panorama Pabangbon untuk sekedar melihat-lihat. Tapi tiba-tiba hujan mengguyur. Semua pengunjung bubar dan berteduh di warung. Lagipula kami sudah puas menikmati panorama di camping area. Kata Vi, di Panorama Pabangbon tempatnya sama. Pemandangan lembahnya juga sama. Jadi kami putuskan untuk turun gunung saja sebelum jalan menuju kota terlalu padat jelang sore hari.

Berbagai celoteh riang kami lontarkan di sepanjang perjalanan. Bagiku Pabangbon membawa kesan manis di hari Sabtu. Rasanya puas melihat panorama cantik yang tidak terlalu jauh dari lokasi tempat tinggalku. Bogor menjadi begitu hangat menemani akhir pekanku bersama teman-teman sesama pejalan ini. Begitu sampai di Kota Bogor yang memang hari itu relatif ramai lancar, Vi mengajakku mampir ke Momomilk, sebuah kafe susu segar. Kami nongkrong hingga magrib tiba di kafe itu. Minum susu segar dengan berbagai rasa sehabis trekking di Pabangbon itu rasanya tak kalah nikmat. Susu segar di sini ada bebebapa varian dan harganya di bawah Rp20.000. Ada menu dessert lain yang disajikan di kafe ini yang berbahan dasar susu, tapi aku lebih tertarik dengan susu segarnya biar sehat.

Momomilk Bogor

Belum puas bermain hari itu, sebelum pulang dan mengantar Vi si anak Bogor pulang, aku diajak mampir lagi makan sate taichan yang lagi hits akhir-akhir ini. Di depok juga ada sebenarnya restoran taichan ini tapi aku belum pernah mampir. Taichan menjadi penutup hari Sabtu kami. Makan taichan kulit menjadi favoritku. Aku langsung pesan 10 tusuk dengan harga Rp25.000. Aku bahagia menghitung jajanan hari ini. Kupikir jalan seharian akan menghabiskan uang di atas Rp200.000. Tapi ternyata tidak. Ah, senang sekali. Kapan-kapan, aku mampir lagi, ya, Bogor.

Related Articles

19 komentar:

  1. Aaaaah~~~ memang ketinggian itu memberikan suasana pemandangan yang kece banget dibandingkan kalau liatnya datar (?).

    Suka deh dengan konsep wisata ala ala kayak gini. Sederhana dan ramah lingkungan. Semoga selalu terawat deh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pabangbon keren view-nya apalagi kalau lagi cerah

      Delete
  2. Boleh juga nih pabangbon. Walau sempat trauma kena macet di Leuwiliang minggu lalu. Tapi kalau selfie nya bagus gini boleh lah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ke Bogor jangan pas awal bulan Kang. pasti macet

      Delete
  3. Wuaahhhh.. sarapannya pake McD ya ������

    ReplyDelete
  4. Ternyata di Bogor ada yang sekece iniii mauuu..nunggu mudik duluu..

    ReplyDelete
  5. Aku yang domisili di Bogor aja belum pernah ke Pabangbon hihihi
    Fixed deh, kudu didatengin nih.

    ReplyDelete
  6. Wah, ejie yg kemarin ODT tinggal deket ni kesini. Hehheh

    Oiya, FYI aja. Kalau naik tingkatan hammock tanpa pengaman, dipikirkan kembali euy.. boleh baca keamanan hammock di blog ejie yah, kak ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soal Hammock itu aku juga deg-degan untuk naik ke tingkat berikutnya. Makanya aku milih hammock paling bawah aja. *curang

      Delete
  7. Waaaah...bogor emang keren. Bogor I'am coming...!!! Tapikapan yah? Hiks...

    ReplyDelete
  8. Lokasinya dekat banget dari Tangerang tapi aku baru tahu loh destinasi wisata yang sedang ngetop di Bogor ini. Spot fotonya cantik semua. Emang aku kurang piknik nih, suatu saat kalau ke Bogor harus mampir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus Un. Biar kita gak kudet. Masa udah terbang jauh ke mana, tapi ke Bogor yang deket aja gak disempetin. :D

      Delete
  9. tarif flying fox nya murah sekali kak. Jadi ingin mencobanya..

    ReplyDelete
  10. Makasih info lengkapnya menuju Pabangbon.

    ReplyDelete