TRAVELING 3 NEGARA 8 HARI SINGAPORE-MALAYSIA-THAILAND SELATAN (PART 5)

PART 5: EXPLORE PATTANI

Setelah terjeda begitu lama, aku kembali dengan artikel lanjutan TRAVELING 3 NEGARA 8 HARI SINGAPORE-MALAYSIA-THAILAND SELATAN ya. Kali ini part kelima dan aku sedang berada di Thailand Selatan. Buat yang baru membaca kisahku traveling 3 negara di Semenanjung Malaya ini, bisa cek artikel part sebelumnya ya, biar bisa merasakan up and down kisah perjalananku bersama 2 orang teman lainnya di Singapore, Malaysia, sampai Thailand.

PART 1 EXPLORE SINGAPORE

PART 2 EXPLORE MALAYSIA

PART 3 PERBATASAN MALAYSIA-THAILAND

PART 4 EXPLOLE YALA


Nah, kalau sudah baca semua episode traveling 3 negara 8 hari ini, mari kita lanjutkan kisah perjalanan di sini. Memasuki hari ke-6 trip, jangan ditanya bagaimana lelahnya kami. Aku sedang berada di Yala, Thailand. Kami sengaja bangun pagi-pagi sekali buat sarapan di salah satu warung nasi Khao Mok Gai yang terkenal di sini.

Setelah itu aku naik grab lagi buat balik ke penginapan. Untuk apa? Untuk check out hotel. Satu hari di Yala masih sangat kurang. Kami belum explore wilayah pinggiran kota. Tapi kali ini kami harus pindah kota lagi ke Pattani.

Awalnya kami hendak naik travel atau bus buat ke Pattani. Namun, rupanya ada driver grabcar di sini yang menawarkan jasanya dengan biaya lebih murah. Setelah dihitung-hitung, lumayan juga kalau kami diantar langsung oleh driver ini ke Pattani. Kami hanya membayar Rp50.000 per orang. Lebih hemat waktu, bisa mampir, dan sedikit lebih santai.

Drivernya baik banget deh. Beliau ini orang Yala yang bisa berbahasa Melayu Kelantan. Jadi sepanjang perjalanan kami bisa ngobrol banyak tentang muslim di Thailand. Perjalanan ke Pattani cuma sekitar 1 jam. Sebelum memasuki perbatasan kota, kami mampir ke cafe Amazon, ini salah satu coffeeshop yang terkenal lho di Thailand. Kami bertiga butuh minuman manis dan kopi sepertinya. Aku pesan matcha strawberry honey kalau nggak salah. Aku dikasih cup ukuran large. Sekali slurp, bikin segar sepanjang perjalanan. Minuman di sini recommend sih buat kamu yang lagi cari cafe hits di Thailand.




Oke, perjalanan dilanjut ya.

Kami langsung diantar menuju hotel tempat kami stay di Pattani. The Wood Pattani Hotel.

Sebenarnya belum masuk jam check in. Jadi kami hanya drop luggage dan istirahat sebentar sementara kamarnya disiapkan.


Lalu Decky ngide buat mengajak kami ke Big C. Ini salah satu swalayan terkenal juga di Thailand. Sebelumnya aku pernah ke sini saat di Bangkok. Ternyata di Pattani juga ada. Kami pun memesan grabcar dari hotel buat ke Big C. Tapi...

Nah, ada drama lagi nih. Selama di Yala, kami sudah terbiasa buat pesan grabcar ke mana-mana. Di Pattani yang notabene kotanya lebih besar dari Yala malah bermasalah saat pemesanan grabcar. Sungguh, sudah beberapa kali pesanan yang diterima, tapi driver nggak ada yang bergerak. Ya ampun, se-slow living inikah hidup mereka. Kenapa sulit sekali memesan taksi online di sini?

Akhirnya kami memutuskan buat memesan grabbike aja, dan bisa. Untungnya bisa ya. Kalau engga, kami harus menyewa kendaraan.

Buat yang belum tahu cara memesan taksi online kalau kita lagi di luar negeri, sini aku kasih tahu tipsnya. Biasanya tiap negara itu punya aplikasi taksi online-nya sendiri. Tapi untungnya di Malaysia dan Thailand masih ada Grab. Awalnya aku coba buka aplikasi Grab. Kalau memang tersedia, aplikasi akan otomatis mendeteksi lokasi kita lalu payment-nya juga otomatis berubah ke mata uang lokal. Nah, selama di Yala dan Pattani, aku juga mengandalkan Grab. Kami membayar menggunakan cash. Ovo nggak bisa ya, itu hanya berlaku di negara kita. Pilihannya di sini payment dengan debit/credit card atau cash. Tarifnya juga murah kok. Apalagi Yala dan Pattani bukan kota besar seperti Bangkok yang jalanannya macet dan lokasinya berjauhan.

Tapi kenapa ya saat aku sampai di Pattani, tiba-tiba aplikasi Grab-nya 'ngambek'? Anyway di sini juga ada Maxim. Tapi kasusnya sama. Nggak ada yang mengambil pesanan kami. Kami jadinya ke mana-mana pesan Grabbike masing-masing. Jadi kayak touring gitu naik motor. Dan, kamu tahu apa yang lebih gong lagi? Motor di sini cuma ada plat nomor di belakang. Jadi kan susah cari motor pesanan kita, harus lihat ke bagian belakang motornya dulu. Lalu, di sini penumpang nggak dikasih helm. Jadi, banyak-banyak berdoa aja ya selama dibonceng driver Grab. Budayanya sudah begitu.




Tapi nggak apa, malah jadi seru keliling kota naik motor. Aku bisa melihat jalanan kota yang bersahaja. Pattani juga ditinggali oleh 90% warga muslim, bukan Buddha seperti kebanyakan wilayah di Thailand. Aku melihat tatanan kotanya juga mirip dengan tata kota di daerah-daerah di Indonesia.

Secara administratif, Pattani ini merupakan provinsi di Thailand bagian selatan. Provinsi ini katanya termasuk dalam wilayah yang sering disebut sebagai Deep South Thailand, sama dengan Yala dan Narathiwat. Aku malah menyebutnya sepotong Melayu di tanah Thai. Orang-orang Pattani menggunakan bahasa Melayu Pattani buat ngobrol sehari-hari, meskipun tetap bisa bahasa Thai. Jadi vibes-nya lebih mirip di Malaysia ya, atau di Indonesia, daripada Bangkok dan Chiang Mai.



Aku berkendara sekitar 10 menit buat sampai di Big C. Aku sekalian cari oleh-oleh karena ini hari terakhir kami di Thailand. Sebenarnya nggak banyak. Aku hanya beli beberapa item yang bakal kurindukan dari Thailand. Kayak mie instan rasa tomyam, beberapa skincare, dan camilan. Sebisa mungkin nggak beli macam-macam karena nggak ada slot lagi di dalam koper.

Kami bertiga menikmati berbelanja di Big C, serasa dapat suasana baru belanja di swalayan, salah satu hiburan di kota kecil seperti Pattani.



Pulang dari Big C, kami mampir ke warung sate buat makan siang. Iya, di sini juga ada sate kok, namanya Satay Pattani di jalan Kalapho. Ini sate daging sapi disiram bumbu kacang. Disajikan dengan timun acar yang rasanya pedas-asam. Segar! Satenya enak deh, rasanya lebih mirip sate rambiga di Lombok. Ada aroma kelapanya juga sedikit. Yang berjualan ibu-ibu berhijab, serasa di kampung kita aja. Bahasanya aja yang berbeda.

Sebelum kembali ke hotel, kami mampir ke Sevel buat jajan. Niatnya siang itu check in hotel dan istirahat sebentar di kamar. Pattani hari itu super panas. Kalau di Yala kemarin sempat hujan. Hari ini tuh panasnya menyengat dan agak lembab. Jadi, kami kembali ke hotel aja, mengikuti ritme hidup slow living di Pattani.


Oh iya, balik lagi ke topik taksi online. Hari itu fitur Grabcar di aplikasi Grab juga tiba-tiba hilang. Sepertinya memang lagi ada masalah. Dan, buat kamu yang belum tahu, jangan memesan taksi online atau ojek online saat jam salat atau jam makan siang. Nggak akan ada yang ambil order-an kita. Dan jangan heran kalau ojeknya datang setengah jam kemudian ya, karena se-slow living itu hidup mereka.

Aku menghabiskan siang sampai sore dengan menonton beberapa film Thailand di Netflix. Sungguh the perks of traveling yang sebenarnya ini. Nggak melulu tentang destinasi, tapi juga tentang ketenangan dan kontemplasi.



Kami baru keluar lagi sore hari. Kali ini mau berjalan kaki aja di sekitar hotel. Ternyata The Wood Pattani hotel ini lokasinya dekat dengan kampus. Jadi banyak jajanan sore di sekitar sini. Kami sempat beli Pad Kra Pao di pinggir jalan karena si Ipul kelaparan. Harganya cuma THB 35 (Rp15.000). Ini tuh nasi dengan topping daging sapi cincang yang ditumis, plus telur ceplok.

Setelah itu, jalan beberapa ratus meter, kami sampai di gerbang Prince of Songkla University Pattani. Ini kampus yang kubilang tadi. Ini salah kampus terbaik di Thailand bagian selatan. Seolah anak kampus, aku cukup pede buat berjalan-jalan santai di area kampusnya. Tujuan kami adalah hutan mangrove yang ada menara pandangnya.


Kami melewati pinggiran danau yang makin cantik saat langit mulai berubah menjadi oranye. Rupanya ini kawasan asrama kampus Songkla. Aku membayangkan jadi mahasiswa di sini dikasih pemandangan ini tiap hari tiap pulang ke asrama. Indah sekali. Aku jadi teringat saat kuliah di UI dulu, jalan kaki di pinggir danau kayak gini juga. Bikin rindu.

Nggak jauh dari danau kampus itu--aku namakan danau kampus aja ya karena nggak tahu nama danaunya--aku sampai di gerbang taman mangrove. Masuknya free karena bagian dari fasilitas kampus sepertinya. Kami berjalan di sini bareng orang-orang Pattani yang biasa jalan-jalan sore di sekitar sini. Aku naik ke menara pandangnya. Rupanya nggak jauh dari kawasan mangrove ini ada pantai. Btw, langit sorenya indah banget. Makin menjelang magrib, makin jingga warnanya. Sore yang indah menutup hari terakhir kami di Thailand.





Harusnya kami datang dari pukul 4 sore gitu kali ya, jadi bisa puas berdiri di menara pandang ini. Kalau langitnya udah oranye begini kan, kami harus buru-buru turun sebelum gelap. Namanya hutan mangrove, ya kan. Sama aja dengan hutan mangrove di negara kita kok.

Kami kembali ke hotel pas magrib. Niatnya mau ke Masjid Krue Se, salah satu masjid besar dan tertua di Pattani, tapi nggak jadi karena drama Grab itu tadi. Kalau memesan Grabbike pada jam salat Magrib juga nggak akan ada yang ambil. Se-madani itu masyarakatnya.

Kami sempat ngobrol dengan front office hotel untuk dicarikan motor aja. Tapi solusinya jadi mahal dan nanggung juga. Akhirnya pihak hotel menawarkan untuk memanggilkan tuktuk atau songthaews, semacam oplet gitu buat jemput kami di hotel. Lucu juga, kami cuma bertiga tiba-tiba ditawarin charter songtheuws.



Ini yang namanya songthauws. Ada hikmahnya juga ya nggak bisa pesan taksi online. Kami bisa mencoba sesuatu yang Thailand banget. Private lagi. Sebenarnya nggak private sih. Drivernya tetap bisa narik penumpang lain, tapi karena emang sepi aja, jadi kami serasa sewa angkot. Kami minta diantar ke salah satu night market di sini buat cari makan malam. Kami ke Green Market Pattani. Emang ya, yang namanya Thailand, night marketnya selalu rame dan harganya murah. Kami bisa jajan sampai puas di sini.

Lanjut, kami naik songthauws lagi ke salah satu cafe yang jadi tempat nongkrong anak muda Pattani. Bean Ko Nom Sod.


Aku lupa saat itu hari apa, tapi cafe ini rame banget. Saking ramenya, kami harus menunggu sebentar sampai ada 1 meja kosong dibersihkan. Jadi begini rasanya nongkrong di Pattani. Obrolannya, candaannya, musiknya, boleh Thailand banget, bahkan aku nggak mengerti orang di meja sebelah ngobrolin apa, tapi seru aja gitu. Serasa nonton film Thailand versi nyata.

Beginilah malam kami di Pattani. Besoknya kami harus kembali pagi-pagi sekali. Nanti aku lanjut ceritanya di artikel berikutnya.

Komentar

Popular Posts