Disambut Goreng di Rumah Ceria Ubud

Di saat orang menggemakan April Mop di media sosial, aku dan Junisatya sudah kerepotan menyambut April Fun. Kami packing dengan bersemangat. Untuk apa? Membuka April 2017 dengan perjalanan adalah sesuatu yang sudah kami nantikan. Kami langsung melaju ke Bandara Soekarno-Hatta.

V sudah menunggu kami di terminal 2E. Usai check in, kami menuju ruang tunggu boarding dan bertemu dengan Ry di sana. Satu anggota perjalanan kami yang lain, Indra, beda maskapai. Jadi kami janjian ketemu di Bandara Ngurah Rai saja.

Visit Bali, visit Ubud
Saatnya eksplor Bali.
Pesawat take off dalam keadaan hujan. Untungnya penerbangan kami mulus. Hanya sedikit getar-getar yang tak terlalu bikin berdebar saat awan padat bergumul di atas sana. Kami landing di Ngurah Rai tepat saat magrib dan cuaca cerah. Kami memutuskan untuk memesan uber langsung ke Ubud. Dea, satu teman kami telah menunggu di sana. Sebagai newbie Ubudian, dia telah menyiapkan jamuan di tempat tinggalnya yang ia sebut Rumah Ceria Ubud.

Dea sempat menyarankan untuk menunggu taksi online di gerbang bandara karena persaingan taksi online dengan konvensional begitu sengit di sini. Kami mendengar bisik-bisik penunggu bandara, "Itu online! Itu online!" dengan muka kesal. Menunggu taksi online di bandara sama dengan main petak umpet. Seorang sopir taksi yang kami tolak tawarannya berseru dengan marah, "Taksi online nggak boleh masuk sini. Kalau mau, tunggu di luar."

Kami pun ikut kesal. Mencari taksi online di Bali pada malam hari tak semudah seperti di Jakarta. Semua aplikasi kami coba. Gocar, Grabcar, hingga Uber. Ada yang tak bisa mengangkut karena tujuan kami Ubud, terlalu jauh bagi mereka. Ada juga yang menolak karena harus dijemput di bandara. Takut dikeroyok mungkin. Untungnya ada satu sopir yang bersedia menjemput kami dan menyuruh kami menunggu di pintu keberangkatan. Baiklah, apa pun itu, setelah satu jam menunggu tanpa hasil dan main kucing-kucingan dengan sopir-sopir taksi bandara, kami pun menunggu sambil mengobrol santai agar tak terlihat mencurigakan. Lagipula memang pantas dicurigai, sih. Ngapain nunggu jemputan di gerbang keberangkatan? Ya, kan?

Bali trip
Menunggu taksi online di pintu keberangkatan.
Kami baru bisa bernapas lega saat mobil jemputan sudah meninggalkan area bandara. Jalan tol atas laut yang tenang memudarkan kecemasan, tetapi tak menoleransi tingkat kelaparan. Perjalanan ke Ubud menghabiskan waktu sekitar 1 jam. Dea yang sudah sedari tadi menunggu kami, menyiapkan makanan untuk disantap di Rumah Ceria-nya.

Ya, Rumah Ceria Ubud sudah dekat. Tempatnya sunyi. Ada banyak sawah di kiri-kanan. Rupanya di sinilah Dea tinggal saat ini, selama 1,5 tahun terakhir. Escapade-nya dari Jakarta menjadi sempurna dengan nuansa alam di Ubud. Saat mobil terparkir di halaman depan Rumah Ceria Ubud, kami langsung disambut suara gonggongan. Seekor anjing hitam dan seekor anjing putih turun dari tangga paling ujung gedung kos-kosan ini. Mereka menyerbu kami dengan gonggongan sembari mengayunkan ekor mereka. Aku melihat pertanda dua hal, mereka mengendus orang asing lalu menyerangnya atau mereka malah senang kedatangan tamu?

Area tempat tinggal Dea berada di lantai dua. Bangunan ini berupa kos-kosan. Namun, Dea menyebutnya Rumah Ceria karena dia tinggal bersama beberapa sahabat di lantai dua serta memang menyewakan dua kamar kosong untuk teman atau kerabat yang berkunjung. Lalu para anjing ini berjaga di teras lantai dua. Anjing-anjing ini bernama, yang hitam namanya Goreng (anjing kesayangan Dea), yang putih bernama Bejo (anjing Riri, teman satu kost Dea). Adasatu anjing kecil lagi yang menemani kami. Namanya Angel. Perkenalan pertamaku dengannya adalah saat Angel dengan cueknya pup persis di depan pintu kamarku. Mau marah susah karena Angel langsung menatap dengan muka tak bersalah. Kata Dea itu bagian dari salam selamat datang dari si puppy. Aku hanya ternganga. Dea dengan sigap membersihkan kotoran yang ditinggalkan Angel.

Aku kembali masuk kamar yang sudah dirapikan oleh Dea khusus untuk kami. Rupanya Dea berbakat untuk bisnis hospitality, nih. Dekorasinya juga unik dengan memanfaatkan botol-botol bekas yang dibentuk jadi lampu, bangku, dan vas. Ada wangi aromaterapi juga. Ada tumbuhan air yang dibiarkan tumbuh di dalam botol. Suasananya jadi fresh. Di depan kamar, terdapat hammock untuk bersantai. Serasa seperti rumah. This is Dea's home.

Rumah Ceria Ubud
Hasil kerajinan Dea.
Rumah Ceria Ubud
Dekorasi simple ala Dea.
Saat makan malam di ruang terbuka yang sebenarnya merupakan teras dan dilengkapi meja panjang dan bangku-bangku, kami bercerita santai.

Dea: Nggak nyangka, lho, kalian akhirnya jadi juga datang ke sini.
Aku: Iya. Amaze nggak, sih, lo?
V : Ini dimulai dari obrolan iseng kita pas tahun baru ketemu di Jakarta padahal, ya. Jadi juga kita sampai di Ubud.
Dea: Kalian apa kabar? Ini Indra kenapa nggak bawa istri? (Dea menyikut Indra yang menyantap makan malam dengan lahap) 

Rumah Ceria Ubud
Indra dan para anjing yang menyambutnya. Terlihat akrab, ya.

Rumah Ceria Ubud
Goreng dan Angel sedang main.
Kami pun bertukar cerita. Dea cerita tentang kesehariannya di Ubud, tentang Rumah Ceria, tentang yoga, tentang kafe 9 Angels yang sedang dikelolanya, tentang Goreng yang baru hilang kedua kalinya beberapa waktu lalu, lalu tentang rencananya traveling dengan Goreng dan nge-camp di suatu tempat dan gagal. Aku selalu senang bercerita dengan orang-orang ini. Mereka selalu punya cerita baru, meski kadang konyol, remeh, dan sepele, tapi tetap terasa hangat di telinga. Benar-benar seperti di rumah.

Jika ditanya apakah ini reunian? Mungkin juga. Tapi bukan reuni SMA, teman kuliah, atau rekan kantor. Kami kebetulan dipertemukan saat menggarap proyek penulisan buku Penunggu Puncak Ancala yang diterbitkan oleh Bukune. Karena satu sama lain memang hobi jalan, kami sudah beberapa kali mengadakan trip-trip pendek. Seperti Cibeureum, Gunung Padang, hingga pendakian Papandayan. Sampai akhirnya, siapa sangka, komunikasi kami jadi lebih erat sejak merencanakan kunjungan ke Ubud, tempat Dea melakukan escapade dari keriuhan hidup di Jakarta sebelum ini.

Rumah Ceria Ubud
Setiap pagi, selalu lihat beginian di Rumah Ceria Ubud. Bisa awet muda, nih.

Rumah Ceria Ubud
Jalan-jalan di sekitar Rumah Ceria Ubud.
Beginilah kami. Ubud hanya tempat pertemuan. Besoknya kami akan seharian berjalan-jalan santai di Ubud. Kami ingin menikmati saat-saat bersama yang jarang terjadi ini. Bertemu Dea dan berkumpul dengan teman-teman yang sudah menjadi bagian inspirasi hidupku ini adalah cerita utama. Ubud, Goreng, dan Bejo adalah cerita peneman tawa kami di Rumah Ceria. 

8 comments:

  1. Baca judulnya, kukira goreng itu nama makanan.. Eh taunya.. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Judul menipu ya Kak. Goreng itu nama anjing temenku yang tinggal di Ubud. :))

      Delete
  2. Dimana mana masalah taxi rasanya gak ada habisnya ya. Sedih..

    Btw liburannya menyenangkan sekali.

    Salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga baru tau, di Bali bahkan jauh lebih sengit persaingannya. Salam kenal juga. Terima kasih sudah mampir. :)

      Delete
  3. waaah senengnya bisa berlibur di Ubud, heee
    jadi kepingin main kesana lagi

    ReplyDelete
  4. Du jadi deg-degan memang kalau order taksi online huhuhu, aku pengen ke Ubud, asyiknya Dea tinggal di Ubud...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Bali, persaingannya ketat ternyata. Aku baru tau lho. Ayo, Mba Dew kapan mau main ke Ubud? Ajak ajak aku ya. hahahah

      Delete

Instagram @sansadhia