In Journey Land

Jelajah Sumbawa, Bertahan Hidup di Pulau Kenawa

Sumbawa memang tak pernah mengecewakan, apalagi pada saat musim kemarau. Pagi itu aku dan geng travelingku sudah berada lagi di dermaga kecil pelabuhan Poto Tano. Kami baru saja turun gunung dari Bukit Mantar, diantar mobil pick up sampai ke dermaga ini. Bukit dan jalan yang kering kerontang menjadi daya tarik tersendiri. Pelabuhan Poto Tano jadi spot instagramable banget hari itu.

Hari itu giliran kemping di Pulau Kenawa, satu pulau di seberang Poto Tano yang tak berpenghuni. Pulau Kenawa ini masih bagian dari Desa Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Hanya ada savana, bukit tunggal yang tidak terlalu tinggi, laut, dan kami. Aku dan teman-teman menunggu perahu yang sudah kami sewa lebih dulu. Aku mencari info penyewaan perahu yang bisa mengantar-jemput kami di Pulau Kenawa. Jadi, berangkatnya diantar, lalu bapak pemilik perahu akan menjemput kembali esok paginya. Persis seperti saat kami berkemah di Bukit Mantar. (baca tulisannya di sini)
Jelajah Sumbawa-Kenawa

Jelajah Sumbawa-Kenawa (2)

Ohya, sebelum berlayar ke Pulau Kenawa, kami membeli perbekalan untuk makan siang dan makan malam sekaligus. Kata si bapak pemilik perahu, lebih baik sedia bekal dari pelabuhan karena Pulau Kenawa sedang sepi. Sedang sepi ini maksudnya gimana? Kami sendiri tahu sekali kalau di Pulau Kenawa tidak ada rumah penduduk. Aku sudah membaca banyak sekali info tentang pulau ini dari blog dan website pariwisata. Tapi, bukankah banyak warung yang dibuka di sana karena mengingat Pulau Kenawa adalah destinasi wajib saat kita berkunjung ke Sumbawa?

Faktanya, begitu kami berlayar sekitar 15 menit dari pelabuhan Poto Tano, perahu kami merapat di satu sisi pantai Pulau Kenawa. Kosong, sepi, semua warung tutup. Pulau Kenawa benar-benar tidak berpenghuni. Kata Pak pemilik perahu, orang yang jaga warung pulang semua ke Sumbawa, masih trauma dengan gempa Lombok. Mereka mengamankan diri untuk sementara, sampai Lombok dan Sumbawa benar-benar aman. Kami seketika merinding. Jadi hari itu memang tidak ada orang satu pun di Pulau Kenawa. Tapi si bapak pemilik perahu menghibur. Katanya itu ketakutan orang-orang saja. Weekend minggu depannya juga pasti Kenawa sudah ramai lagi. Oke, Pak. Kami pun berpisah dengan si bapak pemilik perahu.

Angin semilir menggoyang-goyang savana yang berwarna kekuningan. Rasanya ingin langsung guling-guling di padang savana itu. Yang pertama harus dicari itu adalah tempat terbaik untuk basecamp seharian itu sampai malam nanti. Kami menyisiri pantai yang putih dengan karang-karang kecil tersapu ombak di pesisir. Angin bertiup lumayan kencang. Karena angin mulai nggak santai padahal masih pukul 11, kami berteduh saja di sebuah pondok kosong di pinggir dermaga, sembari membuka bekal makan siang. Hanya ada nasi dengan lauk teri dan telur mata sapi. Tapi kok nikmat sekali, ya. Bahkan kami berempat rebutan menghabiskan jatah satu sama lain. Ingin sekali aku mengulang momen makan di pondokan Pulau Kenawa itu.

Jelajah Sumbawa-Kenawa (3)


Usai makan, air laut seakan melambai-lambai memanggil kami untuk terjun siang itu. Aku mulanya berniat snorkeling di sekitaran pantai. Ada ikan-ikan kecil di sela-sela pasir berkerikil. Namun, begitu menyelam beberapa meter, Junisatya menarikku ke permukaan.

"Ada yang lewat di bawah. Hitam gede."
"Di mana?" tanyaku. Dia menunjuk ke arah kanan.
Aku masuk lagi ke air dan nggak melihat apa-apa. Begitu berenang lebih maju lagi, aku juga melihat ada yang lewat dari sudut mata.
"Hiu," jawabku asal.

Saat itu juga aku melipir ke bibir pantai lagi, berlomba dengan Junisatya. Ry dan Rara, dua teman kami yang dengan semena-mena nggak mau main air hanya menatap keheranan. Awalnya panik, tapi langsung tertawa-tawa. Siapa yang nggak ketawa, belum tentu juga itu beneran hiu. Belum tentu juga itu ikan. Baru juga nyemplung beberapa meter, tapi aku sudah menyerah. Yah, entah ikan apa yang lewat dan agak besar itu, aku nggak mau masuk ke laut lagi. Ada rasa tidak aman saat kami bermain-main di laut siang itu. Nggak ada perahu nelayan yang bertengger di dermaga. Nggak ada orang yang jaga warung. Kalau aku mendadak nggak kuat berenang ke tepi, siapa yang bakal nolongin? Nggak ada tim Baywatch yang siap sedia di sana. Pulau Kenawa terlalu sepi, saking sepinya, kita memang harus bisa bertahan sendiri.

Jelajah SUmbawa-Kenawa (4)
Membicarakan Kenawa kini dan cara bertahan hidup di sana.

Angin di Pulau Kenawa mengundang ombak ribut. Jadi memang lebih aman kami eksplor daratan di pulau yang luasnya hanya sekitar 15 hektar itu. Aku bebersih badan (nggak pakai air bersih), cuma lap-lap dan ganti pakaian. Ada kamar mandi darurat yang didirikan orang-orang warung untuk buang hajat dan bilas. Tapi, tentu saja tidak ada air bersih, kan, karena sudah semingguan itu Pulau Kenawa kosong. Nggak ada nelayan/warga yang memasok drum berisi air bersih dari Poto Tano. Nah, ini jadi masalah baru lagi buat kami. Aku belum mandi dari hari sebelumnya, sejak kami kemping di Bukit Mantar. Rara mengeluhkan rambutnya yang sudah sangat lepek, nggak mampu ditolong oleh bedak tabur saja. Ry dan Junisatya mulai diam-diam nahan pup. Kami nggak boleh sembarangan bersih-bersih pakai air mineral yang sudah dibawa. Takut kehabisan. Jadi harus hemat.

Akhirnya aku dan Rara memberi kuliah singkat tentang jurus-jurus mengorek pasir ala kucing dan cara menimbunnya kembali kalau memang nggak mau mencemari laut. Meski enggan, Ry dan Junisatya akhirnya mencari lokasi ternyaman untuk buang hajat. Masih di sekitaran pantai, kok. Dengan hanya ditutup dengan matras yang diberdirikan melingkar, pas dijadikan jamban darurat. Mereka mengisi botol bekas kosong dengan air laut. Aku dengan sangat keras melarang mereka menggunakan bekal air minum kami yang hanya sisa 3 botol besar. Maaf ya, teman-teman. Maaf juga ya, suami. *nyengir.

Siang itu angin melenakanku. Masih terlalu panas untuk berjalan-jalan di padang savana. Selesai berenang, kenyang, lalu tidur siang. Eh, bukan aku, ya. Tapi Ry, sambil mendengarkan musik lewat speaker portable yang kami bawa. Lalu...

Gempa.

Sekali.

Dua kali.

Pondokan kami bergetar. Aku menjerit. Ry reflek melompat bersama dengan Rara. Lalu di mana Junisatya? Dia masih serius buang hajat rupanya. Aku memanggil-manggilnya. Aku yakin dia nggak merasakan gempa yang lumayan kuat barusan. Kami menunggu beberapa menit di pantai, lalu menyadari bahwa air laut sempat surut. Jantungku mencelos. Kami harus evakuasi secepatnya. Untungnya Junisatya sudah selesai dan kami langsung berjalan cepat ke arah bukit di tengah Pulau Kenawa. Aku cuma sempat menenteng tas kecil berisi dompet dan kamera. Rara dan Junisatya hanya membawa hape. Sementara Ry menggendong ranselnya yang tampak berantakan karena belum dikancing. Dia yang paling panik di antara kami berempat.

Jelajah SUmbawa0Kenawa (5)

Jelajah Sumbawa-Kenawa (6)

Kami berjalan membelah savana yang kering karena kemarau. Lalu kami berhenti kelelahan di dataran yang agak tinggi, tapi masih jauh dari bukit Kenawa yang lebih tinggi lagi. Baru juga setengah jalan menuju bukit, kami sudah menyerah. Jiwa siap siaga dan penyelamatan diri kami lemah, nih. Dari tempat kami berdiri, aku lumayan bisa melihat hampir keseluruhan Pulau Kenawa dan kondisi lautnya. Angin masih tanpa lelah bertiup. Air laut juga masih tampak surut. Ah, indah sekali. Langit pun biru. Pulau-pulau tetangga tampak eksotis. Kami berdoa bersama semoga tidak terjadi hal yang nggak diinginkan semacam gempa susulan dan tsunami. Tidak ada siapa-siapa di pulau itu tempat kami bisa minta tolong. Hanya saling percaya di antara kami berempat.

Setidaknya kami harus menunggu di gundukan dataran yang agak tinggi itu selama satu jam. Seharusnya ya. Tapi faktanya, kami kepanasan. Ya iyalah, matahari menyengat sekali di musim kemarau. Tidak ada pohon untuk berteduh. Akhirnya dengan menyerahkan diri kepada alam dan Tuhan, kami kembali lagi ke pondokan. Kecemasan mulai luntur, kami hanya bisa menertawai diri sendiri karena bisa-bisanya kami melanggar ketentuan evakuasi dini menghindari bencana, belum sampai 30 menit, kami sudah turun bukit. Ry mengecek informasi BMKG di aplikasi. Dia sudah mengunduh aplikasi itu sejak kami berangkat ke Sumbawa karena berita gempa susulan di Lombok masih menghantui waktu itu. Memang kami aja yang nekat nggak mau membatalkan tiket pesawat saat tau Lombok kena bencana gempa dan masih berduka. Tapi nggak apa-apa, kondisi Sumbawa sebenarnya jauh lebih aman. Gempa yang kami rasakan di pulau saat itu juga berpusat di Lombok Timur, sebesar 6,2 SR. Cukup besar tapi tidak berpotensi tsunami. Kami lega sekali. Banyak teman dan kerabat yang menghubungiku saat itu karena tau aku sedang berada di Sumbawa. Aku hanya memberi info singkat bahwa kami baik-baik saja.

Setelah melewati masa tegang lantaran melihat air laut surut pasca gempa dan segala kepanikan evakuasi, aku pun memutuskan untuk mendirikan tenda. Kemudian berjalan-jalan sore di tengah savana, menikmati angin dan lambaian rumput berwarna kekuningan itu. Aku juga mampir ke rumah botol, satu-satunya bangunan permanen yang terlihat di tengah Pulau Kenawa. Bangunan rumah botol ini memang sebuah upaya dari komunitas pencinta laut untuk mendaur ulang botol-botol kaca bekas. Siapa sangka bisa mewujud menjadi 2 bangunan unik di tengah pulau seperti itu, persis menghadap ke timur. Namun, aku sampai saat ini belum paham betul maksud bangunan itu didirikan tapi dibiarkan kosong dan pintunya dikunci seperti itu. Ada loker-loker di bagian depannya. Kupikir ini semacam galeri.

Pembangunan rumah botol ini dirancang oleh arsitek dari Amerika, Michael Reynolds, yang memelopori Gerakan Rumah Ramah Lingkungan. Nah, rumah botol di Kenawa ini adalah pilot project-nya bersama beberapa relawan. Mereka mengumpulkan segala limbah di sekitar dan membangun rumah berkonsep earthships pertama di Indonesia. Bentuk bangunannya unik. Dan, katanya bakal bisa menjadi rumah bertenaga surya pasif dari barang daur ulang dan material alami. Keren banget ya. Tapi saat kami ke sana, rumahnya kosong begitu aja. Ditinggal terbengkalai, padahal dekorasi tamannya bagus. Hanya beberapa meter jalan kaki menuju pantai, mengarah ke matahari terbit.

Jelajah SUmbawa-Kenawa (7)


Karena nggak bisa masuk ke rumah botol, aku hanya bermain-main di tengah savana. Pulau Kenawa sungguh sangat kering. Begitu juga dengan pulau-pulau yang tampak di sekitarnya. Aku belum cerita kondisi bukit Kenawa yang tampak eksotik dari kejauhan ya? Karena kemarau panjang, bukit Kenawa menghitam. Beberapa bulan sebelum kami menginjakkan kaki di Kenawa, bukit itu sempat terbakar akibat percikan kembang api seorang pengunjung. Agak sedih melihat bukit itu berwarna hitam, kurang senada dengan savana kuning kecokelatan yang membelai-belai kaki sekeliling kaki bukitnya.

Malam di Pulau Kenawa penuh bintang. Lagi-lagi aku puas memandang bintang tanpa hambatan seperti malam itu. Tetapi nggak bisa lama. Rupanya angin lumayan memporak-porandakan tenda kami. Aku sampai menambatkan ikatan tenda ke tiang pondokan, tempat sesiangan kami beristirahat. Malam membuatku lumayan sibuk, memberi pemberat di setiap sudut tenda karena pasak saja nggak mempan dan menabur garam di sekeliling tenda untuk menghindari ular. Konon, katanya di sana banyak ular yang muncul dari laut. Ada yang bilang itu jenis ular mematikan nomor dua di dunia. What? Oke, lebih baik aku menutup malam dengan cepat.

Mengunjungi Pulau Kenawa sepertinya harus 2 kali. Pertama, saat musim kemarau seperti ini. Melihat savana kuning kecokelatan dan pulau-pulau yang terlihat gersang sekali sungguh menjerat hati. Pesonanya tiada dua. Kedua, saat baru melewati musim hujan karena savana dan bukit di Pulau Kenawa akan menghijau, ranum, dan rimbun. Rasanya sejuk di mata. Kali lain semoga aku berkesempatan mengunjungi Kenawa saat rumputnya menghijau ya. Dalam kondisi alam Sumbawa dan orang-orang tidak sedang berduka dan trauma karena bencana.

Rencanakan Perjalanan ke Sumbawa
Kalau kamu ingin sampai ke Sumbawa juga dan mampir ke Pulau Kenawa, lebih baik rencanakan dari sekarang, mumpung Pegipegi sedang ada diskon besar-besaran akhir tahun ini.

Rencanaku untuk trip ke Sumbawa ini nggak dalam sekali kedipan mata. Aku sudah merencanakannya 6 bulan sebelumnya. Kenapa sampai selama itu? Selain karena kebetulan dapat tiket pesawat promo Jakarta-Lombok dan Sumbawa-Jakarta, aku juga butuh riset ekstra tentang destinasi di Sumbawa. Akses dan informasi tentang wisata Sumbawa ini ternyata masih sangat terbatas, apalagi aku banyak maunya. Ingin ke Bukit Mantar, Pulau Kenawa, dan Pulau Moyo yang lokasinya agak lebih jauh. Sebenarnya banyak sekali destinasi keren di Sumbawa yang ingin kujelajahi. Sumbawa bagian timur belum. Pantai-pantai di Bima juga belum terjamah oleh kami. Ya, mungkin memang harus ada kali kedua ya seperti lagunya Raisa.

Pegipegi rencanakan perjalanan ke Sumbawa

Untuk menjangkau Sumbawa, aku berangkat dari Jakarta ke Lombok dan lanjut naik kapal selama 3 jam menuju Sumbawa Barat. Pulangnya, aku memesan penerbangan Sumbawa-Jakarta dengan transit di Lombok selama 1 jam. Kamu coba cek tiket pesawatnya di Pegipegi dan nggak perlu khawatir juga soal penginapannya. Asalkan tujuanmu jelas selama di Sumbawa dan berapa hari, penginapannya juga bisa langsung dipesan sekaligus. Lebih untung lagi dengan program GEMPITA (Gemerlap Promo Akhir Tahun) dari Pegipegi ini, kita bisa pesan tiket pesawat dan hotel jauh lebih murah di aplikasi. Ada promo khusus member karena dapat pepepoin. Semua jadi praktis, kan.

Pegipegi kini lebih firendly use buat traveler. Transportasi dan akomodasi sudah dirangkum dalam satu aplikasinya. Menjelang akhir tahun ini, diskon tiket pesawatnya bisa mencapai 212.000 dan booking hotel dapat diskon 30%. Lumayan banget. Ayo, ke Sumbawa.


Related Articles

21 komentar:

  1. Hufff serunyaaaaa eksplor Indonesia Timur. Ku belum pernah :(. Dih ngeri kali ya gempa, bikin panique.

    ReplyDelete
  2. Kereeen. Pulau Kenawa punya pesonanya sendiri.

    ReplyDelete
  3. Wah pengalaman yang seru banget ya, nekatnya mirip2 kami ketika BMKG udah ngasih tau kalau ombak lagi tinggi dan kami tetap nekat ke Pulau Moyo. Alhasil 2 jam yang menegangkan dan pasrah seolah karena angin kencang, ombak tinggi dan kapal kami terombang-ambing di tengah laut hahaha. Alam emang menakutkan kalau sudah begini dan kita cuma bisa pasrah dan berdia But... Seru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Rahasia alam ya namanya. Selalu ada pengalaman yang beda di setiap perjalanan ya Mba.

      Delete
  4. Hua seremnya, pemandangannya memang kece yaa Sumbawa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untungnya kondisi aman kok Mba. Hehehe. Aku jatuh cinta sama Sumbawa. Keren soalnya. Penasaran sama Pulau Kenawa saat abis musim hujan. Hijau banget pasti.

      Delete
  5. Ini destinasi yang pengen saya kunjungi tahun depan. Terimakasih, Mbak.
    Tapi kok baca agak2 menakutkan gitu ya, apalagi kalau dalam kondisi gempa ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu menakutkan karena 4 hari pasca gempa Lombok kak. Sekarang sih sudah aman. Semoga tahun depan Kenawa udah cantik lagi ya kak :))

      Delete
  6. Dari dulu pengen banget main kesini, belum kesampaian hiks.

    ReplyDelete
  7. Seru banget perjalanannya mbak
    Aku ikut deg-degan ngebayangi ada hiu beneran pas lagi berenang itu
    Makin deg2an lagi pas ada gempa. Gak kebayang paniknya kayak apa
    Btw itu rumah botolnya cakep ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu perjalanan tak terlupa memang karena pas banget gempa Lombok. :(
      Rumah botolnya emang bagus, sayangnya terbengkalai gitu kak.

      Delete
  8. foto kenawa nya apik banget sih :( aku mupeng..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Foto-fotomu juga banyak yang bikin aku mupeng koh. :D

      Delete
  9. Hi Kak Hanum,

    Indonesia makin ke Timur makin cakep aja ya :D

    Cheers,
    Dee Rahma

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener. Kata temenku, Indonesia makin ke timur makin seksi.

      Delete
  10. Subhanallah. Sumbawa indah banget ya mba. Foto-fotonya jadi menggoda supaya datang kesana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus Kak. Eksplor Indonesia lebih jauh ya. Semoga. Aamiin.

      Delete
  11. Saya deg-degan pas baca bagian gempa. Tapi, terpesona dengan keindahan alamnya

    ReplyDelete